Startup
( 184 )Pengembangan Startup, Agritech Perlu Eskalasi Teknologi
Bisnis, JAKARTA — Perusahaan rintisan di bidang agrikultura memerlukan analisis mahadata dan kecerdasan buatan untuk menunjang peningkatan aktivitas bisnis mereka, khususnya untuk menghadapi berbagai tantangan pengembangan ke depan.
Ketua Umum Asosiasi Startup Teknologi Indonesia (Atsindo) Handito Joewono mengatakan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan analisis mahadata (big data analytics) bisa melakukan melakukan prediksi hingga rekomendasi tentang perilaku konsumen. Hal tersebut dianggap penting bagi perusahaan rintisan.
Dia meyakini agritech yang mengalokasikan 20%–40% anggarannya untuk kebutuhan inovasi teknologi, khususnya di AI dan big data analytics, dapat meningkatkan pertumbuhan kinerja hingga lebih dari 70%.
Senada, Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengatakan terdapat tiga inovasi teknologi yang dibutuhkan agritech saat ini, yakni internet untuk segala (internet of things/IoT), AI, dan big data analytics.
“Ketiga teknologi ini memberikan kontribusi lebih pada sisi mengembangkan agrikulturnya itu sendiri agar terintegrasi untuk melihat kondisi existing, kebutuhan pasar, dan apa yang dapat dilakukan dalam memenuhi kebutuhan pasar yang berbeda,” ujarnya.
Bendahara Asosiasi Modal Ventura Seluruh Indonesia (Amvesindo) Edward Ismawan Chamdani mengatakan peran AI dan big data sangat penting terkait dengan konsistensi kualitas, optimasi yield, skalabilitas berbanding lurus dengan kualitas, serta mulus dan cepatnya sertifikasi dalam skala besar.(Oleh - HR1)
Start-up Kuliner Hangry Raih Pendanaan Seri A Rp 188 Miliar
JAKARTA – Hangry, perusahaan
rintisan (start-up) kuliner multi-brand,
mengumumkan perolehan pendanaan
Seri A senilai US$ 13 juta, atau setara
dengan Rp 188 miliar.
Pendanaan dipimpin oleh Alpha
JWC Ventures dan dengan partisipasi dari Atlas Pacific Capital, SALT
Ventrures, dan Heyokha Brothers.
Dengan pendanaan terbaru tersebut,
Hangry pun menargetkan ekspansi
nasional pada 2021 dan 2022.
Sebelumnya, Hangry juga sudah
menerima pendanaan institusional
pertamanya senilai US$ 3 juta, atau
sekitar Rp 43 miliar dari Alpha JWC
Ventures dan Sequoia Capital melalui
program akselerator Surge pada 2020.
Hangry merupakan start-up kuliner
yang memiliki konsep cloud kitchen dan
multi-brand. Dengan model bisnis yang
ringkas dan teknologi terkini, Hangry
dapat menghadirkan pilihan berkualitas
dengan harga terjangkau bagi konsumen di daerah perkotaan Indonesia.
Saat ini, Hangry memiliki beberapa
merek ternama dengan menu beragam,
antara lain Moon Chicken (ayam goreng
ala Korea), San Gyu (masakan autentik
Jepang), dan Ayam Koplo (ayam geprek
dan berbagai hidangan ayam). Semua
tersedia dengan harga terjangkau mulai
dari Rp 15.000 hingga Rp 70.000 per porsi.
Bahkan, pandemi Covid-19 yang
sedang terjadi pun tidak menyurutkan ambisi tersebut. Meskipun
sempat mengalami tantangan di awal
pandemi, Hangry berhasil bertahan
dan berkembang di tengah tantangan
perekonomian serta pembatasan
sosial yang diterapkan pemerintah.
