;
Tags

Perbankan

( 2293 )

Bermasalah Sertifikat Ribuan Rumah KPR BTN

KT3 22 Jan 2025 Kompas
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk mendapati ribuan pengembang tidak menerbitkan sertifikat untuk proyek rumah yang dibeli menggunakan pembiayaan kredit pemilikan rumah atau KPR dari perseroan. Terhitung sejak 2019 hingga awal 2025, terdapat sedikitnya 120.000 unit rumah KPR BTN dengan permasalahan sertifikat. Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, BTN berupaya menuntaskan semua permasalahan, sembari menyempurnakan sistem verifikasi terhadap pengembang agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari. Ia memaparkan sebanyak 120.000 rumah KPR BTN dengan sertifikat bermasalah tersebut merupakan akumulasi temuan perseroan sejak 2019. Kasus ini terjadi akibat pengembang menghilang dan lepas daritanggung jawab, saat ditemukan adanya malaadministrasi atau kecacatan hukum dari unit rumah yang dijual.

Bersama Badan Pertanahan Nasional (BPN), lanjut Nixon, satu per satu masalah sertifikat rumah dituntaskan. Terhitung pada Selasa (21/1/2025) jumlah rumah KPR BTN dengan permasalahan sertifikat yang masih harus diselesaikan tercatat ada 38.144 unit rumah. Nilai total aset dari rumah KPR BTN yang sertifikatnya saat ini masih bermasalah mencapai Rp 1 triliun. ”Kami harapkan di tahun ini bisa selesai kurang lebih 15.000 unit rumah, kemudian tahun depannya (2026) bisa tuntas 15.000 unit rumah sehingga di tahun 2027, sisa-sisa masalah ini bisa selesai,” kata Nixon di gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa. Nixon menuturkan, penerbitan sertifikat merupakan tanggung jawab dan kewajiban dari pengembang. Kendati demikian, BTN berkomitmen memberikan pelayanan terbaik kepada nasabah. Oleh karena itu, perseroan secara maksimal dan aktif terlibat dalam menyelesaikan masalah sertifikat.

”Di lapangan ada sertifikat yang harusnya sudah selesai, tetapi tak kunjung diselesaikan developer ketika KPR sudah lunas. Di antara yang bermasalah ada (pengembang) yang bertanggung jawab, ada juga yang raib,” tambah Nixon. Pencegahan Untuk memitigasi agar kejadian serupa tidak terulang, BTN akan memberlakukan peringkat penilaian atau rating pada pengembang. Kategori penilaian diukur berdasarkan volume penjualan, pinjaman bermasalah (nonperforming loan/NPL) baik pengembang maupun kreditor, serta ambang batas waktu yang dipakai pengembang dalam mengurus sertifikat. BTN memberikan peringkat developer, yakni peringkat (rangking) platinum, gold, silver, dan tanpa peringkat. Untuk mencegah hal sama terulang, perseroan tidak akan bekerja sama atau menyalurkan kredit untuk proyek rumah pengembang yang mengalami penurunan peringkat secara signifikan. (Yoga)

Penurunan BI Rate: Saham Bank Kembali Menanjak

HR1 22 Jan 2025 Kontan
Pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) ke 5,75% membawa optimisme pada sektor perbankan di pasar modal. Praska Putrantyo, CEO Edvisor, menilai penurunan ini meningkatkan harapan pertumbuhan kredit perbankan hingga 11%-12% tahun ini, yang juga menarik minat investor asing pada saham bank. Saham Bank Negara Indonesia (BBNI) mencatat kenaikan signifikan sebesar 13,13% sepekan terakhir, sementara Bank Rakyat Indonesia (BBRI) naik 10,08%.

Ekky Topan, Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, menyebut tren penurunan saham bank telah berakhir dan musim pembagian dividen turut menjadi katalis positif. Ia memproyeksikan saham-saham bank besar, seperti BBNI, BBRI, BMRI, dan BBCA, akan terus menguat dalam jangka pendek. Namun, ia mengingatkan bahwa pertumbuhan laba bank tidak akan langsung melonjak signifikan, mengingat kondisi ekonomi masih memengaruhi kredit.

