Menggendong Problem Beras
Tahun ini, beban pemerintah menggendong problem beras bertambah
berat. Di tengah kenaikan harga sejumlah pangan pokok lain, persoalan beras
justru semakin pelik. Harganya makin melambung, jenis premium sulit didapat,
dan produksi dihantui perubahan cuaca. Perubahan cuaca akibat El Nino menjadi
sumber utama produksi beras. Musim paceklik beras bertambah panjang dari enam
bulan pada 2022/2023 menjadi delapan bulan pada 2023/2024. Puncak panen raya
padi mundur dari biasanya Maret menjadi April. Musim hujan tahun ini juga
diperkirakan berlangsung singkat, hanya selama Januari-Maret. Fenomena cuaca
itu menyebabkan musim hujan di Indonesia tidak merata. Ada daerah yang
frekuensi dan curah hujannya tinggi, serta ada pula yang sedang, bahkan rendah sekali.
Tidak mengherankan jika ada sejumlah daerah yang kebanjiran dan ada yang belum
tanam padi.
BNPB merilis, pada 2024, sejumlah pemda terdampak banjir
mengusulkan bantuan stimulan akibat puso terhadap lahan seluas 26.995,94 hektar
(ha) dengan petani sebanyak 35.500 orang. Khusus Jateng, luas lahan pertanian
yang gagal panen 16.321 ha dengan petani terdampak 6.439 orang. Kementan
menyebut areal persawahan yang belum ditanami padi atau bera per Februari 2024
seluas 2,67 juta ha. Dari jumlah itu, 2 juta ha sama sekali belum diolah dan
belum diolah, sedang 670.000 ha dalam tahap pengairan dan pengolahan. Faktor-faktor
itulah yang membuat harga beras semakin membubung tinggi pada tahun ini.
Apalagi, hal itu terjadi menjelang Ramadhan-Lebaran, periode ketika permintaan
terhadap sejumlah pangan pokok, termasuk beras, biasanya meningkat.
Berdasarkan Panel Harga Bapanas, per 20 Februari 2024, harga
rerata nasional beras medium Rp 14.110 per kg, naik 5,67 % secara bulanan dan
16,65 % secara tahunan. Kementan tengah berupaya mengakselerasi percepatan tanam
hingga 2 juta ha pada Februari-Maret 2023. Upaya itu akan dilakukan baik di
areal persawahan yang masih bera maupun yang bekas kebanjiran. Direktur
Serealia Direjen Tanaman Pangan Kementan Mohammad Ismail Wahab mengungkapkan,
pada Februari 2024, Kementan menargetkan menanam padi seluas 2 juta ha. Namun,
realisasinya hingga pertengahan bulan baru 576.000 ha. Dalam Rakor Pengendalian
Inflasi Daerah, Senin (19/2) Kantor Staf Presiden (KSP) menyampaikan,
tantangannya tidak hanya perubahan cuaca, tetapi juga infrastruktur. Berdasarkan
verifikasi lapangan tim KSP pekan lalu di Kabupaten Bogor, Sukabumi, Majalengka,
Jabar, terjadi kekurangan pasokan air sehingga ada daerah yang sudah mengolah
lahan dan ada daerah yang sama sekali belum melakukan hal itu. Sementara di
Sumedang, banjir melanda sejumlah daerah sehingga menyebabkan gagal panen atau
puso. (Yoga)
Postingan Terkait
Politik Pangan Indonesia Picu Optimisme
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023