;
Tags

Perbankan

( 2293 )

Penjualan Eceran Juli Meningkat

KT1 10 Aug 2024 Investor Daily
Bank Indonesia (BI) mencatat, kinerja penjualan eceran pada Juli 2024 diprakirakan meningkat. Hal ini tercermin dari indeks penjualan Riil (IPR) Juli 2024 yang diprakirakan mencapai 212 atau secara tahunan tumbuh 4,3% secara yoy. "Meningkatnya penjualan eceran didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta subkelompok sandang," jelas Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangan tertulis. Secara bulanan, penjualan eceran diprakirakan mengalami kontraksi  pertumbuhan sebesar 7,4% secara month to month (mtm), lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tumbuh 0,4% (mtm). Secara bulanan, penjualan eceran diprakirakan mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 7,4% secara mtm, lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tumbuh 0,4% (mtm). (Yetede) 

Kredit Industri Perbankan

KT1 08 Aug 2024 Investor Daily (H)
OJK pada semester I-2024 mencatatkan adanya perbaikan kualitas kredit industri perbankan. Tercermin dari rasio kredit bermasalah (non preforming loan/NPL) yang mengalami perbaikan di paruh pertama tahun ini, perbaikan kualitas didukung dari strategi menghapus buku oleh bank-bank besar. Adapun, NPL gross perbankan nasional per Juni 2024 berada d level 2,26%, menurun dibandingkan posisi Juni 2023 di level 2,44%. Bahkan apabila dibandingkan Mei 2024 yang sebesar 2,34% juga mengalami perbaikan. Berikutnya, NPL net per Juni 2024 di level 0,78% membaik dari bulan sebelumnya sebesar 0,79%, namun masih naik dibandingkan dengan Juni 2023 sebesar 0,7%. Berdasarkan presentasi keuangan, PT Bank Mandiri (persero) Tbk juga mengalami kualitas perbaikan. (Yetede)

Transformasi Digital : Bank Saqu Dorong Pertumbuhan Bisnis Signifikan

HR1 07 Aug 2024 Bisnis Indonesia

Transformasi digital PT Bank Jasa Jakarta (BJJ) menjadi Bank Saqu dengan fokus pada segmen produktif telah membawa pertumbuhan bisnis yang signifikan bagi perusahaan. Perseroan juga berencana melanjutkan inovasi dan memperluas layanan keuangan digital. Presiden Direktur Bank Jasa Jakarta, Leo Koesmanto, menyatakan bahwa sebelum beralih menjadi bank digital, perseroan hanya memiliki 17.000 akun nasabah. Namun, kini Bank Saqu sudah memiliki lebih dari 1 juta nasabah. “Target nasabah akhir tahun sudah tercapai, satu juta tadi sudah sampai. Sekarang kita mungkin menambah sedikit saja. Kami fokus bukan ke jumlahnya, tetapi ke kualitasnya,” ujar Leo Koesmanto saat kunjungan ke Wisma Bisnis Indonesia, Selasa (6/8).

Transformasi digital yang dilakukan oleh PT Bank Jasa Jakarta menjadi Bank Saqu telah berhasil meningkatkan jumlah nasabah secara signifikan, dari 17.000 akun menjadi lebih dari 1 juta akun. Leo Koesmanto menegaskan bahwa fokus perusahaan kini lebih kepada meningkatkan kualitas layanan daripada hanya mengejar jumlah nasabah. Dengan dukungan dari pemegang saham utama, Astra Financial dan WeLab, Bank Saqu optimistis dapat memperluas pasar, terutama di segmen produktif seperti solopreneur. Bank Saqu juga terus berinovasi dengan menawarkan berbagai produk dan fitur keuangan digital, seperti BI-Fast Transfer, QRIS Payment, dan akan segera meluncurkan kartu debit, untuk menjawab kebutuhan nasabah di masa mendatang.

