Pendanaan Start-up di Daerah Masih Minim
JAKARTA – Asosiasi Modal Ventura dan Start-up
Indonesia (Amvesindo)
menyoroti masih minimnya perhatian para investor
terhadap usaha rintisan
berbasis teknologi (startup) yang berkembang di
daerah. Pendanaannya pun
masih minim dibandingkan
dengan kebutuhan dan potensi yang ada.
Selama ini, para investor
lebih fokus memberikan
pendanaan terhadap start-up di wilayah perkotaan
dan kota besar, terutama
di wilayah Jabodetabek.
Padahal, start-up di daerah sebenarnya tak kalah
bersaing dan kualitasnya
dibandingkan dengan yang
ada di wilayah perkotaan.
Wakil Ketua I Amvesindi
William Gozali mengatakan,
ekosistem start-up di daerah
sebenarnya sudah mulai
terbentuk dengan adanya
dukungan dari perusahaan modal ventura daerah
(PMVD).
“Minimnya network ke
investor memang masih jadi
masalah utama yang dihadapi start-up daerah. Kami
berharap, semakin banyak
start-up daerah yang berani
pitching (presentasi) seperti
start-up di kota-kota besar,”
ungkap Willliam, dalam
pernyataannya, Rabu (17/3).
Berdasarkan catatan dari
Start-up Ranking, pertumbuhan start-up di Indonesia
terus menunjukkan tren
yang positif. Bahkan, jumlah start-up di Tanah Air
telah mencapai 2.219 tahun
2021 ini. Meski demikian,
mayoritas start-up masih
lebih banyak berdomisili
di pulau Jawa, khususnya
wilayah Jabodetabek.
Walaupun tak bisa dipungkiri, saat ini, semakin
banyak inovator lokal dengan ide dan inovasi menarik yang muncul beberapa
tahun terakhir di daerah.
Beberapa di antaranya start-up teknologi akuakultur
E-Fishery di Jawa Barat,
layanan kesehatan mental
on-demand Riliv di Surabaya, dan aplikasi pengelolaan
sampah Gringgo di Bali
(Oleh - HR1)
Tags :
#StartupPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023