Tahun lalu saja, Hangry berhasil
membuka lebih dari 35 outlet dan tumbuh
hingga 22 kali hanya dalam kurun waktu
satu tahun. “Dalam jangka panjang, Hangry ingin menjadi brand yang tumbuh bersama konsumen, hadir pada tiap momen
mereka dan membuat momen tersebut
menyenangkan,” imbuhnya
(Oleh - HR1)
Hingga 2024, Kemkominfo Targetkan 150 Start-up Digital Baru Berkualitas
JAKARTA – Kementerian Komunikasi dan
Informatika (Kemkominfo), melalui program Startup Studio Indonesia, menargetkan bisa melahirkan
sebanyak 150 usaha rintisan berbasis teknologi (startup) digital baru yang berkualitas dan berdaya saing
hingga tahun 2024.
Mereka diharapkan akan berhasil
mengembangkan skala bisnisnya dari
segi jumlah pengguna, pendapatan,
penyerapan tenaga kerja, dan pendanaan/investasi dari modal ventura
(venture capital/VC) untuk pengembangan usahanya.
Program Start-up Studio merupakan
bentuk dukungan Kemkominfo untuk
mendukung kemajuan ekosistem startup Indonesia melalui penyediaan fasilitas
yang memberikan akses bagi para pegiat
early-stage start-up untuk mengembangkan potensi bisnisnya. Saat ini, program
ini telah memasuki Batch Ke-2.
“Saya berharap, program Start-up
Studio ini dapat mencetak dan mengembangkan skala bisnis dari 150 start-up
digital Indonesia hingga 2024,” kata Direktur Jenderal Aplikasi dan Informatika
Kemkominfo Semuel A Pangerapan,
melalui webinar, Senin (3/5).
Terkait program Start-up Studio,
Semmy menjelaskan, berdasarkan
hasil Batch Ke-1, Kemkominfo melihat
respons yang sangat positif dari komunitas start-up. Bahkan, para alumni
memperoleh manfaat nyata dalam
pengembangan usahanya setelah
mengikuti program tersebut.
Tiga start-up dari 20 alumni Batch
Ke-1 berhasil mendapatkan investasi
dari VC. Sekitar 40% peserta juga memiliki pertumbuhan lebih dari 20%
month-to-month traction growth di atas
rata-rata industrinya.
Kemkominfo memprioritaskan
enam sektor bisnis start-up untuk
dikembangkan melalui program
tersebut karena merupakan industri
unggulan Indonesia, baik dari sisi sumber daya maupun tingkat penyerapan
tenaga kerja. Keenam sektor terdiri
atas pendidikan, kesehatan, maritim,
agrikultur, pariwisata, dan logistik.
Sementara itu, kategori early-stage
start-up yang dapat mengikuti program telah memiliki minimum valuable product (MVP) dan traction
selama minimal tiga bulan, sedang
dalam proses validasi product-market
fit, telah berbadan hukum, dan dalam
tahap pendanaan angel, pre-seed, seed,
pre-series A, hingga series A.
(Oleh - HR1)
Tujuh Startup Raup Investasi US$ 572 Juta
JAKARTA – Sebanyak tujuh perusahaan
rintisan teknologi (startup) di berbagai
sektor meraup investasi US$ 532 juta tahun
ini. Mereka adalah Bukalapak, Shipper,
SiCepat, CoLearn, Ruangguru, Sayurbox, dan
Halodoc.
Sekretaris Jenderal Asosiasi
Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) Eddi Danusaputro memperkirakan investasi
startup kuartal I-2021 naik. Namun, dia belum bisa memastikan
berapa nilainya. Yang jelas, peningkatan itu didorong oleh perekonomian yang sudah mulai pulih.
Berdasarkan data Amvesindo,
sampai kuartal III-2020, terdapat
52 transaksi pendanaan untuk
start up senilai US$ 1,92 miliar. Modal ventura antara lain
berinvestasi di startup sektor
keuangan atau fintech, edukasi
atau edutech, dan software as a
service (SaaS).
Detail Pendanaan
Di sisi lain, Shipper, perusahaan
penyedia logistik nasional, menutup pendanaan Seri B senilai US$
63 juta. Pendanaan ini dipimpin
DST Global and Sequoia Capital
India dengan partisipasi dari
Prosus Ventures, Floodgate,
Lightspeed, Insignia Ventures,
AC Ventures, dan Y Combinator.
“Pendanaan ini ditutup kurang
dari setahun setelah Shipper
mengantongi pendanaan Seri A
Juni 2020,” tulis Stat Times.
Shipper didirikan oleh Budi
Handoko selaku COO dan Phil
Opamuratawongse, CEO, pada
2017. Shipper menyediakan layanan pengiriman barang untuk
usaha mikro kecil dan menengah
(UMKM) dan e-commerce secara
digital, baik untuk call center,
mitra pengiriman.
“Saat ini, Ruangguru melayani
22 juta pengguna di negara-negara
itu. Sebelumnya, Ruangguru mendapatkan pendanaan seri C senilai
US$ 150 juta pada 2019, yang dipimpin General Atlantic dan GGV
Capital. Investor awal Ruangguru
adalah East Ventures, Venturra
Capital, and UOB Venture Management,” tulis Tech in Asia.
Startup edtech lainnya, CoLearn,
telah meraup US$ 10 juta dari pendanaan Seri A yang dipimpin Alpha
Wave Incubation dan investor yang
fokus ke sektor edtech GSV Ventures. Kedua perusahaan itu baru
kali pertama berinvestasi di Indonesia. Investor lama Surge dan AC
Ventures tetap berpartisipasi. Sejak
dirilis Agustus 2020, techcrunch.
com melaporkan, CoLeard telah
diunduh 3,5 juta lali dengan pengguna aktif sekitar 1 juta.
Sementara itu, Reuters melaporkan, pemain marketplace
Bukalapak telah menggalang
dana US$ 234 million, yang dipimpin Microsoft, sovereign wealth
fund Singapura GIC, dan Grup
Emtek, pemain media papan atas
Indonesia. Pendanaan ini masuk di
tengah meningkatnya minat investor global ke sektor teknologi Asia
Tenggara. Adapun investor lain
yang masuk pendanaan itu antara
lain sayap bisnis investasi Standar
Chartered SC Ventures dan portal
berita Korea Selatan Naver Corp.
Terakhir, Grup Astra menyuntik Halodoc dan Sayurbox masing-masing US$ 35 juta dan US$
5 juta pada Maret dan April 202.
Sayurbox adalah e-commerce grocery farm-to-table platform dan distributor sayuran segar, sedangkan
Halodoc merupakan platform
kesehatan berbasis daruing. Astra
merupakan investor utama pada
funding rounds baru dari kedua
startup asal Indonesia ini
(Oleh - HR1)
Halodoc Disuntik Investor Kakap, Startup Kesehatan Makin Dilirik
Startup Halodoc meraih pendanaan US$ 80 juta dari Astra, Temasek hingga Telkomsel. Investor dari kalangan modal ventura menilai, startup kesehatan semakin dilirik pada tahun ini.
Startup kesehatan, Halodoc meraih pendanaan seri C US$ 80 juta atau sekitar Rp 1,16 triliun. Investasi ini dipimpin oleh Astra, bersama sejumlah investor lainnya termasuk Temasek, Telkomsel Mitra Inovasi, Novo Holdings, Acrew Diversify Capital Fund, serta Bangkok Bank. Beberapa investor terdahulu yang turut berpartisipasi dalam seri tersebut yakni UOB Venture Management, Singtel Innov8, Blibli Group, Allianz X, Openspace Ventures, dan lainnya.
CEO Halodoc Jonathan Sudharta mengatakan, dana segar tersebut akan digunakan untuk memperluas penetrasi di berbagai vertikal kesehatan utama dan meningkatkan pengalaman pengguna. “Bagi kami, inovasi bukan hanya sekadar meluncurkan aplikasi canggih,” kata dia dalam siaran pers, Rabu (21/4).