Royke Tumilaar, Direktur Utama BNI, menilai dampak positif penurunan BI rate terhadap likuiditas bank perlu didukung dengan kebijakan lain, seperti penurunan bunga SRBI. Hal ini penting untuk memastikan likuiditas yang lebih cair.

Lani Darmawan, Direktur Utama Bank CIMB Niaga, menyebut fokus banknya tahun ini adalah ekspansi sektor UMKM dan ritel untuk meningkatkan margin. Ia berharap penurunan suku bunga BI dapat mendorong permintaan kredit, meskipun dampaknya masih terlalu dini untuk diukur.

Meskipun penurunan suku bunga memberikan sentimen positif bagi saham perbankan, dampaknya terhadap kinerja keuangan bank diperkirakan baru terasa di kuartal II 2025.

BTN Siap Lahirkan Bank Syariah Terbesar Kedua di Indonesia

KT1 21 Jan 2025 Investor Daily (H)
Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) di awal tahun semakin mematangkan proses kelahiran bank syariah terbesar kedua di Indonesia. Terlihat dari proses akuisisi yang dimulai terhadap bank umum syariah, yakni PT Bank Victoria Syariah (BVIS). BTN menandatangani perjanjian jual beli bersyarat (Conditional Sales Purchase Agreement/CSPA) dengan para pihak pemegang saham BVIS dengan mengambil alih 100% saham BVIS dari para pemegang sahamnya, yakni PT Victoria Investama Tbk, PT Bank Victoria International Tbk, dan Balai harta Peninggalan (BPH) Jakarta. Adapun, Victoria Investama merupakan pemegang saham mayoritas BVIS dengan kepemilikan 80,18% saham, disusul bank Victoria International sebesar 19,80% dan BHP Jakarta 0.0016%. Melalui akuisisi tersebut, BTN akan menjadi pemilik penuh BVIS dengan kepemilikan saham sebanyk-banyaknya sebesar 100% dari seluruh modal ditempatkan disetor penuh dalam BVIS dengan total nominal sebesar Rp1,06 triliun. BTN melakukan pembelian BVISI dengan sumber pendanaan internal yang telah disiapkan sesuai rencana bank. (Yetede)

Peta Persaingan Industri Bank Syariah Semakin Kompetitif

KT3 21 Jan 2025 Kompas
Peta persaingan industri perbankan syariah diharapkan dapat semakin kompetitif seiring dengan terbentuknya bank syariah baru beraset besar. Saat ini terdapat dua unit usaha syariah perbankan yang telah memenuhi kriteria untuk membentuk bank umum syariah baru sehingga dapat meramaikan peta persaingan industri. Ekonom dan Direktur Eksekutif Segara Research Institute Piter Abdullah menilai, industri perbankan syariah membutuhkan penguatan struktur, antara lain dengan membentuk bank syariah baru yang besar. Hal ini penting dilakukan agar pangsa pasar perbankan syariah tidak dikuasai oleh segelintir bank syariah saja. ”Konsolidasi perbankan syariah selama ini, kan, agak mandek.Makanya, OJK harus memaksa bank-bank itu supaya mau melakukan merger,” ujar Piter saat dihubungi dari Jakarta, Senin (20/1/2024). Ketentuan mengenai merger bank syariah tersebut diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 12 Tahun 2023 tentang Unit Usaha Syariah (UUS). Regulasi ini mengatur pemisahan wajib dilakukan bagi UUS dengan nilai aset 50 persen dari total aset bank konvensional induk dan/atau jumlah aset UUS paling sedikit Rp 50 triliun.

Berdasarkan ketentuan tersebut, terdapat dua UUS perbankan yang masuk dalam kriteria wajib melakukan pemisahan (spin-off), yakni UUS milik PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN dan PT Bank CIMB Niaga Tbk. Merujuk pada laporan keuangan pada triwulan III-2024, aset UUS BTN tercatat Rp 57,7 triliun, sedangkan aset UUS CIMB Niaga sebesar Rp 65,99 triliun. BTN mengumumkan telah memulai tahapan akuisisi terhadap PT Bank Victoria Syariah senilai Rp 1,06 triliun. Hal ini terjadi setelah BTN menandatangani perjanjian jual beli bersyarat (conditional sales purchase agreement/CSPA) dengan para pihak pemegang saham Bank Victoria Syariah pada 15 Januari 2025. Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu dalam siaran persnya mengatakan, aksi korporasi ini merupakan bagian dari rencana BTN untuk membentuk bank umum syariah melalui strategi anorganik. Setelah mendapatkan persetujuan dari regulator, BTN akan memisahkan UUS BTN (BTN Syariah) dan mengintegrasikannya ke dalam Bank Victoria Syariah. (Yoga)

