Lingkungan Hidup
( 5781 )Lonjakan Harga Pangan Melampaui Pendapatan
BAHAN BAKAR MINYAK : DAMPAK RUMIT SUBSIDI BBM
Problem subsidi untuk bahan bakar minyak atau BBM kembali mencuat setelah Presiden Joko Widodo memastikan pemerintah tidak akan melakukan penyesuaian harga dalam waktu dekat. Bukan tanpa alasan, kebijakan tersebut berpotensi memunculkan persoalan lain, termasuk pembengkakan anggaran subsidi dari APBN.
Tidak seperti biasanya yang memberikan keterangan dengan jelas dan tegas, Presiden Joko Widodo (Jokowi) hanya mengatakan tidak akan ada kenaikan harga BBM dalam waktu dekat, tanpa penjelasan lebih lanjut.Sebelum bertolak ke Australia, Presiden Jokowi hanya memastikan keterangan lebih lanjut mengenai harga BBM bakal disampaikan lebih lanjut oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto atau PT Pertamina (Persero) langsung.“Soal BBM, nanti biar Menko [Perekonomian] yang sampaikan, atau dari Pertamina yang sampaikan. [Untuk kenaikan harga] tidak [ada], tetapi yang menyampaikan nanti akan dari Pertamina,” katanya, Senin (4/2).Dalam kesempatan terpisah, Menteri BUMN Erick Thohir menyampaikan alasan pemerintah yang memutuskan untuk tidak menaikkan harga BBM hingga Juni 2024.Erick menjelaskan, pemerintah terus berupaya agar masyarakat berpenghasilan rendah tidak terdampak oleh harga minyak yang bergerak fl uktuatif di pasar global.
Meski memastikan bakal tetap menjaga harga BBM di level saat ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sempat mengingatkan impak dari kebijakan tersebut.Salah satunya adalah pemerintah membutuhkan tambahan anggaran untuk subsidi dan kompensasi untuk Pertamina.Di sisi lain, PT Pertamina Patra Niaga sebagai subholding commerce and trading Pertamina mengaku masih mengkaji potensi tambahan subsidi dan kompensasi untuk menahan harga BBM hingga Juni 2024.“Masih kami kaji, paralel melihat fl uktuasi harga minyak mentah, MOPS [Mean of Platts Singapore], dan nilai tukar mata uang,” kata Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga Irto Ginting saat dihubungi.
Pertamina dan BPH Migas pun berkali-kali meminta pemerintah untuk mengeluarkan aturan tegas mengenai siapa saja yang berhak menggunakan BBM bersubsidi maupun BBM khusus penugasan, yakni Pertalite.Dengan begitu, Pertamina dan BPH Migas bisa lebih mudah dalam memastikan penyaluran subsidi yang bertujuan untuk menjaga daya beli masyarakat tepat sasaran di lapangan.Adapun, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifi n Tasrif membeberkan bahwa pemerintah terus berupaya meningkatkan produksi minyak di dalam negeri dengan pemanfaatan teknologi baru, serta menemukan cadangan baru.
Arifin berkata, di Blok Rokan juga saat ini sedang dilakukan pengujian agar mendapatkan minyak dari sumber-sumber lapisan yang paling dalam.
Strategi Bayan Resources Hadapi Penurunan Harga Batu Bara 2024
Lonjakan Harga Beras Memukul Petani
Kendati berstatus sebagai produsen, sebagian petani padi
kesulitan menjangkau beras yang harganya melonjak tinggi belakangan ini.
Sebagian di antara mereka mesti berebut beras murah dalam operasi pasar serta
menjadi sasaran program bantuan pangan dari pemerintah. BPS mencatat, harga
rata-rata beras nasional di tingkat pedagang grosir mencapai Rp 14.397 per kg
pada Februari 2024, tertinggi sejak periode pencatatan Januari 2013. Sementara
pada Jumat (1/3) harga rata-rata nasional beras medium menurut Pusat Informasi
Harga Pangan Strategis mencapai Rp 15.950 per kg, jauh di atas harga eceran
tertinggi beras medium yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp 10.900 per kg
hingga Rp 11.800 per kg sesuai zonasi. Situasi itu amat tidak menguntungkan
masyarakat kelas menengah bawah. Mereka menanggung dampak lebih besar
dibandingkan kelompok menengah atas akibat kenaikan harga beras tersebut.
