;
Tags

Perbankan

( 2293 )

Tumbuh Selektif dan Prudent, BRI Cetak laba Rp 29,90 Triliun

KT1 26 Jul 2024 Investor Daily (H)

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dan entitas perusahaan anak atau BRI Group berhasil mencatatkan kinerja positif dan berkelanjutan hingga akhir Triwulan II 2024. Dengan pertumbuhan yang selektif dan prudent, BRI secara konsolidasi  berhasil mencetak laba Rp29,90 triliun. Hal tersebut disampaikan Direktur Utama BRI Sunarso pada pemaparan press conference kinerja keuangan Triwulan II 2024 di Jakarta (25/7). Sunarso mengungkapkan bahwa kinerja positif BRI Group tersebut tak terlepas  dari pertumbuhan penyaluran kredit dan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tumbuh double digit.  "Hingga akhir Triwulan II 2024, penyaluran kredit BRI tercatat Rp1.336,78 trriliun atau tumbuh 11,20% year on year (yoy). Segmen UMKM masih mendominasi penyaluran kredit BRI, dengan porsi mencapai 81,96% dari total penyaluran kredit BRI, atau sekitar Rp 1.095,64 triliun," ungkapnya. Penyaluran kredit yang tumbuh double digit tersebut membuat aset BRI tercatat meningkat. Hingga akhir Juni 2024 tercatat aset BRI tumbuh 9,54% yoy menjadi sebesar Rp1.977,37 triliun. (Yetede)

Tumbuh Selektif dan Prudent, BRI Cetak Laba Rp29,90 Triliun

HR1 26 Jul 2024 Bisnis Indonesia (H)

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk. dan entitas anak perusahaan atau BRI Group mencatatkan capaian kinerja positif dengan membukukan laba bersih Rp29,90 triliun per akhir kuartal II/2024. BRI secara konsolidasian berada dalam arah pertumbuhan yang selektif, prudent, dan berkelanjutan. Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan, capaian positif BRI Group tersebut antara lain di dukung kinerja penyaluran kredit dan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) yang tumbuh double digit. “Hingga akhir kuartal II/2024, penyaluran kredit BRI tercatat Rp1.336,78 triliun atau tumbuh 11,20% year on year (yoy). Segmen UMKM masih mendominasi penyaluran kredit BRI, dengan porsi mencapai 81,96% dari total penyaluran kredit BRI, atau sekitar Rp1.095,64 triliun,” paparnya, dalam konferensi pers paparan kinerja keuangan kuartal II/2024 di Jakarta, Kamis (25/7). Penyaluran kredit yang tum buh dua digit tersebut mendorong peningkatan aset BRI yang per akhir Juni 2024 meningkat 9,54% yoy menjadi Rp1.977,37 triliun. Pertumbuhan kredit tersebut menandai kemampuan perseroan dalam menjaga kualitas kredit melalui penyaluran kredit yang selektif dan prudent. BRI, sebut Sunarso, ber komitmen untuk merealisasikan strategi hybrid bank yang di an ta ra nya mengandalkan peran AgenBRILink yang mampu memenuhi kebutuhan dan karakteristik nasabah mikro. Fitur-fitur dan layanan Agen-BRILink telah memu dahkan aktivitas kehidupan masyarakat dalam membantu kelancaran pembayaran tagihan listrik, air, pembelian pulsa, pembayaran cicilan, top-up BRIZZI, setoran pinjaman, menyediakan layanan referral pembukaan rekening tabungan BSA dan pinjaman, serta tran saksi lainnya. Perseroan per akhir Juni 2024 telah memiliki 993.000 AgenBRILink yang tersebar di lebih dari 61.000 desa.

