Startup
( 184 )Banyak Startup RI Bakal Merger dan Akuisisi untuk Raih Untung di 2022
EY memperkirakan banyak startup di Indonesia merger dan akuisisi tahun ini untuk mengejar untung pada 2022. Ini juga didorong oleh banyaknya perusahaan yang beralih ke digital saat pandemi corona. Perusahaan jasa profesional asal Inggris, Ernst & Young (EY) memperkirakan bahwa startup Indonesia masif merger dan akuisisi tahun ini. Ini bertujuan mendapatkan untung pada 2022. Dalam laporan berjudul EY Global Capital Confidence Barometer, 98% perusahaan meninjau strategi dan portofolio secara komprehensif selama pandemi corona. Mereka bakal berfokus pada investasi.
EY mencatat, upaya konsolidasi pada awalnya banyak dilakukan oleh perusahaan sektor mineral dan gas (migas). Namun, korporasi beralih ke digital selama pandemi corona. Oleh karena itu, tren merger dan akuisisi bergeser ke perusahaan teknologi termasuk startup. "Industri 4.0 akan menjadi sasaran selanjutnya," ujar David. Alasan perusahaan mempertimbangkan merger dan akuisisi saat pandemi yakni meningkatkan profit. Langkah konsolidasi dinilai membantu mereka untuk pulih. "Menarik melihat perusahaan melakukan transformasi selama pandemi Covid-19," ujar Strategy and Transaction Leader EY Asean Vikram Chakravarty.
Laporan EY tersebut sejalan dengan riset PwC bertajuk Global M&A Industry Trends yang dirilis Maret lalu. PwC mencatat, volume merger dan akuisisi perusahaan teknologi global meningkat 34% secara tahunan (year on year/yoy) pada semester II tahun lalu. Dari sisi nilai, meningkat 118%.
(Oleh - HR1)
34 Start-up yang Lolos Dikenalkan Purwarupa Solusi Digital
JAKARTA - Gerakan Nasional
1.000 Start-up Digital 2020 telah
berlangsung di 17 kota Indonesia
tahun 2020. Lebih dari 8.780 calon startup founder pun telah bergabung
dan terpilih 34 untuk mengikuti
tahapan akhir Demo Day yang akan
mengenalkan purwarupa solusi digital.
Sebanyak 34 start-up yang akan
mengikuti Demo Day terdiri atas
Teskarir dan Deon (Bali), MyDoctors dan Parakarsa Design Resources
(Bandung), Kintis Indonesia (Batam),
Doc Paws, Wilov, Tanidev, pabryk, dan
LIRA (Jakarta), myECO, Dwi Sri Farm
Tech, Haiwanita, Lapakninja, Be Play,
dan LOVCA (Malang), Masukkerja,
Gearberg, Ubitech, dan Roomansa
(Yogyakarta), MosQu, serta Kode
Koding, dan Agries (Surabaya).
Selanjutnya, ada Freshriadan Pesen
Air (Kupang), Carryfy (Makassar), Fotowall (Manado), ukelas dan nikahyuk
(Mataram), eHaidro (Medan), sobatkonseling (Pekanbaru), manusiabiasa
(Semarang), Momsku (Pontianak), serta
Cycloop Outbound (Jayapura).
“Demo Day sendiri adalah acara
yang diperuntukkan kepada founder start-up untuk mengenalkan
pur warupa yang mereka bangun
selama enam bulan terakhir,” jelas
dia, dalam pernyataannya, pekan lalu.
Semuel menjelaskan, pendaftaran
untuk mengikuti Demo Day telah
dibuka dari tanggal 3 Maret dan
ditutup pada 14 Maret 2021 serta telah
berhasil mendapatkan 166 pendaftar
dari 17 kota penyelenggara Gerakan
Nasional 1.000 Start-up Digital.
(Oleh - HR1)
Tiga Unicorn dan Decacorn Segera IPO di Bursa Domestik
Jakarta - Tiga perusahaan teknologi rintisan (startup) konglomerasi berstatus unicorn dan decacorn siap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham pada semester II-2021. Ketiga perusahaan itu memiliki total valuasi US$ 21,5 miliar sekitar Rp 11,7 triliun. Otoritas bursa belum menginformasikan secara terbuka nama-nama calon emiten tersebut. Namun, pasar menduga ketiga startup itu adalah Traveloka, Bukalapak, dan hasil merger Gojek-Tokopedia. Perusahaan-perusahaan startup ini kemungkinan mencatatkan saham di dalam dan luar negeri (dual listing).
