;
Tags

Perbankan

( 2293 )

Sejarah Panjang BNI dan Keluarga Prabowo

KT1 11 Oct 2024 Investor Daily (H)

Para pendiri bangsa masih terus berupaya keras untuk mendirikan bank sentral usai kemerdekaan RI diproklamasikan pada tahun 1945. Ini sebagai salah satu persyaratan untuk bardaulat dalam ranah ekonomi moneter. Dalam kondisi tersebut, terdapat dua pendapat ekonom yang berbeda, yakni dari Margono Djojohadokoesoemo dan Soerachman. Pendapat pertama dari Margono yang merupakan Ketua Dewan Pertimbangan Agung. Dia menilai Indonesia sebaiknya segera mendirikan suatu bank negara yang berfungsi sebagai bank sirkulasi sekaligus bank umum. Bahkan, tokoh ini telah menerima surat kuasa dari pemerintah untuk mendirikan bank negara.

Pendapat kedua dari Soerachman yang pada saat itu menjabat sebagai menteri kemakmuran menilai bahwa tisak perlu membuat bank negara baru dari nol, sebab ada De Javasche Bank (DJB) yang bisa diambil alih ddan dijadikan bank sirkulasi milik RI. Ini merupakan cikal bakal lahirnya BNI. Menteri Pertahanan Sekaligus Presiden Terpilih Prabowo Subianto berbagi kenangan pribadi dengan tentang hubungan keluarganya dengan PT Bank BNI dalam acara BNI Investor Daily Summit 2024 di JCC. Demikian benang merah sentral dari sejumlah narasumber yang dihubungi Investor Daily. Mereka adalah Ketua Hubungan Antar-Lembaga Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sarman Simanjorang, ekonom senior dari Universitas Paramadina Wijayanto Samirin, Peneliti Institutet for Demographic and Poverty Studies (Ideas) Muhammad Anwar, dan Deputi Badan  Pemenangan Pemilu, Dewn Pimpinan Pusat Partai Demokart Kamhar Lakumani. (Yetede)

Bank Berinovasi dengan Aplikasi Super untuk Menarik Nasabah

HR1 11 Oct 2024 Kontan
Bank-bank di Indonesia semakin fokus mengembangkan aplikasi digital mereka menjadi "super apps" untuk menarik lebih banyak nasabah. PT Bank Permata Tbk (BNLI) meluncurkan Permata ME, sebuah super apps yang merupakan versi lanjutan dari Permata Mobile X, dengan fitur-fitur tambahan seperti pembelian valuta asing dan pengiriman uang dalam 13 mata uang asing. Djumariah Tenteram, Direktur Consumer Banking Permata Bank, berharap aplikasi baru ini bisa menggandakan jumlah pengguna yang saat ini kurang dari dua juta.

PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) juga tengah mempersiapkan super apps yang masih dalam tahap akhir pengujian. Bob Tyasika, Wakil Direktur Utama BSI, mengatakan bahwa peralihan ke layanan digital telah mencapai 97% dari total nasabah, dengan pertumbuhan pengguna BSI Mobile mencapai 33,9% hingga Juni 2024.

Lani Darmawan, Presiden Direktur CIMB Niaga, juga mencatat pertumbuhan signifikan dalam jumlah nasabah setelah kehadiran super apps mereka, Octo Mobile, yang meningkatkan nasabah ritel dan UKM hingga 22% per tahun. CIMB Niaga berencana untuk terus berinvestasi pada layanan digitalnya.

Kebijakan SRBI Memengaruhi Likuiditas Perbankan

HR1 10 Oct 2024 Kontan (H)
Likuiditas perbankan Indonesia terus mengetat akibat tingginya imbal hasil instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), yang menarik dana dari sektor perbankan. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI, Edi Susianto, mengatakan pihaknya berupaya mengembangkan pasar sekunder untuk SRBI guna mendukung likuiditas perbankan. Direktur Utama BNI, Royke Tumilaar, menyatakan perlunya penurunan bunga SRBI secara lebih agresif agar likuiditas perbankan membaik. Sementara itu, Direktur SME & Retail Funding BTN, Muhammad Iqbal, melihat minat investasi ke SRBI tetap tinggi karena imbal hasil yang menarik. EVP Corporate Communication BCA, Hera F. Haryn, memastikan likuiditas BCA solid, meskipun penempatan dana di SRBI ada, namun tetap dominan pada obligasi pemerintah.

