Startup
( 184 )Rantai Pasokan, Startup Logistik Bakal Menjamur
Asosiasi Logistik Indonesia memprediksi jumlah perusahaan rintisan di bidang logistik akan terus bertambah, seiring dengan gurihnya pasar perdagangan elektronik atau e-commerce. Dalam perhitungannya, hampir 20 perusahaan startup logistik yang muncul di Indonesia, baik lokal maupun asing dalam 2 tahun terakhir. Dengan lahirnya berbagai startup, persaingan bisnis sesama penyedia logistik bakal kian sengit. Ketua Bidang Organisasi DPP Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspress, Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo), Trian Yuserma, mencatat setidaknya sudah ada 21 perusahaan baru penyelenggara pos yang mendapat izin pada 2019 karena industri e-commerce yang semakin memikat. Dari 21 perusahaan itu, 13 perusahaan berskala nasional, lima perusahaan skala provinsi, dan tiga perusahaan skala tingkat kabupaten/kota.
BEI Kurang Seksi di Mata Startup
Bursa Efek Indonesia (BEI) masih harus bekerja keras menggaet perusahaan rintisan (startup) untuk menjajakan sahamnya di bursa saham. Pasalnya, ada sinyal startup yang beroperasi di Indonesia ogah melego saham di bursa lokal. Dukungan investor besar dan kontrol sosial menjadi alasan startup enggan IPO. Achiko Limited, penyedia layanan tekfin Mimopay, berencana mengajukan pencatatan saham secara langsung di bursa efek Swiss SIX. Perusahaan yang didukung Grup MNC berencana mencatatkan 100 juta saham di bursa Swiss.
Keinginan BEI tidak muluk-muluk. Direktur Penilaian BEI menargetkan, dua sampai tiga perusahaan rintisan bisa menawarkan sahamnya ke publik. Caranya, startup tidak perlu menunggu asetnya besar jika ingin IPO. Bahkan dengan aset menengah, Rp 50 miliar, BEI membuka kesempatan untuk tumbuh di bursa. Yang penting, BEI akan melihat sustainability-nya, model bisnis, juga atribusi balik ke investor.
Industri Digital : Aplikasi Super Dorong Usaha Rintisan Periklanan
Kehadiran aplikasi teknologi dengan berbagai fitur layanan/aplikasi super mendorong hadirnya perusahaan rintisan khusus bisnis perangkat lunak dan solusi iklan terprogram. Keduanya diperkirakan berperan penting di industri periklanan masa depan.
Chief Product Officer Pocketmath, Nuno Jonet mengatakan bahwa aplikasi super menghasilkan sumber data yang potensial untuk agensi periklanan global dan pemilik merk. Data dihasilkan dari transaksi sehari-hari diberbagai fitur. Apabila sebagian arus kas mereka dapat dihubungkan untuk kebutuhan solusi teknologi periklanan inovatif, hal itu memungkinkan pemilik aplikasi memonetisasi pengguna. Pengalaman konsumen saat menggunakan fitur-fitur aplikasi yang ada pun bertambah. Pada akhirnya, hal itu bisa membantu proses bisnis jangka panjang.
Selain Pocketmath, perusahaan rintisan lain yang bergerak di sektor serupa adalah Glispa. Produknya memudahkan pemilik merk mendapatkan konversi dari iklan yang ditampilkan melalui perangkat komunikasi bergerak. Grab memiliki layanan Grab Ads yang membantu pemilik merk memanfaatkan armada mitra pengemudi yang tersebar dan jejak digital yang dihasilkan dari transaksi Grab. GoJek pun memiliki layanan senada setelah mengakuisisi Promogo sejak September 2018.
Startup Rantai Pasok, Advotics Kantongi Dana Tahap Awal Rp39 Miliar
Advotics, perusahaan rintisan Software as a Service (SaaS) asal Indonesia yang fokus membantu para pelaku bisnis rantai pasok barang dalam mengambil keputusan berdasarkan data, meraih pendanaan tahap awal senilai Rp39 miliar. Advotics didirikan dengan misi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi sebagian besar perusahaan rantai pasok yang masih mengandalkan metode luring dalam mengelola dan melacak operasional penjualan serta distribusi mereka. Klien Advotics dapat membeli solusi yang sesuai dengan kebutuhan mereka, baik berupa solusidigitalisasi yang menyeluruh atau hanya modul-modul tertentu. Selain itu, Advotics juga menyediakan fitur yang sangat diminati oleh pelaku industri, seperti aplikasi produktivitas untuk memantau pekerja di dalam toko dengan sistem pelacakan geografis, sistem pengaturan rute dan pengiriman barang, sistem pemasaran offline-to-online, platform perdagangan business to business (B2B), serta dasbor analitik dan business intelligence untuk tim manajemen.
