Lingkungan Hidup
( 5820 )Awal Ramadhan, Harga Sejumlah Komoditas Pangan Makin Tinggi
Warga menyambut awal Ramadhan tahun ini dengan kenaikan harga
sejumlah bahan kebutuhan pokok yang kian tinggi. Harga ini diprediksi akan
bertahan, bahkan cenderung lebih tinggi hingga Idul Fitri nanti. Situasi di
sejumlah pasar tradisional di Kota Makassar, Sulsel, Senin (11/3) menunjukkan
hal itu. Harga telur, naik dari Rp 55.000 per rak menjadi Rp 65.000 per rak. Daging
sapi dijual Rp 145.000 per kg, naik dari Rp 120.000-Rp 130.000 per kg. Ayam potong
yang sebelumnya dijual Rp 27.000 per kg, kini Rp 37.000 per kg. Bahkan, di beberapa
pasar, harga ayam potong mendekati Rp 50.000 per kg. Sementara harga bawang
putih naik dari Rp 30.000 menjadi Rp 40.000 per kg. Harga cabai keriting, cabai
merah, dan cabai rawit rata-rata Rp 50.000 per kg, naik dari sebelumnya Rp
30.000-Rp 35.000 per kg.
Buncis yang biasanya dijual Rp 10.000 per kg kini naik
menjadi Rp 20.000 per kg. Harga jahe bahkan naik dua kali lipat dari Rp 30.000
per kg menjadi Rp 60.000 per kg. ”Kalau sudah begini, pasti harganya bertahan,
bahkan mungkin lebih tinggi lagi pas mau Lebaran nanti. Intinya, sekarang
berhemat dan membeli seperlunya saja,” kata Syamsiah (50), pembeli di Pasar
Pabaeng-Baeng, Kota Makassar. Sejumlah pedagang memilih untuk tidak menjual
komoditas yang harganya naik tinggi. Di Pasar Terong, Kota Makassar, beberapa
pedagang memilih untuk tidak menjual jahe untuk sementara waktu. Beberapa waktu
terakhir, pemerintah sebenarnya sudah melakukan sejumlah langkah untuk menekan
kenaikan harga.
Di Sulsel, misal-nya, pemerintah menggelar operasi pasar
hingga mendorong gerakan pangan murah. Pada gerakan pangan murah di Sulsel,
Selasa-Kamis (5-7/3) sejumlah komoditas disiapkan dengan harga di bawah harga
pasaran, di antaranya beras, gula pasir, minyak goreng, serta bawang dan cabai.
Dari 68 lokasi gerakan pangan murah di Sulsel, terbanyak ada di Makassar, yakni
delapan lokasi. ”Gerakan ini dilakukan untuk menekan inflasi dan memberikan
kesempatan kepada warga mendapatkan berbagai bahan kebutuhan pokok. Ini kerja
sama antardaerah. Ada daerah yang punya banyak bawang, ada yang penghasil
beras. Jadi, semua komoditas saling melengkapi,” kata Pj Gubernur Sulsel
Bahtiar Baharuddin saat membuka gerakan pangan murah di Makassar, Rabu (6/3). (Yoga)
Prioritaskan Kebutuhan Dasar Korban di Sumbar
Daerah terdampak banjir dan longsor di Sumbar diminta memprioritaskan
kebutuhan dasar masyarakat pada masa tanggap darurat bencana. Pendataan
infrastruktur yang rusak juga perlu disegerakan agar bisa lekas diperbaiki.
Kepala BNPB Letjen Suharyanto menyampaikan hal itu, Senin (11/3) dalam rakor bersama
Pemprov Sumbar dan kepala atau perwakilan lima daerah yang menetapkan masa tanggap
darurat atau siaga darurat bencana banjir dan longsor. Hujan sangat lebat sejak
Kamis (7/3) sore memicu banjir dan longsor di Sumbar pada Jumat. Bencana itu
terjadi di 12 wilayah, yakni KotaPadang, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten
Padang Pariaman, Kabupaten Pasaman Barat, Kabupaten Agam, Kabupaten Pasaman,
Kabupaten Limapuluh Kota, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kota Pariaman, Kabupaten
Solok, Kota Solok, dan Kota Sawahlunto.
Akibat bencana itu, hingga Senin (11/3) malam, 26 orang meninggal
dunia dan 6 lainnya masih dicari. Rinciannya, 23 korban ditemukan di Pesisir Selatan
dan 3 korban lainnya di Padang Pariaman. Data BNPB per 10 Maret 2024
menyebutkan, banjir dan longsor itu juga menyebabkan 871 rumah rusak berat, 139
rumah rusak sedang, dan 593 rumah rusak ringan. Selain itu, 51 rumah ibadah
terdampak, 23 jembatan rusak, 2 irigasi rusak, 28 sekolah terdampak, 13 jalan terdampak,
5.550 hektar lahan terdampak, 7 fasilitas umum/kantor terdampak, 1 sarana kesehatan
terdampak, dan 1.960 hewan ternak terdampak. Menurut Kepala Pusat Meteorologi
Publik BMKG Andri Ramdhani, intensitas hujan di Kota Padang dan sebagian wilayah
Sumbar ini kemungkinan merupakan yang tertinggi di Indonesia.
