;
Tags

Perbankan

( 2293 )

Himbara Kejar Penyaluran KUR Tahun Ini Bisa Tercapai

KT1 14 Nov 2024 Investor Daily (H)

Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) meyakini target penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) tahun ini bisa tercapai. Selain mengejar target yang di tetapkan pemerintah, bank pelat merah ini juga mendorong adanya debitur UMKM yang naik kelas. Adapun, PT Bank Rakyat Indoensia (Persero) Tbk (BRI) sebagai bank penyalur KUR terbesar mendapatkan alokasi dari pemerintah senilai Rp 165 triliun, dengan rincian KUR mikro Rp 148 triliun, dan KUR kecil Rp 15 triliun. Sampai dengan September 2024, BRI telah menyalurkan KUR dengan total disbursment sebesar Rp141,9 triliun, setara 86,05% dari total alokasi 2024. Penyaluran KUR tersebut diberikan kepada lebih dari 3,02 juta debitur dengan kualitas relatif terjaga (non performing loan/NPL) di level 2,27%.

Direktur BRI Sunarso mengatakan, tren penyaluran KUR terus mengalami peningkatan, di mana pada 2019 KUR yang disalurkan BRI sebesar Rp87,9 triliun kepada 4,1 juta debitur. Berikutnya, penyaluran KUR naik menjadi Rp138,5 triliun kepada 5,4 juta debitur 2020, lalu di 2021 yang disalurkan senilai Rp149,9 triliun kepada 6,5 juta debitur. "Karena sekitar 70% dari total KUR nasional itu yang menyalurkan adalah BRI. Maka tertinggi di 2022 kepada 6,6 juta nasabah yang menerima KUR sebesar Rp 257,4 triliun. Sampai tahun ini target BRI Rp 165 triliun, dan sudah tersalur Rp141,9 triliun, sehingga sisa waktu tiga bulan ini kami kejar kekurangan Rp 23,1 triliun," ucap Sunarso. (Yetede)

Ledakan NPL di Perbankan Milik Konglomerat

HR1 13 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Bank Besar di Indonesia, seperti PT Bank MNC Internasional Tbk. (MNC Bank), PT Bank Ina Perdana Tbk. (Bank INA), dan PT Bank Mayapada Internasional Tbk. (Bank MAYA), mengalami peningkatan rasio Non-Performing Loan (NPL) pada kuartal III/2024. MNC Bank, yang dimiliki oleh konglomerat Hary Tanoesoedibjo, mencatatkan peningkatan NPL gross menjadi 4,69%, sedangkan NPL net meningkat menjadi 3,32%. Meskipun demikian, MNC Bank tetap optimis bisa mencapai target aset Rp30 triliun pada 2025 dengan fokus pada segmen kredit wholesale dan konsumer.

Sementara itu, Bank INA, yang dimiliki oleh taipan Anthoni Salim, juga mencatatkan lonjakan signifikan pada rasio NPL gross yang mencapai 4,46%, meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Di sisi lain, meskipun terjadi peningkatan NPL, kedua bank ini berhasil menurunkan kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment), yang mendukung pencapaian laba perseroan.

Bank MAYA milik Dato’ Sri Tahir mencatatkan sedikit perbaikan pada rasio kredit bermasalah, namun tetap mengalami pembengkakan kerugian penurunan nilai aset yang berimbas pada penurunan laba bersih.

Meski mengalami peningkatan NPL, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Dian Ediana Rae menegaskan bahwa hal ini bersifat siklikal dan tidak menjadi masalah serius, asalkan NPL bank-bank tersebut tetap di bawah ambang batas 5%. Dian menekankan bahwa fluktuasi laba dan kerugian dalam bisnis perbankan adalah hal yang normal, selama bank menjaga rasio keuangan yang sehat, seperti permodalan, likuiditas, dan rasio kredit bermasalah yang terkendali.