Tim Advotics berhasil mengatasi inti masalah dalam pemantauan rantai pasok di Indonesia. Data point yang dikumpulkan bisa digunakan untuk memahami peta persebaran dari distribusi produk dan mengefisienkan rantai pasok. Advotics memperkenalkan platform berbasis komputasi awan mereka untuk mendigitalkan tenaga kerja, jaringan bisnis, serta aset dan produk fisik milik perusahaan. Bagi bisnis distribusi, Advotics berhasil meningkatkan produktivitas para karyawan sales, yang berakibat pada meningkatnya kunjungan ke toko ritel setiap harinya sebesar 49%. Hingga saat ini, Advotics telah memenagi lebih dari 50 kontrak dengan klien korporat, seperti ExxonMobil, HM Sampoerna, Danonde, Mulia Group, Saint Gobin, Nutrifood, dan Indosurya.
Layanan Ekspedisi Super Kilat, Bisnis Startup Logistik Makin 'Ngebut'
Bisnis startup digital di bidang logistik diyakini makin moncer pada tahun ini, seiring dengan kian tinginya tren penggunaan layanan pengiriman sampai pada hari y ang sama di berbagai platform dagang-el. Dalam beberapa waktu ke depan pun, diperkirakan mayoritas pembeli dan penjual di platform dagang-el yang sebelumnya menggunakan jasa pengiriman barang reguler beralih ke jasa pengiriman sampai pada hari yang sama (same day delivery). Meskipun memiliki tarif lebih mahal, jumlah pendapatan para pelapak yang menggunakan layanan same day delivery diperkirakan jauh lebih besar. Layanan same day delivery diyakini dapat mendongkrak return on investment para pelaku bisnis serta meningkatkan produktivitas seller sampai dengan empat kali lipat.
Strategi Bisnis Rintisan, Bisnis Penjual Kopi 'Mengepul' Via Aplikasi
Gaya hidup masyarakat urban yang mementingkan kecepatan dan efisien waktu turut mendorong bisnis perusahaan rintisan kopi berbasis aplikasi dengan konsep penjualan langsung ke konsumen (direct to customer) tumbuh pesat. Perkembangan teknologi di Indonesia membuat masyarakat semakin sensitif terhadap tingkat kecepatan dan pelayanan instan. Hal inilah yang menjadi latar belakang lahirnya bisnis kopi berbasis aplikasi. Salah satunya Fore Coffe. Co-Founder dan CEO Fore Coffee Robin Boe menyatkan, siap membuka 100 gerai pada akhir Juni 2019 berkat kesuksesan aplikasinya. Kehadiran aplikasi mobile mempermudah proses pemesanan untuk para pelanggan. Pada putaran pendanaan Seri A di bulan Januari 2019, Fore Coffee berhasil mengumpulkan total Rp134 miliar. Fore Coffe mencatat pesanan 10.000 gelas kopi sehari. Sejak aplikasinya diluncurkan pada pekan kedua Desember 2018, Fore Coffee berhasil mencatat pertumbuhan penjualan dari 19.000 menjadi 300.000 gelas kopi per bulan. Terpisah CEO Kopi Kenangan James Prananto juga merilis aplikasi sebagai salah satu strategi ekspansi perusahaan yang berambisi tumbuh empat kali lipat tahun ini. Sejauh ini, pihaknya telah melayani rata-rata 750.000 gelas per bulan, dan diharapkan dapat tumbuh mencapai 3 juta gelas per bulan hingga akhir tahun ini.
Pengembangan Bisnis Rintisan, Startup Diguyur Rp400 Miliar
Pemerintah kian getol memperkuat ekosistem bisnis perusahaan pemula berbasis teknologi di Indonesia. Salah satunya dengan menganggarkan Rp400 miliar melalui Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan TInggi untuk pengembangan startup digital lokal pada tahun ini. Anggaran tahun ini akan dialokasikan senilai RP 295 miliar untuk pengembangan 295 tenants atau calon start-up, serta Rp75 miliar unruk 73 prototipe industri, dan sisanya Rp40 miliar untuk startup yang membutuhkan dana. Saat ini pertumbuhan usaha rintisan di Tanah Air sudah melampaui Iran. Dalam waktu 4 tahun sejak 2014, jumlah startup baru di Tanah Air menembus 1.307 unit.
