;

Antisipasi Dampak Rupiah dan Minyak

Ekonomi Yoga 15 Apr 2024 Kompas
Antisipasi Dampak Rupiah dan Minyak

Perekonomian dalam negeri kembali menghadapi tekanan akibat terus melemahnya nilai tukar rupiah, menembus Rp 16.000 per USD, dan naiknya harga minyak mentah. Pelemahan nilai tukar juga dialami mata uang banyak negara lain, hal ini terkait erat dengan kebijakan suku bunga ditingkat global. Langkah bank sentral AS, The Fed, mempertahankan suku bunga acuan di level 5,25-5,50 %, sejalan dengan kondisi ekonominya. Komite Pasar Terbuka Federal menyatakan pihaknya akan melakukan tiga kali penurunan bunga acuan tahun ini, masing-masing 25 basis poin dalam rangka menekan inflasi ke 2 %. Ketua The Fed tak menutup kemungkinan bunga acuan akan dipertahankan selama mungkin. Ketidakpastian kapan The Fed memangkas bunga acuan membuat tekanan pelemahan rupiah belum berakhir

Melemahnya rupiah juga dipicu meningkatnya kebutuhan Dollar AS, untuk pembayaran dividen maupun impor BBM dan pangan, yang sifatnya musiman. Dibanding negara Asia lain, pelemahan rupiah relatif terkendali. Kurs rupiah saat ini juga dinilai sesuai nilai fundamentalnya. Cadangan devisa 140 miliar USD cukup solid, memadai untuk menutup 6,4 bulan impor. Namun, pelemahan rupiah yang menembus level psikologis baru bisa memicu sentimen negatif yang dapat kian menekan rupiah. Pelemahan rupiah membuat beban utang dalam dollar AS pun meningkat. Kurs rupiah juga memengaruhi inflasi dalam negeri melalui barang yang diimpor sehingga berdampak ke daya beli masyarakat, fiskal, dan perekonomian secara keseluruhan.

Karena itu, kalangan pengamat mengingatkan pentingnya mengantisipasi dampak ini. Apalagi, melemahnya rupiah terjadi berbarengan dengan terus naiknya harga minyak mentah dan masih tingginya harga pangan dunia. Ini pukulan ganda  bagi Indonesia sebagai importir neto minyak dan negara yangmasih sangat tergantung pada energi fosil dan pangan impor. Harga Brent dan WTI mendekati 100 dollar AS per barel, dan bukan tidak mungkin kembali menyentuh 120-130 dollar AS per barel jika eskalasi konflik di Timur Tengah sampai mengganggu jalur logistik penting minyak. Pemerintah menyatakan harga BBM tak akan naik sampai Juni 2024.

Jika kenaikan harga minyak mentah global berlanjut, bukan tidak mungkin Indonesia dipaksa melakukan penyesuaian harga BBM dalam negeri, dengan konsekuensi pembengkakan subsidi energi apabila harga BBM bersubsidi dipertahankan. Pemerintah kemungkinan harus menambah belanja sosial guna melindungi kelompok rentan dari imbas kenaikan harga dan menerapkan kebijakan pengendalian konsumsi BBM. Mengakhiri ketergantungan yang terlalu besar pada komponen, barang jadi, dan pangan impor, serta mempercepat transisi energi fosil ke energi baru terbarukan yang potensinya melimpah di dalam negeri akan memperkuat resiliensi Indonesia menghadapi tekanan serupa di masa mendatang (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :