;
Tags

Perbankan

( 2293 )

SuperApps Aplikasi Memudahkan nasabah dari BSI Diluncurkan

KT1 30 Oct 2024 Investor Daily (H)

PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) tengah menyiapkan aplikasi super (SuperApps) untuk memenuhi semua kebutuhan nasabah. SuperApps tersebut akan diluncurkan pada awal November 2024 yang diharapkan bisa meningkatkan pendapatan berbasis komisi (fee based income/FBI). "InsyaAllah pada 9 November kami akan melakukan graund launching. Intinya adalah BSI berdiri tiga tahun lalu, 1 Februari 2025 nanti merayakan milad ke-4 artinya kami memaknai perjalanan ini walaupun usia muda tapi tetap transformasi digital, digitalisasi ini keharusan untuk perbankan," ujar Direktur Utama BSI Hery Gunardi. Hery menyampaikan SuperApps merupakan pengembangan BSI mobile yang diharapkan menjadi sahabat finansial, spiritual, sosial, dan lifestyle. 

SuperApps ini akan sangat user frendly, dan memiliki fitur yang jauh lebih menarik yang membuat semua aktivitas keuangan nasabah menjadi lebih mudah. Nantinya, pengajuan pembiayaan yang sifatnya sederhana dapat dengan mudah diakses masyarakat tanpa harus ke cabang. Adapaun, hingga kuartal III-2024, laba bersih BSI mencapai Rp 5.11 triliun meningkat 21,67% dibandingkan posisi periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp4,2 triliun. Pertumbuhan yang sehat berdampak pada profitabilitas, pendapatan argin bagi hasil Rp14,8 triliun tumbuh 11,98% (yoy), fee based income tumbuh tinggi 30,14% (yoy) menjadi Rp3,94 triliun dan menjadikan PPOP Rp 8,52 triliun tumbuh 7,61% (yoy). (Yetede)

Risiko Likuiditas Tinggi di Zona Merah Dana Nasabah

HR1 30 Oct 2024 Bisnis Indonesia (H)

Penurunan dana pihak ketiga (DPK) dari nasabah perorangan menjadi tantangan serius bagi industri perbankan. Data Bank Indonesia mencatat pertumbuhan DPK perorangan melambat secara signifikan, dari 5,4% pada Januari 2024 menjadi hanya 0,6% pada September 2024, yang juga berimplikasi pada penurunan porsi DPK perorangan terhadap total DPK. Sementara itu, DPK dari nasabah korporasi justru meningkat, mencapai 13,5% YoY, yang dapat menambah tekanan biaya bagi bank karena permintaan suku bunga khusus dari nasabah korporasi.

Beberapa pemimpin bank, seperti Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, dan Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja, mencatat adanya penurunan pertumbuhan DPK perorangan dan menjelaskan strategi mereka untuk meningkatkan pengalaman pengguna melalui layanan digital. Bank Negara Indonesia (BNI) juga mengadopsi pendekatan serupa, berfokus pada transformasi digital dan memperbaiki struktur DPK.

Dalam menghadapi tantangan ini, para bank berupaya menarik kembali nasabah perorangan dengan memperkenalkan produk simpanan yang lebih menarik dan memanfaatkan platform digital. Hal ini penting untuk menjaga stabilitas likuiditas dan memitigasi risiko yang muncul dari ketergantungan pada DPK nasabah korporasi. Pengamat perbankan, seperti Trioksa Siahaan, menyoroti bahwa penurunan DPK perorangan mungkin mencerminkan kebutuhan hidup yang mendesak dan pergeseran dana ke instrumen investasi alternatif.

Secara keseluruhan, untuk menjaga kesehatan likuiditas, perbankan perlu berinovasi dalam produk dan layanan yang ditawarkan kepada nasabah individu, serta beradaptasi dengan kondisi ekonomi yang lebih luas.



Rasio Modal Bank Sentral Masih Tertekan di Bawah 10%

HR1 30 Oct 2024 Kontan
Pemerintah mungkin harus menunda harapan untuk memperoleh tambahan pendapatan dari Bank Indonesia (BI) tahun depan, karena rasio modal BI diperkirakan belum akan mencapai ambang batas 10% yang diatur dalam Undang-Undang No. 3 Tahun 2004. Berdasarkan UU tersebut, BI baru wajib menyetorkan sisa surplus anggarannya kepada pemerintah jika rasio modal mencapai 10% dari kewajiban moneter. BI terakhir kali menyetor sisa surplusnya pada 2019, senilai Rp 30,1 triliun. Setelah itu, rasio modal BI menurun karena beban pembiayaan pandemi melalui skema burden sharing.

Ekonom Indef M Rizal Taufikurrahman memproyeksikan rasio modal BI pada 2024 masih belum menyentuh 10%, terutama karena ketidakpastian global yang memaksa BI menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi pasar. Hal ini memengaruhi cadangan devisa dan rasio modal BI.

