Perbankan
( 2293 )BNI Pertahankan Rasio Dividen
PT Bank Negara Indonesia (persero) Tbk (BNI) memastikan akan memberi nilai tambah kepada para pemegang saham, salah satunya melalui pembayaran dividen. Hingga posisi semester I-2024, rasio kecukupan modal BNI relatif kuat, sehingga perseroan bisa memberikan dividen minimal sama dengan tahun lalu dari sisi rasionya. Direktur keuangan BNI Novita Widya Anggraini mengatakan, apabila riwayat pembayaran dividen bank bersandi saham BBNI ini, pada tahun buku 2021 dividend payout ratio (DPR) yang diberikan sebesar 25%. kemudian secara bertahap terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan kinerja menjadi 30% pada tahun buku 2022. Berikutnya, pada tahun buku 2023, BBNI kembali mengerek DPR menjadi 50% dari laba bersih yang diperoleh. Novita menjelaskan bahwa dalam mempertimbangkan pembagian dividen, perseroan melakukan evaluasi, utamanya dari sisi kecukupan modal. Hingga posisi Juni 2024, CAR BNI cukup kuat dan sehat berada di level 20,7%, dengan Tier 1 sebesar 19,1%. (Yetede)
IKN Kolonialisme Baru
PADA pengujung periode kepemimpinannya, Presiden Joko Widodo menyampaikan pernyataan yang sangat ironis mengenai bau-bau kolonialisme (reek of colonialism) yang ada di Istana Merdeka Jakarta dan Istana Bogor. Pernyataan ini dikemukakan Jokowi beberapa hari menjelang peringatan 17 Agustus 2024 yang diperingati di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur. Istilah "bau-bau kolonialisme" yang keluar dari mulut Jokowi penting untuk dikritik secara serius. Pasalnya, di balik nama Jakarta, sebagai kota pelabuhan terpenting di Asia Tenggara pada masa lampau, tersimpan aroma harum para pejuang yang telah mengorbankan harta, jiwa, dan raga mereka untuk merebut kemerdekaan. Karena itu, penamaan Jakarta, yang diambil dari kata "jaya" dan "karta", menggambarkan spirit kemerdekaan melawan kolonialisme.
Tak hanya itu, untuk menggenapi makna dan perjuangan mengisi kemerdekaan Republik Indonesia yang dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, dicetuskanlah ide pembangunan masjid yang menjadi simbol perjuangan rakyat Indonesia. Pencetusnya adalah Menteri Agama pertama, yaitu KH Wahid Hasyim. Ide ini kemudian direalisasi dengan membangun Masjid Istiqlal. Secara kebahasaan, Istiqlal bermakna kemerdekaan.
Pembangunan Masjid Istiqlal bermakna bahwa kemerdekaan Republik Indonesia diraih bukan karena keberhasilan aspek materiel semata, seperti senjata. Lebih jauh, pembangunannya menggambarkan keberhasilan para pendiri Indonesia menaklukkan ambisi pribadi dan hawa nafsu mereka sehingga mampu melawan kolonialisme serta mendirikan negara yang didesain untuk kepentingan seluruh lapisan masyarakat. (Yetede)
Janji Dividen Menggiurkan dari Bank Pelat Merah
Laju pertumbuhan laba perbankan berjalan lambat di tahun ini. Meski begitu, sejumlah bank diperkirakan masih mampu memberikan dividen jumbo tahun depan, terutama bank pelat merah. Dalam Nota Keuangan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2025, pemerintah menargetkan dividen dari perusahaan pelat merah mencapai Rp 86 triliun, naik dari proyeksi tahun ini Rp 85,2 triliun. Selama ini, hampir separuh pembayaran dividen berasal dari bank BUMN. Toh, bank pelat merah tetap optimistis bisa berkontribusi memberi dividen besar. Beberapa tahun terakhir, salah satu penyumbang dividen terbesar bagi negara adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI). Bank berkode saham BBRI ini terakhir membayar dividen Rp 48,1 triliun. Tahun depan, BRI yakin masih bisa membagi dividen dengan nilai cukup gede. "Mau berapapun laba yang didapat BRI di tahun ini, rasio dividen BRI akan tetap besar," kata Direktur Utama BRI Sunarso. Ia menegaskan, BRI memiliki permodalan kuat, sehingga tak perlu menyisihkan laba ditahan. Saat ini, BRI mencetak CAR 24%.
Jika rasio tersebut turun 2% tiap tahunnya, Sunarso memastikan dividen tetap bisa dibagikan hingga lima tahun ke depan. "Kalau kami mau tumbuh, asumsi memakai modal 2% untuk tumbuh setiap tahun, maka kami jaga CAR minimum yang sangat prudent itu di 17,5%," ujar dia. Direktur Keuangan Bank Mandiri Sigit Prastowo menuturkan, selama lima tahun terakhir, Bank Mandiri telah membagikan dividen dengan rasio dividen 60% dari laba bersih. Ia bilang akan mempertahankan rasio dividen. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) juga mengusahakan membagi dividen di atas pembayaran di tahun ini. Atas kinerja tahun 2023, BTN telah membagi dividen Rp 700,19 miliar. Angka ini setara dengan 20% dari total laba BTN. Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menjelaskan, pemberian dividen akan mempertimbangkan CAR. "Tapi kemungkinan saya kasih guidance pemberian dividen di 20%-25%," ujar dia.