BRI Kembali Jadi Sponsor Utama Liga 1 2024-2025

KT1 07 Aug 2024 Investor Daily (H)
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk kembali menjadi sponsor utama untuk empat musim berturut-turut dalam perhelatan kompitisi sepak bola teratas di Indonesia, BRI Liga 1 musim 2024-2025. Hal ini disampaikan pada press conference yang dihadiri oleh Ketua UMUM PSSI Eric Thohir, Wakil Direktur Utama BRI Catur Budi Harto, Direktur Utama PT LIB (Liga Indonesia Baru) Ferry Paulus, dan Rirektur Surya Citra Media (SCM) Harsiwi Achmad, di BRI-Lian Center, Jakarta (06/08). Dalam sambutannya,  Ketua Umum PSSI Erick Thohir  mengapresiasi komitmen BRI yang menjadi sponsor BRI Liga 1 untuk tahun keeempat secara berturut-turut. "Karena pertama kali BRI menjadi sponsor liga pada saat COVID, dimana liga sepak bola diseluruh dunia berhenti tapi BRI berani mengambil posisi bahwa sepak bola di Indonesia tidak boleh mati," Imbuh Erick. (Yetede)

OJK Support UUS Perbankan

KT1 07 Aug 2024 Investor Daily (H)
Unit Usaha Syariah (UUS) perbankan yang tengah memenuhi persyaratan untuk spin off memiliki waktu dua tahun  untuk secara resmi mengajukan diri kepada OJK terkait rencana usai melepaskan diri dari entitas induk. Kepala Ekskutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, UUS juga memerlukan persiapan yang memadai sebelum akhirnya spin off. Seperti terkait bisnis model dan lainnya yang harus disempurnakan ketika mereka harus menjadi bank umum syariah. "Dan kemudian juga tentu kami memperkirakan kalau ini terjadi, akan ada masa penyesuaian sehingga nanti pada akhirnya pertumbuhan itu akan berjalan secara natural saja," jelas Dian. Merujuk Data Statistik Perbankan Syariah yang dirilis OJK, total aset industri bank syariah di Indonesia sebesar Rp861,6 triliun per Mei 2024, tumbuh 9,67% secara tahunan (yoy). Dari nilai tersebut pangsa pasarnya sebesar 7,23%, naik tipis dari bulan sebelumnya yang sebesar 7,21%. (Yetede)

Perbankan Makin Tergerus

KT1 06 Aug 2024 Investor Daily (H)

Pada paruh pertama tahun ini, industri perbankan mengalami penyusutan di sisi profitabilitas. Hal ini sejalan dengan tren suku bunga tinggi namun tidak diimbangi dengan kenaikan suku bunga kredit. Merujuk data OJK, margin bunga bersih (net interest margin/NIM) perbankan nasional per Juni 2024 berada di level 4,57%, angka ini menyusut dibandingkan  posisi Juni 2024 2023 yang sebesar 4,8%. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan bahwa secara umum rerata tertimbang suku bunga  dana pihak ketiga (DPK) dalam tren meningkat sejalan dengan naiknya suku bunga acuan selama setahun terakhir. "Di sisi lain, pergerakan rerata secara suku  bunga kredit cenderung flat, dengan suku bunga kredit modal kerja (KMK) dan kredit konsumtif (KK) menurun dibandingkan tahun lalu. Hal ini disebabkan prioritas bank untuk tetap menjaga kualitas kreditnya meskinpun NIM menjadi turun," ujar Dian. (Yetede)

Pertumbuhan Perbankan Melesat

KT1 02 Aug 2024 Investor Daily (H)
Industri perbankan di paruh pertama tahun ini menghimpun total simpanan sebesar Rp 8.778,34 triliun, tumbuh 8,5% secara tahunan (year on year/yoy). Dari nilai tersebut, simpanan jumbo perbankan masih menjadi motor pertumbuhan  dengan pertumbuhan 11,7% (yoy) jauh di atas total simpanan. Adapun, simpanan dengan tiering nominal di atas Rp 5 miliar per semester I-2024 mencapai Rp 4.738,71 triliun. Nilai tersebut bahkan per akhir Juni 2024. Simpanan jumbo tersebut juga tercatat tumbuh 4,5% year on date (ytd), namun secara bulanan (month to month/mtm) mengalami kontraksi 0,3%. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat, pertumbuhan simpanan yang tinggi berikutnya adalah tiering nominal Rp 2-5 miliar yang tumbuh 6% (yoy) menjadi Rp696,85 triliun per semester I-2024. (Yetede)

Realisasi Penyaluran Kredit Bank Mandiri Kuartal II/2024 Tembus Rp1.532 Triliun

HR1 02 Aug 2024 Bisnis Indonesia (H)

Bank Mandiri mencatatkan realisasi penyaluran kredit konsolidasi sebesar Rp1.532 triliun pada kuartal II/2024, meningkat 20,5% secara year-on-year (YoY). Pencapaian ini melampaui pertumbuhan industri perbankan nasional yang sebesar 12,36% YoY pada periode yang sama. Direktur Utama Bank Mandiri, Darmawan Junaidi, menyatakan bahwa hasil ini didukung oleh stabilitas ekonomi Indonesia di tengah tantangan global, serta fokus Bank Mandiri pada perluasan ekosistem dan optimalisasi potensi wilayah.

