;
Tags

Perbankan

( 2293 )

Bank BTN Salurkan 30 Ribu KPR Sepanjang 2 Bulan Pemerintahan Prabowo

KT1 12 Dec 2024 Tempo
 PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN telah menyalurkan 30 ribu unit rumah melalui program Kredit Perumahan Rakyat atau KPR sepanjang dua bulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. BTN juga telah menghitung total potensi stok rumah untuk mendukung program 3 Juta Rumah tahun depan yaitu sebanyak 631,978 unit.   “BTN terus berkontribusi dalam pemenuhan rumah di Indonesia,” kata Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu dalam acara Seremonial Penyaluran Kredit Perumahan Rakyat (KPR) BTN di Serang, Banten, pada Kamis, 12 Desember 2024.  Selain itu, Nixon mengatakan BTN akan mendukung upaya pemerintah mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen melalui sektor perumahan dan dan rencana 0 persen untuk uang muka. 

Nixon bercerita sejak 1976 BTN telah menyalurkan sekitar KPR untuk 5,2 unit yang tersebar berbagai kota, baik subsidi, nonsubsidi, ataupun pembiayaan syariah. Dia berharap melalui acara Seremonial Penyaluran KPR di Serang, Banten, itu agar bisa berlanjut dan BTN bisa memenuhi kebutuhan perumahan.  “Inisiasi ini akan berlanjut terus sampai kebutuhan perumahan yang layak bagi seluruh rakyat Indonesia terpenuhi,” kata dia.  Sementara itu, KPR massal di Serang ini diikuti oleh 235 calon debitur. Jumlah itu mencakup KPR subsidi dan nonsubsidi sebanyak 225 unit, sementara KPR subsidi dan nonsubsidi melalui BTN Syariah sebanyak 10 unit, serta Kredit Usaha Rakyat (KUR).  Nixon mengatakan, 72 orang atau lebih dari 30 persen debitur dalam akad massal tersebut adalah perempuan, sedangkan 81 persen dari mereka tergolong segmen milenial dengan umur termuda yakni 21 tahun. “Sampai dengan saat ini BTN masih memiliki potensi debitur yang sudah lolos uji sebanyak kurang lebih 44.000 yang diharapkan dapat segera disalurkan pada awal bulan Januari 2025”, kata dia. (Yetede)

Biaya Operasional yang Tinggi Membatasi Profitabilitas

HR1 12 Dec 2024 Kontan
Tingginya suku bunga acuan di level 6% menyebabkan cost of fund (CoF) perbankan meningkat, sehingga menekan profitabilitas hingga akhir tahun 2024. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per September 2024, bank KBMI 4 mencatat kenaikan CoF tertinggi sebesar 39,8% secara tahunan, diikuti KBMI 2 (25%), KBMI 3 (23,7%), dan KBMI 1 (9,3%).

Direktur Utama Bank BJB, Yuddy Renaldi, menyatakan bahwa permintaan special rate dari nasabah korporasi untuk dana besar menjadi salah satu penyebab kenaikan CoF. Yuddy optimistis profitabilitas BJB dapat dijaga dengan mendorong pertumbuhan dana murah (CASA) dan memacu pendapatan berbasis komisi.

Antonius Kunto Widyatmaka, SVP Strategy & Performance Management Bank Mandiri, juga mengakui tingginya CoF akibat likuiditas yang ketat di pasar. Namun, ia optimistis Bank Mandiri dapat menjaga profitabilitas dengan fokus pada aset produktif yang memiliki margin tinggi dan meningkatkan pendapatan non-bunga.

Di sisi lain, Jasmin, Direktur Distribution and Funding Bank BTN, menyebutkan bahwa produk deposito yang sensitif terhadap bunga menjadi penyumbang utama tingginya CoF. Sementara itu, Direktur Bisnis Bank J Trust Indonesia, Widjaja Hendra, mengungkapkan bahwa banknya menjaga laba dengan menyalurkan kredit ke segmen potensial dan tepat sasaran.

