Lingkungan Hidup
( 5781 )Antisipasi Dampak Rupiah dan Minyak
Perekonomian dalam negeri kembali menghadapi tekanan akibat
terus melemahnya nilai tukar rupiah, menembus Rp 16.000 per USD, dan naiknya
harga minyak mentah. Pelemahan nilai tukar juga dialami mata uang banyak negara
lain, hal ini terkait erat dengan kebijakan suku bunga ditingkat global. Langkah
bank sentral AS, The Fed, mempertahankan suku bunga acuan di level 5,25-5,50 %,
sejalan dengan kondisi ekonominya. Komite Pasar Terbuka Federal menyatakan
pihaknya akan melakukan tiga kali penurunan bunga acuan tahun ini, masing-masing
25 basis poin dalam rangka menekan inflasi ke 2 %. Ketua The Fed tak menutup
kemungkinan bunga acuan akan dipertahankan selama mungkin. Ketidakpastian kapan
The Fed memangkas bunga acuan membuat tekanan pelemahan rupiah belum berakhir
Melemahnya rupiah juga dipicu meningkatnya kebutuhan Dollar
AS, untuk pembayaran dividen maupun impor BBM dan pangan, yang sifatnya
musiman. Dibanding negara Asia lain, pelemahan rupiah relatif terkendali. Kurs
rupiah saat ini juga dinilai sesuai nilai fundamentalnya. Cadangan devisa 140
miliar USD cukup solid, memadai untuk menutup 6,4 bulan impor. Namun, pelemahan
rupiah yang menembus level psikologis baru bisa memicu sentimen negatif yang
dapat kian menekan rupiah. Pelemahan rupiah membuat beban utang dalam dollar AS
pun meningkat. Kurs rupiah juga memengaruhi inflasi dalam negeri melalui barang
yang diimpor sehingga berdampak ke daya beli masyarakat, fiskal, dan
perekonomian secara keseluruhan.
Karena itu, kalangan pengamat mengingatkan pentingnya mengantisipasi
dampak ini. Apalagi, melemahnya rupiah terjadi berbarengan dengan terus naiknya
harga minyak mentah dan masih tingginya harga pangan dunia. Ini pukulan ganda bagi Indonesia sebagai importir neto minyak
dan negara yangmasih sangat tergantung pada energi fosil dan pangan impor. Harga
Brent dan WTI mendekati 100 dollar AS per barel, dan bukan tidak mungkin
kembali menyentuh 120-130 dollar AS per barel jika eskalasi konflik di Timur
Tengah sampai mengganggu jalur logistik penting minyak. Pemerintah menyatakan
harga BBM tak akan naik sampai Juni 2024.
Jika kenaikan harga minyak mentah global berlanjut, bukan tidak
mungkin Indonesia dipaksa melakukan penyesuaian harga BBM dalam negeri, dengan
konsekuensi pembengkakan subsidi energi apabila harga BBM bersubsidi
dipertahankan. Pemerintah kemungkinan harus menambah belanja sosial guna
melindungi kelompok rentan dari imbas kenaikan harga dan menerapkan kebijakan
pengendalian konsumsi BBM. Mengakhiri ketergantungan yang terlalu besar pada
komponen, barang jadi, dan pangan impor, serta mempercepat transisi energi
fosil ke energi baru terbarukan yang potensinya melimpah di dalam negeri akan
memperkuat resiliensi Indonesia menghadapi tekanan serupa di masa mendatang (Yoga)
Selebritas dan Elpiji ”Melon”
Elpiji ”melon” alias elpiji tabung 3 kg sedang menjadi topik
hangat di kalangan warganet, berawal dari video yang diunggah selebritas Prilly
Latuconsina di akun Instagram-nya, tentang kegiatannya memasak di dapur untuk
persiapan Lebaran 2024, karena elpiji melon yang tampak digunakan sebagai bahan
bakarnya. Sontak warganet menghujani perempuan muda itu dengan kritik. Sebagai
respons, Prilly pun membuat klarifikasi sekaligus minta maaf pada Kamis (11/4)
pukul 14.30 WIB, yang mendapatkan 6.653 komentar. Salah satunya dari akun quins_bee.
