Lingkungan Hidup
( 5820 )Tafsir Keliru Hak Menguasai oleh Negara
DAMPAK KETEGANGAN IRAN-ISRAEL : WASWAS IMPAK HARGA MINYAK
Eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah akibat konflik terbuka Iran dan Israel menimbulkan kewaspadaan para pemangku kepentingan di Tanah Air, karena bisa memberikan dampak seperti pisau bermata dua. Konflik yang melibatkan Iran sebagai salah satu produsen utama minyak bumi itu diyakini berpotensi besar membuat harga minyak terkerek naik ke level yang lebih tinggi. Padahal, hingga kini Indonesia masih mengimpor minyak mentah dan produk olahan minyak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, impor minyak mentah Indonesia pada tahun lalu mencapai 17,83 juta ton, senilai US$11,14 miliar. Sementara itu, impor minyak bumi dan hasil-hasilnya pada 2023 sebanyak 52,14 juta ton, dengan nilai US$35,83 miliar. Tutuka Ariadji, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengakui bahwa pemerintah masih mengamati dampak jangka panjang eskalasi ketegangan di Iran dan Israel.
Bagi Indonesia, jelas Tutuka, setiap kenaikan Indonesia Crude Price (ICP) US$1 per barel akan berdampak kepada kenaikan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sekitar Rp1,8 triliun. Akan tetapi, kenaikan harga tersebut juga berimpak terhadap peningkatan subsidi energi sekitar 1,8 triliun, dan kompensasi energi sebanyak Rp5,3 triliun. Kemudian untuk kenaikan nilai tukar rupiah, setiap kenaikan Rp100 per dolar AS akan berdampak kepada pertumbuhan PNBP senilai Rp1,8 triliun. Di sisi lain, hal itu juga bakal membuat subsidi energi bengkak sekitar Rp1,2 triliun, dan kompensasi melesat Rp3,9 triliun. Sementara itu, Founder & Advisor ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto mengatakan selain berpotensi meningkatkan PNBP dan subsidi energi, peningkatan harga minyak juga bisa membuat industri hulu minyak dan gas bumi (migas) lebih bergeliat.
Meski begitu, Pri Agung, tetap mengingatkan peningkatan keekonomian proyek hulu migas juga akan terjadi di negara lain, sehingga Indonesia tetap harus meningkatkan daya saingnya di industri pada modal tersebut. Ekonom dan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Mari Elka Pangestu meyakini eskalasi ketegangan Iran-Israel tidak akan berlangsung lama, karena bisa merugikan banyak pihak. Harga minyak global sendiri tercatat melemah di tengah spekulasi konflik antara Iran dan Israel bakal tetap terkendali. Minyak mentah Brent turun 1,4% di perdagangan di London, jatuh kembali di bawah US$90 per barel. “Perang ini mungkin akan makin menurun jika Pemerintah Israel mengikuti saran Gedung Putih, dan tidak melakukan tindakan pembalasan,” kata analis RBC Capital Markets LLC termasuk Helima Croft dalam risetnya, dikutip dari Bloomberg, Senin (15/4).
Harga Beras Mahal, Desa Dapat Apa?
Jenis kapital yang tersedia di perdesaan dan jarang ditemukan
di perkotaan adalah lahan pertanian. Ini membuat sektor pertanian, termasuk
pertanian tanaman pangan, khususnya padi, sebagian besar ada di perdesaan.
Maka, ketika harga beras melambung, muncul pertanyaan, seberapa banyak kenaikan
harga dinikmati para petani padi sebagai produsen utama beras di Indonesia,
yang sebagian besar tinggal di perdesaan. Tapi, alih-alih menikmati rezeki
karena kenaikan harga produknya, petani padi sebagaimana yang diberitakan malah
ikut antre beras murah program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP)
pemerintah.
