Startup
( 184 )Start-up Gudang Ada Raih Pendanaan Seri A Rp 372 M
Gudang Ada, startup yang bergerak di bidang fast moving consumer goods (FMCG) business-to-business (B2B) di Indonesia, mengumumkan pendanaan Seri A sejumlah US$ 25,4 juta, atau setara Rp 372 miliar. Pendanaan tersebut dipimpin oleh firma modal ventura Sequoia India dan Alpha JWC Ventures, dengan partisipasi dari Wavemaker Partners. Dengan pendanaan Seri A, kali ini, Gudang Ada telah berhasil mendapatkan total pendanaan sebesar US$ 36 juta, atau sekitar Rp 528 miliar hanya dalam 15 bulan sejak perusahaan berdiri.
Gudang Ada akan menggunakan pendanaan untuk terus mengembangkan sistem teknologinya, meluncurkan lini bisnis baru, dan memperkuat tim internal. Pendiri dan CEO Gudang Ada Stevensang mengatakan, melalui platform Gudang Ada, pihaknya dapat menyokong rantai pasok (supply chain), membantu menjamin ketersediaan sembako dan kebutuhan sehari-hari lain, serta membantu pelaku industri agar tetap berjalan optimal di masa PSBB di banyak daerah Tanah Air.
Tak hanya platform transaksi, Gudang Ada juga telah meluncurkan layanan logistik di Jabodetabek, Bandung, Semarang, Medan, dan Lampung untuk membantu menjamin ketersediaan pasokan barang. Hingga saat ini, Gudang Ada berhasil menghubungkan lebih dari 50.000 pedagang di 500 kota serta mencakup hampir 100% dari pedagang grosir FMCG di Indonesia. Hal ini dilakukan melalui pendekatan sebagai penyokong (enabler) simbiosis yang lebih baik antarpemain industri FMCG, bukan sebagai pengganggu (disruptor) ekosistem maupun rantai pasok.
Gojek Kembali Kedatangan Investor Baru
Bertahap, Gojek yang kini memiliki valuasi US$ 10 miliar tersebut kembali kedatangan gelombang investor baru. Sejak akhir tahun lalu hingga April tahun ini, ada tujuh entitas baru yang masuk Gojek, dengan membeli saham Seri P. Pada bulan April ini, misalnya, tiga investor masuk Gojek. Mereka adalah East Ventures, Mandiri Capital Indonesia, serta Fenox Venture. Sebelumnya, Unilever Swiss Holding, PT Pusaka Citra Djokosoetono, Grup Blue Bird, telah masuk pemilikan saham Gojek lebih dahulu. Dan Google Asia Pacific juga telah menambah investasinya ke Gojek.
Gojek merilis pertama kali saham Seri P Juni
2019 sebanyak 45.552 unit saham dengan nilai nominal Rp 500.000 per saham. Ada
dua entitas yang menyerap saham tahap pertama ini Yakni Visa International
Service Association asal Amerika Serikat dan Mitsubishi UFJ Lease & Finance
Co Ltd. asal Jepang
Bisnis transportasi berbasis digital ini juga
terus menggelar ekspansi, dengan kabar terakhir mengakuisisi Moka Technology
Solutions Pte Ltd, perusahaan rintisan teknologi
finansial (fintech) yang menyediakan layanan mobil point of
sales (MPOS) atau kasir online. Akuisisi tersebut sudah didaftarkan
ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Meski demikian, Farahiya
Thirafi, Corcom Associate Gojek belum mau membeberkan rencana
bisnisnya ke depan.
Tanda Tangan Digital Naik
Dampak pembatasan sosial membuat banyak kesepakatan bisnis yang dilakukan secara virtual. Hal ini menaikkan bisnis fintech yang menyediakan jasa tandatangan secara digital sebagaimana dilansir CEO PrivyId Marshall Pribadi yang mengatakan berdasarkan bulan Februari hingga Maret lalu pihaknya mencatat jumlah pengguna naik 350% sejak adanya pandemi Covid-19. Ia menambahkan, saat ini PrivyId mencatat ada 350 perusahaan yang telah menggunakan aplikasi tersebut. Tahun ini targetnya bisa bertambah menjadi 1.000 perusahaan.