Sementara itu, dalam sektor investasi, Pemerintah Indonesia, melalui Menteri Investasi Rosan Roeslani, berfokus pada menarik minat investor asing, khususnya dari sektor energi, seperti energi terbarukan dan teknologi penangkapan karbon. Pemerintah juga mendorong sektor panas bumi (geothermal) untuk menjadi fokus investasi, dan perusahaan-perusahaan besar seperti ExxonMobil, Chevron, dan BP menunjukkan ketertarikan untuk berinvestasi di Indonesia, sejalan dengan target net zero emission (NZE) yang telah dicanangkan.


PT Bank Central Asia Tbk Memutuskan Pembagian Dividen Interim Tunai

KT1 13 Nov 2024 Investor Daily (H)
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memutuskan pembagian dividen interim tunai yang lebih tinggi seiring dengan komitmen perseroan untuk senantiasa memberikan nilai tambah kepada segenap pemegang saham. Keputusan tersebut ditopang oleh tren pertumbuhan kinerja yang  berkelanjutan hingga triwulan III-2024. Perseroan akan melaksanakan pembagian dividen interim tunai sebesar Rp 50 per saham untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2024, sehingga total dividen interim tunai yang akan dibayarkan sebesar Rp6.163.752.500.000 atau Rp 6,16 triliun.

Nilai total dividen interim tunai tersebut meningkat 17,78% dibandingkan dividen interin yang dibayarkan untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2023 senilai Rp5,23 triliun. Selain itu, pembagian dividen interim tunai juga telah mempertimbangkan posisi  permodalan yang kokoh, likuiditas yng memadai, pengembangan bisnis perseroan maupun entitas anak, serta investasi pada teknologi agar mampu bersaing pada era digital saat ini. Adapun rasio kecukupan modal (CAR) BCA per September 2024 di level 29,3%, dengan loan deposit ratio (LDR) masih sangat memadai 75,1%. Di sisi return on equity (ROE) juga tinggi 24,7% meningkat dari posisi tahun sebelumnya 23,5%. Kinerja yang positif ini yang akan membuat perseroan memberikan dividen interim yang lebih tinggi. (Yetede)

Instrumen Bank Sentral Tekan Daya Tarik Aset Lain

HR1 12 Nov 2024 Kontan (H)
Bank Indonesia (BI) terus mengandalkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik likuiditas dari pasar uang. Per Oktober 2024, total nilai operasi moneter BI melonjak menjadi Rp 1,08 kuadriliun, naik signifikan dari Rp 763,48 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini terutama didorong oleh outstanding SRBI yang mencapai Rp 960,66 triliun, meningkat 638% dibandingkan Oktober 2023.

SRBI menarik perhatian berbagai institusi, termasuk bank, dana pensiun, dan asuransi. Direktur SME & Retail Funding BTN, Muhammad Iqbal, menyebut imbal hasil SRBI lebih menarik dibandingkan instrumen BI lainnya. BTN sendiri meningkatkan penempatan di SRBI menjadi Rp 57,56 triliun per Agustus 2024, naik dari Rp 43,32 triliun tahun lalu. Budi Sutrisno, Direktur Utama Dana Pensiun BCA, menilai SRBI sebagai alternatif yang kompetitif dibanding deposito, terutama dalam kondisi suku bunga tinggi.

Namun, ada dampak negatif dari penerbitan SRBI yang jumbo. Ekonom Indo Premier Sekuritas, Luthfi Ridho, mengkritik bahwa penyerapan likuiditas yang besar oleh SRBI berisiko memperketat likuiditas bank, tercermin dari loan to deposit ratio (LDR) yang naik menjadi 86,91% per September 2024. Perbankan lebih memilih memarkir dana di SRBI yang aman ketimbang menyalurkan kredit, sehingga mengurangi multiplier effect ekonomi. Danan Dito, analis Pefindo, menambahkan bahwa SRBI juga mengurangi minat bank terhadap obligasi korporasi, dengan penyerapan turun menjadi Rp 107,04 triliun pada Oktober 2024.

Meskipun demikian, dengan imbal hasil yang mencapai 7,04% untuk tenor 12 bulan, SRBI tetap menjadi pilihan utama bagi investor. Namun, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, perlu kebijakan yang mendorong perbankan agar lebih aktif menyalurkan kredit, bukan sekadar memanfaatkan instrumen moneter seperti SRBI.

