;
Kategori

Lingkungan Hidup

( 5820 )

Tafsir Keliru Hak Menguasai oleh Negara

16 Apr 2024
KONFLIK pertanahan yang terjadi, terutama yang dipicu oleh proyek strategis nasional (PSN), diakibatkan tafsir pemerintah yang keliru terhadap makna “hak menguasai oleh negara”. Pemerintah, yang mewakili kepentingan negara, merasa memegang kendali penuh atas bumi, air, dan seluruh kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Jadi tak mengherankan pemerintah dengan entengnya merampas dan mengambil alih tanah-tanah rakyat atas nama kepentingan pembangunan. 

Wajah asli negara diperlihatkan melalui keputusan-keputusan pemerintah yang memihak kepada kepentingan investasi, khususnya asing dan swasta, ketimbang kepentingan rakyatnya sendiri. Cara pandang yang keliru ini berdampak tidak hanya terhadap hilangnya tanah dan lahan tempat warga negara berpijak, tapi juga lenyapnya ruang hidup serta masa depannya. Pemerintah tanpa tedeng aling-aling memaksa rakyat menyerahkan tanahnya dengan kedok “kepentingan umum”. 

Parahnya lagi, pemerintah seperti hendak mempertahankan politik domein verklaring warisan kolonialisme. Suatu cara pandang yang memperlakukan warga negara seperti tamu di rumahnya sendiri. Negara seolah-olah diposisikan sebagai pemilik tanah. Warga negara yang tidak dapat menunjukkan bukti sah kepemilikan lahan dan tanahnya akan diambil alih secara paksa oleh pemerintah. Politik ini digunakan sebagai dalih untuk merampas tanah-tanah rakyat. Hal ini merupakan penjajahan terhadap bangsa dan rakyatnya sendiri.  (Yetede)


DAMPAK KETEGANGAN IRAN-ISRAEL : WASWAS IMPAK HARGA MINYAK

16 Apr 2024

Eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah akibat konflik terbuka Iran dan Israel menimbulkan kewaspadaan para pemangku kepentingan di Tanah Air, karena bisa memberikan dampak seperti pisau bermata dua. Konflik yang melibatkan Iran sebagai salah satu produsen utama minyak bumi itu diyakini berpotensi besar membuat harga minyak terkerek naik ke level yang lebih tinggi. Padahal, hingga kini Indonesia masih mengimpor minyak mentah dan produk olahan minyak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, impor minyak mentah Indonesia pada tahun lalu mencapai 17,83 juta ton, senilai US$11,14 miliar. Sementara itu, impor minyak bumi dan hasil-hasilnya pada 2023 sebanyak 52,14 juta ton, dengan nilai US$35,83 miliar. Tutuka Ariadji, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengakui bahwa pemerintah masih mengamati dampak jangka panjang eskalasi ketegangan di Iran dan Israel. 

Bagi Indonesia, jelas Tutuka, setiap kenaikan Indonesia Crude Price (ICP) US$1 per barel akan berdampak kepada kenaikan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sekitar Rp1,8 triliun. Akan tetapi, kenaikan harga tersebut juga berimpak terhadap peningkatan subsidi energi sekitar 1,8 triliun, dan kompensasi energi sebanyak Rp5,3 triliun. Kemudian untuk kenaikan nilai tukar rupiah, setiap kenaikan Rp100 per dolar AS akan berdampak kepada pertumbuhan PNBP senilai Rp1,8 triliun. Di sisi lain, hal itu juga bakal membuat subsidi energi bengkak sekitar Rp1,2 triliun, dan kompensasi melesat Rp3,9 triliun. Sementara itu, Founder & Advisor ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto mengatakan selain berpotensi meningkatkan PNBP dan subsidi energi, peningkatan harga minyak juga bisa membuat industri hulu minyak dan gas bumi (migas) lebih bergeliat. 