Di antara mereka yang menanggung dampak terbesar itu adalah
petani, buruh tani padi dan pekerja sektor pertanian. Ini karena mayoritas dari
mereka adalah konsumen bersih (nett consumer) beras. Dengan pengeluaran yang
sebagian besar untuk pangan, kenaikan harga beras makin menyulitkan mereka. Untuk
mendapatkan beras dengan harga lebih terjangkau, mereka turut mengincar operasi
pasar beras bersama warga lainnya. Ini membuat beras yang disediakan pemerintah
lewat Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) habis dalam hitungan jam,
seperti terlihat di Pasar Larangan, Sidoarjo, Jatim, Minggu (3/3). Di pasar itu
ada dua agen yang ditunjuk menjual beras SPHP. ”Sekitar pukul 09.30, stok untuk
masyarakat umum sudah terjual habis di dua agen,” kata Koordinator Pasar
Tradisional Wilayah Sidoarjo Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sidoarjo Askud
Hari. Di Pasar Larangan setiap agen dijatah menjual 2.000 kg beras setiap hari
dengan harga Rp 10.900 per kg untuk beras kualitas medium.
Sebagian petani bertahan dengan stok beras sisa panen. Namun,
Ma’ani (40), petani di Desa Jagapura Wetan, Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon,
Jabar, mulai khawatir tak mampu membeli beras saat stok beras sisa panennya
habis. Pada akhir tahun lalu ia menjual hampir seluruh hasil panennya yang
mencapai 7 ton gabah kering giling (GKG). Ma’ani dan petani di desanya biasanya
sudah bisa menanam padi pada Januari. Namun, hingga akhir Februari 2024, ia
belum bisa menanam disebabkan faktor pengairan karena hujan masih jarang turun.
Nasib serupa dialami sebagian petani di Kabupaten Malang, Jatim. Mundurnya masa
tanam akibat fenomena El Nino tahun lalu berpengaruh terhadap masa panen padi.
Hingga akhir Februari 2024 baru sebagian kecil petani yang panen. Mayoritas
sawah masih menghijau, bahkan ada yang baru ditanami, diolah, atau bera, seperti
di wilayah Kecamatan Singosari, Pakis, Pakisaji, Kepanjen, dan Pagelaran. (Yoga)
Ironi Negeri Agraris, Petani Padi Mengantre Beras Murah
Di bawah terik mentari, puluhan warga termasuk mereka yang
sehari-harinya bertani menanti giliran membeli beras medium dalam operasi pasar
murah di Balai Desa Lurah, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, Jabar, Senin (26/2).
Beras medium seharga Rp 52.000 per kemasan 5 kg yang dijual jauh lebih murah
ketimbang harga beras di pasaran dengan jumlah dan kualitas sama dengan harga Rp
75.000. ”Harga beras (di pasaran) sekarang Rp 15.000-Rp 16.000 per kg. Di sini
murah, Rp 10.400 per kg,” kata Rumsi yang datang bersama suaminya. Ia berniat
membeli dua karung beras, sesuai batas maksimal pembelian dalam operasi pasar
murah. Sayangnya, keinginannya belum terwujud. Beras di truk terus menipis,
sedangkan antrean masih panjang. Petugas membatasi pembelian hanya satu karung
per orang. Setidaknya ibu satu anak ini masih berharap membawa pulang satu
karung berisi 5 kg. Namun, ketika mendekati meja pembayaran, Rumsi yang berkeringat
karena kepanasan lagi-lagi kecewa. ”Berasnya habis, Ibu-ibu. Ada juga satu
karung, tapi kemasannya sobek,” kata seorang petugas yang meminta warga membubarkan
barisan.
Sebenarnya ia tidak perlu antre demi membeli beras murah jika
masih menanam padi. ”Pari (padinya) enggak ada. Cuma (tanam) singkong karo
(dengan) kacang panjang dan kangkung. Sudah lama enggak ada padi,” kata Rumsi yang
bertahun-tahun tak lagi memproduksi padi. Lahan keluarganya yang seluas 140
meter persegi itu tidak ditanami padi karena beragam masalah. ”Angel banyue (susah
airnya). Kudu didiesel (harus pakai pompa). Pupuk juga belinya Rp 10.000 per
kg. Kalau (beli) kuintalan, susah,” tutur istri dari penjual papeda keliling
ini. Kuwu (Kepala Desa) Lurah Urip mengakui, daerahnya bukan lagi sentra padi.
Sejak tahun 1990-an, pabrik rotan dan perumahan menjamur di desanya. Sawah
bengkok milik desa yang luasnya 8,5 bahu (5,9 hektar) saja berada di Kaliwedi,
kecamatan tetangga. Itu sebabnya, saat harga beras naik, warganya terdampak.
