Startup
( 184 )Pluang Raih Total Pendanaan US$ 55 Juta
Pluang, Perusahaan rintisan berbasis teknologi finansial, kembali meraih tambahan pendanaan sebesar US$ 35 juta. Tambahan tersebut akan menjadikan total dana yang sudah diraup perusahaan sepanjang tahun ini sebesar US$ 55 juta. "Kami beruntung terus penambahan investasi kami di Pluang pada setiap seri pendanaannya, menjadikan Pluang sebagai portfolio utama kami. Kami selalu kagum atas inovasi produk, pertumbuhan bisnis Pluang, dan unit ekonomi yang terbaik di kelasnya. Kami berharap untuk terus bekerja sama dengan tim Pluang dalam tahun-tahun mendatang," ujar Partner Go-Ventures Aditya Kamath dalam keterangan tertulis, Senin (13/9). Sejak didirikan 2019, partner Square Peg Tushar Roy mengungkapkan, hampir tiga juta orang telah terdaftar di Pluang. Pluang mampu menorehkan capaian tersebut dengan biaya operasional yang efisien.
"Dalam pembangunan Pluang, Claudia dan Richard mengkombinasikan pengetahuan yang dalam tentang pasar Indonesia dengan pengetahuan tentang managemen kekayaan dengan pendidikan finansial. Kami sangat antusias menanti gebrakan baru berikutnya yang akan memperkenalkan ke pasar Indonesia,"jelas Tushar Roy. Aditya menambahkan diversifikasi adalah kunci utama bagi investor pemula untuk belajar meminimalisasi resiko dalam berinvestasi. Pluang berkomitmen untuk selalu berada di garda terdepan agar investor dapat melakukan diversifikasi portfolionya secara praktis. Pluang selalu menekankan kepada para penggunanya tentang pentingnya edukasi terkait investasi dan penciptaan kekayaan jangka panjang. (YTD)
John Riady: Jangan Khawatir Bubble Start-up
Jakarta - Transformasi digital dalam sebuah ekosistem teknologi dinilai menjadi kunci penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah krisis global akibat pandemi Covid-19. Sementara itu, kemungkinan munculnya fenomena bubble start-up yang menghantui euforia ekonomi digital juga tak perlu dikhawatirkan. CEO PT Lippo Karawaci Tbk menepis kekhawatiran munculnya fenomena bubble start-up yang menghantui euforia ekonomi digital saat ini. Walaupun diakuinya valuasi pasar yang seringkali berbeda dari kinerja fundamental bisnis rintisan (start-up) mungkin menjadi salah satu momok dan memicu kekhawatiran tersebut.
Transformasi digital disebutnya memungkinkan seseorang untuk bisa diberdayakan dan diberikan kesempatan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Perubahan perilaku konsumen dalam beraktivitas secara daring (online) selama pandemi akan mendorong percepatan pendalaman transformasi digital. Sementara itu, perubahan yang luar biasa, baik dalam hal modal dan arus modal, seperti sejumlah perusahaan start-up yang akan go public, memungkinkan ekosistem teknologi di Indonesia untuk mengakses kebutuhan modal yang jauh lebih besar daripada yang tersedia sebelumnya.
Di sisi lain, hampir seluruh pihak meyakini digitalisasi ekonomi akan menjadi lompatan besar dalam dunia bisnis yang disokong kemajuan revolusi teknologi 4.0. Dan, ini akan semakin luas mengubah pola produksi, konsumsi, maupun cara hidup masyarakat ke depan. Indonesia pun menjadi salah satu negara Asia yang memiliki potensi besar dalam era ekonomi digital tersebut. Bukan hanya karena jumlah populasi dan potensi pertumbuhan ekonominya, tapi juga terdapat ekosistem digital yang terus tumbuh.
