;
Tags

Perbankan

( 2293 )

Suku Bunga BI Turun, Perbankan Genjot Pertumbuhan Kredit

HR1 19 Sep 2024 Kontan

Perbankan mendapat angin segar baru. Bank Indonesia (BI) telah menurunkan bunga acuannya 25 basis point (bps) ke level 6%. Kebijakan tersebut bakal mengurangi tekanan biaya dana yang menjadi tantangan utama bank tahun ini. Tingginya biaya dana menjadi salah satu penyebab tingkat profitalitas perbankan tahun ini melambat. Data Bank Indonesia (BI) mencatat suku bunga simpanan berjangka mengalami tren peningkatan selama era suku bunga tinggi. Per Juli 2024, bunga simpanan berjangka tenor 1 bulan mencapai 4,75%. Sedangkan pada Juli 2023 masih di level 4,54% dan di Desember sebesar 4,71%. Penurunan bunga acuan tentu akan segera direspon bank-bank dengan menurunkan bunga dana mahalnya. Bank CIMB Niaga, misalnya, akan fokus menurunkan biaya dana atau cost of fund (CoF) dengan adanya penurunan BI rate. Artinya, bunga simpanan bank berkode saham BNGA ini akan lebih dulu turun agar likuiditas semakin baik dan bank selanjutnya bisa memberikan bunga kredit lebih murah. “(Dengan penurunan CoF) margin bisa tetap sehat. Bank juga bisa membiayai kredit, termasuk resiko NPL,” kata Presiden Direktur Bank CIMB Niaga Lani Darmawan, Rabu (18/9). 

Namun, Lani belum bisa memastikan bunga simpanan bisa langsung turun setelah pasca penurunan BI rate yang diputuskan pada Rabu (18/9). Menurutnya, penyesuaian bunga dana itu akan tergantung juga dengan perkembangan kondisi industri dan rate instrumen investasi lain. Sementara itu, Direktur Keuangan Bank Mandiri Sigit Prastowo melihat penurunan BI rate akan lebih berdampak pada likuiditas ketimbang permintaan kredit. Kebijakan itu akan lebih cepat bedampak pada penurunan bunga dana. Adapun Direktur Keuangan Bank Raya Rustati Suri Pertiwi melihat bahwa penuruna bunga acuan akan menurunkan biaya bank, terutama biaya dana. “Efisiensi biaya dana akan mendorong peningkatan efisiensi industri perbankan Indonesia.” ujarnya. Sebagai informasi, Tiwi bilang sejauh ini belum melakukan kenaikan suku bunga. Ia bilang untuk saat ini bunga kredit di Bank Raya beragam tergantung jenis kreditnya, tapi untuk SBDK mikro di kisaran 15% dan SBDK ritel di kisaran 11%.

Apakah Saatnya Menurunkan Suku Bunga?

HR1 18 Sep 2024 Bisnis Indonesia (H)

Bank Indonesia (BI) dinilai memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga acuan pada bulan ini, tanpa harus menunggu keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Sejumlah tokoh penting menyuarakan harapan akan penurunan suku bunga BI, yang diharapkan dapat mempercepat pemulihan ekonomi dalam negeri.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani, menekankan bahwa suku bunga yang kompetitif akan mempercepat akselerasi kinerja ekonomi dalam negeri. Dia menambahkan bahwa banyak indikator ekonomi sudah terkendali, sehingga risiko terhadap stabilitas makro jika BI Rate diturunkan cukup rendah.

Sementara itu, Direktur Keuangan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., Nofry Rony Poetra, menyatakan bahwa penurunan suku bunga acuan akan berdampak langsung pada suku bunga kredit dan pendanaan bank. Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., Sunarso, menyoroti bahwa penurunan suku bunga akan meningkatkan likuiditas perbankan, yang dapat mendorong pertumbuhan segmen mikro dan ultramikro.

CEO PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk. (ADMF), I Dewa Made Susila, juga mengharapkan penurunan BI Rate, karena hal tersebut akan meningkatkan keyakinan konsumen untuk berbelanja dan meningkatkan permintaan pembiayaan. Dengan penurunan suku bunga, biaya dana (cost of fund) juga akan lebih rendah, yang pada gilirannya membuat harga kredit lebih kompetitif.

Kepala Riset Bahana Sekuritas, Satria Sambijantoro, menambahkan bahwa penurunan harga minyak dan deflasi yang terjadi selama empat bulan berturut-turut mendukung potensi penurunan suku bunga. Menurutnya, keputusan BI akan sangat menarik karena akan diumumkan sebelum The Fed menyampaikan kebijakan suku bunganya.

