Lingkungan Hidup
( 5820 )Pembelajaran dari Kecelakaan di KM 58
Jebakan Populisme Hukum Mengusut Korupsi Timah
HILIRISASI, Mengisi Lumbung agar Tidak Tekor
Pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, menurut KPU,
memperoleh suara terbanyak dalam Pemilu Presiden 2024. Prioritas utama kerja
pasangan ini lima tahun ke depan adalah pangan, energi, dan industrialisasi.
Saat ini pangan mendesak ditangani, tecermin dari rentannya produksi pangan
akibat pertambahan penduduk, pengaruh iklim, dan situasi geopolitik. Meningkatkan
produksi pangan menjadi tantangan besar karena lahan semakin terbatas, terjadi
perubahan pola cuaca, perubahan perdagangan global, serta ada kebutuhan berbeda
berdasar usia, jender, profesi, dan budaya. Sementara kesejahteraan petani dan
nelayan tertinggal. Jumlah petani menurun dan usia menua. Menurut Sensus Pertanian
2023 Tahap 1 BPS yang dirilis 15 Desember 2023, jumlah rumah tangga usaha
pertanian gurem meningkat. Proporsi petani gurem bertambah. Pada 2013 jumlahnya
55,33 % (14,25 juta unit) dan menjadi 60,84 % (16,89 juta unit) pada 2023.
Tanpa hilirisasi, tanpa agroindustri, tanpa inovasi sulit mengharapkan
peningkatan produksi pangan seraya menyejahterakan petani. Apalagi menumbuhkan
ekonomi 6 % hingga 7 % per tahun untuk menjadi negara kaya pada 2045. Masih
adanya kelompok masyarakat miskin dan ketimpangan kemakmuran menjadi penghalang
menjadi negara maju. Saat ini 30 % tenaga kerja masih ada di pertanian on farm.
Sementara kesejahteraan petani (dan nelayan) tidak banyak berubah. Nilaitukar petani
bekisar 100. Artinya, keuntungan petani tidak cukup. Mereka harus bekerja di
luar lahannya untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anak. Mereka
memburuh atau menjadi penggarap di lahan milik tetangga, menjadi pedagang kecil
di desa, atau mencari kerja sambilan di kota.
Pemerintahan Prabowo-Gibran diharapkan mempertajam prioritas penghela
pertumbuhan dengan membangun industri berbasis sumber daya alam. Dalam buku
Gagasan Strategis Prabowo, Strategi Transformasi Bangsa Menuju Indonesia Emas
2045, terbit Oktober 2023, disebutkan, 21 komoditas prioritas hilirisasi, 11 di
antaranya berasal dari perkebunan (sawit, kelapa, dan karet) dan lainnya dari
hutan (getah pinus), serta perikanan dan kelautan. Mengaitkan produksi on farm
dengan industri pascapanen di perdesaan melalui BUMDes atau koperasi petani
akan meningkatkan produktivitas. Pendekatan agroindustri berbasis karbohidrat, protein,
vitamin dan mineral mikro dari tanaman pangan, hortikultura, perikanan, perkebunan,
dan hasil hutan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan menjadi pendorong dan
penghela pertumbuhan dan pemerataan. Industri ini dapat dikerjakan petani,
UMKM, hingga industri besar.
Membangun industri pangan memerlukan dukungan kebijakan dari
hulu hingga hilir. Diperlukan industri dasar logam dan kimia untuk menghasilkan
produk, seperti kemasan, bahan penolong dan peralatan pengolah bahan pangan,
serta industri alat dan mesin pendukung. Meski terjadi mekanisasi pertanian, tetapi
cangkul dan arit masih menjadi alat kerja lebih separuh petani serta masih
diimpor sampai hari ini. Industri yang memerlukan. Hilirisasi kopi dan rempah,
misalnya, akan menunjukkan keunggulan keragaman genetika Indonesia dan daya
saing yang melekat. Dengan strategi dan kebijakan tepat, agroindustri akan
menampilkan keunggulan komparatif dan kompetitifnya: kandungan lokal yang
besar, menyerap tenaga kerja dan padat karya, lebih mudah memeratakan
kesejahteraan dan mengisi lumbung pangan kita agar tidak tekor. (Yoga)
Ekonomi (Bencana) Selat Muria
Pada Februari 2024, banjir akibat cuaca ekstrem melanda Demak,
Grobogan, dan Kudus. Sebulan kemudian, banjir melanda kembali ketiga kota itu beserta
Semarang, Pati, dan Jepara. Bencana hidrometeorologi itu menggenangi permukiman
dan lahan pertanian. Banjir juga merendam sejumlah titik jalan pantura di
Semarang, Demak, dan Kudus dan berlangsung hampir dua minggu sehingga menyumbat
jalur transportasi dan logistik. BPBD Jateng mencatat, total kerugian sementara
akibat banjir di enam kota tersebut per 2 April 2024 mencapai Rp 2,22 triliun.
Dari jumlah itu, kerugian Semarang Rp 852,3 miliar, Demak Rp 800,93 miliar, Grobogan
Rp 343,2 miliar, Jepara Rp 139,64 miliar, Kudus Rp 80,77 miliar, dan Pati Rp 11,52
miliar.
