;
Tags

Startup

( 184 )

Facebook Berpotensi Harus Lepas Instagram dan Whatsapp

Ayutyas 11 Dec 2020 Investor Daily, 11 Desember 2020

Facebook Inc (FB) dapat dipaksa untuk menjual dua aset berharganya, Instagram (IG) dan Whatsapp (WA), setelah Komisi Perdagangan Amerika Serikat (AS) atau Federal Trade Commission (FTC) dan hampir setiap negara bagian di AS menggugat raksasa media tersebut. FB dianggap telah menggunakan strategi beli atau benamkan untuk mengambil para pesaing dan terus melemahkan para kompetitor yang lebih kecil.

Dalam gugatannya tersebut, FB dituding membeli rival-rivalnya. Fokus gugatan adalah pembelian aplikasi berbagi foto instagram senilai US$ 1 miliar pada 2021 dan aplikasi pesan Whatsapp senilai US$ 19 miliar pada 2014. Selama hampir satu dekade, FB telah menggunakan kekuatan dominan dan monopolinya untuk menghancurkan rival-rival yang lebih kecil dn mengebiri persaingan dengan mengorbankan para pengguna harian. 

Newstead mengatakan bahwa WA dan IG sukses setelah FB menanamkan investasi miliaran dolar AS di saat aplikasi-aplikasi tersebut berkembang. CEO Facebook Mark Zuckerberg mengatakan kepada para karyawannya bahwa kasus ini tidak akan berdampak kepada tim ataupun tugas mereka. Karena baru langkah awal dari proses yang dapat memakan waktu bertahun-tahun

Start Up Jasa Bersihkan Rumah

Sajili 07 Dec 2020 Surya

Perusahaan start up PT Jasapedia Universal Indonesia terus melakukan inovasi dalam mengembangkan produk aplikasi Rewang dengan meluncurkan fitur Resikan.

“Fitur layanan Resikin ini adalah layanan permintaan atau pesanan jasa bersih-bersih rumah, kendaraan, hingga serangga, “ kata Melita Irawan, Business Development Rewang di Surabaya, Jumat (4/12).

Sebelumnya, aplikasi Rewang ini memberi layanan jasa SDM (Sumber Daya Manusia) Asisten Rumah Tangga (ART). Yaitu mempermudah mereka yang membutuhkkan jasa ART atau mencari pekerjaan sebagai ART profesional.

Dan kemudian permintaan meningkat dengan adanya kebutuhan jasa ART yang hanya melakukan bersih-bersih rumah, kendaraan, atau pembersihan serangga saja, tanpa tinggal di rumah.

Dia menuturkan dari bulan ke bulan permintaan ART terus meningkat baik dari Surabaya bahkan Jakarta. Di Surabaya, rata-rata gaji yang ditawarkan pemesan di kisaran Rp 1,6 juta hingga lebih dan Rp 2 juta per bulan. Sedang di Jakarta, rata-rata gaji yang ditawarkan pemesan sudah di atas Rp 2 juta per bulan.


2021, Investasi Start-up Bisa Capai US$ 5 Milyar

leoputra 27 Nov 2020 Investor Daily, 27 November 2020

Webinar bertema ’Membangun Industri Lewat Perusahaan Teknologi Digital’ yang terselenggara atas kerja sama Berita Satu Media Holdings dengan Xendit pada Kamis (26/11). Hadir sebagai pembicara pada acara itu Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika Bidang Digital dan SDM Dedy Permadi, CEO BRI Ventures Nicko Widjaja, COO dan Co-Founder Xendit Tessa Wijaya, Direktur Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintah Tokopedia Astri Wahyuni, pengamat digital yang juga Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi, serta dipandu oleh News Director Berita Satu Media Holdings Primus Dorimulu.  

