Perbankan
( 2293 )Menekan Kredit Bermasalah di Akhir Tahun Ini Bisa Tumbuh Berkelanjutan
Perbankan nasional cukup percaya diri (pede) kinerja di akhir tahun ini bisa tumbuh berkelanjutan. Salah satu yang difokuskan adalah menjaga kualitas kredit terus membaik dari tahun ke tahun. Seiring dengan penyaluran kredit yang diperkirakan meningkat, bank berusaha untuk melakukan monitoring dan penagihan nasabah kredit bermasalah, Selain itu, bank juga melakukan hapus buku untuk menekan peningkatan rasio kredit bermasakah (non performing loan/NPL). Seperti yang tercermin dari survei Orientasi Bisnis Perbankan OJK (SBPO) triwulan IV-2024. NPL, gross perbankan berada di levek 2,43%, kemudian membaik pada Desember 2023 ke 2,19%.
Diharapkan, pada Desember 2024 NPL juga terus ditekankan perbankan. Namun demikian, masih terdapat potensi peningktaan NPL yang berasal dari pemburukan kredit restrukturisasi kolektibilitas 1 dan kredit kolektibilitas 2, seiring dengan menurunnya kondisi debitur dikarenakan perekonomian yang belum stabil. Seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) yang pede NPL di akhir September 2024, tercatat NPL gros BRI di level 2,9%, angka ini membaik dibandingkan dengan September 2023 di level 3,07%. BRI juga tetap menjaga NPL coverage di level 215,4% pada kuartal III-2024. (Yetede)
Maruarar Kembali Minta BTN jadi Bank Perumahan
Bangkok Bank Memperluas Pelayanan di RI
Potensi pertumbuhan ekonomi negara-negara di kawasan Asia sangat signifikan dan diprediksi semakin kuat dalam 10-20 tahun mendatang. Karena itu, Bangkok Bank terus mendorong perluasan layanan nasabah secara regional seusai langkah mengakuisisi Bank Permata pada pertengahan 2020. Presiden Bangkok Bank dan Presiden Komisaris Bank Permata Chartsiri Sophonpanich menyampaikan, Indonesia merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar di Asia dengan jumlah penduduk 270 juta orang yang memiliki pola geografis yang muda serta sistem perbankan dan regulator yang baik. Pertumbuhan ekonomi 5 % per tahun merupakan daya tarik.
Banyak nasabah dalam jaringan Bangkok Bank, baik dari Thailand, China, Jepang, Hong Kong, Singapura, maupun Malaysia, berinvestasi di Indonesia. Pihaknya akan menyediakan layanan yang mendukung investasi yang masuk di Indonesia, dan sebaliknya layanan bagi masyarakat Indonesia yang ingin keluar negeri dan menggunakan jaringan Bank Permata untuk kebutuhan bisnis. ”Saya pikir 10-20 tahun ke depan adalah era Asia, dan potensi pertumbuhan di kawasan Asia sangat signifikan. Di dalamnya, negara-negara ASEAN memiliki potensi (pertumbuhan) yang sangat kuat,” ujar Chartsiri dalam konferensi pers dengan wartawan Indonesia di Bangkok, Thailand, Kamis (21/11).
Ia menambahkan, aliran modal dan investasi baru terus mengalir ke Indonesia, begitu pula dengan negara-negara ASEAN lainnya, seperti Vietnam, Filipina, dan Thailand. Hal itu menjadi pertimbangan kuat bagi Bangkok Bank untuk memperluas jangkauan nasabah, bekerja sama dengan nasabah perusahaan, nasabah besar hingga kecil, individual, serta tumbuh bersama pasar. Langkah Bangkok Bank untuk mengakuisisi Bank Permata dari PT Astra International Tbk dan Standard Chartered Bank pada pertengahan 2020 diyakini menghadirkan peluang untuk bekerja sama erat dengan nasabah. (Yoga)
SBDK Perbankan Mengalami Peningkatan Dibandingkan Bulan Sebelumnya
Industri Perbankan pada Oktober 2024 Berhasil Mencatatkan Pertumbuhan Kredit yang Menguat
Industri perbankan pada Oktober 2024 berhasil mencatatkan pertumbuhan kredit yang menguat dibandingkan posisi September 2024 yang sempat menyusut. Pertumbuhan yang meningkat tersebut masih dimotori oleh kredit investasi. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan pertumbuhan kredit pada Oktober 2023 tetap kuat, mencapai 10,92% secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut lebih tinggi dibandignkan posisi September 2024 yang naik 10,85% (yoy), setelah sebulan sebelumnya mencatat meningkat 11,4% (yoy). hal ini menunjukkan intermediasi perbankan yang mulai menggeliat memasuki kuartal IV tahun ini.