Managing Director dan CEO UOB Venture Management Kian-Wee Seah menyampaikan, pandemi Covid-19 mempercepat permintaan dan adopsi layanan telehealth. Selain itu, mendukung pertumbuhan yang kuat dalam hal penggunaan platform kesehatan digital. “Investasi lanjutan kami akan mendukung Halodoc dalam menyederhanakan dan memperluas akses ke layanan kesehatan yang terjangkau,” kata dia.
(Oleh - HR1)
Mandiri Capital Investasi di Bukalapak
Jakarta - PT Mandiri Capital Indonesia (MCI) baru saja berpatisipasi dalam putaran investasi strategis di Bukalapak, salah satu platform e-commerce terkemuka di Indonesia. Putaran investasi strategis itu dilakukan bersama dengan Microsoft, Standard Chartered, dan BRI Ventures sebagai co-investor. Partisipasi itu sejalan dengan visi masing-masing perusahaan dalam memberdayakan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) Indonesia.
Bukalapakdan Mandiri Group telah menjalin berbagai kemitraan terkait dengan layanan keuangan digital termasuk produk investasi di BukaReksa, produk pembiayaan di BukaMotor dan BukaMobil, dan pembukaan akun Mandiri melalui Mitra Bukalapak. Selain itu, kerja sama dilakukan terkait layanan BukaRumah. Bukalapak didirikan dengan misi menciptakan ekonomi yang adil untuk semua (a fair economy for all). Hal itu diwujudkan dengan menyediakan pasar yang dapat diakses smua orang untuk melakukan perdagangan yang adil. Terutama dengan akses tanpa batas melalui teknologi, modal, dan infrastruktur.
MCI bertindak sebagai penghubung atau jembatan inovasi antara Mandiri Group dan startup untuk mendorong inovasi dan inisiatif sinergi. MCI membangun kemitraan strategis untuk mempercepat inovasi di industri keuangan dan juga berinvestasi pada startup yang memiliki keselarasan inovasi dan sinergi dengan Mandiri Group.
(Oleh - IDS)
Rekor, Pendanaan ke Startup Asia Tenggara Rp 87,7 Triliun di Kuartal I
DealStreetAsia melaporkan, pendanaan ke startup Asia Tenggara pada kuartal I menyentuh rekor yakni US$ 6 miliar. Hampir 70% merupakan dana terkumpul dari modal yang dijaminkan pada 2020.
Laporan DealStreetAsia menunjukkan, startup di Asia Tenggara meraih pendanaan US$ 6 miliar atau sekitar Rp 87,7 triliun pada kuartal pertama 2021. Pencapaian ini disebut menyentuh rekor. Total pendanaan tersebut juga melonjak 43% secara tahunan (year on year/yoy) dan 48% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter to quarter/qtq). Hampir 70% dana terkumpul dari modal yang dijaminkan pada 2020.
Investasi itu diperoleh dari setidaknya 211 kesepakatan. Co-Founder sekaligus Managing Partner East Ventures Willson Cuaca mengatakan, faktor pendorong lonjakan pendanaan ke startup regional pada kuartal pertama yakni pemulihan ekonomi.
Sedangkan Managing Partner Jungle Ventures David Gowdey mengatakan, startup yang mengumpulkan dana dari investor sejak 2020 akan muncul untuk putaran ekuitas tahun ini. Mereka pun bakal melanjutkan pertumbuhan. "Saya pikir kami akan terus melihat daftar startup yang tumbuh dan lebih besar di Asia Tenggara," kata David. Bahkan, menurutnya sejumlah perusahaan rintisan itu mulai melakukan penawaran saham perdana ke publik atau IPO untuk memberikan likuiditas kepada investor.