Meski begitu, Pri Agung, tetap mengingatkan peningkatan keekonomian proyek hulu migas juga akan terjadi di negara lain, sehingga Indonesia tetap harus meningkatkan daya saingnya di industri pada modal tersebut. Ekonom dan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Mari Elka Pangestu meyakini eskalasi ketegangan Iran-Israel tidak akan berlangsung lama, karena bisa merugikan banyak pihak. Harga minyak global sendiri tercatat melemah di tengah spekulasi konflik antara Iran dan Israel bakal tetap terkendali. Minyak mentah Brent turun 1,4% di perdagangan di London, jatuh kembali di bawah US$90 per barel. “Perang ini mungkin akan makin menurun jika Pemerintah Israel mengikuti saran Gedung Putih, dan tidak melakukan tindakan pembalasan,” kata analis RBC Capital Markets LLC termasuk Helima Croft dalam risetnya, dikutip dari Bloomberg, Senin (15/4).

Harga Beras Mahal, Desa Dapat Apa?

16 Apr 2024

Jenis kapital yang tersedia di perdesaan dan jarang ditemukan di perkotaan adalah lahan pertanian. Ini membuat sektor pertanian, termasuk pertanian tanaman pangan, khususnya padi, sebagian besar ada di perdesaan. Maka, ketika harga beras melambung, muncul pertanyaan, seberapa banyak kenaikan harga dinikmati para petani padi sebagai produsen utama beras di Indonesia, yang sebagian besar tinggal di perdesaan. Tapi, alih-alih menikmati rezeki karena kenaikan harga produknya, petani padi sebagaimana yang diberitakan malah ikut antre beras murah program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) pemerintah.

Liputan Kompas mendapati petani padi di Cirebon tak punya simpanan beras hasil panen masa tanam sebelumnya karena panen mundur akibat kekeringan sebagai dampak El Nino. Tapi lain cerita dengan petani padi organik, simpanan beras mereka masih aman, tidak terjadi kekurangan, mereka masih makan nasi hasil panen sebelumnya. Sejak lama, petani padi organik selalu membiasakan menggunakan hasil panen mereka untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka terlebih dulu. Jika ada sisa, barulah itu dijual. Kebiasaan menempatkan pemenuhan kebutuhan pangan keluarga sebagai prioritas utama dalam pemanfaatan hasil panen memang selalu disampaikan para pendamping petani organik.

Adapun beras dengan harga yang mahal itu, awalnya, begitu selesai panen, sebagian besar petani menjual beras kepada para penampung. Sebagian dari mereka ini bermodal raksasa, dengan fasilitas gudang yang sangat besar. Walau petani padi menyimpan beras hasil sawah mereka untuk kebutuhan pangan keluarga, uang hasil penjualan sebagian gabah juga sangat diharapkan sebagai modal tanam pada masa tanam berikutnya. Karena hasil bertani padi di Indonesia tidak cukup untuk modal di musim tanam berikutnya, tekanan untuk menjual hasil panen menjadi semakin tinggi. Situasi ini jarang terjadi pada para petani padi sehat atau organik. Sebab, sarana produksi untuk padi jenis ini sebagian besar adalah hasil produksi sendiri.

Banyak bukti di lapangan, pertanian padi organik memiliki produktivitas di atas produktivitas padi konvensional. Jika produktivitas sawah konvensional adalah 5,5 ton per hektar (ha), sawah padi sehat di Tasikmalaya bisa menghasilkan 8 ton per ha, di Wonogiri bisa 13 ton per ha. Para petani padi organik ini sudah lama tidak lagi merasakan kerepotan berburu pupuk bersubsidi. Sebab, pupuk kompos bisa mereka produksi sendiri. Di sisi sarana produksi pertanian, para petani padi organik adalah tuan bagi dirinya sendiri. Terlebih, hasil produksi mereka jika dijual di toko ritel akan masuk ke kelompok beras premium. Ada baiknya pemerintah mulai mendalami dan mendorong penerapan pertanian padi organik secara lebih luas. Ketahanan pangan hanya dapat dicapai lewat kedaulatan para petani tanaman pangan, yang sebagian besar tinggal di desa. (Yoga) 