Secara keseluruhan, meskipun beban bunga yang tinggi menjadi tantangan besar, bank-bank besar berupaya menjaga profitabilitas melalui strategi efisiensi, diversifikasi pendapatan, dan pengelolaan aset berkualitas.

Kemampuan Pembayaran Debitur KPR Melemah

HR1 11 Dec 2024 Kontan
Menjelang akhir tahun 2024, rasio kredit bermasalah (NPL) Kredit Pemilikan Rumah (KPR) meningkat, terutama pada segmen rumah tapak, dengan NPL mencapai 2,63% pada Oktober, level tertinggi sepanjang tahun. Secara keseluruhan, NPL kredit properti naik menjadi 2,69% dari 2,64% pada September.

Menurut Welly Yandoko, EVP Consumer Loan Bank Central Asia (BCA), kenaikan NPL ini disebabkan oleh berakhirnya relaksasi restrukturisasi kredit akibat Covid-19. Namun, BCA berhasil menjaga NPL KPR di bawah 1,5% melalui pemantauan ketat terhadap kualitas kredit.

Yuddy Renaldi, Direktur Utama Bank BJB, menjelaskan bahwa faktor melemahnya daya beli masyarakat dan meningkatnya harga properti menjadi penyebab utama kenaikan NPL, terutama pada segmen menengah ke bawah, meski masih dalam batas wajar.

Sementara itu, Ricky Andriano, VP Corporate Communication Bank Mandiri, menyebut bahwa NPL Bank Mandiri tetap terjaga di bawah rata-rata industri dan bahkan turun 17 basis poin secara tahunan. Bank Mandiri fokus pada pendekatan ekosistem dan sektor-sektor unggulan untuk mendukung pertumbuhan positif KPR.

Meskipun tantangan pada segmen KPR terus meningkat, bank-bank besar optimistis mampu menjaga kinerja solid dengan strategi mitigasi risiko yang tepat.

OJK Resmi Atur Ketat Kegiatan Usaha Bullion Bank dengan Sejumlah Regulasi

KT1 10 Dec 2024 Investor Daily (H)

OJK resmi mengatur kegiatan usaha bulion bank dengan menetapkan sejumlah regulasi ketat. Salah satunya syarat utama yang harus dipenuhi oleh pelaku usaha jasa keuangan adalah memiliki modal minimum sebesar Rp 14 triliun. Syarat tersebut ditetapkan lantaran kegiatan usaha bulion merupakan bisnis berisiko, terlebih saat ini baru tahap awal. Sehingga perlu lembaga jasa keuangan yang sudah memilki modal kuat, serta infrastruktur. "Kami lihat ini bagian bisnis berisiko, maka selain modal yang tingi juga harus ada backup dalam bentuk jaminan kolateral baik deposito setara kas senilai emasnya.

Ini untuk mencegah risiko kegagalan, ini memang dirasa berat, tapi ini the best practice di negara lain," ungkap Kepala Departemen Pengaturan  dan Pengembangan Lembaga Pembiayaan, Perusahaann Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Ahmad Nasrullah pada Media Briefing. OJK menekankan bahwa kegiatan bullion bank bertujuan untuk mengoptimalkan emas yang dimiliki masyarakat agar memberikan manfaat ekonomi yang besar. Nantinya LJK yang mengajukan izin usaha kepada OJK dapat melakukan empat kegiatan, antara lain simpanan emas, pembiyaan emas, perdagangan emas, dan penitipan emas. (Yetede)