DealStreetAsia melaporkan, US$ 4 miliar dari US$ 6 miliar tersebut dikumpulkan oleh decacorn asal Singapura, Grab dan startup logistik Indonesia, J&T Express. Masing-masing mengumpulkan US$ 2 miliar. Penggalangan dana pada kuartal pertama tahun ini juga menghasilkan setidaknya tiga unicorn baru. Mereka yaitu J&T Express dengan perkiraan valuasi US$ 6 miliar, anak usaha Grab bidang keuangan Grab Financial Group US$ 3 miliar, dan startup IP PatSnap lebih dari US$ 1 miliar.
(Oleh - HR1)
Menuju IPO, Bukalapak Disuntik BRI Ventures
Jakarta - PT BRI Ventura Investama (BRI Ventures) melakukan investasi strategis di Bukalapak, salah satu unicorn di Tanah Air. Hal itu merupakan bagian dari komitmen BRI Ventures untuk mendorong inklusi keuangan dan pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) secara berkelanjutan. Sementara itu, Bukalapak berencana menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Investasi strategis bersama Bukalapak ini sangat penting, karena sejalan dengan misi BRI Group dalam mendukung UMKM. Khususnya dalam pertumbuhan UMKM digital saat ini, yang diyakini akan menjadi pembangkit ekonomi nasional pada masa mendatang. Hal ii juga merupakan komitmen BRI Ventures untuk terus mendukung kemajuan ekosistem start-up digital. BRI Ventures berupaya membantu menciptakan akses pasar dan dukungan bisnis yang merata.Hal ini juga merupakan fokus perusahaan untuk menjadikan ketahanan bisnis UMKM semakin kuat dan mampu memiliki bisnis yang berkelanjutan.
Bukalapak berencana menggelar IPO dan listing saham di BEI dengan menunjuk PT Mandiri Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek. Aksi ini akan dilakukan sebelum perusahaan tercatat di Bursa Amerika Serikat (AS) melalui jalan merger dengan special purpose acquisition company (SPAC). Bukalapak diperkirakan akan menghadapi persaingan ketat di pasar publik, seiring dengan rencana unicorn lain yang berencana go public. Sebelumnya, Gojek dan Tokopedia dikabarkan hampir menyelesaikan merger untuk kemudian mencatatkan saham di bursa AS dan Indonesia. Traveloka juga bersiap melakukan aksi yang sama dengan SPAC Bridgetown Holdings Ltd. Kesepakatan ini berpotensi mmbuat valuasi Traveloka menjadi sekitar US$ 5 miliar.
(Oleh - IDS)
Investasi Startup, Arus Pendanaan Bakal Meningkat
Bisnis, JAKARTA — Arus pendanaan untuk perusahaan rintisan atau startup di Indonesia diyakini meningkat pada kuartal II/2021 seiring dengan pemulihan ekonomi yang terus berjalan. Ketua Umum Asosiasi Startup Teknologi Indonesia (Atsindo) Handito Joewono mengatakan Indonesia menjadi salah satu negara dengan program vaksinasi terbaik. Menurutnya, hal tersebut menjadi salah satu magnet bagi para pemodal untuk berinvestasi di Tanah Air. “Pendanaan pada startup Indonesia akan makin meningkat dan terus membaik pada kuartal pertama, kedua, dan seterusnya dengan fenomena ini,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Minggu (11/4).
Selain faktor pemulihan ekonomi, agresifnya startup untuk menjadi unikorn selanjutnya di Tanah Air dinilai menjadi sentimen positif untuk meningkatkan minat pemodal. Bendahara Asosiasi Modal Ventura Seluruh Indonesia (Amvesindo) Edward Ismawan Chamdani mengatakan sejumlah perusahaan rintisan berambisi untuk mencapai valuasi US$1 miliar. Menurutnya, beberapa pendana besar akan tetap melihat startup di bidang teknologi finansial (fintech) sebagai salah satu primadona yang disasar oleh investor mengingat aktivitas transaksi digital yang terus meningkat.
