Lingkungan Hidup
( 5781 )Vale Indonesia Cetak Laba US$ 274,33 Juta
Industri Amonia & Transisi Energi
Amonia (NH3) merupakan salah satu dari tiga ratusan jenis komoditas yang paling banyak diperdagangkan di pasar global. Produk petrokimia ini berperan vital dalam pertanian dan rantai pasok pangan global. Sejalan dengan transisi energi/ekonomi hijau dan target-target SDGs menjelang 2030, industri amonia bertransisi (bahkan bertransformasi ) dari amonia tinggi emisi atau ‘grey ammonia’ ke amonia rendah emisi, baik ‘blue ammonia’ maupun ‘green ammonia’. ‘Blue ammonia’ dihasilkan dari proses konvensional, akan tetapi menggunakan carbon capture and storage (CCS). Sementara untuk pembuatan green ammonia, unsur H diambil dari air (melalui elektrolisis) dan unsur N dipisahkan dari udara. Proses produksinya menggunakan listrik berbasis energi baru/terbarukan (EBT), yakni tenaga air, tenaga surya, dan tenaga bayu. Struktur industri pupuk (berbasis) amonia cenderung monopolistic atau oligopolistic karena tingginya ‘barrier to entry’ bagi pemain atau produsen baru. Investasinya membutuhkan ‘capital expenditure’ (capex) besar, yakni untuk membangun pabrik dengan kapasitas relatif besar beserta depot penyimpanan dalam kawasan yang cukup luas, dan bahkan infrastruktur seperti jalan akses, dermaga beserta armada kapal logistik untuk pengiriman ke destinasi ekspor atau jejaring distribusi. Total kapasitas amonia terpasang di Indonesia saat ini sekitar 8 juta metrik ton. Sekitar 90% pasokan didominasi oleh produsen pupuk pelat merah, yakni Pupuk Indonesia, sedangkan selebihnya oleh pemain swasta nasional seperti PT Kaltim Parna Industri (PT KPI) yang berlokasi di Bontang, Kalimantan Timur. Pendapatan para produsen amonia nasional terutama berasal dari ekspor. Tahun 2022, Indonesia menjadi top exporter amonia ketiga setelah Trinidad dan Saudi Arabia.
Volume ekspor amonia Trinidad sebesar 3,58 juta ton, Saudi Arabia 2,73 ton, dan Indonesia 1,87 juta ton. Khusus untuk nilai ekspor anhydrous ammonia, tahun 2022, Indonesia bahkan di posisi kedua dengan nilai ekspor US$1,71 miliar di bawah Trinidad sebesar US$3,68 miliar. Beberapa tahun terakhir pasar pupuk dan pangan global diwarnai oleh berbagai dinamika yang mendisrupsi rantai pasok, sejak pandemi Covid-19, invasi Rusia ke Ukraina, hingga perang Israel -Hamas. Seirama dengan gejolak harga gas pada 2022, harga urea dan ammonia juga melejit tinggi pasca-invasi Rusia. Menjelang akhir Januari 2024, harga amonia US$0,59/kilogram (global), US$0,73/kilogram (‘North America’), dan US$0,53/kilogram (Asia). Menurut ‘Business Analytiq’ , secara umum ‘outlook’ harga amonia internasional hingga akhir 2024 akan berada sedikit di bawah level Januari 2024. Namun, terdapat satu dinamika yang perlu dicermati tahun 2025, yakni rencana India untuk ‘self sufficiency’ pupuk. India bakal menghentikan impor pupuk secara total pada 2025, setelah beroperasinya 5 unit pabrik urea baru dua tahun terakhir ini dengan total kapasitas 6,35 juta metrik ton per tahun. Merespons transisi energi dan ‘mainstreaming’ ekonomi hijau, dan pemain swasta nasional seperti PT KPI telah menyiapkan strategi, langkah antisipatif, dan rencana bisnis dengan membangun ekosistem industri amonia hijau. Dengan konsep ekosistem, maka setiap anggota komunitas wajib menjaga keberlangsungan ekosistem tersebut, karena masing-masing hidup dari sumber daya yang sama. Strategi yang ditempuh adalah dengan menyinkronkan perencanaan ekspansi investasi pembangunan pabrik amonia hijau dengan konstruksi PLTA sungai Kayan yang direncanakan mulai beroperasi 2027 dengan kapasitas 9.000 MW. Ekosistem ‘green ammonia’ yang melibatkan green hydrogen dan listrik EBT merupakan bagian dari ekosistem industri hijau tersebut. Hal ini dapat menjadi satu case study dan referensi yang baik bagaimana merespons transisi energi dan transisi ke industri hijau secara ‘cost effective’.