Beragam Pandangan Bankir Menghadapi 2025

HR1 10 Dec 2024 Kontan

Para bankir menunjukkan sikap yang beragam dalam menyongsong tahun 2025. Secara umum, bankir bank besar memperkirakan tantangan likuiditas ketat masih akan membayangi kinerja industri perbankan hingga tahun depan. Beberapa bank optimistis bisa mencetak kredit tumbuh di rentang target Bank Indonesia (BI) sebesar 11%-13%. Sebagian lagi pesimis karena tekanan likuiditas tersebut. Likuiditas diproyeksi masih ketat lantaran laju pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) kian susut. Perlambatan ini berpotensi berlanjut lantaran bank akan bersaing dengan SBN ritel pemerintah dalam berebut dana. Royke Tumilaar, Direktur Utama Bank Negara Indonesia (BNI), menyebut tantangan likuiditas akan berlanjut tahun depan. Ia membenarkan peralihan dana masyarakat ke BI dan SBN bisa menekan DPK, sehingga akan menyulitkan bank ekspansi. BNI belum memberikan target kredit yang dibidik tahun depan. Namun, terlepas dari tantangan itu, Okki Rushartomo, Sekretaris Perusahaan BNI, mengatakan BNI tetap melihat ada peluang pertumbuhan di 2025.

“Kami memproyeksikan kredit berpotensi tumbuh sejalan dengan ekspektasi market,” ujarnya. Pesimisme juga datang dari CIMB Niaga. Walaupun target ekspansi bank ini belum final, tapi Lani Darmawan Presiden Direktur Bank CIMB Niaga mengatakan pertumbuhannya tidak akan lebih tinggi dari 2024. Ia bilang, CIMB tak bisa gencar ekspansi dengan kondisi biaya dana tinggi, karena pihaknya juga harus memastikan profitabilitas terjaga. Sementara itu, Bank Tabungan Negara (BTN) tetap optimistis membidik pertumbuhan kredit 11%-13%, lebih tinggi dari target tahun ini di 10%-11%. Corporate Secretary BTN, Ramon Armando bilang, optimisme itu didukung oleh program 3 juta rumah di mana BTN akan jadi tumpuannya. Rudy Basyir Ahmad,Direktur Permata Bank mengakui tantangan likuiditas akan berlanjut hingga medio 2025. Bank ini akan mengejar ekspansi dengan dukungan Bangkok Bank.

Bank Pelat Merah Kuasai Pasar KPR

KT1 09 Dec 2024 Investor Daily (H)
Bank pelat merah terus menunjukkan dominasinya dalam penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR). Hingga Oktober 2024, BUMN menguasai 59,16% pasar KPR nasional dengan nilai mencapai Rp423,48 triliun. Berdasarkan data BI, penyaluran KPR industri perbankan per Oktober sebesar Rp715,82 triliun, tumbuh 10,38% dibandingkan Oktober 2023 yang senilai Rp648,47 triliun. Nilai tersebut di luar kredit pemilikan aparteman (KPA) maupun rumah toko (ruko) dan rumah kantor (rukan) Dari realisasi tersebut, KPR yang telah dikucurkan bank persero mencapai Rp423,48 triliun, tumbuh 12,11% secara tahunan (year on year). Pertumbuhan ini juga menjadi yang terbesar dibandingkan dengan kelompok bank lainnya. Kemudian, KPR yang disalurkan bank swasta nasional (BSN) sebesar Rp 261,1 triliun, naik 8,695 (yoy) per Oktober 2024. Untuk Bank Pembangunan Daerah (BPD) mencatatkan pertumbuhan KPR 5,4% (yoy) menjadi Rp 30,67 triliun pada 10 bulan tahun ini.  Sementara itu, kantor cabang bank asing (KCBA) mencatatkan penyaluran KPR senilai Rp571 mliar, anjlok 59,76% dibandingkan periode Oktober 2023 senilai Rp1,42 triliun. (Yetede)

Airlangga Usulkan BRI dan BSI Jadi Bank Emas

KT1 09 Dec 2024 Tempo
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengusulkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BRI dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk. atau BSI untuk menjadi bullion bank atau bank emas. Usulan itu ia sampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Bullion bank merupakan bank yang menjadi tempat penyimpanan emas dan menyediakan layanan perbankan menggunakan instrumen logam mulia. Istilah bullion biasanya mengacu pada logam curah yang digunakan dalam produksi koin, dan khususnya pada logam mulia, seperti emas dan perak.
 