”Gas melon, kan, itu subsidi untuk warga kurang mampu. Salah satu faktor gas
melon langka, ya, kayak gini dipakai oleh pihak yang sebenarnya mampu,” katanya.
Elpiji melon adalah elpiji subsidi dari pemerintah untuk
masyarakat miskin, namun banyak warga bukan kategori miskin menggunakan barang
yang distribusinya terbuka itu. Akibatnya, volume penyalurannya terus
membengkak setiap tahun. Anggaran negara untuk menyubsidi pun menggelembung. Persoalan
kian pelik karena 77 % kebutuhan elpiji dalam negeri dipenuhi impor. Dengan
demikian, beban keuangan negara menjadi kian berat, apalagi jika nilai tukar
dollar AS melonjak atau kurs rupiah anjlok. Mengutip informasi dari Kementerian
ESDM, konsumsi elpiji melon tujuh tahun terakhir melonjak 2,9 juta metrik ton
(MT). Pada 2007, distribusinya mencapai 6,29 juta MT. Pada 2023, distribusinya
telah menggelembung menjadi 8,0 juta MT.
Dari tahun ke tahun, tingkat migrasi pengguna dari elpiji
nonsubsidi ke elpiji subsidi semakin tinggi. Kementerian ESDM mencatat,
realisasi penyaluran elpiji subsidi pada 2020-2022 meningkat 4,5 %. Sementara
penyaluran elpiji nonsubsidi turun 10,9 %. Pada 2023, dari total 8,6 juta ton
realisasi elpiji, 8,03 juta ton di antaranya adalah elpiji 3 kg. Artinya, secara
proporsi, elpiji melon dominan dengan persentase mencapai 93,3 %, karena
disparitas harga jual elpiji subsidi dan nonsubsidi di penyalur/agen yang kian
lebar. Pada Januari 2021, selisih harga elpiji nonsubsidi dan elpiji subsidi
ialah Rp 7.333 per kg.
Disparitas ini melebar hingga Rp 13.500 per kg pada Juli
2023. Berdasarkan regulasi, baik Perpres maupun Permen ESDM, harga jual eceran
(HJE) elpiji 3 kg di agen/penyalur adalah Rp 4.250 per kg atau Rp 12.750 per
tabung. Sejak 2008 hingga sekarang, harga itu tak berubah. Terus melebarnya disparitas
harga antara elpiji nonsubsidi dan elpiji subsidi membuat migrasi ke elpiji melon
semakin tidak terhindarkan. Pemerintah berulang kali menekankan, elpiji 3 kg
hanya diperuntukkan bagi warga tidak mampu. Namun, selama tidak ada regulasi
yang tegas untuk mengaturnya, celah ketidaktepatan sasaran selalu terbuka. Selain
itu, kondisi ini juga rentan penyalahgunaan lewat pengoplosan. (Yoga)
Mengatasi Stagnasi Produktivitas
Eskalasi harga beras sangat tinggi sejak akhir 2023 karena
suplai turun signifikan. Produktivitas hanya tumbuh 0,25 % pada 2014-2023, dari
5,14 ton/hektar (ha) menjadi 5,23 ton/ha. Ketika pada 2019, kekeringan ekstrem melanda
Indonesia, produktivitas padi bahkan turun dari 5,20 ton/ha menjadi 5,11
ton/ha. Upaya peningkatan produktivitas lima tahun terakhir nyaris tak membawa
hasil karena kapasitas produksi telah turun signifikan. Teknik budidaya
pertanian yang tidak berkelanjutan menyebabkan degradasi lahan dan erosi tanah
yang menurunkan produksi dan produktivitas pangan. Praktik pertanian
superintensif dan penggunaan bahan kimia secara berlebihan selama
bertahun-tahun telah menyebabkan kelelahan lahan (land fatigue) di banyak
sentra produksi padi dan pangan strategis lain. Bahan organic (BO) di dalam
tanah menurun drastis, bahkan dua pertiga lahan pertanian Indonesia hanya
memiliki kandungan BO di bawah 2 %.