Secara sektoral, pertumbuhan kredit pada mayoritas sektor ekonomi terjaga kuat, terutama pada sektor jasa dunia usaha, perdagangan, dan industri. "Berdasarkan kelompok penggunaan, pertumbuhan kredit modal kerja, kredit investasi, dan kredit konsumsi, masing-masing sebesar 9,25% (yoy), 13,63% (yoy) dan 11,1% (yoy) pada Oktober 2024," ucap Perry. Dari data tersebut, artinya kredit investasi dan kredit konsumsi mengalami peningkatan, untuk kredit investasi tumbuh dari 12,26% (yoy) per September menjadi 13,63% (yoy) per Oktober. Kemudian, kredit konsumsi juga meningkat dari 10,88% per September menjadi tumbuh 11,1% (yoy) per Oktober. Sedangkan, kredit kerja mengalami menyusutan dari tumbuh 10,01% per September menjadi naik 9,25% (yoy) di akhir Oktober 224. (Yetede)
BTN, Akusisi Bank Syariah
Sejumlah bank Menilai Bisnis Wealth Management Masih Prospektif
Bisnis Syariah Tunjukkan Tren Positif
Bank Kesulitan Menurunkan Suku Bunga KPR
Perbankan Was-was, Likuiditas Domestik dan Global Kemungkinan Akan Menghadapi Tekanan
Ekspektasi pemangkasan suku bunga moneter tahun depan dinilai tidak akan signifikan seperti proyeksi sebelumnya. Hal ini akan mempengaruhi biaya dana (cost of fund) perbankan yang masih mahal dan berimplikasikan pada likuiditas. Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Royke Tumilaar mengatakan, likuiditas domestik dan global kemungkinan akan menghadapi tekanan. Dia menegaskan bahwa didepan tidak akan mudah bagi industri perbankan, terlebih dengan kemenangan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) tentu kebijakannya akan mendorong inflasi AS naik seperti kebijakan tarif impor dan penurunan pajak. Hal tersebut dinilai akan sulit bagi The Fed untuk memangkas suku bunga Fed Fund Rate secara agresif kedepannya. "Sehingga tekanan likuiditas ini akan menjadi beban signifikan bagi perbankan kedepan untuk ekspansi di 2025," ucap Royke. Selain itu, kebijakan Bank Indonesia (BI) yang menahan yield Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tetap tinggi, juga memengaruhi himpunan dana pihak ketiga (DPK) perbankan. Lantaran yield SRBI lebih menarik dibandingkan bunga deposito perbankan, sehingga pemilik dana akan menempatkan dana di SRBI. "Ini memengaruhi DPK kita keluar dari sistem dan masuk ke pemerintah, tekanan likuiditas tinggi di rupiah. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Transaksi BUMN via PaDi Capai Rp 11,4 Triliun
16 Feb 2021 -
Rasio Utang Luar Negeri RI Nyaris 40% dari PDB
16 Feb 2021 -
Tersangka Baru Kasus Asabri Bertambah Lagi
17 Feb 2021 -
UMKM di Pare-Pare Dapat Bantuan Rp 4 Miliar
15 Feb 2021 -
Sejak Pandemi Fokus Pasar Lokal
15 Feb 2021









