;
Tags

Perbankan

( 2293 )

Perubahan Insentif Likuiditas Perbankan

HR1 18 Oct 2024 Bisnis Indonesia

Pentingnya penyaluran kredit ke sektor padat karya untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan mendukung pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Yuddy Renaldi, Direktur Utama PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. (Bank BJB), menyatakan bahwa dengan meningkatkan penyaluran kredit ke sektor seperti pertanian, industri pengolahan, dan perdagangan, pendapatan masyarakat akan meningkat, yang pada gilirannya akan mendorong konsumsi.

Bank BJB telah menyalurkan lebih dari 15% kreditnya ke sektor padat karya. Selain itu, PT Bank Tabungan Negara (BTN) juga mendukung langkah ini karena sektor perumahan dapat menyerap tenaga kerja secara signifikan. Pihak bank lain, seperti BCA dan Bank Oke Indonesia, juga mencatat potensi positif dari kebijakan ini, meskipun ada tantangan dalam manajemen risiko yang perlu diperhatikan.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengumumkan rencana untuk memberikan insentif likuiditas kepada bank yang menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas padat karya. Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan kredit dan menciptakan lapangan kerja, yang sangat penting untuk stabilitas ekonomi nasional. Namun, tantangan dalam penyaluran kredit ke sektor padat karya, yang cenderung tumbuh lebih lambat, tetap menjadi perhatian.



Pertumbuhan Kredit September Menukik ke Tempat Terendah Sepanjang 2024

KT1 17 Oct 2024 Investor Daily (H)
Industri perbankan mencatatatkan kinerja yang posiitif hingga kuartal III02024, dimana kredit perbankan tumbuh 10,85% secara (year on year/yoy) meskipun masih tumbuh dua digit, namun pertumbuhan tersebut menjadi yang terendah sepanjang Januari-September tahun ini. Apabila dirinci, melambatnya pertumbuhan kredit perbankan nasional juga sejalan dengan kredit UMKM yang juga terus melandai sejak awal tahun 2024. Berdasarkan data yang dihimpun dari BI, kredit industri perbankan per Januari 2024 tumbuh 11,83% (yoy), kemudian pada Februari naik 11,28% (yoy), dan mulai mengalami peningkatan  menjadi 12,4% (yoy) per Maret 2024.  Perbaikan kembali terjadi per April 2024, dimana kredit meningkat menjadi 12,4% (yoy) per maret 2024. Perbaikan kembali terjadi per April 2024, dimana kredit meningkat 13,09% (yoy) dan menjadi pertumbuhan kredit  meningkat 13,09% (yoy) dan menjadi pertumbuhan kredit tinggi sepanjang tahun ini. Namun, perbaikan tersebut tidak berlanjut, sebaliknya kredit kembali melambat dengan pertumbuhan 12,15% (yoy) per mei 2024. Lalu naik sedikit per Juni dengan pertumbuhan 12,36% (yoy). (Yetede)

Kopra by Mandiri: Solusi untuk Bisnis Wholesale

HR1 17 Oct 2024 Bisnis Indonesia (H)

Bank Mandiri telah meluncurkan inovasi terbaru untuk platform Kopra by Mandiri, memperkuat fungsionalitas dan antarmuka demi memenuhi kebutuhan nasabah wholesale. Dalam perayaan HUT ke-26, Direktur Utama Darmawan Junaidi menyatakan bahwa pengembangan ini bertujuan agar Bank Mandiri tetap relevan dan adaptif di tengah perkembangan kebutuhan korporasi. Kopra kini dilengkapi dengan dashboard yang dapat disesuaikan dan fitur transaksi digital yang memudahkan pengelolaan likuiditas serta pembayaran hingga 50.000 transaksi dalam satu unggah. Integrasi dengan Livin’ by Mandiri mempercepat proses pembayaran dan mendukung ekosistem bisnis, menciptakan nilai transaksi yang tumbuh 13% year-on-year hingga mencapai Rp15.000 triliun pada September 2024. Pencapaian ini menegaskan posisi Bank Mandiri sebagai pemimpin pasar di sektor wholesale dan kontribusinya terhadap pembangunan ekonomi nasional.

Laju Kredit Perbankan Melambat

HR1 17 Oct 2024 Kontan

Meskipun pertumbuhan penyaluran kredit perbankan di Indonesia menunjukkan perlambatan, para bankir tetap optimis bahwa penyaluran kredit akan meningkat menjelang akhir tahun 2024. Data dari Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa per September 2024, kredit perbankan tumbuh 10,85% secara tahunan, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 11,4%. Deputi Gubernur BI, Juda Agung, mengungkapkan bahwa pertumbuhan ini didorong oleh kredit padat modal, terutama di sektor pertambangan yang tumbuh 26,7%.

Juda menyarankan perlunya insentif untuk sektor padat karya, yang mengalami pertumbuhan lebih lambat, seperti sektor pertanian yang hanya tumbuh 7,4%. Meski demikian, ia optimis pertumbuhan kredit bisa mencapai batas atas proyeksi BI di 12% pada akhir tahun.

Welly Yandoko, EVP Consumer Loan Bank Central Asia (BCA), dan Lani Darmawan, Presiden Direktur Bank CIMB Niaga, juga mengekspresikan optimisme yang sama. Welly mencatat bahwa perpanjangan program PPN DTP dan penurunan bunga acuan diharapkan dapat mendukung pertumbuhan kredit, terutama di sektor properti dan KPR. Lani menyoroti fokus CIMB Niaga pada kredit UKM dan ritel, yang diperkirakan dapat tumbuh lebih baik, mencapai 6,5% pada akhir tahun.

Secara keseluruhan, meskipun ada tantangan dalam pertumbuhan kredit, berbagai inisiatif dan penyesuaian strategi diharapkan dapat mendorong penyaluran kredit yang lebih baik di sisa tahun ini.

OJK Menyebut Dua UUS Melakukan Spin Off

KT1 16 Oct 2024 Investor Daily (H)
OJK menyebut terdapat dua Unit Usaha Syariah (UUS) bank yang tengah berproses melakukan  pemisahan diri dari induk (spin off). Keduanya adalah UUS PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) dan UUS PT Bank CIMN Niaga Tbk. Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu mengungkapkan, sudah ada perkembangan yang terkait progres spin off BTN Syariah, dimana telah ada kesepakatan mengenai harga untuk eksekusi bank syariah yang diakuisisi tersebut nantinya menjadi cangkang untuk BTN Syariah usai spin off. Bank Victoria Syariah yang digadang-gadang menjadi incaran BTN setelah sebelumnya tidak melanjutkan mengakuisisi bank Muamalat. Nixon mengungkapkan, bahwa saat ini prosesnya sudah menuju tahap akhir. "Kami sedang mempersiapkan dua dokumen penting untuk proses akuisisi ini dalam tahap penyelesaian," ujar Nixon. Pihaknya mengharapkan penjanjian jual beli bersyarat dapat rampung pada akhir tahun ini. Sehingga bisa dilanjutkan dengan tahap rapat umum pemegang saham luar biasa pada tahun depan untuk meminta persetujuan pemegang saham. (Yetede)

OJK meluncurkan Roadmap Penguatan BPD

KT1 15 Oct 2024 Investor Daily (H)