”Ada juga petani antre (beras),” ujarnya. (Yoga)
Beras yang Tak Beres
Pascareformasi, perhatian terhadap pertanian padi sangat
lemah. Banyak infrastruktur rusak dan rantai pasok tak jelas. Membereskan beras
makin tak mudah. Laporan terbaru menyebut, total potensi produksi beras nasional
pada Maret dan April 2024 mencapai 8,46 juta ton, lebih rendah dibandingkan periode
yang sama tahun lalu. Kendati begitu, Bapanas optimistis jumlah produksi itu
akan menurunkan harga beras. BPS, Jumat (1/3) merilis, potensi produksi beras
Maret dan April 2024 masing-masing 3,54 juta ton dan 4,92 juta ton. Perkiraan
produksi ini dilakukan berdasarkan penghitungan kerangka sampel area pada panenan
Desember 2023 dan Januari 2024 (Kompas, 2/3/2024).
Jika hanya melihat angkanya, laporan tersebut tidak banyak
bermakna selain memberi tahu publik bahwa ada produksi beras sebanyak
angka-angka yang tertera. Harapannya, harga turun ketika pasokan sebanyak itu masuk
ke pasar. Tapi, sesungguhnya angka-angka itu membuat kita perlu bertanya lebih
lanjut soal apa sebenarnya yang tengah terjadi dengan pertanian padi di Tanah
Air. Angka produksi Maret-April tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun lalu
memberikan peringatan bahwa pasokan 2024 bermasalah. Gangguan cuaca membuat
produksi turun, tapi pertanian padi sesungguhnya dalam masalah pelik. Kita bisa
melihat di berbagai tempat sedang terjadi peralihan fungsi lahan. Pemda mudah memberikan
izin penggunaan lahan untuk kegiatan nonpertanian.
Kota-kota di Jabar tengah berubah. Bekasi telah menjadi kota
metropolitan padahal sekian tahun lalu masih menjadi penghasil beras. Karawang yang
disebut sebagai lumbung beras kini mulai menjadi metropolitan. Di Subang, buruh
tani makin sulit didapat karena mereka telah meninggalkan pertanian. Masalah
lebih kompleks muncul pada sarana dan prasarana produksi pertanian, irigasi, penyuluh,
penanganan pascapanen, perdagangan padi, hingga perdagangan beras di hilir.
Semua memperlihatkan, kita makin kurang memperhatikan pertanian padi.
Pendidikan bidang pertanian kurang diminati anak-anak muda. Kita perlu kembali
berpaling ke pertanian padi. Petani perlu mandiri dengan membangun organisasi
tani yang kuat. Tanpa organisasi tani yang kuat, pertanian padi lemah sehingga
sendi negeri ini keropos karena tak mandiri pangan. (Yoga)
Besar Konsumsi daripada Produksi
Konsumsi BBM dan gas terus meningkat di tengah produksi (lifting) minyak dan gas bumi dalam negeri yang terus menurun tiap tahun. Tahun lalu, realisasi lifting minyak bumi anjlok hingga 605.500 barel per hari. Realisasi minyak pada 2023 lebih rendah dibanding sepanjang 2022 yang mencapai 612.300 barel per hari. Produksi tersebut juga di bawah target yang ditetapkan dalam APBN 2023 yang sebesar 660 ribu barel per hari. Adapun tahun ini pemerintah menargetkan lifting minyak sebanyak 635 ribu barel per hari. Lifting gas juga lebih rendah dari target. Tahun lalu, lifting gas sebesar 964 ribu setara barel minyak per hari, di bawah target 1,1 juta setara barel minyak per hari.
