;

Selebritas dan Elpiji ”Melon”

Lingkungan Hidup Yoga 12 Apr 2024 Kompas
Selebritas dan Elpiji ”Melon”

Elpiji ”melon” alias elpiji tabung 3 kg sedang menjadi topik hangat di kalangan warganet, berawal dari video yang diunggah selebritas Prilly Latuconsina di akun Instagram-nya, tentang kegiatannya memasak di dapur untuk persiapan Lebaran 2024, karena elpiji melon yang tampak digunakan sebagai bahan bakarnya. Sontak warganet menghujani perempuan muda itu dengan kritik. Sebagai respons, Prilly pun membuat klarifikasi sekaligus minta maaf pada Kamis (11/4) pukul 14.30 WIB, yang mendapatkan 6.653 komentar. Salah satunya dari akun quins_bee. ”Gas melon, kan, itu subsidi untuk warga kurang mampu. Salah satu faktor gas melon langka, ya, kayak gini dipakai oleh pihak yang sebenarnya mampu,” katanya.

Elpiji melon adalah elpiji subsidi dari pemerintah untuk masyarakat miskin, namun banyak warga bukan kategori miskin menggunakan barang yang distribusinya terbuka itu. Akibatnya, volume penyalurannya terus membengkak setiap tahun. Anggaran negara untuk menyubsidi pun menggelembung. Persoalan kian pelik karena 77 % kebutuhan elpiji dalam negeri dipenuhi impor. Dengan demikian, beban keuangan negara menjadi kian berat, apalagi jika nilai tukar dollar AS melonjak atau kurs rupiah anjlok. Mengutip informasi dari Kementerian ESDM, konsumsi elpiji melon tujuh tahun terakhir melonjak 2,9 juta metrik ton (MT). Pada 2007, distribusinya mencapai 6,29 juta MT. Pada 2023, distribusinya telah menggelembung menjadi 8,0 juta MT.

Dari tahun ke tahun, tingkat migrasi pengguna dari elpiji nonsubsidi ke elpiji subsidi semakin tinggi. Kementerian ESDM mencatat, realisasi penyaluran elpiji subsidi pada 2020-2022 meningkat 4,5 %. Sementara penyaluran elpiji nonsubsidi turun 10,9 %. Pada 2023, dari total 8,6 juta ton realisasi elpiji, 8,03 juta ton di antaranya adalah elpiji 3 kg. Artinya, secara proporsi, elpiji melon dominan dengan persentase mencapai 93,3 %, karena disparitas harga jual elpiji subsidi dan nonsubsidi di penyalur/agen yang kian lebar. Pada Januari 2021, selisih harga elpiji nonsubsidi dan elpiji subsidi ialah Rp 7.333 per kg.

Disparitas ini melebar hingga Rp 13.500 per kg pada Juli 2023. Berdasarkan regulasi, baik Perpres maupun Permen ESDM, harga jual eceran (HJE) elpiji 3 kg di agen/penyalur adalah Rp 4.250 per kg atau Rp 12.750 per tabung. Sejak 2008 hingga sekarang, harga itu tak berubah. Terus melebarnya disparitas harga antara elpiji nonsubsidi dan elpiji subsidi membuat migrasi ke elpiji melon semakin tidak terhindarkan. Pemerintah berulang kali menekankan, elpiji 3 kg hanya diperuntukkan bagi warga tidak mampu. Namun, selama tidak ada regulasi yang tegas untuk mengaturnya, celah ketidaktepatan sasaran selalu terbuka. Selain itu, kondisi ini juga rentan penyalahgunaan lewat pengoplosan. (Yoga) 

Tags :
#Gas Bumi #Varia
Download Aplikasi Labirin :