Bank Digital Afrika Membidik Pasar UMKM Indonesia

HR1 10 Oct 2024 Kontan
Minat investor asing untuk berinvestasi di sektor perbankan Indonesia terus meningkat, dan Tyme Group, bank asal Afrika Selatan, adalah salah satu yang terbaru dalam daftar tersebut. Menurut CEO Tyme Bank, Coenraad Jonker, pihaknya berencana memperkenalkan produk *Merchant Cash Advance* di Indonesia, dengan fokus utama pada sektor UMKM yang dinilai ideal untuk model bisnis Tyme.

CEO Go Tyme Capital Indonesia, Timothy Delahunty, mengonfirmasi rencana ini dan menyebut bahwa layanan keuangan fleksibel dari Tyme akan segera diluncurkan, menyasar UMKM yang dinilai sangat dinamis di Indonesia. Namun, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan bahwa belum ada pembicaraan resmi dengan Tyme terkait izin operasional di Indonesia.

Rustarti Suri Pertiwi, Direktur Keuangan Bank Raya Indonesia, menyambut baik masuknya bank asing yang dapat meningkatkan layanan keuangan untuk UMKM. Namun, ia mengingatkan bahwa memahami karakteristik UMKM lokal sangat penting untuk kesuksesan produk yang ditawarkan. Menurut Ekonom Segara Institute, Piter Abdullah, bank asing sering kali kesulitan menembus pasar UMKM karena pasar ritel ini umumnya dikuasai bank domestik yang lebih memahami budaya dan kebutuhan lokal.

Likuiditas Leasing Masih Terbatas

HR1 09 Oct 2024 Kontan
Enam perusahaan multifinance masih belum memenuhi kewajiban ekuitas minimum Rp 100 miliar hingga akhir Agustus 2024. Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Modal Ventura, LKM, dan LJK Lainnya OJK, Agusman, kendala ini terjadi karena belum ada penyuntikan modal baru serta proses peningkatan modal yang belum sesuai aturan. OJK terus memantau dan melakukan langkah-langkah untuk memastikan pemenuhan ekuitas ini, termasuk melalui injeksi modal dari pemegang saham pengendali atau investor baru, baik lokal maupun asing, atau opsi pengembalian izin usaha jika target tidak tercapai.

Nasabah Ritel Menghadapi Kesulitan Melunasi Utang

HR1 09 Oct 2024 Kontan
Tekanan ekonomi yang dialami masyarakat semakin terlihat, tercermin dari penurunan kemampuan nasabah ritel dalam membayar angsuran kredit dan melambatnya pertumbuhan simpanan. Rasio kredit bermasalah (NPL) rumah tangga meningkat dari 1,80% pada akhir 2023 menjadi 1,98% pada Agustus 2024, terutama di kredit kepemilikan rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor (KKB). Selain itu, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perorangan hanya mencapai 1% YoY pada Agustus 2024, jauh lebih rendah dibanding bulan sebelumnya.

Presiden Direktur Bank CIMB Niaga, Lani Darmawan, menyatakan bahwa nasabah ritel kini harus memilih antara membayar utang atau memenuhi kebutuhan sehari-hari karena pendapatan mereka cenderung menurun. CIMB Niaga mencatat peningkatan NPL kredit ritel menjadi 2%, meskipun menurut Lani masih tergolong sehat. Bank berfokus menjaga kualitas aset kredit dengan analisis ketat untuk menekan potensi kenaikan NPL.

Direktur Utama BNI, Royke Tumilaar, juga mengakui adanya kenaikan NPL rumah tangga, namun ia menilai dampaknya kecil terhadap NPL keseluruhan BNI yang tetap stabil di level 2%, dengan mayoritas peningkatan pada kredit kecil. Selain itu, fenomena "buy now, pay later" (BNPL) turut menunjukkan peningkatan signifikan, dengan outstanding BNPL mencapai Rp 18,3 triliun, naik 40,68% YoY pada Agustus 2024.

Suku Bunga Deposito Mulai Melandai

HR1 08 Oct 2024 Kontan (H)

Perbankan mulai merespons penurunan suku bunga acuan demi mengurangi beban bunga dan menaikkan margin. Berdasarkan penelusuran KONTAN, beberapa bank yang telah memangkas bunga deposito di awal bulan ini. Salah satunya PT Bank Central Asia Tbk (BCA) yang memangkas bunga deposito sebesar 25 basis poin (bps) untuk deposito tenor tiga bulan. Bunga dipangkas dari 3,25% menjadi 3% per 1 Oktober. EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menjelaskan, keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan kondisi likuiditas, situasi pasar, serta suku bunga acuan Bank Indonesia. Suku bunga deposito rupiah BCA saat ini bervariasi. Bunga deposito di bank milik Grup Djarum ini paling tinggi mencapai 3,25% per tahun, sedangkan bunga terendah sebesar 2% per tahun. PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (Bank BJB) juga telah menyesuaikan bunga yang diberikan ke deposan dengan besaran antara 25-50 bps, tergantung nilai dana yang disimpan dan tenor yang dipilih. "Di awal Oktober 2024 ini, bunga deposito di Bank BJB mulai dari 3,5% hingga 5%," kata Yuddy Renaldi, Direktur Utama BJB. Di sisi lain, BJBR menjaga agar DPK tumbuh pada level yang optimal, sehingga tidak meningkatkan biaya dana. "Strategi dalam mengoptimalkan DPK dengan menjaga loan to deposit ratio (LDR), mengelola ekosistem keuangan, menjaga manajemen aset dan liabilitas," papar Yuddy.

