;
Kategori

Lingkungan Hidup

( 5820 )

Saham Emiten Emas Bersinar

20 Apr 2024
Saham emiten emas makin bersinar ditengah memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah, setelah Israel dikabarkan mengirimkan  serangan balasan ke Iran pada Jumat (19/4/2024). Akibat serangan itu, permintaan safe haven  seperti emas melonjak dan berimbas pada pergerakan harganya yang terus menanjak. Saham emiten emas seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Merdeka Copper Tbk (MDKA), dan lainnya juga mengalami kenaikan pada perdagangan kemarin, dan diyakini terus berlanjut ke depannya. Adanya laporan Israel menyerang Iran pada Jumat (19/4/2024) memicu kekhawatiran akan konflik regional yang lebih luas, sehingga meningkatkan daya tarik safe haven  logam kuning. Harga emas di pasar spot naik 0,1% menjadi US$ 2.380 per ounce, dengan kenaikan lebih dari 1% di pekan ini. Emas berjangka AS juga naik 0,1% pada US$ 2,396 per ounce. (Yetede)

Medco Rampungkan Divestasi Blok Migas Vietnam

20 Apr 2024
PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) mengumumkan keberhasilan penyelesaian divestasi seluruh kepemilikan sahamnya di Ophir Vietnam Block 12W B.V (OVBV) kepada Bitexco Energy Company Limited. OVBV memegang 31,875% hak berpartisipasi di Chim Sao dan Dua (Blok 12W), lapangan produksi minyak dan gas yang berlokasi di Vietnam. "Divestasi ini sejalan dengan strategi Medco Energi untuk mengelola  portfolio secara aktif melalui akuisisi dan divestasi yang tepat sasaran. Kami mengapresiasi kerja sama Bitexco selama  transaksi ini dan kami berharap lapangan-lapangan tersebut dapat terus memberikan nilai tambah bagi pemilik baru," kata CEO Medco Energi Roberto Lorato. Medco Energi saat ini memiliki tiga segmen bisnis utama, yakni Minyak & Gas, Ketenagalistrikan dan Pertambangan Tembaga. Medco Energi mengekplorasi dan memproduksi minyak dan gas terutama di Indonesia. (Yetede)

Harga Minyak Mentah Pun Turun

20 Apr 2024
Harga minyak mentah dilaporkan turun pada Jumat perdagangan (19/4/2024), setelah sempat melonjak lebih dari US$ 3. penurunan harga itu reaksi Iran yang mengecilkan laporan serangan israel  di tanah airnya, guna menghindari eskalasi permusuhan di Timur Tengah. Harga minyak mentah Brent menunjukkan penurunan 48 sen atau 0,6% menjadi US$ 86,63 per barel pada pukul 11.55 GMT. Sementara harga acuan minyak mentah Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), kontraksi 30 sen atau 0,5% menjadi US$ 82,35 per barel. "Meskipun lonjakan awal minyak mungkin telah menyoroti ketakutan awal akan eskalasi lebih lanjut, kita telah melihat ekuitas dan minyak mentah membalikkan beberapa pergerakan awal tersebut," ujar Joshua Mahony, kepala analis pasar Scope Markets, yang dilansir Reuters. (Yetede)

