Pedal Rem Ekonomi BI Semakin Dilepas
Setelah menurunkan suku bunga acuan menjadi 6 persen pada September 2024, Bank Indonesia akhirnya kembali memangkasnya sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Keputusan ini cukup mengejutkan lantaran di luar ekspektasi pasar yang memperkirakan suku bunga tetap dipertahankan. Langkah ini terbilang cukup berani di tengah pelemahan kurs rupiah. Namun, BI sepertinya melihat ruang bagi pemangkasan suku bunga acuan telah terbuka dengan mempertimbangkan indikator ekonomi global dan nasional. Dari sisi global, arah kebijakan Pemerintah AS perlahan mulai tampak terang. Kemudian, kebijakan suku bunga The Fed juga mulai tampak arahnya, yakni pemangkasan sebesar 50 bps pada 2025. Dari berbagai indikator global tersebut, BI telah memperkirakan arah pergerakan indeks dollar AS (DXY), yang sebelumnya menyentuh titik tertinggi mencapai 110, dan kini cenderung bergerak turun. Di sisi lain, indikator ekonomi domestik turut menjadi pertimbangan BI, salah satunya inflasi. Selain berada di ambang batas bawah target, tingkat inflasi tahunan pada 2024 juga menjadi yang terendah sejak 1958, saat pertama kali Badan Pusat Statistik menghitung inflasi.
Kemudian, tingkat inflasi pada 2025 dan 2026 diperkirakan masih tetap akan berada dalam sasaran 1,5-3,5 persen. Rendahnya tingkat inflasi tersebut memberikan kepercayaan diri bagi BI untuk memangkas suku bunga acuan. Selain itu, perkembangan cadangan devisa terkini juga kian menambah keyakinan BI dalam mengambil keputusan krusial tersebut. Posisi cadangan devisa Indonesia pada Desember 2024 mencapai titik tertingginya sepanjang masa, yakni 155,7 miliar dollar AS. Kendati demikian, BI turut mencermati pergerakan nilai tukar rupiah yang tidak lepas dari rambatan dampak dinamika global. Meski telah menembus level Rp 16.000 per dollar AS, pergerakan nilai tukar rupiah dinilai relatif stabil dan akan cenderung bergerak sejalan dengan nilai fundamentalnya. Hal ini tampak dari perkembangan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Hingga 14 Januari 2025, rupiah hanya terdepresiasi 1 persen dibandingkan akhir 2024. Perkembangan itu relatif lebih baik dibandingkan dengan mata uang regional lainnya, seperti rupee India yang melemah 1,2 persen, peso Filipina sebesar 1,33 persen, dan baht Thailand sebesar 1,92 persen. (Yoga)
\
Tags :
#PerbankanPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023