;

Bank Sentral di Tengah Dilema Ekonomi

Ekonomi Hairul Rizal 04 Nov 2024 Kontan (H)
Bank Sentral di Tengah Dilema Ekonomi
Pelaku pasar global saat ini fokus pada kebijakan The Federal Reserve (Fed) AS yang diperkirakan akan memangkas suku bunga acuan 25 basis poin. Langkah ini kemungkinan akan diikuti oleh bank sentral Inggris dan Swedia. Situasi ini menempatkan Bank Indonesia (BI) dalam posisi sulit, yakni apakah ikut memangkas suku bunga untuk mendukung ekonomi domestik atau mempertahankannya guna melindungi stabilitas rupiah dan mencegah arus keluar dana asing.

David Sumual, Kepala Ekonom Bank Central Asia, memperkirakan bahwa Fed mungkin tidak akan terlalu agresif dalam melonggarkan kebijakan moneternya karena ekonomi AS masih cukup kuat. Dia menekankan pentingnya BI menjaga keseimbangan, terutama untuk mempertahankan daya tarik rupiah.

Wijayanto Samirin, ekonom Universitas Paramadina, menyarankan BI berhati-hati dalam menurunkan suku bunga, karena hal itu bisa menekan nilai tukar rupiah. Menurutnya, stabilitas rupiah saat ini masih rentan dan sebagian besar didukung oleh masuknya dana asing ke dalam instrumen seperti SBN. Stabilitas rupiah juga penting untuk menjaga kepercayaan investor menjelang kebutuhan refinancing utang pemerintah pada tahun 2024.

Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios, melihat BI memiliki ruang untuk memangkas suku bunga, mengingat imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) yang masih cukup menarik dibandingkan US Treasury. Menurutnya, investor tetap tertarik dengan SBN karena yield spread yang lebar.

Awalil Rizky dari Bright Institute memprediksi BI Rate masih bisa turun 50 basis poin hingga akhir tahun ini melalui dua kali pemangkasan. Penurunan suku bunga ini, menurutnya, akan membantu menjaga daya beli meskipun dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi kemungkinan masih terbatas, terutama di tengah ancaman PHK.
Download Aplikasi Labirin :