Kapasitas industri perbankan mendukung program 3 juta rumah terbatas

KT3 12 Nov 2024 Kompas

Meski likuiditas memadai, kapasitas industri perbankan untuk mendukung program 3 juta rumah masih terbatas dan memiliki pertimbangan manajemen risiko tersendiri. Maka, dibutuhkan alternatif pembiayaan lain, baik dengan skema efek aset beragun maupun kerja sama pemerintah dan pihak swasta. Salah satu janji kampanye Presiden Prabowo dan Wapres Gibran adalah membangun 3 juta rumah setiap tahun, dengan rincian 2 juta rumah di perdesaan dan 1 juta rumah di perkotaan, dilatarbelakangi oleh kekurangan kepemilikan rumah (backlog) yang tahun 2023 tercatat 9,9 juta rumah. Dalam mewujudkan ambisi tersebut, dibutuhkan anggaran tak sedikit. Realisasi program fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) selama 2019-2023 mencapai Rp 89,8 triliun dengan jumlah rumah 820.816 unit.

Pengamat perbankan dan Assistant Vice President BNI (2005-2009) Paul Sutaryono, Senin (11/11) mengatakan, program pemerintah terkait 3 juta rumah per tahun atau 8.333 rumah sehari patut diapresiasi. Namun, langkah untuk merealisasikan program tersebut perlu memperhatikan likuiditas perbankan sebagai sumber pendanaan sektor perumahan. Menurut Paul, likuiditas perbankan tergolong masih memadai. Hal tersebut tampak dari rasio alat likuid/non-core deposit yang mencapai 112,66 % per September 2024 atau jauh di atas ambang batas 50 %. Selain itu, rasio alat likuid/dana pihak ketiga (DPK) tercatat 25,4 %, yang juga jauh di atas ambang batas 10 %. ”Namun, bank dibatasi untuk tidak terlalu banyak membiayai satu sektor tertentu, misalnya perumahan. Lantaran, dapat memicu potensi risiko konsentrasi bank,” katanya.

Dengan demikian, pembiayaan oleh industri perbankan akan terbatas untuk membiayai satu sektor tertentu, seperti sektor perumahan. Sebab, bank harus tetap memegang prinsip prudential banking meski likuiditasnya sampai saat ini masih memadai. Hal senada disampaikan Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual. Ia berpendapat, likuiditas perbankan saat ini masih memadai meskipun cenderung mengetat. Di sisi lain, bank juga akan mempertimbangkan aspek risiko sehingga tidak serta-merta menyalurkan kredit hanya ke sektor properti. ”Perlu ada terobosan, mungkin bisa lewat asset-backed securities (efek beragun aset), misalnya. Bank-bank menjual kredit yang sudah ada untuk mendapatkan dana baru, untuk pembiayaan. Tetapi, itu, kan, setiap bank beda aturan manajemen risikonya,” ujarnya. (Yoga)


BSI Hadirkan SuperApp BYOND: Layanan Terintegrasi Aman dan Nyaman

HR1 11 Nov 2024 Bisnis Indonesia (H)

PT Bank Syariah Indonesia (BSI) telah resmi meluncurkan aplikasi Super App BYOND by BSI pada 9 November 2024 di Jakarta. Aplikasi ini hadir untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan layanan perbankan yang semakin kompleks di era digital, dengan mengusung tiga aspek utama: finansial, sosial, dan spiritual. Peluncuran BYOND ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting, antara lain Menteri BUMN Erick Thohir, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae, dan Komisaris Utama BSI Muliaman D. Hadad.

Erick Thohir mengapresiasi inovasi yang dilakukan oleh BSI melalui aplikasi ini, yang diharapkan dapat memberikan solusi komprehensif dalam memenuhi kebutuhan perbankan syariah dan mendukung ekosistem ekonomi Islam, termasuk layanan terkait umrah dan haji. Menurutnya, BSI juga tengah menjajaki peluang untuk membuka cabang di Arab Saudi, setelah sebelumnya sukses di Dubai.

