;
Tags

Perbankan

( 2293 )

Perbankan 2025: Peluang di Tengah Tantangan

HR1 17 Jan 2025 Bisnis Indonesia
Tahun 2025 menjadi tahun penuh tantangan bagi industri perbankan, meskipun terdapat kebijakan strategis dari pemerintah seperti pembatasan kenaikan PPN menjadi 12% hanya untuk barang mewah. Pertumbuhan kredit dan Dana Pihak Ketiga (DPK) terus meningkat, masing-masing mencapai 10,79% dan 7,54% pada 2024, menunjukkan agresivitas bank dalam penyaluran kredit. Namun, bank menghadapi beberapa tantangan utama, Kenaikan harga barang dan inflasi, Presiden Prabowo Subianto menegaskan kenaikan PPN hanya berlaku untuk barang mewah seperti jet pribadi dan kapal pesiar, guna melindungi daya beli masyarakat. Inflasi saat ini mencapai 1,57%, masih di bawah target, tetapi kenaikan harga kebutuhan pokok berpotensi memperburuk daya beli.

Penghapusbukuan kredit macet UMKM, Berdasarkan PP No. 47/2024, bank BUMN harus menghapus tagih kredit macet UMKM. Langkah ini, meski mendukung pembiayaan UMKM, mewajibkan bank untuk berhati-hati agar tidak melanggar prinsip tata kelola yang baik. Direktur bank bertanggung jawab secara hukum hanya jika ada iktikad buruk.

Pembayaran premi Program Restrukturisasi Perbankan (PRP), Premi ini mulai berlaku per 1 Januari 2025 sesuai PP No. 34/2023, yang bertujuan menangani masalah bank dengan dana internal industri. Namun, dikhawatirkan premi ini dapat meningkatkan suku bunga kredit jika dibebankan kepada nasabah.

Risiko likuiditas, Untuk mengatasi risiko likuiditas, OJK telah menetapkan POJK No. 19/2024 dan POJK No. 20/2024, yang menetapkan kewajiban pemenuhan rasio likuiditas (LCR) dan pendanaan stabil bersih (NSFR). Saat ini, LCR berada di 222,70% dan NSFR di 129,50%, menunjukkan likuiditas bank yang solid.

Pentingnya uji stres, Bank wajib melakukan uji tes (stress test) secara berkala untuk memastikan daya tahan mereka menghadapi kondisi kritis dan menjaga risiko likuiditas tetap terkendali.

Meski menghadapi tantangan seperti inflasi, risiko kredit macet, dan penyesuaian likuiditas, industri perbankan diproyeksikan tetap bertumbuh solid pada 2025 dengan dukungan regulasi dan langkah strategis yang diterapkan oleh OJK dan pemerintah.

Dividen Final Bank: Harapan Investor Tahun Ini

HR1 17 Jan 2025 Kontan
Investor pasar saham menaruh perhatian besar pada dividen dari bank-bank besar (big caps), yang dikenal royal dalam pembagian dividen. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menjadi yang paling dermawan dengan rasio pembayaran dividen mencapai minimal 80% dalam tiga tahun terakhir. Bank Mandiri (BMRI) membagikan dividen sebesar 60% dari laba dalam empat tahun terakhir, sementara Bank Central Asia (BBCA) dan Bank Negara Indonesia (BBNI) menunjukkan tren kenaikan payout ratio.

Direktur Utama BBNI, Royke Tumilaar, mengungkapkan rencana menaikkan rasio dividen BBNI untuk tahun buku 2024 menjadi 55%-60%, naik dari 50% pada 2023. Keputusan ini mempertimbangkan kondisi permodalan yang cukup untuk ekspansi dan mitigasi risiko dalam lima tahun mendatang. EVP Corporate Communication BBCA, Hera F. Haryn, juga menyatakan bahwa penetapan dividen BBCA akan tetap seimbang dengan kebutuhan pengembangan bisnis dan pemutakhiran teknologi.

Analis CEO Edvisor, Praska Putrantyo, melihat saham perbankan seperti BBRI, BBNI, dan CIMB Niaga (BNGA) menarik untuk dikoleksi karena memiliki rekam jejak pembagian dividen yang tinggi dan valuasi yang relatif murah, dengan rata-rata dividend yield 6% dalam dua tahun terakhir. Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, memproyeksikan bahwa meskipun rasio dividen perbankan mungkin tidak berubah signifikan, potensi kenaikan tetap ada untuk menjaga daya tarik investor.

Meski kinerja bank besar pada 2024 tidak sekuat tahun-tahun sebelumnya, dividen dari sektor perbankan diprediksi tetap menjanjikan, mengingat kestabilan pertumbuhan laba dan upaya manajemen mempertahankan daya tarik pasar.

Peluang Besar Emiten Bank Digital di Masa Depan

HR1 16 Jan 2025 Kontan
PT Super Bank Indonesia, anak usaha PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), berencana melantai di bursa pada tahun 2025 melalui penawaran umum perdana (IPO) dengan target dana sebesar US$ 300 juta, yang dapat menilai valuasinya antara US$ 1,5 miliar hingga US$ 2 miliar. Meskipun rencana IPO ini masih dalam tahap awal dan bisa berubah, langkah ini menarik perhatian pelaku pasar karena ketertarikan investor pada sektor bank digital.

Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, menilai bahwa pasar saat ini rindu akan bank digital yang melantai di bursa. Keberadaan Superbank dapat menjadi daya tarik, terutama dengan dukungan ekosistem dari Grab, Singtel, dan Kakao Bank. Namun, dia mengingatkan bahwa yang lebih penting adalah ekosistem digital yang ditawarkan, yang bisa memberikan nilai tambah bagi pengguna dan investor.

Sementara itu, Adityo Nugroho, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, berpendapat bahwa saham bank digital yang ada saat ini belum cukup menarik, karena sebagian besar masih kecil meski ada beberapa yang mulai tumbuh. Menurutnya, bank besar lebih menarik bagi investor. Di sisi lain, Nico lebih menyoroti PT Bank Jago Tbk (ARTO) sebagai emiten bank digital yang berhasil memanfaatkan ekosistem dengan baik, di mana saham ARTO menunjukkan kinerja positif. Nico menyarankan untuk membeli saham ARTO dengan target harga Rp 3.300 per saham.

Kredit Perbankan Menghadapi Tantangan Baru

HR1 16 Jan 2025 Bisnis Indonesia (H)

Bank Indonesia (BI) secara mengejutkan menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur pada 15 Januari 2025. Langkah ini memberikan dampak positif bagi industri perbankan, karena membantu meningkatkan margin keuntungan bank dan membuka peluang ekspansi kredit yang lebih luas. Gubernur BI, Perry Warjiyo, optimistis bahwa kebijakan ini akan mendorong pertumbuhan kredit perbankan sebesar 11%-13% pada 2025.

Selain itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga memberikan dukungan bagi sektor perbankan dengan mereaktivasi kebijakan sektor perumahan dan memperkenalkan berbagai inisiatif untuk mendukung kredit bagi UMKM. Beberapa tokoh dari industri perbankan, seperti Direktur Utama BNI Royke Tumilaar dan Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan, menyambut baik penurunan BI Rate ini, meskipun ada harapan agar penurunan tersebut diikuti oleh penurunan bunga Sekuritas Rupiah BI (SRBI) untuk mengurangi ketatnya likuiditas. Sarman Simanjorang, Wakil Ketua Umum Kadin, juga melihat penurunan suku bunga sebagai kesempatan bagi pengusaha, terutama UMKM, untuk memperoleh modal dengan bunga yang lebih ringan dan melanjutkan ekspansi.


Pemotongan Bunga untuk Mendorong Ekonomi

HR1 16 Jan 2025 Kontan (H)
Bank Indonesia (BI) secara mengejutkan memangkas suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%, meskipun rupiah tengah berada di posisi terlemah dalam enam bulan terakhir di angka Rp 16.311 per dolar AS. Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa keputusan ini diambil untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang tertekan dan menciptakan peluang pemulihan meskipun ketidakpastian global masih tinggi.

Dinamika Kebijakan BI Pemangkasan suku bunga acuan oleh BI merupakan langkah kedua dalam lima bulan terakhir, dengan pertimbangan inflasi yang rendah (2,5% ±1%) serta peluang pertumbuhan ekonomi 2025 di rentang 4,7%-5,5%. Perry menekankan bahwa penurunan suku bunga saat ini adalah langkah strategis untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang stagnan di level 5%.

Tekanan pada Rupiah Nilai tukar rupiah yang melemah hingga 5% year-on-year menjadi perhatian, terutama karena sentimen global seperti penguatan dolar AS dan ketidakpastian kebijakan suku bunga Federal Reserve (FFR) pasca terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS.

Dukungan dari Stimulus Fiskal
Ekonom Bank Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menyoroti pentingnya sinergi kebijakan fiskal dan moneter. Dengan pemangkasan suku bunga, ditambah stimulus pemerintah dan momentum Ramadan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2025 diproyeksikan mencapai 5,2%.

Tantangan dan Prospek Ekonomi
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memprediksi pertumbuhan ekonomi akan tetap tertekan akibat faktor eksternal seperti perang dagang yang menekan ekspor dan pelemahan permintaan domestik. Sementara itu, Kepala Ekonom Bank BCA, David Sumual, menilai masih ada ruang bagi kebijakan moneter untuk mendukung pertumbuhan, meski tekanan terhadap rupiah akibat ekspektasi kebijakan tarif AS tetap membayangi.

Langkah BI menurunkan suku bunga menunjukkan upaya agresif untuk menopang pertumbuhan ekonomi, meskipun harus menghadapi tantangan berupa pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian global. Kombinasi kebijakan moneter dan fiskal diharapkan mampu menjaga ekonomi tetap stabil pada tahun 2025.

BI Memutuskan untuk Memangkas Bunga Acuan Jadi 5,75 Persen

KT3 16 Jan 2025 Kompas
Bank Indonesia memutuskan untuk memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Keputusan tersebut mempertimbangkan tingkat inflasi mendatang yang diperkirakan tetap terjaga rendah dan dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi. Hal itu disampaikan Guber- nur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan BI di Jakarta, Rabu (15/1/2025). RDG yang berlangsung selama 14-1 Januari 2025 ini juga memutuskan untuk menurunkan suku bunga deposit facility dan suku bunga lending facility sebesar 25 basis poin (bps) sehingga masing-masing menjadi 5 persen dan 6,5 persen. ”Rapat Dewan Gubernur BI pada 14-15 Januari 2025 memutuskan untuk menurunkan BI Rate (suku bunga acuan BI) menjadi 5,57 persen,” kata Perry. Perry menjelaskan, keputusan ini konsisten dengan tetap rendahnya perkiraan inflasi pada 2025 dan 2026 yang terkendali dalam sasaran 1,5-3,5 persen dan terjaganya nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamental.

Di sisi lain, BI memandang perlunya upaya untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Selanjutnya, BI turut menempuh kebijakan makroprudensial longgar guna meningkatkan kredit perbankan kesektor-sektor prioritas pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta ekonomi hijau. Kemudian, kebijakan sistem pembayaran juga diarahkan untuk turut menopang pertumbuhan. ”Ke depan, Bank Indonesia akan terus mengarahkan kebijakanmoneter untukmenjaga inflasi dalam sasarannya dan nilai tukar yang sesuai dengan fundamental, dengan tetap mencermati ruang untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi sesuai dinamika yang terjadi pada perekonomian global dan nasional,” tutur Perry. Pada Desember 2024, inflasi tercatat sebesar 1,57 persen secara tahunan atau berada dalam kisaran target BI.

