Startup
( 184 )Grab-Kemenko UKM Terus Dorong Digitalisasi UMKM
Grab, superapp terkemuka di Asia Tenggara, menjalin sinergi strategi, melalui penandatanganan nota kesepahaman, dengan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia (Kemenkop UMK) untuk terus mendukung digitalisasi UMKM di Tanah Air. Nota kesepahaman tersebut merupakan kelanjutan dari kemitraan strategis guna mendukung perluasan digitalisasi dan peluang ekonomi yang merata. Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Teten Masduki mengatakan, perkembangan digitalisasi para pelaku UMKM dalam satu tahun ke belakang sangat menggembirakan, Bergabungnya UMKM dalam platform digital, seperti Grab, telah membantu UMKM mengoptimalkan potensinya ditengah tantangan masa sulit.
"Kami berharap, bangkitnya UMKM dari pukulan pandemi Covid-19 selama satu tahun kebelakang dapat terus dilanjutkan dengan program-program digitalisasi yang berorientasi pada pertumbuhan jangka panjang," ujar Teten. Sebagai informasi, sejak tahun 2020 Grab telah menjadi mitra strategis Kemenkop UKM untuk memperluas dampak sosial dan ekonominya dalam pemberdayaan kapasitas UMKM. Sejumlah program kolaborasi oleh Grab Indonesia dan Kemenkop UKM pun telah dijalankan untuk mencapai pemerataan digitalisasi bagi pelaku UMKM diseluruh Indonesia. (Yetede)
2021, Nilai Ekonomi Digital Indonesia Capai US$ 70 Miliar
Laporan terbaru e-Conomy SEA 2021 dari Temasek, Google, dan Bain & Company menyebutkan, nilai ekonomi digital Indonesia mencapai US$ 70 miliar pada 2021, naik 49% dibandingkan tahun sebelumnya US$ 47 miliar, Tahun 2025, nilainya pun diproyeksikan menjadi US$ 146 miliar, naik 20% per tahunnya. Sementara itu nilai ekonomi digital Indonesia yang senilai US$ 70 miliar dikontribusikan dari subsektor perdagangan secara elektronik (e-commerce) US$ 53 miliar transportasi dan makanan US$ 6,9 miliar, perjalanan US$ 3,4 miliar, dan media digital US$ 6,4 miliar.
"Sementara itu subsektor transportasi dan makanan serta media online tumbuh masing-masing 36% dan 48%" ungkap Chief Investment Strategist Head South East Asia, Temasek, Singapore Rohit Sapimalani. Secara keseluruhan sektor yang terkait dengan di Indonesia tumbuh kuat (rebound) mencapai dua digit pada 2021 dibandingkan tahun sebelumnya. Tahun 2025, secara keseluruhan, ekonomi digital Indonesiapun diproyeksikan mencapai US$ 146 miliar, atau tumbuh 20% per tahun.
Di Indonesia, 28% pedagang di platform digital percaya tidak akan selamat dari dampak pandemi Covid-19 jika tidak masuk ke platform digital. Sementara itu, pedagang digital memanfaatkan setidaknya dua platform digital, dengan profitabilitas tetap menjadi perhatian utama. Layanan keuangan digital juga menjadi pendukung penting. Sebanyak 98% pedagang digital sekarang telah menerima pembayaran secara digital dan 59% telah mengadopsi solusi pinjaman digital (Yetede)
Mulai Untung Berkat Investasi Start-Up
Tempo, Jakarta - Perbankan yang memiliki anak usaha modal ventura mulai meraup untung dari model bisnis yang dijalankan. Melalui Mandiri Capital Indonesia (MCI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk membuka peluang mengembangkan pendanaan bagi perusahaan rintisan alias start-up yang memiliki prospek bisnis jangka panjang hingga akhirnya bisa melakukan penawaran umum saham perdana. Untuk memastikan keberlanjutan pendanaan yang diberikan, MCI harus jeli dalam memilih perusahaan rintisan. Sejak awal, MCI memang difokuskan untuk melakukan pengembangan dan pembiayaan pada perusahaan teknologi yang bergerak di bidang finansial. Sejauh ini, MCI memiliki sederet portfolio investasi di perusahaan teknologi.
Industri modal ventura terus menunjukkan kinerja positif. Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), enam perusahaan modal ventura bahkan sukses membukukan nilai penyertaan saham dan penyertaan melalui obligasi konversi di atas Rp 100 miliar. Perusahaan tersebut utamanya adalah modal ventura anak usaha dari perbankan, seperti Mandiri Capital Indonesia, Central Capital Ventura, dan BRI Ventures.
Pemerintah, BUMN, dan Swasta Dukung Start-up Pendanaan Awal
Jumlah Decacorn Segera Bertambah
Jumlah Decacorn di Indonesia diproyeksikan akan segera bertambah minimal satu lagi menjadi dua, setelah Gojek. Hal tersebut ditopang dengan bisnis dan pendanaan terhadap usaha rintisan berbasis teknologi (star-up) yang tetap meningkat ditengah resiliensi ekonomi digital karena dampak pandemi Covid-19. Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate mengharapkan, Indonesia segera memiliki minimal satu tambahan decacorn, perusahaan rintisan yang punya valuasi minimal US$10 juta miliar. Selain didukung pendanaan, hal ini akan didukung oleh lansekap ekonomi dan pengguna layanan digital yang tumbuh signifikan.
