Menyelamatkan ”Start Up” Indonesia
Tanda-tanda masalah sudah muncul di pendanaan usaha rintisan berbasis teknologi. Perusahaan rintisan bidang teknologi atau start up diperkirakan masih berjibaku menghadapi ketidakpastian ekonomi global dan potensi kenaikan suku bunga. Maka, usaha rintisan harus memahami kebutuhan pasar serta memiliki produk dan model bisnis yang menghasilkan profit berkelanjutan daripada mengejar pertumbuhan secepat mungkin (Kompas, 25/6). Menurut Vice President Marketing and Value Creation Alpha JWC Ventures Chery lNG, fenomena penyesuaian bisnis (company rightsizing) di kalangan start up diperkirakan masih terjadi dalam beberapa bulan mendatang. Fenomena yang terjadi beberapa pekan terakhir, seperti penyesuaian bisnis yang menyebabkan pengurangan karyawan, baru tahap awal.
Informasi yang dikumpulkan menyebutkan, investor ventura yang biasa membiayai usaha rintisan mulai mengambil langkah aman. Mereka mengalihkan investasi ke sesuatu yang riil atau fisik. Langkah ini bisa dipahami ketika ekonomi global tak menentu sehingga instrumen investasi di pasar finansial tergolong berisiko. Data terakhir menyebutkan jumlah usaha rintisan di Tanah Air mencapai 2.347 usaha, sehingga Indonesia berada di urutan kelima dunia dalam jumlah usaha rintisan. Keguncangan di usaha ini akan memengaruhi ekonomi nasional karena perannya tak kecil. Pemutusan hubungan kerja bakal menjadi isu yang menyebabkan sektor lain terganggu. Untuk itu, pelaku usaha rintisan harus makin memastikan masa depan bisnisnya. Target harus jelas dan perlu memastikan produk atau layanannya memang dibutuhkan masyarakat. (Yoga)
Tags :
#StartupPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023