Dalam rakor itu, BNPB juga menyerahkan dana siap pakai Rp
1,75 miliar kepada pemprov dan lima daerah terdampak serta instansi terkait tanggap
darurat bencana. Selain itu, ada bantuan berupa dukungan logistik dan
peralatan. Gubernur Sumbar Mahyeldi mengatakan, Pemprov Sumbar telah menetapkan
masa tanggap darurat selama dua pekan. Selama itu, pemda fokus memenuhi
kebutuhan dasar masyarakat terdampak bencana. ”Kami sudah mendirikan
dapur-dapur umum melalui dinas sosial,” ujarnya. Terkait dengan relokasi sekitar
100 rumah di Kampung Langgai, Mahyeldi membenarkan. Pihaknya sedang mendata di
lapangan. Permukiman terdampak mesti direlokasi karena berada di pinggir
sungai. Adapun jalan yang sempat terputus di Pesisir Selatan, katanya, sudah
bisa dilalui. (Yoga)
Mobil Pribadi Dilarang Konsumsi Solar Subsidi dan Pertalite
Mobil pribadi dilarang membeli BBM jenis Solar subsidi dan
Pertalite. Hanya sepeda motor, kendaraan umum dan angkutan barang yang
diizinkan menggunakan kedua jenis BBM tersebut. Pengaturan berdasarkan jenis
kendaraan dinilai lebih mudah diterapkan dibandingkan pembatasan menurut tahun
maupun kapasitas mesin (CC/cubic centimeter). Pembatasan itu nantinya tertuang
dalam revisi Perpres No 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian, dan
Harga Jual Eceran BBM.
Menteri ESDM Arifin Tasrif mengungkapkan, revisi perpres 191
sedang dibahas lintas kementerian. “Itu (revisi Perpres 191) supaya alokasi BBM
tepat sasaran. Kalau tidak, ya pemerintah rugi, kemudian yang menikmati orang
yang tidak tepat,” ucap dia. Arifin menuturkan, ketentuan subsidi BBM tepat
sasaran ditargetkan rampung dalam waktu dekat, pasalnya pembahasan revisi
Perpres 191 sudah berjalan sejak 2023. (Yetede)
Agresif, Bukit Asam Berencana Akuisisi Tambang Batu Bara Baru
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) tetap agresif untuk menambah
cadangan batubara dengan mengakuisisi tambang-tambang milik swasta. Saat ini,
perseroan telah memiliki cadangan batubara hingga 2,98 miliar ton dan sumber
daya batubara 5,81 miliar ton. Dirut PTBA Arsal Ismail menyampaikan, PTBA akan
melirik tambang-tambang yang tentunya memberikan nilai positif bagi perusahaan.
Artinya, perseroan akan mengakuisisi tambang yang mempunyai kelayakan dari sisi
ekonomi.
“Jadi kalau kemarin sempat ditawarkan pemerintah yang kalori
rendah itu, kami tidak ikut. Ke depan, kalau ada yang kalori agak tinggi kami
ikut,” ucap Arsal dalam konfrensi pers baru-baru ini. Sebelumnya, pemerintah
telah melangsungkan tender beberapa proyek untuk area-area tambang yang
dilakukan relinquish, namun PTBA absen lantaran proyek yang ditender pemerintah
berkalori rendah. Karena itu, Arsal menuturkan,PTBA akan mengkaji setiap
tawaran yang dating dari pihak swasta. (Yetede)
Pedagang Sulit Jalankan HET Baru Beras Premium
Pukulan Ganda di Awal Bulan Puasa
Ujian dan pukulan ganda mengadang masyarakat di awal bulan puasa. Lonjakan harga pangan dan biaya transportasi bakal memukul daya beli masyarakat. Di saat bersamaan, pendapatan tidak tumbuh lebih tinggi daripada lonjakan harga. Selain kelompok menengah, daya beli masyarakat di level bawah yang selama ini menerima bantuan sosial (bansos) ikut tersedak. Salah satu indikasi melemahnya daya beli, tabungan kelompok masyarakat bawah cenderung tergerus. Berdasarkan data Mandiri Spending Index hingga 25 Februari 2023, indeks tabungan masyarakat kelas bawah turun 2,4 poin ke level 39,8 dibandingkan posisi akhir bulan sebelumnya. Penyusutan tabungan ini, terjadi di tengah kenaikan indeks belanja masyarakat kelas bawah yang sebesar 20 poin ke level 263,8. Tergerusnya tabungan masyarakat juga tampak pada pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK). Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), DPK Januari 2024 tumbuh 5,8% year on year (yoy). Meski pertumbuhannya lebih tinggi dari posisi Desember yang hanya 3,8% yoy, namun angka itu jauh menyusut dibandingkan posisi Januari 2023 yang tumbuh mencapai 10,49% yoy. Di jangka pendek, masyarakat menghadapi sejumlah problem, utamanya harga pangan.
