2021, Investasi Start-up Bisa Capai US$ 5 Milyar
Webinar bertema ’Membangun Industri Lewat Perusahaan Teknologi Digital’ yang terselenggara atas kerja sama Berita Satu Media Holdings dengan Xendit pada Kamis (26/11). Hadir sebagai pembicara pada acara itu Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika Bidang Digital dan SDM Dedy Permadi, CEO BRI Ventures Nicko Widjaja, COO dan Co-Founder Xendit Tessa Wijaya, Direktur Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintah Tokopedia Astri Wahyuni, pengamat digital yang juga Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi, serta dipandu oleh News Director Berita Satu Media Holdings Primus Dorimulu.
Nicko Widjaya menyampaikan, tahun 2021, investasi para
pemodal dari modal ventura dari dalam dan luar negeri ke usaha start-up di
Indonesia berpotensi naik dua kali lipat menjadi US$ 4-5 miliar dari tahun ini
diproyeksikan sekitar US$ 2,5 miliar. Nicko juga memproyeksikan, start-up
teknologi keuangan (fintech) dan perbankan yang terdigitilasisi akan terus
berkembang pesat tahun depan. E-wallet seperti LinkAja dan OVO pun akan masuk
ke derah-daerah hingga ke desa untuk mewujudkan inklusi keuangan Indonesia.
Menurut dia, hampir seluruh pendanaan terhadap start-up di Indonesia ditampung
dulu di holding start-up yang umumnya berbasis di Singapura. Bayangkan, hanya
dari tahun 2009 hingga kuartal III-2020, total dana yang diinvestasikan kepada
start-up Indonesia sudah mencapai sekitar US$ 14 miliar.
Indonesia punya modal dan potensi besar untuk perkembangan ekonomi digital karena punya 196 juta pengguna internet dari 400 juta pengguna internet di Asia Tenggara. Selain itu, Indonesia saat ini punya lima dari 12 unicorn di Asean.
Sementara itu, Heru Sutadi
memproyeksikan, tahun 2021, ekonomi digital Indonesia bisa tumbuh di atas dua
digit, pada kisaran 10-20%. Angka tersebut sudah cukup bagus bagi Indonesia. Mengutip
pernyataan Presiden Jokowi, dalam acara Asean Business Investment Summit, Heru
pun mengungkapkan, Indonesia harus menjadi negara dengan ekonomi digital yang
terdepan di Asia Tenggara. Dia juga mengakui, banyak tantangan yang harus
diselesaikan Indonesia untuk menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di
Asean. Salah satunya, ketersediaan infrastruktur digital yang belum menjangkau
ke semua desa sebagai calon pusat pertumbuhan masa depan.
Sementara itu, Tessa Wijaya
menuturkan, Xendit saat ini merupakan perusahaan yang banyak bergerak di bidang
payment gateway. Meski demikian, pihaknya juga ingin membantu pengembangan
infrastruktur digital di Indonesia melalui berbagai solusi yang ditawarkan,
terutama bagi perusahaan business to business (B2B) dan UMKM. Dia menuturkan,
negara yang ingin mengembangkan ekonomi digitalnya menjadi besar membutuhkan
tidak hanya payment gateway. Banyak aspek yang dibutuhkan, sehingga bisa
menjadi satu ekosistem yang mumpuni. Xendit pun akan berperan dengan memberikan
solusi yang terpadu.
Sementara,
Astri Wahyuni mengungkapkan, sebagai salah satu platform e-commerce terbesar
Indonesia, Tokopedia mampu memberdayakan ekonomi rakyat. Saat ini, Tokopedia
sudah beroperasi di Indonesia selama 11 tahun, misi utamanya mendorong
pemerataan ekonomi Indonesia secara digital. Berdasarkan riset yang dilakukan
pada 2019, sebanyak 1% ekonomi Indonesia bergerak di Tokopedia serta Tokopedia
sudah mampu menjangkau 98% kecamatan di Indonesia.
Dedy Permadi menyampaikan, ekonomi digital dan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) Indonesia justru sedang menggeliat di tengah sektor lain yang terpuruk. Data Badan Pusat Statistik menyebutkan, pertumbuhan sektor TIK nasional pada dua kuartal berturut-turut tumbuh dua digit, yakni kuartal II-2020 sebesar 10,83% dan kuartal III tahun yang sama tumbuh 10,61%.
Tags :
#StartupPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023