Perlindungan dari Penipuan: Inovasi Industri Perbankan

HR1 18 Sep 2024 Kontan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mulai memperketat aturan anti fraud. Maklum, kasus seperti penggelapan dana nasbah hingga korupsi masih muncul di perbankan. Per September, ada 15 bank perekonomian rakyat (BPR) yang dicabut izinnya karena berbagai alasan, salah satunya dugaan fraud. Mulai 31 Oktober 2024, perbankan wajib melaporkan strategi anti fraud, sesuai Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 12/2024. Bank juga wajib melaporkan tindakan kasus fraud. Direktur Kepatuhan Bank Oke Indonesia Efdinal Alamsyah mengatakan, pihaknya telah menerapkan langkah preventif meminimalisir risiko fraud sebelum ada POJK ini. "Bank sudah memiliki fungsi anti fraud yang menjalankan strategi anti fraud, termasuk pelaporan," ujar dia, kemarin. Efdinal menjelaskan, langkah preventif yang dilakukan antara lain menggunakan teknologi, disiplin jika ditemukan kasus fraud dan menerapkan whistleblowing system. 

"Hingga saat ini, strategi tersebut terbukti cukup efektif menekan angka kejadian fraud di Bank Oke, meski terus dievaluasi untuk perbaikan di masa datang," ujar dia. Direktur Keuangan Treasury & Global Services Bank Jatim Edi Masrianto mengatakan, Bank Jatim sudah mempersiapkan berbagai hal untuk memastikan kepatuhan terhadap aturan baru ini. "Kesiapan ini penting untuk memastikan tidak hanya melindungi bank dari risiko fraud, tetapi juga menjaga kepercayaan nasabah dan regulator," ungkap dia, Selasa (17/8). Kasus lainnya adalah fraud mantan karyawan Bank Jago pada Juli 2024 yang membobol 112 rekening yang telah diblokir bank. Kasus ini berhasil dibongkar manajemen.

Persaingan Industri Perbankan dalam dan Luar Negeri

KT1 17 Sep 2024 Investor Daily (H)

Sejumlah bank asing mulai mengurangi operasionalnya di Indonesia. Hal ini lantaran bank-bank asing tidak dapat bersaing dengan bank-bank besar nasional, utamanya pada segmen bisnis ritel atau konsumer. OJK menilai, keputusan bank asing untuk menjual bisnisnya atau mengurangi operasioanlnya di Indonesia disebabkan oleh adanya peralihan fokus dari induk bisnis masing-masing bank. Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae, iklim investasi di Indonesia yang semakin terbuka pasca pandemi Covid-19 menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi investor baik lokal maupun asing, prospek kinerja bank  asing di Indonesia tentunya masih sesuai dengan harapan dan porsi terhadap industri yang tetap terjaga dengan baik. "Dukungan kami terhadap peningkatan daya saing perbankan nasional tidak hanya diberikan kepada bank 'asli Indonesia' namun tentunya juga bank asing yang beroperasi di Indonesia," imbuh Dian.  Pada prinsipnya, OJK akan senantiasa mendukung industri keuangan yang berdaya saing dengan penerapan prinsip kehati-hatian sesuai dengan ketentuan yang berlaku. (Yetede)

Bank-bank Sentral Utama Dunia Menggelar Pertemuan Kebijakan Moneter

KT1 17 Sep 2024 Investor Daily (H)
Bank-bank sentral utama dunia menggelar pertemuan kebijakan moneter masing-masing pekan ini dengan norma memasuki pemangkasan suku bunga acuan. Salah satu yang sangat dinanti-nantikan adalah rapat dua hari The Federal Reserve dan para investor menunggu-nunggu kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat ini ke depan. Minggu-minggu ini sibuk nan padat itu diawali oleh pertemuan The Fed pada Selasa (17/09/2024) waktu setempat yang disusul pengumuman serta konferensi pers Gubernur The Fed Jerome Powell esok siangnya waktu setempat. Bank sentral Brasil yang juga dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan pada Selasa dan Rabu (18/09/2024). Adapun Bank Of England (BOE), Norway's Norges Bank, dan Reserve Bank of South Africa (19/09/2024). Bank sentral terakhir yang dijadwalkan memberikan keputusan tentang suku bunga terbarunya adalah Bank of Japan (BoJ) pada Jumat (20/9/2024), usai rapat dua hari. (Yetede)