BCA Akan Mendorong Pertumbuhan Positif Kinerja Tahun Ini
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) akan mendorong pertumbuhan positif kinerja tahun ini. Hal ini sebagai bentuk konsistensi perseroan dalam memberikan nilai tambah kepada investor melalui pembayaran dividen. "Terkait beberapa dividen itu ada beberapa indikator, dividen per share kami upayakan meningkat, karena yield meningkat dibagi rata-rata harga saham. Tapi yang salah satu tolak ukur adalah dividen per share, bisa dilihat dalam lima tahun terakhir bagaimana terakhir kinerja BCA," ungkap Direktur Keuangan BCA Vera Eve Lim. Pada kesempatan yang sama, Corporate Secretary BCA Raymon Yonarto menambahkan, perseroan bakal memperhatikan kecukupan permodalan kedepan, namun tetap berkomitmen memberikan dividen yang terus meningkat. "Kami terus menjaga capital di di BCA tetap kuat dan kami lihat ROE 24,8% posisinya. BCA tetap menunjukkan komitmen yang baik dan di-translate dengan memberikan dividen lebih besar," samung Raymon. (Yetede)
BBCA Berupaya Pertahankan Kualitas Aset
Pertumbuhan dua digit laba bersih PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) diperkirakan terus berlanjut hingga akhir tahun 2024 ini. Kinerja emiten bank swasta terbesar di Indonesia tersebut didukung penyaluran pinjaman yang solid dan kualitas aset yang sehat. Head of Research RHB Sekuritas Indonesia, Andrey Wijaya menilai, hasil kinerja BBCA pada kuartal kedua 2024 sudah sesuai dengan ekspektasi. BBCA memiliki keunggulan pada kualitas peminjam yang solid. Bank terafiliasi Grup Djarum ini memiliki kemampuan menaikkan kembali suku bunga pinjaman sambil menjaga kualitas aset tetap utuh. Return on equity (ROE) BBCA pada semester pertama tahun ini berada di 24,8% dibandingkan 23,5% pada 2023. Sementara itu, capital adequacy ratio (CAR) alias rasio kecukupan modal Bank BCA masih solid di 27,8% pada kuartal kedua, dibandingkan 26,3% pada akhir kuartal pertama 2024. Net interest margin (NIM) BBCA berkembang sekitar 20 basis poin (bps) secara kuartalan seiring inisiatif memangkas suku bunga deposito berjangka sebelumnya. Pertumbuhan laba bersih Bank BCA semakin didorong oleh biaya kredit konsolidasi yang lebih rendah. Andrey menuturkan, pertumbuhan pinjaman BBCA secara kumulatif selama Januari-Juni 2024 sebesar Rp 849,694 triliun atau bertumbuh sekitar 15,5% yoy. Hasil ini melampaui panduan perusahaan di kisaran 8%-10% dengan pendorongnya dari segmen konsumen, UKM, serta korporasi.
Analis Binaartha Sekuritas, Achmadi Hangradhika mengatakan, dari sisi kualitas aset BBCA sebenarnya menurun, namun masih pada tingkat yang sehat. Misalnya pada rasio kredit bermasalah (NPL) BBCA naik 30 bps secara tahunan mencapai 2,20%. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan NPL di segmen komersial, UKM, dan konsumen.
Tren pertumbuhan laba bersih mencapai dua digit BBCA juga diproyeksi masih terus berlanjut. Rasio NIM 5,80% per akhir kuartal kedua 2024. Proyeksinya, rasio NIM BBCA akan menjadi 6,20% hingga akhir tahun.
Analis NH Korindo Sekuritas, Leonardo Lijuwardi menyebutkan, katalis positif bagi BBCA adalah performa operasional yang optimal dan efisien. Ini didukung oleh pertumbuhan penyaluran kredit, performa kualitas aset portofolio yang semakin sehat. Dengan demikian, maka mengarah pada NIM yang lebih ekspansif.
Transaksi Kartu Kredit Terus Melonjak
Bisnis kartu kredit perbankan tetap tumbuh mekar meski layanan paylater menjamur. Transaksi kartu kredit di paruh pertama tahun ini tumbuh baik, disertai kualitas aset yang tetap rendah. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), volume transaksi kartu kredit perbankan sepanjang semester pertama 2024 mencapai 218,03 juta. Realisasi ini meningkat 15,9% secara tahunan. Nilai transaksinya juga meningkat 7,78% menjadi Rp 210,2 triliun. Bank Negara Indonesia (BNI) salah satu yang mencetak pertumbuhan solid bisnis kartu kredit. Per Juni, outstanding kartu kredit bank ini mencapai Rp 14,4 triliun, naik 9,9% secara tahunan.
GM Divisi Bisnis Kartu BNI Grace Situmeang mengatakan, transaksi di paruh pertama 2024 naik sekitar 6%. Ia tak merinci volume dan nilai transaksinya. Transaksi terkait
travel,
e-commerce
dan
dining
masih mendominasi transaksi kartu kredit BNI, ungkap Grace, Rabu (28/8).
