;
Tags

Startup

( 184 )

Memperkuat Basis di Asia Tenggara

Ayutyas 08 Jul 2021 Koran Tempo

Jakarta - Ekspansi bisnis PT Aplikasi Karya Anak Bangsa alias Gojek di luar Indonesia diprediksi akan semakin kuat setelah menggandeng Grup AirAsia. Pengalihan layanan transportasi berbasis aplikasi dan teknologi finansial milik Gojek di Thailand kepada AirAsia akan membuat manajemen dapat berfokus ke Vietnam dan Singapura. Gojek pun akan membuka layanan baru di kedua negara tersebut. 

Fitur non-transportasi Gojek, khususnya pesan-antar makanan dan sistem pembayaran digital, menjadi senjata ekspansi terdepan di pasar internasional. Setelah melebur menjadi GoTo, Gojek dan Tokopedia diprediksi bakal menggenjot layanan di luar Indonesia. Penyatuan dua unicorn itu tercatat sebagai integrasi ekosistem digital terbesar di Indonesia. Selain karena aplikasi Gojek sudah diunduh 170 juta kali di Asia Tenggara sampai akhir tahun lalu, Tokopedia juga akhirnya bisa menjangkau hampir semua kecamatan di Indonesia.  

(Oleh - IDS)

Pengembangan Startup Kuliner dan Foodtech, Peluang Emas Di Balik Pembatasan

Ayutyas 05 Jul 2021 Bisnis Indonesia

JAKARTA — Pembatasan aktivitas dan mobilitas masyarakat yang kian ketat di tengah lonjakan kasus Covid-19 dapat menjadi peluang bagi perusahaan rintisan di bidang kuliner dan teknologi kuliner untuk mencatatkan pertumbuhan bisnis. Saat ini, sejumlah perusahaan rintisan (startup) kuliner telah menciptakan ikatan yang saling menguntungkan de­ngan dengan startup lain di bidang teknologi kuliner seperti layanan pe­san antar, terutama pada masa pan­demi Covid-19. CEO dan Co-Founder Kopi Ke­nangan Group Edward Tirtanata me­ngatakan bahwa kebijakan pem­berlakuan pembatasan kegiatan ma­syarakat (PPKM) darurat akan memengaruhi kunjungan pe­langgan secara langsung.

Pemilik Pison Coffee Arlini Wibowo mengatakan selama pene­rapan PPKM darurat, per­usa­haan berfokus untuk terus meningkatkan kualitas produk secara konsisten. “Untuk penjualan kami ada kenaikan 25% selama pandemi Covid-19, khususnya lewat aplikasi pesan antar makanan,” katanya. Sementara itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengatakan sektor kuliner saat ini sekarang mengalami transisi dari luring ke daring. PPKM darurat diyakini akan mengakselerasi perubahan tersebut.

Akademisi menilai PPKM darurat menjadi ajang bagi perusahaan rintisan di bidang teknologi kuliner (foodtech) untuk meningkatkan inovasi dan layanan produknya. Koordinator Pusat Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dianta Sebayang mengatakan potensi foodtech sangat besar dengan momentum PPKM darurat. Sebab, masyarakat, terutama para milenial, selalu berani mencoba hal yang baru untuk mengusir rasa jenuh. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai perusahaan rintisan berbasis foodtech diprediksi akan bertumbuh 26%—35% sebagai imbas dari pembatasan kegiatan masyarakat secara masif. Senada, Kepala Center of Inno­­­vation and Digital Economy Institute for Development of econo­mics and Finance (Indef) Nailul Huda mengamini adanya pembatasan mampu menjadi katalis positif bagi bisnis teknologi kuliner, terutama di bidang layanan antar makanan dan online food marketing.

(Oleh - HR1)



Prospek Startup Bioteknologi, Injeksi Investor Ungkit Geliat Pasar

Ayutyas 28 Jun 2021 Bisnis Indonesia

JAKARTA – Dengan menyederhanakan regulasi dan membangun iklim bisnis yang lebih pro pasar, peluang bagi perusahaan rintisan bioteknologi nasional untuk menggeliat di level domestik maupun global terbuka luas seiring dengan perubahan arus besar orientasi bisnis institusi farmasi dunia.Saat ini Indonesia memang belum menjadi rumah yang nyaman bagi perusahaan rintisan tersebut untuk bertumbuh. Persoalan utamanya, menurut pebisnis, adalah adanya aturan yang begitu kompleks, sehingga tidak banyak pemain baru yang ingin masuk ke sektor yang sebenarnya sangat menjanjikan ini.“Sektor biotech di Indonesia rata-rata juga masih dipegang perusahaan besar dan konglomerasi serta rata-rata startup berbasis riset membutuhkan waktu lebih lama untuk muncul karena butuh dana lebih besar tanpa kepastian pendapatan,” ujar Bendahara Asosiasi Modal Ventura dan Startup Indonesia (Amvesindo) Edward Ismawan Chamdani, Minggu (27/6).