Saat ini gojek menjadi satu-satunya decacorn di Indonesia yang menurut CB Insight bervaluasi US$ 10 juta miliar, atau sekitar RP 141,76 triliun. Selain itu, Indonesia punya tujuh start-up dengan valuasi minimal US$ 1 miliar, atau sekitar RP14,17 triliun atau unicorn. Menurut CB Insight, tujuh unicorn Indonesia terdiri atas J&T Express yang bervaluasi US$ 7,8 miliar, Tokopedia US$ 7 miliar, Bukalapak US$ 3,5 miliar, Traveloka US$ 3 milair, OVO US$ 2,9 miliar, OnlinePajak US$ 1,7 miliar, dan Xendit US$ 1 miliar.
Menkominfo menyatakan, kolaborasi antar kekuatan start-up Indonesia juga semakin terlihat dari bergabungnya Gojek dan Tokopedia dalam konsolidasi paltform e-commerce dan perusahaan teknologi. Hal ini pun diharapkan mampu memperkuat ekosistem ekonomi digital nasional melalui berbagai upaya kolaborasi. "Dengan geliat potensi dan resiliensi tersebut, maka diperkirakan valuasi ekonomi digital Indonesia kedepan akan terus meningkat, yakni mencapai US$ 124 miliar tahun 20215 dan sebesar US$315,5 miliar pada 2030 mendatang," ujar Menkominfo optimis. (yetede)
Startup Indonesia Terus Mengeduk Pendanaan
Booming ekonomi digital membuat perusahaan rintisan (startup) ketiban berkah. Pendanaan begitu mudah mengalir ke startup berbasis teknologi sekalipun dunia sedang dihantam pandemi Covid-19. Berdasarkan riset Scale Public Relations, tercatat 104 startup Indonesia meraih pendanaan selama enam bulan pertama tahun ini. Jumlah tersebut naik 40,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu serta meningkat 53% ketimbang periode yang sama di tahun 2019. Total pendanaan yang diraih 104 stratup tersebut mencapai US$ 3,8 miliar pada semester I-2021. Angka itu menanjak 01% dibandingka semester I-2020 yang senilai US$ 2 miliar. Total pendanaan ini juga melesat 216% dibandingkan semester I-2019 senilai US$ 1,2 miliar.
Pendanaan ke Start-Up Rp 54,34 Triliun, Melesat 91%
Pendanaan modal ventura ke perusahaan rintisan (startup) semakin semarak. Meski pandemi Covid-19 belum berakhir, aliran investasi masuk ke startup berbasis teknologi atau digital justru mengalami pertumbuhan signifikan. Bahkan, jumlah startup dan total pendanaan jauh lebih tinggi dari masa sebelum pandemi. Hasil riset Scale PR, menunjukkan ada 104 startup Indonesia yang memperoleh pendanaan sepanjang enam bulan pertama di tahun 2021. Angka ini meningkat 40,5% dari 74 startup dari periode yang sama pada tahun 2020. Angka ini juga meningkat 53% dibandingkan periode sama tahun 2019. Total pendanaan yang diperoleh 104 perusahaan berbasis teknologi tersebut mencapai US$ 3,8 miliar. Jika dirupiahkan mencapai Rp 54,34 triliun. Dengan asumsi kurs Rp 14.300 per dollar AS.
Musim IPO Perusahaan Rintisan
Jakarta - Asosiasi Modal Ventura dan Startup Indonesia (Amvesindo) memproyeksikan perusahaan rintisan (start-up) dari berbagai skala berpeluang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) ataupun melakukan penawaran umum perdana saham (Initial public offering/IPO). Potensi rintisan untuk menggalang dana di pasar modal cukup besar, khususnya bagi perusahaan rintisan yang bergerak di sektor e-commerce, ride hailing, perjalanan, pendidikan, keuangan, serta kesehatan.
Strategi IPO menjadi yang paling banyak diminati karena diyakini mampu mengakselerasi pertumbuhan perusahaan serta meningkatkan nilai tambah dan valuasi perusahaan. Aksi IPO perusahaan rintisan non-unicorn wajar dan mungkin dilakukan, mengingat jumlah investor yang dimiliki lebih sedikit, sehingga perusahaan cenderung lebih leluasa dan berani go public untuk meningkatkan citra perusahaan. Hasil IPO Bukalapak menjadi acuan bagi perusahaan rintisan yang ingin melantai di bursa. Perusahaan rintisan akan lebih berfokus meningkatkan kinerja dan memperbaiki laporan keuangan.