Menanti The Fed Memangkas Suku Bunga

KT1 25 Jul 2024 Investor Daily (H)
Berdasarkam inflasi yang menurun dan meningkatnya pengangguran di Amerika Serikat, Investor bertaruh bahwa Federal Reserve akan menurunkan suku bunganya. Bagaimana peluangnya?. Pada saat tulisan ini ditulis, harga pasar menyiratkan peluang kurang dari 2%. The Fed tidak akan menurunkan suku bunga pada pertemuan penetapan kebijakannya pada September tahun ini, serta menunjukkan suku bunga pada pertemuan berikutnya pada bulan ini.  Argumen untuk menurunkan suku bunga pada pertemuan berikutnya pada bulan ini. Argumen untuk menurunkan suku bunga sangatlah jelas. Diukur dengan indeks harga konsumen (CPI), AS tidak mengalami inflasi pada Mei 2024. Pada saat yang sama, tingkat pengangguran  cenderung meningkat sejak musim panas lalu. Pada tingkat 4,1%, ini adalah 70 basis poin diatas level terendah pascapandemi. (Yetede)

MENGUNGKIT BISNIS KARTU KREDIT

HR1 25 Jul 2024 Bisnis Indonesia (H)

Kendati instrumen beli sekarang bayar nanti alias paylater belakangan naik daun, kalangan perbankan rupanya tidak kehilangan asa di bisnis kartu kredit. Sejumlah bank menyiapkan strategi untuk mengoptimalkan bisnis kartu kredit sebagai salah satu mesin cuan bank, beriringan dengan bisnis paylater yang juga mereka jalankan. Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) Jahja Setiaatmadja, mengatakan bahwa meskipun sudah memiliki bisnis paylater, BCA tetap mengandalkan kartu kredit sebagai kontributor terbesar di segmen personal loan. Buktinya, per Juni 2024, segmen personal loan perseroan tumbuh 20,2% year on year (YoY) menjadi Rp17,8 triliun. Di segmen ini, paylater baru menyumbang sekitar Rp250 miliar, selebihnya dari kartu kredit dan kredit perorangan lainnya. “Bagi kami, ini bukan produk yang saling bersaing, melainkan saling melengkapi. Ini sarana bagi masyarakat yang membutuhkan belanja barang, tetapi kemampuan tunai belum ada, sehingga dibantu dengan mekanisme paylater,” katanya, Rabu (24/7). PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN), misalnya. Setelah mengakuisisi portofolio konsumer Standard Chartered Bank Indonesia (SCBI) pada akhir 2023 lalu, perseroan optimistis bisnis kartu kreditnya bisa tumbuh 15%-20% tahun ini. Consumer Lending Business Head of Bank Danamon Enriko Sutarto mengatakan bahwa Danamon juga manfaatkan ekosistem pemegang saham pengendalinya dari Jepang yakni Mitsubishi UFJ Financial Group Inc. (MUFG).

Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. menggunakan strategi kemitraan dengan Samsung dan menerbitkan Co-Branding Kartu Kredit BRI-Samsung. Perseroan meyakini strategi ini bisa mengerek pertumbuhan transaksi hingga double digit dengan pengguna tembus 100.000 nasabah. Card, Digital Lending & Asset Product Development Division Head BRI Dewi Andjarsari mengatakan BRI sudah menikmati pertumbuhan bisnis kartu kredit hingga 30% pada pertengahan tahun ini. Hal ini didorong oleh daya beli masyarakat yang membaik. Memang menurut data Bank Indonesia, nilai transaksi kartu kredit sempat anjlok 30,28% YoY menjadi Rp239 triliun saat pandemi 2020. Namun, pada 2023, nilainya sudah mencapai Rp405 triliun, atau tumbuh rata-rata 19,2% dalam 3 tahun terakhir. Pada periode Januari hingga Mei 2024, nilai transaksinya sudah naik 8,54% YoY menjadi Rp175 triliun, dari Rp161 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Adapun, volume transaksi melonjak 15,86% YoY menjadi 180,96 juta transaksi. Pengamat Perbankan dan Praktisi Sistem Pembayaran Arianto Muditomo menilai bisnis pembiayaan belanja konsumtif masih akan bertahan dalam jangka panjang. Alhasil, baik alat pembayaran maupun skema model bisnisnya akan terus berkembang sesuai zaman.

