;
Tags

Perbankan

( 2293 )

Sucor Asset Menagement Terus Memperkuat Jaringan Distribusi

KT1 31 Jan 2025 Investor Daily (H)
Sucor Asset menagement terus memperkuat jaringan distribusi dengan memperluas kemitraan bersama Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) berbasis perbankan. Dalam setahun terakhir, Sucor Asset Management telah menjalin kerja sama strategis dengan beberapa bank terkemuka, termasuk Bank Danamon, Bank Syariah Indonesia (BSI), SMBC Indonesia, dan yang terbaru, Bank Mandiri. kemitraan ini memungkinkan lebih banyak nasabah perbankan untuk mengakses produk reksa dana unggulan dari Sucor Asset Management. Dengan jaringan distribusi yang semakin luas, perusahaan berkomitmen untuk memberikan layanan investasi yang lebih mudah diakses serta meningkatkan literasi keuangan bagi masyarakat Indonesia. Kolaborasi dengan berbaai APERD bank ini juga memperkuat posisi Sucor Asset Management dalam menyediakan solusi investasi yang komprehenshif dan sesuai dengan kebutuhan para nasabah. Presiden Direktur Sucor Management Jemmy Paul Wawointana menyampaikan, "Nasabah kini dapat membeli produk reksa dana  dan Sucor Management secara langsung melalui cabang-cabang representative masing-masing bank mitra, seperti D-Bank PRO dari Bank Danamon, Jenius dari SMBC Indonesia, dan Livin' dari Bank Mandiri,". (Yetede)

PT Bank Mandiri Terus Memperkuat Perannya Sebagai Mitra Keuangan Utama bagi PMI

KT1 31 Jan 2025 Investor Daily (H)
PT Bank mandiri (Persero) Tbk terus memperkuat perannya sebagai mitra keuangan utama bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI), dengan mengadirkan solusi inovatif dalam layanan remitansi. Hasilnya, nilai transaksi remitansi masuk (incoming) yang dikelola Bank Mandiri telah mencapai hampir  Rp 2 triliun pada akhir 2024, melonjak 60% secara tahunan year on year (yoy). Pencapaian ini tidak hanya menunjukkan kepercayaan tinggi diaspora Indonesia, tetapi juga mempertegas komitmen Bank Mandiri dalam mendukung Asta Cita Presiden Prabowo Subianto nomor tiga, yaitu penguatan pertumbuhan ekonomi berbasi inklutivitas dan pemberdayaan masyarakat. SVP Retail Deposit Produk Sales Bank Mandiri Evi Dempowati menjelaskan, pertumbuhan signifikan  ini didorong oleh semakin meningkatnya jumlah PMI di luar negeri  serta inovasi teknologi yang dihadirkan Bank mandiri. "Sejak awal, kami memiliki misi untuk dapat menjadi solusi dan mitra finansial utama masyarakat, terutama PMI baik didalam maupun di luar negeri. Pertumbuhan ini, menjadi momentum kami untuk terus  meningkatkan layanan agar dapat memenuhi seluruh kebutuhan nasabah," ungkap Evi. (Yetede)

Saham BCA Mengalami Peningkatan

HR1 30 Jan 2025 Bisnis Indonesia

BCA berhasil menutup tahun 2024 dengan laba sebesar Rp54,8 triliun, tumbuh 12,7% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan pencapaian ini didorong oleh pertumbuhan kredit yang mencapai 13,8% menjadi Rp922 triliun. Perseroan berhasil mengelola beban dana dengan mengurangi porsi deposito dan meningkatkan dana murah berupa giro dan tabungan, yang berkontribusi pada pertumbuhan bunga bersih sebesar 9,5% YoY. Selain itu, pendapatan non-bunga BCA juga tercatat tumbuh 10,2% YoY.