Sementara itu, Nusantics, salah satu startup di sektor ini, menyiapkan sejumlah strategi untuk menekan kasus Covid-19 di Indonesia.Head of Business Unit & Group Marketing Nusantics Tri Nuraini mengatakan dalam gugus tugas bersama BPPT, mereka mengembangkan PCR swab test lokal pertama di Indonesia yang telah diproduksi secara massal oleh Biofarma.“Jutaan test kit ini pun telah digunakan di seluruh Indonesia. PCR swab test kit buatan lokal ini lebih akurat dan juga lebih mudah dijangkau,” ujarnya.

Dimintai pendapatnya, Koordinator Pusat Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dianta Sebayang mengatakan bahwa meskipun belum menjadi rumah yang nyaman untuk pertumbuhan startup bioteknologi tetapi geliat bisnisnya berpeluang untuk didorong lebih cepat lagi pada tahun ini. “Startup bioteknologi adalah perusahaan yang membutuhkan SDM yang andal, tidak hanya secara digital, tetapi juga secara multiteknologi, kedokteran, kimia, biologi, nanoteknologi, dan lainnya. Selama ini fokus di Indonesia masih lebih banyak pada talenta digital untuk kebutuhan jasa saja,” tegasnya.

(Oleh - HR1)

Suntik Modal, Smartfren Miliki Saham Moratelindo

Ayutyas 31 May 2021 Investor Daily, 31 Mei 2021

Jakarta - PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) melalui anak usahanya, PT Smart Telecom, melakukan penyertaan modal saham pada PT Mora Telematika Indonesia (Moratelindo) senilai RP 360 miliar. Dengan begitu, Smart Telecom mengantongi 20,5% saham Moratelindo. Aksi korporasi ini sudah mendapat persetujuan dari para pemegang saham. Penyertaan saham ini dilakukan dalam rangka pengembangan usaha strategi perseroan, Smart Telecom, dan Moratelindo pada masa mendatang. dalam perjanjian, para pihak meyakini akan terjadi sinergi dalam kegiatan operasional antara perseroan dan Smart Telecom dengan Moratelindo, sehingga berdampak positif terhadap kinerja, keuangan konsolidasi dan kelangsungan usaha. 

Sementara itu, lembaga pemerintah internasional, mengungkapkan bahwa Indonesia membutuhkan investasi yang tinggi secara terus menerus agar tetap kompetitif, terutama karena jangkauan jaringan Smartfren masih tergolong terbatas dibandingkan tiga operator besar lain. pengurangan investasi dapat mengakibatkan Smartfren menjadi tertinggal lebih jauh dibanding dengan kompetitor-kompetitornya yang lebih besar dan berdampak pada momentum pertumbuhannya, walaupun belanja modal pada dasaranya bersifat fleksibel.

(Oleh - IDS)

Tiket.com Gandeng SPAC untuk IPO

Ayutyas 19 May 2021 Investor Daily, 19 Mei 2021

Perusahaan penyedia travel online, Tiket.com berencana melakukan merger atau penggabungan usaha dengan special purpose acquisition company (SPAC), sebagai langkah untuk melantai di bursa saham. Penggabungan usaha dengan perusahaan cangkang ini berpotensi menghasilkan valuasi sekitar US$ 2 miliar. Tiket.com tengah melakukan pembicaraan dengan Cova Acquisition Corp mengenai negosiasi ini. Goldman Sachs Group bertindak sebagai oenasihat dalam merger perusahaan yang memiliki valuasi di atas US$ 1 miliar tersebut. 

TIket.com bisa meraih dana sekitar US$ 200 juta dalam proses merger ini kerena termasuk dalam private invesment in public equity (PIPE) atau investasi swasta dalam perusahaan publik. Namun sayangnya perwakilan TIket.com menolak untuk berkomentar. Aksi merger dengan SPAC yang dilakukan Tiket.com ini turut menambah deretan perusahaan rintisan yang sebelumnya juga menjajaki hal serupa sebelum melakukan IPO. Strategi ini digunakan karena meningkatnya popularitas perusahaan e-commerce di kawasan Asia Tenggara. Traveloka sebelumnya dalam pembicaraan lanjutan untuk melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham melaui merger dengan Bridgetown Holdings.