Cuan Menarik Dari Bunga Simpanan Bank Digital

HR1 25 Jul 2024 Kontan (H)

Persaingan bunga simpanan tinggi kembali terjadi pada industri bank digital. Bagi Anda para pemilik dana, ini mungkin menjadi kesempatan menarik untuk menangguk cuan dari produk simpanan bank digital. PT Super Bank Indonesia menjadi bank digital yang cukup getol menawarkan bunga simpanan tinggi. Baru-baru ini, bank milik grup PT Elang Mahkota Teknologi (Emtek) ini meluncurkan produk deposito dengan tawaran bunga 7,5% per tahun, dan setoran minimal Rp 500.000. Sebelumnya, Superbank meluncurkan produk tabungan Celengan by Superbank dengan tawaran bunga tinggi, mencapai 10% per tahun. "Kami optimistis dapat mendukung pengelolaan finansial nasabah secara aman serta membantu menikmati keuntungan simpanan secara optimal," kata Presiden Direktur Superbank Tigor M. Siahaan, beberapa waktu lalu. Imbal hasil jumbo simpanan juga ditawarkan oleh bank digital lain. Direktur Utama PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) Indra Utoyo menyebut juga sedang mempertimbangkan meningkatkan suku bunga deposito. Perencana keuangan menilai, penawaran bunga tinggi ini menarik. Pasalnya instrumen deposito dan tabungan lebih terukur risikonya ketimbang investasi di saham. Lihat saja, indeks LQ45 justru turun 4,7% selama setahun terakhir. 

Bahkan jika dibandingkan saving bond retail (SBR) 13 tenor 2 tahun yang menawarkan bunga 6,45%, sejumlah tabungan digital tetap lebih menguntungkan. Sebab, setelah dipotong pajak, bunga bersih SBR013 tenor 2 tahun ada di 5,8%. Direktur Bisnis PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) Aditya Windarwo menyebut, pihaknya menawarkan deposito dengan bunga 5,5% hingga 8% per tahun untuk memikat nasabah baru. Namun, tidak semua nasabah bisa mendapat bunga tinggi. Tapi Senior Vice President Research LPPI Trioksa Siahaan mengingatkan, tawaran bunga tinggi juga memiliki risiko yang tinggi. Nasabah tidak bisa mendapat bunga tinggi dengan mudah. Biasanya, ada syarat dan ketentuan tertentu. Produk deposito bank digital memberi imbal hasil tinggi tapi risikonya relatif rendah. Mike menyarankan, pemodal bisa menyimpan dana di bank digital dengan jangka waktu di bawah satu tahun. Deposito memang lebih dipilih karena jangka waktu pendek, berbeda dengan obligasi pemerintah, terutama SBR, yang lebih menarik jika dipegang hingga jatuh tempo. Perencana Keuangan OneShildt Consulting Budi Rahardjo juga mengingatkan risiko bunga yang dijamin LPS juga ikut diukur. "Jangan hanya tergiur imbal hasil tinggi," tegas dia. Sebab, bukan tidak mungkin, bila bank gagal bayar, maka dana yang disimpan dalam deposito tidak terjamin dan hilang.

Bankir Optimistis KPR Bisa Tumbuh Pesat di 2024

HR1 22 Jul 2024 Kontan

Perbankan optimistis penyaluran kredit kepemilikan rumah (KPR) akan tumbuh kencang tahun ini. Pertumbuhan tersebut didorong insentif pajak pembelian hunian yang masih berlanjut sampai akhir tahun, daya beli masyarakat yang membaik, dan masih tingginya jumlah masyarakat Tanah Air yang belum punya rumah. Optimisme tersebut juga didukung oleh realisasi pertumbuhan KPR pada pertengahan tahun ini yang terus menunjukkan tren pertumbuhan. Data Bank Indonesia (BI) mencatat KPR, ini termasuk untuk pembelian rumah, apartemen, dan rumah toko/kantor, tumbuh sebesar 14,3% per Mei 2024. Lajunya meningkat dibanding posisi Desember 2023 yang baru tumbuh sebesar 12%. Jika dirinci dari kelompok bank, pertumbuhan outstanding KPR paling kencang ditorehkan oleh bank BUMN, yakni tumbuh 17,27% secara tahunan menjadi Rp 414,8 triliun. Bank swasta mencatat kenaikan 9,2% jadi Rp 272,8 triliun dan BPD menorehkan pertumbuhan 9,2% jadi Rp 30,76 triliun. Sedangkan KPR bank asing turun 11,6% menjadi Rp 1,15 triliun. Optimisme tersebut salah satunya datang dari BCA. Bank penguasa pangsa pasar KPR terbesar kedua di Indonesia ini menargetkan KPR tumbuh sekitar 10%-11% tahun ini. Hingga pertengahan Juli 2024, outstanding KPR BCA sudah mencapai Rp 127,5 triliun atau sudah tumbuh 5,37% dari akhir 2023. 

