;
Tags

Saham

( 1722 )

Aset Safe Haven Jadi Jawara Portofolio Sepanjang Bulan April

HR1 02 May 2024 Kontan

Ketidakpastian ekonomi dan geopolitik yang cukup tinggi pada bulan lalu membuat sejumlah kinerja portofolio investasi terpuruk. Mata uang kripto yang sebelumnya mampu naik tinggi, terkoreksi pada April 2024. Bitcoin turun 9,50% secara bulanan ke level 63.385 pada Selasa (30/4). Bitcoin terseret derasnya arus dana keluar dari ETF BTC spot sebagai respon kebijakan bunga acuan Fed. Instrumen safe haven seperti dolar Amerika Serikat (AS) dan emas terus menguat. Pairing USD/IDR naik 2,64% sepanjang April dibanding Maret 2024 ke level Rp 16.276 per dolar AS pada Selasa (30/4). Adapun emas di pasar spot menguat 4,15% secara bulanan ke US$ 2.331 per ons troi. 

Namun, angka tersebut lebih kecil dibandingkan pada Maret 2024 yang naik hingga 8,94%.  Sementara emas batangan Antam juga ikut terkerek 6% ke Rp 1,325 juta per gram. Kenaikannya juga lebih rendah dari Maret 2024 yang mencapai 9,75%. CEO Pinnacle Investment Indonesia Guntur Putra mengatakan, investor bisa mengandalkan portofolio investasi emas yang dapat menjadi safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik atau ketika ada gejolak pasar.  Senior Economist KB Valbury Sekuritas Fikri C mengatakan, investasi emas Antam cukup menarik dalam jangka panjang karena mempunyai jaminan keamanan, dan potensi gain yang cukup signifikan. Fikri mencermati, harga emas dunia masih bisa berpotensi menguat pada tahun ini. Harga emas didukung oleh kebijakan pivot atau pembalikan arah kebijakan moneter Fed dan pemangkasan suku bunga yang diprediksi akan terjadi pada September 2024.

Waspadai Fenomena Sell in May

HR1 02 May 2024 Bisnis Indonesia

Kinerja indeks harga saham gabungan atau IHSG kembali terkoreksi dalam sebulan terakhir. Sepanjang periode April, indeks komposit secara akumulatif merosot 0,75% setelah ditutup di level 7.234,20 pada Selasa (30/4). Tren negatif ini sejatinya telah dimulai sejak pertengahan Maret lalu. Selepas menyentuh level tertinggi di 7.433,32, IHSG berfluktuasi tajam dengan kecenderungan melemah. Ketidakpastian ekonomi global yang diperburuk oleh situasi geopolitik terus-terusan memberikan tekanan ke pasar saham. Pada awal pekan ini, indeks komposit memang berbalik arah dengan menguat selama 2 hari perdagangan berturut-turut. IHSG melesat 1,70% pada Senin dan keesokannya kembali mencatatkan kenaikan 1,10%. Akan tetapi, kami menilai apresiasi ini lebih banyak didorong oleh sentimen ekonomi domestik serta kinerja emiten kuartal I/2024. 

Di sisi lain, kami memandang bahwa investor sesungguhnya masih mengambil sikap wait and see sembari menanti rilis data ekonomi penting di global pada pekan ini. Selain itu, pelaku pasar juga tengah menantikan hasil pertemuan The Fed, bank sentral Amerika Serikat, yang berakhir dini hari tadi. Situasi ekonomi di Negeri Paman Sam juga belum cukup menggembirakan. Biaya tenaga kerja meningkat pada kuartal pertama tahun ini, di tengah kenaikan upah dan tunjangan. Ini mengisyaratkan tingkat inflasi di negara itu bakal terus terkerek.