(Oleh - IDS)

GoTo dan BCA akan Bersaing Rajai Market Cap

Ayutyas 19 May 2021 Investor Daily, 19 Mei 2021

Rencana penawaran umum perdana (IPO) saham hasil merger Gojek dan Tokopedia (GoTo) akan memberikan darah segar bagi Bursa Efek Indonesia (BEI) dan menaikkan reputasi BEI di ranah global. Dengan valuasi pasca-IPO bisa tembus US$ 40 miliar, GoTo akan bersaing dengan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) untuk menempati posisi puncak kapitalisasi pasar (market cap) di BEI. 

Merger ini akan menyegarkan bisnis perusahaan-perusahaan yang bersinergi di dalamnya, termasuk PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) yang merger dengan GoMart, salah satu layanan digital Gojek yang andal. Dengan demikian, kinerja MPPA berpotensi menjadi online groceries terbesar, sejalan dengan strategi omnichannel yang dijalankan ritel milik Grup Lippo tersebut. 

(Oleh - IDS)

Grup Telkom Siapkan Tiga Start-up Jadi Unicorn

Ayutyas 18 May 2021 Investor Daily, 18 Mei 2021

Jakarta - MDI Ventures, perusahaan modal ventura milik PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), menargetkan tiga portofolio investasi perusahaan rintisannya (start-up) bisa menyandang status unicorn dalam beberapa tahun mendatang. MDI Ventures juga tengah menyiapkan satu start-up untuk melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham pada tahun ini. Pihak MDI Ventures memiliki lebih dari 50 portofolio investasi di start-up. Dari jumlah tersebut, sekitar tiga portofolio memiliki valuasi yang mendekati untuk menjadi perusahaan unicorn

Selain meningkatkan investasi di start-up, MDI Ventures juga mempersiapkan salah satu perusahaan investasinya untuk menggelar IPO saham pada tahun ini. Semual, IPO akan dilakukan pada Maret 2021, namun diundur hingga kelengkapannya selesai. Adapun perusahaan yang akan IPO ini adalah perusahaan yang bergerak dalam bisnis software as a service (SaaS). Dalam pemberitaan sebelumnya disebutkan, perusahaan ini ditargetkan bisa meraih dana minimal Rp 100-150 miliar dari IPO saham dengan melepas 20-25% saham ke publik.

(Oleh - IDS)

Resmi Merger, Gojek-Tokopedia Selangkah Lagi IPO

Ayutyas 18 May 2021 Investor Daily, 18 Mei 2021

Peresmian merger Gojek dan Tokopedia atau GoTo bakal mempercepat rencana perusahaan teknologi rintisan (startup) konglomerasi decacorn dan unicorn ini untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham dalam waktu dekat. Pihak Gojek baru saja menyelesaikan satu pencapaian penting yakni dengan membentuk GoTo. Prioritas saat ini adalah fokus pada kelancaran integrasi dan memastikan bahwa Gojek dan Tokopedia yang ada di bawah GoTo semakin dapatmenyediakan platform terbaik untuk jutaan konsumen, mitra usaha, UMKM, dan mitra lainnya melalui ekosistem.

Pihaknya memahami bahwa salah satu informasi yang ditunggu adalah terkait rencana melakukan IPO dan untuk itu perseroan akan menyampaikan hal tersebut dalam waktu yang tepat. GoTo berniat untuk mempercepat IPO guna menghasilkan dampak yang lebih besar dan lebih signifikan, juga sedang mengeksplorasi pilihan untuk listing di lebih dari satu lokasi. Grup GoTo akan menciptakan platform konsumen digital terbesar di Indonesia, melayani sebagian besar kebutuhan konsumsi rumah tangga. 

(Oleh - IDS)

Ujian Dominasi GOTO

Ayutyas 18 May 2021 Bisnis Indonesia

Megamerger antara PT Aplikasi Karya Anak Bangsa atau Gojek dan PT Tokopedia, yang berjuluk GoTo, bakal melapangkan jalan bagi ambisi kedua perusahaan tersebut untuk melantai di bursa saham, sekaligus menegaskan dominasinya dalam ekosistem digital Tanah Air. Namun, sejumlah tantangan bagi entitas baru hasil merger kedua perusahaan tersebut sudah menanti di depan mata. Tantangan terbesarnya bukan karena soal finansial, melainkan justru ketika saham perdana ini berpotensi menjadi rebutan banyak pihak. 

