;

Ketatnya Likuiditas Membayangi Ekspansi Bisnis

Ekonomi Hairul Rizal 07 Dec 2024 Kontan
Ketatnya Likuiditas Membayangi Ekspansi Bisnis
Tantangan likuiditas perbankan di tahun 2025 diperkirakan meningkat seiring dengan rencana pemerintah untuk meningkatkan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) ritel hingga 42,2% dari tahun sebelumnya, dengan target penerbitan mencapai Rp 140 triliun–Rp 180 triliun. Kondisi ini berpotensi membuat pemerintah dan perbankan bersaing dalam menarik dana masyarakat, yang dapat memperlambat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK).

Royke Tumilaar, Direktur Utama BNI, mengakui bahwa peningkatan penyerapan dana masyarakat ke instrumen SBN dan Bank Indonesia (BI) dapat menyulitkan bank untuk melakukan ekspansi kredit. Ia menekankan perlunya kehati-hatian dalam ekspansi agar sejalan dengan pertumbuhan DPK.

Ita Tetralastwati, SEVP Tresuri BNI, menambahkan bahwa BNI akan menggenjot dana murah melalui layanan digital, optimalisasi produk tabungan, serta memanfaatkan instrumen surat berharga likuid sebagai cadangan likuiditas.

Sementara itu, Direktur Utama Bank BJB, Yuddy Renaldi, menekankan pentingnya kreativitas perbankan dalam mencari sumber likuiditas alternatif. Ia juga melihat bahwa insentif likuiditas makroprudensial dari BI dapat membantu perbankan menjaga stabilitas likuiditas.

Efdinal Alamsyah, Direktur Kepatuhan OK Bank, mengungkapkan bahwa imbal hasil SBN yang tinggi akan menarik banyak dana masyarakat, sehingga bank perlu mengerem ekspansi kredit jika likuiditas tetap ketat. Hal ini bisa memengaruhi kinerja bank secara keseluruhan. Perbankan disarankan untuk mengupayakan berbagai alternatif pendanaan guna mengatasi tantangan tersebut.
Download Aplikasi Labirin :