Bank Indonesia Paparkan Ekspedisi Rupiah 2024: Dorong Stabilitas Ekonomi

HR1 17 Sep 2024 Bisnis Indonesia

Menjaga kedaulatan Indonesia bukan hanya melalui pendekatan fisik seperti pertahanan, tetapi juga melalui ekonomi, sosial, dan pendidikan. Bank Indonesia (BI), bersama dengan TNI Angkatan Laut, berkolaborasi dalam Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) untuk memastikan distribusi uang Rupiah yang layak edar ke wilayah Terdepan, Terluar, dan Terpencil (3T), terutama di Papua Barat. Kepala Perwakilan BI Papua Barat, Setian, menekankan pentingnya penyediaan uang kartal dalam menjaga ekonomi daerah-daerah 3T dan memastikan transaksi dilakukan dengan Rupiah, sebagai simbol kedaulatan negara.

Asisten Operasi Kasal, Laksda TNI Yayan Sofyan, menegaskan bahwa TNI AL juga terlibat dalam menjaga kelancaran pembangunan ekonomi melalui transaksi keuangan menggunakan Rupiah. Selain distribusi uang, ekspedisi ini juga melibatkan kegiatan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat setempat, termasuk anak-anak, untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap Rupiah dan NKRI.

Dalam ekspedisi ini, BI dan TNI AL menghadapi berbagai tantangan medan, seperti gelombang laut yang tinggi, tetapi berhasil mencapai tujuan mereka. Penjabat Gubernur Papua Barat Daya, Mohammad Musa’ad, melalui perwakilannya, menyampaikan apresiasi atas upaya ini yang tidak hanya menjaga kedaulatan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui transaksi ekonomi yang lancar.

Persaingan Bank Dalam Menarik Dana Murah Semakin Ketat

HR1 17 Sep 2024 Kontan

Perbankan berlomba-lomba mencari strategi untuk mendorong peningkatan porsi dana murah alias current account saving account (CASA) untuk menjaga pertumbuhan secara berkelanjutan. Semakin tinggi rasio CASA satu bank, maka akan semakin kompetitif bank tersebut di pasar. Strategi yang dilakukan antar bank beragam. Ada yang fokus hanya mengoptimalkan layanan digital dan memberi bunga yang lebih bersaing, ada yang memilih menggenjot kerjasama payroll dan pengelolaan kas. Ada pula yang lebih mengandalkan program undian berhadiah. Bank Tabungan Negara (BTN), misalnya, memilih strategi pengoptimalan layanan digital dan meningkatkan benefit ke nasabah melalui produk BTN Prospera. 

Direktur Distribution & Institutional Funding BTN Jasmin mengatakan, bank pelat merah ini terus melakukan inovasi fitur pada aplikasi BTN Mobile. Inovasi ini diharapkan mendorong nasabah semakin aktif bertransaksi. Sementara Bank Mandiri fokus mengoptimalkan layanan digital untuk menjaring CASA. Bank pelat merah ini terus berinovasi menghadirkan fitur untuk memenuhi segala macam kebutuhan nasabah dengan mudah. "Selain itu, Bank Mandiri juga memberi suku bunga yang kompetitif, dengan fokus pada penyediaan benefit, engagement dan program loyalty yang dapat dinikmati di berbagai partner strategis," kata Evi Dempowati, SVP Retail Deposit Product & Solution Bank Mandiri. Adapun Bank Danamon Indonesia fokus memacu CASA lewat program undian berhadiah bertajuk Danamon Hadiah Beruntun (DHB). Program tersebut berlangsung selama periode Juni 2024 sampai 31 Januari 2025. Consumer Funding and Wealth Business Head Bank Danamon Ivan Jaya mengatakan, program DHB sudah dijalankan selama tiga tahun terakhir. Program ini digelar kembali karena terbukti sukses mendongkrak pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) hingga lebih dari 13%.