“Hingga akhir tahun, BCA akan mengejar tambah oustanding sekitar Rp 6 triliun. Kami optimis itu bisa dicapai, sehingga pada akhir tahun KPR tumbuh di kisaran 10%-11%,” ungkap Executive Vice President Consumer Loan BCA Welly Yandoko kepada KONTAN, Jumat (19/7). Untuk bisa tumbuh dua digit menurut Welly sudah sangat bagus. Pasalnya, running off atau pelunasan KPR BCA setiap bulannya juga tinggi, sekitar Rp 2,4 triliun - Rp 2,7 triliun. Artinya, BCA harus mendapatkan booking baru KPR di atas Rp 30 triliun untuk menumbuhkan portofolioo KPRnya. “Memang benar pangsa pasar KPR BCA terbesar kedua. Tapi, tantangan semakin gemuk maka mengejar pertumbuhan akan semakin sulit,” ujarnya. BTN juga melihat permintaan KPR masih sangat besar. Per Mei 2024, kredit bank ini tumbuh sebesar 14,38% secara tahunan. Sebagai gambaran, KPR menyumbang sekitar 77% terhadap total kreditnya.

Bank Mandiri Dorong Penyaluran Kredit Hijau

KT1 19 Jul 2024 Investor Daily
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk terus menunjukkan komitmennya dalam memimpin inisiatif berkelanjutan, mempercepat kesadaran dan aksi ramah lingkungan, serta mempromosikan memberdayakan keberagaman, kesetaraan, dan inklusi. Perseroanpun akan mendorong porsi pembiayaan hijau dari porsinya saat ini 30% dari total portofolio. Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Alexandra Askandar mengatakan, sebagai green market leader dengan pangsa pasar lebih dari 30% di Indonesia, Bank Mandiri telah menyalurkan sustainable financing sebesar Rp 264 triliun hingga Maret 2024, dengan porsi pembiayaan hijau Rp 130 triliun yang meningkat sebesar 19% yoy. "Ini didominasi oleh sektor energi terbarukan, pengelolaan SDA Hayati dan penggunaan lahan berkelanjutan, serta bangunan ramah lingkungan," ujar Alexandra. (Yetede) 

TATA KELOLA BANK : BABAK BARU PENGELOLAAN BPR & BPRS

HR1 18 Jul 2024 Bisnis Indonesia

Hadirnya dua regulasi baru yang mengatur bank perekonomian rakyat konvensional dan syariah (BPR & BPRS) menjadi tumpuan harapan bagi pembenahan industri ini, di tengah kasus kebangkrutan yang kini makin marak terjadi. Terbaru, OJK menerbitkan Peraturan OJK (POJK) 9/2024 tentang Penerapan Tata Kelola bagi BPR dan BPRS, yang diundangkan pada 1 Juli 2024 lalu. Sebelumnya, OJK juga sudah menerbitkan POJK 7/2024 tentang BPR dan BPRS pada 30 April 2024. Penerbitan kedua POJK ini merupakan tindak lanjut dari penerbitan UU 4/2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) yang mengamanatkan sejumlah penguatan aspek kelembagaan industri BPR dan BPRS. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae berharap penerbitan POJK ini dan upaya penguatan yang dilakukan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap BPR dan BPRS. Bagaimana tidak, pada paruh pertama tahun ini saja sudah ada 12 BPR bangkrut, tertinggi sejak 2011. 