GERAK CEPAT AMANKAN SUPLAI MINYAK

20 Apr 2024

Konflik geopolitik di Timur Tengah makin meningkat setelah Israel meluncurkan serangan balasan ke Iran, membuka risiko terganggunya pasokan minyak mentah impor sekaligus memicu lonjakan harga komoditas energi ini ke titik tertinggi. Kemampuan Iran sebagai salah satu produsen utama minyak mentah untuk tetap memenuhi komitmen mengekspor minyak mentah sesuai komitmen mendapatkan perhatian dari sejumlah negara importir komoditas energi ini, termasuk Indonesia. Pasalnya, konflik Iran-Israel dikhawatirkan bakal mengganggu keamanan jalur pelayaran kapal tanker di Selat Hormuz. Kawasan ini menjadi lalu lintas strategis kapal tanker yang setiap harinya mengangkut hingga 21 juta barel minyak mentah ke sejumlah negara pengimpor. Selama ini, Indonesia mengimpor minyak mentah dari Nigeria Afrika Barat, Arab Saudi, dan Gabon Afrika Tengah yang harus melintasi Selat Hormuz. Sejak Iran melancarkan serangan terbuka pada Sabtu (14/4), pemerintah Indonesia langsung gerak cepat melakukan perhitungan sekaligus antisipasi pengamanan bahan bakar minyak (BBM) nasional. Kendati, optimistis stok BBM nasional masih dalam level aman, pemerintah dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan PT Pertamina (Persero) mulai melirik sumber cadangan impor minyak mentah yang baru. Menteri ESDM Arifin Tasrif langsung memetakan sejumlah negara produsen di Afrika bagian Selatan dan Amerika Latin yang dapat memenuhi kebutuhan impor BBM nasional yang tidak terpengaruh dengan rute di Selat Hormuz.

Penjajakan di dua negara ini pun harus dilakukan dengan teliti karena kilang yang dioperasikan oleh PT Kilang Pertamina Internasional hanya dapat mengolah minyak mentah dengan kandungan sulfur maksimal 0,2%. Selaras, VP Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso menambahkan, perseroan tidak hanya mencari alternatif rantai pasok energi global saja. Pertamina, turut mencermati fluktuasi harga minyak mentah di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Berdasarkan pantauan Bisnis, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) pada perdagangan (19/4) pukul 22.00 WIB mencapai US$83,14 per barel, lebih tinggi dibandingkan dengan perdagangan pagi pukul 06.54 WIB sebesar US$82,6 per barel. Di tengah konflik geopolitik, sebagai negara yang masih memiliki potensi migas yang cukup besar, Indonesia bakal mendapatkan berkah dari kenaikan harga minyak mentah dunia. Kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) bakal meraup cuan dari proyek hulu minyak dan gas (migas).

Kepala Divisi Program dan Komunikasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Hudi Suryodipuro memastikan momentum ini langsung direspons oleh KKKS melalui aktivitas jangka pendek, a.l. mempercepat identifikasi potensi tambahan kegiatan workover and stimulation yang dapat meningkatkan produksi. Adapun, Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Bumi (Aspermigas) Moshe Rizal mengatakan, selain berkah dari kenaikan harga minyak mentah muncul pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan para pemangku kepentingan. “Indonesia berbeda dengan negara lain. Lapangannya sudah mature. Dengan demikian, produksi minyak mentah secara natural turun. Untuk meningkatkan produksi butuh investasi yang signifikan untuk mengebor sumur eksplorasi dan penerapan teknologi EOR ,” jelasnya.   Terlebih, imbuhnya, produksi minyak yang dihasilkan tidak menjamin mampu menutup jumlah investasi yang dikeluarkan oleh KKKS. Moshe menilai, pemerintah perlu menambah insentif dan menjaga iklim investasi yang kondusif bagi industri migas yang padat risiko dan padat modal ini.

Kenaikan Harga Minyak Bisa Kuras APBN

19 Apr 2024
Harga minyak dunia diperkirakan terus naik di atas asumsi APBN 2024 sebesar US$ 82 per barel, menyusul memanasnya perang Iran-Israel. Hal ini berpotensi menguras APBN Pada Kamis (18/4/2024) harga minyak Brent diperdagangkan US$ 86,66 per barel, sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$ 82,05. Sementara nilai tukar mencapai Rp16.200 per dolar AS. Seperti diketahui, pemerintah telah menetapkan anggaran subsidi energi LPG 3 kg dan BBM mencapai Rp113,27 triliun dan subsidi listrik Rp75,83 triliun pada APBN 2024, atau total Rp189,1 triliun. Adapun nilai tukar dalam APBN 20244 ditetapkan sebesar Rp15.000 per dolar AS. Menurut Head of Center Macroeconomics and Finance Indef M Rizal Taufikurahman, jika perang tersebut terus berlanjut dan banyak melibatkan negara tetangga Arab, harga minyak mentah dunia pun akan terus melambung di atas asumsi APBN. (Yetede)