Perbankan Pelat Merah Makin Mendominasi

HR1 21 Jan 2025 Kontan (H)
PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) mengumumkan akuisisi 100% saham PT Bank Victoria Syariah (BVS), dengan rencana mengintegrasikan BVS ke BTN Syariah. Menurut Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu, langkah ini akan membuat aset BTN Syariah mencapai Rp 67 triliun, melampaui Bank CIMB Niaga Syariah (Rp 65,9 triliun per September 2024), dan menjadikannya bank syariah terbesar kedua setelah PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI). Nixon menegaskan, ini sejalan dengan harapan OJK untuk mempercepat pertumbuhan keuangan syariah di Indonesia.

Di sisi lain, Direktur Syariah CIMB Niaga, Pandji P. Djajanegara, menyatakan pihaknya akan melakukan spin off unit usaha syariahnya tanpa akuisisi. Namun, proses tersebut masih dalam tahap analisis.

Menurut Direktur Eksekutif Segara Research Institute, Piter Abdullah, dominasi bank pelat merah di perbankan konvensional dan syariah bukanlah masalah, karena kepercayaan masyarakat terhadap bank BUMN lebih tinggi. Bank swasta perlu bekerja lebih keras untuk bersaing. Hal ini didukung oleh Direktur KNEKS, Sutan Emir Hidayat, yang menilai bank pelat merah lebih mudah diarahkan untuk mendukung ekonomi syariah dibanding bank swasta, yang cenderung hanya menjalankan bisnis syariah secara pasif.

Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, menekankan pentingnya langkah konsolidasi bagi bank syariah, baik BUMN maupun swasta, untuk menciptakan struktur industri perbankan syariah yang lebih baik dan seimbang.

Perbankan Butuh Insentif untuk Menjaga Stabilitas Likuiditas

HR1 21 Jan 2025 Kontan
Penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang terus terserap rata-rata Rp 15 triliun dalam tiga lelang terakhir masih membayangi industri perbankan, terutama terkait ketatnya likuiditas. Pada kuartal I-2025, SRBI jatuh tempo mencapai Rp 178 triliun, menandakan kondisi likuiditas belum akan membaik dalam waktu dekat.

Menurut Erwin Wijaya, Research Analyst Verdhana Sekuritas Indonesia, salah satu solusi yang diperlukan adalah pemangkasan rasio Giro Wajib Minimum (GWM) dari 9% menjadi sekitar 3%-5%. Ia menyebutkan bahwa setiap penurunan GWM sebesar 1% dapat meningkatkan likuiditas hingga Rp 90 triliun, yang berpotensi menurunkan biaya pendanaan dan suku bunga kredit.

Juda Agung, Deputi Gubernur BI, menyoroti keberhasilan insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) dalam mendorong pertumbuhan kredit perbankan hingga 10,39% di 2024. Tanpa insentif ini, pertumbuhan hanya mencapai 9,6%. Meski begitu, Juda menyatakan KLM memiliki batasan dan hanya berlaku untuk kredit di sektor prioritas.

Direktur Kepatuhan Bank Oke, Efdinal Alamsyah, menilai insentif KLM efektif dalam meningkatkan penyaluran kredit dan stabilitas likuiditas. Namun, ia menekankan bahwa tambahan pengurangan GWM tetap dibutuhkan, terutama menghadapi perlambatan ekonomi atau ketidakpastian global. Hingga Desember 2024, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank Oke berada di angka tinggi, yaitu 132%, turun dari 143% pada kuartal I-2024.

Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, juga mendukung tambahan insentif GWM dan mempertahankan KLM. Ia menyebutkan rasio LDR CIMB Niaga berada di angka 85% dengan likuiditas yang lebih longgar berkat KLM. Menurutnya, insentif ini membantu partisipasi bank sesuai risk appetite masing-masing.