KoinWorks Raih Pendanaan
Penyedia layanan fintech peer to peer (P2P) lending PT Lunaria Anua Teknologi atau KoinWorks meraih dana sebesar US$ 20 juta dalam bentuk ekuitas dan pendanaan pinjaman.
Melalui keterangan tertulis yang diterima Investor Daily, Senin (13/4) Executive Chairman and Co-Founder KoinWorks Willy Arifin menyebutkan dana tersebut akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan dan memfasilitasi penyaluran pembiayaan untuk mendukung UKM digital selama Covid-19 mewabah.
Masih berdasarkan keterangan Willy, dari sisi ekuitas, KoinWorks telah mengumumkan penerimaan pendanaannya dari investor seperti Quona Capital, EV Growth, dan Saison Capital, bersama dengan investor lainnya salah satunya perbankan global asal Belanda, yaitu Triodos Bank.
CEO and Co-Founder KoinWorks Benedicto Haryono menambahkan , investasi dari Tridos menunjukan kepercayaan diri atas kemampuan perseroan ketika kondisi perekonomian tengah bergejolak.
Mereka Menjadi Orang Kaya Baru Berkat Pandemi Covid-19
Dalam daftar tahunan miliarder global tahun 2020 yang dirilis
Forbes pada Selasa (7/4) tercatat sejumlah ‘orang kaya baru’ gara-gara Pandemi
virus corona (Covid-19), tak kurang dari 178 miliarder anyar masuk daftar
dengan total kekayaan bersih senilai total US$ 369 miliar.
Nama – nama yang disebutkan diantaranya:
- Eric Yuan memiliki kekayaan senilai US$ 5,5 berkat Saham aplikasi telekonferensi Zoom Video Communications yang didirikannya meningkat dua kali lipat.
- Larry Xiaodong Chen dengan kekayaan US$ 4,5 miliar. pendiri situs pembelajaran daring GSX Techedu (opsi pelajar di China untuk belajar secara danng)
- Byju Raveendran, dengan kekayaan US$ 1,8 miliar. pendiri aplikasi serupa yaitu Byu
- Dua bersaduara Dimitry Buckman dan Igor Bukhman lewat Playrix yang membesut gim daring Homescapes dan Fishdom
- Jitse Groen melalui platform jasa pengiriman tanpa tatap muka di Eropa & Israel, yaitu takeaway.com
Model Bisnis Diuji, Investor Selektif
Investor makin selektif untuk menanamkan modalnya di usaha rintisan. Belakangan ini sejumlah usaha rintisan di Indonesia mulai mengubah strategi untuk memperkuat bisnisnya. Perubahan itu merupakan dampak dari kasus usaha rintisan di AS.
Periode perjalanan tumbuh kembang suatu usaha rintisan diakui relatif panjang. Ada periode waktu dipakai mengejar akuisisi pengguna dan ada masa untuk meningkatkan proyeksi pendapatan hingga mencetak untung. Suntikan pendanaan ke prusahaan rintisan di Indonesia kemungkinan tidak berkurang. Hanya saja, investor cenderung bersikap lebih selektif.
Berdasarkan laporan e-Economy SEA 2019 yang dirilis Google, Temasek dan Bain & Co; sejumlah kesepakatan investasi ke perusahaan ekonomi internet di Indonesia tahun 2016 mencapai 166 kesepakatan senilai 1,2 miliar dolar AS, lalu 181 kesepakatan senilai 3 miliar dolar AS (2017) dan 349 kesepakatan senilai 3,8 miliar dolar AS (2018). Pada semester I-2019 tercatat 124 kesepakatan investasi senilai 1,8 miliar dolar AS.