Bank Mandiri berhasil mencatat pertumbuhan kredit yang signifikan hingga mencapai Rp1.532 triliun pada kuartal II/2024, berkat strategi perluasan ekosistem dan pengelolaan risiko yang disiplin. Pertumbuhan kredit ini juga berkontribusi pada peningkatan laba bersih dan kualitas aset, dengan posisi non-performing loan (NPL) yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Darmawan Junaidi menegaskan bahwa kinerja positif ini merupakan hasil dari inisiatif yang prudent dan konservatif dalam menjaga kualitas aset di tengah dinamika ekonomi global.


Kredit Bermasalah Naik, Laju Laba Melambat

KT3 01 Aug 2024 Kompas

Kinerja industri perbankan pada semester I-2024 terindikasi melambat, disebabkan oleh pengetatan likuiditas akibat suku bunga tinggi dan peningkatan kredit bermasalah imbas berakhirnya kebijakan kelonggaran kredit atau restrukturisasi kredit. Sepekan terakhir, sejumlah bank dengan kapitalisasi besar melaporkan kinerja keuangannya selama separuh tahun 2024. Bank Mandiri mencatatkan laba konsolidasi Rp 26,6 triliun atau tumbuh 5,23 % secara tahunan, melambat dibanding semester I-2023 di 24,9 % secara tahunan.

Pertumbuhan laba yang melambat juga dialami BRI dengan torehan laba konsolidasi Rp 29,9 triliun atau tumbuh 0,95 % secara tahunan, melambat dibanding semester I-2023 di 18,83 % secara tahunan. Hal serupa juga dialami BCA yang mencetak laba konsolidasi Rp 26,9 triliun atau tumbuh 11,1 % secara tahunan. Meski tumbuh dua digit, pertumbuhan tersebut melambat dibanding semester I-2023 yang tumbuh 34 % secara tahunan. Pengamat perbankan dan Assistant Vice President BNI (2005-2009), Paul Sutaryono, Rabu (31/7) mengatakan, perlambatan laba perbankan tak lepas dari selesainya program restrukturisasi kredit pada 31 Maret 2024.

”Artinya, bank kemudian harus membentuk cadangan semakin tinggi karena NPL (nonperforming loan) semakin tinggi, terutama segmen UMKM yang mencapai level 4 % atau  mendekati ambang batas aman 5 %,” katanya. Merujuk data OJK, kualitas kredit yang tecermin dari rasio NPL per Mei 2024 tercatat 2,34 %, meningkat dibanding akhir tahun 2023 di 2,19 %. Peningkatan tersebut terutama terjadi setelah Maret 2024 atau setelah berakhirnya kebijakan restrukturisasi. (Yoga)


Bank Mandiri Mencatatkan Kerja Berkilau

KT1 01 Aug 2024 Investor Daily (H)
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mencatatkan kinerja yang berkilau pada paruh pertama tahun ini, terlihat dari perolehan optimisme kredit tahun ini bisa lebih tinggi melesat 20,46% kredit Bank Mandiri secara konsolidasi tumbuh agresif sebesar 20,46% (yoy) menjadi Rp 1.532,35 triliun, jauh diatas pertumbuhan kredit industri yang berada dikisaran 12% (yoy). "Dengan melihat trajectory yang baik tersebut, kami merivisi  keatas guidance pertumbuhan ekonomi kredit kami, dari kredit sebelumnya sebesar 13-15% (yoy) menjadi sebesar 13-15% (yoy) menjadi sebesar 16-18% (yoy) secara konsolidasi. Sedangkan untuk guidance NIM dan Cost of Credit tetap kami pertahankan masing-masing di level 5,0%-5,3% dan 1,%-1,2%," ungkap Darmawan. (Yetede)