Kekeringan ekstrem El Nino pada 2023 memperburuk penurunan
kapasitas produksi. Luas panen padi turun signifikan dan produksi paditurun hampir
1 juta ton gabah kering giling (GKG). Strategi peningkatan produktivitas ke depan
perlu lebih banyak menggunakan aplikasi teknik pertanian cerdas (smart farming),
pertanian presisi (precision farming), digitalisasi rantai nilai, dan lainnya.
Kinerja produktivitas padi di Indonesia sebenarnya tak terlalu berbeda dengan
di negara produsen beras lain di Asia Tenggara. Thailand dan Myanmar juga
mengalami pelandaian produktivitas (levelling-off) dua dekade terakhir. Berbeda
dengan Vietnam dan Filipina yang mengalami lompatan produktivitas cukup
signifikan, terutama karena penggunaan varietas unggul, yang lebih adaptif
terhadap perubahan iklim. Selain itu, penggunaan varietas unggul oleh petani
padi Indonesia masih sangat rendah.
Strategi peningkatan produktivitas, khususnya pangan pokok,
perlu mengandalkan inovasi baru dan perubahan teknologi melalui proses
penelitian dan pengembangan (R&D) jangka panjang. Para ilmuwan pertanian Indonesia
telah sangat mumpuni untuk menghasilkan invensi baru dari hasil R&D
tersebut. Invensi baru ini perlu segera menjadi inovasi baru, yang dapat
diadopsi oleh masyarakat atau telah masuk pada tahapan komersialisasi ke depan.
Rekomendasi kebijakan Pertama, penyediaan benih berkualitas, baik melibatkan
industri benih domestik, maupun asing, untuk mampu menjangkau seluruh pelosok
dan bisa diakses oleh petani dari segenap lapisan. Kedua, perbaikan sistem
pemupukan, yang mampu memperbaiki keseimbangan hara tanah yang dibutuhkan tanaman.
Selain butuh pupuk urea, banyak daerah atau sentra produksi memerlukan tambahan
fosfat dan kalium.
Ketiga, penyehatan tanah secara menyeluruh melalui
pengembalian BO seperti jerami ke dalam tanah, agar rasio karbon terhadap
nitrogen (rasio C/N) naik pesat, misalnya penambahan ameliorant tanah, pupuk
hayati, dan sistem pertanian organik. Keempat, revitalisasi sistem penyuluhan
pertanian, yang memberdayakan petani untuk mampu menolong diri sendiri,
mengembangkan sistem kelembagaan ekonomi petani, pendidikan, pelatihan, dan
pemberdayaan petani untuk mengadaptasi serta mengadopsi inovasi baru yang mampu
meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani. Kelima, pengembangan
diversifikasi produksi pertanian ke arah yang mampu meningkatkan skala ekonomi
untuk mendukung strategi diversifikasi konsumsi pangan yang mampu menyehatkan
dan meningkatkan gizi masyarakat. (Yoga)
Reli Harga Emas Tuntas pada April
Harga emas telah mengalami reli kenaikan lebih dari 6 % dlam
sebulan terakhir dan memecahkan rekor hingga saat ini. Analis memprediksi reli
ini akan selesai April ini, kemudian harga emas akan kembali turun pada Mei. Mengutip
situs Gold Price, harga emas pada perdagangan Senin (8/4) dini hari waktu New
York kembali menembus rekor tertinggi, 2.344,22 USD per troy ons. Level itu naik
31,56 poin atau 1,41 % dari harga emas pada penutupan perdagangan Jumat lalu
yang juga sempat memecahkan harga tertinggi di angka 2.329 USD per troy ons.