Karena itulah, kami melihat bahwa keberuntungan sedang menjauh dari pasar saham. Tidak banyak katalis yang cukup kuat mendorong pergerakan indeks komposit, setidaknya dalam beberapa waktu ke depan. Sebaliknya, sentimen negatif seolah tengah mengepung pasar. Belum lagi, ada fenomena psikologis sell in May and go away yang selalu menghantui periode perdagangan di bulan ini. Secara historis, fenomena ini berpengaruh langsung terhadap performa indeks komposit. 

Jika dirinci, IHSG turun 3,14% selama Mei 2018, terkoreksi 3,81% pada Mei 2019, minus 0,8% sepanjang Mei 2021, dan melemah 1,11% pada Mei 2022. Adapun pada tahun lalu, indeks anjlok lebih dalam 4,08% selama periode Mei. Fenomena sell in May sejatinya tidak dapat menjadi acuan mutlak untuk mengukur kinerja IHSG bulan ini. Kecenderungannya, performa pasar akan relatif bergerak dengan tren melemah dalam 2 pekan pertama untuk selanjutnya terjadi akumulasi positif pada pekan-pekan terakhir di periode Mei. Kendati dibayangi fenomena sell in May dan hasil pertemuan The Fed, kami meyakini bahwa beberapa katalis yang berasal dari perkembangan ekonomi domestik tetap berpeluang mendorong penguatan indeks kendati dalam intensitas terbatas.

Peritel Berharap Bisa Ketiban Berkah Lagi

HR1 02 May 2024 Kontan

Kinerja emiten ritel masih positif selama kuartal I 2024. Hasil ini berkat dari adanya beberapa perayaan di tiga bulan pertama tahun ini. Beberapa peritel tercatat mengalami kenaikan pendapatan dan laba sepanjang kuartal I 2024. Misalnya, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) mencatatkan pendapatan Rp 8,78 triliun di kuartal I 2024. Ini naik 17,8% secara tahunan alias year on year (yoy) dari sebelumnya Rp 7,5 triliun. PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) juga mencatatkan pendapatan Rp 829,09 miliar di kuartal I 2024. Raihan ini melonjak 42,02% yoy dari sebelumnya Rp 583,75 miliar. 

Sementara, laba tahun berjalan Rp 106,81 miliar di kuartal I 2024, melesat 254,01% yoy dari Rp 30,17 miliar. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo menilai, kinerja peritel yang positif itu berkat penjualan dan laba yang tumbuh signifikan di kuartal I 2024. Di periode tersebut, beberapa Hari Raya jadi penopang. Mulai dari Imlek, hingga periode puasa dan Lebaran. Ia memprediksi, emiten ritel masih bisa mencatatkan pertumbuhan positif hingga akhir tahun 2024. 

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama menilai, pertumbuhan kinerja emiten ritel agak lambat. Namun masih menunjukkan pertumbuhan berkelanjutan. Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat, pergerakan saham ACES berada di level support Rp 890 per saham dan resistance Rp 940 per saham. Herditya merekomendasikan buy if break untuk ACES dengan target harga Rp 975 – Rp 1.005 per saham. Equity Analyst Kanaka Hita Solvera, William Wibowo melihat, pergerakan saham MAPI berada di level support Rp 1.300 per saham dan resistance Rp 1.775 per saham. Rekomendasinys adalah wait and see.

GOTO Menargetkan Kinerja Positif di 2024

HR1 30 Apr 2024 Kontan

Kinerja PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menunjukkan pertumbuhan. Pertumbuhan itu setelah GOTO melepas unit bisnis e-commerce, yakni PT Tokopedia kepada TikTok Pte. Ltd. Berdasarkan laporan keuangan, GOTO membukukan rugi diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp 861,91 miliar di kuartal I-2024. Menyusut 77,68% dari Rp 3,86 triliun pada kuartal I-2023. Hasil tersebut tidak terlepas dari pencapaian pendapatan emiten ini. Di periode tersebut, pendapatan GOTO Rp 4,08 triliun. Tumbuh 22,41% dari periode serupa 2023 yang sebesar Rp 3,33 triliun. 