Perkembangan ini dipengaruhi oleh inflasi inti yang terkendali pada level 2,26 persen secara tahunan, sejalan dengan konsistensi suku bunga kebijakan BI untuk mengarahkan ekspektasi inflasi sesuai dengan sasarannya. Sementara itu, inflasi kelompok harga bergejolak (volatile food) tercatat sebesar 0,12 persen secara tahunan didukung oleh peningkatan pasokan pangan seiring berlanjutnya musim panen, serta eratnya sinergi pengendalian inflasi oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Perry menambahkan, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS hingga 14 Januari 2025 hanya melemah 1 persen dibandingkan nilai tukar akhir 2024. Perkembangan tersebut relatif lebih baik dibandingkan dengan mata uang regional lainnya, seperti rupee India yang melemah 1,2 persen, peso Filipina sebesar 1,33 persen, dan baht Thailand sebesar 1,92 persen. Dinamika global Sementara itu, ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Teuku Riefky, berpendapat, perkembangan dinamika global membuat BI tidak memiliki banyak fleksibilitas untuk memangkas suku bunga acuannya dalam jangka pendek. (Yoga)

Perbankan Ambil Bagian dalam Program 3 Juta Rumah

HR1 15 Jan 2025 Kontan
Program pembangunan tiga juta rumah diproyeksikan mampu mendongkrak bisnis Kredit Pemilikan Rumah (KPR), meskipun sektor perbankan menghadapi tantangan seperti suku bunga tinggi dan pelemahan daya beli. Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, mencatat penyaluran KPR pada November 2024 mencapai Rp 781,7 triliun, tumbuh 10,3% secara tahunan, meskipun pertumbuhannya melambat dibandingkan bulan sebelumnya. Dian mengingatkan pentingnya menjaga likuiditas perbankan agar tetap stabil dalam menghadapi risiko.

Pemerintah, melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), mengusulkan perubahan skema pendanaan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dari 25% menjadi 50% tanggungan perbankan. Budi Permana, Subsidized Mortgage Division Head Bank BTN, menyatakan bahwa skema baru FLPP masih dalam tahap pembahasan dan diharapkan dapat meningkatkan realisasi unit rumah subsidi. Bank BTN telah membuat simulasi bersama stakeholder untuk memastikan skema ini tetap menguntungkan, termasuk melibatkan Sarana Multigriya Finansial (SMF) untuk mendukung likuiditas.

Sementara itu, Teddy Kurniawan, Pimpinan Divisi Kredit Retail Bank Sumsel Babel, menyebut banknya masih mengkaji kemampuan untuk ikut menanggung 50% pendanaan FLPP. Bank Sumsel Babel telah menyalurkan 23 unit FLPP sejak awal Januari 2025 dari kuota 2.781 unit tahun ini.

Inovasi seperti penggunaan Efek Beragun Aset – Surat Partisipasi (EBA-SP), dengan total nilai Rp 2,21 triliun menurut data BEI, juga disebut Dian sebagai opsi pendanaan untuk mendukung penyaluran KPR. Skema ini bertujuan agar perbankan tetap memiliki margin keuntungan sekaligus mendukung keterjangkauan masyarakat berpenghasilan rendah.

Perbankan Nasional Biayai Hilirisasi Batu Bara

KT1 15 Jan 2025 Investor Daily (H)
Proyek hilirisasi batu bara akan masif seiring dengan peluang mendapatkat biaya dari perbankan maupun lembaga keuangan nonbank nasional. Pembiayaan itu diberikan atas rekomondasi Satuan  Tugas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi. Satgas ini dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 2025. Beleid yang ditandatangani oleh Presiden Prabowo Subianto pada 3 Januari 2025 itu antara lain memberi wewenang untuk mengindentifikasi dan merekomondasikan proyek strategis guna mendapatkan pembiayaan dari perbankan maupun lembaga keuangan nonbank dalam negeri. Pendanaan merupakan salah satu isu terpenting dalam pengembangan hilirisasi batu bara. Pasalnya, proyek berbasis batu bara sulit mendapatkan pembiayaan dari perbankan maupun lembaga keuangan internasional karena diangap sebagai sumber energi kotor yang berkontribusi pada emisi gas rumah kaca. Plt Direktur EKsekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Gita Mahyarani mengatakan pelaku usaha berkomitemn dalam meningkatkan nilai tambah batu bara melalui hilirisasi. Dia membenarkan faktor pendanaan proyek hilirisasi menjadi salah satu kendala dalam proses pengembangannya. (Yetede)

