;
Tags

Saham

( 1722 )

Emiten Menjaring Dana dari RIght Issue

HR1 19 Mar 2024 Kontan

Penambahan modal melalui rights issue maupun private placement cukup meriah di kuartal pertama tahun ini. Sederet emiten telah mengumumkan rencana untuk menggelar aksi korporasi tersebut dengan bermacam keperluan. Contohnya PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 603,44 juta saham baru. Rights issue ini merupakan bagian dari pemenuhan kewajiban divestasi INCO kepada pemerintah Indonesia, yang dilakukan melalui holding tambang BUMN, MIND ID. Lewat divestasi lanjutan ini, MIND ID akan mendapat tambahan 14% sehingga nantinya akan memiliki 34% saham INCO. Masih dari emiten nikel, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) alias Harita Nickel bahkan berencana untuk menggelar rights issue dan private placement. Direktur Utama Harita Nickel Roy Arman Arfandy mengatakan, aksi korporasi ini upaya memperkuat pertumbuhan dan pengembangan usaha. Dana dari rights issue akan digunakan untuk ekspansi, termasuk pembelian saham pada perusahaan di bidang pemurnian bijih nikel atau pertambangan lain.


Selain duo emiten nikel tersebut, ada juga dua emiten bank yang akan menggelar rights issue. Mereka adalah PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (SDRA) dan PT Bank IBK Indonesia Tbk (AGRS). Estimasi perolehan dana dari aksi korporasi ini masing-masing mencapai Rp 3,2 triliun dan Rp 1,17 triliun. Emiten lain yang akan melakukan rights issue di antaranya ada PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk (DGNS) dan PT Communication Cable Systems Indonesia Tbk (CCSI). Sedangkan emiten yang berencana menggelar private placement ada PT SLJ Global Tbk (SULI) dan PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP). Kepala Riset Praus Capital Marolop Alfred Nainggolan mengamati sejumlah faktor yang menjadi pertimbangan emiten menggelar aksi rights issue. Pertama, bisa terjadi ketika pendanaan melalui utang sudah maksimal, yang ditandai dengan rasio leverage tinggi. Dalam situasi itu, emiten perlu menambah modal melalui penerbitan saham, sehingga rasio leverage turun dan kembali memiliki ruang. Kedua, faktor makro ekonomi dalam memilih opsi penambahan modal. Seperti pada kondisi suku bunga tinggi sehingga pendanaan melalui utang bisa menimbulkan beban keuangan yang memberatkan perusahaan.


Analis Stocknow.id M. Thoriq Fadilla juga menilai pasar akan lebih selektif. Apalagi dalam kondisi yang sedang fluktuatif seperti saat ini, investor akan lebih cenderung bersikap moderat. Thoriq pun menyoroti transaksi di pasar saham yang masih memperlihatkan sikap wait and see dari para investor. Sementara itu, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas memandang pelaksanaan rights issue bisa menjadi momentum yang tepat. Asalkan, emiten tersebut memiliki fundamental kuat dan prospek bisnis yang apik. Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani mengingatkan umumnya rights issue membuat harga saham mengalami koreksi dalam jangka pendek. Namun, jika tambahan modal digunakan untuk ekspansi bisnis atau penguatan struktur modal, maka bisa menjadi sentimen positif yang mendongkrak harga sahamnya. Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto punya catatan serupa bahwa seringkali rights issue membuat harga saham turun terlebih dulu, karena pergerakannya akan mengacu pada harga pelaksanaan. Pelaku pasar bisa mencermati peluang buy on weakness atau cicil beli saat koreksi.

Dari Laba, Saratoga Berbalik Rugi 10 Triliun

KT1 19 Mar 2024 Investor Daily

Emiten Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga Uno, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) mencatatkan rugi tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik perusahaan sebesar Rp 10,15 triliun pada 2023, berbanding terbalik dari sebelumnya yang laba Rp 4,61 triliun. Hal ini disebabkan kerugian atas investasi pada saham dan efek lainnya pada tahun lalu yang mencapai Rp 13,81 triliun, dibading 2022 yang justru untung 3,72 triliun.

