;
Tags

Perbankan

( 2293 )

Menekan Kredit Bermasalah di Akhir Tahun Ini Bisa Tumbuh Berkelanjutan

KT1 26 Nov 2024 Investor Daily

Perbankan nasional cukup percaya diri (pede) kinerja di akhir tahun  ini bisa tumbuh berkelanjutan. Salah satu yang difokuskan adalah menjaga kualitas kredit terus membaik dari tahun ke tahun. Seiring dengan penyaluran kredit  yang diperkirakan meningkat, bank berusaha untuk melakukan monitoring dan penagihan nasabah kredit bermasalah, Selain itu, bank juga melakukan hapus buku untuk menekan peningkatan rasio kredit bermasakah (non performing loan/NPL). Seperti yang tercermin dari survei Orientasi Bisnis Perbankan OJK (SBPO) triwulan IV-2024. NPL, gross perbankan berada di levek 2,43%, kemudian membaik pada Desember 2023 ke 2,19%.

Diharapkan, pada Desember 2024 NPL juga terus ditekankan perbankan. Namun demikian, masih terdapat potensi peningktaan NPL yang berasal dari pemburukan kredit restrukturisasi kolektibilitas 1 dan kredit kolektibilitas 2, seiring dengan menurunnya kondisi debitur dikarenakan perekonomian yang belum stabil. Seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) yang pede NPL di akhir September 2024, tercatat NPL gros BRI di level 2,9%, angka ini membaik dibandingkan dengan September 2023 di level 3,07%. BRI juga tetap menjaga NPL coverage di level 215,4% pada kuartal III-2024. (Yetede)

Maruarar Kembali Minta BTN jadi Bank Perumahan

KT1 26 Nov 2024 Tempo
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait alias Ara kembali meminta PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. atau BTN bertransformasi menjadi bank perumahan. Pasalnya, menurut Ara, BTN memegang peran penting dan strategis di bidang perumahan. “Saya minta ke depan BTN bisa lebih fokus untuk sektor perumahan,” kata Ara, Selasa, 26 November 2024, dikutip dari keterangan resmi. Ia berujar, BTN bisa membangun kerja sama dengan pengembang hingga pengusaha material. Ara juga mengatakan transformasi BTN menjadi Bank Perumahan akan membangun kepercayaan publik sekaligus meningkatkan pembangunan rumah di Indonesia. Terlebih, BTN memiliki berbagai pengalaman dan jaringan mitra kerja.

“Tentunya, transformasi tersebut sangat penting dan menjadi peluang besar BTN untuk dapat bersaing dengan bank-bank besar lain di Indonesia,” ujar Ara. Lebih lanjut, Ara berharap transformasi BTN menjadi Bank Perumahan bakal membuat cost of fund BTN bisa lebih efisien. Namun, perubahan ini juga mesti diiringi target besar penyaluran kredit perumahan rakyat (KPR) komersial maupun subsidi. Sebelumnya, Ara memang pernah menyarankan agar BTN untuk berganti nama menjadi Bank Perumahan Rakyat (BPR). Ia mengatakan pergantian nama ini untuk bisa menunjukkan jati diri yang sesungguhnya dari Bank BTN

“Saya minta pikirkan (namanya) menjadi Bank Perumahan Rakyat,” kata Ara, Jumat, 9 November 2024 di Jakarta Pusat. Sementara itu, Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, mengatakan, sudah sejak lama fokus bank yang dipimpinnya itu berfokus pada pembiayaan perumahan dan properti. BTN sudah melayani KPR sejak 1976. “KPR pertamanya adalah di Kota Semarang, dan sejak itulah BTN fokus di perumahan,” ucap Nixon. Nixon berujar, hingga kini BTN sudah melakukan akad untuk sekitar 5,5 juta KPR. Mulai dari pembiayaan rumah subsidi, non-subsidi, pembiayaan KPR konvensional, maupun pembiayaan KPR syariah. Nixon pun menyatakan siap mendukung program 3 juta rumah yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, hal itu penting karena masih ada backlog atau kekurangan rumah sebanyak 9,9 juta. Selain itu, masih ada lebih dari 50 persen masyarakat miskin yang tinggal di rumah tidak layak huni. (Yetede)

Bangkok Bank Memperluas Pelayanan di RI

KT3 23 Nov 2024 Kompas

Potensi pertumbuhan ekonomi negara-negara di kawasan Asia sangat signifikan dan diprediksi semakin kuat dalam 10-20 tahun mendatang. Karena itu, Bangkok Bank terus mendorong perluasan layanan nasabah secara regional seusai langkah mengakuisisi Bank Permata pada pertengahan 2020. Presiden Bangkok Bank dan Presiden Komisaris Bank Permata Chartsiri Sophonpanich menyampaikan, Indonesia merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar di Asia dengan jumlah penduduk 270 juta orang yang memiliki pola geografis yang muda serta sistem perbankan dan regulator yang baik.  Pertumbuhan ekonomi 5 % per tahun merupakan daya tarik.