Nicko Widjaya menyampaikan, tahun 2021, investasi para pemodal dari modal ventura dari dalam dan luar negeri ke usaha start-up di Indonesia berpotensi naik dua kali lipat menjadi US$ 4-5 miliar dari tahun ini diproyeksikan sekitar US$ 2,5 miliar. Nicko juga memproyeksikan, start-up teknologi keuangan (fintech) dan perbankan yang terdigitilasisi akan terus berkembang pesat tahun depan. E-wallet seperti LinkAja dan OVO pun akan masuk ke derah-daerah hingga ke desa untuk mewujudkan inklusi keuangan Indonesia. Menurut dia, hampir seluruh pendanaan terhadap start-up di Indonesia ditampung dulu di holding start-up yang umumnya berbasis di Singapura. Bayangkan, hanya dari tahun 2009 hingga kuartal III-2020, total dana yang diinvestasikan kepada start-up Indonesia sudah mencapai sekitar US$ 14 miliar.

Indonesia punya modal dan potensi besar untuk perkembangan ekonomi digital karena punya 196 juta pengguna internet dari 400 juta pengguna internet di Asia Tenggara. Selain itu, Indonesia saat ini punya lima dari 12 unicorn di Asean.

Sementara itu, Heru Sutadi memproyeksikan, tahun 2021, ekonomi digital Indonesia bisa tumbuh di atas dua digit, pada kisaran 10-20%. Angka tersebut sudah cukup bagus bagi Indonesia. Mengutip pernyataan Presiden Jokowi, dalam acara Asean Business Investment Summit, Heru pun mengungkapkan, Indonesia harus menjadi negara dengan ekonomi digital yang terdepan di Asia Tenggara. Dia juga mengakui, banyak tantangan yang harus diselesaikan Indonesia untuk menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di Asean. Salah satunya, ketersediaan infrastruktur digital yang belum menjangkau ke semua desa sebagai calon pusat pertumbuhan masa depan.

Sementara itu, Tessa Wijaya menuturkan, Xendit saat ini merupakan perusahaan yang banyak bergerak di bidang payment gateway. Meski demikian, pihaknya juga ingin membantu pengembangan infrastruktur digital di Indonesia melalui berbagai solusi yang ditawarkan, terutama bagi perusahaan business to business (B2B) dan UMKM. Dia menuturkan, negara yang ingin mengembangkan ekonomi digitalnya menjadi besar membutuhkan tidak hanya payment gateway. Banyak aspek yang dibutuhkan, sehingga bisa menjadi satu ekosistem yang mumpuni. Xendit pun akan berperan dengan memberikan solusi yang terpadu.

Sementara, Astri Wahyuni mengungkapkan, sebagai salah satu platform e-commerce terbesar Indonesia, Tokopedia mampu memberdayakan ekonomi rakyat. Saat ini, Tokopedia sudah beroperasi di Indonesia selama 11 tahun, misi utamanya mendorong pemerataan ekonomi Indonesia secara digital. Berdasarkan riset yang dilakukan pada 2019, sebanyak 1% ekonomi Indonesia bergerak di Tokopedia serta Tokopedia sudah mampu menjangkau 98% kecamatan di Indonesia.

Dedy Permadi menyampaikan, ekonomi digital dan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) Indonesia justru sedang menggeliat di tengah sektor lain yang terpuruk. Data Badan Pusat Statistik menyebutkan, pertumbuhan sektor TIK nasional pada dua kuartal berturut-turut tumbuh dua digit, yakni kuartal II-2020 sebesar 10,83% dan kuartal III tahun yang sama tumbuh 10,61%.          

Mandiri Capital Agresif Suntik Modal Start-up

leoputra 26 Nov 2020 Investor Daily, 26 November 2020

Direktur Utama Mandiri Capital Indonesia Eddi Danusaputro mengatakan, selama lima tahun berdiri, investasi pada start-up mendorong berbagai inovasi dan sinergi dengan Mandiri Group. Sinergi tersebut meliputi penyaluran modal ke puluhan ribu usaha kecil menengah (UMKM), mulai dari sektor bisnis konvensional hingga pertanian.

Dia menambahkan, pihaknya akan terus agresif menambah portofolio, sehingga dalam waktu dekat portofolio perusahaan akan menjadi 15 start-up. Pihaknya pun berharap dapat meraih keuntungan dari portofolio start-up melalui strategi, baik initial public offering (IPO) saham ataupun menjual saham kepada pihak ketiga.

Salah satu keuntungan Mandiri Capital pada portofolio investasinya adalah saat Gojek mengakuisisi start-up layanan kasir digital, Moka, pada April 2020. Tahun depan, Mandiri Capital pun akan terlibat Indonesia Impact Fund (IIF) yang merupakan hasil kolaborasi dengan APEC Business Advisory Council (ABAC). Sesuai rencana, target dana investasi sebesar US$ 25 juta akan diinvestasikan kepada start-up yang memiliki dampak sosial dan lingkungan.

Dari sisi keuangan, Chief Financial Officer Mandiri Capital Hira Laksamana menjelaskan, bisnis perusahaan setiap tahunnya terus bertumbuh dengan baik. Meskipun kondisi perekonomian pada tahun ini mengalami berbagai tantangan, perseroan mampu meningkatnya posisi ekuitas dan aset masing-masing sekitar Rp 1,8 triliun dan Rp 2 triliun.

Industri Digital Berpeluang Memperoleh Tax Holiday

Ayutyas 23 Nov 2020 Investor Daily, 23 November 2020

Industri Digital Berpeluang memperoleh tax Holiday sebagaimana diungkapkan oleh Staf Ahli Menteri Keuangan Yustinus Prastowo dalam acara CEO Power Breakfast bertema “Ekonomi Digital Percepat Reformasi Struktural” yang digelar oleh Beritasatu Media Holdings (BSMH) di Hotel Aryaduta, Jakarta, Jumat (20/11/2020). Dibuka oleh Deputy Chairman & Senior Advisor Lippo Group Ginandjar Kartasasmita, acara ini juga menghadirkan pembicara Staf Ahli Bidang Ekonomi Makro Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indra Darmawan. Acara yang dimoderatori Direktur Pemberitaan BSMH Primus Dorimulu ini diikuti lebih dari 30 CEO perusahaan digital ternama.

Industri pionir adalah industri yang memiliki koneksi luas atau keterkaitan, menyediakan nilai tambah dan dampak ekonominya tinggi ke daerah sekitar, memperkenalkan teknologi baru, serta menyediakan nilai strategis bagi perekonomian nasional. PMK 130 tersebut sebenarnya sudah memasukkan ekonomi digital sebagai salah satu dari 18 sektor industri yang mendapatkan insentif tax holiday, tapi hanya berlaku untuk aktivitas pengolahan data, hosting, dan kegiatan yang berhubungan dengan itu. Yustinus mengakui aturan tax holiday dalam PMK 130/2020 belum mengubah paradigma, namun baru sebatas mengubah tata cara dan prosedur 

Karena itulah, Yustinus meminta para pelaku usaha ekonomi digital, melalui berbagai asosiasi yang menaunginya, untuk mengajukan surat ke Menteri Keuangan guna mengubah PMK tersebut. Apalagi, PMK itu selama ini sangat dinamis, pernah diubah dalam beberapa tahun, dan bisa diubah sesuai perkembangan bisnis, termasuk bagi pelaku bisnis start-up

Sementara itu, Indra Darmawan mengakui bahwa minat dan realisasi investasi pada bidang terkait telekomunikasi dan digital, termasuk di dalamnya start-up, masuk sektor yang berkembang luar biasa, baik secara ukuran (size) dan skalanya sangat besar.  Menurut Indra, penanaman modal asing (PMA) di sektor tersebut dalam sembilan bulan terakhir hingga September sudah mencapai US$ 2,4 miliar dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) Rp 73 triliun. Diprediksi angka ini akan terus membesar seiring perubahan gaya hidup yang mengarah ke digitalisasi. Indra menambahkan, peranan digital yang kian besar juga tercermin dari 14.000 permohonan izin yang masuk ke BKPM per harinya pada dua pekan lalu. Hal itu melonjak signifikan dari yang biasanya hanya 1.100 atau paling 6.000 per hari