OJK meluncurkan Roadmap Penguatan Bank Pembangunan Daerah (BPD) 2024-2027, sebagai arah pengembangan dan acuan bagi seluruh pemangku  kepentingan untuk mewujudkan BPD yang resilien, kontributif, dan kompetitif.  Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan, ditengah ketidakpastian global secara geopolitik dan ekonomi, penguatan perekonomian domestik penting untuk terus didorong, terutama menumbuhkan sumber-sumber perekonomian baru di daerah. Perekonomian daerah yang tumbuh akan menjadi dasar pertumbuhan ekonomi nasional. "BPD memiliki peran strategis dalam mewujudkan perekonomian daerah yang terus bertumbuh dan berkelanjutan. OJK berkomitmen untuk terus mendorong BPD menjadi regional champion di daerah, salah satunya dengan meluncurkan Roadmap Penguatan BPD," kata Mahendra. Menurutnya, Roadmap ini diharapkan dapat mewujudkan BPD yang memilki kualitas SDM yang baik, teknologi yang mumpuni, dan mampu menerapkan tata kelola maupun manajemen resiko dalam menjalankan proses bisnisnya. (Yetede)

Keanehan dalam Pembiayaan Sindikasi

HR1 15 Oct 2024 Bisnis Indonesia (H)

Kredit perbankan nasional mengalami pertumbuhan, kredit sindikasi justru mengalami penurunan signifikan. Data Bloomberg menunjukkan bahwa nilai kredit sindikasi pada September 2024 hanya mencapai US$14,14 miliar, turun 43% dibandingkan tahun lalu. Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, menjelaskan bahwa penurunan ini disebabkan oleh kondisi proyek besar yang stagnan dan tingginya suku bunga yang menambah beban debitur.

Meskipun bank-bank BUMN, seperti PT Bank Mandiri dan PT Bank Rakyat Indonesia, mendominasi pasar kredit sindikasi, mereka juga mengalami penurunan dalam penyalurannya. Royke Tumilaar, Direktur Utama BNI, optimis kredit sindikasi akan pulih pada tahun depan, terutama dengan harapan turunnya suku bunga acuan. Para pemimpin bank tetap berusaha menggali potensi di sektor-sektor strategis meskipun menghadapi tantangan likuiditas yang ketat.


Pertumbuhan Tipis Tabungan Nasabah Kelas Menengah

HR1 14 Oct 2024 Kontan
Fenomena "makan tabungan" di kalangan masyarakat kelas menengah ke bawah, yang tercermin dari pertumbuhan rendah simpanan di bawah Rp 100 juta. Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan simpanan kelompok ini hanya naik 0,8% sepanjang 2024 hingga Agustus.

Yuddy Renaldi, Direktur Utama Bank BJB, mengamati nasabah menengah ke bawah lebih banyak mengeluarkan uang untuk kebutuhan pokok, sementara pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank BJB lebih banyak didorong oleh nasabah prioritas. Dia memperkirakan peningkatan tabungan pada akhir tahun didorong oleh konsumsi libur akhir tahun dan pilkada.

Di PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Direktur Santoso juga melihat tren "makan tabungan" dengan pertumbuhan saldo rata-rata yang cenderung menurun. Sementara itu, Bank Mandiri mencatat peningkatan simpanan sebesar 5% pada nasabah kelas menengah ke bawah per Agustus 2024, meski Evi Dempowati menyebut kelompok ini semakin berhati-hati dalam pengeluaran.

Menurut pengamat perbankan Arianto Muditomo, fenomena ini terjadi karena pendapatan yang stagnan, meskipun harga barang cenderung turun, sehingga masyarakat mengurangi tabungan demi pengeluaran.

Bank Thailand Merambah Indonesia

KT3 12 Oct 2024 Kompas

Lembaga keuangan dari Thailand dalam beberapa tahun terakhir mulai mengakuisisi perbankan diIndonesia. Apa strategi kerja sama antara industri keuangan ”Negeri Gajah Putih” dan Indonesia? PT Bank Permata Tbk pada akhir September 2024 mengukuhkan kerja sama mereka dengan Bangkok Bank dengan mengganti logo berbentuk permata yang telah mereka pertahankan selama 21 tahun. Logo itu berganti menjadi bunga lotus, yang akrab dengan filosofi Buddha yang menjadi kepercayaan mayoritas di Thailand. Bangkok Bank menjadi satu-satunya pengendali saham bank yang terdaftar di bursa dengan kode BNLI tersebut. Per 30 September, Bangkok Bank menguasai 89,12 persen saham BNLI dan sisanya oleh publik.

