;

Ekonomi (Bencana) Selat Muria

Ekonomi Yoga 08 Apr 2024 Kompas
Ekonomi (Bencana) Selat Muria

Pada Februari 2024, banjir akibat cuaca ekstrem melanda Demak, Grobogan, dan Kudus. Sebulan kemudian, banjir melanda kembali ketiga kota itu beserta Semarang, Pati, dan Jepara. Bencana hidrometeorologi itu menggenangi permukiman dan lahan pertanian. Banjir juga merendam sejumlah titik jalan pantura di Semarang, Demak, dan Kudus dan berlangsung hampir dua minggu sehingga menyumbat jalur transportasi dan logistik. BPBD Jateng mencatat, total kerugian sementara akibat banjir di enam kota tersebut per 2 April 2024 mencapai Rp 2,22 triliun. Dari jumlah itu, kerugian Semarang Rp 852,3 miliar, Demak Rp 800,93 miliar, Grobogan Rp 343,2 miliar, Jepara Rp 139,64 miliar, Kudus Rp 80,77 miliar, dan Pati Rp 11,52 miliar.

Bencana besar serupa pernah melanda Kudus, Demak, Pati, dan Jepara pada awal 2014. Hujan ekstrem dengan curah 100-300 milimeter menyebabkan banjir dan longsor di empat daerah itu. Bencana itu mengakibatkan 125.000 warga mengungsi, 16 orang tewas, jalan pantura lumpuh selama dua minggu, dan tanaman padi seluas 23.723 hektar di ketiga daerah itu puso. Total kerugian akibat bencana di keempat kabupaten itu sebesar Rp 2,2 triliun.

Fenomena banjir akibat cuaca ekstrem dan air pasang itu memantik perbincangan potensi munculnya kembali Selat Muria. Selat Muria merupakan wilayah perairan di antara daratan utara Jateng dan Gunung Muria mulai abad ke-9 hingga abad ke-17. Waktu itu, Gunung Muria merupakan pulau tersendiri, terpisah dari Pulau Jawa, yang terekam dalam peta Jawa Dwipa yang menggambarkan Jawa pada zaman purba (Sejarah Kawitane Wong Jawa lan Wong Kanung, 1930). Akibat endapan selama ratusan tahun, Selat Muria berubah menjadi daratan sehingga Pulau Muria menyatu dengan Pulau Jawa.

Daratan tersebut mencakup Kudus serta sebagian Demak, Pati, Semarang, Jepara, dan Grobogan. Hingga kini, Semarang, Demak, Kudus, Pati, Grobogan, dan Jepara menjadi nadi ekonomi Jateng, bahkan Indonesia. Semarang, misalnya, menjadi nadi logistik karena memiliki Pelabuhan Tanjung Emas. Demak, Kudus, Pati, dan Grobogan menjadi daerah sentra beras. Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jateng mencatat, per 15 Maret 2024, banjir melanda 16.269 hektar sawah yang ditanami padi di Kabupaten Grobogan, Demak, Pati, Kudus, dan Jepara, menyebabkan sebagian besar padi gagal dipanen. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :