;

Instrumen Bank Sentral Tekan Daya Tarik Aset Lain

Ekonomi Hairul Rizal 12 Nov 2024 Kontan (H)
Instrumen Bank Sentral Tekan Daya Tarik Aset Lain
Bank Indonesia (BI) terus mengandalkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik likuiditas dari pasar uang. Per Oktober 2024, total nilai operasi moneter BI melonjak menjadi Rp 1,08 kuadriliun, naik signifikan dari Rp 763,48 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini terutama didorong oleh outstanding SRBI yang mencapai Rp 960,66 triliun, meningkat 638% dibandingkan Oktober 2023.

SRBI menarik perhatian berbagai institusi, termasuk bank, dana pensiun, dan asuransi. Direktur SME & Retail Funding BTN, Muhammad Iqbal, menyebut imbal hasil SRBI lebih menarik dibandingkan instrumen BI lainnya. BTN sendiri meningkatkan penempatan di SRBI menjadi Rp 57,56 triliun per Agustus 2024, naik dari Rp 43,32 triliun tahun lalu. Budi Sutrisno, Direktur Utama Dana Pensiun BCA, menilai SRBI sebagai alternatif yang kompetitif dibanding deposito, terutama dalam kondisi suku bunga tinggi.

Namun, ada dampak negatif dari penerbitan SRBI yang jumbo. Ekonom Indo Premier Sekuritas, Luthfi Ridho, mengkritik bahwa penyerapan likuiditas yang besar oleh SRBI berisiko memperketat likuiditas bank, tercermin dari loan to deposit ratio (LDR) yang naik menjadi 86,91% per September 2024. Perbankan lebih memilih memarkir dana di SRBI yang aman ketimbang menyalurkan kredit, sehingga mengurangi multiplier effect ekonomi. Danan Dito, analis Pefindo, menambahkan bahwa SRBI juga mengurangi minat bank terhadap obligasi korporasi, dengan penyerapan turun menjadi Rp 107,04 triliun pada Oktober 2024.

Meskipun demikian, dengan imbal hasil yang mencapai 7,04% untuk tenor 12 bulan, SRBI tetap menjadi pilihan utama bagi investor. Namun, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, perlu kebijakan yang mendorong perbankan agar lebih aktif menyalurkan kredit, bukan sekadar memanfaatkan instrumen moneter seperti SRBI.
Download Aplikasi Labirin :