Di tengah penurunan produksi minyak dan gas domestik, konsumsi dalam negeri terus meningkat. Menurut data Kementerian ESDM, konsumsi BBM pada 2022 mencapai lebih dari 1.100 million barrel oil equivalent (MBOE). Meningkat 30 % dibanding 10 tahun sebelumnya, pada 2012, karena peningkatan konsumsi BBM di sektor industri dan transportasi. Menurut pengamat ekonomi energi dari UGM, Fahmy Radhi, ketersediaan gas bumi masih bisa ditingkatkan karena cadangannya masih mencukupi dibanding minyak. “Untuk mencukupi ketersediaan energi dalam negeri, pemerintah juga perlu lebih giat mendorong sektor EBT (energi baru dan terbarukan) yang juga potensial,” katanya. (Yetede)
Beban Berat Subsidi Energi
Pemerintah memastikan tarif listrik dan BBM bersubsidi tidak akan naik hingga Juni 2024. Namun rencana tersebut memberatkan beban APBN 2024 karena pemerintah bakal menaikkan anggaran subsidi energi. Awalnya, tahun ini pemerintah menetapkan target subsidi energi sebesar Rp 189,1 triliun dengan rincian Rp 113,3 triliun subsidi untuk BBM dan elpiji 3 kilogram serta Rp 75,83 triliun untuk subsidi listrik. Alokasi subsidi tersebut lebih tinggi dari realisasi belanja subsidi energi pada 2023 yang sebesar Rp 164,29 triliun. Anggaran subsidi energi pun diperkirakan membengkak lantaran pemerintah menahan kenaikan tarif listrik dan BBM bersubsidi.
Pemerintah menyampaikan rencana pelebaran defisit APBN 2024 untuk memenuhi kebutuhan anggaran subsidi tambahan, seperti pupuk dan energi, serta bantuan langsung tunai. Defisit anggaran APBN mulanya 2,29 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) akan diperlebar menjadi 2,8 persen, atau bertambah 0,5 persen. Adapun defisit tahun anggaran 2,29 persen ini sekitar Rp 522,8 triliun. Kebutuhan dana untuk menahan kenaikan harga BBM dan listrik berasal dari defisit anggaran tersebut. "Tambahan anggaran untuk Pertamina dan PLN itu akan diambil dari sisa saldo anggaran lebih ataupun pelebaran defisit anggaran pada 2024,” ujar Menko Perekonomian Airlangga Hartarto pada 26 Februari lalu. Sesuai UU No 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, pemerintah membatasi defisit APBN maksimal 3 persen dari PDB. (Yetede)
TRADISI LONJAKAN HARGA PANGAN
Lonjakan harga pangan, khususnya komoditas beras yang terjadi hampir tiga tahun, menunjukkan bahwa upaya pemerintah dalam membangun kemandirian pangan masih karut-marut. Keberhasilan mencapai swasembada beras pada 2 tahun silam, tinggal cerita lalu. Kini, sepekan menjelang Ramadan, gejolak harga tidak hanya terjadi pada komoditas beras. Bahan kebutuhan pokok seperti cabai, telur, daging ayam, daging sapi, dan lainnya, mulai bergerak naik. Masyarakat pun harus mengeluarkan ongkos lebih tinggi. Sejatinya, beragam desain kebijkaan untuk membangun kemandirian pangan sudah dikemas dengan rapi. Namun, selalu terbentur di level implementasi.
Operasi Pasar Mulai Digelar
Setelah terjadi kenaikan harga beras, pemerintah mulai
melakukan operasi pasar di Kabupaten Wakatobi, Sultra. Sekda Pemkab Wakatobi
Nadar menyatakan, untuk menstabilkan harga beras, Bulog bersama Pemkab Wakatobi
dan TNI/ Polri telah melaksanakan operasi pasar sejak Rabu (28/2). Dalam
operasi pasar itu, 10 ton beras disalurkan melalui kios milik Bulog yang ada di
pasar. ”Bulog juga akan mendistribusikan 76 ton bantuan pangan ke seluruh wilayah
Kabupaten Wakatobi. Setelah itu, akan digelar operasi pasar murah oleh Pemkab
Wakatobi,” kata Nadar, Sabtu (2/3). Menurut Nadar, setelah operasi pasar
dilakukan, harga beras di Wakatobi mulai menurun. Beras medium dijual dengan
harga Rp 16.250 per kg, sedangkan beras premium Rp 17.500 per kg atau Rp 850.000
per karung ukuran 50 kg.
Sebelumnya, menurut Nadar, harga beras di Wakatobi memang
melonjak. Harga beras premium eceran bahkan mencapai Rp 21.000 per kg. Sejumlah
warga mengeluhkan kenaikan harga beras tersebut. Iin (40), warga Kecamatan
Wangi-wangi, Wakatobi, menuturkan, harga beras premium pernah berada di Rp 900.000
hingga Rp 1 juta per karung ukuran 50 kg. ”Tadi pagi kami baru belanja di pasar
itu dapat harga beras Rp 900.000. Kami dapat segitu mungkin karena ambil di
distributor dan dalam jumlah banyak. Kalau ambil di eceran bisa sampai Rp 1
juta per karung dengan harga Rp 20.000 per kg,” kata Iin, Selasa (27/2). (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









