;
Tags

Perbankan

( 2293 )

Kredit Bank: Pelumas Utama Pertumbuhan Ekonomi

HR1 03 Oct 2024 Kontan

Fungsi intermediasi perbankan masih berjalan dengan baik. Rasio penyaluran kredit terhadap dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun mengalami peningkatan. Kredit yang disalurkan ke sektor usaha maupun untuk konsumsi sama-sama tumbuh dua digit. Ini menandakan kredit bank berperan besar terhadap ekonomi. Otoritas Jasa Keuangan mencatat, kredit perbankan per Agustus 2024 tumbuh 11,4% secara tahunan menjadi Rp 7.508 triliun. Adapun DPK tercatat sebesar Rp 8.650 triliun, atau tumbuh 7,0%. Jika dirinci, kredit modal kerja tercatat tumbuh 10% per Agustus. Kredit investasi meningkat 12,08% dan kredit konsumsi naik 10,83%. Senior Vice President LPPI Trioksa Siahaan mengungkapkan, penyaluran kredit perbankan berkorelasi positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Tapi, ini terjadi bila kredit disalurkan ke sektor produktif yang dapat mendorong perputaran ekonomi. Direktur Kepatuhan Oke Bank Efdinal Alamsyah menyadari bank-bank KBMI 4 ini tak tertandingi. Dengan modal yang lebih besar dan sumber daya lebih lengkap, Efdinal menilai bank jumbo lebih mampu memberikan pinjaman dalam jumlah besar. 

Meski demikian, Efdinal menilai bukan berarti bank- di luar KBMI 4 tak bisa memberi kontribusi pada perekonomian. Justru, ia melihat bank-bank seperti Oke Bank memiliki peran dalam segmen-segmen yang spesifik. Setali tiga uang, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menyebut, bank KBMI 3 bisa menyamai KBMI 4 dalam ekspansi kredit. Ini pernah terjadi sebelum era suku bunga tinggi. Ketua Asbanda sekaligus Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renaldi bilang, kontribusi terhadap ekonomi tak bisa hanya dilihat dari kredit.Tapi juga dari dukungan infrastruktur keuangan. Misal BPD mendukun pengelolaan keuangan daerah, penerimaan pajak, retribusi, infrastruktur daerah dan UMKM.

Saatnya Bank Muamalat Berbenah Ddiri

KT1 02 Oct 2024 Tempo
DALAM beberapa tahun terakhir, di tengah perkembangan ekonomi syariah, konsolidasi sektor perbankan syariah menjadi isu strategis dan menjadi perhatian banyak kalangan. Banyak pihak berharap adanya konsolidasi melalui merger ataupun akuisisi mampu memperkuat perbankan syariah dan mendorong Indonesia menjadi global hub ekonomi syariah.  Namun kasus batalnya akuisisi Bank Muamalat oleh Bank Tabungan Negara (BTN) menunjukkan bahwa proses konsolidasi tidak semudah yang diharapkan. Berbagai tantangan harus dihadapi, seperti alasan strategis ataupun perhitungan ekonomi yang sering kali menjadi penghambat utama terjalinnya kesepakatan.

Walaupun Direktur Utama BTN tidak memberitahukan alasan batalnya konsolidasi tersebut, faktor keuangan kemungkinan besar menjadi alasan utama. Diketahui Muamalat pernah menghadapi krisis pada 2017 dengan rasio kecukupan modal hanya 11,58 persen. Dengan kondisi ini, bisa dibilang Muamalat termasuk bank yang "sakit". Hal ini terjadi karena Muamalat melakukan kesalahan dalam menjalankan strategi bisnis. Muamalat yang seharusnya berfokus pada segmen pasar retail justru terlalu berfokus pada pendanaan korporasi, salah satunya untuk maskapai penerbangan Batavia Air yang akhirnya pailit. Strategi tersebut mengakibatkan pembiayaan bermasalah (NPF) Bank Muamalat meningkat tajam hingga menembus 5 persen pada 2017. Strategi ini bisa dibilang merupakan kesalahan fatal serta mengingkari visi Bank Muamalat sebagai bank yang berfokus pada retail alih-alih korporasi besar. (Yetede)

Empat Bank Besar Cetak Laba Positif

HR1 02 Oct 2024 Kontan

Kinerja empat bank besar di kuartal III tahun ini diperkirakan masih tumbuh positif. Jika berkaca dari hasil kinerja yang berakhir pada Agustus 2024, pertumbuhan laba bersih bank masih di atas proyeksi para analis. Menilik laporan keuangan bulanan masing-masing bank KBMI 4, yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), rata-rata laba tercatat naik single digit. Hanya PT Bank Central Asia Tbk (BCA) yang mampu mencatatkan pertumbuhan laba double digit. Laba BCA naik 14% secara tahunan menjadi Rp 35,99 triliun. Penyaluran kredit dari bank-bank KBMI 4 juga positif. Ada dua bank yang penyaluran kreditnya naik di atas industri. Sebagai gambaran, kredit perbankan secara industri tumbuh 11,4% secara tahunan menjadi Rp 7.508 triliun per Agustus 2024. 

Analis PT Indo Premier Sekuritas Jovent Muliadi, dalam riset Senin (30/9), menilai, pertumbuhan laba bank-bank KBMI 4 di atas proyeksi. Hitungan dia, secara agregat laba empat bank besar naik 7% secara tahunan menjadi Rp 120 triliun. "Pencapaian ini mengalahkan estimasi kami yang memperkirakan laba bank besar hanya tumbuh 4% dan di atas proyeksi konsesus analis yang memperkirakan laba naik 5%," kata Jovent. Kenaikan laba ini didorong pendapatan operasional sebelum provisi yang juga naik 10% secara tahunan menjadi Rp 186,01 triliun. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi berpandangan, kinerja bank KBMI 4 menggambarkan pertumbuhan cenderung melambat. Menurut dia, ini dampak pengetatan kebijakan moneter oleh Bank Indonesia (BI). Toh, Audi melihat kinerja yang melambat ini tak banyak berdampak pada prospek saham bank KBMI 4. Ia menyukai BBCA dan BMRI karena pertumbuhan kredit solid. Sedang Jovent merekomendasikan beli BBRI, BBCA dan BMRI, dan memasang rekomendasi hold di BBNI.

LPS Mempertahankan TBP di Bank Umum

KT1 01 Oct 2024 Investor Daily (H)
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memutuskan untuk mempertahankan Tingkat Bunga Penjamin (TBP)  simpanan rupiah di bank umum dan bank perekonomian rakyat (BPR) serta simpanan valas di bank umum. Namun, ke depan LPS tidak menutup kemungkinan menurunkan  TBP apabila diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK) LPS telah melakukan evaluasi dan menetapkan TBP bagi simpanan dalam rupiah di bank umum dan BPR, serta simpanan dalam bentuk valuta asing di bank umum. Saat ini TBP simpanan rupiah pada bank umum adalah 4,25% dan TBP simpanan rupiah pada BPR 6,75%. Sedangkan untuk TBP simpanan valas pada bank umum adalah sebesar 2,25%. Penetapan tersebut salah satunya didasari untuk memberikan ruang lanjutan bagi perbankan dalam pengelolaan likuiditas dan suku bunga. TBP tersebut akan berlaku untuk periode 1 Oktober 2024 hingga 31 Januari 2025. (Yetede)