Direktur Utama BSI Hery Gunardi menjelaskan bahwa BYOND by BSI merupakan hasil transformasi digital yang terus berlanjut, dibangun dengan fokus pada kemudahan, kecepatan, kenyamanan, dan keamanan transaksi. Sejak diluncurkan pada 26 Oktober 2024, aplikasi ini telah mencatatkan 1 juta transaksi dengan total nilai mencapai Rp 1 triliun, serta memiliki lebih dari 100 ribu pengguna dengan pertumbuhan sekitar 10 ribu pengguna baru setiap harinya. BYOND juga dilengkapi dengan sistem proteksi berlapis yang memastikan keamanan nasabah.

Aplikasi ini menawarkan sekitar 130 fitur yang sudah siap digunakan oleh nasabah, dan BSI berkomitmen untuk terus mengembangkan fitur-fitur baru, dengan fokus utama pada investasi dan lifestyle. Selain itu, peluncuran BYOND juga disertai dengan kegiatan sosial, yakni program donasi ‘Peduli Pendidikan Dhuafa’ yang bertemakan ‘Pendidikan untuk Semua’, menunjukkan komitmen BSI dalam mengintegrasikan aspek sosial dalam layanan digitalnya.


SuperApp BYOND by BSI Resmi Diluncurkan

KT1 11 Nov 2024 Investor Daily (H)
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) resmi meluncurkan SuperApp BYOND by BSI sebagai jawaban atas kebutuhan masyarakat akan layanan jasa perbankan dan keuangan yang semakin kompleks di era digital. BYOND by BSI merupakan SuperApp layanan finansial, sosil, dan spiritual komprehensif yang lebih mudah dan nyaman di akses, dengan keamanan yang semakin maksimal. Menteri BUMN Erick Thohir menyampaikan antusiasme atas peluncuran aplikasi BYOND. Erick juga mengapresiasi langkah  BSI yang terus  melakukan inovasi dan transformasi tanpa henti, sehingga mampu terus bertumbuh dan berkembang serta membalikkan stigma yang selama ini banyak melekat pada industri perbankan syariah. Dia menegas bahwa pemerintah akan terus mendukung BSI dalam upaya membangun ekosistem Islam yang terintegrasi dan inklusi. "InsyaAllah, BYOND by BSI dapat memenuhi harapan kita semua, memberikan solusi komprehensif terhadap berbagai kebutuhan masyarakat terkait layanan perbankan syariah dan eksosistem ekonomi Islam. Kemudian hal-hal terkait layanan umroh dan haji juga bisa disinergikan dengan accesbility BSI ke depan. Apalagi saat ini BSI sedang menjajaki peluang untuk, membuka cabang di Arab Saudi, setelah sebelumnya berhasil di Dubai," ungkap Erick. (Yetede)

Laba Anak Usaha Menopang Kinerja Perusahaan

HR1 09 Nov 2024 Kontan
Pertumbuhan kinerja bank besar tak lepas dari kontribusi anak-anak usaha. Maklum, bank besar memiliki anak usaha di berbagai sektor jasa keuangan. Salah satu bank dengan kinerja anak usaha yang cukup impresif adalah Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI). Hingga September 2024, kinerja anak usaha BRI tumbuh 23% secara tahunan menjadi Rp 6,4 triliun per September.

Kontribusi anak usaha BRI mencapai 14,2% dari total laba bersih yang dicatatkan BRI dalam sembilan bulan di 2024 senilai Rp 45,06 triliun. Anak usaha yang menjadi kontributor terbesar pendapatan bagi BRI adalah PT Pegadaian, yakni sebesar 69,2%. Selanjutnya ada Perusahaan Nasional Madani (PNM) sebesar 15,3%. Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mendapat kontribusi dari anak usaha sebesar Rp 339,2 miliar per September 2024, naik 7% dari tahun sebelumnya. Direktur Keuangan BNI Novita W. Anggraini menyebutkan, BNI Finance menjadi mesin pertumbuhan baru bagi grup, terutama di segmen kredit konsumer di kredit kendaraan bermotor (KKB). 