Sudah Jatuh Tertimbun Beras

15 Apr 2024

Sore itu, Senin (8/4) Herianto (48) mengendarai sepeda motor menuju Balai Desa Belanti Siam, Pulang Pisau, Kalteng, untuk berbuka puasa bersama petani lain. Setelah berbuka, semua berencana tarawih bersama. Saat melihat sawahnya yang berisi jerami pascapanen berserakan, Herianto menghentikan sepeda motornya. Ia bahkan sujud syukur di pematang sawah atas hasil panen yang diberikan tahun ini. Sawah seluas 2 hektar miliknya itu mampu menghasilkan 10 ton gabah kering giling (GKG). Dari tiap hektar ia bisa mendapatkan 4 ton lebih GKG, dua kali lipat panen normalnya selama ini. Ungkapan syukur juga diutarakan petani-petani lain, termasuk Kelompok Tani Sido Mekar, tempat Herianto bernaung. Semuanya punya cerita sukses panen luar biasa.

Ada yang menghasilkan 5 ton per hektar, ada yang 5,5 ton per hektar, bahkan ada sawah yang dikunjungi para pejabat daerah untuk menjadi penanda kesuksesan mereka. Panen raya dihadiri Wagub Kalteng Edy Pratowo, Senin (1/4). Bangganya mereka, sawah yang berjarak 150 km dari Palangkaraya itu didatangi pejabat, tapi ada yang mengganjal di hati mereka. ”Sebenarnya kasihan petani, pas panen lagi bagus gini harga gabah malah anjlok,” ujar Herianto. Harga gabah anjlok, bahkan dua kali. Pertengahan Maret, harga gabah kering turun dari Rp 8.500 per kg menjadi Rp 7.200 per kg. Kini harga gabah tersungkur menjadi Rp 5.500 per kg. Sudah mendekati Lebaran, lanjut Herianto, harga gabah tak kunjung merangkak naik.

Bagi dia, hasil panen yang baik sudah cukup untuk menambah kegembiraan Ramadhan. ”Meski anjlok, gabahnya, ya, tetap saya jual, mau enggak mau. Berapa saja harganya, itu untuk kebutuhan hidup, sekolah, dan lain-lain. Kalau Lebaran, ya, gini-gini aja udah alhamdulillah,” kata Herianto. Pujiaman dari Kelompok Sido Mekar juga demikian. Ia tak marah, apalagi mengeluh, saat harga gabah anjlok. ”Pasti harganya enggak pernah stabil,” ucapnya. Pujiaman menyebutkan, ”Kalau belum rugi dan gagal panen, belum petani Indonesia.” Dengan harga yang anjlok kerugian tidak bisa dihindari. Apalagi Herianto dan Pujiaman tidak mendapat jatah pupuk bersubsidi. Mereka mengeluarkan uang Rp 340.000 per 100 kg pupuk.

Untuk 1 hektar lahan ia membutuhkan empat sampai enam kali pemupukan dengan total lima sampai enam karung pupuk berukuran 100 kg tersebut. Ia menghabiskan Rp 10 juta hanya untuk pupuk, belum termasuk biaya lain. Herianto dan Pujiaman bahkan harus meminjam uang di bank untuk bisa menanam padi dan menyiapkan lahan. Untuk membeli pupuk, obat-obatan, dan benih padi yang ia inginkan. ”Semoga bisa untuk nyaur utang dan nabung kuliah anak,” kata Pujiaman. Ironisnya, saat harga gabah anjlok, harga beras justru mahal. Di Pulang Pisau, beras berjenama Pangkoh dijual Rp 18.000 per liter dari yang sebelumnya Rp 13.000. Lalu, harga beras Mayang Super Rp 22.000 per liter naik pada awal Februari menjadi Rp 25.000 per liter sampai saat ini. (Yoga)

Harga Minyak Menuju Keseimbangan Baru

15 Apr 2024

Eskalasi konflik di Timur Tengah dengan serangan udara Iran ke Israel pada Minggu (14/4) berpotensi mendongkrak harga minyak dunia. Jika eskalasi berlanjut, harga minyak dunia bisa menembus 100 USD per barel. Iran melakukan serangan udara selama beberapa jam terhadap Israel pada Sabtu (13/4) tengah malam hingga Minggu (14/4) pagi. Pemerintah Iran menyatakan, serangan itu merupakan balasan atas serangan Israel terhadap konsulat Iran di Damaskus pada 1 April 2024. Meski serangan Iran telah berhenti pada Minggu pagi, risiko eskalasi konflik sangat terbuka. Situasi memanas penuh ketidakpastian ini berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap perekonomian global. Dampak langsung yang sudah terjadi adalah kenaikan harga minyak dunia yang biasanya akan diikuti kenaikan harga komoditas lainnya.

