;
Tags

Perbankan

( 2293 )

Beban Operasional dan Kualitas Aset Menggerus Kinerja BPD

HR1 03 Jan 2025 Kontan
Kinerja Bank Pembangunan Daerah (BPD) mengalami tekanan pada 2024, dengan mayoritas mencatat penurunan laba.

Yuddy Renaldi, Direktur Utama Bank BJB, menyebut penurunan laba Bank BJB sebesar 23,74% secara tahunan menjadi Rp 1,29 triliun disebabkan oleh beban bunga yang melonjak hingga 24,91% atau Rp 7 triliun. Bank BJB menargetkan pertumbuhan kredit 6%-8% dan menjaga LDR di level 92%, sembari mendorong pendapatan dari fee-based income dan recovery untuk mengimbangi tekanan laba.

Sementara itu, Edi Masrianto, Direktur Keuangan Bank Jatim, menjelaskan bahwa laba Bank Jatim turun 18,54% secara tahunan menjadi Rp 1,04 triliun, terutama karena beban pencadangan yang meningkat tajam hingga 83,5%. Namun, pendapatan bunga bersih Bank Jatim tumbuh 9,26% menjadi Rp 4,87 triliun. Ia optimis terhadap prospek 2025 dengan fokus pada kebijakan kredit di segmen andalan dan pembentukan Kelompok Usaha Bank (KUB) untuk mendorong pertumbuhan kinerja.

Tekanan laba pada BPD mencerminkan tantangan sektor perbankan dalam mengelola beban bunga dan pencadangan, meskipun ada peluang pertumbuhan kredit dan pendapatan lain di tahun depan.

LPS Mencatat Simpanan di Perbankan Nasional dengan Tiering Nominal di Atas Rp 5 Miliar Kembali Menguat

KT1 03 Jan 2025 Investor Daily (H)

Lembaga Penjamim Simpanan (LPS) mencatat simpanan di perbankan nasional dengan tiering nominal di atas Rp 5 miliar kembali menguat menjelang tutup tahun 2024.Berdasarkan data distribusi simpanan yang dipublikasikan LPS, simpanan kelas kakap ini tumbuh tinggi 1,8% (month to month/mtm). 

Berikutnya, simpanan tiering nominal sampai dengan Rp100 juta tumbuh 5,4% (yoy) per November 2024 menjadi Rp 1.076,5 triliun, mengalami perlambatan dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang naik 5,9% (yoy). Apabila secara bulanan naik 0,9% (mtm), menguat tipis dari Oktober 2024 sebesar 0,8% (mtm). 

Pada tiering nominal Rp 100-200 juta tumbuh 5,3% (yoy) menjadi Rp 445,75 triliu, flat jika dilihat, beberapa tiering nominal Rp200 juta sampai dengan di bawah Rp 5 miliar mengalami kontraksi secara bulanan. Seperti tiering Rp200-500 juta yang susut 0,5% (mtm) menjadi Rp720,16 triliun per November 2024. 

Untuk tiering nominal Rp500 juta sampai dengan 1 miliar juga susut 0,6% (mtm) menjadi Rp609,82 triliun. (Yetede)


Prospek Saham Bank Cerah Jika Suku Bunga Mulai Turun

HR1 02 Jan 2025 Kontan
Kinerja saham emiten bank besar pada tahun 2024 kurang memuaskan, dengan indeks sektor keuangan turun 4,51%. Meski demikian, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat kenaikan 2,93% dan tetap konsisten menguat selama 16 tahun terakhir. Sebaliknya, saham bank pelat merah, seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), mengalami penurunan paling dalam sebesar 28,73%.

Menurut Andrey Wijaya, Head of Research RHB Sekuritas, prospek sektor perbankan di 2025 tetap positif, terutama jika Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan, yang dapat meningkatkan margin bunga bersih dan mendorong pertumbuhan kredit.

Arinda Izzaty Hafiya, Junior Equity Analyst Pilarmas Investindo, juga memprediksi penurunan suku bunga oleh The Fed hingga 100 basis poin dapat mendorong BI untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut, mendukung permintaan pembiayaan. Arinda merekomendasikan beli saham BBRI dengan target harga Rp 5.625, BBCA Rp 12.025, dan BBNI Rp 6.350.

Namun, Rahmanto Tyas Raharja, Investment Analyst Lead Stockbit, mencatat kinerja BBRI tertekan oleh peningkatan biaya kredit yang mencapai 3,25% pada 2024, lebih buruk dari panduan maksimum manajemen sebesar 3%. Meski pertumbuhan kredit BBRI hanya 5%—di bawah rata-rata industri 9,6%—BBRI menunjukkan pertumbuhan positif dana murah. Manajemen BBRI menargetkan percepatan pertumbuhan kredit hingga 10%-12% di akhir 2024.