Per September 2024, Bank Mandiri Tbk mendapat laba dari anak usahanya Rp 4,5 triliun, naik 6,93% secara tahunan. Kinerja anak usaha tersebut berkontribusi 10,71% dari laba bersih Bank Mandiri, yakni Rp 42 triliun per September 2024. Anak usaha Bank Mandiri yang jadi penopang utama masih PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI). Bank Mandiri mendapat laba senilai Rp 2,63 triliun dari BSI, naik 21,76% secara tahunan. "Kinerja Bank Mandiri yang baik tidak lepas dari kontribusi kinerja anak perusahaan," ujar Sigit Prastowo, Direktur Keuangan Bank Mandiri.

Bank Central Asia Tbk tak merinci kontribusi anak usaha yang mereka miliki. EVP Corporate and Social Responsibility BCA Hera F. Haryn hanya bilang, entitas anak yang menjadi kontributor besar adalah BCA Finance.

Lima Bank Besar Memelihara Profitabilitasnya

KT1 08 Nov 2024 Investor Daily (H)
Lima bank besar di Indonesia hingga kuartal III-2024 masih menjaga kinerjanya sesuai dengan target tahun ini. Meskipun pertumbuhan dari laba bersih tidak bisa lebih  tinggi dibandingkan dengan tahun lalu, namun beban bunga  ditekan perbankan untuk menjaga profitabilitas. Kepala Ekskutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, laba perbankan 2024 diperkirakan masih tumbuh. "Perubahan kebijakan moneter global yang lebih dovish bisa memberikan dampak positif ke profit dengan penurunan cost of fund. Sehingga, kebijakan moneter bisa menurunkan beban bunga dan pada akhirnya bank mempertahankan NIM sesuai target yang ditetapkan," tutur Dian. Dari sisi laba bersih, secara bank only yang terbesar adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) yang meraup RP41,67 triliun tumbuh 6,85% secara year on year (yoy) pada September 2024. Sedangkan, secara konsolidasi laba bersih yang dapat diartibusikan kepada pemilik (PATMI) mencapai Ro 45,06 triliun, naik 2,43% (yoy), ini juga masih menjadi yang terbesar. (Yetede)

BBCA Pacu Kredit di Penghujung Tahun

HR1 05 Nov 2024 Kontan
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan kinerja yang positif hingga kuartal ketiga 2024 dengan pertumbuhan laba bersih dua digit, didukung penyaluran kredit yang solid di semua segmen. Menurut Andrey Wijaya, Kepala Riset RHB Sekuritas Indonesia, laba bersih BBCA mencapai Rp 41 triliun selama Januari-September 2024, tumbuh 13% year-on-year (yoy). Penyaluran kredit BBCA juga meningkat 14,5% yoy menjadi Rp 877 triliun, dengan kontribusi signifikan dari segmen korporasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM), terutama di luar Pulau Jawa.

Analis Binaartha Sekuritas, Achmadi Hangradhika, menyoroti pendapatan bunga bersih BBCA yang naik 9,62% yoy menjadi Rp 60,93 triliun, didukung pertumbuhan kredit yang selaras dengan prinsip keberlanjutan (environmental, social, governance). Pembiayaan hijau BBCA tumbuh 40,65%, sementara pembiayaan sosial melonjak 59,35%. Achmadi memproyeksikan kredit konsolidasi BBCA akan mencapai Rp 899,99 triliun pada akhir 2024 dengan laba bersih diperkirakan mencapai Rp 55,66 triliun.

Analis NH Korindo Sekuritas, Leonardo Lijuwardi, menilai BBCA berhasil menjaga kualitas kredit dan mencatat margin bunga bersih (NIM) yang lebih ekspansif, naik 30 basis poin menjadi 5,8% per kuartal III-2024. BBCA juga memperbarui panduan NIM menjadi 5,7%-5,8%, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya.

Dengan proyeksi pertumbuhan yang kuat, para analis menyarankan pembelian saham BBCA. Achmadi menetapkan target harga Rp 11.975, Andrey di Rp 12.060, dan Leonardo memberikan rating overweight dengan target Rp 11.750. Strategi BBCA, termasuk penggelaran Expoversary untuk mendorong kredit konsumen, diprediksi akan menopang pertumbuhan lebih lanjut di kuartal IV-2024.