Baru sebatas kabar tentang potensi Iran menyerang Israel beredar pada Jumat (12/4) saja, harga minyak dunia sudah melonjak. Mengutip data situs pencatat basis data ekonomi dan komoditas, Refinitiv, harga minyak Brent pada penutupan perdagangan per Sabtu (13/4) mencapai 90,45 USD per barel, tertinggi sejak 20 Oktober 2023 atau enam bulan terakhir. Harga ini melampaui asumsi rata-rata Indonesia Crude Price (ICP) yang ditetapkan pada APBN 2024 senilai 82 USD per barel. Administrasi Informasi Energi AS dalam prospek energi bulanan jangka pendeknya memperkirakan harga minyak mentah Brent rata-rata 88,55 USD per barel tahun ini, naik dari perkiraan sebelumnya senilai 87 USD per barel.

Kenaikan ini mencerminkan ekspektasi kuatnya penarikan persediaan minyak global pada triwulan I-2024 dan risiko geopolitik yang sedang berlangsung. Prospek ini dirilis per 9 April atau sebelum serangan udara Iran ke Israel. Artinya, bisa saja perkiraannya dalam prospek berikutnya akan direvisi naik lagi. Mengutip CNBC, Presiden Rapidan Energy dan mantan pejabat energi senior di pemerintahan Bush, Bob McNally, menyatakan, harga minyak mentah jenis Brent bisa melonjak hingga 100 USD per barel jika Iran langsung menyerang Israel. Jika eskalasi menyebabkan gangguan di Selat Hormuz, harga bisa melonjak hingga 120 USD atau 130 USD per barel. (Yoga)

Antisipasi Dampak Rupiah dan Minyak

15 Apr 2024

Perekonomian dalam negeri kembali menghadapi tekanan akibat terus melemahnya nilai tukar rupiah, menembus Rp 16.000 per USD, dan naiknya harga minyak mentah. Pelemahan nilai tukar juga dialami mata uang banyak negara lain, hal ini terkait erat dengan kebijakan suku bunga ditingkat global. Langkah bank sentral AS, The Fed, mempertahankan suku bunga acuan di level 5,25-5,50 %, sejalan dengan kondisi ekonominya. Komite Pasar Terbuka Federal menyatakan pihaknya akan melakukan tiga kali penurunan bunga acuan tahun ini, masing-masing 25 basis poin dalam rangka menekan inflasi ke 2 %. Ketua The Fed tak menutup kemungkinan bunga acuan akan dipertahankan selama mungkin. Ketidakpastian kapan The Fed memangkas bunga acuan membuat tekanan pelemahan rupiah belum berakhir

Melemahnya rupiah juga dipicu meningkatnya kebutuhan Dollar AS, untuk pembayaran dividen maupun impor BBM dan pangan, yang sifatnya musiman. Dibanding negara Asia lain, pelemahan rupiah relatif terkendali. Kurs rupiah saat ini juga dinilai sesuai nilai fundamentalnya. Cadangan devisa 140 miliar USD cukup solid, memadai untuk menutup 6,4 bulan impor. Namun, pelemahan rupiah yang menembus level psikologis baru bisa memicu sentimen negatif yang dapat kian menekan rupiah. Pelemahan rupiah membuat beban utang dalam dollar AS pun meningkat. Kurs rupiah juga memengaruhi inflasi dalam negeri melalui barang yang diimpor sehingga berdampak ke daya beli masyarakat, fiskal, dan perekonomian secara keseluruhan.

