;
Tags

Perbankan

( 2293 )

Konsistensi BI dalam Pengembangan Ekonomi Syariah

HR1 05 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Indonesia, dengan populasi Muslim terbesar di dunia, memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama dalam sektor ekonomi dan keuangan syariah global. Meskipun pertumbuhan sektor ini telah terlihat, dengan ekonomi dan keuangan syariah Indonesia tumbuh 3,93% pada 2023 dan mencapai 5,07% pada kuartal II 2024, negara ini masih perlu lebih serius mengembangkan dan memaksimalkan potensi tersebut. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah melalui penyelenggaraan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) yang ke-11 pada 2024, yang dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Bank Indonesia (BI), kementerian/lembaga terkait, dan pelaku usaha.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menekankan pentingnya sinergi dalam mewujudkan ekonomi syariah sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. ISEF 2024 mengusung tema "Sinergi Ekonomi dan Keuangan Syariah Memperkuat Ketahanan dan Pertumbuhan Berkelanjutan", yang mencerminkan upaya untuk mengintegrasikan ekonomi syariah dengan nilai-nilai lokal dan mendekatkan Indonesia pada visi global sebagai pusat ekonomi syariah. Dalam ajang ini, sejumlah inisiatif baru diluncurkan, seperti aplikasi Halal Traceability, digitalisasi produk pesantren, serta pengembangan strategi nasional literasi dan inklusi ekonomi syariah.

Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, juga memberikan apresiasi terhadap peran BI dalam mendorong ekonomi syariah, dan menegaskan bahwa pemerintahan Presiden Prabowo, dalam Kabinet Merah Putih, berkomitmen untuk mempercepat kemandirian nasional melalui sektor ekonomi syariah. Salah satu bukti konkret dari keberhasilan ekonomi syariah di Indonesia adalah pembukuan transaksi bisnis yang signifikan dalam ISEF 2024, yang mencapai Rp1,85 triliun, dengan kontribusi yang signifikan dari sektor UMKM dan produk-produk buatan pesantren.

Meskipun Indonesia telah mencatatkan kemajuan, masih ada tantangan besar yang perlu dihadapi, terutama untuk memperbaiki posisi Indonesia dalam Indeks Ekonomi Syariah Global, di mana Indonesia saat ini berada di peringkat ketiga. Hal ini mengharuskan kolaborasi lebih lanjut antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan syariah, baik di tingkat nasional maupun internasional. Dengan adanya dukungan dari Bank Indonesia dan berbagai pihak terkait, Indonesia memiliki potensi untuk mengukir prestasi lebih tinggi di sektor ini dan menjadikannya sebagai pemain utama dalam ekonomi syariah global.



Bank Mandiri Dorong Ekonomi dengan Kredit Triliunan

HR1 04 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Kontribusi signifikan Bank Mandiri terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, yang tercermin dari pencapaian penyaluran kredit yang meningkat pesat pada kuartal III/2024. Kredit yang disalurkan mencapai Rp1.590 triliun, tumbuh 20,8% (YoY), dengan kualitas aset yang semakin membaik, ditandai dengan penurunan rasio kredit bermasalah menjadi 0,97%. Pertumbuhan kredit tertinggi didorong oleh segmen korporasi, yang mencatatkan kenaikan 29,4%, serta segmen mikro dan usaha kecil menengah (SME) yang masing-masing tumbuh 13,04% dan 13,7%.

Bank Mandiri juga menunjukkan komitmennya terhadap ekonomi kerakyatan dengan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp32,2 triliun, yang menjangkau lebih dari 293.000 pelaku UMKM. Direktur Utama Bank Mandiri, Darmawan Junaidi, menegaskan bahwa pencapaian ini memperkuat peran Bank Mandiri sebagai agen perubahan dalam mendukung sektor riil dan perekonomian Indonesia. Ke depan, Bank Mandiri akan terus memfokuskan pertumbuhan kredit pada sektor-sektor strategis seperti pertanian, perkebunan, telekomunikasi, energi, serta industri makanan dan minuman. Dengan strategi ini, Bank Mandiri optimis dapat mencapai target pertumbuhan kredit di kisaran 16%-18% pada akhir 2024.

Selain itu, laba bersih Bank Mandiri tercatat mencapai Rp42 triliun, tumbuh 7,56% (YoY), dan dana pihak ketiga (DPK) meningkat 14,9% menjadi Rp1.667,5 triliun. Capaian-capaian ini menunjukkan peran Bank Mandiri yang semakin vital dalam mendukung ekonomi nasional melalui penyaluran kredit yang berkelanjutan dan berfokus pada sektor-sektor yang mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat.