Kenaikan Produksi Beras di Jatim Bisa Tekan Impor

19 Apr 2024
Kementrian Pertanian (Kementan) memacu peningkatan produksi  beras 1-2 juta ton di provinsi jawa Timur (Jatim) melalui program pompanisasi. Dengan tambahan produksi sebesar itu, Jatim yang merupakan lumbung beras bisa membantu mengurangi impor hingga 50%. "Ini kita pasang pompa agar yang tadinya tanam sekali bisa jadi tiga kali, artinya bisa kita capai nanti, dari Jatim agar kenaikan  mencapai 2 juta ton atau minimal 1 juta ton bisa  menutupi 50% impor kita hanya dari satu provinsi," ungkap Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Demikian Mentan mengatakan, sebagai salah satu daerah lumbung pangan nasional, Jatim memiliki lebih 380 ribu hektare (ha) sawah tadah hujan. Kementan optimistis jika sistem pompanisasi mampu memaksimalkan penanaman di 300 ribu ha lahan yang dimaksud, Jatim dipastikan dapat menutupi 50% kebutuhan beras nasional yang beberapa tahun dipenuhi dari impor. (Yetede)

Meraih Peluang di Tengah Konflik

19 Apr 2024

Di tengah spekulasi memanasnya konflik di Timur Tengah yang dipicu oleh serangan Iran ke Israel pada Sabtu (13/4), sejumlah negara pengimpor minyak mentah dan produk olahan, salah satunya Indonesia mulai bersiap siaga. Pasalnya, konflik yang melibatkan Iran yang dikenal sebagai salah satu produsen minyak bumi terbesar di dunia ini berisiko mengerek harga komoditas energi ini hingga ke level puncak. Indonesia sebagai salah satu pengimpor minyak mentah mulai mencermati langkah yang diambil investor berikut strategi antisipasi dari produsen dan konsumen migas dunia. Upaya ini menjadi penting karena pemerintah perlu memastikan kebutuhan minyak mentah dalam negeri dapat dipenuhi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, impor minyak mentah Indonesia pada 2023 mencapai 17,83 juta ton, dengan nilai mencapai US$11,14 miliar. 

Sementara itu, impor minyak bumi dan hasil-hasilnya pada tahan lalu mencapai 52,14 juta ton, senilai US$35,83 miliar. Di Indonesia, setiap kenaikan Indonesia Crude Price (ICP) US$1 per barel dapat dipastikan berdampak pada kenaikan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sekitar Rp1,8 triliun. Kenaikan harga tersebut juga mengatrol peningkatan subsidi energi sekitar Rp1,8 triliun, sekaligus kompensasi energi sebanyak Rp5,3 triliun. Kendati konflik geopolitik Timur Tengah berisiko membebani APBN, di sisi lain peluang baru khususnya di sektor hulu minyak dan gas nasional justru terbuka lebar. 

Kenaikan harga bakal membantu keekonomian sejumlah proyek hulu migas nasional khususnya bagi kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) dalam melakukan pembiayaan proyek existing. Selama ini, investasi di sektor hulu migas khususnya untuk eksplorasi masih jauh dari target. Kondisi ini membuat proses penemuan cadangan migas di sejumlah lapangan menjadi tersendat. Upaya yang perlu diutamakan adalah peningkatan daya saing di industri migas nasional. Selain itu, upaya pemerintah dalam menjaga iklim investasi yang tetap kondusif menjadi kunci memenangkan kompetisi dalam situasi seperti sekarang ini.