Karena itu, kalangan pengamat mengingatkan pentingnya mengantisipasi dampak ini. Apalagi, melemahnya rupiah terjadi berbarengan dengan terus naiknya harga minyak mentah dan masih tingginya harga pangan dunia. Ini pukulan ganda  bagi Indonesia sebagai importir neto minyak dan negara yangmasih sangat tergantung pada energi fosil dan pangan impor. Harga Brent dan WTI mendekati 100 dollar AS per barel, dan bukan tidak mungkin kembali menyentuh 120-130 dollar AS per barel jika eskalasi konflik di Timur Tengah sampai mengganggu jalur logistik penting minyak. Pemerintah menyatakan harga BBM tak akan naik sampai Juni 2024.

Jika kenaikan harga minyak mentah global berlanjut, bukan tidak mungkin Indonesia dipaksa melakukan penyesuaian harga BBM dalam negeri, dengan konsekuensi pembengkakan subsidi energi apabila harga BBM bersubsidi dipertahankan. Pemerintah kemungkinan harus menambah belanja sosial guna melindungi kelompok rentan dari imbas kenaikan harga dan menerapkan kebijakan pengendalian konsumsi BBM. Mengakhiri ketergantungan yang terlalu besar pada komponen, barang jadi, dan pangan impor, serta mempercepat transisi energi fosil ke energi baru terbarukan yang potensinya melimpah di dalam negeri akan memperkuat resiliensi Indonesia menghadapi tekanan serupa di masa mendatang (Yoga)

Selebritas dan Elpiji ”Melon”

12 Apr 2024

Elpiji ”melon” alias elpiji tabung 3 kg sedang menjadi topik hangat di kalangan warganet, berawal dari video yang diunggah selebritas Prilly Latuconsina di akun Instagram-nya, tentang kegiatannya memasak di dapur untuk persiapan Lebaran 2024, karena elpiji melon yang tampak digunakan sebagai bahan bakarnya. Sontak warganet menghujani perempuan muda itu dengan kritik. Sebagai respons, Prilly pun membuat klarifikasi sekaligus minta maaf pada Kamis (11/4) pukul 14.30 WIB, yang mendapatkan 6.653 komentar. Salah satunya dari akun quins_bee. ”Gas melon, kan, itu subsidi untuk warga kurang mampu. Salah satu faktor gas melon langka, ya, kayak gini dipakai oleh pihak yang sebenarnya mampu,” katanya.

Elpiji melon adalah elpiji subsidi dari pemerintah untuk masyarakat miskin, namun banyak warga bukan kategori miskin menggunakan barang yang distribusinya terbuka itu. Akibatnya, volume penyalurannya terus membengkak setiap tahun. Anggaran negara untuk menyubsidi pun menggelembung. Persoalan kian pelik karena 77 % kebutuhan elpiji dalam negeri dipenuhi impor. Dengan demikian, beban keuangan negara menjadi kian berat, apalagi jika nilai tukar dollar AS melonjak atau kurs rupiah anjlok. Mengutip informasi dari Kementerian ESDM, konsumsi elpiji melon tujuh tahun terakhir melonjak 2,9 juta metrik ton (MT). Pada 2007, distribusinya mencapai 6,29 juta MT. Pada 2023, distribusinya telah menggelembung menjadi 8,0 juta MT.

Dari tahun ke tahun, tingkat migrasi pengguna dari elpiji nonsubsidi ke elpiji subsidi semakin tinggi. Kementerian ESDM mencatat, realisasi penyaluran elpiji subsidi pada 2020-2022 meningkat 4,5 %. Sementara penyaluran elpiji nonsubsidi turun 10,9 %. Pada 2023, dari total 8,6 juta ton realisasi elpiji, 8,03 juta ton di antaranya adalah elpiji 3 kg. Artinya, secara proporsi, elpiji melon dominan dengan persentase mencapai 93,3 %, karena disparitas harga jual elpiji subsidi dan nonsubsidi di penyalur/agen yang kian lebar. Pada Januari 2021, selisih harga elpiji nonsubsidi dan elpiji subsidi ialah Rp 7.333 per kg.

