Startup
( 184 )Alibaba Cloud Hadirkan Solusi Keuangan di RI
Alibaba Cloud, tulang punggung teknologi digital dan intelegensi dari Alibaba Group asal Tiongkok, meluncurkan beberapa layanan solusi teknologi baru yang dapat digunakan sektor keuangan di pasar Indonesia (RI). Terdapat lima produk solusi baru yang diperkenalkan, mulai dari pengujian aplikasi seluler, relational database, solusi online jarak jauh, hingga layanan cloud blockchain dan ChatAPP/layanan pesan singkat. "Dengan memperkenalkan produk layanan keuangan kelas dunia yang unggul dalam keamanan, ketahanan, dan kinerja yang tinggi, kami berharap dapat membantu nasabah di sektor keuangan untuk menggali lebih banyak peluang pertumbuhan dan tetap kompetitif di era global," kata Head of Solution Architect Alibaba Cloud Indonesia Eggi Tanuwijaya, dalam keterangannya. Sementara itu, Alibaba Cloud juga telah memperkenalkan serangkaian program bernama Go Start-up Program Indonesia. Program tersebut menghadirkan wirausahawan berpengalaman dari unicorn, start-up yang sedang naik daun, akselerator, dan perusahaan modal ventura untuk menyediakan sesi berbagi wawasan, networking, kelas master, dan konsultasi 1:1 untuk perusahaan rintisan lokal. (Yetede)
PENGGUNAAN DANA IPO GOTO : Tokopedia Disuntik Rp2 Triliun
Emiten startup, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO,) telah menyuntikkan dana hasil penawaran umum perdana (IPO) sebesar Rp2 triliun ke Tokopedia. Dengan demikian, masih ada sisa Rp2,07 triliun dari target rencana penggunaan dana IPO yang bakal disetor ke lokapasar tersebut. Berdasarkan keterbukaan informasi, Jumat (15/7), emiten berkode GOTO ini telah menggunakan dana IPO sebesar Rp4,49 triliun. Dana itu digunakan untuk penyertaan pada PT Tokopedia sebesar Rp2 triliun, penyertaan pada PT Dompet Anak Bangsa atau Gopay Rp762,63 miliar, serta modal kerja entitas induk Rp1,73 triliun. Dana yang disetorkan ke Tokopedia tersebut telah mencapai 49,1% dari target rencana penggunaan dana IPO yang akan disuntikkan ke Tokopedia. Baru-baru ini, Tokopedia dikabarkan akan mengoptimalkan ekosistem GOTO, khususnya GoFood, untuk mendirikan TokoFood. Head of External Communications Tokopedia Ekhel Chandra Wijaya mengatakan, Tokopedia tengah mengoptimalkan sinergi dalam ekosistem Grup GoTo.
Ada Apa dengan ”Start Up”
Perusahaan rintisan teknologi (start up) saat ini sedang diterpa turbulensi yang bisa mengancam keberlanjutan usahanya. Akibatnya, muncul dua fenomena, yaitu : Pertama, berupa turunnya dengan drastis nilai pasar (market capitalization) banyak start up di seluruh dunia sehingga menyerupai tren global. Kedua, terjadi PHK walau masih terbatas di beberapa start up tertentu saja. Sedari awal start up seakan memang didesain untuk mendorong munculnya bubble (gelembung), yaitu peningkatan nilai aset yang jauh melebihi nilai intrinsiknya, pada akhirnya ini membuat investor publik harus membayar jauh lebih mahal untuk saham start up saat penawaran saham perdana (IPO) dibandingkan dengan harga yang harus dibayar pendiri dan investor terdahulu. Misalnya, terlihat ketika pemegang saham Bukalapak dan GOTO masing-masing harus membayar 17 kali nilai nominal saham untuk Bukalapak dan lebih dari 300 kali nilai nominal saham untuk GOTO.
Seperti perahu di lautan yang tersapu tsunami, dan pada gilirannya penurunan sentiment positif langsung memunculkan tekanan yang sangat kuat terhadap valuasi start up. Akibatnya, valuasi yang sudah dianggap terlalu mahal sejak 2011, ketika beberapa start up dengan valuasi di atas 1 miliar dollar AS mulai disebut sebagai unicorn, itu pun mulai kehilangan resistant factor atau daya dukungnya, akibatnya, seperti dikutip media massa, dari 71 start up yang melakukan IPO di AS pada periode 2019-2021, sebanyak 56 atau 79 % harga sahamnya saat ini ada di bawah harga IPO. Sementara tujuh perusahaan teknologi terbesar di dunia, yakni Apple, Microsoft, Tesla, Amazon, Alphabet, Nvidia, Meta, kehilangan kapitalisasi pasar hingga 1 triliun USD dalam tiga hari perdagangan pada awal Mei 2022.