BAHAN BAKAR GAS : CELAH TAMBAH PRODUKSI LPG
Proyek Refinery Development Master Plan Balikpapan membawa harapan baru bagi pemenuhan liquefied petroleum gas atau LPG di dalam negeri. Selama ini, pemerintah mengandalkan importasi agar bisa mencukupi permintaan komoditas itu.n Pemenuhan LPG di dalam negeri masih menjadi pekerjaan besar yang perlu diselesaikan, karena mayoritas kebutuhan di dalam negeri masih dipenuhi oleh produk impor. Bahkan, apabila ditambah dengan faktor besarnya subsidi yang harus dikeluarkan untuk komoditas tersebut, maka problem LPG menjadi lebih rumit. Pasalnya, lebih dari 90% konsumsi LPG merupakan produk bersubsidi dengan tabung 3 kilogram atau yang lebih dikenal dengan gas melon. PT Pertamina (Persero) melalui refining & petrochemical subholding-nya, PT Pertamina Kilang Internasional menargetkan bisa menambah produksi LPG hingga 330.000 metrik ton per tahun jika proyek Refinery Development Master Plan atau RDMP Balikpapan rampung. “Ke depan, apabila pengembangan Kilang Balikpapan selesai, maka dapat menambah produksi LPG sekitar 330.000 metrik ton per tahun,” kata Corporate Secretary Kilang Pertamina Internasional Hermansyah Y. Nasroen, saat dihubungi, akhir pekan lalu.
Angka impor LPG pada 2022 tersebut meningkat dibandingkan dengan 2021 yang tercatat sebesar 6,34 juta metrik ton, dengan konsumsi dari sektor rumah tangga sebanyak 8,02 juta ton. Kabar baik dari Kilang Balikpapan seakan melengkapi laporan dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan gas Bumi (SKK Migas) yang pada akhir tahun lalu melaporkan setidaknya ada 12 lapangan minyak dan gas bumi atau migas di Tanah Air yang memiliki kandungan propana (C3) dan butana (C4) sebagai bahan baku LPG. Dengan jumlah kandungan di atas 4%, C3 dan C4 yang terkandung di lapangan migas tersebut dapat dimonetisasi untuk diproduksi menjadi LPG, dengan harapan bisa mengurangi impor yang selama ini juga membebani keuangan negara. Akan tetapi, Wakil Kepala SKK Migas Nanang Abdul Manaf mengatakan, pihaknya masih menghitung jumlah pasti mengenai volume LPG yang bisa dihasilkan dari cadangan tersebut. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya pun telah menyambut baik laporan SKK Migas terkait dengan temuan kandungan propana dan butana yang disebut-sebut bisa memproduksi LPG sebanyak 1,2 juta ton per tahun. Temuan tersebut menjadi harapan pemerintah untuk mengurangi impor LPG. “Temuan itu kalau bisa diupayakan segera, bisa menambah produksi 1,2 juta ton per tahun . Saat ini total produksi kita 1,9 juta ton per tahun,” kata Menteri ESDM Arifin Tasrif. Arifin menyebut, berhentinya operasi sejumlah kilang itu disebabkan karena pasokan bahan baku gas khusus untuk pengolahan LPG relatif terbatas di Indonesia. Berdasarkan laporan Kinerja 2022 Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM, kapasitas pengolahan kilang LPG di Indonesia pada tahun lalu mencapai sebesar 3,78 juta ton per tahun.