Saham-saham bank KBMI 4 tetap dianggap menarik, namun investor perlu mencermati fundamental, khususnya pada emiten seperti BBRI.

Jelang Tutup Tahun, Perbankan Cetak Laba Jumbo

KT1 31 Dec 2024 Investor Daily (H)
Menjelang tutup tahun 2024, industri perbankan berhasil mencetak laba jumbo di tengah tantangan ekonomi global dan domestik. Lima bank besar hingga November 2024 mengantongi laba bersih secara individual (back only) mencapai Rp173,65 triliun, meningkat 7,55% secara tahunan (year on year/yoy). 

Dari kelima bank papan atas yang telah mempublikasikan laporan keuangan bulan depan hingga November 2024, PT Bank Central Asia (BCA) menjadi jawara perolehan laba bersih secara individual. Kinerja bulanan tersebut mengungguli juara bertahan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI). Adapun BCA mengantongi laba bersih secara bank only sebesar Rp 50,47 triliun per November 2024, tumbuh tinggi 14,31% dibandingkan dengan periode sama tahun yang lalu senilai Rp44,15 triliun. Pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) bank swasta terbesar di Indonesia ini mencapai Rp70,26 triliun, naik 9,28% (yoy). (Yetede)

Ramai Konsolidasi dan Super App Kian Digandrungi

KT1 30 Dec 2024 Investor Daily (H)
Sepanjang tahun ini masih banyak bank yang berusaha memenuhi ketentuan regulator terkait aturan modal inti minimum. Salah satu yang didorong OJK adalah skema konsolidasi yang  merupakan wujud penguatan industri perbankan dan melahirkan perbankan yang lebih sehat, efisien, dan lebih berdaya saing, serta berkontribusi terhadap perekonomian nasional. 

Skema konsolilidasi yang dapat dilakukan oleh bank, antar lain melalui penggabungan, peleburan, integrasi; pengambilalihan diikuti dengan penggabungan peleburan, integrasi. Selain itu, pembentukan kelompok usaha bank (KUB) terhadap bank yang telah dimiliki; pembentukan KUB karena pemisahan UUS; atau pembentukan KUB karena pengambialihan. 

Tujuan konsolidasi juga untuk mendukung stabilitas dan pertumbuhan ekonomii yang tinggi, penguatan struktur, ketahanan, dan saya saing industri perbankan nasional juga sangat diperlukan dalam menghadapi dinamika perekonomian serta teknologi informasi domestik dan global. (Yetede) 

Industri Perbankan Masih Akan Dihadapkan Sejumlah Tantangan ke Depan

KT1 23 Dec 2024 Investor Daily (H)
Industri perbankan masih akan dihadapkan sejumlah tantangan ke depan, salah satunya daya beli masyarakat yang belum membaik.  Hal tersebut pada akhirnya bisa berdampak pada permintaan kredit yang tertekan pada 2025. Sementara itu, pemerintah juga telah menetapkan kebijakan pajak PPN 12% berlaku mulai 1 Januari 2025. Kebijakan ini diperkirakan mampu menyerap hingga Rp 75 trilun pendapatan negara, namun kekhawatiran akan berdampaknya pada kesejahteraan masyarakat tetap tinggi. Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja mengatakan, tahun depan masih dihadapkan dengan tantangan daya beli masyarakat yang lemah, meskipun ada kebijakan lain yaitu upah minimum provinsi (UMP) naik 6,5%. Sehingga untuk pertumbuhan kredit  juga akan lebih  berat bagi perbankan, apabila tidak ada permintaan dari nasabah. "Karena kalau memang daya beli rendah, orang sedikti belanja, belanja UMKM maupun komersial pabrik semua juga pada sepi. Biasanya enggak perlu kredit, nah jadi kreditnya agak berat gitu. Segmennya UMKM, komersial, konsumer juga kalau lihat KKB (kredit kendaraan bermotor) itu keliahatannya akan lebih soft," ucap Jahja. (Yetede)