Pada akhirnya, penurunan drastis valuasi start up yang disertai dengan gelombang PHK massal di banyak start up di seluruh dunia ini diprediksi akan mendorong terjadinya perubahan besar di dalam semesta start up yang akan ditandai dengan : Pertama, akan ada banyak start up yang kehabisan sumber daya untuk menjaga keberlangsungannya seiring dengan melambatnya aliran dana dari investor. Start up dengan kegiatan bakar uang (burn rate) yang tinggi dan masih jauh road to profitable-nya, akan menjadi barisan pertama yang terpaksa harus berhenti beroperasi. Kedua, bahwa kemunculan start up kampiun (champion) akan disertai revaluasi yang akan mendorong valuasi start up menjadi jauh lebih rendah nilainya daripada valuasi sebelumnya sehingga secara langsung akan menghapuskan (write-off) investasi investor di dalam dengan nilai yang signifikan. (Yoga)
John Riady, Saat Ini Musim Semi untuk Start-up Berkinerja Baik
Memasuki pertengahan tahun 2022, berbagai usaha rintisan (start-up) mengumumkan kebijakan efisiensi yang berujung pada PHK massal. Hal ini menandakan adanya langkah lebih rasional dan strategi mayoritas start-up yang dikenal royal "bakar duit". Walaupun begitu, saat ini juga bisa disebut sebagai musim semi bagi start-up yang berkinerja baik. Sadar atau tidak, para pelaku usaha rintisan banyak yang telah terjebak pada strategi agresif, baik itu secara pengembangan pasar maupun pengembangan internal. Masing-masing usaha rintisan bersaing agar dapat diterima pasar melalui berbagai layanan digital. Tuntutan ini mempunyai dua konsekuensi strategis, yakni mengupayakan agar layanan bisa diterima secara luas oleh masyarakat serta keandalan dan inovasi digital yang berkesinambungan. "Kebutuhan modal yang besar dalam pengembangan usaha rintisan harus berhadapan dengan situasi inflasi yang cenderung tinggi, menyebabkan berbagai pihak menahan dana. Terlebih lagi, saat ini terjadi gesekan dari kebijakan The Fed yang menyedot arus capital global," ungkap John Riady. (Yetede)
Menyelamatkan ”Start Up” Indonesia
Tanda-tanda masalah sudah muncul di pendanaan usaha rintisan berbasis teknologi. Perusahaan rintisan bidang teknologi atau start up diperkirakan masih berjibaku menghadapi ketidakpastian ekonomi global dan potensi kenaikan suku bunga. Maka, usaha rintisan harus memahami kebutuhan pasar serta memiliki produk dan model bisnis yang menghasilkan profit berkelanjutan daripada mengejar pertumbuhan secepat mungkin (Kompas, 25/6). Menurut Vice President Marketing and Value Creation Alpha JWC Ventures Chery lNG, fenomena penyesuaian bisnis (company rightsizing) di kalangan start up diperkirakan masih terjadi dalam beberapa bulan mendatang. Fenomena yang terjadi beberapa pekan terakhir, seperti penyesuaian bisnis yang menyebabkan pengurangan karyawan, baru tahap awal.
Informasi yang dikumpulkan menyebutkan, investor ventura yang biasa membiayai usaha rintisan mulai mengambil langkah aman. Mereka mengalihkan investasi ke sesuatu yang riil atau fisik. Langkah ini bisa dipahami ketika ekonomi global tak menentu sehingga instrumen investasi di pasar finansial tergolong berisiko. Data terakhir menyebutkan jumlah usaha rintisan di Tanah Air mencapai 2.347 usaha, sehingga Indonesia berada di urutan kelima dunia dalam jumlah usaha rintisan. Keguncangan di usaha ini akan memengaruhi ekonomi nasional karena perannya tak kecil. Pemutusan hubungan kerja bakal menjadi isu yang menyebabkan sektor lain terganggu. Untuk itu, pelaku usaha rintisan harus makin memastikan masa depan bisnisnya. Target harus jelas dan perlu memastikan produk atau layanannya memang dibutuhkan masyarakat. (Yoga)
USAHA RINTISAN : NexlCorn Pertemukan Investor & Startup Lokal
Yayasan NexICorn (Next Indonesian Unicorns) memproyeksikan bahwa perkembangan teknologi dan bisnis startup di Indonesia sedang berada dalam kinerja terbaiknya. Chairman Nexicorn Foundation Rudiantara mengatakan, industri startup masih dalam kinerja yang baik. “Pada saat ini perusahaan modal ventura masih memiliki pendanaan yang cukup bagi startup,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (24/6).