Perusahaan Rintisan, StartUp Milik BUMN Mulai Unjuk Diri
Sejumlah perusahaan rintisan yang didanai BUMN mulai menunjukkan pertumbuhan valuasi, ditopang pendanaan berkelanjutan dari perusahaan pelat merah. CEO BRI Ventures Nicko Widjaya mengatakan beberapa perusahaan rintisan startup yang telah didanai terus mengalami pertumbuhan. Bahkan, beberapa diantaranya tengah tumbuh untuk manyandang gelar centaur atau perusahaan rintisan dengan valuasi mencapai US$100 juta. Sebagai investornya, Nicko mengatakan BRI Ventures tidak hanya melihat perusahaan dari sisi valuasi, misalnya unicorn, dan lain sebagainya.”Sebagai CVC BUMN, kami wajib memperhitungkan segala resiko yang ada dan mengambil langkah mitigasi sesuai dengan keadaan yang ada.”kata Nicko. Tidak hanya itu, katanya, BRI Ventures juga memiliki kerangka kerja 5P framework yang merupakan turunan dari 5C framework di analisis perbankan.
CEO PT Mandiri Capital Indonesia (MCI) Eddi Danusaputro juga menyatakan ada beberapa startup yang di danai MCI terus mencatatkan pertumbuhan. “Semua investasi kami baik unicorn atau bukan, kami harapkan bisa membawa manfaat financial juga energy. Pada November 2020, MCI telah berinvestasi dengan total nilai mencapai Rp 1 trilliun kepada 14 perusahaan rintisan.
Koordinator Pusat Inovasi dan Inkubator Bisnis UNJ Dianta Sebayang menilai perusahaan rintisan calon unicorn masih terbuka peluang untuk gagal. “Stabilitas operasionalnya tetapi belum untung. Banyak unicorn pun masih bakar uang terus dan merugi,” kata Dianta. (YTD)
Banyak Unicorn Jadi Alasan Raksasa Teknologi Buat Pusat Data di RI
Ada enam unicorn di Indonesia yakni Tokopedia, Traveloka, Bukalapak, OVO, J&T Express, dan Online Pajak. Selain itu, satu decacorn, Gojek. Ini dinilai menjadi alasan raksasa teknologi membangun pusat data (data center) dan menyediakan solusi komputasi awan (cloud) di Tanah Air. Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat (AS) Cisco dan Boston Consulting Group (BCG) menjelaskan, banyaknya unicorn serta tingginya pengeluaran teknologi informasi (IT) dari perusahaan di Indonesia menjadi peluang. President Cisco ASEAN Naveen Menon mengatakan, Indonesia merupakan negara yang menghasilkan banyak startup. Selain itu, “ada banyak unicorn dan superapp seperti Tokopedia dan Gojek. Mereka menghasilkan banyak data," kata dia dalam konferensi pers virtual, Selasa (24/8).
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyebut bahwa Google Cloud meminta Indonesia untuk menjadi hub pusat data di Asia. "Saya berbicara dengan Google Cloud. Mereka akan minta Indonesia menjadi hub Google Cloud di Asia. Saya kira ini permintaan yang sangat wajar," kata Luhut dalam webinar bertema ‘Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (BBI)’, Juni tahun lalu (23/6/2020).
Pengembangan StartUp, Wealthtech Siap Melejit
Perusahaan rintisan di bidang teknologi manajemen kekayaan atau wealthtech diyakini mampu mencatatkan pertumbuhan signifikan pada tahun ini.Sekretaris Jenderal Asosiasi Modal Ventura dan Startup Indonesia (Amvesindo), Eddi Danusaputro mengatakan potensi besar pertumbuhan bisnis usaha yang berhubungan dengan jenis produk investasi terus bertambah.Eddi meyakini penggerak pertumbuhan tersebut adalah demografi milenial yang mencari diversifikasi, termasuk golongan yang mengerti tentang risk reward ratio (RRR). Saya rasa bisa mencapai 1,5 sampai 2 kali lipat pertumbuhannya hingga akhir 2021,” ujarnya, Minggu (1/8).Sementara itu, Lead PR & Communication at Bibit.id .William mengatakan masyarakat yang perlahan makin melek investasi memotivasi mereka untuk menghadirkan layanan yang dapat membantu masyarakat berinvestasi sesuai profil risiko, kondisi keuangan, dan tujuan finansial mereka.“Bahkan, saat ini, 90% pengguna Bibit berusia di bawah 35 tahun,” ujarnya
Senada, CEO & Founder PT Solusi Finansialku Indonesia Melvin Mumpuni melihat perusahaan rintisan di bidang wealthtech saat ini memiliki potensi yang besar.“Potensinya besar karena jumlah investor pasar modal baru 5 juta.