Bencana besar serupa pernah melanda Kudus, Demak, Pati, dan
Jepara pada awal 2014. Hujan ekstrem dengan curah 100-300 milimeter menyebabkan
banjir dan longsor di empat daerah itu. Bencana itu mengakibatkan 125.000 warga
mengungsi, 16 orang tewas, jalan pantura lumpuh selama dua minggu, dan tanaman
padi seluas 23.723 hektar di ketiga daerah itu puso. Total kerugian akibat bencana
di keempat kabupaten itu sebesar Rp 2,2 triliun.
Fenomena banjir akibat cuaca ekstrem dan air pasang itu memantik
perbincangan potensi munculnya kembali Selat Muria. Selat Muria merupakan wilayah
perairan di antara daratan utara Jateng dan Gunung Muria mulai abad ke-9 hingga
abad ke-17. Waktu itu, Gunung Muria merupakan pulau tersendiri, terpisah dari
Pulau Jawa, yang terekam dalam peta Jawa Dwipa yang menggambarkan Jawa pada
zaman purba (Sejarah Kawitane Wong Jawa lan Wong Kanung, 1930). Akibat endapan
selama ratusan tahun, Selat Muria berubah menjadi daratan sehingga Pulau Muria
menyatu dengan Pulau Jawa.
Daratan tersebut mencakup Kudus serta sebagian Demak, Pati,
Semarang, Jepara, dan Grobogan. Hingga kini, Semarang, Demak, Kudus, Pati,
Grobogan, dan Jepara menjadi nadi ekonomi Jateng, bahkan Indonesia. Semarang,
misalnya, menjadi nadi logistik karena memiliki Pelabuhan Tanjung Emas. Demak,
Kudus, Pati, dan Grobogan menjadi daerah sentra beras. Dinas Pertanian dan
Perkebunan Provinsi Jateng mencatat, per 15 Maret 2024, banjir melanda 16.269
hektar sawah yang ditanami padi di Kabupaten Grobogan, Demak, Pati, Kudus, dan
Jepara, menyebabkan sebagian besar padi gagal dipanen. (Yoga)
Konsumsi Pertamax Turbo Melonjak 90,7 Persen
PT Pertamina (Persero) mencatat terdapat kenaikan konsumsi BBM
pertamax turbo (RON 95) hingga 90,7 % pada Kamis (4/4) atau H-6 Idul Fitri 1445
H. Berdasarkan data Pertamina, penjualan pertamax turbo sebesar 938 kiloliter
per hari, lebih tinggi dibandingkan kenaikan konsumsi pertamax. Data yang dihimpun
PT Pertamina menunjukkan, penjualan pertamax pada H-6 Lebaran sebesar 15.890 kl
per hari atau naik 24,8 % dari penjualan normal yang 12.729 kl per hari. Pertamina
menyebut konsumen cenderung memilih BBM lebih berkualitas untuk perjalanan
jarak jauh.
”Untuk perjalanan jauh, banyak pengendara mengandalkan BBM
yang lebih berkualitas. Dengan pertamax turbo tarikan kendaraan juga lebih
baik,” kata Sekretaris Perusahaan PT Pertamina Patra Niaga Irto Ginting, Minggu
(7/4). Irto juga mengatakan, lonjakan konsumsi pertamax turbo menjelang Lebaran
bukan diakibatkan terbatasnya ketersediaan pertamax. ”Tidak kosong. Kami pastikan
stok tersedia,” katanya. Sementara itu, untuk BBM jenis lain, peningkatan konsumsi
pada H-6 Lebaran terjadi pada pertamina dex, yaitu sebesar 33,1 %, dexlite 29,8
%, pertalite 11 %, dan solar 9,3 %. (Yoga)
Konflik Berabad-abad Timah Bangka Belitung
Pabrik-pabrik peleburan atau smelter timah di kawasan industri Ketapang, Kota Pangkalpinang, Bangka Belitung senyap. Dari Pantauan Tempo, dari sembilan smelter, jumat, 5 April 2024, tak terlihat kegiatan produksi sama sekali. Pintu masuk ke smelter-smelter tertutup rapat, dari dalam terlihat hanya beberapa orang yang mengenakan pakaian satuan pengaman sedang duduk. Ketika dihampiri mereka mengatakan hanya karyawan outsourching yang ditugaskan menjaga aset smelter. Sudah beberapa bulan ini tidak ada aktivitas, baik pengiriman pasir timah maupun proses peleburan timah.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambangan dan Pengolahan Pasir Mineral Indonesia Rudi Syahwani mengkonfirmasi hampir semua pabrik peleburan timah di Bangkabelitung tutup, setidaknya sejak tiga bukan terakhir. DIa mencatat hanya Arsari Group- Perusahaan milik Hasjim Djojohadikusumo- yang beroperasi. Itupun baru-baru ini. Menurut Rudi, tutupnya smelter dipicu masalah administrasi. Pemerintah baru menyetujui rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) perusahaan tambang pada akhir Maret lalu. Normalnya, persetujuan terbit pada awal tahun. Konsekuensinya adalah nihil pasokan timah untuk diolah. (Yetede)
Dampak Pengusutan Korupsi Timah terhadap Bisnis Timah Bangka Belitung
Bulog Manfaatkan Fleksibilitas Harga untuk Serapan Beras Lokal
Masa Depan Harita Nickel Tangguh
Memaksimalkan Dampak Ekonomi Lebaran
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