"Selain mempertimbangkan tren penurunan bunga, Bank Mandiri juga mengamati perkembangan suku bunga, kondisi likuiditas perbankan dalam penentuan suku bunga yang akan ditawarkan, dan strategi biaya dana," ujar Evi Dempowati, SVP Retail Deposit Product and Solution Bank Mandiri. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) juga tak mau ketinggalan. Direktur SME & Retail Funding BTN Muhammad Iqbal menuturkan, BTN mengikuti perkembangan suku bunga acuan. Pengamat Perbankan dan Praktisi Sistem Pembayaran Arianto Muditomo menilai, penurunan bunga akan membuat nasabah mempertimbangkan instrumen investasi lain yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Menurut dia, deposito masih akan menarik bagi nasabah yang mencari keamanan dan stabilitas. Sekadar info, perbankan masih tampak mengerek bunga simpanan hingga Agustus 2024. Berdasarkan data Bank Indonesia, suku bunga simpanan pada Juli 2024 pada tenor satu bulan, tiga bulan, enam bulan dan 12 bulan, masing-masing berada di 4,75%, 5,41%, 5,44% dan 5,87%.

Laba BPD Tergerus Akibat Risiko Meningkat

HR1 08 Oct 2024 Kontan

Kinerja laba bersih sejumlah bank pembangunan daerah (BPD) terlihat sedikit tertekan pada Agustus 2024. Namun, penyaluran kredit BPD masih mampu tumbuh. PT BPD Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) misalnya, mencatatkan penurunan laba bersih 21% secara tahunan menjadi Rp 787,58 miliar per Agustus 2024 dari Rp 998,975 miliar tahun lalu. Penurunan ini disebabkan kerugian penurunan aset keuangan (impairment) yang naik 44,23% secara tahunan menjadi Rp 542,17 miliar per Agustus 2024. Sementara, pendapatan bunga bersih alias net interest income (NII) masih tumbuh 7,13% secara tahunan menjadi Rp 3,39 triliun per Agustus 2024. Pertumbuhan pendapatan bunga bersih ini sejalan penyaluran kredit dan pembiayaan syariah yang tumbuh 18,57% secara tahunan menjadi Rp 60,65 triliun. Direktur Keuangan, Treasury & Global Services Bank Jatim Edi Masrianto mengatakan, pertumbuhan tersebut didorong seluruh segmen kredit. "Secara eksponensial pertumbuhan kredit ada pada segmen kredit ritel menengah, dengan penyaluran mayoritas di sektor ekonomi jenis perdagangan, pertanian dan peternakan," papar dia, kemarin. 

Edi menerangkan, dampak pelemahan ekonomi di kelas menengah ke bawah terefleksi pada peningkatan rasio NPL Bank Jatim di segmen ritel. NPL segmen ritel Bank Jatim di 1,41% per Agustus 2024, naik dari tahun sebelumnya 0,97%. Untuk itu Bank Jatim memitigasi kualitas kredit dengan selektif menyalurkan kredit bagi nasabah baru. PT BPD Jawa Barat dan Banten Tbk (Bank BJB) juga mencatatkan penurunan laba bersih secara bank only sebesar 21,69% secara tahunan menjadi Rp 954,390 miliar per Agustus 2024. Ini disebabkan menurunnya NII sebesar 10,93% secara tahunan menjadi Rp 4,14 triliun. Beban bunga Bank BJB juga meningkat 25,24% secara tahunan menjadi Rp 5,04 triliun. Direktur Utama BJB Yuddy Renaldi mengatakan, pertumbuhan tersebut sejalan dengan target tahun ini, yang diprediksi 6%-8%. Kualitas kredit juga terjaga baik pada level 1,5% per Agustus 2024.