Meski demikian, saham BBCA mengalami penurunan, yang diindikasikan sebagai efek dari "sell on news," namun beberapa analis seperti Phintraco Sekuritas dan Sucor Sekuritas memproyeksikan kinerja saham BBCA akan tetap positif berkat fundamental yang kuat dan likuiditas yang terjaga. Ke depan, BCA diharapkan dapat terus meningkatkan imbal hasil kredit, terutama di segmen konsumen, dan dihadapkan pada tantangan pertumbuhan kredit yang melambat serta potensi cost of credit yang lebih tinggi.

BCA juga berencana untuk menebar dividen kepada pemegang saham, dengan tujuan untuk terus meningkatkan nominal dividen setiap tahunnya, sesuai dengan komitmen yang telah disampaikan oleh Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja. Besaran dividen tahun buku 2024 akan diumumkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST).


Pendapatan Bunga Tertekan, Bank Mencari Solusi

HR1 30 Jan 2025 Kontan
Dua bank besar Indonesia, BCA dan BNI, mengalami penurunan laba kuartalan di Q4 2024, meskipun secara tahunan tetap mencatat pertumbuhan. Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja, menyebutkan bahwa perlambatan pertumbuhan pendapatan bunga bersih serta koreksi pendapatan non-bunga menjadi penyebab utama penurunan laba BCA sebesar 3,1% menjadi Rp 13,8 triliun. BCA juga berhati-hati dalam menetapkan suku bunga agar tidak kehilangan dana simpanan nasabah.

Di sisi lain, BNI mengalami penurunan laba lebih besar, yakni 8,2% menjadi Rp 5,15 triliun, dengan lonjakan biaya provisi sebesar 50,3% akibat antisipasi utang PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex). Direktur Keuangan BNI, Novita W. Anggraini, menegaskan bahwa bank telah melakukan pencadangan untuk menjaga kualitas aset, tercermin dari penurunan rasio LaR dari 12,9% (2023) menjadi 10,2% (2024) serta NPL gross yang membaik menjadi 2%.

Baik BCA maupun BNI menerapkan strategi kehati-hatian dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi di 2025, dengan pendekatan prudent dalam penyaluran kredit serta penguatan fundamental keuangan agar tetap tumbuh secara berkelanjutan.

Kredit Korporasi Dongkrak Kinerja Perbankan

KT1 30 Jan 2025 Investor Daily (H)
Sepanjang 2024 pertumbuhan kredit perbankan didorong dari golongan dibeditur korporasi, baik untuk modal kerja maupun investasi. Dari kredit korporasi tersebut, sektor hilirisasi menjadi pengungkit kredit perbankan, dan diyakini berlanjut pada tahun ini. Bank Indonesia mencatatkan, dari golongan debitur, kredit korporasi per Desember 2024 tumbuh 14,8% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp4.185,1 triliun. Sedangkan, kredit perorangan naik 2,9% (yoy) menjadi Rp3.442,7 triliun. Dari data tersebut, kredit korporasi menjadi katalis pertumbuhan kredit perbankan 2024. Sementara itu, OJK juga mencatat, pertumbuhan kredit perbankan sepanjang 2024 mencatatkan double digit growth sebesar 10,39% (yoy) menjadi Rp7.827 triliun, didorong oleh kredit investasi yang tumbuh tinggi sebesar 13,62% (yoy) dan diikuti oleh kredit konsumsi 10,61% (yoy), sedangkan kredit modal kerja tumbuh 8,35% (yoy). Terkait data tersebut, Presiden Direktur PT Bank central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja mengatakan, kredit korporasi BCA pada 2024 tumbuh tinggi, 15,7% (yoy). Pertumbuhan tersebut dari macam-macam industri, seperti CPO dan mineral (hilirisasi) tumbh 7,5-8%. Artinya, sebagian pertumbuhan kredit korporasi BCA disumbang dari hilirisasi dan CPO sepanjang 2024. (Yetede)