Catatan rekor ini meningkat lebih dari 6 % dari bulan lalu,
yakni 2.100-2.150 USD per troy ons. Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim
Assuaibi. Ia menyebutkan, pelaku pasar besar di Asia, Amerika, dan Eropa sudah
pasang posisi untuk ambil untung di level 2.350 USD per troy ons, yang diperkirakan
tercapai bulan ini. Setelah itu, harga emas kemungkinan akan mengalami bearish.
”Kemungkinan harga emas akan jatuh, sampai 2.100 USD per troy ons,” ungkap
Ibrahim kepada wartawan, Sabtu (6/4). (Yoga)
Konsumsi BBM Oktan Tinggi Melonjak pada Mudik Lebaran 2024
Aditya N (32), warga Tangerang, Banten, sejak Kamis (4/4)
mengendarai mobil bermesin 1.500 cc dari Tangerang ke Padang, Sumbar. Sehari-hari,
ia menggunakan BBM jenis pertalite, apalagi harga bahan-bahan pokok terus naik.
Namun, khusus untuk perjalanan jauh dalam rangka mudik, ia mengisi mobilnya
dengan BBM jenis pertamax (RON 92) dengan harga Rp 12.950 per liter. ”Kalau
dihitung total sampai tujuan butuh Rp 1,3 juta. Kalau pakai pertalite, sekitar
Rp 1 juta. Lebih mahal Rp 300.000, tapi tarikan lebih enak dan mesin bisa lebih
terawat,” katanya, Senin (8/4). Rachman (36), warga Tangsel, Banten, juga
memilih BBM dengan oktan yang lebih tinggi selama mudik ke Bandung Barat, Jabar.
Untuk keperluan sehari-hari, ia mengisi mobil 1.500 cc-nya dengan BBM Shell Super
(RON 92) dengan harga Rp 14.530 per liter. Saat mudik, ia menggunakan Shell
V-Power (RON 95) dengan harga Rp 15.350 per liter.
Pertimbangannya, untuk efektivitas dan efisiensi karena ia
menempuh perjalanan jarak jauh. ”Sebenarnya ini pertama kali mudik dengan mobil
ini, sekalian mencoba karena katanya tarikannya lebih baik. Biar mesin lebih awet
juga. Jadi, enggak apa-apa lebih mahal sedikit,” tuturnya. Pergeseran
penggunaan BBM ke oktan yang lebih tinggi dalam menempuh perjalanan jarak jauh
juga terlihat pada Kamis atau H-6 Lebaran. Berdasarkan data Pertamina, tingkat
konsumsi pertamax turbo (RON 98) pada hari itu 938 kiloliter (kl), naik 90,7 % disbanding
penjualan normal, di 492 kl per hari. Sementara pertamax (RON 92) hanya naik
24,8 % dari penjualan normal. ”Untuk perjalanan jauh, banyak pengendara
mengandalkan BBM yang lebih berkualitas. Dengan pertamax turbo, tarikan
kendaraan juga lebih baik,” kata Sekretaris Perusahaan PT Pertamina Patra Niaga,
Irto Ginting, Minggu (7/4). (Yoga)
Pembelajaran dari Kecelakaan di KM 58
Jebakan Populisme Hukum Mengusut Korupsi Timah
HILIRISASI, Mengisi Lumbung agar Tidak Tekor
Pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, menurut KPU,
memperoleh suara terbanyak dalam Pemilu Presiden 2024. Prioritas utama kerja
pasangan ini lima tahun ke depan adalah pangan, energi, dan industrialisasi.
Saat ini pangan mendesak ditangani, tecermin dari rentannya produksi pangan
akibat pertambahan penduduk, pengaruh iklim, dan situasi geopolitik. Meningkatkan
produksi pangan menjadi tantangan besar karena lahan semakin terbatas, terjadi
perubahan pola cuaca, perubahan perdagangan global, serta ada kebutuhan berbeda
berdasar usia, jender, profesi, dan budaya. Sementara kesejahteraan petani dan
nelayan tertinggal. Jumlah petani menurun dan usia menua. Menurut Sensus Pertanian
2023 Tahap 1 BPS yang dirilis 15 Desember 2023, jumlah rumah tangga usaha
pertanian gurem meningkat. Proporsi petani gurem bertambah. Pada 2013 jumlahnya
55,33 % (14,25 juta unit) dan menjadi 60,84 % (16,89 juta unit) pada 2023.