“Gejolak harga komoditas sepanjang 2023 telah berdampak pada harga saham-saham perusahaan portofolio utama Saratoga yaitu, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dan PT Merdeka Copper Gold (MDKA). Fluktuasi Harga saham tersebut ikut berdampak terhadap Nilai Aset Bersih (Net Asset Value/NAV) Saratoga pada akhir tahun lalu,” kata Direktur Investasi Saratoga Devin Wirawan dalam menuju diversivikasi keterangan resmi di Jakarta, Senin (18/3). (Yetede)

Tantangan Rendah Emisi Batubara

KT1 18 Mar 2024 Investor Daily (H)

Industri Batubara menghadapi tantangan cukup berat, yakni adanya tuntutan global terhadap penggunaan energi bersih, termasuk dari pendanaan asing. Karenanya, Indonesia harus mampu mengoptimalkan potensi batubara yang jumlahnya masih berlimpah, dengan penerapan teknologi serta kaidah kegiatan pertambangan yang baik (good mining practices) sehingga pemanfaatan batubara bisa bersanding dengan energi terbarukan lainnya.

Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan dalam risetnya mengatakan, dana asing umumnya tidak berinvestasi pada perusahaan batubara karena pertimbangan ESG. “Jika lebih detail lagi, sebagian besar dana asing khususnya yang terafiliasi dengan Eropa/AS, dibatasi membeli nama-nama yang berhubungan dengan batubara. Dan beberapa dana asing lebih fleksibel dengan kemajuan perusahaan menuju diversivikasi ESG,” ujar Ryan. (Yetede)

Cuan Terus dari Anggota Kompas 100

HR1 18 Mar 2024 Kontan (H)

Saham-saham penghuni Indeks Kompas100 bergerak melaju. Pada pekan lalu, saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus rekor tertinggi sepanjang masa alias all time high (ATH), beberapa saham Kompas100 juga turut menyentuh rekor tertinggi baru. Jika dihitung dari awal Maret 2024, terdapat delapan emiten yang berhasil menyentuh ATH. Setengah dari saham penjebol rekor tersebut berasal dari sektor perbankan yang memiliki kapitalisasi pasar atau market caps terbesar di Indonesia. Sektor perbankan besar, memang terdorong euforia pembagian dividen. Kinerja emiten bank yang masih oke juga jadi alasan pelaku pasar memburu saham-saham ini. Tapi di luar sektor bank, ada beberapa saham lainnya yang juga unjuk gigi. Misalnya, PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) yang sempat menyentuh ATH ke level Rp 1.810 pada perdagangan intraday 6 Maret 2024. Saham penghuni baru Indeks Kompas100, PT Sarana Mitra Luas Tbk (SMIL) juga menembus rekor tertinggi intraday pada 15 Maret 2024 ke Rp 184. Dua saham lainnya yang tembus ATH adalah PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) dan saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).

CEO Edvisor Profina Visindo Praska Putrantyo menilai, saham-saham emiten Kompas100 diwarnai sentimen positif terkait ekspektasi pemulihan kinerja fundamental dalam jangka panjang. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy menambahkan, ada beberapa pemicu yang membuat saham-saham Kompas100 menembus ATH. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer juga sepakat, kenaikan harga minyak di awal tahun ini menjadi sentimen positif bagi distributor BBM seperti AKRA. Di sisi lain, pencapaian rekor harga tertinggi baru juga disebabkan oleh adanya aksi akumulasi. Contohnya seperti yang terjadi pada saham SSIA. Pengamat Pasar Modal dan pendiri WH Project William Hartanto menemukan adanya akumulasi (aksi beli) besar di saham SSIA, yang terjadi di kisaran harga Rp 340. William misalnya, melihat koreksi saham SSIA masih aman selama harga bertahan di atas Rp 855. Sedangkan, Praska mencermati ada peluang buy on weakness di saham AKRA dengan target harga Rp 1.580–Rp 1.670. Lalu SMIL dengan target harga Rp 158–Rp 166 per saham, TPIA dengan target harga Rp 3.710–Rp 4.240, serta saham SSIA dengan target harga Rp 535–Rp 670 per saham.

