HILIRISASI, Mengisi Lumbung agar Tidak Tekor
Pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, menurut KPU,
memperoleh suara terbanyak dalam Pemilu Presiden 2024. Prioritas utama kerja
pasangan ini lima tahun ke depan adalah pangan, energi, dan industrialisasi.
Saat ini pangan mendesak ditangani, tecermin dari rentannya produksi pangan
akibat pertambahan penduduk, pengaruh iklim, dan situasi geopolitik. Meningkatkan
produksi pangan menjadi tantangan besar karena lahan semakin terbatas, terjadi
perubahan pola cuaca, perubahan perdagangan global, serta ada kebutuhan berbeda
berdasar usia, jender, profesi, dan budaya. Sementara kesejahteraan petani dan
nelayan tertinggal. Jumlah petani menurun dan usia menua. Menurut Sensus Pertanian
2023 Tahap 1 BPS yang dirilis 15 Desember 2023, jumlah rumah tangga usaha
pertanian gurem meningkat. Proporsi petani gurem bertambah. Pada 2013 jumlahnya
55,33 % (14,25 juta unit) dan menjadi 60,84 % (16,89 juta unit) pada 2023.
Tanpa hilirisasi, tanpa agroindustri, tanpa inovasi sulit mengharapkan
peningkatan produksi pangan seraya menyejahterakan petani. Apalagi menumbuhkan
ekonomi 6 % hingga 7 % per tahun untuk menjadi negara kaya pada 2045. Masih
adanya kelompok masyarakat miskin dan ketimpangan kemakmuran menjadi penghalang
menjadi negara maju. Saat ini 30 % tenaga kerja masih ada di pertanian on farm.
Sementara kesejahteraan petani (dan nelayan) tidak banyak berubah. Nilaitukar petani
bekisar 100. Artinya, keuntungan petani tidak cukup. Mereka harus bekerja di
luar lahannya untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anak. Mereka
memburuh atau menjadi penggarap di lahan milik tetangga, menjadi pedagang kecil
di desa, atau mencari kerja sambilan di kota.
Pemerintahan Prabowo-Gibran diharapkan mempertajam prioritas penghela
pertumbuhan dengan membangun industri berbasis sumber daya alam. Dalam buku
Gagasan Strategis Prabowo, Strategi Transformasi Bangsa Menuju Indonesia Emas
2045, terbit Oktober 2023, disebutkan, 21 komoditas prioritas hilirisasi, 11 di
antaranya berasal dari perkebunan (sawit, kelapa, dan karet) dan lainnya dari
hutan (getah pinus), serta perikanan dan kelautan. Mengaitkan produksi on farm
dengan industri pascapanen di perdesaan melalui BUMDes atau koperasi petani
akan meningkatkan produktivitas. Pendekatan agroindustri berbasis karbohidrat, protein,
vitamin dan mineral mikro dari tanaman pangan, hortikultura, perikanan, perkebunan,
dan hasil hutan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan menjadi pendorong dan
penghela pertumbuhan dan pemerataan. Industri ini dapat dikerjakan petani,
UMKM, hingga industri besar.
Membangun industri pangan memerlukan dukungan kebijakan dari
hulu hingga hilir. Diperlukan industri dasar logam dan kimia untuk menghasilkan
produk, seperti kemasan, bahan penolong dan peralatan pengolah bahan pangan,
serta industri alat dan mesin pendukung. Meski terjadi mekanisasi pertanian, tetapi
cangkul dan arit masih menjadi alat kerja lebih separuh petani serta masih
diimpor sampai hari ini. Industri yang memerlukan. Hilirisasi kopi dan rempah,
misalnya, akan menunjukkan keunggulan keragaman genetika Indonesia dan daya
saing yang melekat. Dengan strategi dan kebijakan tepat, agroindustri akan
menampilkan keunggulan komparatif dan kompetitifnya: kandungan lokal yang
besar, menyerap tenaga kerja dan padat karya, lebih mudah memeratakan
kesejahteraan dan mengisi lumbung pangan kita agar tidak tekor. (Yoga)
Postingan Terkait
Bulog Ajukan Tambahan Modal Rp 6 Triliun
Ancaman Deindustrialisasi & Nasib Buruh
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023