Pandemi, sambung Indra, seakan membawa berkah untuk sektor digital. Selama pandemi, pembayaran digital mampu tumbuh 65%. Bank Indonesia (BI) pun menyatakan pandemi Covid-19 mengakselerasi adopsi digital di Indonesia. Hal itu sejalan dengan survei McKinsey bahwa ada peningkatan 26% pembayaran tanpa kontak di Indonesia selama bulan Juni 2020. Meski begitu, diakuinya ada sejumlah tantangan dalam pengembangan ekonomi digital. Misalnya terkait akses internet, keamanan siber, logistik, perlindungan konsumen, sumber daya manusia, dan pendanaan.  Indra juga menyebut rencana Amazon Web Service (AWS), perusahaan asal Amerika Serikat, yang akan membangun fasilitas layanan cloud computing dan data center di Jawa Barat senilai sekitar Rp 40 triliun bakal memberikan dampak bagus bagi ekonomi lokal Jawa Barat maupun nasional.

Pada kesempatan tersebut, Yustinus juga menyinggung peluang sejumlah start-up teknologi keuangan (financial technology/fintech) yang telah berjasa membantu kinerja pemerintah dan menopang perbankan berhak untuk mendapatkan insentif. Salah satunya OVO, platform pembayaran digital.  OVO dan start-up sejenis telah berjasa besar karena melayani sektor pada pasar yang selama ini tidak pernah terjamah oleh perbankan. Karena itu, mereka seharusnya berhak mendapatkan insentif dari pemerintah.

Yustinus mengungkapkan pula bahwa untuk menjawab tantangan ekonomi digital ke depan, pemerintah telah mengalokasikan Rp 29,6 triliun dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan untuk meng-cover perluasan pembangunan infrastruktur digital di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).     

Sedangkan Ginandjar Kartasasmita menyatakan, ekonomi digital telah mengubah pola bisnis, transaksi, dan konsumsi masyarakat karena dinilai lebih efisien dan efektif. Tak heran jika dikatakan bahwa ekonomi digital merupakan ekonomi masa depan, termasuk bagi Indonesia. Ginandjar menyebut, ekonomi digital saat ini telah menggantikan semuanya dan berpotensi besar menjadi ekonomi baru di masa depan. Bahkan, dalam perkembangan 20 terakhir, digitalisasi mampu menyalip perusahaan besar yang sudah berdiri lama di dunia 

Industri Digital, Alarm Investor Untuk Startup Jumbo

Ayutyas 20 Nov 2020 Bisnis Indonesia

Penurunan nilai investasi dari investor global kepada perusahaan rintisan bervaluasi jumbo, menjadi alarm terhadap pola bisnis yang terus mengandalkan strategi ‘bakar uang’. Google, Temasek, dan Bain and Company dalam laporan bertajuk e-Conomy SEA 2020 mencatat, pendanaan ke perusahaan rintisan (startup) bervaluasi jumbo yang berstatus unicorn di Asia Tenggara terus mengalami penurunan.

Dana yang mengalir ke startup jumbo tersebut mencapai US$8,7 miliar pada 2018 namun nilainya menurun menjadi US$5,6 miliar pada 2019. Sementara itu sepanjang paruh pertama tahun ini, dana segar yang mengalir hanya US$3miliar, putaran pendanaan seri C dan D juga menurun dari 19 pada paruh pertama 2019 menjadi 17. Di Asia Tenggara terdapat 12 perusahaan berstatus unicorn dan dekakorn seperti Bigo, Bukalapak, Gojek, Grab, Lazada, OVO, Sea Group, Razer, Traveloka, Tokopedia, VNG dan VNpay.

CEO Mandiri Capital Eddi Danusaputro mengatakan strategi ‘bakar uang’ lazim digunakan pada awal perjalanan startup untuk mendapatkan konsumen atau pengguna hingga monetisasi nilai dari pengguna atau traction. Chief investment Strategist and Head South East Asia Temasek Rohit Sipahimalani mengatakan ‘bakar uang’ untuk mendongkrak Gross Merchandise Value (GMV).

Telkom memberikan pendanaan ke Gojek senilai US$150 juta atau 2,17 triliun. Gojek mencatat nilai transaksi bruto tumbuh 10% menjadi US$12 miliar atau 170 triliun, pengguna aktif bulanan juga meningkat 38 juta. Gojek menyediakan 20 layanan di Asia Tenggara, adapun bisnis inti Gojek adalah transportasi, pembayaran dan pesan antar makanan.

Temasek Hol Ding Pie dan Google menyuntikan dana untuk Tokopedia diberitakan sebesar US$350 juta. Selain itu Mikrosof berkolaborasi dengan Bukalapak.

Dilansir dari Bloomberg investasi Microsoft di Bukalapak mencapai US$100 juta atau 1,4 triliun. Pertimbangan Investor, Asosiasi Modal Ventura untuk startup Indonesia (Amvesindo) hingga kuartal III/2020 terdapat 32 transaksi pendanaan mencapai US$1,92 miliar. Wakil ketua I Amvesindo William Gozali mengatakan jumlah pengalaman mengalami penurunan, pendanaan kuartal III/2020 sebanyak US$1,9 miliar, tahun sebelumnya mencapai US$2,9 miliar. Pendanaan dari PMV juga dibutuhkan untuk investasi upstream non-conglomerate, seperti pertanian dan peternakan 

Tren Pendanaan Startup, Jorjoran Tanam Modal Di Unikorn

Ayutyas 18 Nov 2020 Bisnis Indonesia

Setelah sempat lesu selama pandemi, bursa pendanaan startup skala unikorn kembali marak mendekati ujung tahun. Salah satu yang paling membetot atensi adalah Gojek, yang sukses mengunci dana segar US$150 juta dari Telkomsel.

Kemarin, PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek) mengamankan komitmen investasi sekitar Rp2,1 triliun dari PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel). Kabar tersebut dikonfirmasi langsung oleh Direktur Utama Telkomsel Setyanto Hantoro. Dia mengungkapkan pendanaan telah disepakati kedua pihak sehari sebelumnya atau pada Senin (16/11).

Setyanto meyakini kerja sama dengan Gojek akan melengkapi strategi transformasi Telkomsel dalam mengembangkan bisnis layanan digital berserta talentanya. Direktur Utama Telkom Ririek Adriansyah pun mengatakan sebagai induk perusahaan Telkomsel, perseroan berharap kolaborasi dengan Gojek akan memberikan potensi nilai tambah yang besar.

Dari pihak Gojek, Co-CEO PT Aplikasi Karya Anak Bangsa Andre Soelistyo menyebut suntikan modal dari Telkomsel akan digunakan untuk memperkuat layanan digital Gojek dan melahirkan inovasi produk atau entitas baru, yang belum terungkap detailnya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan kerja sama ini merupakan perluasan dari kolaborasi Gojek dan Telkomsel yang menawarkan paket data terjangkau kepada mitra driver Gojek sejak 2018. Rencana investasi Telkomsel ke Gojek sebelumnya menjadi gosip panas yang tak kunjung terkonfirmasi selama 2 tahun terakhir.

Berdasarkan catatan Bisnis, pada 2018, Telkom selaku induk Telkomsel memang pernah berencana menyuntik US$400 juta ke Gojek guna memperkuat layanan LinkAja. Namun, kabarnya, rencana itu terjegal ‘lampu merah’ Menteri BUMN saat itu, Rini Soemarno.