Mengintai Aksi Para Pengendali

HR1 18 Mar 2024 Kontan

Hingga Maret 2024, sejumlah "orang dalam" rajin melakukan transaksi saham. Mereka adalah pengendali, pemegang saham signifikan maupun top management, yang memborong maupun melepas saham emitennya. Sebagai contoh, PT Arthakencana Rayatama, salah satu pengendali dari PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) yang getol mengakumulasi saham AKRA sejak akhir 2023. Transaksi terakhir dilakukan 6-7 Maret 2024.  Hasilnya, kepemilikan Arthakencana di AKRA kini membengkak menjadi 60,76%. Head of Equities Investment Berdikari Manajemen Investasi Agung Ramadoni mengamati aktivitas transaksi "orang dalam" pada suatu emiten bukan tanpa alasan.

Motifnya beragam, mulai dari perubahan strategi, indikasi aksi korporasi, hingga memanfaatkan momentum saat valuasi saham dinilai sedang murah. Investment Consultant Reliance Sekuritas Indonesia Reza Priyambada sepakat, "orang dalam" yang getol memborong umumnya karena menilai harga sahamnya sedang rendah. Sementara pendiri WH-Project William Hartanto menilai transaksi itu memberikan dampak berbeda bagi setiap saham. Pertama, jumlah saham yang ditransaksikan. Kedua, siapa pihak atau investor yang melakoni transaksi. Ketiga, aksi korporasi lanjutan. CEO Edvisor Profina Visindo, Praska Putrantyo menilai dampak dari transaksi "orang dalam"  bersifat jangka pendek.  Jangka panjangnya tetap melihat kinerja keuangan dan valuasi.

Harita Nickel Dapat Restu Right Issue 18,92 Miliar Saham

KT1 16 Mar 2024 Investor Daily

PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel segera mengeksekusi rencana penawaran umum terbatas dengan hak memesan efek terlebih dahulu(PMHMETD/right issue) sebanyak 18, 92 miliar saham, setelah mendapatkan persetujuan pemegang saham dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang digelar Jumat (15/3)

Dirut Harita Nickel Roy Arman Affandi mengatakan, pemegang saham telah memberikan persetujuan terhadap agenda ke dua yang diusulkan oleh manajemen yaitu rencana right issue, dimana jumlah saham yang akan diterbitkan minimal 10 % yang setara 6,30 miliar saham dan sebanyak-banyaknya 30 % atau sebanyak 18,92 miliar saham dari modal ditempatkan dan disetor perseroan saat ini. (Yetede)

INVESTASI KONTRAK BERJANGKA SAHAM : Mendulang Cuan Lewat SSF

HR1 16 Mar 2024 Bisnis Indonesia

Investor diyakini masih bisa mendulang cuan lewat instrumen investasi kontrak berjangka saham (Single Stock Futures/SSF) meskipun indeks harga saham gabungan (IHSG) sedang lesu atau bearish. Setidaknya, ada lima saham yang menjadi underlying dari SSF yang akan diluncurkan dalam waktu dekat, yaitu PT Astra International Tbk. (ASII), PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI). “Ini adalah salah satu produk atau instrumen yang bisa digunakan oleh investor untuk bisa mendapatkan keuntungan, baik pada saat market sedang bullish maupun sedang bearish,” kata Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik dalam Seminar Edukasi BEI, Jumat (15/3). Menurutnya, seiring dengan Single Stock Futures, BEI memberi kesempatan bagi para investor untuk bisa menerapkan strategi baru dalam bertransaksi saham-saham yang ada di Indeks LQ45 dengan inisial modal yang jauh lebih ringan, serendah-rendahnya 4%. Adapun, Kepala Divisi Pengembangan Bisnis 1 BEI Firza Rizqi Putra mengatakan alasan pemilihan kelima saham tersebut sudah sesuai dengan usulan dan surat keputusan Bursa yang akan segera dikeluarkan dalam waktu dekat, bahwa underlying Single Stock Futures adalah saham-saham Indeks LQ45. “Saham BBRI, BBCA, MDKA, TLKM, dan ASII ini memang yang kami keluarkan, kami menentukan beberapa pertimbangan, di antaranya likuiditas, fundamental, volatilitas, dan juga representatif dari market cap LQ45 ataupun IDX30,” jelas Firza. Lebih lanjut dia mengatakan, untuk tahun ini BEI hanya mengeluarkan 5 saham tersebut sebagai underlying SSF, tetapi ke depan tidak menutup kemungkinan seluruh saham konstituen LQ45 akan dikeluarkan secara bertahap dari underlying SSF.