Peningkatan transaksi juga ditorehkan Bank Central Asia (BCA). EVP
Corporate Communication
BCA Hera F. Haryn mengatakan, transaksi kartu kredit BCA di semester I-2024 mencapai Rp 58 triliun atau tumbuh 15%.
Senada, Direktur
Retail Banking
Bank Permata Djumariah Tenteram, mengatakan, pihaknya juga mencetak pertumbuhan bisnis kartu kredit. Transaksi kartu kredit meningkat hampir 20% pada paruh pertama.
Pertumbuhan transaksi kartu kredit Bank Permata disertai kualitas yang baik. "NPL masih di bawah 1,8%," ungkap Djumariah.
Grace menyebut kenaikan risiko tak bisa dihindari seiring peningkatan ekspansi portofolio. "Walau begitu, BNI akan menjaga NPL tetap di bawah 2%, dengan tetap hati-hati dalam pemberian kartu kredit," ujarnya.
Jangan Berharap Bunga Kredit Turun Cepat
Debitur perbankan tampak belum bisa terlalu berharap era penurunan suku bunga kredit akan segera datang. Meski, ada sentimen positif menuju kesana. Semisal, pertama, suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) kemungkinan besar akan segera turun mengikuti langkah The Fed yang sudah memberikan sinyal akan memangkas suku bunga pada September mendatang. Kedua, Otoritas Jasa Keuangan telah merilis aturan baru terkait transparansi suku bunga dasar kredit (SBDK). Dengan beleid baru itu, bank-bank diwajibkan melaksanakan transparansi dalam mempublikasikan SBDK dengan melampirkan indikator dalam perhitungan SBDK, mulai dari biaya overhead , biaya dana, hingga margin yang ditetapkan bank. Namun dua faktor itu, kecil kemungkinan berdampak menurunkan bunga kredit dalam waktu dekat. Sebabnya, SBDK tak banyak mengalami kenaikan di era suku bunga tinggi. Malahan, SBDK tercatat sedikit menurun. Data BI mencatat rata-rata SBDK perbankan per Juni 2024 berada di level 8,80%, turun tipis dari posisi Desember 2023 sebesar 8,81%. Secara rinci, penurunan SBDK paling banyak terjadi di bank swasta, yakni dari 8,89% menjadi 8,84%.
Direktur Kepatuhan Bank Oke, Efdinal Alamsyah, mengungkapkan bahwa penurunan suku bunga kredit ini tidak selalu proporsional. Memang, penurunan bunga acuan bisa mendorong penurunan bunga kredit karena biaya dana pasti akan turun juga.
Bank Oke terakhir menaikkan SBDK pada November 2023. Saat itu, SBDK naik 25 basis poin untuk semua segmen.
Sementara itu, Direktur Keuangan Bank Mandiri, Sigit Prastowo, menyebut ada beberapa aspek yang dipertimbangkan Bank Mandiri dalam menentukan bunga kredit, terutama terkait likuiditas.
Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu menyebut, penurunan bunga kredit bergantung besaran penurunan suku bunga acuan. "Itu akan melihat seberapa besar impact penurunan terhadap biaya dana perbankan hari ini," ujarnya.
Fasilitas Kredit Yang Belum Ditarik Debitur Senilai Rp 569,35 T
Fasilitas kredit yang tidak dicairkan debitur (undisbursed loan/UL) di perbankan nasional terus mengalami peningkatan pada paruh pertama tahun ini. Meskipun pertumbuhan kredit juga sudah tumbuh dua digit. Hingga posisi akhir Juni 2024, kredit menganggur tersebut sudah mencapai Rp2.152,19 triliun, meningkat 7,79% secara tahunan (yoy). Apabila dirinci, fasilitas kredit yang belum ditarik debitur (committed) sebesar Rp569,35 triliun, naik 3,14% yoy. Sedangkan fasilitas kredit kepada debitur uncommited mencapai Rp 1.582,84 triliun, tumbuh 9,57% (yoy). Berdasarkan data OJK yang dihimpun Investor Daily, kredit mengangsur yang paling besar berasal dari kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) 3 atau kelompok bank menengah. tercatat fasilitas kredit yang belum ditarik mencapai Rp853,28 triliun, tumbuh 15,69% (yoy). Artinya, KBMI 3 menyumbang 39,65% dari total kredit yang mubazir karena belum ditarik debitur. (Yetede)
Industri Perbankan Berhasil Meraup Laba Bersih Sebesar Rp 126,52 Triliun
BNI Siap Perkuat Anak Usaha
Pilihan Editor
-
Maskapai Bersiap Terbangkan Penumpang Non-Mudik
07 May 2020 -
Otomotif Global Bersiap untuk Pulih
02 May 2020 -
Penyebab Kenaikan Harga Gula
30 Apr 2020 -
Penjualan Video Game Melejit
29 Apr 2020 -
20.018 WP Badan Ajukan Insentif Pajak
27 Apr 2020









