Ada Apa dengan ”Start Up”
Perusahaan rintisan teknologi (start up) saat ini sedang diterpa turbulensi yang bisa mengancam keberlanjutan usahanya. Akibatnya, muncul dua fenomena, yaitu : Pertama, berupa turunnya dengan drastis nilai pasar (market capitalization) banyak start up di seluruh dunia sehingga menyerupai tren global. Kedua, terjadi PHK walau masih terbatas di beberapa start up tertentu saja. Sedari awal start up seakan memang didesain untuk mendorong munculnya bubble (gelembung), yaitu peningkatan nilai aset yang jauh melebihi nilai intrinsiknya, pada akhirnya ini membuat investor publik harus membayar jauh lebih mahal untuk saham start up saat penawaran saham perdana (IPO) dibandingkan dengan harga yang harus dibayar pendiri dan investor terdahulu. Misalnya, terlihat ketika pemegang saham Bukalapak dan GOTO masing-masing harus membayar 17 kali nilai nominal saham untuk Bukalapak dan lebih dari 300 kali nilai nominal saham untuk GOTO.
Seperti perahu di lautan yang tersapu tsunami, dan pada gilirannya penurunan sentiment positif langsung memunculkan tekanan yang sangat kuat terhadap valuasi start up. Akibatnya, valuasi yang sudah dianggap terlalu mahal sejak 2011, ketika beberapa start up dengan valuasi di atas 1 miliar dollar AS mulai disebut sebagai unicorn, itu pun mulai kehilangan resistant factor atau daya dukungnya, akibatnya, seperti dikutip media massa, dari 71 start up yang melakukan IPO di AS pada periode 2019-2021, sebanyak 56 atau 79 % harga sahamnya saat ini ada di bawah harga IPO. Sementara tujuh perusahaan teknologi terbesar di dunia, yakni Apple, Microsoft, Tesla, Amazon, Alphabet, Nvidia, Meta, kehilangan kapitalisasi pasar hingga 1 triliun USD dalam tiga hari perdagangan pada awal Mei 2022.
Pada akhirnya, penurunan drastis valuasi start up yang disertai dengan gelombang PHK massal di banyak start up di seluruh dunia ini diprediksi akan mendorong terjadinya perubahan besar di dalam semesta start up yang akan ditandai dengan : Pertama, akan ada banyak start up yang kehabisan sumber daya untuk menjaga keberlangsungannya seiring dengan melambatnya aliran dana dari investor. Start up dengan kegiatan bakar uang (burn rate) yang tinggi dan masih jauh road to profitable-nya, akan menjadi barisan pertama yang terpaksa harus berhenti beroperasi. Kedua, bahwa kemunculan start up kampiun (champion) akan disertai revaluasi yang akan mendorong valuasi start up menjadi jauh lebih rendah nilainya daripada valuasi sebelumnya sehingga secara langsung akan menghapuskan (write-off) investasi investor di dalam dengan nilai yang signifikan. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023