Harga Minyak Melesat, Saham Energi Kian Panas

KT1 15 Mar 2024 Investor Daily (H)

Harga minyak dunia yang terus menanjak memberi berkah bagi saham-saham energi seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Energi Mega Persada TBK (ENRG), PT Elnusa Tbk (ELSA) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) yang mencatatkan peningkatan dalam beberapa hari terakhir. Konsensus analis sepakat, empat saham ini berpotensi melanjutkan kenaikan dan masih akan memberikan cuan besar. Berdasarkan data RTI, saham MEDC ditutup menguat 9,02 % ke posisi penutupan perdagangan Kamis (14/3), disusul ENRG yang naik 6,73 % ke posisi Rp 222, saham ELSA meningkat 2,65 % ke level Rp 388, dan PGAS naik 2,58 % menjadi 1.195.

Stockbit dalam ulasannya menyebut penguatan harga saham energi terjadi seiring kenaikan harga minyak Brent sebesar 2,6 % ke level USD 83,03 per barel pada perdagangan Rabu (13/3). Investment Analyst Stockbit Hendriko Gani mengatakan, “Dengan permintaan yang kuat dan penurunan stock minyak AS, Harga minyak global berpotensi melanjutkan penguatan harga dan dapat memberi katalis positif bagi kinerja produsen migas, seperti MEDC dan ENRG,” pada Kamis (14/3). (Yetede)

TAKTIS KALA PASAR BULLISH

HR1 15 Mar 2024 Bisnis Indonesia (H)

Kinerja bullish sejumlah instrumen investasi belakangan ini membuka kesempatan bagi investor untuk mengevaluasi kembali portofolio mereka. Hal tersebut krusial mengingat momentum tersebut berbarengan dengan Ramadan dan perayaan Lebaran yang lazim membuat pengeluaran menjulang. Salah satu bukti geliat sektor investasi terlihat dari pasar saham dengan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang ditutup menguat 0,16% secara harian ke 7.433 pada Kamis (14/3), dengan level tertinggi menyentuh 7.454 atau rekor baru sepanjang tahun ini. Rekor pergerakan IHSG sebelumnya tercapai pada perdagangan perdana tahun 2024, susut sesaat, lalu kembali terangkat pada pekan lalu. Pada kelas aset lainnya, yakni Bitcoin, Bloomberg mencatat trennya konsisten menanjak sejak awal tahun dan rekor baru terus pecah, selumbari aset digital itu mencapai harga US$73.275. Namun, perdagangan kemarin, turun 0,4% menyentuh US$72.865. Merespons ‘gelombang pasang’ kinerja aset keuangan itu, CEO MRE Financial & Business Advisory Mike Rini Sutikno menyarankan agar investor tetap berhati-hati mengelola keuangan dan berinvestasi, terutama saat momen Ramadan dan Idulfi tri yang membutuhkan dana tinggi. Selain itu, dia menilai investor perlu melihat kembali kesesuaian tujuan keuangan jangka pendek dan panjang sehingga bisa memilih aset secara tepat. Untuk investasi jangka pendek, di bawah setahun, alokasi dana tertuju pada aset berisiko rendah seperti reksa dana pasar uang, deposito, dan SBN ritel. Jika membandingkan ketiga instrumen tersebut, maka hingga Jumat (8/3), kinerja indeks reksa dana pasar uang memberikan pertumbuhan 0,88% secara tahun berjalan. 