Banyak nasabah dalam jaringan Bangkok Bank, baik dari Thailand, China, Jepang, Hong Kong, Singapura, maupun Malaysia, berinvestasi di Indonesia. Pihaknya akan menyediakan layanan yang mendukung investasi yang masuk di Indonesia, dan sebaliknya layanan bagi masyarakat Indonesia yang ingin keluar negeri dan menggunakan jaringan Bank Permata untuk kebutuhan bisnis. ”Saya pikir 10-20 tahun ke depan adalah era Asia, dan potensi pertumbuhan di kawasan Asia sangat signifikan. Di dalamnya, negara-negara ASEAN memiliki potensi (pertumbuhan) yang sangat kuat,” ujar Chartsiri dalam konferensi pers dengan wartawan Indonesia di Bangkok, Thailand, Kamis (21/11).

Ia menambahkan, aliran modal dan investasi baru terus mengalir ke Indonesia, begitu pula dengan negara-negara ASEAN lainnya, seperti Vietnam, Filipina, dan Thailand. Hal itu menjadi pertimbangan kuat bagi Bangkok Bank untuk memperluas jangkauan nasabah, bekerja sama dengan nasabah perusahaan, nasabah besar hingga kecil, individual, serta tumbuh bersama pasar. Langkah Bangkok Bank untuk mengakuisisi Bank Permata dari PT Astra International Tbk dan Standard Chartered Bank pada pertengahan 2020 diyakini menghadirkan peluang untuk bekerja sama erat dengan nasabah. (Yoga)


SBDK Perbankan Mengalami Peningkatan Dibandingkan Bulan Sebelumnya

KT1 22 Nov 2024 Investor Daily (H)
Pada posisi September 2024, suku bunga dasar kredit (SBDK) perbankan mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya. Meningkatkan SBDK disebabkan bank mempertahankan kinerja profitabilitasnya. Bank Indonesia (BI) mencatat, SBDK September 2024 mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumya dan dikontribusikan kelompok bank BUMN. SBDK September 2024 di level 9,13%, atau naik 34 basis point (bps) dibandingkan bulan sebelumnya 8,79%. peningkatan SBDK didorong oleh kelompok bank BUMN, sebagaimana tercermin dari kenaikan SBDK sebesar 77 bps sejak Agustus 2023, setelah relatif stabil di level 8,75% selama dua bulan sebslumnya. Adapun SBDK pada kelompok bank lainnya bergerak lebih beragam, dimana kelompok Bank Pembangunan daerah (BPD) dan bank umum swasta nasional (BUSN) masih melanjutkan tren penurunan SBDK dalam tiga bulan terakhir, sementara kelompok kantor cabang bank asing  relatif mempertahankan SBDK-nya. (Yetede)

Industri Perbankan pada Oktober 2024 Berhasil Mencatatkan Pertumbuhan Kredit yang Menguat

KT1 21 Nov 2024 Investor Daily

Industri perbankan pada Oktober 2024 berhasil mencatatkan pertumbuhan kredit yang menguat dibandingkan posisi September 2024 yang sempat menyusut. Pertumbuhan yang meningkat tersebut masih dimotori oleh kredit investasi. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan pertumbuhan kredit pada Oktober 2023 tetap kuat, mencapai 10,92% secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut lebih tinggi dibandignkan posisi September 2024 yang naik 10,85% (yoy), setelah sebulan sebelumnya mencatat meningkat 11,4% (yoy). hal ini menunjukkan intermediasi perbankan yang mulai menggeliat memasuki kuartal IV tahun ini.