PASOKAN GAS : ALTERNATIF ATASI DEFISIT

19 Apr 2024

Merosotnya pasokan gas dari sejumlah lapangan minyak dan gas bumi membuat PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) memburu gas alam cair sebagai alternatif agar tetap bisa memenuhi kebutuhan di sebagian wilayah Sumatra dan Jawa.n Gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) disasar, karena bisa didatangkan dari lapangan minyak dan gas bumi (migas) lain untuk kemudian diolah dan disalurkan melalui jaringan pipa gas di Sumatra bagian tengah, Sumatra bagian selatan, dan Jawa bagian barat. PGAS atau PGN mengakui bahwa pihaknya sedang meminta tambahan 2—3 kargo LNG pada kuartal III/2024 untuk mengatasi defisit gas pipa di sejumlah wilayah di Sumatra dan Jawa. “Kebutuhan LNG PGN pada 2024 sebesar 2—3 kargo, dan saat ini PGN sedang mendiskusikan dengan pemasok LNG yang berasal dari domestik, baik dari Bontang maupun Tangguh,” kata Sekretaris Perusahaan PGN Rachmat Hutama saat dihubungi, Kamis (18/4). Rachmat mengatakan bahwa saat ini perseroan masih dalam tahap pembahasan ihwal harga kontrak bersama dengan pemasok LNG dan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

Berdasarkan kisaran harga pasar LNG pada tahun ini, perkiraan harga jual gas hasil regasifikasi LNG di pelanggan masih relatif lebih rendah dibandingkan dengan over usage penalty. Dengan catatan, harga dapat berubah sesuai dengan perubahan harga pasar LNG pada saat pembelian. Sebagai alternatif pasokan gas, LNG sampai dengan disalurkan kepada pelanggan membutuhkan rantai penyaluran yang lebih panjang dibandingkan dengan rantai penyaluran gas pipa, karena adanya proses tambahan berupa pendinginan, transportasi, penyimpanan, dan regasifikasi. Sepanjang 2024—2034, PGAS memproyeksikan kebutuhan penambahan pasokan gas hasil regasifikasi LNG sebesar 73—355 billion british thermal unit per day (BBtud) agar bisa memenuhi kebutuhan di Sumatra bagian tengah, Sumatra bagian selatan, dan Jawa bagian barat. 

Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Hudi Suryodipuro menuturkan bahwa saat ini pihaknya masih menunggu penawaran harga dari PGAS terkait dengan 2 kargo LNG tersebut. Beberapa lapangan yang mengalami penurunan salur gas itu antara lain Blok Corridor, PEP Sumatera Selatan (Regional 1), PEP Jawa Barat (Regional 2), PHE Jambi Merang, dan sejumlah kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) yang beroperasi di kawasan tersebut.

Di sisi lain, industri pengguna gas belakangan tengah dilema untuk menyerap gas yang berasal dari LNG yang digunakan PGAS untuk ‘menambal’ pasokan. Ketua Umum Forum Industri Pengguna Gas Bumi Yustinus Gunawan mengatakan bahwa harga LNG relatif lebih mahal ketimbang gas pipa untuk industri. Apalagi, kuota skema harga gas bumi tertentu (HGBT) lebih kecil daripada kontrak minimum perjanjian jual beli gas (PJBG). Dia membeberkan bahwa industri pengguna gas cenderung terjebak di antara keharusan membayar volume minimum kontrak, meskipun realisasi pemakaian lebih kecil dari kontrak minimum atau membayar harga LNG untuk selisih antara kuota skema HGBT dengan realisasi konsumsi. 

Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho berpendapat bahwa pemerintah perlu mencari solusi ihwal harga LNG yang saat ini masih terbilang mahal untuk industri dalam negeri. Menurutnya, harga LNG mesti bisa lebih kompetitif dengan harga dagang gas pipa saat ini. Dengan demikian, daya saing dan investasi industri domestik bisa tetap kompetitif dibandingkan dengan beberapa kompetitor dari negara lain. Sementara itu, Indonesia Gas Society (IGS) menyarankan agar pemerintah untuk berhati-hati dalam menetapkan HGBT. Alasannya, penetapan harga yang tidak adil bakal berdampak negatif pada rencana investasi PGAS dalam mengembangkan pengembangan infrastruktur midstream gas. Di sisi lain, kata Aris, PGAS dapat memiliki ruang pembiayaan infrastruktur yang lebih lebar jika harga gas ditetapkan sesuai dengan harga komersial.