Saham Sektor Bank Kena Downgrade dari Over Weight Menjadi Netral

KT1 15 Jan 2025 Investor Daily (H)
Saham sektor perbankan kena downgrade dari overweight (OW)  menjadi netral, menyusul proyeksi perlambatan pertumbuhan kredit dan laba bersih 2025.Berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), kredit perbankan diprediksi tumbuh melambat menjadi 9,9% tahun 2025 dari 2024 sebesar 13,4%. Sejalan dengan itu, pertumbuhan laba bersih per saham (EPS) bank diprediksi melambat menjadi 5,8% dari 6,7%. Sumber pertumbuhan kredit 2025, tulis BRIDS, adalah segmen korporasi, sedangkan segmen pertambangan serta UMKM masih dalam fase pemulihan kualitas aset. "Didorong oleh likuiditas yang baik dan cost fund (CoF) resilen, kami memprediksi empat bank besar mencetak pertumbuhan kredit 9,9% dan terus melanjutkan performa di atas industri," tulis BRIDS. BRIDS mempreiksi likuiditas masih ketat tahun 2025, didorong oleh yield dan penerbitan SRBI yang masih tinggi, rasio secondary reserves rendah, dan minimnya imbas insentif giro wajib minimum (GWM). Per September 2024, broker ini mencatat, rasio secondary reserves mencapai 16%, lebih rendah dari rata-rata sebelum pandemi Covid-19 sebesar 20%. Adapun insentif GWM 4% bisa dimanfaatkan bank untuk menarik likuditas maksimal Rp 44 triliun, lebih rendah dari bertahun-tahun sebelum Rp148 triliun. (Yetede)

Bullion Bank Jadi Bisnis Menjanjikan

HR1 14 Jan 2025 Bisnis Indonesia
Langkah PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) untuk mengajukan lisensi sebagai bullion bank ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berpotensi mendongkrak kinerjanya secara signifikan. Rencana ini didukung oleh regulasi baru, yaitu Peraturan OJK Nomor 17 Tahun 2024, yang memungkinkan bank untuk menjalankan layanan berbasis emas, seperti simpanan, pembiayaan, perdagangan, dan penitipan emas.

Maximilianus Nicodemus, Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, menyebut bahwa layanan bullion bank dapat memperkuat ekosistem keuangan berbasis emas dan memberikan opsi menarik bagi masyarakat untuk menyimpan aset mereka. BRIS dinilai layak menjalankan peran ini karena memiliki standar kemurnian emas yang sesuai dengan London Bullion Market Association (LBMA).

Saat ini, BRIS telah mengelola program cicilan emas sebesar 15 ton hingga Desember 2024, dan diproyeksikan akan meningkat menjadi 30 ton pada 2025. Isfhan Helmy, Analis Sinarmas Sekuritas, memperkirakan lisensi bullion bank dapat mendorong pengelolaan hingga 100 ton emas dalam lima tahun mendatang. Dengan lisensi ini, spread emas diproyeksi meningkat dari kurang dari 1% menjadi sekitar 5%, yang akan signifikan meningkatkan pendapatan berbasis biaya (fee-based income).

James Stanley Wijaya, Analis Buana Capital Sekuritas, menyoroti pembiayaan emas sebagai mesin pertumbuhan baru bagi BRIS. Pembiayaan ini telah tumbuh 77,6% YoY menjadi Rp 12,4 triliun pada Desember 2024, menawarkan imbal hasil aset sebesar 13%, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata aset gabungan sebesar 8,1%.

Kepala Riset RHB Sekuritas Indonesia, Andrey Wijaya, menambahkan bahwa minat nasabah terhadap rekening wadiah Bank BSI mendukung pertumbuhan dana murah (CASA) dan pembiayaan emas, yang semakin memperkuat posisi BRIS. Dengan potensi pertumbuhan signifikan, para analis, termasuk Maximilianus, Isfhan, James, dan Andrey, merekomendasikan beli saham BRIS dengan target harga Rp 3.500 per saham. Per 13 Januari 2025, harga saham BRIS naik 0,74% menjadi Rp 2.720 per saham.