;

2021, Investasi Start-up Bisa Capai US$ 5 Milyar

Ekonomi Leo Putra 27 Nov 2020 Investor Daily, 27 November 2020
2021, Investasi Start-up Bisa Capai US$ 5 Milyar

Webinar bertema ’Membangun Industri Lewat Perusahaan Teknologi Digital’ yang terselenggara atas kerja sama Berita Satu Media Holdings dengan Xendit pada Kamis (26/11). Hadir sebagai pembicara pada acara itu Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika Bidang Digital dan SDM Dedy Permadi, CEO BRI Ventures Nicko Widjaja, COO dan Co-Founder Xendit Tessa Wijaya, Direktur Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintah Tokopedia Astri Wahyuni, pengamat digital yang juga Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi, serta dipandu oleh News Director Berita Satu Media Holdings Primus Dorimulu.  

Nicko Widjaya menyampaikan, tahun 2021, investasi para pemodal dari modal ventura dari dalam dan luar negeri ke usaha start-up di Indonesia berpotensi naik dua kali lipat menjadi US$ 4-5 miliar dari tahun ini diproyeksikan sekitar US$ 2,5 miliar. Nicko juga memproyeksikan, start-up teknologi keuangan (fintech) dan perbankan yang terdigitilasisi akan terus berkembang pesat tahun depan. E-wallet seperti LinkAja dan OVO pun akan masuk ke derah-daerah hingga ke desa untuk mewujudkan inklusi keuangan Indonesia. Menurut dia, hampir seluruh pendanaan terhadap start-up di Indonesia ditampung dulu di holding start-up yang umumnya berbasis di Singapura. Bayangkan, hanya dari tahun 2009 hingga kuartal III-2020, total dana yang diinvestasikan kepada start-up Indonesia sudah mencapai sekitar US$ 14 miliar.

Indonesia punya modal dan potensi besar untuk perkembangan ekonomi digital karena punya 196 juta pengguna internet dari 400 juta pengguna internet di Asia Tenggara. Selain itu, Indonesia saat ini punya lima dari 12 unicorn di Asean.

Sementara itu, Heru Sutadi memproyeksikan, tahun 2021, ekonomi digital Indonesia bisa tumbuh di atas dua digit, pada kisaran 10-20%. Angka tersebut sudah cukup bagus bagi Indonesia. Mengutip pernyataan Presiden Jokowi, dalam acara Asean Business Investment Summit, Heru pun mengungkapkan, Indonesia harus menjadi negara dengan ekonomi digital yang terdepan di Asia Tenggara. Dia juga mengakui, banyak tantangan yang harus diselesaikan Indonesia untuk menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di Asean. Salah satunya, ketersediaan infrastruktur digital yang belum menjangkau ke semua desa sebagai calon pusat pertumbuhan masa depan.

Sementara itu, Tessa Wijaya menuturkan, Xendit saat ini merupakan perusahaan yang banyak bergerak di bidang payment gateway. Meski demikian, pihaknya juga ingin membantu pengembangan infrastruktur digital di Indonesia melalui berbagai solusi yang ditawarkan, terutama bagi perusahaan business to business (B2B) dan UMKM. Dia menuturkan, negara yang ingin mengembangkan ekonomi digitalnya menjadi besar membutuhkan tidak hanya payment gateway. Banyak aspek yang dibutuhkan, sehingga bisa menjadi satu ekosistem yang mumpuni. Xendit pun akan berperan dengan memberikan solusi yang terpadu.

Sementara, Astri Wahyuni mengungkapkan, sebagai salah satu platform e-commerce terbesar Indonesia, Tokopedia mampu memberdayakan ekonomi rakyat. Saat ini, Tokopedia sudah beroperasi di Indonesia selama 11 tahun, misi utamanya mendorong pemerataan ekonomi Indonesia secara digital. Berdasarkan riset yang dilakukan pada 2019, sebanyak 1% ekonomi Indonesia bergerak di Tokopedia serta Tokopedia sudah mampu menjangkau 98% kecamatan di Indonesia.

Dedy Permadi menyampaikan, ekonomi digital dan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) Indonesia justru sedang menggeliat di tengah sektor lain yang terpuruk. Data Badan Pusat Statistik menyebutkan, pertumbuhan sektor TIK nasional pada dua kuartal berturut-turut tumbuh dua digit, yakni kuartal II-2020 sebesar 10,83% dan kuartal III tahun yang sama tumbuh 10,61%.          

Tags :
#Startup
Download Aplikasi Labirin :