Era Prabowo: Potensi Pertumbuhan Kredit

HR1 01 Oct 2024 Kontan

Prospek bisnis perbankan di era pemerintahan Prabowo-Gibran berpotensi lebih cerah. Pasalnya, pemerintahan baru itu menjanjikan bisa membawa ekonomi Indonesia tumbuh 8% per tahun. Sejumlah program telah disiapkan untuk bisa merealisasikan janji tersebut. Sektor perumahan akan menjadi salah satu program prioritas pemerintahan periode 2024-2029 itu. Tak tanggung-tanggung, Prabowo-Gibran menjanjikan program pembangunan 3 juta rumah per tahun, naik tiga kali lipat dari program sejuta rumah pemerintahan Jokowi. Sebelumnya, Ketua Satgas Perumahan Presiden terpilih Prabowo Subianto, Hashim S. Djojohadikusumo, mengatakan sektor properti akan didorong bisa berkontribusi 25% terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia ke depan, naik signifikan dari 3% saat ini. Tahun ini, Bank Indonesia (BI) memproyeksikan kredit perbankan akan tumbuh 10%-12%. Adapun realisasi per Agustus 2024 tercatat tumbuh sebesar 11,4% secara tahunan atau year on year (YoY). Lani Darmawan, Presiden Direktur Bank CIMB Niaga memperkirakan kegiatan ekonomi, termasuk bisnis perbankan, akan tumbuh positif bisa transisi pemerintahan dari presiden Jokowi ke presiden Prabowo berjalan dengan baik. “Kita semua berharap transisi di pemerintahan bisa berjalan dengan mulus,” ujarnya kepala KONTAN, Senin (30/1). 

Direktur Kepatuhan Bank Oke, Efdinal Alamsyah, optimistis kredit Bank Oke akan tumbuh positif pada 2025. Ia memprediksi pertumbuhannya bisa tumbuh lebih kencang dari tahun ini jika kebijakan pemerintahan Prabowo pro bisnis. Sementara Direktur Utama BNI, Royke Tumilaar, mengungkapkan penyaluran kredit BNI masih dijalur target yang sudah ditetapkan. Perseroan menargtekan kredit tumbuh 10%-12% tahun ini. Per Juni sudah tumbuh 11,7% secara tahunan. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira melihat, ekspansi kredit perbankan akan meningkat ke sektor-sektor yang menjadi program prioritas pemerintahan baru. “Infrastruktur konstruksi yang berkaitan dengan irigasi, bendungan, ini menjadi salah satu poin dari kenaikan proyeksi kredit tahun 2025 ke depan,” ujarnya. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eko Listiyanto memperkirakan pertumbuhan kredit tahun depan bisa lebih kencang. Namun, menurutnya pertumbuhan itu lebih ditopang tren penurunan suku bunga. “Laju pertumbuhan kredit bisa sedikit naik, di kisaran 13%-15%,” ujarnya.

Penurunan Beban Dana Jadi Angin Segar bagi Bank

HR1 30 Sep 2024 Kontan

Era suku bunga tinggi resmi berakhir dengan pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan Bank Indonesia (BI). Hal itu diperkirakan dapat mendongkrak kinerja emiten, khususnya sektor perbankan. Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji mengatakan, untuk jangka pendek saham sektor perbankan masih akan bergerak fluktuatif. Sebab terdapat sentimen yang mempengaruhi gerak pasar. Pertama, pasar menantikan pelantikan Prabowo-Gibran sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia terpilih. Kedua, rilis data produk domestik bruto (PDB) Indonesia kuartal III 2024 yang diperkirakan tidak setinggi pada kuartal II. Sementara untuk jangka panjang, pemangkasan suku bunga ini menjadi angin segar bagi sektor perbankan. Sebab berpotensi meningkatkan kinerja kredit perbankan. Analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano sepakat, efek pemangkasan suku bunga tidak akan berlangsung instan. Ia memperkirakan perbaikan likuiditas yang akan mengurangi tekanan biaya dana perbankan baru akan terjadi paling cepat di kuartal I 2025. Dari sejumlah emiten bank dalam cakupannya, Victor menilai, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) akan mendapatkan keuntungan yang paling besar seiring dengan pemangkasan suku bunga. 