“Saya mengusulkan kepada OJK, setidaknya BRI yang merupakan holding Pegadaian, begitu juga BSI, bisa menjadi tuan rumah sebagai bullion bank di Indonesia,” kata Airlangga di acara SEZ Business Forum yang diadakan di Hotel St. Regis, Jakarta Selatan pada Senin, 9 Desember 2024. Airlangga menyampaikan saat ini OJK sedang mengupayakan pembentukan bullion bank, supaya Indonesia memiliki tempat penyimpanan yang dapat mencatat nilai stok emas dan memasukkan emas ke neraca keuangan. Praktik ini, katanya, telah dilakukan di bank negara tetangga, yakni Singapura.
 
“Dulu, stok emas hanya kita taruh di gudang. Dan kita hanya mencatat tonase, bukan nilainya. Bank-bank lain, termasuk di Singapura, sudah memasukkan emasnya ke neraca mereka,” ujar Airlangga. Ini merupakan sebab Indonesia tidak mendapatkan nilai penuh dari emas yang dihasilkan dari industri manufaktur dalam negeri. Airlangga menjelaskan, industri perhiasan biasanya hanya mendapatkan biaya manufaktur, sementara proses kredensial Chartered Market Technician (CMT) dan tolling atau pemurnian emas dilakukan di Singapura.  “Jadi, kita tidak mendapatkan nilai penuh dari emas yang dihasilkan di industri manufaktur Indonesia,” ujarnya. “Saya kira ini awal mula beberapa bank akan menjadi bullion bank.” (Yetede)
 

Bank-Bank Kecil Berhati-Hati Merancang Ekspansi

HR1 09 Dec 2024 Kontan

Tantangan perbankan dalam menyalurkan kredit di 2025 cukup berat. Tekanan likuiditas yang masih ketat hingga saat ini diprediksi bisa berlanjut ke tahun depan dan bisa membuat ekspansi kredit tersendat. Di sisi lain, laju pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) kian seret. Persaingan perebutan dana masyarakat dengan pemerintah juga kemungkinan bakal sengit. Tantangan dalam penyaluran kredit akan lebih dirasakan bank-bank kecil. Bank kecil harus menawarkan bunga lebih tinggi untuk bisa bersaing dengan bank-bank yang lebih besar. Akibatnya, biaya dana bakal meningkat. Sejumlah bank kecil mengakui tantangan tersebut. Oleh karena itu, target pertumbuhan yang mereka pasang tahun depan berada di bawah proyeksi Bank Indonesia (BI). Bank Oke Indonesia misalnya, hanya menargetkan kredit tumbuh sebesar 10% tahun depan. Bank ini melihat peluang permintaan kredit bakal besar. Namun bank dihadapkan dengan tantangan likuiditas untuk memenuhi permintaan. 

"Tantangan likuiditas bisa saja terjadi, terutama jika dipengaruhi kondisi global," kata Efdinal Alamsyah, Direktur Kepatuhan Bank Oke, Jumat (6/12). Kendati begitu, para bankir menilai bukan berarti ruang pertumbuhan kredit bagi bank kecil sama sekali tertutup. Efdinal menilai, pertumbuhan permintaan kredit tahun depan terutama akan datang dari sektor infrastruktur, energi baru dan terbarukan, manufakturdan pariwisata. Untuk menghadapi tantangan penyaluran kredit, Bank Oke akan melakukan diversifikasi produk dan portofolio. Bank dengan kode saham DNAR ini juga akan lebih fokus ke sektor yang memiliki risiko lebih rendah agar kualitas aset tetap terjaga, serta fokus memperkuat penyaluran kredit ke UMKM. Bank BJB juga melihat potensi permintaan kredit tahun depan masih besar. Kendati begitu, bank daerah ini memilih memasang target ekspansi konservatif di tengah tantangan likuiditas. Bank ini menargetkan penyaluran kredit tumbuh 7%-8%. Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renaldi yakin Bank BJB bisa menjaga pertumbuhan kinerja. Alasannya, bank ini memiliki captive market yang kuat, yakni ekosistem keuangan daerah.