Direktur Utama Grup GoTo, Patrick Walujo menjelaskan ,pada kuartal I-2024, pihaknya telah mempercepat pelaksanaan strategi efisiensi serta kembali melakukan investasi pada produk-produk andalan. Adapun GOTO mengincar EBITDA positif untuk kinerja tahun buku 2024. Dengan target tersebut, manajemen GOTO optimistis tengah berada di jalur yang tepat.   Head of Indonesia Research & Strategy JP Morgan, Henry Wibowo di riset 24 April 2024, menilai segmen bisnis on demand services (ODS) akan menjadi pendorong pendapatan utama GOTO. Hitungannya, GOTO punya kas bersih US$ 1,3 miliar untuk pengembangan ODS dan tekfin. Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas, Vicky Rosalinda menyarankan, GOTO memperluas pasar dan melakukan inovasi produk untuk memperkuat pasar. Kemarin harga GOTO di level Rp 63.

Barito Renewables Puncaki Kapitalisasi Pasar Saham di Bursa Saham

KT1 30 Apr 2024 Investor Daily (H)

PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mencatatkan kapitalisasi pasar (market cap) sebesar Rp 1.207 triliun pada penutupan  perdagangan Senin (9/4/2024), yang membuatnya memuncaki posisi emiten dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perusahaan energi baru terbarukan (EBT) milik konglomerat Parjogo Pangestu  ini berhasil menggeser posisi emiten Grup Djarum, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) ke pringkat kedua dengan market cap Rp 1.196 triliun. Sepanjang perdagangan Senin (29/4/2024), saham BREN berhasil menguat +4,64% ke posisi Rp 9.025. Saham emiten Renewables energi ini terus mencatatkan penguatan selama sepekan terakhir, dan telah melesat 1.057% dari harga saat pencatatan (listing) perdana di BEI sebesar Rp 780 per saham pada Oktober 2023. Market cap BREN juga bertambah Rp 1.103 trliun atau lebih dari 10 kali lipat dari posisi saat listing sebesar Rp 104,3 triliun. (Yetede)

Menangkap Peluang Dengan Bisnis Baru

HR1 30 Apr 2024 Kontan

Emiten ramai-ramai menggelar ekspansi dengan merambah bisnis anyar. Sederet emiten berskala besar hingga kelas menengah sudah mengumumkan rencana penambahan usaha. Barisan emiten tersebut ada yang sudah dan akan mengajukan tambahan Klasifikasi Baku Lapangan usaha Indonesia (KBLI) dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Contohnya PT Astra International Tbk (ASII) yang akan ekspansi ke bisnis ekosistem kendaraan listrik alias electric vehicle (EV), mencakup industri baterai dan penjualan tenaga listrik. PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX) dari Grup Saratoga mengambil langkah serupa untuk merambah bisnis kendaraan listrik. MPMX ingin menambah usaha berupa charging station, reparasi baterai dan aktivitas penunjang lainnya. 

PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) dan PT Autopedia Sukses Lestari Tbk (ASLC) tak ketinggalan untuk memperkuat bisnisnya. TBIG melalui anak usahanya akan mengembangkan bisnis penyewaan power supply. Sedangkan ASLC akan ekspansi merambah perdagangan eceran motor bekas. Tak hanya itu, sederet emiten lain juga mengumumkan rencana penambahan kegiatan usaha pada bulan ini. Di antaranya PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT), PT Chitose Internasional Tbk (CINT), PT Multi Medika Internasional Tbk (MMIX), PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD), PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) dan PT FKS Food Sejahtera Tbk (AISA).