Pedal Rem Ekonomi BI Semakin Dilepas

KT3 20 Jan 2025 Kompas
Setelah menurunkan suku bunga acuan menjadi 6 persen pada September 2024, Bank Indonesia akhirnya kembali memangkasnya sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Keputusan ini cukup mengejutkan lantaran di luar ekspektasi pasar yang memperkirakan suku bunga tetap dipertahankan. Langkah ini terbilang cukup berani di tengah pelemahan kurs rupiah. Namun, BI sepertinya melihat ruang bagi pemangkasan suku bunga acuan telah terbuka dengan mempertimbangkan indikator ekonomi global dan nasional. Dari sisi global, arah kebijakan Pemerintah AS perlahan mulai tampak terang. Kemudian, kebijakan suku bunga The Fed juga mulai tampak arahnya, yakni pemangkasan sebesar 50 bps pada 2025. Dari berbagai indikator global tersebut, BI telah memperkirakan arah pergerakan indeks dollar AS (DXY), yang sebelumnya menyentuh titik tertinggi mencapai 110, dan kini cenderung bergerak turun. Di sisi lain, indikator ekonomi domestik turut menjadi pertimbangan BI, salah satunya inflasi. Selain berada di ambang batas bawah target, tingkat inflasi tahunan pada 2024 juga menjadi yang terendah sejak 1958, saat pertama kali Badan Pusat Statistik menghitung inflasi.

Kemudian, tingkat inflasi pada 2025 dan 2026 diperkirakan masih tetap akan berada dalam sasaran 1,5-3,5 persen. Rendahnya tingkat inflasi tersebut memberikan kepercayaan diri bagi BI untuk memangkas suku bunga acuan. Selain itu, perkembangan cadangan devisa terkini juga kian menambah keyakinan BI dalam mengambil keputusan krusial tersebut. Posisi cadangan devisa Indonesia pada Desember 2024 mencapai titik tertingginya sepanjang masa, yakni 155,7 miliar dollar AS. Kendati demikian, BI turut mencermati pergerakan nilai tukar rupiah yang tidak lepas dari rambatan dampak dinamika global. Meski telah menembus level Rp 16.000 per dollar AS, pergerakan nilai tukar rupiah dinilai relatif stabil dan akan cenderung bergerak sejalan dengan nilai fundamentalnya. Hal ini tampak dari perkembangan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Hingga 14 Januari 2025, rupiah hanya terdepresiasi 1 persen dibandingkan akhir 2024. Perkembangan itu relatif lebih baik dibandingkan dengan mata uang regional lainnya, seperti rupee India yang melemah 1,2 persen, peso Filipina sebesar 1,33 persen, dan baht Thailand sebesar 1,92 persen. (Yoga)
\

Super App Jadi Mesin Pendapatan Perbankan

KT1 20 Jan 2025 Investor Daily (H)
Di tengah margin bunga bersih (net interest margin NIM) yang terus menurun, perbankan terus menggenjot transaksi super app untuk mendongkrak perolehan pendapatan berbasis komisi (fee based income/FBI). Hal tersebut juga sebagai kompensasi pedapatan bunga yang melandai, hingga laba yang diraup tetap besar. Bank Indonesia mencatat pembayaran digital mencapai 34,5 miliar transaksi per Desember 2024 atau tumbuh 36,1% (yoy) yang didukung oleh seluruh komponennya. Volume transaksi pada aplikasi mobile melesat 39,1% (yoy), demikian pula volume transaksi pada internet yang tumbuh sebesar 4,4% (yoy) pada tahun 2024. Pembayaran digital diproyeksikan meningkat 52,3% (yoy) pada tahun 2025. Seperti Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk (BRI) yang terus mengembangkan BRImo, super app yang menjadi andalan masyarakat untuk kebutuhan layanan keuangan. Hingga akhir Desember 2024, jumlah pengguna BRImo telah mencapai 38,61% juta, atau tumbuh sebesar 22,12% year on year (yoy). Total transaksi yang diproses melalui BRImo mencapai 4,32 miliar transaksi, meningkat sebanyak 40,54% secara yoy. Dari sisi nilai, transaksi melalui BRImo memberikan kontribusi fee based income dari sebesar Rp2,97 triliun atau tumbuh sebesar 22,19% (yoy). Capaian ini menunjukkan keberhasilan BRI dalam mengoptimalkan ekosistem digital untuk memperkuat diversifikasi pendapatan berbasis jasa. 