Masuknya unicorn dan decacorn ke bursa saham domestik berpotensi mendongkrak market cap saham emiten di BEI dan menarik lebih banyak investor, termasuk investor asing. Masuknya perusahaan-perusahaan startup itu juga bakal lebih menggairahkan perdagangan saham di bursa dalam negeri. Perihal apakah para startup konglomerasi teknologi itu akan dual listing atau single listing di BEI. Valuasi perusahaan-perusahaan konvensional, umumnya menggunakan pendekatan price to book value (PBV) atau price to earning ratio (PER). Adapun pada perusahaan startup, valuasi bisa mencakup price to revenue.
(Oleh - IDS)
Achmad Zaky Investasi di Bisnis Solusi Cloud
Jakarta - Achmad Zaky, melalui perusahaan modal ventura (venture capital) besutannya, Init 6, menginvestasikan dana US$ 5 juta du IDCloudHost, start-up besutan anak bangsa yang bergerak di bidang solusi komputasi awan (cloud). Zaky dikenal sebagai founder dari perusahaan teknologi dan e-commerce Bukalapak. Dana segar tersebut akan digunakan IDCloudHost untuk memperkuat teknologi, pengembangan sumber daya manusia (SDM), serta mengembangkan pasar cloud, khususnya pada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia dan Asia Tenggara. IDCloudHost menargetkan untuk menambah jumlah pelanggan menjadi 1 juta pelanggan dalam waktu dua tahun ke depan. Saat ini, start-up ini memiliki 100 ribu pelanggan yang sebagian besar UMKM.
IDCloudHost pun akan terus berinovasi serta melahirkan berbagai produk dan layanan terbaik yang dibutuhkan oleh pasar. Perusahaan yang dipimpinnya akan menjadi solusi dalam mempercepat digitalisasi di Indonesia dan kawasan Asia lainnya. Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asean, Indonesia merupakan pasar yang sangat menarik. Perkembangan infrastruktur digital selama delapan tahun terakhir di berbagai sektor, seperti UMKM, korporasi, dan start-up juga semakin cepat. IDCloudHost fokus memberikan layanan infrastruktur cloud. Visi perusahaan yang dipimpinnya menjadi cloud provider di Indonesia yang terbesar, terlengkap dan terpercaya, dengan membawa nilai-nilai sosial dalam mendukung ekosistem digital.
(Oleh - IDS)
Start-up Lokal Modal Indonesia Jadi Pemenang
Jakarta - Kehadiran start-up digital lokal akan menjadi salah satu kontribusi dan modal penting untuk mendorong Indonesia menjadi pemenang di dalam persaingan ekonomi digital. Bahkan, keberadaan pelaku usaha di sektor hilir ekonomi digital itu akan melengkapi upaya pemerintah dalam mempercepat pembangunan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di Tanah Air. Kehadiran start-up digital seperti Traveloka, memberikan gambaran pandemi Covid-19 tidak akan mampu menghentikan semangat pemerintah untuk terus bekerja maju.
Bisnis pada sektor ekonomi digital juga berpeluang menjadi salah satu andalan dan tulang punggung dalam pemulihan ekonomi nasional yang terdampak pandemi Covid-19. Dengan pertumbuhan sektor TIK dalam perekonomian nasional. Pemerintah dan komponen masyarakat dengan kerja serius dan sungguh-sungguh mampu mengatasinya. Selain mengapresiasi dan mendorong kemunculan start-up digital lokal beserta ekosistemnya, seperti lembaga pendidikan dan pengembangan, pemerintah juga mengambil bagian dalam penyediaan infrastruktur TIK. Tujuannya untuk meningkatkan rasio akses internet lebih merata di seluruh Indonesia.
(Oleh - IDS)
Pendanaan Start-up di Daerah Masih Minim
JAKARTA – Asosiasi Modal Ventura dan Start-up
Indonesia (Amvesindo)
menyoroti masih minimnya perhatian para investor
terhadap usaha rintisan
berbasis teknologi (startup) yang berkembang di
daerah. Pendanaannya pun
masih minim dibandingkan
dengan kebutuhan dan potensi yang ada.
Selama ini, para investor
lebih fokus memberikan
pendanaan terhadap start-up di wilayah perkotaan
dan kota besar, terutama
di wilayah Jabodetabek.