Liputan Kompas mendapati petani padi di Cirebon tak punya
simpanan beras hasil panen masa tanam sebelumnya karena panen mundur akibat
kekeringan sebagai dampak El Nino. Tapi lain cerita dengan petani padi organik,
simpanan beras mereka masih aman, tidak terjadi kekurangan, mereka masih makan nasi
hasil panen sebelumnya. Sejak lama, petani padi organik selalu membiasakan
menggunakan hasil panen mereka untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka
terlebih dulu. Jika ada sisa, barulah itu dijual. Kebiasaan menempatkan pemenuhan
kebutuhan pangan keluarga sebagai prioritas utama dalam pemanfaatan hasil panen
memang selalu disampaikan para pendamping petani organik.
Adapun beras dengan harga yang mahal itu, awalnya, begitu
selesai panen, sebagian besar petani menjual beras kepada para penampung. Sebagian
dari mereka ini bermodal raksasa, dengan fasilitas gudang yang sangat besar.
Walau petani padi menyimpan beras hasil sawah mereka untuk kebutuhan pangan
keluarga, uang hasil penjualan sebagian gabah juga sangat diharapkan sebagai
modal tanam pada masa tanam berikutnya. Karena hasil bertani padi di Indonesia
tidak cukup untuk modal di musim tanam berikutnya, tekanan untuk menjual hasil
panen menjadi semakin tinggi. Situasi ini jarang terjadi pada para petani padi
sehat atau organik. Sebab, sarana produksi untuk padi jenis ini sebagian besar adalah
hasil produksi sendiri.
Banyak bukti di lapangan, pertanian padi organik memiliki
produktivitas di atas produktivitas padi konvensional. Jika produktivitas sawah
konvensional adalah 5,5 ton per hektar (ha), sawah padi sehat di Tasikmalaya
bisa menghasilkan 8 ton per ha, di Wonogiri bisa 13 ton per ha. Para petani
padi organik ini sudah lama tidak lagi merasakan kerepotan berburu pupuk
bersubsidi. Sebab, pupuk kompos bisa mereka produksi sendiri. Di sisi sarana produksi
pertanian, para petani padi organik adalah tuan bagi dirinya sendiri. Terlebih,
hasil produksi mereka jika dijual di toko ritel akan masuk ke kelompok beras
premium. Ada baiknya pemerintah mulai mendalami dan mendorong penerapan
pertanian padi organik secara lebih luas. Ketahanan pangan hanya dapat dicapai lewat
kedaulatan para petani tanaman pangan, yang sebagian besar tinggal di desa. (Yoga)
Sudah Jatuh Tertimbun Beras
Sore itu, Senin (8/4) Herianto (48) mengendarai sepeda motor
menuju Balai Desa Belanti Siam, Pulang Pisau, Kalteng, untuk berbuka puasa
bersama petani lain. Setelah berbuka, semua berencana tarawih bersama. Saat
melihat sawahnya yang berisi jerami pascapanen berserakan, Herianto menghentikan
sepeda motornya. Ia bahkan sujud syukur di pematang sawah atas hasil panen yang
diberikan tahun ini. Sawah seluas 2 hektar miliknya itu mampu menghasilkan 10
ton gabah kering giling (GKG). Dari tiap hektar ia bisa mendapatkan 4 ton lebih
GKG, dua kali lipat panen normalnya selama ini. Ungkapan syukur juga diutarakan
petani-petani lain, termasuk Kelompok Tani Sido Mekar, tempat Herianto
bernaung. Semuanya punya cerita sukses panen luar biasa.
Ada yang menghasilkan 5 ton per hektar, ada yang 5,5 ton per
hektar, bahkan ada sawah yang dikunjungi para pejabat daerah untuk menjadi
penanda kesuksesan mereka. Panen raya dihadiri Wagub Kalteng Edy Pratowo, Senin
(1/4). Bangganya mereka, sawah yang berjarak 150 km dari Palangkaraya itu
didatangi pejabat, tapi ada yang mengganjal di hati mereka. ”Sebenarnya kasihan
petani, pas panen lagi bagus gini harga gabah malah anjlok,” ujar Herianto. Harga
gabah anjlok, bahkan dua kali. Pertengahan Maret, harga gabah kering turun dari
Rp 8.500 per kg menjadi Rp 7.200 per kg. Kini harga gabah tersungkur menjadi Rp
5.500 per kg. Sudah mendekati Lebaran, lanjut Herianto, harga gabah tak kunjung
merangkak naik.
