Nasabah Ritel Menghadapi Kesulitan Melunasi Utang
Tekanan ekonomi yang dialami masyarakat semakin terlihat, tercermin dari penurunan kemampuan nasabah ritel dalam membayar angsuran kredit dan melambatnya pertumbuhan simpanan. Rasio kredit bermasalah (NPL) rumah tangga meningkat dari 1,80% pada akhir 2023 menjadi 1,98% pada Agustus 2024, terutama di kredit kepemilikan rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor (KKB). Selain itu, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perorangan hanya mencapai 1% YoY pada Agustus 2024, jauh lebih rendah dibanding bulan sebelumnya.
Presiden Direktur Bank CIMB Niaga, Lani Darmawan, menyatakan bahwa nasabah ritel kini harus memilih antara membayar utang atau memenuhi kebutuhan sehari-hari karena pendapatan mereka cenderung menurun. CIMB Niaga mencatat peningkatan NPL kredit ritel menjadi 2%, meskipun menurut Lani masih tergolong sehat. Bank berfokus menjaga kualitas aset kredit dengan analisis ketat untuk menekan potensi kenaikan NPL.
Direktur Utama BNI, Royke Tumilaar, juga mengakui adanya kenaikan NPL rumah tangga, namun ia menilai dampaknya kecil terhadap NPL keseluruhan BNI yang tetap stabil di level 2%, dengan mayoritas peningkatan pada kredit kecil. Selain itu, fenomena "buy now, pay later" (BNPL) turut menunjukkan peningkatan signifikan, dengan outstanding BNPL mencapai Rp 18,3 triliun, naik 40,68% YoY pada Agustus 2024.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023