Sejak 2018, NexICorn Summit telah menjadi agenda besar yang bisa mempertemukan secara langsung kalangan investor yang berasal dari berbagai negara dari tiga benua untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Rudiantara menyebutkan visi NexICorn yaitu “25 By 25”.
Startup, Fintech & Sustainabilitas
Startup digital yang booming selama pandemi Covid-19, kini mulai mengalami perlambatan, ditandai dengan maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK), baik startup domestik maupun global. Perlambatan ini tentu dikhawatirkan berdampak pada sustainabilitas keuangan pelaku startup. Kondisi ini jangan sampai merambat pada startup sektor keuangan (fintech). Sustainabilitas keuangan fintech jadi hal yang krusial, karena dapat berdampak langsung bagi masyarakat dan kepercayaan atas sistem keuangan. Belum lama kita dikagetkan dengan banyaknya kabar PHK beberapa startup lokal terkemuka seperti Zenius, JD.ID, hingga TaniHub. Fenomena PHK tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara lain. Pengurangan pegawai di Netflix, Booking.com, dan Airbnb jadi beberapa contoh relevan. Angka PHK startup yang mencapai sekitar 16.000 pegawai, bahkan menjadi yang terburuk sejak Juni 2020. Ini menjadi kabar yang sangat mengejutkan, karena saat berbagai sektor ekonomi mengalami kemunduran pada masa pandemi Covid-19, startup khususnya di sektor teknologi justru terus tumbuh dan menerima rangkaian seri pendanaan yang cukup masif. Saham teknologi mencapai all time high, beberapa startup teknologi memulai IPO di pasar saham, dan modal ventura menyalurkan rangkaian pendanaan yang sangat tinggi, dengan anggapan bahwa pandemi telah mengakselerasi adopsi teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari.
Mendorong ”Start Up” Menjalankan Bisnis Berkelanjutan
Prinsip berwawasan lingkungan, sosial, dan tata kelola telah menjadi satu prasyarat dalam mengoperasikan korporasi, ini bersumber dari keyakinan bahwa perusahaan perlu menciptakan bisnis berkelanjutan yang hanya bisa dicapai dengan mengelola secara baik sumber daya lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, governance/ESG). Fenomena PHK massal di sejumlah perusahaan rintisan semakin menebalkan keniscayaan akan pentingnya pengelolaan perusahaan berbasis ESG. Kesadaran ini juga coba dibangun pada perusahaan rintisan berbasis teknologi (start up) dan ekosistem pemangku kepentingan yang melingkupinya. Perusahaan rintisan pun kelak akan bertumbuh kapasitasnya menjadi perusahaan besar. Perusahaan modal ventura East Ventures pun mengupayakan penerapan prinsip tersebut pada berbagai perusahaan rintisan yang mereka danai.
Menurut Venture Partner East Ventures Avina Sugiarto saat berkunjung ke Menara Kompas, Kamis (9/6), saat ini terjadi penurunan valuasi perusahaan teknologi di AS yang berimbas pada valuasi perusahaan rintisan di Indonesia. Selain itu, dari sisi pendanaan, kenaikan inflasi dan tingkat suku bunga bank sentral AS mendorong dana-dana itu pergi ke jenis-jenis aset lain yang lebih murah dan berisiko lebih kecil ketimbang investasi di perusahaan rintisan. PHK bisa dipicu dari pergantian strategi bisnis. Berkaca dari hal itu, kami memberi wejangan kepada perusahaan rintisan yang kami danai bagaimana mengatur agar operasionalnya lebih efisien, menyiapkan perencanaan dana hingga sekitar 18-24 bulan, serta memastikan bahwa usaha mereka bisa berkelanjutan. East Ventures tetap berkomitmen mendukung portofolio perusahaan investasi kami dan perusahaan rintisan yang baru. Kami berhasil mengumpulkan pendanaan 550 juta USD dan 70 % -nya akan kami investasikan di Indonesia. (Yoga)
Kisah Manis ”Start Up” Berakhir
Perusahaan rintisan kini menghadapi tuntutan realitas untuk mengubah strategi bisnisnya menjadi lebih rasional. Mengutip laporan laman agregator layoff. fyi, selama 2022, ada 31.707 pekerja perusahaan rintisan di dunia mengalami PHK. Pada Mei 2022, ada 16.923 orang yang mengalami pemutusan hubungan kerja. Kendati bulan Juni baru berjalan empat hari, ada 1.229 karyawan kehilangan pekerjaannya (Kompas, 6/6/). Masalah yang sama menimpa perusahaan rintisan di Tanah Air. PHK usaha rintisan di luar negeri lebih banyak akibat situasi eksternal. Masalah eksternal, berupa tekanan inflasi, sebagai dampak masalah global, menyebabkan daya beli masyarakat menurun. Akibatnya, permintaan produk atau layanan berkurang. Mereka menekan pengeluaran agar kinerja bisnis tetap sehat. Mereka terpaksa melakukan PHK. Adapun PHK pada usaha rintisan dalam negeri disebabkan masalah pengelolaan bisnisnya. Problem internal perusahaan, adalah mereka tidak segera menemukan rencana bisnis ke depan, kalah bersaing, model bisnis yang tidak tepat, keuntungan tak segera didapat, menjadikan mereka harus mengurangi pengeluaran bahkan beberapa harus menutup usaha.