Bagi dia, hasil panen yang baik sudah cukup untuk menambah kegembiraan Ramadhan. ”Meski anjlok, gabahnya, ya, tetap saya jual, mau enggak mau. Berapa saja harganya, itu untuk kebutuhan hidup, sekolah, dan lain-lain. Kalau Lebaran, ya, gini-gini aja udah alhamdulillah,” kata Herianto. Pujiaman dari Kelompok Sido Mekar juga demikian. Ia tak marah, apalagi mengeluh, saat harga gabah anjlok. ”Pasti harganya enggak pernah stabil,” ucapnya. Pujiaman menyebutkan, ”Kalau belum rugi dan gagal panen, belum petani Indonesia.” Dengan harga yang anjlok kerugian tidak bisa dihindari. Apalagi Herianto dan Pujiaman tidak mendapat jatah pupuk bersubsidi. Mereka mengeluarkan uang Rp 340.000 per 100 kg pupuk.
Untuk 1 hektar lahan ia membutuhkan empat sampai enam kali pemupukan dengan total lima sampai enam karung pupuk berukuran 100 kg tersebut. Ia menghabiskan Rp 10 juta hanya untuk pupuk, belum termasuk biaya lain. Herianto dan Pujiaman bahkan harus meminjam uang di bank untuk bisa menanam padi dan menyiapkan lahan. Untuk membeli pupuk, obat-obatan, dan benih padi yang ia inginkan. ”Semoga bisa untuk nyaur utang dan nabung kuliah anak,” kata Pujiaman. Ironisnya, saat harga gabah anjlok, harga beras justru mahal. Di Pulang Pisau, beras berjenama Pangkoh dijual Rp 18.000 per liter dari yang sebelumnya Rp 13.000. Lalu, harga beras Mayang Super Rp 22.000 per liter naik pada awal Februari menjadi Rp 25.000 per liter sampai saat ini. (Yoga)
Harga Minyak Menuju Keseimbangan Baru
Eskalasi konflik di Timur Tengah dengan serangan udara Iran
ke Israel pada Minggu (14/4) berpotensi mendongkrak harga minyak dunia. Jika
eskalasi berlanjut, harga minyak dunia bisa menembus 100 USD per barel. Iran
melakukan serangan udara selama beberapa jam terhadap Israel pada Sabtu (13/4)
tengah malam hingga Minggu (14/4) pagi. Pemerintah Iran menyatakan, serangan
itu merupakan balasan atas serangan Israel terhadap konsulat Iran di Damaskus
pada 1 April 2024. Meski serangan Iran telah berhenti pada Minggu pagi, risiko
eskalasi konflik sangat terbuka. Situasi memanas penuh ketidakpastian ini berpotensi
menimbulkan dampak negatif terhadap perekonomian global. Dampak langsung yang
sudah terjadi adalah kenaikan harga minyak dunia yang biasanya akan diikuti
kenaikan harga komoditas lainnya.
Baru sebatas kabar tentang potensi Iran menyerang Israel
beredar pada Jumat (12/4) saja, harga minyak dunia sudah melonjak. Mengutip
data situs pencatat basis data ekonomi dan komoditas, Refinitiv, harga minyak
Brent pada penutupan perdagangan per Sabtu (13/4) mencapai 90,45 USD per barel,
tertinggi sejak 20 Oktober 2023 atau enam bulan terakhir. Harga ini melampaui
asumsi rata-rata Indonesia Crude Price (ICP) yang ditetapkan pada APBN 2024
senilai 82 USD per barel. Administrasi Informasi Energi AS dalam prospek energi
bulanan jangka pendeknya memperkirakan harga minyak mentah Brent rata-rata
88,55 USD per barel tahun ini, naik dari perkiraan sebelumnya senilai 87 USD
per barel.
