Perbankan
( 2293 )Penjualan Eceran Juli Meningkat
Kredit Industri Perbankan
Transformasi Digital : Bank Saqu Dorong Pertumbuhan Bisnis Signifikan
Transformasi digital PT Bank Jasa Jakarta (BJJ) menjadi Bank Saqu dengan fokus pada segmen produktif telah membawa pertumbuhan bisnis yang signifikan bagi perusahaan. Perseroan juga berencana melanjutkan inovasi dan memperluas layanan keuangan digital. Presiden Direktur Bank Jasa Jakarta, Leo Koesmanto, menyatakan bahwa sebelum beralih menjadi bank digital, perseroan hanya memiliki 17.000 akun nasabah. Namun, kini Bank Saqu sudah memiliki lebih dari 1 juta nasabah. “Target nasabah akhir tahun sudah tercapai, satu juta tadi sudah sampai. Sekarang kita mungkin menambah sedikit saja. Kami fokus bukan ke jumlahnya, tetapi ke kualitasnya,” ujar Leo Koesmanto saat kunjungan ke Wisma Bisnis Indonesia, Selasa (6/8).
Transformasi digital yang dilakukan oleh PT Bank Jasa Jakarta menjadi Bank Saqu telah berhasil meningkatkan jumlah nasabah secara signifikan, dari 17.000 akun menjadi lebih dari 1 juta akun. Leo Koesmanto menegaskan bahwa fokus perusahaan kini lebih kepada meningkatkan kualitas layanan daripada hanya mengejar jumlah nasabah. Dengan dukungan dari pemegang saham utama, Astra Financial dan WeLab, Bank Saqu optimistis dapat memperluas pasar, terutama di segmen produktif seperti solopreneur. Bank Saqu juga terus berinovasi dengan menawarkan berbagai produk dan fitur keuangan digital, seperti BI-Fast Transfer, QRIS Payment, dan akan segera meluncurkan kartu debit, untuk menjawab kebutuhan nasabah di masa mendatang.
BRI Kembali Jadi Sponsor Utama Liga 1 2024-2025
OJK Support UUS Perbankan
Perbankan Makin Tergerus
Pada paruh pertama tahun ini, industri perbankan mengalami penyusutan di sisi profitabilitas. Hal ini sejalan dengan tren suku bunga tinggi namun tidak diimbangi dengan kenaikan suku bunga kredit. Merujuk data OJK, margin bunga bersih (net interest margin/NIM) perbankan nasional per Juni 2024 berada di level 4,57%, angka ini menyusut dibandingkan posisi Juni 2024 2023 yang sebesar 4,8%. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan bahwa secara umum rerata tertimbang suku bunga dana pihak ketiga (DPK) dalam tren meningkat sejalan dengan naiknya suku bunga acuan selama setahun terakhir. "Di sisi lain, pergerakan rerata secara suku bunga kredit cenderung flat, dengan suku bunga kredit modal kerja (KMK) dan kredit konsumtif (KK) menurun dibandingkan tahun lalu. Hal ini disebabkan prioritas bank untuk tetap menjaga kualitas kreditnya meskinpun NIM menjadi turun," ujar Dian. (Yetede)
Pertumbuhan Perbankan Melesat
Realisasi Penyaluran Kredit Bank Mandiri Kuartal II/2024 Tembus Rp1.532 Triliun
Bank Mandiri mencatatkan realisasi penyaluran kredit konsolidasi sebesar Rp1.532 triliun pada kuartal II/2024, meningkat 20,5% secara year-on-year (YoY). Pencapaian ini melampaui pertumbuhan industri perbankan nasional yang sebesar 12,36% YoY pada periode yang sama. Direktur Utama Bank Mandiri, Darmawan Junaidi, menyatakan bahwa hasil ini didukung oleh stabilitas ekonomi Indonesia di tengah tantangan global, serta fokus Bank Mandiri pada perluasan ekosistem dan optimalisasi potensi wilayah.
Bank Mandiri berhasil mencatat pertumbuhan kredit yang signifikan hingga mencapai Rp1.532 triliun pada kuartal II/2024, berkat strategi perluasan ekosistem dan pengelolaan risiko yang disiplin. Pertumbuhan kredit ini juga berkontribusi pada peningkatan laba bersih dan kualitas aset, dengan posisi non-performing loan (NPL) yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Darmawan Junaidi menegaskan bahwa kinerja positif ini merupakan hasil dari inisiatif yang prudent dan konservatif dalam menjaga kualitas aset di tengah dinamika ekonomi global.
Kredit Bermasalah Naik, Laju Laba Melambat
Kinerja industri perbankan pada semester I-2024 terindikasi melambat, disebabkan oleh pengetatan likuiditas akibat suku bunga tinggi dan peningkatan kredit bermasalah imbas berakhirnya kebijakan kelonggaran kredit atau restrukturisasi kredit. Sepekan terakhir, sejumlah bank dengan kapitalisasi besar melaporkan kinerja keuangannya selama separuh tahun 2024. Bank Mandiri mencatatkan laba konsolidasi Rp 26,6 triliun atau tumbuh 5,23 % secara tahunan, melambat dibanding semester I-2023 di 24,9 % secara tahunan.
Pertumbuhan laba yang melambat juga dialami BRI dengan torehan laba konsolidasi Rp 29,9 triliun atau tumbuh 0,95 % secara tahunan, melambat dibanding semester I-2023 di 18,83 % secara tahunan. Hal serupa juga dialami BCA yang mencetak laba konsolidasi Rp 26,9 triliun atau tumbuh 11,1 % secara tahunan. Meski tumbuh dua digit, pertumbuhan tersebut melambat dibanding semester I-2023 yang tumbuh 34 % secara tahunan. Pengamat perbankan dan Assistant Vice President BNI (2005-2009), Paul Sutaryono, Rabu (31/7) mengatakan, perlambatan laba perbankan tak lepas dari selesainya program restrukturisasi kredit pada 31 Maret 2024.
”Artinya, bank kemudian harus membentuk cadangan semakin tinggi karena NPL (nonperforming loan) semakin tinggi, terutama segmen UMKM yang mencapai level 4 % atau mendekati ambang batas aman 5 %,” katanya. Merujuk data OJK, kualitas kredit yang tecermin dari rasio NPL per Mei 2024 tercatat 2,34 %, meningkat dibanding akhir tahun 2023 di 2,19 %. Peningkatan tersebut terutama terjadi setelah Maret 2024 atau setelah berakhirnya kebijakan restrukturisasi. (Yoga)
Bank Mandiri Mencatatkan Kerja Berkilau
Pilihan Editor
-
Sanofi-GSK Siapkan Vaksin Covid-19 untuk 2021
16 Apr 2020 -
Erick Usul Jatah Dividen
14 Apr 2020 -
Kredit Investasi Bisa Jadi Masalah
09 Apr 2020









