Perbankan
( 2293 )Sejarah Panjang BNI dan Keluarga Prabowo
Para pendiri bangsa masih terus berupaya keras untuk mendirikan bank sentral usai kemerdekaan RI diproklamasikan pada tahun 1945. Ini sebagai salah satu persyaratan untuk bardaulat dalam ranah ekonomi moneter. Dalam kondisi tersebut, terdapat dua pendapat ekonom yang berbeda, yakni dari Margono Djojohadokoesoemo dan Soerachman. Pendapat pertama dari Margono yang merupakan Ketua Dewan Pertimbangan Agung. Dia menilai Indonesia sebaiknya segera mendirikan suatu bank negara yang berfungsi sebagai bank sirkulasi sekaligus bank umum. Bahkan, tokoh ini telah menerima surat kuasa dari pemerintah untuk mendirikan bank negara.
Pendapat kedua dari Soerachman yang pada saat itu menjabat sebagai menteri kemakmuran menilai bahwa tisak perlu membuat bank negara baru dari nol, sebab ada De Javasche Bank (DJB) yang bisa diambil alih ddan dijadikan bank sirkulasi milik RI. Ini merupakan cikal bakal lahirnya BNI. Menteri Pertahanan Sekaligus Presiden Terpilih Prabowo Subianto berbagi kenangan pribadi dengan tentang hubungan keluarganya dengan PT Bank BNI dalam acara BNI Investor Daily Summit 2024 di JCC. Demikian benang merah sentral dari sejumlah narasumber yang dihubungi Investor Daily. Mereka adalah Ketua Hubungan Antar-Lembaga Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sarman Simanjorang, ekonom senior dari Universitas Paramadina Wijayanto Samirin, Peneliti Institutet for Demographic and Poverty Studies (Ideas) Muhammad Anwar, dan Deputi Badan Pemenangan Pemilu, Dewn Pimpinan Pusat Partai Demokart Kamhar Lakumani. (Yetede)
Bank Berinovasi dengan Aplikasi Super untuk Menarik Nasabah
Kebijakan SRBI Memengaruhi Likuiditas Perbankan
Bank Digital Afrika Membidik Pasar UMKM Indonesia
Likuiditas Leasing Masih Terbatas
Nasabah Ritel Menghadapi Kesulitan Melunasi Utang
Suku Bunga Deposito Mulai Melandai
Perbankan mulai merespons penurunan suku bunga acuan demi mengurangi beban bunga dan menaikkan margin. Berdasarkan penelusuran KONTAN, beberapa bank yang telah memangkas bunga deposito di awal bulan ini. Salah satunya PT Bank Central Asia Tbk (BCA) yang memangkas bunga deposito sebesar 25 basis poin (bps) untuk deposito tenor tiga bulan. Bunga dipangkas dari 3,25% menjadi 3% per 1 Oktober. EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menjelaskan, keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan kondisi likuiditas, situasi pasar, serta suku bunga acuan Bank Indonesia. Suku bunga deposito rupiah BCA saat ini bervariasi. Bunga deposito di bank milik Grup Djarum ini paling tinggi mencapai 3,25% per tahun, sedangkan bunga terendah sebesar 2% per tahun. PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (Bank BJB) juga telah menyesuaikan bunga yang diberikan ke deposan dengan besaran antara 25-50 bps, tergantung nilai dana yang disimpan dan tenor yang dipilih. "Di awal Oktober 2024 ini, bunga deposito di Bank BJB mulai dari 3,5% hingga 5%," kata Yuddy Renaldi, Direktur Utama BJB. Di sisi lain, BJBR menjaga agar DPK tumbuh pada level yang optimal, sehingga tidak meningkatkan biaya dana. "Strategi dalam mengoptimalkan DPK dengan menjaga loan to deposit ratio (LDR), mengelola ekosistem keuangan, menjaga manajemen aset dan liabilitas," papar Yuddy.
"Selain mempertimbangkan tren penurunan bunga, Bank Mandiri juga mengamati perkembangan suku bunga, kondisi likuiditas perbankan dalam penentuan suku bunga yang akan ditawarkan, dan strategi biaya dana," ujar Evi Dempowati, SVP Retail Deposit Product and Solution Bank Mandiri.
PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) juga tak mau ketinggalan. Direktur SME & Retail Funding BTN Muhammad Iqbal menuturkan, BTN mengikuti perkembangan suku bunga acuan.
Pengamat Perbankan dan Praktisi Sistem Pembayaran Arianto Muditomo menilai, penurunan bunga akan membuat nasabah mempertimbangkan instrumen investasi lain yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Menurut dia, deposito masih akan menarik bagi nasabah yang mencari keamanan dan stabilitas.
Sekadar info, perbankan masih tampak mengerek bunga simpanan hingga Agustus 2024. Berdasarkan data Bank Indonesia, suku bunga simpanan pada Juli 2024 pada tenor satu bulan, tiga bulan, enam bulan dan 12 bulan, masing-masing berada di 4,75%, 5,41%, 5,44% dan 5,87%.
Laba BPD Tergerus Akibat Risiko Meningkat
Kinerja laba bersih sejumlah bank pembangunan daerah (BPD) terlihat sedikit tertekan pada Agustus 2024. Namun, penyaluran kredit BPD masih mampu tumbuh. PT BPD Jawa Timur Tbk (Bank Jatim) misalnya, mencatatkan penurunan laba bersih 21% secara tahunan menjadi Rp 787,58 miliar per Agustus 2024 dari Rp 998,975 miliar tahun lalu. Penurunan ini disebabkan kerugian penurunan aset keuangan (impairment) yang naik 44,23% secara tahunan menjadi Rp 542,17 miliar per Agustus 2024. Sementara, pendapatan bunga bersih alias net interest income (NII) masih tumbuh 7,13% secara tahunan menjadi Rp 3,39 triliun per Agustus 2024. Pertumbuhan pendapatan bunga bersih ini sejalan penyaluran kredit dan pembiayaan syariah yang tumbuh 18,57% secara tahunan menjadi Rp 60,65 triliun. Direktur Keuangan, Treasury & Global Services Bank Jatim Edi Masrianto mengatakan, pertumbuhan tersebut didorong seluruh segmen kredit. "Secara eksponensial pertumbuhan kredit ada pada segmen kredit ritel menengah, dengan penyaluran mayoritas di sektor ekonomi jenis perdagangan, pertanian dan peternakan," papar dia, kemarin.
Edi menerangkan, dampak pelemahan ekonomi di kelas menengah ke bawah terefleksi pada peningkatan rasio NPL Bank Jatim di segmen ritel. NPL segmen ritel Bank Jatim di 1,41% per Agustus 2024, naik dari tahun sebelumnya 0,97%. Untuk itu Bank Jatim memitigasi kualitas kredit dengan selektif menyalurkan kredit bagi nasabah baru.
PT BPD Jawa Barat dan Banten Tbk (Bank BJB) juga mencatatkan penurunan laba bersih secara bank only sebesar 21,69% secara tahunan menjadi Rp 954,390 miliar per Agustus 2024. Ini disebabkan menurunnya NII sebesar 10,93% secara tahunan menjadi Rp 4,14 triliun. Beban bunga Bank BJB juga meningkat 25,24% secara tahunan menjadi Rp 5,04 triliun.
Direktur Utama BJB Yuddy Renaldi mengatakan, pertumbuhan tersebut sejalan dengan target tahun ini, yang diprediksi 6%-8%. Kualitas kredit juga terjaga baik pada level 1,5% per Agustus 2024.
Kredit Bermasalah Bank Digital Kembali Meningkat
Kualitas aset perbankan digital mengalami pemburukan. Sebagian besar bank di kelompok ini mencatat kenaikan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL), kendati portofolio kredit tumbuh pesat. Berdasarkan laporan keuangan sejumlah bank digital, dari sembilan bank yang ditelisik, enam di antaranya mengalami kenaikan NPL. Tapi, dari jumlah tersebut, lima di antaranya masih mencetak pertumbuhan kredit. Kendati begitu, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan Dian Ediana Rae memandang, kondisi NPL bank-bank dengan layanan digital secara umum masih dalam batas wajar. "Bank digital yang bermitra dengan fintech harus menerapkan kebijakan manajemen risiko yang lebih ketat dan inovasi teknologi untuk meningkatkan keamanan dan efisiensi operasional," kata Dian, baru-baru ini. Rasio NPL paling tinggi dicatat Bank Amar Indonesia, mencapai 8% per Juni 2024, naik dari 7,33% pada Juni 2023.