Kredit Bermasalah Bank Digital Kembali Meningkat

HR1 07 Oct 2024 Kontan

Kualitas aset perbankan digital mengalami pemburukan. Sebagian besar bank di kelompok ini mencatat kenaikan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL), kendati portofolio kredit tumbuh pesat. Berdasarkan laporan keuangan sejumlah bank digital, dari sembilan bank yang ditelisik, enam di antaranya mengalami kenaikan NPL. Tapi, dari jumlah tersebut, lima di antaranya masih mencetak pertumbuhan kredit. Kendati begitu, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan Dian Ediana Rae memandang, kondisi NPL bank-bank dengan layanan digital secara umum masih dalam batas wajar. "Bank digital yang bermitra dengan fintech harus menerapkan kebijakan manajemen risiko yang lebih ketat dan inovasi teknologi untuk meningkatkan keamanan dan efisiensi operasional," kata Dian, baru-baru ini. Rasio NPL paling tinggi dicatat Bank Amar Indonesia, mencapai 8% per Juni 2024, naik dari 7,33% pada Juni 2023. 

Adapun kredit bank ini tumbuh 25,26% pada periode tersebut jadi Rp 8,028. Artinya, nilai portofolio bermasalah Bank Amar semakin banyak. Krom Bank Indonesia mencatat rasio NPL naik dari 0,77% jadi 3,93%. Portofolio kreditnya tumbuh 113,19%. Ini menunjukkan banyak kredit bank afiliasi Kredivo ini masuk kategori bermasalah. Sementara Allo Bank mengalami kenaikan rasio NPL dari 0,05% jadi 0,42% per Juni 2024. Kreditnya tumbuh 7,95% jadi Rp 8,02 triliun. Direktur Utama Allo Bank Indra Utoyo mengatakan, untuk menjaga kualitas aset, Allo Bank masih fokus menyalurkan kredit secara langsung. Sementara rasio NPL Bank Raya masih tinggi, yakni 4,14% per Juni 2024. Tapi, NPL sudah susut dari 4,35% pada Juni 2023. Penyusutan terjadi saat kreditnya tumbuh 12,15%. Direktur Keuangan Bank Raya Rustarti Suri Pertiwi mengatakan, pihaknya akan mengutamakan pertumbuhan yang sehat dalam ekspansi, guna menjaga kualitas aset.

Pasar Perbankan Syariah Belum Maksimal

HR1 04 Oct 2024 Kontan

Perkembangan pangsa pasar perbankan syariah di Tanah Air bergerak lelet. Meski mayoritas populasi Indonesia beragama Islam dan regulator terus berupaya mendorong ekosistem syariah, pangsa pasar perbankan syariah hanya naik tipis dalam lima tahun terakhir. Per Juli 2024, pangsa pasar perbankan syariah dari sisi aset baru mencapai 7,26% dari total aset industri perbankan. Angka tersebut hanya naik tipis dari tahun 2020. dengan pangsa pasar sebesar 6,47%. Sedangkan pangsa pasar pembiayaan syariah baru mencapai 7,89% pada Juli 2024. Angka ini naik tipis dari 7,58% pada tahun 2022. Oleh karena itu, regulator dan juga pemain di industri ini perlu bekerja lebih keras lagi untuk melakukan edukasi dan menciptakan produk-produk syariah yang menarik. Agar pangsa pasar meningkat lebih cepat, perbankan syariah harus mampu menumbuhkan kredit jauh lebih tinggi dibanding industri. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pembiayaan syariah per Agustus 2024 tumbuh 11,65% secara tahunan. Pertumbuhannya sudah sedikit lebih baik dari pertumbuhan kredit secara industri, yang hanya mencapai 11,4% pada periode tersebut. Konsultan Ekonomi Syariah sekaligus Wakil Komisaris Utama Bank Syariah Indonesia (BSI) Adiwarman Azwar Karim melihat, ada beberapa penyebab pangsa pasar tak cepat berkembang. 

Pertama, beberapa unit usaha syariah (UUS) besar menahan pertumbuhan karena aset sudah hampir mencapai Rp 50 triliun, level yang diwajibkan untuk spin off. Kedua, pilkada sangat berdampak pada Bank Pembangunan Daerah (BPD). UUS milik BPD mengalami perlambatan ekspansi karena cenderung wait and see. Romy Buchari, Direktur Perbankan Syariah Maybank Indonesia, melihat kondisi perbankan syariah saat ini lebih baik dibanding lima tahun terakhir. Sebelumnya, pangsa pasar bank syariah terjebak di level 5%. Adapun aset Maybank Syariah per Juni 2024 tercatat sebesar Rp 41 triliun. Angka ini turun dari Rp 43 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, Romy membantah pihaknya sengaja mengerem pertumbuhan aset guna menghindari kewajiban spin off. Senada, Corporate Secretary Division Head Bank Mega Syariah Hanie Dewita optimistis industri perbankan syariah akan tumbuh positif sampai akhir tahun.