Kenaikan ini mencerminkan ekspektasi kuatnya penarikan persediaan
minyak global pada triwulan I-2024 dan risiko geopolitik yang sedang berlangsung.
Prospek ini dirilis per 9 April atau sebelum serangan udara Iran ke Israel.
Artinya, bisa saja perkiraannya dalam prospek berikutnya akan direvisi naik lagi.
Mengutip CNBC, Presiden Rapidan Energy dan mantan pejabat energi senior di pemerintahan
Bush, Bob McNally, menyatakan, harga minyak mentah jenis Brent bisa melonjak
hingga 100 USD per barel jika Iran langsung menyerang Israel. Jika eskalasi menyebabkan
gangguan di Selat Hormuz, harga bisa melonjak hingga 120 USD atau 130 USD per barel. (Yoga)
Antisipasi Dampak Rupiah dan Minyak
Perekonomian dalam negeri kembali menghadapi tekanan akibat
terus melemahnya nilai tukar rupiah, menembus Rp 16.000 per USD, dan naiknya
harga minyak mentah. Pelemahan nilai tukar juga dialami mata uang banyak negara
lain, hal ini terkait erat dengan kebijakan suku bunga ditingkat global. Langkah
bank sentral AS, The Fed, mempertahankan suku bunga acuan di level 5,25-5,50 %,
sejalan dengan kondisi ekonominya. Komite Pasar Terbuka Federal menyatakan
pihaknya akan melakukan tiga kali penurunan bunga acuan tahun ini, masing-masing
25 basis poin dalam rangka menekan inflasi ke 2 %. Ketua The Fed tak menutup
kemungkinan bunga acuan akan dipertahankan selama mungkin. Ketidakpastian kapan
The Fed memangkas bunga acuan membuat tekanan pelemahan rupiah belum berakhir
Melemahnya rupiah juga dipicu meningkatnya kebutuhan Dollar
AS, untuk pembayaran dividen maupun impor BBM dan pangan, yang sifatnya
musiman. Dibanding negara Asia lain, pelemahan rupiah relatif terkendali. Kurs
rupiah saat ini juga dinilai sesuai nilai fundamentalnya. Cadangan devisa 140
miliar USD cukup solid, memadai untuk menutup 6,4 bulan impor. Namun, pelemahan
rupiah yang menembus level psikologis baru bisa memicu sentimen negatif yang
dapat kian menekan rupiah. Pelemahan rupiah membuat beban utang dalam dollar AS
pun meningkat. Kurs rupiah juga memengaruhi inflasi dalam negeri melalui barang
yang diimpor sehingga berdampak ke daya beli masyarakat, fiskal, dan
perekonomian secara keseluruhan.
Karena itu, kalangan pengamat mengingatkan pentingnya mengantisipasi
dampak ini. Apalagi, melemahnya rupiah terjadi berbarengan dengan terus naiknya
harga minyak mentah dan masih tingginya harga pangan dunia. Ini pukulan ganda bagi Indonesia sebagai importir neto minyak
dan negara yangmasih sangat tergantung pada energi fosil dan pangan impor. Harga
Brent dan WTI mendekati 100 dollar AS per barel, dan bukan tidak mungkin
kembali menyentuh 120-130 dollar AS per barel jika eskalasi konflik di Timur
Tengah sampai mengganggu jalur logistik penting minyak. Pemerintah menyatakan
harga BBM tak akan naik sampai Juni 2024.