Kepemilikan ini tercapai sejak Bangkok Bankmengakuisisi Bank Permata dari PT Astra International Tbk dan Standard Chartered Bank pada pertengahan 2020. Presiden Direktur Bank Permata Meliza M Rusli saat ditemui di Jakarta, Kamis (10/10/2024), menjelaskan, Bangkok Bank mengakuisisi mereka karena memiliki visi untuk mendukung nasabah Indonesia yang memiliki bisnis di luar Indonesia. Demikian sebaliknya dengan Bangkok Bank yang sebelumnya sudah membuka cabang di Indonesia sejak 1968. Mereka berekspansi mengikuti perkembangan bisnis nasabahnya. ”Sekarang Indonesia ini, kan, sudah berada di tahap dimana banyak perusahaan Indonesia yang menjadi pemain regional, bahkan menjadi pemain global. Mereka punya bisnis di Afrika, di London, dibanyak tempat. Kami ingin menjadi salah satu bank yang juga bisa memberikan dukungan kepada nasabah-nasabah kami ini dalam transaksi lintas batas,” tuturnya.

Bankok Bank, yang merupakan Lembaga keuangan dari Thailand dalam beberapa tahun terakhir mulai mengakuisisi perbankan di Indonesia. Apa strategi kerja sama antara industri keuangan ”Negeri Gajah Putih” dan Indonesia? PT Bank Permata Tbk pada akhir September 2024 mengukuhkan kerja sama mereka dengan Bangkok Bank dengan mengganti logo berbentuk permata yang telah mereka pertahankan selama 21 tahun. Logo itu berganti menjadi bunga lotus, yang akrab dengan filosofi Buddha yang menjadi kepercayaan mayoritas di Thailand. Bangkok Bank menjadi satu-satunya pengendali saham bank yang terdaftar di bursa dengan kode BNLI tersebut. Per 30 September, Bangkok Bank menguasai 89,12 persen saham BNLI dan sisanya oleh publik. Kepemilikan ini tercapai sejak Bangkok Bank mengakuisisi Bank Permata dari PT Astra International Tbk dan Standard Chartered Bank pada pertengahan 2020. (Yoga)



Sambut Baik Hadirnya CPP

KT1 11 Oct 2024 Investor Daily (H)
Bankir menyambut baik hadirnya lembaga  Central Counterparty (CCP) yang dibentuk oleh bank Indonesia (BI), OJK, BEI, Kliring Penjamin Efek Indonesia (KPEI), dan Perbankan.  Sebab, CCP menempatkan dirinya diantara para pihak yang melakukan transaksi untuk mitigasi risiko kegagalan transaksi antar pihak (counterparty risk), risiko likuiditas (liqiudditiy risk), dan risiko karena volatilitas harga pasar (market risk). Sebelumnya, gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan bahwa CCP khusus derivatif Suku Bunga Nilai Tukar (SBNT) siap diimplementasikan guna mengakselerasi pendalaman Mata Uang dan Valutas Asing (PUVA), serta mendukung transmisi  kebijakan moneter sehingga meningkatkan kapasitas pembiayaan perekonomian. BI memberikan status Qualifyying CCP (QCCP) kepada CCP, yang telah dinilai memenuhi standard internasional dan juga telah mengakomodasi penyelesaian secara close-out netting. Pada tahap awal implementasi CCP akan difokuskan pada intrusmen Domestic Non Deliverable  Forward dan Repo, dengan implementasi penambahan produk yang akan diperluas secara bertahap mempertimbangkan volume transaksi dan kesiapan pasar, termasuk infrastruktur. (Yetede)