AUM Bisa Tumbuh Dua Digit Berdasarkan Data LPS

KT1 13 Sep 2024 Investor Daily (H)

Di tengah penurunan kelas menengah saat ini, sejumlah bank masih mencatatkan peningkatan dana kelolaan bisnis wealth management dari nasabah kaya. Bahkan, diperkirakan dana kelolaan (asset under management/AUM) bisa tumbuh dua digit. Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), jumlah rekening dengan simpanan di atas Rp 5 miliar pada Juli 2024 sebanyak 142.324 rekening meningkat 0,9% dari bulan sebelumnya (month to month/mtm), atau naik 8,6% secara tahunan (year on year/yoy). Apabila dibandingkan dengan posisi tiga tahun lalu, yakni Juli 2021 jumlah rekeningnya melesat 25%. Adapun, rekening di bawah 100 juta yang per Juli 2024 mencapai 580 juta rekening hanya naik 0,5% (mtm), sama seperti tiering Rp 100-200 juta sebanyak 3,13 juta rekening yang tumbuh 0,5% (mtm). Pertumbuhan kedua tiering nominal tersebut lebih rendah dibandingkan rekening dengan simpanan di atas Rp 5 miliar yang tumbuh 0,9% (mtm). Untuk tiering Rp 200-500 juta juga naik 0,7% (mtm) menjadi 2,23 juta rekening per Juli 2024 masih lebih rendah dibandingkan rekening dengan simpanan jumbo. (Yetede)

Fenomena Penggerusan Tabungan: Makin Terasa Nyata

HR1 13 Sep 2024 Kontan

Fenomena makan tabungan yang melanda masyarakat Indonesia semakin nyata. Ini terlihat dari jumlah tabungan per rumahtangga di bank yang kian menyusut. Data Bank Indonesia per Juli 2024 mencatat, rata-rata tabungan rumahtangga per rekening bank hanya sebesar Rp 4,28 juta. Angka tersebut mengalami penurunan sekitar 6,3% secara tahunan. Secara total nilai simpanan tabungan di bank pada periode tersebut masih naik 5,2% secara tahunan jadi Rp 2.445 triliun. Tapi, kenaikan terjadi lebih karena pertambahan pesat jumlah rekening baru. Ekonom Bank Permata Josua Pardede menuturkan,tren penurunan rata-rata DPK sudah terjadi sejak tahun 2020. Menurut dia, selama tahun-tahun tersebut, total DPK tabungan di bank masih meningkat dan disertai pertumbuhan jumlah rekening. Ia mengambil contoh, di 2022 dan 2023, jumlah DPK tabungan meningkat masing-masing 5,61% dan 1,93%. Sedang jumlah rekening naik 18,40% dan 10,22%. Di Juli 2024, jumlah DPK tabungan masih tumbuh 5,22% dan jumlah rekening naik 11,87%. "Kenaikan jumlah akun tabungan bisa berarti semakin banyak orang punya rekening bank, atau satu orang memiliki beberapa rekening," ujar Josua, kemarin.

Ekonom dan Pengamat Perbankan Universitas Binus Doddy Ariefianto juga menuturkan, sebetulnya pertumbuhan tabungan rumahtangga diselamatkan oleh segelintir masyarakat yang memang memiliki tabungan dengan nilai nominal besar. Menurut Doddy, kondisi ini tak bisa dihindarkan Ketika beberapa sektor ekonomi yang menyedot tenaga kerja mengalami kemunduran. Alhasil, efisiensi karyawan terjadi di beberapa sektor. Direktur Kepatuhan OK Bank Efdinal Alamsyah mengungkapkan, penurunan tabungan bisa mengindikasikan masyarakat mengeluarkan lebih banyak uang untuk memenuhi kebutuhan mereka atau berbelanja.

LPS Mencatat DPK mengalami Penyusutan 0,63% per Juli 2024

KT1 12 Sep 2024 Investor Daily (H)
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat sumber dana non dana pihak ketiga (DPK) mengalami  penyusutan 0,63% (month to month/mtm) per Juli 2024. Pun ke depan, ruang perbankan untuk mencari sumber dana non DPK juga menurun lantaran akan menekan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) Associate Faculty Lembaga Pengembangan Indonesia (LPPI) Ryan Kiryanto mengatakan, terdapat tiga alasan yang membuat pendanaan non konvensional  perbankan mengalami penurunan saat ini. Pertama, perbankan akan sangat sulit menerbitkan surat utang untuk kompetisi dengan Surat Berharga Negara (SBN) atau Surat Utang Negara (SUN) yang menawarkan kupon berkisar 6-7%. "Kalau bank mau terbitkan surat utang harus sama atau lebih tinggi dari kupon, akan susah jual kreditnya karena mahal. Artinya, bank terbitkan surat utang itu cost atau of fund mahal dan kalau tetap nekad, blended NIM akan tergerus," ujar Ryan kepada Investor Daily. (Yetede)