Pendanaan Startup, ShopBack Raup Tambahan Dana US$45 Juta
ShopBack, platform satu-pintu untuk cashback dan kurator promo, mendapat suntikan dana US$45 juta atau setara Rp643,5 miliar dalam seri pendanaan terbaru. Dengan demikian, total pendanaan yang berhasil dikantongi ShopBack saat ini mencapai US$83 juta atau sekitar Rp1,18 triliun. Pendanaan berasal dari EV Growth dan Rakuten, EDBI, serta investor lainnya. Saat ini, ShopBack Indonesia memiliki lebih dari 3 juta pengguna dan sudah bekerja sama dengan ratusan platform dagang-el ternama di Indonesia. Pada 2018, perusahaan mencatatkan pertumbuhan permintaan dan penjualan sebesar 250% secara tahunan, dengan lebih dari 2,5 juta transaksi per bulan. Nilai penjualan pun diklaim mendekati US$1 juta atau Rp14,3 miliar untuk lebih dari 2.000 mitra dagang baik daring maupun luring.
E-Commerce dan Start Up Bermanfaat Menggerakkan Ekonomi Lokal
Menteri PPN/Bappenas mengatakan pertumbuhan industri e-commerce bahkan sampai tingkat unicorn bisa mendorong investasi langsung atau foreign direct investment (FDI). Meski begitu, ia mengakui masuknya investasi asing membuat kewajiban membayar dividen. Ia ingin para start up fokus meningkatkan daya saing. Selain itu, ia berharap start up khususnya bidang e-commerce bisa membawa produk dalam negeri bisa berjaya dan menembus pasar internasional. Pada saat itulah e-commerce ini bisa menggerakkan ekonomi dalam negeri.
Benarkah Unicorn Indonesia Dikendalikan Investor Asing?
Para kapitalis ini tentunya bukan amatiran. Mereka adalah investor yang berpengalaman puluhan tahun mendampingi para pengusaha pemula di Silicon Valley, Shenzhen, dan Tokyo sehingga menjelma menjadi industrialis dunia maya. Polanya sebetulnya sederhana. Pendiri memulai perusahaan. Investor menyokong mereka dengan pendanaan dengan peluang keberhasilan 50–50. Perusahaan yang mereka danai bisa tumbuh atau bangkrut.
Agar bisa cuan, para pemodal ventura mendistribusikan risiko. Mereka mendanai sebanyak mungkin perusahaan rintisan agar peluang makin banyak serta berinvestasi pada tahap awal supaya hemat. Namun, mereka tidak bisa menangani puluhan hingga ratusan entrepeneur secara bersamaan. Artinya, para kapitalis berkantong tebal itu sangat bergantung kepada para pendiri. Dengan kata lain, dalam investasi start up, besarnya modal yang ditumpahkan belum tentu mengindikasikan penguasaan.
Kuncinya ada pada sistem dwi-kepemilikan atau dual-share. Contoh paling ekstrem dan terkenal adalah Mark Zuckenberg dan Facebook. Facebook memiliki dua saham, saham A dan saham B. Saham A memiliki 1 suara, sedangkan saham B setara 10 suara. Zuckerberg punya 60% hak suara sehingga apa saja yang terucap dari mulut Zuckerberg bisa membuat pasar meriang. Pola ini juga lazim diterapkan oleh perusahaan rintisan di Indonesia, termasuk Do-Jek. Dengan pola seperti itu, kendali Go-Jek tidak berpindah ke luar Jakarta. Begitupun dengan Tokopedia.
Masuknya modal asing ke Indonesia merupakan sinyal positif. Tidak hanya dana yang mereka bawa, tetapi juga pengalaman dan pengetahuan dari seluruh dunia. Lalu apa manfaatnya bagi Indonesia?
Menteri PPN/Bappenas mengatakan bahwa unicorn adalah magnet investasi langsung atau foreign direct investment (FDI). Berbeda dengan investasi di pasar finansial, uang yang masuk dari luar negeri sebagai FDI menjelma menjadi aset. Selain itu, modal yang mengucur deras mendorong Indonesia melompat. Banyak bisnis kecil yang bisa menjangkau pasar yang luas.
Pertanyaannya kini selayaknya dilontarkan kepada pemilik modal besar di dalam negeri. Beranikah bertarung berebut saham di startup-startup asli Indonesia? Beberapa konglomerat sudah mulai berinvestasi di perusahaan rintisan seperti Grup Djarum, Sinarmas, dan Emtek. Mereka sudah berdiversifikasi, mulai berinvestasi di teknologi dan tidak lagi hanya berkutat di kebun dan tambang.
Pilihan Editor
-
Investasi Teknologi
10 Aug 2022 -
Masih Saja Marak, Satgas Tutup 100 Pinjol Ilegal
01 Aug 2022 -
Tata Kelola Bantuan Sosial Perlu Dibenahi
29 Jul 2022