Sementara itu, Myrdal Gunarto dari Bank Maybank Indonesia optimis BI bisa mencapai rasio modal 10% tahun ini. Menurut Myrdal, BI telah berhasil dalam pendalaman pasar keuangan dan merilis instrumen-instrumen keuangan seperti SRBI dan SUVBI yang membantu meningkatkan cadangan devisa. Ia berharap BI dapat kembali menyetorkan surplus anggarannya kepada pemerintah mulai tahun depan.

Pentingnya Likuiditas Cukup bagi Perbankan

HR1 28 Oct 2024 Bisnis Indonesia

Perbankan Indonesia mulai menghadapi tantangan dalam menghimpun dana masyarakat, meskipun awal tahun 2024 menunjukkan pertumbuhan yang positif. Setelah mencapai pertumbuhan tertinggi DPK pada Mei 2024, laju pengumpulan dana melambat hingga Agustus 2024, dipengaruhi oleh biaya dana yang meningkat. Namun, meskipun ada penurunan dalam pertumbuhan DPK, likuiditas perbankan masih terjaga dengan baik, seperti yang ditunjukkan oleh rasio alat likuid terhadap DPK yang berada di atas ambang batas yang aman.

Wakil Menteri Keuangan, yang tidak disebutkan namanya dalam artikel, mengingatkan bahwa likuiditas tetap cukup longgar, berkat kebijakan Bank Indonesia yang terus mendukung pelonggaran likuiditas dan insentif bagi perbankan untuk menyalurkan kredit. Dengan kebijakan likuiditas makroprudensial dan penurunan suku bunga acuan, diharapkan pertumbuhan DPK dapat kembali meningkat, mendukung penciptaan lapangan kerja, terutama untuk sektor UMKM dan kredit hijau. Di sisi lain, pengawasan terhadap LDR yang meningkat tetap terjaga, menandakan bahwa perbankan masih mampu mengelola dana dengan baik.


LPS Mencatatkan Simpanan Kelas Kakap Mencapai Rp4.699,44 Triliun

KT1 25 Oct 2024 Investor Daily

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatatkan simpanan kelas kakap per September 2024 tumbuh 1,5% secara bulanan (month to month/mtm) mencapai Rp4.699,44 triliun. Angka ini naik dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami kontraksi. Simpanan dengan tiering diatas Rp 5 miliar tersebut secara tahunan (yera on year/yoy) juga tumbuh 8,5%, namun dibandingkan dengan posisi Juni 2024 mengalami kontraksi 0,8%. Untuk tiering Rp2-5 miliar tercatat sebesar Rp 702,05 triliun tumbuh 0,5% (mtm) per September 2024. Berikutnya, simpanan dengan tiering Rp 1-2 miliar mengalami pertumbuhan 4,3% (yoy) atau 0,3% (mtm) menjadi Rp 530,75 triliun hingga kuartal III-2024.

Setelah beberapa bulan sebelumnya simpanan jumbo menurun karena korporasi menarik dananya untuk kebutuhan pemilihan  kepala daerah (pilkada), sekarang dananya sudah kembali ke sistem perbankan. Disamping simpanan jumbo mengalami pertumbuhan, sebaliknya simpanan dengan tiering di bawah Rp 1 miliar mengalami penurunan secara bulanan. Seperti simpanan tiering Rp 500 juta sampai dengan Rp 1miliar terkontraksi 0,1% (mtm) menjadi Rp612,21 triliun, tapi secara tahunan tumbuh 6,4%. Berikutnya simpanan tiering Rp200-500 juta juga terkontraksi 0,1% (mtm) menjadi Rp 720,8 triliun. (Yetede)

Kredit dan Efisiensi Topang Laba Bersih BCA Tumbuh 12,77%

KT1 24 Oct 2024 Investor Daily (H)
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) secara konsolidasi mencatatkan pertumbuhan  total kredit sebesar 14,52% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp877,11 triliun pada kuartal III-2024. Pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dari industri tersebut menjadi penopang pertumbuhan laba bersih yang dapat diatribusikan ke pemiliki sebesar 12,77% (yoy) menjadi Rp41,07 triliun. Bank bersandi saham BBCA ini membukukan pendapatan bunga  bersih (net interest income/NII) sebesar 9,5% (yoy) menjadi Rp 61,08 triliun pada sembilan bulan pertama 2024. Pendapatan selain bunga naik 13,5% (yoy) menjadi Rp 19 triliun, ditopang kenaikan pendapatan fee dan komisi sebesar 7% (yoy). Total pendapatan operasional mencapai Rp80,1 triliunn, naik 10,4% (yoy). Presiden Direktur BCA Jahja Setiaadmadja mengatakan, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan laba bersih dua digit, diantaranya dari sisi kredit, terutama kredit korporasi yang meningkat 15,5% (yoy) mendorong peningkatan NII. (Yetede)