Manufaktur Diproyeksikan Jadi Motor Kredit

HR1 28 Jan 2025 Kontan
Sektor manufaktur diprediksi menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan kredit perbankan di awal 2025. Hal ini didukung oleh ekspansi Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia ke level 51,2 pada Desember 2024, menandakan peningkatan aktivitas setelah lima bulan kontraksi.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Juda Agung, menilai wajar jika sektor manufaktur menjadi prioritas kredit perbankan karena sektor ini memiliki pangsa besar dalam ekonomi dan menyerap banyak tenaga kerja. Ditambah lagi, sektor manufaktur mendapatkan insentif kebijakan likuiditas makroprudensial (KLM) dari BI, yang memberikan pengurangan giro wajib minimum (GWM) bagi bank yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menekankan bahwa pertumbuhan industri manufaktur tidak hanya bergantung pada kredit, tetapi juga pada faktor lain seperti ketersediaan sumber daya manusia, infrastruktur, kepastian hukum, dan kemudahan investasi.

Dari sisi perbankan, Bank Mandiri optimis terhadap sektor manufaktur, dengan pertumbuhan kredit ke sektor pengolahan mencapai 20,43% secara tahunan per November 2024, menurut Direktur Keuangan Bank Mandiri, Sigit Prastowo. BCA juga mencatat penyaluran kredit sebesar Rp 199,3 triliun ke sektor manufaktur per Desember 2024, tumbuh 8% secara tahunan, dengan komitmen menjaga prinsip kehati-hatian, ujar EVP Corporate Communication BCA, Hera F Haryn.

Meskipun pertumbuhan kredit manufaktur masih di bawah pertumbuhan kredit industri secara keseluruhan (8,95% vs 10,39% yoy), sektor ini tetap menjadi salah satu prioritas utama perbankan dalam mendukung pemulihan ekonomi.

Kalangan Bankir Cukup Optimistis Pasokan Likuiditas Valas akan Memadai

KT1 24 Jan 2025 Investor Daily (H)
Kalangan bankir cukup optimistis pasokan likuiditas valuta asing (valas) akan memadai. Hal tersebut sejalan dengan kebijakan baru pemerintah bagi para eksportir untuk memarkir 100% Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA) di dalam negeri minimal selama setahun. Kebijakan tersebut tentunya akan  menambah likuditas valas perbankan. Lantaran dari aturan sebelumnya yang mewajibkan para eksportir memarkir 30% DHE SDA selama tiga bulan sudah memberikan dampak positif bagi perbankan. Berdasarkan data Bank Indonesia, simpanan valas perbankan per Desember 2024 tercatat Rp 1.268,3 triliun, tumbuh tipis 1% secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan dengan posisi November 2024 yang tumbuh 4,4% (yoy). Apabila dirinci, giro valas mengalami kontraksi 4,8% (yoy) menjadi Rp 724,8 triliun. Berikutnya, tabungan valas tumbuh 7,7% (yoy) menjadi Rp184,4 triliun, dan simpanan berjangka valas meningkat 11,1% (yoy) menjadi Rp359 triliun. Ketiganya mengalami pertumbuhan yang melambat apabila dibandingkan dengan posisi November 2024. 

Perbankan Masih Bergulat dengan Tingginya Biaya Dana

HR1 24 Jan 2025 Kontan
Meskipun Bank Indonesia (BI) telah memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke level 5,75%, perbankan masih akan menghadapi biaya dana (cost of fund) yang tinggi hingga paruh pertama 2025. Hal ini disebabkan oleh ketatnya likuiditas dan persaingan yang sengit dalam merebut dana pihak ketiga (DPK), sehingga bank belum berani menurunkan suku bunga simpanannya.

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan bahwa LPS akan mempertahankan suku bunga penjaminan di level 4,25% hingga Mei 2025. Ia menjelaskan bahwa meskipun BI Rate turun, reaksi pasar masih lambat, dan ada tekanan terhadap rupiah. Oleh karena itu, kebijakan ini bertujuan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan.

Presiden Direktur Bank Central Asia (BCA), Jahja Setiatmadja, mengungkapkan bahwa salah satu faktor utama yang menahan penurunan bunga deposito adalah persaingan dengan instrumen investasi lain seperti Surat Berharga Negara (SBN) yang menawarkan imbal hasil tinggi. Jika bank menurunkan bunga deposito terlalu cepat, ada risiko nasabah akan mengalihkan dana mereka ke SBN atau bank lain.

Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk, Lani Darmawan, juga memperkirakan bahwa tren biaya dana yang mahal masih akan berlanjut, meskipun BI Rate telah turun. Sementara itu, Direktur Bisnis Bank J Trust Indonesia, Widjaja Hendra, menambahkan bahwa untuk tetap kompetitif dalam menarik DPK, bank harus tetap menawarkan suku bunga tinggi, karena masyarakat Indonesia cenderung memilih bank dengan bunga simpanan yang menarik.

Dengan kondisi ini, bank masih perlu berhati-hati dalam mengelola likuiditas mereka. Sementara bank besar seperti BCA relatif lebih stabil dengan rasio dana murah yang tinggi, bank lain masih harus beradaptasi dengan persaingan ketat di pasar.

Turunnya Bunga Acuan Membawa Harapan Baru Kredit

HR1 23 Jan 2025 Kontan
Penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) sebesar 25 basis poin ke 5,75% memunculkan optimisme pada sektor perbankan untuk meningkatkan penyaluran kredit di 2025. Sigit Prastowo, Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri, menyebut penurunan suku bunga memberikan peluang bagi pertumbuhan kredit, terutama di sektor farmasi, kesehatan, dan makanan-minuman yang dianggap lebih tangguh. Kredit Bank Mandiri per November 2024 telah tumbuh 22,69% secara tahunan menjadi Rp 1.283,44 triliun.

Lani Darmawan, Presiden Direktur Bank CIMB Niaga, optimistis bahwa penurunan bunga dapat menekan biaya dana dan mendorong pertumbuhan kredit di segmen UMKM, kredit kendaraan bermotor (KKB), dan kartu kredit. Bank CIMB Niaga menargetkan pertumbuhan double-digit untuk KKB dan 10% untuk kredit UMKM, dengan kredit keseluruhan tumbuh 4,65% per November 2024.

Novita Widya Anggraini, Direktur Finance BNI, menargetkan pertumbuhan kredit 8%-10% di tahun 2025, dengan fokus pada segmen korporasi di sektor komunikasi, infrastruktur, dan perindustrian, serta segmen konsumer seperti payroll dan mortgage joint financing. Kredit BNI per Desember 2024 tumbuh 11,62% secara tahunan menjadi Rp 775,87 triliun.

Arianto Muditomo, pengamat perbankan, menilai penurunan BI rate berpotensi menarik minat nasabah untuk mengambil kredit dan menurunkan biaya pinjaman bagi debitur. Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan kebijakan ini bergantung pada respons pasar. Jika sentimen konsumen dan bisnis masih terpengaruh ketidakpastian global, dampaknya pada pertumbuhan kredit mungkin terbatas.

Sektor perbankan optimis menghadapi 2025 dengan dukungan kebijakan penurunan suku bunga, meski tetap perlu waspada terhadap tantangan global.

Upaya Tak Kenal Lelah Mengejar Dana Murah

HR1 23 Jan 2025 Bisnis Indonesia (H)

Kalangan perbankan di Indonesia akan terus melanjutkan strategi optimalisasi pengumpulan dana murah, terutama melalui tabungan, sepanjang tahun ini. Meskipun Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuan, tantangan likuiditas dan biaya dana masih menjadi kendala bagi pasar keuangan. Beberapa bank, seperti PT Bank Negara Indonesia (BNI), PT Bank Central Asia (BCA), dan PT Bank Oke Indonesia, mengandalkan dana murah untuk menjaga kestabilan operasional dan meningkatkan daya saing di tengah tekanan likuiditas yang ketat. Strategi ini terbukti berhasil bagi BNI, yang mencatatkan pertumbuhan laba dan tabungan yang signifikan berkat transformasi digital. Bank-bank ini juga mengoptimalkan layanan dan produk mereka untuk mempertahankan likuiditas dan menghadapi tantangan ekonomi.