Jika kenaikan harga minyak mentah global berlanjut, bukan tidak
mungkin Indonesia dipaksa melakukan penyesuaian harga BBM dalam negeri, dengan
konsekuensi pembengkakan subsidi energi apabila harga BBM bersubsidi
dipertahankan. Pemerintah kemungkinan harus menambah belanja sosial guna
melindungi kelompok rentan dari imbas kenaikan harga dan menerapkan kebijakan
pengendalian konsumsi BBM. Mengakhiri ketergantungan yang terlalu besar pada
komponen, barang jadi, dan pangan impor, serta mempercepat transisi energi
fosil ke energi baru terbarukan yang potensinya melimpah di dalam negeri akan
memperkuat resiliensi Indonesia menghadapi tekanan serupa di masa mendatang (Yoga)
Selebritas dan Elpiji ”Melon”
Elpiji ”melon” alias elpiji tabung 3 kg sedang menjadi topik
hangat di kalangan warganet, berawal dari video yang diunggah selebritas Prilly
Latuconsina di akun Instagram-nya, tentang kegiatannya memasak di dapur untuk
persiapan Lebaran 2024, karena elpiji melon yang tampak digunakan sebagai bahan
bakarnya. Sontak warganet menghujani perempuan muda itu dengan kritik. Sebagai
respons, Prilly pun membuat klarifikasi sekaligus minta maaf pada Kamis (11/4)
pukul 14.30 WIB, yang mendapatkan 6.653 komentar. Salah satunya dari akun quins_bee.
”Gas melon, kan, itu subsidi untuk warga kurang mampu. Salah satu faktor gas
melon langka, ya, kayak gini dipakai oleh pihak yang sebenarnya mampu,” katanya.
Elpiji melon adalah elpiji subsidi dari pemerintah untuk
masyarakat miskin, namun banyak warga bukan kategori miskin menggunakan barang
yang distribusinya terbuka itu. Akibatnya, volume penyalurannya terus
membengkak setiap tahun. Anggaran negara untuk menyubsidi pun menggelembung. Persoalan
kian pelik karena 77 % kebutuhan elpiji dalam negeri dipenuhi impor. Dengan
demikian, beban keuangan negara menjadi kian berat, apalagi jika nilai tukar
dollar AS melonjak atau kurs rupiah anjlok. Mengutip informasi dari Kementerian
ESDM, konsumsi elpiji melon tujuh tahun terakhir melonjak 2,9 juta metrik ton
(MT). Pada 2007, distribusinya mencapai 6,29 juta MT. Pada 2023, distribusinya
telah menggelembung menjadi 8,0 juta MT.
Dari tahun ke tahun, tingkat migrasi pengguna dari elpiji
nonsubsidi ke elpiji subsidi semakin tinggi. Kementerian ESDM mencatat,
realisasi penyaluran elpiji subsidi pada 2020-2022 meningkat 4,5 %. Sementara
penyaluran elpiji nonsubsidi turun 10,9 %. Pada 2023, dari total 8,6 juta ton
realisasi elpiji, 8,03 juta ton di antaranya adalah elpiji 3 kg. Artinya, secara
proporsi, elpiji melon dominan dengan persentase mencapai 93,3 %, karena
disparitas harga jual elpiji subsidi dan nonsubsidi di penyalur/agen yang kian
lebar. Pada Januari 2021, selisih harga elpiji nonsubsidi dan elpiji subsidi
ialah Rp 7.333 per kg.