Fenomena Makan Tabungan: Menunggu Titik Balik Konsumsi

HR1 20 Jan 2025 Kontan
Fenomena "makan tabungan" di Indonesia terus berlanjut, terlihat dari penurunan rata-rata nominal simpanan rumah tangga di rekening tabungan perbankan. Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan rata-rata simpanan per rekening tabungan pada November 2024 turun menjadi Rp 4,16 juta, dibandingkan Rp 4,33 juta pada November 2023.

Menurut Efdinal Alamsyah, Direktur Kepatuhan Bank Oke, fenomena ini mencerminkan tekanan ekonomi yang memaksa rumah tangga menggunakan tabungan untuk kebutuhan sehari-hari, seiring kenaikan biaya hidup. Hal ini juga diperkuat oleh Muhammad Iqbal, Direktur SME dan Retail Funding BTN, yang menyebutkan bahwa saldo tabungan dengan nominal kecil di BTN turun signifikan, menjadi Rp 1,8 juta pada November 2024.

Namun, Iqbal optimistis saldo tabungan bisa meningkat seiring penurunan suku bunga acuan (BI rate) dan berbagai program pemerintah, seperti program makan siang gratis dan 3 juta rumah.

Di sisi lain, SVP Retail Deposit Product & Solution Bank Mandiri, Evi Dempowati, mencatat bahwa Dana Pihak Ketiga (DPK) ritel di Bank Mandiri justru tumbuh lebih dari 8% secara tahunan pada November 2024.

David Sumual, Kepala Ekonom Bank Central Asia, memandang penurunan BI rate bisa membantu meredam fenomena makan tabungan, meskipun dampaknya baru terasa di semester II-2025. Ia juga menyoroti bahwa masyarakat kelas menengah bawah mulai bergantung pada pinjaman daring akibat tekanan ekonomi. David menilai, kenaikan harga komoditas, terutama minyak sawit mentah (CPO), kopi, dan cokelat, dapat mengurangi tekanan ekonomi dan fenomena ini di masa mendatang.

Bank Kucurkan Dividen Besar Berkat Modal yang Kuat

HR1 18 Jan 2025 Kontan
Bank-bank besar di Amerika Serikat mulai berani mengembalikan lebih banyak dana kepada pemegang saham melalui pembayaran dividen dan pembelian kembali saham (buyback). Berdasarkan data Bloomberg, enam bank terbesar di AS telah mengalokasikan lebih dari US$ 100 miliar untuk dividen dan buyback saham pada tahun 2024, menjadi nilai tertinggi sejak 2021.

Citigroup Inc. menjadi sorotan setelah akhirnya memutuskan buyback saham senilai US$ 20 miliar, meskipun sebelumnya fokus pada investasi di manajemen risiko. CFO Citigroup, Mark Mason, menyebut buyback saham sebagai strategi untuk menunjukkan kepada investor bahwa nilai saham perusahaan masih undervalued.

Jeremy Barnum, Direktur Keuangan JPMorgan Chase & Co., menyatakan bahwa perusahaan memiliki cukup banyak modal berlebih yang dihasilkan dari operasi dan laba. Dengan minimnya peluang investasi jangka pendek, JPMorgan memilih mengembalikan modal kepada pemegang saham melalui buyback. Aksi ini disukai investor karena dapat mengurangi jumlah saham beredar, sehingga meningkatkan nilai saham.

David Solomon, CEO Goldman Sachs Group Inc., optimistis terhadap kondisi perbankan AS. Ia berharap ada perubahan kebijakan di bawah pemerintahan baru, yang memungkinkan bank memiliki lebih banyak uang tunai untuk disalurkan sebagai kredit, tanpa tekanan untuk menambah modal berlebih.

Aksi ini menunjukkan bahwa bank-bank besar AS kembali fokus pada peningkatan nilai bagi pemegang saham, didukung oleh kondisi ekonomi yang lebih stabil dan peluang bisnis yang cerah.