Modal Ventura Gencar Danai Startup
Modal ventura semakin gencar menyalurkan dana ke perusahaan-perusahaan startup. Hal ini terlihat dalam Next Indonesia Unicorn (NextICorn) Summit yang kedua digelar di Jimbaran, Bali. Tahun ini NextICorn mengumpulkan total 103 startup lokal dan 126 investor dari beberapa negara untuk bertemu dan menghasilkan kerjasama bisnis. Selain itu tercatat ada 63 investor dalam negeri yang diantarnya kebanyakan juga adalah modal ventura. Menurut Ketua Umum Yayasan NextICorn menyebutkan, para investor ini adalah investor yang sudah tahu dan mempelajari visi dan misi beberapa startup yang dibidik. Mereka menggunakan ajang NextICorn untuk mengkaji lebih jauh dan bertemu langsung.
Dari banyak startup yang ada, para investor tersebut memang lebih banyak mengincar startup financial technology (fintech). Lalu diikuti startup ritel dan e-commerce. Beberapa modal ventura yang tercatat mengalokasikan dana investasi lebih dari US$ 5 juta diantaranya adalah BRI Ventures, Kejora Ventures, Gobi Partners, Insignia Ventures Partners, Red Badge Pacific, CICC, EV Growth SMDV, dan beberapa yang lainnya.
Investasi Perusahaan Rintisan, Modalku Suntik Paper.id
Penyelenggara pinjaman online PT Mitrausaha Indonesia Grup (Modalku) dan modal ventura asal Singapura Golden Gates memimpin pendanaan seri A platform bisnis digital PT Pakar Digital Global (Paper.id) dengan nilai investasi puluhan miliar rupiah. Investasi ini merupakan bagian dari aksi Modalku sebagai korporasi. Namun tak hanya berupa suntikan dana, tetapi juga terdapat kemitraan antara kedua belah pihak untuk memberikan layanan pinjaman invoice kepada pengguna Paper.id.
CEO Paper.id mengatakan dana segar ini akan digunakan untuk meningkatkan sistem platform dan menambah layanan seperti manajemen stok dan pembukuan.
Pendanaan Perusahaan Rintisan, East Ventures Kian Agresif di Tahap Awal
Perusahaan modal ventura (VC) asal Indonesia, East Ventures, mengumumkan penutupan dana investasi keenam sejumlah US$75 juta atau sekitar Rp1 triliun, 2,5 kali lipat lebih besar dari target awal sebesar US$30 juta atau Rp427 miliar. Dana investasi yang oversubscribed ini didukung oleh beragam investor kuat yang terdiri atas para high net worth individuals (HNWI), family offices di Asia, dan beberapa sovereign wealth funds. Dengan enam dana kelolaan yang telah dihimpun, East Ventures kini telah memiliki 150 perusahaan dalam portofolionya yang secara total telah mengumpulkan US$3,5 miliar pada tahap pendanaan selanjutnya. East Ventures adalah investor awal di dua unicorn Indonesia yaitu Tokopedia dan Traveloka. Perusahaan rintisan lain yang berada di portofolio perusahaan adalah Ruangguru, Shopback, IDN Media, dan Moka. Selama 3 tahun terakhir, East Ventures juga memperkenalkan beberapa proyek internal seperti CoHive, Warung Pintar, dan Fore Coffee.
Proyeksi Pendanaan Perusahaan Rintisan Semester II/2019, Investasi Startup Bakal Marak
Tren aliran dana investasi skala besar kepada perusahaan rintisan diyakini kembali marak pada semester II/2019 setelah pada paruh pertama tahun ini mengalami penyusutan dibandingkan dengan tahun lalu.
Nilai total investasi perusahaan rintisan di Asia Tenggara hampir menyentuh US$6 miliar sepanjang paruh pertama tahun ini, menurun 27% dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$8,3 miliar. Sementara investasi yang terhimpun di Indonesia mencapai US$679 juta, anjlok dari semester I tahun lalu yang mencapai US$4 miliar. Diprediksi investasi akan meningkat pada paruh kedua tahun ini. Pasalnya, besaran investasi jumbo yang tengah dihimpun decacorn dan unicorn saat ini bakal dikucurkan pada semester II.
Pilihan Editor
-
ANCAMAN KRISIS : RI Pacu Diversifikasi Pangan
10 Aug 2022