Disparitas ini melebar hingga Rp 13.500 per kg pada Juli
2023. Berdasarkan regulasi, baik Perpres maupun Permen ESDM, harga jual eceran
(HJE) elpiji 3 kg di agen/penyalur adalah Rp 4.250 per kg atau Rp 12.750 per
tabung. Sejak 2008 hingga sekarang, harga itu tak berubah. Terus melebarnya disparitas
harga antara elpiji nonsubsidi dan elpiji subsidi membuat migrasi ke elpiji melon
semakin tidak terhindarkan. Pemerintah berulang kali menekankan, elpiji 3 kg
hanya diperuntukkan bagi warga tidak mampu. Namun, selama tidak ada regulasi
yang tegas untuk mengaturnya, celah ketidaktepatan sasaran selalu terbuka. Selain
itu, kondisi ini juga rentan penyalahgunaan lewat pengoplosan. (Yoga)
Mengatasi Stagnasi Produktivitas
Eskalasi harga beras sangat tinggi sejak akhir 2023 karena
suplai turun signifikan. Produktivitas hanya tumbuh 0,25 % pada 2014-2023, dari
5,14 ton/hektar (ha) menjadi 5,23 ton/ha. Ketika pada 2019, kekeringan ekstrem melanda
Indonesia, produktivitas padi bahkan turun dari 5,20 ton/ha menjadi 5,11
ton/ha. Upaya peningkatan produktivitas lima tahun terakhir nyaris tak membawa
hasil karena kapasitas produksi telah turun signifikan. Teknik budidaya
pertanian yang tidak berkelanjutan menyebabkan degradasi lahan dan erosi tanah
yang menurunkan produksi dan produktivitas pangan. Praktik pertanian
superintensif dan penggunaan bahan kimia secara berlebihan selama
bertahun-tahun telah menyebabkan kelelahan lahan (land fatigue) di banyak
sentra produksi padi dan pangan strategis lain. Bahan organic (BO) di dalam
tanah menurun drastis, bahkan dua pertiga lahan pertanian Indonesia hanya
memiliki kandungan BO di bawah 2 %.
Kekeringan ekstrem El Nino pada 2023 memperburuk penurunan
kapasitas produksi. Luas panen padi turun signifikan dan produksi paditurun hampir
1 juta ton gabah kering giling (GKG). Strategi peningkatan produktivitas ke depan
perlu lebih banyak menggunakan aplikasi teknik pertanian cerdas (smart farming),
pertanian presisi (precision farming), digitalisasi rantai nilai, dan lainnya.
Kinerja produktivitas padi di Indonesia sebenarnya tak terlalu berbeda dengan
di negara produsen beras lain di Asia Tenggara. Thailand dan Myanmar juga
mengalami pelandaian produktivitas (levelling-off) dua dekade terakhir. Berbeda
dengan Vietnam dan Filipina yang mengalami lompatan produktivitas cukup
signifikan, terutama karena penggunaan varietas unggul, yang lebih adaptif
terhadap perubahan iklim. Selain itu, penggunaan varietas unggul oleh petani
padi Indonesia masih sangat rendah.
Strategi peningkatan produktivitas, khususnya pangan pokok,
perlu mengandalkan inovasi baru dan perubahan teknologi melalui proses
penelitian dan pengembangan (R&D) jangka panjang. Para ilmuwan pertanian Indonesia
telah sangat mumpuni untuk menghasilkan invensi baru dari hasil R&D
tersebut. Invensi baru ini perlu segera menjadi inovasi baru, yang dapat
diadopsi oleh masyarakat atau telah masuk pada tahapan komersialisasi ke depan.
Rekomendasi kebijakan Pertama, penyediaan benih berkualitas, baik melibatkan
industri benih domestik, maupun asing, untuk mampu menjangkau seluruh pelosok
dan bisa diakses oleh petani dari segenap lapisan. Kedua, perbaikan sistem
pemupukan, yang mampu memperbaiki keseimbangan hara tanah yang dibutuhkan tanaman.
Selain butuh pupuk urea, banyak daerah atau sentra produksi memerlukan tambahan
fosfat dan kalium.