Pada Agustus tahun ini, sumber DealstreetAsia mengungkap rencana investasi Telkom yang tertunda itu kembali dimatangkan. Akan tetapi, pendanaan kali ini akan disalurkan via Telkomsel, alih-alih PT Metra Digital Investama (MDI Ventures) yang notabene adalah modal ventura milik Telkom. Kala itu, nilai investasi Telkomsel ke Gojek disebut masih berada di kisaran yang sama dengan nominal yang direncanakan Telkom 2 tahun lalu.

Selain Gojek, pendanaan langsung ke unikorn menjelang akhir tahun ini turut diramaikan oleh Bukalapak dan Tokopedia.

Bukalapak menggalang US$100 juta atau sekitar Rp1,46 triliun dari Microsoft Corp. Suntikan modal ini akan membuat valuasi Bukalapak naik ke kisaran US$2,5 miliar—US$3 miliar. Saat ini Bukalapak telah didukung oleh Ant Group (afiliasi Alibaba), GIC Pte, dan Group Emtek. CEO Bukalapak Rachmat Kaimuddin menjelaskan investasi dari Microsoft bakal digunakan untuk membangun infrastruktur komputasi awan (cloud) andal.

Lain sisi, Tokopedia mengumumkan Google dan Temasek sebagai pemegang saham baru perusahaan dagang-el besutan CEO William Tanuwijaya itu. Dikutip dari Nikkei Asian Review, Google akan menguasai 1,6% saham Tokopedia, sedangkan Anderson Investments yang berafiliasi dengan Temasek akan memiliki 3,3%. Mengenai besaran dana yang disuntikkan Temasek dan Google, William enggan mengungkapkan. Namun, pada pekan terakhir Oktober, kedua perusahaan dikabarkan menyepakati komitmen investasi senilai US$350 juta. Jumlah tersebut lebih rendah dari perkiraan Bloomberg pada Juli, yaitu di kisaran US$500 juta hingga US$1 miliar.



RI Peringkat Lima Dunia Pemilik Startup Terbanyak

Ayutyas 05 Nov 2020 Investor Daily

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (indef) Bhima Yudhistira mengungkapkan, maraknya kelahiran perusahaan rintisan di Indonesia juga disebabkan karena banyaknya generasi milenial yang mulai menciptakan usaha baru. “Mereka ini menggunakan kesempatan dari booming ekonomi digital untuk membentuk startup. Indonesia sekarang masuk urutan kelima di dunia dengan jumlah startup paling banyak, sekarang ada 2.203, tahun lalu itu sekitar 1.500-1.800, dan karena pandemi jadi makin melonjak juga.” Terang Bhima dalam acara peluncuran generasi Djempolan Kredivo secara daring, Rabu (4/11).

Pada kesempatan itu, Direktur Grup Inovasi Keuangan Digital Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dino Milano mengungkapkan, di saat perkembangan keuangan digital yang pesat saat ini, literasi dan inklusi keuangan sangat dibutuhkan. 

OJK berperan aktif merajut ekosistem, sifatnya satu pihak dan pihak lain adalah saling menguntungkan atau simbiosis mutualisme. Saat ini, OJK memiliki fintech center atau dikenal OJK Infinity yang mewadahi para startup atau fintech. OJK juga menyelenggarakan regulatory sandbox, di sana startup atau fintech akan melakukan uji coba sebelum dianggap lulus, dan nantinya perlu berperan bersama untuk membuat rantai transaksi menjadi singkat dengan dukungan teknologi.

Industri Digital Jatim Bergeliat

Sajili 21 Oct 2020 Surya

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim menyebut kontribusi dan potensi sektor industri digital di Jatim cukup besar. Pilot project Jatim IT Creative (JITC) dalam bidang industri elektronika, telematika, dan industri kreatif yakni Jatim IT Creative (JITC) terus menuai hasil yang positif.