Disparitas ini melebar hingga Rp 13.500 per kg pada Juli 2023. Berdasarkan regulasi, baik Perpres maupun Permen ESDM, harga jual eceran (HJE) elpiji 3 kg di agen/penyalur adalah Rp 4.250 per kg atau Rp 12.750 per tabung. Sejak 2008 hingga sekarang, harga itu tak berubah. Terus melebarnya disparitas harga antara elpiji nonsubsidi dan elpiji subsidi membuat migrasi ke elpiji melon semakin tidak terhindarkan. Pemerintah berulang kali menekankan, elpiji 3 kg hanya diperuntukkan bagi warga tidak mampu. Namun, selama tidak ada regulasi yang tegas untuk mengaturnya, celah ketidaktepatan sasaran selalu terbuka. Selain itu, kondisi ini juga rentan penyalahgunaan lewat pengoplosan. (Yoga) 

Mengatasi Stagnasi Produktivitas

12 Apr 2024

Eskalasi harga beras sangat tinggi sejak akhir 2023 karena suplai turun signifikan. Produktivitas hanya tumbuh 0,25 % pada 2014-2023, dari 5,14 ton/hektar (ha) menjadi 5,23 ton/ha. Ketika pada 2019, kekeringan ekstrem melanda Indonesia, produktivitas padi bahkan turun dari 5,20 ton/ha menjadi 5,11 ton/ha. Upaya peningkatan produktivitas lima tahun terakhir nyaris tak membawa hasil karena kapasitas produksi telah turun signifikan. Teknik budidaya pertanian yang tidak berkelanjutan menyebabkan degradasi lahan dan erosi tanah yang menurunkan produksi dan produktivitas pangan. Praktik pertanian superintensif dan penggunaan bahan kimia secara berlebihan selama bertahun-tahun telah menyebabkan kelelahan lahan (land fatigue) di banyak sentra produksi padi dan pangan strategis lain. Bahan organic (BO) di dalam tanah menurun drastis, bahkan dua pertiga lahan pertanian Indonesia hanya memiliki kandungan BO di bawah 2 %.

Kekeringan ekstrem El Nino pada 2023 memperburuk penurunan kapasitas produksi. Luas panen padi turun signifikan dan produksi paditurun hampir 1 juta ton gabah kering giling (GKG). Strategi peningkatan produktivitas ke depan perlu lebih banyak menggunakan aplikasi teknik pertanian cerdas (smart farming), pertanian presisi (precision farming), digitalisasi rantai nilai, dan lainnya. Kinerja produktivitas padi di Indonesia sebenarnya tak terlalu berbeda dengan di negara produsen beras lain di Asia Tenggara. Thailand dan Myanmar juga mengalami pelandaian produktivitas (levelling-off) dua dekade terakhir. Berbeda dengan Vietnam dan Filipina yang mengalami lompatan produktivitas cukup signifikan, terutama karena penggunaan varietas unggul, yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim. Selain itu, penggunaan varietas unggul oleh petani padi Indonesia masih sangat rendah.

Strategi peningkatan produktivitas, khususnya pangan pokok, perlu mengandalkan inovasi baru dan perubahan teknologi melalui proses penelitian dan pengembangan (R&D) jangka panjang. Para ilmuwan pertanian Indonesia telah sangat mumpuni untuk menghasilkan invensi baru dari hasil R&D tersebut. Invensi baru ini perlu segera menjadi inovasi baru, yang dapat diadopsi oleh masyarakat atau telah masuk pada tahapan komersialisasi ke depan. Rekomendasi kebijakan Pertama, penyediaan benih berkualitas, baik melibatkan industri benih domestik, maupun asing, untuk mampu menjangkau seluruh pelosok dan bisa diakses oleh petani dari segenap lapisan. Kedua, perbaikan sistem pemupukan, yang mampu memperbaiki keseimbangan hara tanah yang dibutuhkan tanaman. Selain butuh pupuk urea, banyak daerah atau sentra produksi memerlukan tambahan fosfat dan kalium.