PRODUKSI BERAS NASIONAL

19 Apr 2024

Produksi beras tahun ini yang diproyeksi bakal lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya membuat cadangan beras pemerintah berada pada level yang rawan. Serapan gabah yang dilakukan oleh Perum BULOG pun mengalami penyusutan. Panen raya yang menjadi momentum bagi BULOG untuk menyerap gabah lebih banyak dari petani terhambat oleh beragam anomali yang terjadi. Impaknya, cadangan beras pemerintah saat ini belum bisa dibilang aman. Perum BULOG mencatat serapan gabah sejak Januari 2024 hingga 14 April 2024 mencapai 120.000 ton atau setara dengan 64.000 ton beras. Angka tersebut anjlok dibandingkan dengan serapan pada periode yang sama tahun-tahun sebelumnya, di mana rata-rata kemampuan serap gabah BULOG mencapai 375.000 ton beras. Di sisi lain, stok beras BULOG per 16 April 2024 tercatat masih ada pada level 1.231.434 ton. 

Direktur Utama Perum BULOG Bayu Krisnamurthi menjelaskan bahwa penyerapan yang rendah pada tahun ini terjadi lantaran produksi yang diperkirakan lebih rendah ketimbang tahun sebelumnya. Hal itu diperkuat dengan prediksi Badan Pusat Statistik yang menyebut bahwa produksi beras pada kuartal I/2024 bakal turun 17% secara tahunan. Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi juga mengakui serapan BULOG pada periode awal panen raya masih minim. Alasannya, sebagian besar gabah petani sudah diserap terlebih dahulu oleh penggilingan swasta. Dia menyebut bahwa Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik mencatat produksi beras pada Maret 2024 sebanyak 3,8 juta ton, dan diperkirakan mencapai puncaknya pada bulan ini menjadi sebanyak 4,9 juta ton. Menurutnya, Badan Pangan Nasional menargetkan stok beras Bulog bisa mencapai 2 juta ton. Sebanyak 1,2 juta ton di antaranya dibutuhkan untuk penugasan stabilisasi harga, bantuan pangan, dan antisipasi bencana. 

Akan tetapi, gejolak geopolitik di Timur Tengah usai pecahnya konflik Iran-Israel juga meningkatkan risiko terhadap importasi beras. Apalagi, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga terus tembus di atas Rp16.000 per dolar AS. Secara terpisah, Ketua Umum Serikat Petani Indonesia Henry Saragih mengatakan bahwa saat ini sebenarnya sudah memasuki periode panen raya. Harga gabah di tingkat petani pun sudah jatuh di bawah Rp5.000 per kilogram. Sementara itu, Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia Sutarto Alimoeso membeberkan bahwa rendahnya serapan beras BULOG pada panen raya berisiko terhadap stok cadangan beras pemerintah hingga akhir tahun. Saat stok beras pemerintah sangat terbatas, kata Sutarto, harga beras pada paruh kedua tahun ini berisiko naik. 

Apabila hal itu terjadi, opsi impor menjadi yang paling diandalkan oleh pemerintah untuk menjaga stok cadangan beras pemerintah. Saat produksi rendah dan defisit pada bulan paceklik, dipastikan BULOG akan sulit menyerap gabah petani lantaran harga gabah naik dan kompetisi dengan pabrik beras swasta makin ketat, seperti yang terjadi pada paruh kedua 2023. Terlebih, lanjutnya, kapasitas penggilingan sudah terlampau banyak, yaitu mencapai 225 juta ton. Padahal, produksi gabah nasional secara tahunan hanya 54 juta ton. Oleh karena itu, BULOG perlu membangun jaringannya hingga ke akar rumput, tidak hanya mengandalkan mitra penggilingannya untuk menyerap gabah petani. Adapun, pengamat pertanian Center of Reform on Econo-mics Eliza Mardian mengatakan bahwa pemerintah perlu menaikkan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah petani menjadi di atas Rp6.000 per kilogram agar BULOG bisa menyerap lebih banyak hasil produksi petani.