Adapun, imbal hasil deposito mengacu pada kenaikan imbal hasil penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebesar 0,64% pada periode yang sama. Lalu, Surat Berharga Negara (SBN) ritel jenis Sukuk Ritel seri SR020, yang kini sedang ditawarkan pemerintah, menawarkan kupon sebesar 6,3% dalam setahun untuk tenor 3 tahun dan 6,4% untuk tenor 5 tahun. Senada, Head OLT III Jakarta Mandiri Sekuritas Ahmad Rasyid Abidin mengatakan momen saat ini merupakan momen perpindahan aset. Dia berujar saat ini investor saham tengah mengalihkan portofolionya ke instrumen kripto. Akan tetapi, lanjutnya, apabila investor memilih investasi jangka panjang maka momen saat ini tak dipergunakan untuk pindah aset atau switching. Rasyid juga menyarankan investor untuk melakukan diversifi kasi ke instrumen lain yang tengah bullish tahun ini seperti emas, atau kripto. Untuk emas, J. P. Morgan Chase & Co. menjagokan logam mulia karena diperkirakan bisa mencapai US$2.500 per ounce pada 2024. Dengan catatan, terjadi peralihan kebijakan The Fed menuju pelonggaran moneter. Kemudian, Bloomberg meramalkan Bitcoin penguatan berlanjut ke US$80.000 dalam jangka pendek. Perihal potensi penguatan lanjutan Bitcoin, Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan Perdagangan Berjangka Komoditi Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Tirta Karma Sanjaya berharap efek rambatannya ke transaksi kripto di Tanah Air. Meskipun menawarkan potensi cuan, Perencana Keuangan Finansia Consulting Eko Endarto memperingatkan agar investor memperhatikan profi l risiko sebelum menanamkan modalnya.

Saham Big Caps Unggulan Bursa Cetak Rekor

HR1 14 Mar 2024 Kontan (H)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak rekor tertinggi sepanjang masa alias all time high. Rekor itu terjadi di perdagangan Rabu (13/3) yang menyentuh 7.441,61. Meski setelah itu melandai, IHSG mampu bertahan di atas level 7.400 hingga akhir perdagangan Rabu (13/3). IHSG ditutup menguat 0,53% atau naik 39,30 poin ke level 7.421,20. Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas, Miftahul Khaer menjelaskan, penguatan IHSG beberapa hari ini tidak terlepas dari menguatkan mayoritas bursa saham di kawasan Asia dan global. Selain itu, data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia pada Februari 2024 berada di level 123,1. Ini masih menjadi pertanda masyarakat Indonesia masih cukup optimistis terhadap kondisi ekonomi. Sentimen lain, pengumuman pembagian dividen bank pelat merah serta emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lainnya, termasuk PT Bukit Asam Tbk (PTBA). "Ini menambah antusias pelaku pasar," kata dia kepada KONTAN, Rabu (13/3).

Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas juga melihat, penguatan IHSG didorong euforia pembagian dividen emiten. Saham-saham dengan kapitalisasi besar atau big caps juga menjadi mendorong pergerakan IHSG. Dorongan terbesar penguatan IHSG berasal dari entitas Grup Barito, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), TPIA menguat 11,7% ke level Rp 6.225 per saham dan menyentuh all time high. Dengan kapitalisasi pasar senilai Rp 539 triliun, TPIA menyumbang 20,69 poin terhadap pergerakan IHSG. Selain TPIA, menyusul saham Bank Mandiri Tbk (BMRI) berkontribusi 13,67 poin. Kemudian ada PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang masing-masing menyumbang 8,5 poin dan 5,82 poin. Investment Consultant Reliance Sekuritas, Reza Priyambada melihat, kinerja sejumlah emiten saham milik Prajogo Pangestu masih menarik.Namun dalam beberapa waktu terakhir, di saat harga saham emiten milik Prajogo sedang menguat, malah mendapat teguran dari otoritas BEI. Secara umum, sejumlah saham big caps tetap menarik dicermati. Reza menjagokan BBCA dengan target harga Rp 11.150, BBRI dengan target Rp 7.250, BREN di harga Rp 7.250, AMMN di RP 8.900 dan TLKM di harga Rp 4.500.