INVESTASI, Menanti Kemilau Emas pada Tahun Naga Kayu
Tahun baru China, Imlek 2575, akan segera tiba pada Sabtu
(10/2). Berdasarkan penanggalan China, hal itu menandai Tahun Naga berelemen Kayu atau Naga
Kayu. Budaya China meyakini, shio hewan mitologi yang biasa digambarkan seperti
ular besar, terbang di langit, dan menyemburkan api tersebut menjadi simbol
kekuatan, kekuasaan, kekayaan, kesuksesan, dan kemakmuran. Perpaduannya dengan
elemen kayu yang melambangkan kreativitas dan vitalitas menjadikan Naga Kayu
dianggap shio istimewa sekaligus dinantikan banyak orang. Naga diyakini sebagai
shio yang paling beruntung dalam siklus 12 tahunan sekaligus penuh dengan
energi dan impian akan adanya perubahan dunia, menunjukkan harapan terhadap
kehidupan yang lebih baik tatkala tahun berganti.
Karena kondisi perekonomian saat ini masih dirundung ketidakpastian,
setelah melalui situasi sulit pandemi Covid-19, situasi perekonomian global kembali
menghadapi ketidakpastian akibat pecah konflik geopolitik, perlambatan ekonomi,
dan tekanan suku bunga negara-negara maju. Di tengah perekonomian yang
diselimuti ketidakpastian, emas dapat menjadi investasi yang relatif aman (safe
haven). Hal ini tidak lepas dari sifat emas yang stabil dan menguntungkan
tatkala situasi serba tak pasti akibat guncangan perekonomian, politik, dan
geopolitik, yang tecermin dalam perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Bank Dunia
memperkirakan, pertumbuhan ekonomi global akan melambat dari 2,6 % pada 2023
menjadi 2,4 % pada 2024. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan,
sepanjang 2023, emas telah menorehkan kinerja yang positif di tengah tingkat
suku bunga tinggi bank sentral global.
Selain itu, kinerja emas juga tercatat telah mengungguli
komoditas obligasi dan sebagian pasar saham. ”Dengan ketidakpastian di pasar
keuangan global, emas yang merupakan safe haven asset dapat menjadi salah satu
alternatif investasi. Namun, potensi upside (pertumbuhan) saat ini terbatas
karena adanya potensi higher for longer (era suku bunga tinggi) dari The Fed
(bank sentral AS) sehingga dollar AS cenderung masih akan kuat,” katanya, Rabu
(7/2). Selain faktor suku bunga, tensi geopolitik di Timur Tengah dan
permintaan bank sentral global terhadap emas juga memicu pergerakan harga emas.
Equities Specialist DBS Group Research, Maynard Arif,
menyebut, ada indikasi masyarakat mengalokasikan dananya pada investasi emas
lantaran merupakan aset yang stabil di tengah kondisi global yang tidak
menentu. Berdasarkan perkiraan Bareksa, harga emas Antam di Indonesia
berpotensi menyentuh level Rp 1,15 juta-Rp 1,25 juta per gram pada 2024.
Dibandingkan dengan target harga emas 2023 sebesar Rp 1,1 juta per gram yang
telah tercapai sejak 24 November 2023, proyeksi harga emas pada 2024 bakal
meningkat 13,6 %. Pada 5 Februari 2024, emas Antam tercatat di harga Rp 1,136
juta per gram. Ekspektasi penurunan suku bunga The Fed pada paruh kedua 2024
nanti diyakini dapat memberikan katalis positif terhadap pertumbuhan emas mendatang.