Sebab BBNI paling terdampak saat kenaikan suku bunga. Tercermin dengan penurunan net interest margin (NIM) sebesar 80 basis poin (bps) secara tahunan atay year on year (yoy) pada Juli 2024. Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) akan menjadi yang paling sedikit diuntungkan karena NIM yang tahan banting. Berdasarkan analisis Victor, semua bank kecuali BBCA mengalami transmisi kenaikan suku bunga lebih tinggi di biaya dana mereka pada kenaikan suku bunga sebelumnya dibandingkan rata-rata historis. Secara keseluruhan, Victor mempertahankan peringat overweight untuk sektor perbankan. Adapun BBCA menjadi pilihan utamanya dan menyematkan rating buy dengan target harga yang ditingkatkan menjadi Rp 12.400 dari sebelumnya Rp 11.300. Sementara itu, analis JP Morgan, Harsh Wardhan Modi mempertahankan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebagai pilihan utamanya. Ini menyusul momentum laba per saham (EPS) yang positif. "Kami memperkirakan pertumbuhan EPS sekitar 17% pada 2025 dan 2026 setelah EPS yang datar tahun ini," sebut Harsh.

Penurunan Beban Provisi Dorong Laba Perbankan

HR1 30 Sep 2024 Kontan

Tantangan perbankan untuk mencetak pertumbuhan laba bersih tahun ini memang berat. Tingginya biaya dana membuat pendapatan bunga bersih alias net interest income (NII) tak bisa melaju kencang. Untungnya, biaya kredit mulai turun dan beban provisi mulai menyusut. Penyusutan ini membantu menahan tekanan laba dari tigginya biaya dana. Menilik laporan bulanan Agustus, sejumlah bank mampu membukukan pertumbuhan laba bersih meski pendapatan bunga bersih turun. Pertumbuhan ini didongkrak penurunan biaya provisi. Bank yang mencetak kenaikan NII dan penurunan beban provisi sekaligus mencetak pertumbuhan laba lebih apik. Ambil contoh, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI). Di delapan bulan pertama 2024, bank ini mencetak laba bersih secara bank only Rp 14,22 triliun, naik 4,25% secara tahunan. Padahal, pendapatan bunga bersih BNI terkoreksi 6,82% jadi Rp 25,56 triliun.

Direktur Utama BNI Royke Tumilaar bilang, biaya pencadangan dibentuk sesuai kebutuhan berdasarkan proyeksi kualitas aset ke depan. Saat ini, manajemen BNI yakin kualitas aset akan terus membaik. Royke melihat penurunan suku bunga acuan akan berdampak positif pada pendapatan bunga yang diraih bank berlogo 46 ini. Terlebih, NIM di Agustus 2024 berjalan mencapai 4.4%. ”NIM kita sudah jauh di atas rata-rata bulanan semester satu yang hanya 4.0%,” tambah Royke. Bank Central Asia (BCA) mencatat beban kerugian penurunan nilai aset keuangan atau beban provisi turun 25% jadi Rp 1,29 triliun. Sedang pendapatan bunga bersih tumbuh 8,78% jadi Rp 50,55 triliun. Alhasil, laba tumbuh 13,5% jadi Rp 35,99 triliun. EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn mengatakan, pihaknya selalu menerapkan prinsip kehati-hatian di setiap aspek operasional, agar sejalan dengan profil risiko yang telah ditetapkan manajemen. "Dengan begitu, kualitas aset tetap terjaga, dengan cadangan aset memadai,” ujarnya.

Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti 4 di luar PT Bank Mandiri

KT1 27 Sep 2024 Investor Daily (H)

Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 4 di luar PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mencetak laba bersih sebesar Rp86,42 triliun per Agustus 2024. Perolehan ini tumbuh 7,79% dibandingkan Agustus 2023 sebesar Rp80,17 triliun. Adapun, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) mengantongi laba bersih bank only Rp36,12 triliun, tumbh 3,96% secara tahunan (year on year/yoy). Didukung dengan pendapatan bunga bersih (net interest incoming/NII) sebesar Rp73,63, naik 2,89% (yoy).

