Perbankan
( 2293 )Bank BTN Salurkan 30 Ribu KPR Sepanjang 2 Bulan Pemerintahan Prabowo
Biaya Operasional yang Tinggi Membatasi Profitabilitas
Kemampuan Pembayaran Debitur KPR Melemah
OJK Resmi Atur Ketat Kegiatan Usaha Bullion Bank dengan Sejumlah Regulasi
OJK resmi mengatur kegiatan usaha bulion bank dengan menetapkan sejumlah regulasi ketat. Salah satunya syarat utama yang harus dipenuhi oleh pelaku usaha jasa keuangan adalah memiliki modal minimum sebesar Rp 14 triliun. Syarat tersebut ditetapkan lantaran kegiatan usaha bulion merupakan bisnis berisiko, terlebih saat ini baru tahap awal. Sehingga perlu lembaga jasa keuangan yang sudah memilki modal kuat, serta infrastruktur. "Kami lihat ini bagian bisnis berisiko, maka selain modal yang tingi juga harus ada backup dalam bentuk jaminan kolateral baik deposito setara kas senilai emasnya.
Ini untuk mencegah risiko kegagalan, ini memang dirasa berat, tapi ini the best practice di negara lain," ungkap Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Lembaga Pembiayaan, Perusahaann Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Ahmad Nasrullah pada Media Briefing. OJK menekankan bahwa kegiatan bullion bank bertujuan untuk mengoptimalkan emas yang dimiliki masyarakat agar memberikan manfaat ekonomi yang besar. Nantinya LJK yang mengajukan izin usaha kepada OJK dapat melakukan empat kegiatan, antara lain simpanan emas, pembiyaan emas, perdagangan emas, dan penitipan emas. (Yetede)
Beragam Pandangan Bankir Menghadapi 2025
Para bankir menunjukkan sikap yang beragam dalam menyongsong tahun 2025. Secara umum, bankir bank besar memperkirakan tantangan likuiditas ketat masih akan membayangi kinerja industri perbankan hingga tahun depan. Beberapa bank optimistis bisa mencetak kredit tumbuh di rentang target Bank Indonesia (BI) sebesar 11%-13%. Sebagian lagi pesimis karena tekanan likuiditas tersebut. Likuiditas diproyeksi masih ketat lantaran laju pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) kian susut. Perlambatan ini berpotensi berlanjut lantaran bank akan bersaing dengan SBN ritel pemerintah dalam berebut dana. Royke Tumilaar, Direktur Utama Bank Negara Indonesia (BNI), menyebut tantangan likuiditas akan berlanjut tahun depan. Ia membenarkan peralihan dana masyarakat ke BI dan SBN bisa menekan DPK, sehingga akan menyulitkan bank ekspansi. BNI belum memberikan target kredit yang dibidik tahun depan. Namun, terlepas dari tantangan itu, Okki Rushartomo, Sekretaris Perusahaan BNI, mengatakan BNI tetap melihat ada peluang pertumbuhan di 2025.
“Kami memproyeksikan kredit berpotensi tumbuh sejalan dengan ekspektasi market,” ujarnya.
Pesimisme juga datang dari CIMB Niaga. Walaupun target ekspansi bank ini belum final, tapi Lani Darmawan Presiden Direktur Bank CIMB Niaga mengatakan pertumbuhannya tidak akan lebih tinggi dari 2024. Ia bilang, CIMB tak bisa gencar ekspansi dengan kondisi biaya dana tinggi, karena pihaknya juga harus memastikan profitabilitas terjaga.
Sementara itu, Bank Tabungan Negara (BTN) tetap optimistis membidik pertumbuhan kredit 11%-13%, lebih tinggi dari target tahun ini di 10%-11%.
Corporate Secretary
BTN, Ramon Armando bilang, optimisme itu didukung oleh program 3 juta rumah di mana BTN akan jadi tumpuannya.
Rudy Basyir Ahmad,Direktur Permata Bank mengakui tantangan likuiditas akan berlanjut hingga medio 2025. Bank ini akan mengejar ekspansi dengan dukungan Bangkok Bank.
Bank Pelat Merah Kuasai Pasar KPR
Airlangga Usulkan BRI dan BSI Jadi Bank Emas
Bank-Bank Kecil Berhati-Hati Merancang Ekspansi
Tantangan perbankan dalam menyalurkan kredit di 2025 cukup berat. Tekanan likuiditas yang masih ketat hingga saat ini diprediksi bisa berlanjut ke tahun depan dan bisa membuat ekspansi kredit tersendat. Di sisi lain, laju pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) kian seret. Persaingan perebutan dana masyarakat dengan pemerintah juga kemungkinan bakal sengit. Tantangan dalam penyaluran kredit akan lebih dirasakan bank-bank kecil. Bank kecil harus menawarkan bunga lebih tinggi untuk bisa bersaing dengan bank-bank yang lebih besar. Akibatnya, biaya dana bakal meningkat. Sejumlah bank kecil mengakui tantangan tersebut. Oleh karena itu, target pertumbuhan yang mereka pasang tahun depan berada di bawah proyeksi Bank Indonesia (BI). Bank Oke Indonesia misalnya, hanya menargetkan kredit tumbuh sebesar 10% tahun depan. Bank ini melihat peluang permintaan kredit bakal besar. Namun bank dihadapkan dengan tantangan likuiditas untuk memenuhi permintaan.
"Tantangan likuiditas bisa saja terjadi, terutama jika dipengaruhi kondisi global," kata Efdinal Alamsyah, Direktur Kepatuhan Bank Oke, Jumat (6/12).
Kendati begitu, para bankir menilai bukan berarti ruang pertumbuhan kredit bagi bank kecil sama sekali tertutup. Efdinal menilai, pertumbuhan permintaan kredit tahun depan terutama akan datang dari sektor infrastruktur, energi baru dan terbarukan, manufakturdan pariwisata.
Untuk menghadapi tantangan penyaluran kredit, Bank Oke akan melakukan diversifikasi produk dan portofolio. Bank dengan kode saham DNAR ini juga akan lebih fokus ke sektor yang memiliki risiko lebih rendah agar kualitas aset tetap terjaga, serta fokus memperkuat penyaluran kredit ke UMKM.
Bank BJB juga melihat potensi permintaan kredit tahun depan masih besar. Kendati begitu, bank daerah ini memilih memasang target ekspansi konservatif di tengah tantangan likuiditas. Bank ini menargetkan penyaluran kredit tumbuh 7%-8%.
Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renaldi yakin Bank BJB bisa menjaga pertumbuhan kinerja. Alasannya, bank ini memiliki
captive market
yang kuat, yakni ekosistem keuangan daerah.
Ketatnya Likuiditas Membayangi Ekspansi Bisnis
Komisi, Andalan Baru Bank Digital
Pilihan Editor
-
Bulog Bakal Realisasikan Impor Daging Kerbau
09 Mar 2021