Bantu Start-up Bertemu Investor, Kemenkominfo Luncurkan HUB.ID
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) meluncurkan program
HUB.ID untuk membantu perusahaan rintisan
teknologi (startup) bertemu calon investor. HUB.ID
merupakan perluasan dari program Kemenkominfo
untuk mendukung perusahaan rintisan berbasis
digital di Indonesia. Program ini juga merupakan
kelanjutan Nexticorn yang sempat diadakan pada
2018.
“HUB.ID ini memfasilitasi start
up supaya berkembang lebih cepat,”
kata Dirjen Aplikasi Informatika
Komenkominfo, Semuel Abrijani
Pangerapan pada konferensi pers
virtual di Jakarta, Rabu (28/7).
Menurut Semuel Abrijani, dalam
program ini, startup diberikan kesempatan untuk mendapatkan akses
ke pendanaan dan kerja sama melalui
berbagai pelatihan, jejaring, dan demo
day atau memperkenalkan produk.
Dia menjelaskan, HUB.ID fokus
pada business matchmaking atau
perjodohan bisnis. Startup digital
akan dipertemukan dengan BUMN,
perusahaan swasta, dan institusi pemerintah yang dikurasi sesuai sektor
bisnis (vertikal) perusahaan rintisan.
“Untuk HUB.ID, Komenkominfo
memberi kesempatan bergabung kepada startup di bidang pertanian dan
kemaritiman, pendidikan, kesehatan,
pariwisata, logistik, keuangan, dan
smart city,” tutur dia
Pendaftaran HUB.ID dibuka mulai
28 Juli hingga 13 Agustus, bisa diikuti
startup di tahap pra-seri A sampai
lanjut (later stage). “Komenkominfo
memberi kuota untuk 50 startup yang
sudah siap dengan strategi bisnis,
sudah menjalankan bisnis lebih dari
enam bulan,” ujar dia.
Dia menambahkan, startup yang
terpilih akan mengikuti pelatihan speed
mentoring secara online dari mentor
yang merupakan pendiri atau pimpinan
perusahaan rintisan, pelaku usaha, dan
perusahaan modal ventura. “Setelah
mengikuti serangkaian program, startup terpilih akan mempresentasikan
bisnis dan produk di hadapan investor
dari berbagai negara,” papar dia
(Oleh - HR1)
Pengembangan StartUp, Kolaborasi Jadi Kunci Ekspansi E-Commerce
Perusahaan teknologi dagang-el diyakini bakal banyak bekerja sama dengan perusahaan teknologi transportasi daring untuk memberikan layanan yang lebih baik kepada para pelanggan.Koordinator Pusat Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dianta Sebayang mengatakan kolaborasi dan adaptasi adalah kunci dari keberhasilan sebuah perusahaan rintisan, terutama platform dagang-el (e-commerce). Menurutnya, platform e-commerce sangat tergantung kepada perusahaan teknologi transportasi daring karena bisnisnya hanya mempertemukan pembeli dan penjual secara digital. Adapun, layanan transportasi daring yang mengantarkan produk secara langsung ke pelanggan.
Sebagai gambaran, ujar Dianta, Shopee meski telah bekerja sama dengan SiCepat, Anteraja, dan J&T, tetap menggunakan jasa transportasi daring yang mereka kembangkan sendiri. Layanan transportasi daring digunakan untuk mengantar barang selama jarak pengantaran tidak terlalu jauh.Sementara itu, Ketua Bidang Regulasi dan Pemerintahan Indonesian Digital Empowering Community (IDIEC) Ardian Asmar mengatakan perusahaan rintisan ruhnya adalah kolaborasi. Kolaborasi yang terjadi terbagi menjadi dua, yaitu kolaborasi strategis dan kolaborasi ekosistem.