Ketiga, penyehatan tanah secara menyeluruh melalui
pengembalian BO seperti jerami ke dalam tanah, agar rasio karbon terhadap
nitrogen (rasio C/N) naik pesat, misalnya penambahan ameliorant tanah, pupuk
hayati, dan sistem pertanian organik. Keempat, revitalisasi sistem penyuluhan
pertanian, yang memberdayakan petani untuk mampu menolong diri sendiri,
mengembangkan sistem kelembagaan ekonomi petani, pendidikan, pelatihan, dan
pemberdayaan petani untuk mengadaptasi serta mengadopsi inovasi baru yang mampu
meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani. Kelima, pengembangan
diversifikasi produksi pertanian ke arah yang mampu meningkatkan skala ekonomi
untuk mendukung strategi diversifikasi konsumsi pangan yang mampu menyehatkan
dan meningkatkan gizi masyarakat. (Yoga)
Reli Harga Emas Tuntas pada April
Harga emas telah mengalami reli kenaikan lebih dari 6 % dlam
sebulan terakhir dan memecahkan rekor hingga saat ini. Analis memprediksi reli
ini akan selesai April ini, kemudian harga emas akan kembali turun pada Mei. Mengutip
situs Gold Price, harga emas pada perdagangan Senin (8/4) dini hari waktu New
York kembali menembus rekor tertinggi, 2.344,22 USD per troy ons. Level itu naik
31,56 poin atau 1,41 % dari harga emas pada penutupan perdagangan Jumat lalu
yang juga sempat memecahkan harga tertinggi di angka 2.329 USD per troy ons.
Catatan rekor ini meningkat lebih dari 6 % dari bulan lalu,
yakni 2.100-2.150 USD per troy ons. Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim
Assuaibi. Ia menyebutkan, pelaku pasar besar di Asia, Amerika, dan Eropa sudah
pasang posisi untuk ambil untung di level 2.350 USD per troy ons, yang diperkirakan
tercapai bulan ini. Setelah itu, harga emas kemungkinan akan mengalami bearish.
”Kemungkinan harga emas akan jatuh, sampai 2.100 USD per troy ons,” ungkap
Ibrahim kepada wartawan, Sabtu (6/4). (Yoga)
Konsumsi BBM Oktan Tinggi Melonjak pada Mudik Lebaran 2024
Aditya N (32), warga Tangerang, Banten, sejak Kamis (4/4)
mengendarai mobil bermesin 1.500 cc dari Tangerang ke Padang, Sumbar. Sehari-hari,
ia menggunakan BBM jenis pertalite, apalagi harga bahan-bahan pokok terus naik.
Namun, khusus untuk perjalanan jauh dalam rangka mudik, ia mengisi mobilnya
dengan BBM jenis pertamax (RON 92) dengan harga Rp 12.950 per liter. ”Kalau
dihitung total sampai tujuan butuh Rp 1,3 juta. Kalau pakai pertalite, sekitar
Rp 1 juta. Lebih mahal Rp 300.000, tapi tarikan lebih enak dan mesin bisa lebih
terawat,” katanya, Senin (8/4). Rachman (36), warga Tangsel, Banten, juga
memilih BBM dengan oktan yang lebih tinggi selama mudik ke Bandung Barat, Jabar.
Untuk keperluan sehari-hari, ia mengisi mobil 1.500 cc-nya dengan BBM Shell Super
(RON 92) dengan harga Rp 14.530 per liter. Saat mudik, ia menggunakan Shell
V-Power (RON 95) dengan harga Rp 15.350 per liter.
Pertimbangannya, untuk efektivitas dan efisiensi karena ia
menempuh perjalanan jarak jauh. ”Sebenarnya ini pertama kali mudik dengan mobil
ini, sekalian mencoba karena katanya tarikannya lebih baik. Biar mesin lebih awet
juga. Jadi, enggak apa-apa lebih mahal sedikit,” tuturnya. Pergeseran
penggunaan BBM ke oktan yang lebih tinggi dalam menempuh perjalanan jarak jauh
juga terlihat pada Kamis atau H-6 Lebaran. Berdasarkan data Pertamina, tingkat
konsumsi pertamax turbo (RON 98) pada hari itu 938 kiloliter (kl), naik 90,7 % disbanding
penjualan normal, di 492 kl per hari. Sementara pertamax (RON 92) hanya naik
24,8 % dari penjualan normal. ”Untuk perjalanan jauh, banyak pengendara
mengandalkan BBM yang lebih berkualitas. Dengan pertamax turbo, tarikan
kendaraan juga lebih baik,” kata Sekretaris Perusahaan PT Pertamina Patra Niaga,
Irto Ginting, Minggu (7/4). (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