Pelajaran dari kejadian ini ialah perusahaan rintisan harus fokus ke rencana bisnisnya. Mereka harus terus menaikkan pertumbuhan akuisisi data dan pelanggan, tetapi bersamaan juga harus menggali pendapatan sehingga memperoleh dana yang memadai untuk operasionalisasi bisnis. Akuisisi data dan pelanggan tak bisa dipertahankan. Kita bisa merasakan kenaikan harga sejumlah layanan berbasis daring sejak beberapa pekan lalu. Fenomena ini tak lepas dari upaya bertahan. Cerita manis start up, terutama di Indonesia, mulai berakhir. Era subsidi yang melenakan konsumen bakal berhenti. Mereka harus mendapatkan keuntungan dari semua usaha. Konsumen harus bersiap dengan berbagai layanan dan produk yang tak murah lagi. (Yoga)
”Start Up” Kini Dituntut Tumbuh Rasional
Tren PHK di sejumlah perusahaan rintisan (start up) bidang teknologi belakangan ini tidak bisa dilepaskan dari imbas kondisi ekonomi global yang tidak menentu dan rapuhnya fundamental perusahaan. Perusahaan rintisan kini dituntut realistis untuk mengubah strategi bisnis menjadi lebih rasional. Mengutip laporan laman agregator layoff. fyi, sepanjang tahun 2022, total 31.707 pekerja start up di dunia yang mengalami PHK. Pada Mei 2022, ada 16.923 orang yang mengalami PHK. Sementara, kendati bulan Juni baru berjalan empat hari, sudah ada 1.229 karyawan yang di-PHK. Berdasarkan laporan yang sama, sektor digital yang paling banyak melakukan PHK atau meminta karyawan mengundurkan diri adalah sektor transportasi, makanan, perjalanan, teknologi finansial, serta perdagangan secara elektronik (e-dagang) dan ritel. Direktur Riset Center of Reform on Economics Piter Abdullah menilai, ada kecenderungan perusahaan rintisan belum siap jika suntikan investasi dikurangi ataupun dihentikan. Pada saat bersamaan, tidak semua bisnis rintisan di Indonesia mencatatkan keuntungan. Akibatnya, sejumlah start up melakukan restrukturisasi usaha yang berdampak pada pengurangan karyawan.
Di Indonesia, isu PHK dan pengunduran diri menguat sejak dua pekan terakhir. Beberapa perusahaan rintisan Indonesia yang mengalami situasi itu adalah Fabelio (sejak awal 2021), TaniHub (Februari 2022), Zenius, Pahamify, Mobile Partner League (MPL), JD.ID, dan LinkAja. Manajemen Zenius dalam pernyataan resmi, Sabtu (4/6) membenarkan adanya pengurangan karyawan. Hal ini dilakukan demi beradaptasi dengan kondisi makro ekonomi yang dinamis. Karena itu, lebih dari 200 karyawan harus meninggalkan Zenius. Head of Corporate Secretary Group LinkAja Reka Sadewo saat dikonfirmasi hanya mengatakan, sebagai start up yang terus berkembang, perusahaan ingin bisa tetap melaju lincah dan adaptif. Oleh karena itu, penyesuaian dalam perusahaan akan terus terjadi, termasuk di organisasi SDM. Director of GM JD.ID Jenie Simon juga membenarkan rumor terjadinya PHK dan pengunduran diri karyawan. Perusahaan memang sedang melakukan peninjauan, penyesuaian, dan mengembangkan inovasi strategi bisnis dan usaha. Terkait kebijakan itu, perusahaan mengambil keputusan restrukturisasi yang di dalamnya menyangkut pengurangan jumlah karyawan. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Emiten Baja Terpapar Pembangunan IKN
24 Jan 2023 -
Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut Sepekan Lagi
10 Oct 2022