Ketatnya Likuiditas Membayangi Ekspansi Bisnis

HR1 07 Dec 2024 Kontan
Tantangan likuiditas perbankan di tahun 2025 diperkirakan meningkat seiring dengan rencana pemerintah untuk meningkatkan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) ritel hingga 42,2% dari tahun sebelumnya, dengan target penerbitan mencapai Rp 140 triliun–Rp 180 triliun. Kondisi ini berpotensi membuat pemerintah dan perbankan bersaing dalam menarik dana masyarakat, yang dapat memperlambat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK).

Royke Tumilaar, Direktur Utama BNI, mengakui bahwa peningkatan penyerapan dana masyarakat ke instrumen SBN dan Bank Indonesia (BI) dapat menyulitkan bank untuk melakukan ekspansi kredit. Ia menekankan perlunya kehati-hatian dalam ekspansi agar sejalan dengan pertumbuhan DPK.

Ita Tetralastwati, SEVP Tresuri BNI, menambahkan bahwa BNI akan menggenjot dana murah melalui layanan digital, optimalisasi produk tabungan, serta memanfaatkan instrumen surat berharga likuid sebagai cadangan likuiditas.

Sementara itu, Direktur Utama Bank BJB, Yuddy Renaldi, menekankan pentingnya kreativitas perbankan dalam mencari sumber likuiditas alternatif. Ia juga melihat bahwa insentif likuiditas makroprudensial dari BI dapat membantu perbankan menjaga stabilitas likuiditas.

Efdinal Alamsyah, Direktur Kepatuhan OK Bank, mengungkapkan bahwa imbal hasil SBN yang tinggi akan menarik banyak dana masyarakat, sehingga bank perlu mengerem ekspansi kredit jika likuiditas tetap ketat. Hal ini bisa memengaruhi kinerja bank secara keseluruhan. Perbankan disarankan untuk mengupayakan berbagai alternatif pendanaan guna mengatasi tantangan tersebut.

Komisi, Andalan Baru Bank Digital

HR1 06 Dec 2024 Kontan
Bank digital menghadapi tantangan besar untuk mencetak pendapatan bunga bersih di tengah likuiditas yang ketat. Oleh karena itu, pendapatan non-bunga atau fee based income (FBI) menjadi andalan utama untuk menopang kinerja keuangan. Sebanyak delapan dari 11 bank digital mencatatkan pertumbuhan pesat FBI selama 10 bulan pertama 2024, meskipun nilainya masih kecil.

Superbank mencetak pertumbuhan FBI tertinggi sebesar 1.835% secara tahunan menjadi Rp 14,8 miliar, didukung sinergi ekosistemnya bersama Grab, Emtek Group, Singtel, dan Kakao Bank. Menurut Tigor M. Siahaan, Direktur Utama Superbank, lebih dari 60% nasabah Superbank sudah menghubungkan akun mereka dengan aplikasi Grab, menandakan kekuatan ekosistem yang terintegrasi. Superbank kini memiliki 2 juta nasabah aktif sejak meluncurkan aplikasi digitalnya pada Juni 2024.

Seabank menjadi bank digital dengan FBI terbesar, mencapai Rp 107,05 miliar atau tumbuh 55,6% secara tahunan. Seabank memiliki 15,5 juta nasabah aktif per September 2024, menjadikannya salah satu bank digital dengan basis nasabah terbesar.

Sementara itu, Allo Bank mencatatkan FBI Rp 19,19 miliar, tumbuh 191% secara tahunan. Menurut Direktur Utama Allo Bank, Indra Utoyo, peningkatan ini didorong oleh fitur transaksi seperti QRIS, transfer, dan pembayaran tagihan. Allo Bank juga akan memperkuat kemitraan strategis dengan berbagai ekosistem untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan.

Keberhasilan bank digital dalam meningkatkan FBI sangat bergantung pada jumlah dan rasio nasabah aktif, serta kekuatan sinergi ekosistem digital yang mereka bangun.