Kemudian, posisi kedua ada PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dengan pertumbuhan laba bersih bank only tertinggi 13,5% (yoy) menjadi Rp35,99 triliun, angka ini tidak jauh berbeda dari BRI. Pertumbuhan laba BCA ditopang dari NII yang meningkat 8,78% (yoy) menjadi Rp50,55. Karena Bank Mandiri belum merilis laporan keuangan Agustus, peringkat selanjutnya adalah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) dengan laba bersih Rp14,22 triliun, tumbuh 4,33% (yoy), didukung NII sebesar Rp25,56 triliun, terkontraksi 6,82% (yoy). (Yetede)

PT Bank Muamalat Indonesia Mencatat Kinerja Solid dalam Pembiayaan Emas Melalui Produk Solusi Emas Hijrah

KT1 27 Sep 2024 Investor Daily
PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja yang solid dalam pembiayaan kepemilikan emas melalui produk Solusi Emas Hijrah. Hingga Agustus 2024, pencairan produk ini tumbuh 191% atau hampir dua kali lipat dibandingkan dengan pencairan pada Mei 2024. Hal ini menandakan terjadinya peningkatan minat masyarakat teradap investasi emas. SEVP Retail Banking Bank Muamalat Dedy Suryadi Dharmawan menjelaskan, saat ini nasabah semakin memahami pentingnya  investasi emas sebagai solusi untuk kebutuhan di masa yang akan datang. Kenaikan harga emas yang terjadi belakangan ini, menambah kepercayaan masyarakat terhadap emas  sebagai intrusmen investasi jangka panjang yang aman dan menguntungkan. "Sejak kami lancarkan awal Agustus lalu ditambah masa pengenalan produk ini sebelumnya, Solusi Emas Hijrah terbukti ampuh  menarik minat masyarakat. Kenaikan akses pembiayaan produk ini seiring dengan solusi bagi nasabah untuk mempersiapkan dana di masa mendatang," jelas Dedy. (Yetede)

Suku Bunga Turun, Bank Optimistis Kredit Konsumer Naik

HR1 27 Sep 2024 Kontan

Penurunan suku bunga acuan bakal mendongkrak penyaluran kredit konsumer di perbankan. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), penyaluran kredit konsumsi per Juli 2024 mencapai Rp 2.108,1 triliun, meningkat 10,6% secara tahunan. Penopang terbesar dari pertumbuhan kredit konsumer berasal dari kredit pemilikan rumah (KPR), yang tumbuh 14,2% per Juli 2024. Disusul kredit kendaraan bermotor tumbuh 7,9% dan kredit multiguna meningkat 8,7%. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mengakui penurunan suku bunga dapat mendongkrak kredit konsumer, termasuk properti. "Dengan membaiknya suku bunga dan kebijakan pemerintah, BCA optimistis KPR sampai akhir tahun makin meningkat dibanding paruh pertama tahun ini," ungkap Executive Vice President (EVP) Consumer Loan BCA Welly Yandoko. 

Di akhir tahun, BCA optimistis kredit akan tumbuh di kisaran 8%-10%. Welly menjelaskan, bunga KPR BCA relatif tidak mengalami perubahan yang berarti sejak kenaikan BI rate. Sehingga penurunan suku bunga acuan tidak serta merta langsung mendorong penurunan suku bunga pinjaman di KPR BCA. Ramon Armando, Corporate Secretary Bank Tabungan Negara (BTN) pun mengaku, efek penurunan suku bunga belum berdampak pada bunga KPR. Ramon menjelaskan, bank baru akan menyesuaikan suku bunga kredit ketika bunga simpanan menurun. PT Bank Mandiri Tbk juga yakin pertumbuhan kredit konsumsi masih positif. Corporate Secretary Bank Mandiri Teuku Ali Usman menargetkan kredit bisa tumbuh 16%-18% secara tahunan. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mengalami pertumbuhan pembiayaan konsumer 15,91% secara tahunan menjadi Rp 140 triliun. Pembiayaan konsumer ini didominasi pembiayaan BSI Griya. Direktur Sales & Distribution BSI Anton Sukarna menyebut, portofolio rumah baru mendominasi pembiayaan BSI Griya lebih dari 50%, disusul secondary market. "Kualitas pembiayaan BSI Griya terjaga dengan non performing financing 2,26%," ujar dia.