Adapun kredit bank ini tumbuh 25,26% pada periode tersebut jadi Rp 8,028. Artinya, nilai portofolio bermasalah Bank Amar semakin banyak.
Krom Bank Indonesia mencatat rasio NPL naik dari 0,77% jadi 3,93%. Portofolio kreditnya tumbuh 113,19%. Ini menunjukkan banyak kredit bank afiliasi Kredivo ini masuk kategori bermasalah.
Sementara Allo Bank mengalami kenaikan rasio NPL dari 0,05% jadi 0,42% per Juni 2024. Kreditnya tumbuh 7,95% jadi Rp 8,02 triliun. Direktur Utama Allo Bank Indra Utoyo mengatakan, untuk menjaga kualitas aset, Allo Bank masih fokus menyalurkan kredit secara langsung.
Sementara rasio NPL Bank Raya masih tinggi, yakni 4,14% per Juni 2024. Tapi, NPL sudah susut dari 4,35% pada Juni 2023. Penyusutan terjadi saat kreditnya tumbuh 12,15%.
Direktur Keuangan Bank Raya Rustarti Suri Pertiwi mengatakan, pihaknya akan mengutamakan pertumbuhan yang sehat dalam ekspansi, guna menjaga kualitas aset.
Pasar Perbankan Syariah Belum Maksimal
Perkembangan pangsa pasar perbankan syariah di Tanah Air bergerak lelet. Meski mayoritas populasi Indonesia beragama Islam dan regulator terus berupaya mendorong ekosistem syariah, pangsa pasar perbankan syariah hanya naik tipis dalam lima tahun terakhir. Per Juli 2024, pangsa pasar perbankan syariah dari sisi aset baru mencapai 7,26% dari total aset industri perbankan. Angka tersebut hanya naik tipis dari tahun 2020. dengan pangsa pasar sebesar 6,47%. Sedangkan pangsa pasar pembiayaan syariah baru mencapai 7,89% pada Juli 2024. Angka ini naik tipis dari 7,58% pada tahun 2022. Oleh karena itu, regulator dan juga pemain di industri ini perlu bekerja lebih keras lagi untuk melakukan edukasi dan menciptakan produk-produk syariah yang menarik. Agar pangsa pasar meningkat lebih cepat, perbankan syariah harus mampu menumbuhkan kredit jauh lebih tinggi dibanding industri. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pembiayaan syariah per Agustus 2024 tumbuh 11,65% secara tahunan. Pertumbuhannya sudah sedikit lebih baik dari pertumbuhan kredit secara industri, yang hanya mencapai 11,4% pada periode tersebut. Konsultan Ekonomi Syariah sekaligus Wakil Komisaris Utama Bank Syariah Indonesia (BSI) Adiwarman Azwar Karim melihat, ada beberapa penyebab pangsa pasar tak cepat berkembang.
Pertama, beberapa unit usaha syariah (UUS) besar menahan pertumbuhan karena aset sudah hampir mencapai Rp 50 triliun, level yang diwajibkan untuk spin off.
Kedua, pilkada sangat berdampak pada Bank Pembangunan Daerah (BPD). UUS milik BPD mengalami perlambatan ekspansi karena cenderung wait and see.
Romy Buchari, Direktur Perbankan Syariah Maybank Indonesia, melihat kondisi perbankan syariah saat ini lebih baik dibanding lima tahun terakhir. Sebelumnya, pangsa pasar bank syariah terjebak di level 5%.
Adapun aset Maybank Syariah per Juni 2024 tercatat sebesar Rp 41 triliun. Angka ini turun dari Rp 43 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, Romy membantah pihaknya sengaja mengerem pertumbuhan aset guna menghindari kewajiban spin off.
Senada,
Corporate Secretary Division Head
Bank Mega Syariah Hanie Dewita optimistis industri perbankan syariah akan tumbuh positif sampai akhir tahun.
Pilihan Editor
-
Penjualan Sepeda Melonjak
09 Jul 2020 -
Ponsel Pintar Menggerus Penjualan Kamera Digital
06 Jul 2020 -
Sepeda Listrik SLIS Ngebut di New Normal
07 Jul 2020