STOK BERAS : GANJALAN KETAHANAN PASOKAN

19 Apr 2024

Produksi beras tahun ini yang diproyeksi bakal lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya membuat cadangan beras pemerintah berada pada level yang rawan. Serapan gabah yang dilakukan oleh Perum BULOG pun mengalami penyusutan. Panen raya yang menjadi momentum bagi BULOG untuk menyerap gabah lebih banyak dari petani terhambat oleh beragam anomali yang terjadi. Impaknya, cadangan beras pemerintah saat ini belum bisa dibilang aman. Perum BULOG mencatat serapan gabah sejak Januari 2024 hingga 14 April 2024 mencapai 120.000 ton atau setara dengan 64.000 ton beras. Angka tersebut anjlok dibandingkan dengan serapan pada periode yang sama tahun-tahun sebelumnya, di mana rata-rata kemampuan serap gabah BULOG mencapai 375.000 ton beras. Di sisi lain, stok beras BULOG per 16 April 2024 tercatat masih ada pada level 1.231.434 ton. Direktur Utama Perum BULOG Bayu Krisnamurthi menjelaskan bahwa penyerapan yang rendah pada tahun ini terjadi lantaran produksi yang diperkirakan lebih rendah ketimbang tahun sebelumnya. Hal itu diperkuat dengan prediksi Badan Pusat Statistik yang menyebut bahwa produksi beras pada kuartal I/2024 bakal turun 17% secara tahunan.

Selain produksi yang rendah, kualitas gabah petani yang belum memadai ikut menjadi kendala bagi BULOG dalam melakukan tugasnya menyerap gabah petani. Sebagian besar gabah petani cenderung basah alias punya kadar air di atas ketentuan yang telah ditetapkan. Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi juga mengakui serapan BULOG pada periode awal panen raya masih minim. Alasannya, sebagian besar gabah petani sudah diserap terlebih dahulu oleh penggilingan swasta. Dia menyebut bahwa Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik mencatat produksi beras pada Maret 2024 sebanyak 3,8 juta ton, dan diperkirakan mencapai puncaknya pada bulan ini menjadi sebanyak 4,9 juta ton. Akan tetapi, gejolak geopolitik di Timur Tengah usai pecahnya konflik Iran-Israel juga meningkatkan risiko terhadap importasi beras. Apalagi, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga terus tembus di atas Rp16.000 per dolar AS. Secara terpisah, Ketua Umum Serikat Petani Indonesia Henry Saragih mengatakan bahwa saat ini sebenarnya sudah memasuki periode panen raya. Harga gabah di tingkat petani pun sudah jatuh di bawah Rp5.000 per kilogram. Untuk itu, keberadaan BULOG untuk menyerap gabah petani dengan harga lebih tinggi menjadi sangat penting.

Sementara itu, Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia Sutarto Alimoeso membeberkan bahwa rendahnya serapan beras BULOG pada panen raya berisiko terhadap stok cadangan beras pemerintah hingga akhir tahun. Saat stok beras pemerintah sangat terbatas, kata Sutarto, harga beras pada paruh kedua tahun ini berisiko naik. Apabila hal itu terjadi, opsi impor menjadi yang paling diandalkan oleh pemerintah untuk menjaga stok cadangan beras pemerintah. Panen raya, kata dia, menjadi satu-satunya kesempatan bagi BULOG untuk menyerap produksi dalam negeri. Musababnya, kondisi surplus hanya terjadi pada periode panen raya periode Maret—Mei. Saat produksi rendah dan defisit pada bulan paceklik, dipastikan BULOG akan sulit menyerap gabah petani lantaran harga gabah naik dan kompetisi dengan pabrik beras swasta makin ketat, seperti yang terjadi pada paruh kedua 2023. Terlebih, lanjutnya, kapasitas penggilingan sudah terlampau banyak, yaitu mencapai 225 juta ton. Padahal, produksi gabah nasional secara tahunan hanya 54 juta ton. Adapun, pengamat pertanian Center of Reform on Economics Eliza Mardian mengatakan bahwa pemerintah perlu menaikkan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah petani menjadi di atas Rp6.000 per kilogram agar BULOG bisa menyerap lebih banyak hasil produksi petani.