(Yoga)
AKSI KORPORASI : PERTAMINA AGRESIF BURU BLOK MIGAS
Akuisisi wilayah kerja minyak dan gas bumi dengan cadangan jumbo menjadi strategi utama PT Pertamina (Persero) mengamankan produksi dan dan lifting nasional dari portofolionya di tengah tingginya angka natural decline. Perusahaan yang berafiliasi langsung dengan Pertamina, PT Pertamina Hulu Energi mengaku sedang mengincar wilayah kerja minyak dan gas bumi atau migas yang memiliki cadangan jumbo di Indonesia bagian timur. Meski belum mau memerinci blok migas tersebut, Direktur Eksplorasi Pertamina Hulu Energi Muharram Jaya Panguriseng memastikan bahwa akuisisi perusahaan di wilayah kerja tersebut bakal diumumkan oleh pemerintah pada Maret tahun ini. Muharram menjelaskan bahwa Pertamina harus berkompetisi dengan perusahaan migas lain untuk mendapatkan hak pengelolaan di wilayah kerja tersebut. Pasalnya, sejumlah perusahaan migas multinasional juga telah menyatakan minatnya untuk menguasai hak partisipasi blok migas itu. “Jumlah cekungan di Indonesia itu sangat banyak, dan baru 20% yang diutak-atik. Dari 20% tersebut, baru sekitar 10% yang dibor, sehingga potensi kita masih banyak,” jelasnya. Hal tersebut, kata dia, menjadi alasan bagi perusahaan untuk melakukan evaluasi kembali terhadap potensi migas di sejumlah wilayah di Indonesia bagian timur, seperti di sekitar Pulau Seram, Teluk Bone, dan sebelah timur Pulau Aru.
Selain membidik wilayah kerja migas di dalam negeri, Pertamina juga makin aktif mengincar pengelolaan blok migas di luar negeri untuk menambah cadangan energi dan produksinya. Pada tahun lalu, Pertamina Hulu Energi memenangkan lelang baru blok minyak produksi di Gabon, Afrika Barat. Aset produksi itu diperkirakan memiliki potensi cadangan minyak mencapai 45.000 barel per hari (bopd). Upaya Pertamina tersebut sebenarnya sejalan dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi atau SKK Migas yang ingin kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) lebih berani untuk mengelola blok migas dengan cadangan besar. Benny Lubiantara, Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, mengatakan bahwa sejak tahun lalu pihaknya telah menggeser target eksplorasi dengan menyasar cadangan dengan klasifikasi di rentang 100 juta—500 juta MMboe. Tahun ini, target itu kembali ditingkatkan menjadi di atas 500 MMboe. Meski begitu, Benny juga menyadari investasi yang diperlukan untuk melakukan pemboran di laut dalam tidak sedikit. Misalnya saja ENI yang mengeluarkan US$100 juta untuk pemboran di Geng North, dan Mubadala Energy berani menggelontorkan US$93,5 juta untuk kegiatan serupa. Founder & Advisor ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto mengatakan bahwa otoritas migas nasional harus mulai mencari lapangan baru yang bisa menopang lifting nasional. Selama ini, pemerintah dan SKK Migas terlalu bergantung kepada lapangan yang sudah berproduksi, sehingga menghadapi tantangan dari natural decline.
Harga Pangan Dunia Cenderung Turun
Harga sejumlah komoditas pangan dunia, kecuali beras, terus turun seiring membaiknya prospek pasokan global. Namun, sejumlah risiko masih ada, seperti dampak perubahan cuaca, pembatasan perdagangan, dan hambatan distribusi. Hal ini terungkap dalam hasil pemantauan pasar Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) bersama lembaga pengelola Sistem Informasi Pasar Pertanian (AMIS) G20 pada 5 Februari 2024 serta analisis pangan Bank Dunia pada akhir Januari 2024. Ketiga lembaga dunia itu menyebutkan, pasar komoditas pangan pada awal tahun relatif tenang atau tidak terlalu bergejolak. Harga gandum, jagung, dan kedelai berada di titik terendah dibandingkan dua tahun terakhir.
Harga gandum,, per Januari 2024 rata-rata 283,9 USD per ton, lebih rendah dibandingkan harga rerata gandum pada 2022 dan 2023, masing-masing senilai 430 USD per ton dan 340,4 USD per ton. Demikian juga kedelai. Per Januari 2024, harga rata-rata kedelai 547 USD per ton, turun dibandingkan harga rerata kedelai pada 2022 dan 2024 yang masing-masing 675 USD per ton dan 598 USD per ton. Tren penurunan harga gandum dan kedelai pada tahun ini tidak terlepas dari sentimen positif pasar atas pembaruan proyeksi produksi kedua komoditas itu. Produksi gandum yang semula diperkirakan 787,1 juta ton direvisi menjadi 788,5 juta ton lantaran panen gandum di Kanada meningkat. Kedelai, produksinya berubah tipis dari 395,2 juta ton menjadi 395,5 juta ton. Gangguan produksi kedelai di Brasil mampu dikompensasi oleh sedikit peningkatan produksi di Argentina dan AS.