Padahal, start-up di daerah sebenarnya tak kalah
bersaing dan kualitasnya
dibandingkan dengan yang
ada di wilayah perkotaan.
Wakil Ketua I Amvesindi
William Gozali mengatakan,
ekosistem start-up di daerah
sebenarnya sudah mulai
terbentuk dengan adanya
dukungan dari perusahaan modal ventura daerah
(PMVD).
“Minimnya network ke
investor memang masih jadi
masalah utama yang dihadapi start-up daerah. Kami
berharap, semakin banyak
start-up daerah yang berani
pitching (presentasi) seperti
start-up di kota-kota besar,”
ungkap Willliam, dalam
pernyataannya, Rabu (17/3).
Berdasarkan catatan dari
Start-up Ranking, pertumbuhan start-up di Indonesia
terus menunjukkan tren
yang positif. Bahkan, jumlah start-up di Tanah Air
telah mencapai 2.219 tahun
2021 ini. Meski demikian,
mayoritas start-up masih
lebih banyak berdomisili
di pulau Jawa, khususnya
wilayah Jabodetabek.
Walaupun tak bisa dipungkiri, saat ini, semakin
banyak inovator lokal dengan ide dan inovasi menarik yang muncul beberapa
tahun terakhir di daerah.
Beberapa di antaranya start-up teknologi akuakultur
E-Fishery di Jawa Barat,
layanan kesehatan mental
on-demand Riliv di Surabaya, dan aplikasi pengelolaan
sampah Gringgo di Bali
(Oleh - HR1)
Perkantoran Ciputra International Diborong Start-up
Jakarta - Ruang perkantoran di Ciputra International diborong oleh perusahaan rintisan (start up). Proyek super blok besutan Ciputra Group itu berdiri di atas lahan seluas 7,4 hektare (ha). Perushaan start up melihat opportunity di Ciputra International dengan melihat dua hal yaitu, konsep dan lokasi. Ciputra International yang terletak di kawasan Puri Indah, Jakarta Barat ini mengintegrasikan kawasan residensial dengan komersial.
Meski dalam tekanan pandemi Covid-19 penjualan Ciputra International tahun 2020 hingga kini cukup menggembirakan. Konsep pemasaran daring saat ini jadi salah satu kunci penting dalam memasarkan unit apartemen dan office di Ciputra International. Faktor lokasi yang strategis, tentunya menjadi daya tarik bagi konsumen dan juga perusahaan skala nasional untuk menjalankan bisnisnya di Ciputra International.
Ciputra International fokus pada pemasaran tower kedua yaitu San Fransisco yang terdiri atas unit one bedroom dan two bedroom dengan harga mulai dari Rp 1 Miliaran. Sedangkan unit studio yang merupakan unit terkecil sudah terjual habis. Secara lokasi, kebutuhan hunian di kawasan Ciputra International sebagai kawasan bisnis dan perkantoran, dan produk apartemen untuk menopang aktifitasnya. Untuk memanjakan pemilik unit dalam menyewakan unitnya, Ciputra International telah menggandeng aplikasi pemasaran digital yaitu Travelio untuk memudahkan investor dalam menyewakan unit apartemennya.
(Oleh - IDS)
Industri GIM, Tangkap Peluang Cloud Gaming
Bisnis, Jakarta - Gim berbasis komputasi awan diproyeksi kian tumbuh secara pesat di tingkat global. Indonesia perlu membenahi kesiapan infrastruktur yang diperlukan agar mampu menangkap peluang ekonomi di tengah tren tersebut. Tahun 2021 menjadi tahun yang besar untuk gim berbasis komputasi awan (cloud gaming) secara global dengan prospek pendapatan yang signifikan. Sebagai salah satu pasar cloud gaming, Indonesia masih perlu banyak persiapan untuk melaju menjadi pemain utama.
Adapun, salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan mendorong para pemain asing membangun pangkalan data untuk cloud gaming di Indonesia. Hal ini diharapkan mampu merangsang pemain lokal untuk mempelajari dan menyiapkan infrastruktur yang dibutuhkan ke depan. Indonesia saat ini menjadi salah satu negara konsumen sekaligus produsen gim berbasis komputasi awan. Indonesia sejatinya sudah memiliki modal besar, yaitu kemampuan pangkalan data.
Tren cloud gaming memang terus meningkat. Apalagi, orang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah pada masa pandemi. Kendati dapat dimainkan di berbagai medium lantaran berbentuk streaming, permainan berbasis cloud memiliki satu kelemahan, yakni harus dimainkan menggunakan internet berkecepatan tinggi dan stabil. Kendati masih diliputi berbagai tantangan, perusahaan teknologi pun terus berlomba memanfaatkan ledakan popularitas dalam industri cloud gaming.