Menjaga Rupiah Tetap Stabil

KT1 19 Dec 2024 Investor Daily (H)
Keputusan Bank Indonesia (BI) dalam mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 6% dinilai tepat, meski masih terdapat ruang untuk menurunkan suku bunga mengingat tingkat inflasi yang rendah. Hal ini dilakukan demi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah turbulensi perekonomian dunia. Keputusan untuk mempertahankan suku bunga di anagka 6% itu telah dilakukan oleh bank sentral dalam tiga bulan berturut-turut, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 17-18 Desember 2024 juga memutuskan suku bunga deposit Facility sebesar 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75%. Nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu (18/12/2024) ditutup menguat tipis 3 poin atau 0,02 persen ke level Rp16097 per dolar AS, setelah sebelumnya, nilai tukar rupiah terdepresiasi ke Rp 16.001 per dolar AS. Sementara laju IHSG berbalik arah ke zona merah pada perdagangan saham Rabu (18/12/2024). IHSG merosot 0,70% ke posisi 7.107,871. Indeks saham LQ45 turun 1% ke posisi 833,92. Sebagian besar indeks harga saham gabungan tertekan. (Yetede)

BI Banjiri Likuiditas

KT1 19 Dec 2024 Investor Daily (H)
Industri perbankan kembali mencatatkan pertumbuhan kredit yang menyusut per November 2024. Untuk mendorong  pertumbuhan kredit tahun depan, Bank Indonesia (BI) menyiapkan kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM). Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, pertumbuhan kredit/pembiayaan pada November 2024 tetap kuat, mencapai 10,79% secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini melambat dari bulan sebelumnya yang tumbuh 19,92% (yoy), meskipun masih dalam rentang target BI 10-12% (yoy) tahun ini. Dari sisi penawaran, kuatnya pertumbuhan kredit dipengaruhi oleh terjaganya minat penyaluran kredit perbankan, selanjutnya realokasi alat likuid ke kredit oleh perbankan, besarnya dukungan pendanaan dari pertumbuhan DPK, serta dampak positif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) BI yang disalurkan kepada sektor-sektor prioritas. Sektor tersebut antara lain, hilirisasi minerba dan pangan, otomotif, perdagangan, dan listrik, gas dan air, (LGA), pariwisata dan ekonomi kreatif, serta UMKM dan hijau. (Yetede)

BI Siap Borong SBN

KT1 19 Dec 2024 Investor Daily (H)
Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sepakat agar BI terlibat dalam pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sebesar  Rp150 triliun atau lebih pada 2025. Hal ini sebagai salah satu operasi moneter BI untuk beradaptasi menjaga resilensi perekonomian nasional. Adapun BI memiliki mandat untuk menjaga stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan membeli SBN di pasar sekunder, BI dapat mengatur likuiditas dalam sistem perbankan sekaligus mengendalikan inflasi serta juga bisa menjadi alat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Kesepakatan pembelian SBN di pasar sekunder pada 2025 diperkirakan akan melebihi jatuh tempo pembiayaan dalam skema berbagai  beban (burben Sharing) antara BI dana Kemenkeu, yang pernah dilakukan saat pandemi Covid-19. Untuk rencana operasi moneter 2025 dilakukan berdasarkan berbagai perkembangan mulai dari ruang primer, kebutuhan likuiditas, hingga ekspansi melalui pembelian SBN dari pasar sekunder. (Yetede)

Dilema Kebijakan Suku Bunga

HR1 19 Dec 2024 Bisnis Indonesia (H)
Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 6%, seperti yang diumumkan oleh Gubernur BI Perry Warjiyo, bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar global. Langkah ini diambil di tengah pelemahan rupiah yang sempat menyentuh Rp16.100 per dolar AS akibat ketegangan geopolitik dan rencana kebijakan proteksionis Donald Trump.

Namun, keputusan ini menuai kritik dari pelaku usaha. Shinta W. Kamdani, Ketua Umum Apindo, menyatakan bahwa suku bunga tinggi tidak cukup membantu mendorong pertumbuhan sektor riil dan bisa membatasi akses pembiayaan murah. Ia berharap BI mampu menyeimbangkan stabilitas nilai tukar dengan peningkatan daya saing ekonomi dalam negeri.

Dari sisi perbankan, Efdinal Alamsyah, Direktur PT Bank Oke Indonesia Tbk., menilai suku bunga tinggi membatasi minat korporasi untuk mengambil kredit baru, terutama untuk proyek dengan margin tipis. Namun, ia mengakui bahwa suku bunga bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi penyerapan kredit.

Sementara itu, menurut Suwandi Wiratno, Ketua Umum APPI, sektor multifinance relatif tidak terlalu terpengaruh oleh perubahan BI-Rate karena kompetisi bunga pembiayaan di industri ini sudah sangat ketat.

Langkah BI mempertahankan suku bunga 6% dinilai strategis untuk menjaga stabilitas rupiah, tetapi menghadapi tantangan dalam mendukung pertumbuhan sektor riil dan penyaluran kredit. Kolaborasi kebijakan moneter dan fiskal yang lebih terarah diperlukan untuk mendorong sektor usaha di tengah ketidakpastian ekonomi global.