Tanpa hilirisasi, tanpa agroindustri, tanpa inovasi sulit mengharapkan
peningkatan produksi pangan seraya menyejahterakan petani. Apalagi menumbuhkan
ekonomi 6 % hingga 7 % per tahun untuk menjadi negara kaya pada 2045. Masih
adanya kelompok masyarakat miskin dan ketimpangan kemakmuran menjadi penghalang
menjadi negara maju. Saat ini 30 % tenaga kerja masih ada di pertanian on farm.
Sementara kesejahteraan petani (dan nelayan) tidak banyak berubah. Nilaitukar petani
bekisar 100. Artinya, keuntungan petani tidak cukup. Mereka harus bekerja di
luar lahannya untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anak. Mereka
memburuh atau menjadi penggarap di lahan milik tetangga, menjadi pedagang kecil
di desa, atau mencari kerja sambilan di kota.
Pemerintahan Prabowo-Gibran diharapkan mempertajam prioritas penghela
pertumbuhan dengan membangun industri berbasis sumber daya alam. Dalam buku
Gagasan Strategis Prabowo, Strategi Transformasi Bangsa Menuju Indonesia Emas
2045, terbit Oktober 2023, disebutkan, 21 komoditas prioritas hilirisasi, 11 di
antaranya berasal dari perkebunan (sawit, kelapa, dan karet) dan lainnya dari
hutan (getah pinus), serta perikanan dan kelautan. Mengaitkan produksi on farm
dengan industri pascapanen di perdesaan melalui BUMDes atau koperasi petani
akan meningkatkan produktivitas. Pendekatan agroindustri berbasis karbohidrat, protein,
vitamin dan mineral mikro dari tanaman pangan, hortikultura, perikanan, perkebunan,
dan hasil hutan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan menjadi pendorong dan
penghela pertumbuhan dan pemerataan. Industri ini dapat dikerjakan petani,
UMKM, hingga industri besar.
Membangun industri pangan memerlukan dukungan kebijakan dari
hulu hingga hilir. Diperlukan industri dasar logam dan kimia untuk menghasilkan
produk, seperti kemasan, bahan penolong dan peralatan pengolah bahan pangan,
serta industri alat dan mesin pendukung. Meski terjadi mekanisasi pertanian, tetapi
cangkul dan arit masih menjadi alat kerja lebih separuh petani serta masih
diimpor sampai hari ini. Industri yang memerlukan. Hilirisasi kopi dan rempah,
misalnya, akan menunjukkan keunggulan keragaman genetika Indonesia dan daya
saing yang melekat. Dengan strategi dan kebijakan tepat, agroindustri akan
menampilkan keunggulan komparatif dan kompetitifnya: kandungan lokal yang
besar, menyerap tenaga kerja dan padat karya, lebih mudah memeratakan
kesejahteraan dan mengisi lumbung pangan kita agar tidak tekor. (Yoga)
Ekonomi (Bencana) Selat Muria
Pada Februari 2024, banjir akibat cuaca ekstrem melanda Demak,
Grobogan, dan Kudus. Sebulan kemudian, banjir melanda kembali ketiga kota itu beserta
Semarang, Pati, dan Jepara. Bencana hidrometeorologi itu menggenangi permukiman
dan lahan pertanian. Banjir juga merendam sejumlah titik jalan pantura di
Semarang, Demak, dan Kudus dan berlangsung hampir dua minggu sehingga menyumbat
jalur transportasi dan logistik. BPBD Jateng mencatat, total kerugian sementara
akibat banjir di enam kota tersebut per 2 April 2024 mencapai Rp 2,22 triliun.