Secara sektoral, pertumbuhan kredit pada mayoritas sektor ekonomi terjaga kuat,  terutama pada sektor jasa dunia usaha, perdagangan, dan industri. "Berdasarkan kelompok penggunaan, pertumbuhan kredit modal kerja, kredit investasi, dan kredit konsumsi, masing-masing sebesar 9,25% (yoy), 13,63% (yoy) dan 11,1% (yoy)  pada Oktober 2024," ucap Perry. Dari data tersebut, artinya kredit investasi dan kredit konsumsi mengalami peningkatan, untuk kredit investasi tumbuh dari 12,26% (yoy) per September menjadi 13,63% (yoy) per Oktober. Kemudian, kredit konsumsi juga meningkat dari 10,88% per September menjadi tumbuh 11,1% (yoy) per Oktober. Sedangkan, kredit kerja mengalami menyusutan dari tumbuh 10,01% per September menjadi naik 9,25% (yoy) di akhir Oktober 224. (Yetede)

BTN, Akusisi Bank Syariah

KT1 20 Nov 2024 Investor Daily (H)
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) saat ini sedang melakukan limited review sehubungan dengan adanya rencana aksi korporasi yakni, mengakuisisi bank syariah untuk nantinya digabungkan dengan BTN Syariah. Saat ini proses tersebut memasuki babak akhir yang diperkirakan akuisisi berlangsung pada awal tahun depan. "Saat ini proses uji tuntas atau deu diligence terhadap calon bank yang akan diakuisisi telah sampai pada tahap finalisasi perseroan dan pemegang saham pengendali (PSP) bank uang akan diakuisisi sedang melakukan negiosasi serta menyusun  perjanjian jual beli bersyarat (conditional sale and purchase agreement/CSPA)," jelas Corporate Secretary BTN Ramon Armando. Adapun, sesuai Peraturan OJK (POJK) No.12 Tahun 2023 tentang Limit Usaha Syariah (UUS), BTN wajib melakukan proses permisahan UUS (Permohonan izin atau persetujuan kepada regulator), selambatnya dua tahun setelah publikasi laporan keuangan per Desember 2023 pada kuartal I-2024 bahwa UUS BTN telah memiliki aset lebih dari Rp 50 triliun. Perseroan mengambil opsi yang paling efisien, mudah, dan cepat dilaksanakan dalam persiapan pemisahan atau spin off UUS dan saat ini dalam proses finalisasi due diligence terhadap calon bank yang akan diakuisisi. (Yetede)

Sejumlah bank Menilai Bisnis Wealth Management Masih Prospektif

KT1 19 Nov 2024 Investor Daily
Sejumlah bank memprediksi bisnis wealth management masih cerah diakhir tahun ini dan juga tahun depan. Hal ini sejalan dengan kondisi adanya pemerintahan baru, kebijakan baru, dan tren suku bunga yang juga melanjutkan penurunan. Direktur Consumer Banking PT Permata Bank Djumariah Tentram mengatakan, di tengah penurunan kelas menengah secara nasional, bisnis wealth management Permata bank masih mencatatkan pertumbuhan positif. Djumariah menjelaskan, dari sisi pertumbuhan kekayaan, orang kaya dan bisnis wealth dari tahun ke tahun selalu tumbuh positif. Di mana, jumlah orang yang memiliki kekayaan di Indonesia terus mengalami pertumbuhan sekitar 4-5% setiap tahunnya. Dari data tersebut, Djumariah menilai bahwa segmen menengah atas dan high affluent konsisten bertumbuh. Meskipun segmen kelas menengah terjadi penurunan, tapi di Pertama Bank tidak terjadi, karena pertumbuhan masih positif. "Kami masih positif menghadapi ini terutama 2025, ada pemerintahan baru kami juga percaya ada kebijakan-kebijan baru yang membantu menopang pertumbuhan ekonomi di 2025, kami masih memandang ini hal positif," jelas Djumariah. (Yetede)

Bisnis Syariah Tunjukkan Tren Positif

HR1 19 Nov 2024 Kontan
Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) menunjukkan kinerja solid hingga kuartal III-2024 dengan laba bersih Rp 5,11 triliun, tumbuh 21,6% secara tahunan (yoy). Dana pihak ketiga (DPK) juga meningkat 14,92% menjadi Rp 301,22 triliun, dengan 61,69% berupa dana murah (CASA). Produk unggulan seperti Tabungan Wadiah dan Tabungan Haji mencatat pertumbuhan signifikan, masing-masing sebesar 19,04% dan 16,47%, memperlihatkan respons positif masyarakat terhadap layanan BRIS.

Menurut Maximilianus Nico Demus dari Pilarmas Investindo Sekuritas, pengembangan produk berbasis syariah dan peluncuran aplikasi super Byond by BSI akan memperkuat ekosistem perbankan syariah di Indonesia. Ekspansi ini diperkuat oleh kemitraan dengan Prudential Syariah, yang pada 2024 telah menghasilkan pendapatan berbasis biaya sebesar Rp 86 miliar.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano, memperkirakan laba bersih BRIS mencapai Rp 6,82 triliun atau naik 19,64% yoy pada akhir 2024. Tabungan haji diprediksi akan terus menjadi andalan dalam pendanaan berbiaya rendah, sementara pembiayaan emas yang tumbuh 61% yoy hingga kuartal III-2024 menunjukkan daya tarik investasi syariah yang kuat.