Eskalasi harga pangan terutama beras, telur dan daging ayam telah mengerek inflasi pangan alias volatile food pada Februari 2024 ke level 8,47% yoy, lebih tinggi dari Januari di level 7,22% yoy. Lonjakan harga pangan juga berpotensi berlanjut hingga memasuki Ramadan. Berdasarkan pantauan KONTAN di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi, harga sejumlah bahan pangan memang masih tinggi. Kabar terbaru, pemerintah akan tetap menaikkan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) menjadi 12% mulai 1 Januari 2025, lebih tinggi dibanding tarif yang berlaku sekarang, yaitu 11%. Kondisi itu akan semakin menambah beban masyarakat, meski pemerintah memberi fasilitas berupa tidak dipungut PPN untuk barang kebutuhan pokok. Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menilai, kenaikan harga pangan tak sebanding dengan bansos yang diberikan pemerintah. Karena itu, masyarakat kelas bawah tak cukup bila hanya menerima bansos. Ekonom Center of Reform on Economic (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet berpendapat, pemerintah bisa mempertimbangkan memperluas penyaluran bansos sementara waktu saat momen Ramadan, terutama jika kenaikan harga pangan berlanjut. Dia juga menyarankan agar perluasan penerima bansos diberikan juga kepada kelompok menengah.
Harga dan Force Majeur Jadi Tekanan
Lonjakan Harga Pangan Bikin Miskin Masyarakat
Hentikan Perdagangan Global Sirip Hiu
Kompas.id dan harian Kompas melaporkan, Balai Karantina Hewan
Ikan dan Tumbuhan Lampung menggagalkan pengiriman ratusan sirip ikan hiu di
Pelabuhan Bakauheni, Lampung, Selasa (5/3). Kepala Satuan Pelayanan Pelabuhan
Bakauheni Akhir Santoso mengungkapkan, awalnya petugas mendapatkan laporan ada
pengiriman paket sirip ikan hiu asal Medan, Sumut, di Pelabuhan Bakauheni. Saat
pemeriksaan, petugas mendapati paket 180 sirip hiu seberat 20 kg. Paket sirip
ikan hiu tersebut dikirim dengan cara dititipkan pada bus antarkota
antarprovinsi menuju Jatim. Sopir bus tidak dapat menunjukkan dokumen syarat pengiriman
satwa antarpulau. Santoso menjelaskan, pengiriman sirip hiu tersebut ilegal
karena tidak disertai sertifikat kesehatan dari balai karantina.
Hal itu melanggar UU No 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan,
Ikan, dan Tumbuhan. Selain itu, dokumen surat izin pemanfaatan jenis ikan yang
diterbitkan oleh Perizinan Terpadu Satu Pintu KKP juga tidak ada. Dokumen lain
yang tidak ada adalah surat angkut jenis ikan yang diterbitkan Unit Pelaksana
Teknis Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut atau Balai/Loka
Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut. Penggagalan pengiriman sirip hiu ini
menjadi bukti bahwa penangkapan hiu untuk diambil siripnya sungguh terjadi di Indonesia.
Di Indonesia, sirip hiu masih diperdagangkan bebas, seperti dapat kita lihat di
aplikasi perdagangan daring.
Sirip hiu dijual mulai Rp 300.000 hingga Rp 660.000 per 50
gram. Di tingkat global, sejumlah negara telah menghentikan pedagangan sirip
hiu walaupun tidak banyak, antara lain Kanada, Inggris, dan AS. Kita mendukung
pemerintah mengontrol perdagangan sirip hiu ilegal. Namun, hal itu tidak cukup.
Kita mendorong kebijakan penghentian perdagangan sirip hiu. Hiu adalah predator
puncak di laut. Berkurangnya populasi hiu akan mengganggu keseimbangan
ekosistem laut. Namun, solusi berkelanjutan tetap perlu, yang mencakup
pendidikan masyarakat, keterlibatan komunitas lokal, dan alternatif ekonomi bagi
mereka yang bergantung pada perdagangan sirip hiu. (Yoga)
Kebijakan Gas Murah Industri Diusulkan Berlanjut
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