Dari jumlah itu, kerugian Semarang Rp 852,3 miliar, Demak Rp 800,93 miliar, Grobogan
Rp 343,2 miliar, Jepara Rp 139,64 miliar, Kudus Rp 80,77 miliar, dan Pati Rp 11,52
miliar.
Bencana besar serupa pernah melanda Kudus, Demak, Pati, dan
Jepara pada awal 2014. Hujan ekstrem dengan curah 100-300 milimeter menyebabkan
banjir dan longsor di empat daerah itu. Bencana itu mengakibatkan 125.000 warga
mengungsi, 16 orang tewas, jalan pantura lumpuh selama dua minggu, dan tanaman
padi seluas 23.723 hektar di ketiga daerah itu puso. Total kerugian akibat bencana
di keempat kabupaten itu sebesar Rp 2,2 triliun.
Fenomena banjir akibat cuaca ekstrem dan air pasang itu memantik
perbincangan potensi munculnya kembali Selat Muria. Selat Muria merupakan wilayah
perairan di antara daratan utara Jateng dan Gunung Muria mulai abad ke-9 hingga
abad ke-17. Waktu itu, Gunung Muria merupakan pulau tersendiri, terpisah dari
Pulau Jawa, yang terekam dalam peta Jawa Dwipa yang menggambarkan Jawa pada
zaman purba (Sejarah Kawitane Wong Jawa lan Wong Kanung, 1930). Akibat endapan
selama ratusan tahun, Selat Muria berubah menjadi daratan sehingga Pulau Muria
menyatu dengan Pulau Jawa.
Daratan tersebut mencakup Kudus serta sebagian Demak, Pati,
Semarang, Jepara, dan Grobogan. Hingga kini, Semarang, Demak, Kudus, Pati,
Grobogan, dan Jepara menjadi nadi ekonomi Jateng, bahkan Indonesia. Semarang,
misalnya, menjadi nadi logistik karena memiliki Pelabuhan Tanjung Emas. Demak,
Kudus, Pati, dan Grobogan menjadi daerah sentra beras. Dinas Pertanian dan
Perkebunan Provinsi Jateng mencatat, per 15 Maret 2024, banjir melanda 16.269
hektar sawah yang ditanami padi di Kabupaten Grobogan, Demak, Pati, Kudus, dan
Jepara, menyebabkan sebagian besar padi gagal dipanen. (Yoga)
Konsumsi Pertamax Turbo Melonjak 90,7 Persen
PT Pertamina (Persero) mencatat terdapat kenaikan konsumsi BBM
pertamax turbo (RON 95) hingga 90,7 % pada Kamis (4/4) atau H-6 Idul Fitri 1445
H. Berdasarkan data Pertamina, penjualan pertamax turbo sebesar 938 kiloliter
per hari, lebih tinggi dibandingkan kenaikan konsumsi pertamax. Data yang dihimpun
PT Pertamina menunjukkan, penjualan pertamax pada H-6 Lebaran sebesar 15.890 kl
per hari atau naik 24,8 % dari penjualan normal yang 12.729 kl per hari. Pertamina
menyebut konsumen cenderung memilih BBM lebih berkualitas untuk perjalanan
jarak jauh.
”Untuk perjalanan jauh, banyak pengendara mengandalkan BBM
yang lebih berkualitas. Dengan pertamax turbo tarikan kendaraan juga lebih
baik,” kata Sekretaris Perusahaan PT Pertamina Patra Niaga Irto Ginting, Minggu
(7/4). Irto juga mengatakan, lonjakan konsumsi pertamax turbo menjelang Lebaran
bukan diakibatkan terbatasnya ketersediaan pertamax. ”Tidak kosong. Kami pastikan
stok tersedia,” katanya. Sementara itu, untuk BBM jenis lain, peningkatan konsumsi
pada H-6 Lebaran terjadi pada pertamina dex, yaitu sebesar 33,1 %, dexlite 29,8
%, pertalite 11 %, dan solar 9,3 %. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