Ketiga, penyehatan tanah secara menyeluruh melalui pengembalian BO seperti jerami ke dalam tanah, agar rasio karbon terhadap nitrogen (rasio C/N) naik pesat, misalnya penambahan ameliorant tanah, pupuk hayati, dan sistem pertanian organik. Keempat, revitalisasi sistem penyuluhan pertanian, yang memberdayakan petani untuk mampu menolong diri sendiri, mengembangkan sistem kelembagaan ekonomi petani, pendidikan, pelatihan, dan pemberdayaan petani untuk mengadaptasi serta mengadopsi inovasi baru yang mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani. Kelima, pengembangan diversifikasi produksi pertanian ke arah yang mampu meningkatkan skala ekonomi untuk mendukung strategi diversifikasi konsumsi pangan yang mampu menyehatkan dan meningkatkan gizi masyarakat. (Yoga) 

Reli Harga Emas Tuntas pada April

09 Apr 2024

Harga emas telah mengalami reli kenaikan lebih dari 6 % dlam sebulan terakhir dan memecahkan rekor hingga saat ini. Analis memprediksi reli ini akan selesai April ini, kemudian harga emas akan kembali turun pada Mei. Mengutip situs Gold Price, harga emas pada perdagangan Senin (8/4) dini hari waktu New York kembali menembus rekor tertinggi, 2.344,22 USD per troy ons. Level itu naik 31,56 poin atau 1,41 % dari harga emas pada penutupan perdagangan Jumat lalu yang juga sempat memecahkan harga tertinggi di angka 2.329 USD per troy ons.

Catatan rekor ini meningkat lebih dari 6 % dari bulan lalu, yakni 2.100-2.150 USD per troy ons. Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi. Ia menyebutkan, pelaku pasar besar di Asia, Amerika, dan Eropa sudah pasang posisi untuk ambil untung di level 2.350 USD per troy ons, yang diperkirakan tercapai bulan ini. Setelah itu, harga emas kemungkinan akan mengalami bearish. ”Kemungkinan harga emas akan jatuh, sampai 2.100 USD per troy ons,” ungkap Ibrahim kepada wartawan, Sabtu (6/4). (Yoga)

Konsumsi BBM Oktan Tinggi Melonjak pada Mudik Lebaran 2024

09 Apr 2024

Aditya N (32), warga Tangerang, Banten, sejak Kamis (4/4) mengendarai mobil bermesin 1.500 cc dari Tangerang ke Padang, Sumbar. Sehari-hari, ia menggunakan BBM jenis pertalite, apalagi harga bahan-bahan pokok terus naik. Namun, khusus untuk perjalanan jauh dalam rangka mudik, ia mengisi mobilnya dengan BBM jenis pertamax (RON 92) dengan harga Rp 12.950 per liter. ”Kalau dihitung total sampai tujuan butuh Rp 1,3 juta. Kalau pakai pertalite, sekitar Rp 1 juta. Lebih mahal Rp 300.000, tapi tarikan lebih enak dan mesin bisa lebih terawat,” katanya, Senin (8/4). Rachman (36), warga Tangsel, Banten, juga memilih BBM dengan oktan yang lebih tinggi selama mudik ke Bandung Barat, Jabar. Untuk keperluan sehari-hari, ia mengisi mobil 1.500 cc-nya dengan BBM Shell Super (RON 92) dengan harga Rp 14.530 per liter. Saat mudik, ia menggunakan Shell V-Power (RON 95) dengan harga Rp 15.350 per liter.

Pertimbangannya, untuk efektivitas dan efisiensi karena ia menempuh perjalanan jarak jauh. ”Sebenarnya ini pertama kali mudik dengan mobil ini, sekalian mencoba karena katanya tarikannya lebih baik. Biar mesin lebih awet juga. Jadi, enggak apa-apa lebih mahal sedikit,” tuturnya. Pergeseran penggunaan BBM ke oktan yang lebih tinggi dalam menempuh perjalanan jarak jauh juga terlihat pada Kamis atau H-6 Lebaran. Berdasarkan data Pertamina, tingkat konsumsi pertamax turbo (RON 98) pada hari itu 938 kiloliter (kl), naik 90,7 % disbanding penjualan normal, di 492 kl per hari. Sementara pertamax (RON 92) hanya naik 24,8 % dari penjualan normal. ”Untuk perjalanan jauh, banyak pengendara mengandalkan BBM yang lebih berkualitas. Dengan pertamax turbo, tarikan kendaraan juga lebih baik,” kata Sekretaris Perusahaan PT Pertamina Patra Niaga, Irto Ginting, Minggu (7/4). (Yoga)