Tahun Depan, Prospek Laba Bank Diperkirakan Lebih Tinggi Dibanding 2024

KT1 23 Oct 2024 Investor Daily (H)

Tahun ini, industri perbankan akan sulit mencetak pertumbuhan laba yang tinggi seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun, pertumbuhan laba 2025 diperkirakan bisa lebih tinggi dibandingkan dengan 2024. Hal ini disebabkan efek suku bunga tinggi yang masih berdampak bagi perbankan, membuat biaya dana (cost of fund) bank juga naik. Namun kenaikannya tidak sejalan dengan peningkatan suku bunga kredit, lantaran bank fokus menjaga kualitas asetnya. Deputi Head of Equity Research PT Mandiri Sekuritas (Mansek) Kresna Hutabarat mengatakan, beberapa bank besar mengalami penurunan tingkat pertumbuhan laba bersih pada semester I-2024.

"Setelah laba kuat di 2022, 2023, tapi di 2024 akibat tekanan beban bunga  sehingga menggerus NIM bank, terutama di bank besar, meskipun BSI masih bisa mempertahankan pertumbuhan 20% laba di semeter I," tutur Kresna. Sementara itu, pertumbuhan kredit perbankan masih kuat dikontribusi dari Himpunan Bank Milik Negara (Himbara)  juga BCA dan BSI yang juga mendukung perekonomian meski tekanan beban bunga meningkat. Sekuritas memperkirakan pada kuartal  IV-2024 BI akan memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) pada November dan juga Desember 25 bps hingga menjadi 5,5% di akhir tahun ini. (Yetede)

Meningkatnya Penyaluran Kredit

KT3 23 Oct 2024 Kompas

Deretan rumah di sebuah Perumahan Tampak di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Selasa (22/10/2024). Bank Indonesia (BI) memproyeksikan penyaluran kredit baru pada triwulan IV-2024 meningkat berdasarkan nilai saldo bersih tertimbang yang telah mencapai 88,3 persen dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 80,6 persen. Semua jenis kredit  diperkirakan tumbuh meliputi kredit modal kerja serta kredit investasi dan kredit konsumsi yang terdiri dari kredit pemilikan rumah (KPR), kredit pemilikan apartemen (KPA), kredit multiguna, dan kredit kendaraan bermotor (KKB). (Yoga)

BRI Komit Mendukung UMKM Go Global

KT1 22 Oct 2024 Investor Daily (H)
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pelaku UMKM untuk ekspansi ke kancah internasional. Perseroan juga membekali  pelaku UMKM agar bisa meningkatkan daya saingnya secara global. Sebagai langkah nyata, BRI melalui Bank Representative Saudi Arabia menampilkan produk dari lima UMKM binaan alumni Brillianpreneur, yaitu Resmu Mande, Arva, Matoh, Havila Tea, Muniru Coffe di Pameran Amazing Indonesia di Hotel Al Mutlaq, AL Madinah Road, Jeddah. Acara tersebut diselenggarakan oleh KJRI Jeddah bekerja sama dengan ITPC Jeddah. Terdapat 26 peserta yang  terdiri dari delapan perusahaan  Arab Saudi sebagai importir produk konsumen goods Indonesa , BPKH Limited, Korporasi Amphura, Dirjen Imigrasi, dua bank dari Indonesia yakni BRI dan BSI, serta peserta UMKM Indonesia lainnya. Selama penyelenggaraan kegiatan terdapat beberapa potensial buyer mengunjungi booth BRI mulai dari artisan coffe house di Saudi Arabia, asosiasi hotel dan lainnya. (Yetede)

Presiden Baru, Harapan Segar bagi Industri Perbankan

HR1 21 Oct 2024 Kontan
Dengan dilantiknya Prabowo Subianto sebagai Presiden Indonesia ke-8, harapan baru muncul dalam industri perbankan, terutama setelah pertumbuhan kredit yang minim dalam lima tahun terakhir. Direktur Eksekutif Segara Research Institute, Piter Abdullah, mengungkapkan bahwa Prabowo membawa semangat untuk melanjutkan program pembangunan sebelumnya, khususnya dalam sektor infrastruktur dan properti. Namun, pertumbuhan kredit sangat tergantung pada kebijakan moneter Bank Indonesia.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, optimis bahwa masih ada ruang untuk pertumbuhan kredit perbankan yang saat ini tercatat naik 11,04% hingga Agustus 2024. Ia meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan berdampak positif bagi kredit bank. 

Beberapa pemimpin perbankan, seperti Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, memilih untuk bersikap wait and see, menunggu realisasi program dan susunan kabinet baru. Sementara itu, Direktur Keuangan Bank Mandiri, Sigit Prastowo, optimis bahwa kredit korporasi dan komersial akan menjadi pendorong utama pertumbuhan kredit hingga akhir tahun.