(Oleh - IDS)
Revisi Aturan, BEI Akomodasi IPO Start-up
Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah memfinalisasi
perubahan peraturan nomor I-A tentang pencatatan saham dan efek bersifat
ekuitas yang diterbitkan oleh perusahaan tercatat. Perubahan aturan ini dinilai
akan mengakomodasi berbagai karakteristik emiten, termasuk perusahaan rintisan
(start-up) teknologi untuk
melaksanakan penawaran umum perdana (initial
public offering/IPO) saham.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna mengatakan sebagai penyedia infrastruktur pasar modal, BEI memberikan value proposition bagi calon emiten. BEI pun proaktif melihat acuan ke bursa-bursa global. “Rancangan peraturan pencatatan nomor I-A ini masih dalam tahap rule-making-rule, dimana pada Desember yang lalu bursa telah melakukan public hearing dan mengundang para stakeholder. Tahap berikutnya, BEI akan mematangkan rancangan tersebut dan menyampaikan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). sehingga lebih dapat mengkomodasi termasuk start-up sekelas unicorn di Indonesia. BEI ber upaya menjadi lebih inklusif melalui program IDX Incubator, papan akselerasi dan pengembangan peraturan serta kebijakan lainnya,” jelas dia.
Hingga 4 Januari, sebanyak 28 perusahaan berada dalam pipeline BEI, terdiri atas enam perusahaan dari sektor perdagangan, jasa, dan investasi, dua perusahaan dari sektor properti, real estat, dan konstruksi bangunan, serta dua perusahaan dari sektor aneka industri. Lebih lanjut, sebanyak dua perusahaan dari sektor keuangan, dua perusahaan dari sektor infrastruktur, utilitas, dan transportasi, satu perusahaan dari sektor agrikultur, dan satu perusahaan dari sektor tambang. Sementara 12 perusahaan tengah dalam proses evaluasi dan pemetaan sektor di BEI. Akan menjadi suatu kebanggaan bagi Indonesia jika jumlah IPO 2021 dapat melebihi negara Asia Tenggara lainnya. Adapun pada Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT), BEI menargetkan bisa menjaring 30 perusahaan melakukan IPO sepanjang 2021.
Belajar Jarak Jauh Diperpanjang, Bisnis Edutech Makin Moncer
Startup bidang pendidikan atau edutech diproyeksi makin cuan tahun ini seiring dengan diperbolehkannya pemerintah daerah memperpanjang program pembelajaran jarak jauh. Koordinator Pusat Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dianta Sebayang mengatakan perusahaan edutech akan diuntungkan dengan keputusan tersebut lantaran bisa lebih leluasa mendulang potensi pengguna-pengguna baru. Namun, dia menekankan pertumbuhan pengguna baru itu akan fokus di perdesaan dan tidak lagi perkotaan.
Lebih lanjut, dia mengatakan startup pendidikan harus mengupayakan strategi kolaborasi dengan institusi pendidikan. Hal ini pun menjadi ceruk besar yang harus dimanfaatkan ketimbang harus bersaing secara manual untuk memperebutkan pelanggan melalui diskon, promo, dan program lainnya. Namun, tantangannya adalah upaya startup edutech untuk memberikan layanan gratis pada pelajar dan mahasiswa sehingga perlu ada kolaborasi dengan pihak lain atau menggunakan model bisnis yang sesuai seperti freemium agar tetap bisa mendapatkan cuan.
Anggini Setiawan, Head of Corporate Communications Ruangguru, mengatakan perusahaan tetap fokus menghadirkan inovasi baru berupa produk dan layanan pendidikan bagi kategori pelajar dan profesional. Anggini pun menyebutkan sepanjang 2020 perusahaan telah melayani lebih dari 22 juta pengguna di seluruh Indonesia. Angka ini meningkat sekitar 50% dibandingkan dengan jumlah pengguna per akhir Desember 2019.
Pilihan Editor
-
Hati-hati Rekor Inflasi
02 Aug 2022 -
Kisruh Labuan Bajo Merusak Citra
04 Aug 2022 -
Waspadai Sentimen Geopolitik
05 Aug 2022 -
BABAK BARU RELASI RI-JEPANG
28 Jul 2022