“Kami menilai bahwa sektor digital melalui e-commerce dan startup merupakan salah satu sektor potential winner pada masa pandemi ini. Hal ini terjadi karena ada perubahan pola hidup masyarakat yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sehingga akses penggunaan internet termasuk media sosial meningkat,” kata Drajat Irawan, Kepala Disperindag Jatim saat mengunjungi Startup Mocca Animation Studio Malang, Selasa (20/10).

Berdasarkan data yang dihimpunnya pada tahun 2019, di Jawa Timur sendiri terdapat 281 startup, dengan dominasi jumlah startup terbanyak berada di kota Surabaya dan malang. “Surabaya menyumbang sekitar 98 pelaku industri digital yang bergerak pada pengelolaan bisnis startup digital, kemudian setelahnya disusul oleh Malang sebesar 70, serta sebaran kota-kota di Jawa Timur lainnya yang menjadi basis dari industri digital antara lain Sidoarjo, Banyuwangi, Kediri, Jember dan masih banyak yang lainnya,” jelasnya.

Adapun, beberapa bidang yang digeluti oleh pelaku startup digital di Jatim, diantaranya seperti e-commerce, pembayaran kuliah secara online, investasi bitcoin, fintech, drone, jasa animation, game developer, penyedia layanan web, link business n people, layanan travel, kesehatan dan lain-lain.

Salah satu bukti keberhasilan kinerja JITC diakui Mocca, startup binaan JITC asal Malang sejak 2012 dan kini telah mandiri dan kian sukses dalam mengembangkan bisnis startup digitalnya.

“Kini Mocca berhasil merambah pasar luar negeri dengan mengerjakan project-project yang berasal dari Itali, Kanada, Amerika Serikat (AS), India, Thailand, Filipina, dan lain-lain,” kata Drajat.

Chief Operating Officer (COO) Mocca, Irwanto mengatakan, fokus bisnis startup yang dikelola oleh Mocca adalah pembuatan animasi yang berhubungan dengan film, aplikasi, dan beberapa produk turunannya. Kini omzet bisnis komunitas ini mencapai Rp 200 juta per bulan.


Lingkaran.co Start-up Edukasi yang Bersinar di Masa Covid-19

Ayutyas 01 Oct 2020 Investor Daily

Lingkaran.co, platform pendidikan kreatif bagi wirausahawan dan professional muda yang ingin mengembangkan diri, karier dan bisnis melalui berbagai pelatihan in-demand, mengkalim mampu bersinar di tengah pandemiCovid-19. Pertumbuhan pendapatan (revenue growth) mencapai 50%, pertumbuhan margin (margin growth) 450%, peningkatan pengguna (user growth) 500%, dan minat pengguna (retention growth) 300% selama 2020. Pencapaian itu dikarenakan aktivitas belajar mengajar formal maupun non formal saat ini hampir seluruhnya dialihkan ke metode virtual (daring).  “Pelatihan yang diadakan beragam, meliputi pelatihan kewirausahaan, pemasaran digital, manajemen keuangan,pengembangan karakter, dsb.” Kata Wendy Pratama (CEO dan Founder Lingakaran.co). Menurutnya, setelah 6 tahun berdiri Lingkaran menjadi platform kreatif terdepan dan telah mengadakan lebih dari 1.500 program bagi 20.000 pelajar dan menginspirasi 150.000 pemuda di Indonesia. Visi Lingkaran adalah menjadi ekosisitem progresif yang mendorong entrepreneur dan professional Indonesia untuk mencapai standar kelas dunia. Saat ini Lingkaran telah berkembang secara organik sebesar lima kali lipat dari tahun sebelumnya dan mampu menjangkau lebih banyak anak-anak muda Indonesia hingga ke Indonesia Timur dan luar negeri(antara lain Australia, Inggris, dan Belanda).