(Oleh - HR1)Emtek-Grab Jajaki Peluang Investasi di Start-up Indonesia
PT Elang Mahkota Teknologi Tbk
(EMTK) atau Emtek menjalin kemitraan strategis
dengan Grab Indonesia. Melalui kerja sama tersebut,
selain mendekatkan pelaku usaha mikro, kecil,
dan menengah (UMKM) dengan digital, kedua
pihak ingin menciptakan peluang investasi pada
perusahaan rintisan (start-up) di Tanah Air.
Managing Director Emtek Sutanto
Hartono mengatakan, sejauh ini, perusahaan sudah berinvestasi di dua startup Indonesia, yakni PT Bukalapak.
com dan Dana. Adapun Bukalapak sudah menjadi salah satu start-up dengan
valuasi di atas US$ 1 miliar (unicorn)
yang akan mencatatkan sahamnya di
Bursa Efek Indonesia (BEI).
“Bukalapak sudah memiliki 104,9 juta
pengguna dan 6,9 juta anggota, sedangkan Dana sudah memiliki lebih dari
70 juta pengguna dan 250 ribu UMKM
yang terdaftar, “ kata Sutanto dalam konferensi pers secara virtual, Senin (26/7).
Kedua perusahaan akan menjajaki
peluang kolaborasi terutama di sektor
logistik dan e-commerce, juga layanan
keuangan, telemedicine, periklanan dan
media digital, serta produk digital untuk kios atau warung tradisional. Dalam
hal ini, Emtek telah menginvestasikan
dana US$ 375 juta di PT Grab Teknologi
Indonesia. Grab juga telah merampungkan investasi ke Grup Emtek.
Country Managing Director Grab
Indonesia Neneng Goenadi menjelaskan, prioritas utama dari kolaborasi
Grab dan Grup Emtek adalah memperluas digitalisasi hingga ke tingkat
kabupaten di Indonesia. “Sebanyak
99% dari semua bisnis di Tanah Air
adalah bisnis UMKM, tetapi hanya 21%
yang memiliki akses digital,” kata dia
(Oleh - HR1)
Desty Berhasil Raih Pendanaan Rp 46 M
Desty, start-up Indonesia yang menyediakan solusi social commerce, mendapatkan suntikan
modal melalui pendanaan
putaran pra seri A senilai
US$ 3,2 juta, atau sekitar Rp
46 miliar. Pendanaan akan
digunakan untuk dua tujuan
utama, yakni ekspansi tim
dan akuisisi pengguna.
Pendanaan untuk Desty tersebut sekaligus menandai investasi pertama
5Y Capital di Indonesia.
Investor lain yang turut
berpartisipasi dalam pendanaan terdiri atas Fosun RZ
Capital, January Capital, IN
Capital, serta East Ventures
yang juga menjadi investor
tahap awal.
“Saat ini, fokus utama
kami adalah untuk melayani
penjual dan pengguna yang
telah tergabung di ekosistem Desty. Tujuan kami
hanya satu, yakni memastikan mereka bisa mengembangkan bisnisnya secara
efisien,” kata Co-Founder
dan CEO Desty, Mulyono,
dalam pernyataannya, Senin
(19/7).
(Oleh - HR1)
eFisheri Fokus Ekspansi Sebelum IPO
eFishery, startup aquaculture intelligent, akan
fokus ekspansi sebelum nantinya
melaksanakan penawaran umum
perdana (initial public offering/
IPO) saham. eFishery berencana
membentuk perusahaan patungan (joint venture/JV) dengan
salah satu mitra bisnisnya di Asia.
Founder & CEO eFishery Gibran Huzaifah mengatakan, rencana JV tersebut akan diumumkan pada awal atau pertengahan
tahun depan. Aksi korporasi ini
bertujuan untuk membangun layanan eFishery di sejumlah area.
Pihaknya juga akan fokus
untuk mengembangkan layanan
penjualan ikan, yakni eFishery
fresh dan layanan jual pakan,
yakni eFishery mall. Menurut
Gibran, kedua platform itu ditargetkan tumbuh 4 kali lipat
dibandingkan tahun lalu.
(Oleh - HR1)
Pilihan Editor
-
Beban Bunga Utang
05 Aug 2022 -
The Fed Hantui Pasar Global
26 Jul 2022