Khusus beras, harganya cenderung tinggi. Per Januari 2024, harga rerata beras Thailand dengan kadar pecah 5 % mencapai 660 USD per ton. Harga tersebut jauh di atas harga rerata beras pada 2022 dan 2023 yang masing-masing 436,8 USD per ton dan 553,7 USD per ton. Kenaikan harga beras dunia terjadi lantaran produksi beras dunia turun akibat dampak El Nino. FAO dan AMIS memangkas proyeksi produksi beras 2023/2024 dari 524,9 juta ton menjadi 524,6 juta ton. Kenaikan harga beras juga dipicu pengetatan kebijakan ekspor beras India yang membatasi ekspor beras putih non-basmati, mengenakan bea masuk beras pratanak sebesar 20 %, dan menetapkan harga ekspor minimum beras basmati 950 USD per ton. (Yoga)
Minyak Sawit yang Menghidupi Pakistan
Pada tahun 2022, Pakistan, yang menggantungkan 95 % kebutuhan
minyak nabatinya dari impor, panik atas kebijakan mendadak Indonesia yang
menghentikan keran ekspor sawit karena 90 % sumber pasokan minyak sawit
Pakistan berasal dari Indonesia. ”Saya ingat betul, stok (minyak sawit) tinggal
21.000 ton. Hanya cukup untuk seminggu,” kata Rasheed Jan Mohammed, CEO
Konferensi Minyak Nabati Pakistan (PEOC) 2024, dalam pertemuan jejaring bisnis
yang digelar Konjen RI dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki),
Kamis (11/1) di Karachi, Pakistan. Pertemuan digelar sebelum penyelenggaraan
PEOC 2024 pada Sabtu (13/1) di Karachi.
Pakistan mengolah sebagian besar minyak sawit asal Indonesia
menjadi bermacam produk makanan, termasuk minyak goreng dan tentunya minyak
vanaspati ghee (minyak nabati dengan tekstur semipadat). Kuliner di Pakistan
yang serba berminyak menjadikan minyak sawit sebagai kebutuhan pokok, seperti
juga di Indonesia. ”Minyak sawit bagi Pakistan seperti darah yang mengaliri tubuh.
Sangat berdampak pada rasa di dapur dan di meja makan,” kata June Kuncoro
Hadiningrat, Konjen RI di Karachi. Bersamaan dengan kebijakan larangan ekspor
sawit Indonesia tersebut, di Pakistan terjadi ketidakstabilan politik akibat PM
Pakistan saat itu, Imran Khan, digulingkan dalam mosi tidak percaya parlemen.
Agar krisis itu tak menjadi petaka, Jan Mohamed bersama
pejabat negaranya bergegas ke Jakarta untuk melobi agar larangan ekspor minyak
sawit Indonesia dibuka kembali dan dikabulkan dikabulkan Pemerintah Indonesia. ”Ketika
sudah diperbolehkan ekspor, kapal kami yang harusnya membawa sawit ke negara
lain langsung diminta dialihkan ke Pakistan,” ujar pelaku industri sawit dari
Indonesia yang berpartisipasi dalam PEOC 2024 yang berlangsung Sabtu (13/1). Bagi
Indonesia, Pakistan nomor tiga terbesar negara tujuan ekspor sawit, hampir 3 juta
ton setiap tahun. Dari sisi perdagangan kedua negara, sawit menguasai neraca perdagangan
Indonesia. Dari 4,3 miliar USD ekspor Indonesia ke Pakistan, sebesar 3,1 miliar
USD berasal dari komoditas sawit. (Yoga)
Logam Mulia Seri Imlek
Minyak Dunia Naik, Subsidi BBM Aman
Pasokan Berlebih Mendinginkan Lagi Harga Batubara
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