Bank Sentral di Tengah Dilema Ekonomi

HR1 04 Nov 2024 Kontan (H)
Pelaku pasar global saat ini fokus pada kebijakan The Federal Reserve (Fed) AS yang diperkirakan akan memangkas suku bunga acuan 25 basis poin. Langkah ini kemungkinan akan diikuti oleh bank sentral Inggris dan Swedia. Situasi ini menempatkan Bank Indonesia (BI) dalam posisi sulit, yakni apakah ikut memangkas suku bunga untuk mendukung ekonomi domestik atau mempertahankannya guna melindungi stabilitas rupiah dan mencegah arus keluar dana asing.

David Sumual, Kepala Ekonom Bank Central Asia, memperkirakan bahwa Fed mungkin tidak akan terlalu agresif dalam melonggarkan kebijakan moneternya karena ekonomi AS masih cukup kuat. Dia menekankan pentingnya BI menjaga keseimbangan, terutama untuk mempertahankan daya tarik rupiah.

Wijayanto Samirin, ekonom Universitas Paramadina, menyarankan BI berhati-hati dalam menurunkan suku bunga, karena hal itu bisa menekan nilai tukar rupiah. Menurutnya, stabilitas rupiah saat ini masih rentan dan sebagian besar didukung oleh masuknya dana asing ke dalam instrumen seperti SBN. Stabilitas rupiah juga penting untuk menjaga kepercayaan investor menjelang kebutuhan refinancing utang pemerintah pada tahun 2024.

Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios, melihat BI memiliki ruang untuk memangkas suku bunga, mengingat imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) yang masih cukup menarik dibandingkan US Treasury. Menurutnya, investor tetap tertarik dengan SBN karena yield spread yang lebar.

Awalil Rizky dari Bright Institute memprediksi BI Rate masih bisa turun 50 basis poin hingga akhir tahun ini melalui dua kali pemangkasan. Penurunan suku bunga ini, menurutnya, akan membantu menjaga daya beli meskipun dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi kemungkinan masih terbatas, terutama di tengah ancaman PHK.

Perbaiki Aset Perbankan Terus Menerus

KT1 02 Nov 2024 Investor Daily (H)

Industri perbankan hingga posisi September 2024 berhasil menjaga kinerjanya tetap stabil di tengah tantangan ekonomi global  maupun domestik. Terindikasi dari kualitas aset perbankan yang mengalami perbaikan. OJK mencatat, kredit yang disalurkan perbankan per September 2024 mencapai Rp 7.579 triliun, tumbuh 10,85% secara tahunan (Year on year/yoy). Meskipun mengalami perlambatan dibandingkan dengan posisi Agustus 2024 yang tumbuh 11,4% (yoy). Namun, secara bulanan kredit masih tetap tumbuh  positif 0,95% month to month (mtm). Pertumbuhan kredit tersebut juga didukung dengan perbankan kuaitas kredit, baik dari rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) maupun loan at risk (LAR).

"Kualitas kredit tetap terjaga NPL gross 2,21% dibandingkan Agustus 2,26% dan NPL net 0,78%. sementara itu LAR juga menunjukkan tren penurunan menjadi 10,11% dari Agustus 10,17% rasio LAR ini mendekati sebelum pandemi 9,93% pada 2019," ungkap Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae. Dian melanjutkan, likuiditas perbankan dinilai masih memadai dengan rasio alat liquid/non-core deposit (AL/NCD) dan alat liquid/dana pihak ketiga (AL/DPK) masing-masing sebesar 50% dan 10%. Perbankan juga menghimpun DPK sebesar Rp8.721 triliun tumbuh 7,04% (yoy) per September 2024, naik tipis dari bulan sebelumnya 7,01% (yoy). (Yetede)

Performa Cemerlang Bank Digital

HR1 02 Nov 2024 Kontan
Meskipun beban bunga yang tinggi, bank digital tetap mencatat pertumbuhan pendapatan bunga bersih. PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI), misalnya, mencatat kenaikan pendapatan bunga bersih sebesar 149,4% menjadi Rp 677,94 miliar. Namun, laba bersihnya hanya naik 9,54% menjadi Rp 107,13 miliar karena beban bunga yang melonjak drastis. Presiden Direktur Krom Bank, Anton Hermawan, menyatakan bahwa bank ini mampu bertahan dengan strategi yang tepat.

PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) juga menunjukkan performa positif dengan kenaikan laba bersih 130,9% menjadi Rp 33,9 miliar, didukung net interest margin (NIM) yang naik menjadi 4,35%. Direktur Utama Bank Raya, Ida Bagus Ketut, optimistis dengan strategi produk mereka yang dinilai efisien.

Sementara itu, PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) mengalami penurunan laba bersih sebesar 10,69% menjadi Rp 302,59 miliar akibat peningkatan biaya pencadangan, meskipun pendapatan bunga bersihnya naik 8,18%. Direktur Utama Allo Bank, Indra Utoyo, menyatakan bahwa mereka akan disiplin dalam mengelola biaya.

M Nico Demus dari Pilarmas Investindo Sekuritas menambahkan bahwa konsistensi bank digital dalam mencetak laba bisa menarik investor, terutama dengan adanya potensi inovasi di masa depan.

Melambatnya Pertumbuhan Kredit Perbankan

KT3 31 Oct 2024 Kompas

Kinerja industri perbankan triwulan III-2024 ditopang oleh pertumbuhan kredit, manajemen risiko, serta likuiditas yang terjaga. Meski telah berupaya memperbaiki kualitas pembiayaannya, pertumbuhan kredit industri perbankan per September 2024 melambat. Mengutip data BI, penyaluran kredit industri perbankan sepanjang tahun kalender berjalan 2024 tercatat tumbuh dua digit. Namun, pertumbuhan kredit tersebut melambat pada triwulan III-2024, sebesar 10,85 % secara tahunan. Pada triwulan I-2024, kredit tumbuh 12,4 % secara tahunan. Selanjutnya, kredit masih tercatat tumbuh dua digit, yakni sebesar 12,36 % secara tahunan pada triwulan II-2024.

Dirut PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI Sunarso menyampaikan, pada triwulan III-2024, BRI telah menyalurkan kredit Rp 1.353,36 triliun atau tumbuh 8,21 % secara tahunan dengan porsi 81,7 % ke segmen UMKM. Dana pihak ketiga (DPK) tercatat Rp 1.362,42 triliun atau tumbuh 5,59 % secara tahunan, terutama dari dana murah dengan porsi 64,17 %. ”BRI optimistis menutup tahun 2024 ini dengan kinerja positif, utamanya dengan fokus memperkuat fundamental kinerja dan membentuk ketangguhan sehingga BRI selalu siap menghadapi berbagai tantangan, baik yang berasal dari global maupun domestik,” kata Sunarso dalam Konferensi Pers BRI Triwulan III-2024 secara daring, Rabu (30/104).

Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) MochAmin Nurdin menjelaskan, penyaluran kredit tidak lepas dari kondisi perekonomian domestik yang cenderung tumbuh moderat. Hal ini tidak lepas dari kondisi tahun politik dan daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah yang cenderung turun. Menurut Amin, prospek pertumbuhan kredit selama 2024 akan bergantung juga kepada momentum besar pada akhir tahun, seperti pilkada serentak yang diharapkan mampu memberikan sentimen positif. Kebijakan insentif makroprudensial yang diberikan BI diharapkan juga dapat mendorong pertumbuhan kredit. (Yoga)


Bank Besar Menghadapi Prospek Cerah

HR1 31 Oct 2024 Bisnis Indonesia (H)

Kinerja perbankan Indonesia, khususnya empat bank terbesar anggota Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) IV—Bank Mandiri, BRI, BCA, dan BNI—menunjukkan perkembangan positif pada kuartal III 2024. Meskipun ada tantangan dalam pertumbuhan laba akibat tingginya biaya dana (cost of fund), keempat bank ini berhasil meningkatkan kualitas penyaluran kredit yang terlihat dari penurunan rasio nonperforming loan (NPL).

Bank Mandiri, dipimpin oleh Direktur Utama Darmawan Junaidi, mencatat pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga (DPK) tertinggi. BRI, di bawah kepemimpinan Sunarso, tetap menjadi bank dengan laba terbesar berkat pengelolaan yang baik dan fokus pada hilirisasi. BCA mencatat pertumbuhan laba tertinggi di antara bank besar, didorong oleh strategi penyaluran kredit yang beragam. Sementara itu, BNI, dengan Direktur Keuangan Novita Widya, menjaga rasio margin bunga bersih (NIM) yang sehat berkat pengelolaan likuiditas yang efisien.

Secara keseluruhan, penurunan BI Rate diharapkan dapat meringankan beban dana bagi bank-bank ini, memberikan potensi pertumbuhan yang lebih baik untuk menutup tahun 2024. Namun, para analis juga mengingatkan bahwa tantangan dari suku bunga global yang tinggi masih harus dihadapi, sehingga penting bagi bank untuk mengoptimalkan pendapatan non-bunga dan melakukan digitalisasi untuk efisiensi operasional.


Kerja Sama BRICS: Menghitung Dampak bagi Indonesia

HR1 31 Oct 2024 Bisnis Indonesia

Debat hangat di Indonesia mengenai keinginan bergabung dengan organisasi BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) sementara juga memproses aksesi ke OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development). Tokoh-tokoh seperti Ahmad Khoirul Umam dari Paramadina Public Policy Institute dan ekonom Wijayanto Samirin mengingatkan bahwa bergabung dengan BRICS dapat menimbulkan ketegangan dengan negara-negara barat, khususnya Amerika Serikat. Namun, mereka juga menekankan potensi keuntungan ekonomi dan dukungan pendanaan infrastruktur yang bisa diperoleh dari BRICS.

BRICS menawarkan alternatif bagi negara berkembang dengan pendekatan yang lebih fleksibel dalam pendanaan, sementara OECD memberikan jaringan stabil untuk perdagangan dan investasi dengan standar yang ketat. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa proses aksesi ke OECD tetap berjalan meskipun Indonesia mempertimbangkan keanggotaan BRICS, menunjukkan bahwa Indonesia berkomitmen pada diplomasi nonblok dan keseimbangan antara kedua aliansi ini.

Dengan tantangan dan peluang yang ada, keputusan Indonesia untuk memilih atau menyeimbangkan antara BRICS dan OECD menjadi sangat strategis dan harus mempertimbangkan hubungan diplomatik serta kepentingan ekonomi jangka panjang.


BRI Mencetak Laba Bersih Rp 45,36 Triliun

KT1 31 Oct 2024 Investor Daily (H)

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI kembali mencatatkan kinerja positid di tengah dinamika  ekonomi domestik yang masih penuh dengan tantangan. Dengan fokus memperkuat fundamental kinerja, hingga akhir Triwulan II 2024 BRI secara konsolidasian berhasil mencetak laba bersih sebesar  Rp45,36 triliun. Hal tersebut disampaikan  Direktur Utama  BRI Sunarso pada press conference Kinerja Keuangan BRI Triulan III 2024 di Jakarta (30/10). Dalam paparannya, Sunarso menyampaikan bahwa ketangguhan dalam menghadapi berbagai tantangan adalah hasil dari fundamental bisnis yang kuat.

"Capaian tersebut tidak terlepas dari fokus BRI yang secara konsistensi memperkuat  fundamental kinerja, serta melakukan strategic response yang tepat dalam menghadapi  seberbagai dinamika pasar," ungkap Sunarso. Dari sisi intermediasi, hingga akhir September 2024 BRI berhasil menyalurkan kredit senilai Rp 1.353,36 triliun atau tumbuh 8,21% secara yoy. Dari total penyaluran kredit tersebut, 81,70 diantaranya atau sekitar Rp1.105,70 triliun merupakan kredit kepada segmen UMKM. Penyaluran kredit yang tumbuh positif tersebut juga membuat aset BRI tercatat meningkat 5,94% yoy menjadi sebesar Rp1.961,92 triliun. (Yetede)

Pendapatan Non-Bunga Perbankan Terus Meningkat

HR1 31 Oct 2024 Kontan
Sejumlah bank besar di Indonesia mencatatkan pertumbuhan signifikan pada pendapatan non-bunga sepanjang sembilan bulan pertama 2024, didorong oleh peningkatan fee-based income (FBI) yang dihasilkan dari layanan digital dan inovasi berbasis teknologi.

Bank Rakyat Indonesia (BRI) mencatatkan pendapatan non-bunga sebesar Rp 41,3 triliun, naik 29,8% secara tahunan, di mana FBI mencapai Rp 17,15 triliun. Menurut Sunarso, Direktur Utama BRI, pencapaian ini banyak dipengaruhi oleh transformasi digital yang dilakukan, terutama melalui aplikasi super BRImo yang mencatat volume transaksi sebesar Rp 4.034 triliun. Bisnis agen Brilink juga menyumbang FBI Rp 1,19 triliun.

Bank Mandiri membukukan pendapatan non-bunga sebesar Rp 30,8 triliun, tumbuh 12,6% secara tahunan. FBI tercatat Rp 12,9 triliun, didorong oleh transaksi digital melalui aplikasi Livin yang mencatat frekuensi transaksi 2,8 miliar kali dengan nilai Rp 2.940 triliun. Darmawan Junaidi, Direktur Utama Bank Mandiri, menambahkan bahwa aplikasi Kopra juga berkontribusi pada pertumbuhan FBI, dengan nilai transaksi sebesar Rp 16.000 triliun.

Bank Central Asia (BCA) meraih pendapatan non-bunga Rp 19 triliun, dengan FBI sebesar Rp 13,8 triliun, berkat perkembangan transaksi digital melalui aplikasi myBCA, menurut Jahja Setiaatmadja, Direktur Utama BCA.

Bank Negara Indonesia (BNI) mencatat pendapatan non-bunga sebesar Rp 11,75 triliun, dengan FBI mencapai Rp 5,23 triliun. Royke Tumilaar, Direktur Utama BNI, menyebut pertumbuhan FBI sebesar 2,8% berperan penting dalam pencapaian tersebut.

Secara keseluruhan, transformasi digital dan inovasi layanan di sektor perbankan menjadi kunci utama dalam meningkatkan pendapatan non-bunga di tengah tantangan biaya dana dan provisi yang meningkat.