Meski demikian, tantangan tetap ada, seperti rasio kredit macet (NPL) UMKM yang mencapai 4% per September 2024. Namun, mekanisme syariah seperti akad murabahah dan musyarakah dinilai mampu mengurangi risiko tersebut. Analis Kiwoom Sekuritas, Miftahul Khaer, menyebut fokus BRIS pada ekosistem halal dan UMKM memberikan keunggulan kompetitif.

Dengan fundamental yang kokoh, strategi bisnis inovatif, serta prospek positif dari pelonggaran suku bunga, BRIS memiliki peluang untuk terus bertumbuh. Nico merekomendasikan buy dengan target harga Rp 3.500, sementara Victor dan Khaer merekomendasikan hold dan trading buy dengan target Rp 3.000.

Bank Kesulitan Menurunkan Suku Bunga KPR

HR1 16 Nov 2024 Kontan
Meskipun Bank Indonesia (BI) telah menurunkan suku bunga acuan, penyesuaian bunga floating Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di perbankan belum signifikan. Suku bunga dasar kredit (SBDK) untuk segmen KPR masih berkisar 9%-12% di bank-bank besar KBMI 4, mencerminkan likuiditas yang ketat dan komponen biaya yang tinggi.

BNI menawarkan SBDK KPR terendah sebesar 9,13% dengan margin keuntungan 1,96%, tetapi overhead cost-nya cukup tinggi, mencapai 4%. Direktur Retail Banking BNI, Corina Leyla Karnalies, menyatakan bahwa penyesuaian bunga masih dalam kajian, mengingat likuiditas pasar yang ketat. Meskipun demikian, permintaan KPR di BNI tetap tumbuh, dengan peningkatan jumlah nasabah sebesar 6% secara tahunan, mayoritas berasal dari pembelian properti baru.

Di sisi lain, BCA memiliki SBDK KPR sebesar 9,45% dengan margin keuntungan tertinggi di antara bank KBMI 4, yaitu 4,65%. Menurut Welly Yandoko, Executive Vice President Consumer Loan BCA, bunga floating KPR BCA stabil di level 11% selama lebih dari 10 tahun, meskipun BI rate mengalami fluktuasi signifikan. Hingga kuartal III-2024, BCA telah menyalurkan KPR sebesar Rp 130,4 triliun, naik 10,7% secara tahunan, dengan pengalihan KPR ke bank lain hanya di kisaran 2%-3%.

Sementara itu, BRI dan Bank Mandiri menawarkan SBDK KPR masing-masing 10% dan 12,5%, dengan margin keuntungan 2,85% dan 2,57%.

Bank masih mempertahankan bunga KPR yang relatif tinggi meskipun BI rate turun, akibat faktor likuiditas, biaya overhead, dan risiko kredit. Namun, permintaan KPR tetap meningkat, terutama di BNI dan BCA, yang mencerminkan daya tarik pricing dan layanan mereka bagi nasabah.

Perbankan Was-was, Likuiditas Domestik dan Global Kemungkinan Akan Menghadapi Tekanan

KT1 15 Nov 2024 Investor Daily (H)

Ekspektasi pemangkasan suku bunga moneter tahun depan dinilai tidak akan signifikan seperti proyeksi sebelumnya. Hal ini akan mempengaruhi biaya dana (cost of fund) perbankan yang masih mahal dan berimplikasikan pada likuiditas. Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Royke Tumilaar mengatakan, likuiditas domestik dan global kemungkinan akan menghadapi tekanan. Dia menegaskan bahwa didepan tidak akan mudah bagi industri perbankan, terlebih dengan kemenangan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) tentu kebijakannya akan mendorong inflasi AS naik seperti kebijakan tarif impor dan penurunan pajak. Hal tersebut dinilai akan sulit bagi The Fed untuk memangkas suku bunga Fed Fund Rate secara agresif kedepannya. "Sehingga tekanan likuiditas ini akan menjadi beban signifikan bagi perbankan kedepan untuk ekspansi di 2025," ucap Royke. Selain itu, kebijakan Bank Indonesia (BI) yang menahan yield Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tetap tinggi, juga memengaruhi himpunan dana pihak ketiga (DPK) perbankan. Lantaran yield SRBI lebih menarik dibandingkan bunga deposito perbankan, sehingga pemilik dana akan menempatkan dana di SRBI. "Ini memengaruhi DPK kita keluar dari sistem dan masuk ke pemerintah, tekanan likuiditas tinggi di rupiah. (Yetede)