PT Mandiri Capital Indonesia meyakini aktivitas penyuntikan dana oleh pemodal pada kuartal II/2021 akan lebih agresif. Direktur Utama Mandiri Capital Eddi Danusaputro mengatakan bahwa perusahaan tengah melirik dua sektor untuk disuntikkan dana. Sementara itu, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan bahwa pendanaan startup diperkirakan masih akan terkontraksi lantaran para modal ventura cenderung wait and see. Selain itu, beberapa perusahaan juga akan didorong untuk secepatnya go public atau melantai di bursa mengingat valuasi dinilai cukup besar dan investor berharap segera mencetak profitabilitas.
(Oleh - HR1)
Manajemen Gojek dan Tokopedia Sepakat Merger
Manajemen dan pimpinan Gojek dan perusahaan e-commerce Tokopedia dikabarkan menyepakati merger atau penggabungan kedua perusahaan. Proses selanjutnya menunggu persetujuan dari para pemegang saham. "Manajemen dan board dari kedua startup itu secara resmi sepakat untuk melanjutkan merger," kata sumber yang tidak ingin disebutkan namanya dikutip dari Bloomberg, Jumat (9/4). "Mereka tinggal mencari kesepakatan pemegang saham melalui apa yang disebut paket persetujuan."
Namun, baik Gojek dan Tokopedia belum juga memberikan detail informasi kesepakatan itu. Gojek menyatakan akan memberitahukan informasi lebih lanjut dalam waktu dekat apabila ada aksi korporasi. "Kami memahami bahwa ada banyak diskusi yang beredar terkait isu ini, namun kami tidak dapat berkomentar saat ini," kata Chief Corporate Affairs Gojek Nila Marita kepada Katadata.co.id, Jumat (9/4). Begitu juga dengan Tokopedia. "Jika ada aksi korporasi, kami pasti akan menyampaikannya kepada publik," kata VP of Corporate Communications Tokopedia, Nuraini Razak.
Kolaborasi Mesra Gojek dan Tokopedia selama Ramadan
Salah satu sinyal kedekatan Gojek dan Tokopedia terlihat dari kolaborasi kedua perusahaan dalam program kampanye ramadan. Kampanye bertajuk 'Dekatkan yang Jauh, Kirim yang Bermakna' itu akan memfasilitasi pengguna Tokopedia yang berbelanja pada kategori khusus 'Parsel Ramadan' untuk mendapatkan layanan eksklusif dari GoSend.
Head of Logistics Gojek Steven Halim mengatakan, kolaborasi kedua perusahaan karena tingginya permintaan layanan pengiriman barang dan parsel selama ramadan. Pada ramadhan tahun lalu, permintaan layanan GoSend meningkat 40% dibandingkan tahun sebelumnya. "Kolaborasi ini tidak hanya dapat menghadirkan solusi pengiriman yang cepat, mudah, dan aman bagi pelanggan, tetapi juga mendorong pertumbuhan pedagang online," katanya dalam siaran pers, Kamis (1/4). Sedangkan, VP of Marketing Tokopedia Hilda Kitti mengatakan bahwa pada ramadan tahun lalu, transaksi parsel makanan di Tokopedia juga melonjak hampir empat kali lipat. "Ini menandakan belanja online semakin menjadi andalan masyarakat," katanya. Sebelumnya, Gojek dan Tokopedia juga telah berkolaborasi dalam berbagai inisiatif, diantaranya kampanye #SenangnyaInstan. Kampanye itu dirancang untuk memenuhi kebutuhan pengiriman hemat bagi para pengguna layanan logistik Gojek, seperti GoSend, GoSend Portal, GoBox, dan GoShop.
(Oleh - HR1)
Pilihan Editor
-
Digitalisasi Keuangan Daerah
26 Jul 2022 -
Paradoks Ekonomi Biru
09 Aug 2022