“Berdasarkan hasil pengawasan yang kami lakukan, kegagalan dalam penerapan tata kelola yang baik pada BPR dan BPR Syariah seringkali menjadi salah satu penyebab utama kegagalan BPR dan BPR Syariah,” kata Dian dalam keterangan resmi, Selasa (16/7) malam. Secara umum, POJK 9/2024 mengatur tentang kewajiban BPR dan BPRS untuk menerapkan tata kelola yang baik dalam penyelenggaraan kegiatan usaha di seluruh tingkatan atau jenjang organisasi. Sementara itu, POJK 7/2024 mengatur antara lain tentang perluasan akses permodalan bagi BPR dan BPRS melalui aksi penawaran umum efek di pasar modal, serta konsolidasi BPR dan BPRS dalam satu wilayah atau di bawah pemegang saham pengendali (PSP) yang sama. Regulasi ini mendorong beberapa BPR dan BPRS dalam satu kepemilikan agar melebur sehingga memiliki kapasitas bisnis lebih besar dan kuat. BPR dan BPRS juga kini bisa memperkuat modal melalui aksi initial public offering (IPO), rights issue, serta menerbitkan obligasi atau sukuk di pasar modal. 

Ketua Umum Perhimpunan Bank Perekonomian Rakyat Indonesia (Perbarindo) Tedy Alamsyah mengatakan bahwa Perbarindo menyambut baik aturan baru dari OJK itu untuk keberlangsungan industri BPR ke depan. Adapun, penguatan tata kelola di aturan baru OJK itu juga sejalan dengan kebijakan konsolidasi bagi BPR dan BPRS yang berada dalam kepemilikan PSP yang sama. Dengan begitu BPR dan BPRS menjadi industri yang lebih efisien dan berkontribusi bagi perekonomian dan masyarakat.   Pengamat Perbankan dan Praktisi Sistem Pembayaran Arianto Muditomo mengatakan POJK baru ini membuka banyak peluang baru bagi industri BPR/BPRS untuk berkembang lebih pesat. Langkah konsolidasi akan menjadikan industri ini lebih besar dan kuat dengan daya saing tinggi. BPR dan BPRS dapat berekspansi ke produk dan layanan baru seperti kredit mikro, syariah, dan digital. Terbuka pula peluang untuk berkolaborasi dengan lembaga keuangan lainnya, seperti fintech, yang memungkinkan BPR/BPRS untuk memberikan layanan keuangan yang lebih komprehensif dan inovatif.

Bank Mega Syariah Incar Laba Rp 300 Miliar

KT1 17 Jul 2024 Investor Daily
PT Bank Mega Syariah hingga paruh pertama tahun ini mencatatkan kinerja positif, yang diharapkan berlanjut hingga akhir tahun. Perseroan mengincar target laba hingga Rp 300 miliar tahun ini. "Sekitar Rp 200-300 miliar target bottom line, dalam perjalanannya kami cukup kena dampak situasi makro, global juga beri dampak segala macam, pertumbuhan bisnis ada impact. Yang paling penting fokus  capai itu dengan lakukan perubahan strategi yang ada," urai Direktur Utama Bank Mega Syariah Yuwono Waluyo kepada Investor Daily. Pihaknya mengungkapkan  bahwa meskipun  secara bulanan belum bisa mencapai budget, tapi ia cukup optimistis mencapai target diakhir tahun untuk percepatan pertumbuhan. Di sisi pembiayaan, perseroan juga masih mencatatkan pertumbuhan positif, di tengah kondisi yang sangat menantang dan tidak pasti saat ini. (Yetede)

Pengusaha dan Ekonom Harapkan BI Tahan BI Rate

KT1 17 Jul 2024 Investor Daily (H)
Kalangan ekonom dan pengusaha memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di angka 6,25% dalam rapat Dewan Gubernur pada 16-17 Juli 2024. BI juga diharapkan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyarankan agar BI BI Rate di angka 6,25%. Meski demikian kalangan pengusaha juga memahami bahwa bank sentral juga harus mengantisipasi dampak gejolak perekonomian dunia ke perekonomian dalam negeri. "Kalau kami maunya BI Rate jangan dinaikkan lagi dengan kondisi yang seperti ini, memang tidak mudah ya untuk pemerintah. Merekakan (BI) harus tetap melakukan intervensi, terutama yang berkaitan dengan kondisi rupiah," kata Ketua Umum Apindo Shinta Widjaya Kamdani. (Yetede)