Pendiri Stocknow.id, Hendra Wardana memandang rencana ekspansi emiten menambah usaha baru memberikan sinyal positif di tengah kondisi ekonomi yang dibayangi ketidakpastian. Sejumlah emiten juga menunjukkan langkah antisipatif mengincar peluang bisnis masa depan, seperti ekosistem kendaraan listri yang mulai masif. CEO Edvisor Profina Visindo, Praska Putrantyo menambahkan, ekspansi bisnis ini menjadi salah satu manuver emiten di tengah era suku bunga yang masih tinggi. Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas mengingatkan kontribusi dari penambahan usaha ini tidak bisa instan dan akan berbeda-beda pada setiap emiten. Tergantung dari keterkaitan dengan bisnis inti, prospek industri, kesiapan investasi, kondisi pasar dan strategi bisnis beserta eksekusinya.

BBCA Jawara, BREN Kembali ke Posisi Kedua

HR1 29 Apr 2024 Kontan

Peta penguasaan pasar emiten penghuni Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus bergerak dinamis. Sejauh ini emiten berkapitalisasi pasar (market cap) terbesar masih dipegang PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Sementara di posisi kedua bertengger saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Posisi BREN sejatinya sempat menjadi runner up di akhir 2023. Namun, akhir Maret lalu, market cap BREN longsor ke Rp 719,10 trliun. 

Berikutnya ada saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan market cap Rp 723,03 triliun. Kapitalisasi pasar BBRI sudah tergerus 15,63% dari posisi akhir 2023. Lalu ada PT Amman Minerals International Tbk (AMMN). Akhir 2023, market cap AMMN Rp 474,99 triliun. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer melihat peluang pergeseran market cap masih bisa terjadi. Ini dipengaruhi oleh berbagai sentimen yang mewarnai pasar saat ini. Faktor lain adalah mulai bergulirnya rilis laporan kinerja di kuartal I-2024. Hasil dari pencapaian kinerja tersebut, menurutnya, juga akan menentukan posisi kapitalisasi pasar setiap emiten. Direktur Ekuator Swarna Investama Hans Kwee menyarankan buy on weakness BBRI dengan target Rp 4.800.

IHSG Masih Tertekan, Yield SUN Lanjutkan Kenaikan

KT1 29 Apr 2024 Investor Daily (H)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan masih dalam fase penurunan (downside) dan berpotensi melanjutkan koreksi pekan lalu yang sebanyak 0,72%. Dalam satu bulan terakhir, IHSG telah turun tajam hingga -4,02% dan masih menanti sentimen positif untuk dapat rebound menjuhi level psikologi 7.000. Sementara di pasar surat utang, imbal hasil (yield) diperkirakan melanjutkan kenaikan pada rentang 7,30%-7,30% di pekan ini. Senior Information Invesment Mirea Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta melihat, IHSG masih tertekan dengan peluang koreksi terbuka, meski arah penurunan makin terbatas. "IHSG limited downside, dengan batasan pergerakan ada di kisaran support 7.026-6.952 dan resistance 7.090-7.130" ujar dia kepada Investor Daily. Nafan mengungkapkan, pengerak IHSG akan datang dari sejumlah data ekonomi domestik dan luar negeri yang di rilis pekan ini. Pelaku pasar akan mencermati data inflasi Indonesia, yang diperkirakan naik mendekati target Bank Indonesia di 3,5%. (Yetede)

MEMBURU CUAN DI MUSIM DIVIDEN

HR1 27 Apr 2024 Bisnis Indonesia (H)

Kendati indeks IDX High Dividend 20 melemah seiring dengan situasi pasar yang bearish, saham-saham papan atas masih menjadi magnet bagi investor karena didorong oleh pembagian dividen yang menggiurkan. Tantangan pasar tidak mengurangi minat terhadap saham-saham di indeks ini, yang dikenal secara konsisten menawarkan yield dividen di atas rata-rata pasar. Berdasarkan data BEI, indeks IDX High Dividend (Hidiv) 20 menurun 4,97% menjadi 546,27 secara year-to-date (YtD) hingga akhir perdagangan 26 April 2024, di tengah sejumlah emiten yang telah mengumumkan pembagian dividen. Penurunan itu lantaran IDX Hidiv 20 diterpa sejumlah tantangan. Di lingkup eksternal, kondisi geopolitik global sejak awal April 2024 sudah memberikan ketidakpastian di pasar modal. Selain itu, penetapan pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai Presiden dan Wapres terpilih, belum cukup mampu mengangkat IHSG, termasuk IDX Hidiv 20, keluar dari zona merah. Faktor lainnya adalah rupiah yang semakin tertekan sehingga membuat BI menaikkan suku bunga acuan. Secara spesifik, performa konstituen IDX Hidiv 20 berada dalam situasi yang dilematis.

Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto mengatakan peluang tersebut dapat terjadi selama kinerja IDX Hidiv 20 masih disertai dengan pertumbuhan kinerja dan dividen yield yang tinggi sehingga masih membuat saham-saham di indeks ini masih menarik. "Untuk saham pilihannya yaitu BBCA, PTBA, ADRO, dan AMRT. Ini rekomendasinya buy on weakness untuk memanfaatkan pelemahan pasar," ujar William kepada Bisnis, Jumat (26/4). Berdasarkan data Bloomberg, sektor yang menjadi penyokong utama konstituen IDX Hidiv 20 selama ini adalah sektor perbankan dan batu bara. Ada 5 emiten utama di situ yakni PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO), dan PT United Tractor Tbk. (UNTR). Sementara itu, beberapa emiten yang menjadi pemberat utama IDX Hidiv 20 di antaranya PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI), PT Astra International Tbk. (ASII), PT Semen Indonesia Tbk. (SMGR), PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF), serta PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR).

Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi berujar sebelum membagikan dividen, emiten bank yang masuk jajaran indeks dividen jumbo tersebut mencatatkan performa positif, bahkan sempat naik sebesar 7,14% (YtD). “Pasca-pembagian dividen empat bank jumbo, performa IDX High Dividend 20 menjadi negatif, bahkan sampai per hari ini kenaikan tensi geopolitik, dan keputusan BI yang di luar ekspektasi menaikkan suku bunga acuan,” ujar Audi. Kiwoom Sekuritas Indonesia merekomendasikan beli terhadap sejumlah saham konstituen IDX High Dividend 20 di antaranya yaitu ICBP dengan target price (TP) Rp14.750, BMRI dengan TP Rp7.350, BBCA (TP Rp10.300) dan TLKM (TP Rp4.300). Angga Septianus, Community & Retail Equity Analyst Lead Indo Premier Sekuritas, menambahkan koreksi saham-saham royal dividen diakibatkan saham big caps mayoritas sedang mengalami koreksi karena kondisi global yang belum stabil. Pengamat BUMN sekaligus Akademisi Universitas Indonesia (UI) Toto Pranoto menyebut terjadinya ketidakstabilan global yang dipicu oleh faktor eksternal dapat mengancam ketahanan ekonomi Tanah Air.

IHSG di Proyeksi Masih Tertekan Pekan Ini

KT1 22 Apr 2024 Investor Daily
Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG)  Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan masih akan  tertekan imbas keluarnya dana asing (capital outflow). Langkah IHSG juga akan mendapat  sentimen negatif dari memanasnya  tensi politik di Timur Tengah yang menyebabkan koreksi cukup dalam  pada pekan lalu hingga ke level 7.087. "IHSG masih berpotesi untuk tertekan dengan rentang support 6.900 dan resistance 7,230, ditengah masih meningkatnya ketidakpastian akibat konflik Israel-Iran dan outflow asing," kata Equity Reserach Analyst Reliance Sekuritas Ayu Dian kepada Investor Daily. Ayu mengatakan, tingginya ketidakpastian global membuat investor cenderung beralih  ke aset safe haven. Hal itu  salah satunya  terlihat dari harga emas yang terus tinggi dan mencapai US$ 2.399 per ounce. Untuk pekan ini, Ayu merekomendasikan sejumlah saham seperti DOID dengan target hanya Rp455, ULTJ dengan target harga Rp2.950, dan PTBA dengan target harga Rp 3.310. (Yetede)