Pendanaan Bank Ke Fintech, Kredit Lewat Tekfin Terus Dilirik
Akses pembiayaan masyarakat melalui perusahaan financial technology diproyeksikan meningkat ke depan. Perusahaan teknologi keuangan juga dinilai makin prospektif mendapat pendanaan dari perbankan. Makin tumbuhnya pendanaan dari perbankan ke perusahaan financial technology (fintech) memperkuat keyakinan pelaku bisnis fintech akan terus mengembangkan skala menyaluran pembiayaan. "Tren pembiayaan digital ini lagi diminati masyarakat, dan mungkin membawa asumsi (bagi para pendana) bahwa kami akan lebih sustain ke depan, terutama ditengah kondisi terkini,"ujar Presiden Direktur PT AkuLaku Finance Indonesia Efrina Sinaga kapada Bisnis, Kamis (19/9)
Adapun, Efrina juga sepakat bahwa memfasilitasi pemain digital lending bakal membawa entitas perbankan menjamah potensi segmen nasabah atau debitur baru, yang notabene belum memiliki profil kredit kuat. "Kami yakin dari sisi resiko kami juga semakin membaik dalam mitigasi, sejalan dengan upgrade kualitas algoritma mechine learning dalam profiling mitigasi risiko," jelasnya. Seperti diketahui AkuLaku group memiliki saham mayoritas di Bank Neo Commerce Tbk, (BBYB), sebesar 24,98%, disamping juga memiliki entitas marketplace dengan nama yang sama, serta fintech peer-to-peer (P2P) lending PT Pintar Inovasi Digital (Asetku)
Layanan Fintech di bidang pinjam-meminjam atau digital lending disebut sebagai segmen usaha rintisan dengan potensi 'bakar uang' paling minim. Para pemain yang berlisensi multifinance atau fintech P2P lending pun mulai tampak mencapai break event point dan mendulang profit, kendati masih berumur balita. "Fintech tetap bakar uang, tapi terkhusus sektor lending, manfaatnya jelas, jadi mereka tidak perlu agresif terkait costumer acquisition cost. Mandiri Capital ada empat P2P di portfolio, Investree, Koin Works, Amartha, dan Crowde, dan setahu saya mayoritas sudah profitable," ujarnya, Kamis (16/9).
Persaingan Bisnis Omnichannel, Kongsi Demi Geser Dominasi
Berdasarkan riset Nielsen ke 3.000 warung dan toko pulsa di 14 kota di Indonesia pada Juni 2021, baru 14,8% yang terjun kedalam skema bisnis O2O. Adapun sisanya masih belum menggunakan platform tersebut. Dari pasar yang kecil itu, Bukalapak mendominasi sebesar 42% melalui unit mitra. Sebagai informasi, perseroan telah terjun ke bisnis O2O sejak 2017 dengan semula 2.870 mitra dan terus tumbuh secara eksponensial. Penerus ketiga Group Lippo, John Riady mengatakan kedua pihak membutuhkan omnichannel. Pelanggan dapat berbelanja dengan menggunakan berbagai channel sekaligus, baik online maupun offline.
Teranyar, calon emiten GoTo berkongsi dengan Group Lippo sebagaimana diketahui, perusahaan teknologi ini mempunyai kekuatan dalam hal aplikasi dan basis pengguna. Sementara itu, Group Lippo mempunyai kekuatan jaringan logistik dan persebaran toko. "Ini yang merupakan latar belakang kerja sama PT Matahari Putra Prima Tbk. (dengan GoTo). Kami belum sepenuhnya mengumumkan kerja sama dan semoga saja segera," katanya dalam webinar bersama Indonesia Investment Education, pekan lalu.
Menurutnya, Group Lippo senantiasa memanfaatkan digitalisasi untuk membuka potensi-potensi baru di perusahaan tradisional. John mengatakan, 60% pasar barang penting di Indonesia saat ini dikuasai oleh pasar tradisional, 30% mal, 10% e-commerce baru bisa menguasai 30%. Oleh sebab itu, kerjasama antara pemain offline dan online diperlukan supaya tidak membatasi pilihan konsumen. Lippo akan menggunakan jaringan toko sebagai warehouse untuk penyediaan barang. John juga menceritakan kondisi dark store yang menjadi pusat bagi pembelian daring. Dimana toko akan lebih kecil dengan sewa rental yang lebih murah, tetapi menyediakan produk segar dan keseharian.
Di sisi lain, Ceo Mitra Bukalapak Howard Gani mengatakan bisnis O2O masih memiliki ceruk yang luas karena potensi pasar baru terjamah 15%. Gani mengatakan, sampai dengan semester 1-2021, total warung di bawah sayap perseroan mencapai 8,7 juta. Jumlah itu meningkat drastis bila dibandingkan dengan pencapaian akhir 2020 sebanyak 7 juta. Sementara itu, tim riset Sucor Securitas menargetkan beli bagi BUKA dengan terget harga Rp 1.435. BUKA saat ini juga menjalin kerjasama dengan sesama mitra, mulai Grab dengan Grabmart, makanan segar, hingga standard Chartered di sektor perbankan digital. (YTD)
Pilihan Editor
-
Alarm Inflasi Mengancam Sektor Retail
11 Oct 2022