Secara finansial, penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) GoTo tidak memiliki kendala berarti. Investor yang berada di belakang kedua perusahaan memiliki modal jumbo. Ketika IPO dilakukan akan terjadi kelebihan permintaan atau oversubscribe. Namun, hal tersebut justru perlu mewaspadai para investor skala kecil. GoTo masih perlu membuktikan kepada publik bahwa perseroan benar-benar memiliki kinerja yang bagus. Baik Gojek maupun Tokopedia sejauh ini dikenal sebagai perusahaan yang bertarung di wilayah yang mengedepankan aksi 'bakar uang'.

Setekah aksi merger ini GoTo akan melayani segmen pasar yang lebih besar, baik secara penjualan barang, pengiriman, maupun layanan pembayaran. Alhasil, secara kapitalisasi pasarnya pun akan menjadi lebih besar dan akan memiliki daya tarik tinggi di pasar, baik dalam negeri maupun pasar luar negeri. Tak hanya memberi dampak positif bagi para pemangku kepentingan GoTo Group, merger ini juga akan mengubah konstelasi ekosistem digital lokal. Dampak dari merger ini adalah makin mengerucutnya persaingan di industri ekonomi digital Indonesia menjadi tiga grup besar, yaitu GoTo, SEA Group, dan Grab-Ovo-Emtek. 

(Oleh - IDS)

Pendanaan StartUp, Iklim Investasi Kian Kondusif

Ayutyas 11 May 2021 Bisnis Indonesia

Bisnis, JAKARTA — Iklim investasi perusahaan rintisan diproyeksikan makin baik pada kuartal III/2021 seiring dengan meningkatnya kepercayaan diri dari para pemodal untuk menyuntikkan dananya.

Ketua Umum Asosiasi Startup Teknologi Indonesia (Atsindo) Handito Joewono mengatakan investasi besar yang terjadi pada salah satu perusahaan rintisan (startup) akan merangsang investasi sejenis di ekosistem tersebut.

Adapun, yang terbaru adalah investasi PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) senilai US$300 juta kepada PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek). Adapun total investasinya sejak November 2020 telah mencapai US$450 juta.

Selain itu, minat startup untuk segera melantai di bursa untuk meraih pendanaan pun akan makin kuat seiring dengan adanya sentimen dari rencana penawaran umum perdana perusahaan hasil merger Gojek-Tokopedia.

Adapun, Cento Ventures menyatakan bahwa pendanaan ke startup Asia Tenggara turun 3,5% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi US$8,2 miliar pada 2020. Pada semester I/2020, pendanaan ke startup Asia Tenggara masih senilai US$5,9 miliar, lalu turun pada semester II/2020 menjadi US$ 2,3 miliar.

Adapun, jumlah kesepakatan investasi sepanjang tahun lalu tercatat sebanyak 645, turun dibandingkan 2019 yang mencapai 704.

Namun, dari sisi nilai, Indonesia masih mendominasi dengan berkontribusi 70% terhadap total pendanaan, disusul Singapura 14%, Malaysia 5%, Thailand 5%, Vietnam 4%, dan Filipina 2%.

Besarnya nilai investasi yang diperoleh perusahaan rintisan Indonesia ditopang oleh startup jumbo, di mana hampir setengah dari dana yang terkumpul masuk ke kantong para unikorn seperti Grab, Gojek, Bukalapak, dan Traveloka.

Sebelumnya, Handito juga mengatakan pendanaan startup turut ditentukan oleh penanganan pandemi Covid-19. Menurutnya, Indonesia menjadi salah satu negara dengan program vaksinasi terbaik sehingga kayak untuk dilirik para pemodal.

AMBISI MENJADI UNICORN

Sementara itu, agresifnya pemain perusahaan rintisan untuk menjadi unikorn selanjutnya di Tanah Air dinilai turut menjadi sentimen positif untuk meningkatkan minat pemodal dalam menyuntikan dananya.

Bendahara Asosiasi Modal Ventura Seluruh Indonesia (Amvesindo) Edward Ismawan Chamdani menilai selain bergairahnya pemain startup untuk memiliki nilai valuasi US$1 miliar, para unikorn yang melirik lantai bursa juga memberikan optimisme bagi pemodal.

Di sisi lain, Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020—2024 menargetkan hadirnya tiga unikorn pada 2024. Tambahan tersebut diharapkan mulai terealisasi pada tahun depan.

Rencana tersebut menjelaskan bahwa pada tahun ini diharapkan startup digital aktif yang terbentuk berjumlah 35. Adapun, untuk jumlah startup pada 2022, 2023, dan 2024 masing-masing target yang diharapkan berjumlah 70, 110, dan 150.


(Oleh - HR1)