Saham
( 1717 )BBCA Jawara, BREN Kembali ke Posisi Kedua
Peta penguasaan pasar emiten penghuni Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus bergerak dinamis. Sejauh ini emiten berkapitalisasi pasar (market cap) terbesar masih dipegang PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Sementara di posisi kedua bertengger saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Posisi BREN sejatinya sempat menjadi runner up di akhir 2023. Namun, akhir Maret lalu, market cap BREN longsor ke Rp 719,10 trliun.
Berikutnya ada saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan
market cap
Rp 723,03 triliun. Kapitalisasi pasar BBRI sudah tergerus 15,63% dari posisi akhir 2023.
Lalu ada PT Amman Minerals International Tbk (AMMN). Akhir 2023, market cap AMMN Rp 474,99 triliun.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer melihat peluang pergeseran
market cap
masih bisa terjadi. Ini dipengaruhi oleh berbagai sentimen yang mewarnai pasar saat ini. Faktor lain adalah mulai bergulirnya rilis laporan kinerja di kuartal I-2024. Hasil dari pencapaian kinerja tersebut, menurutnya, juga akan menentukan posisi kapitalisasi pasar setiap emiten. Direktur Ekuator Swarna Investama Hans Kwee menyarankan
buy on weakness
BBRI dengan target Rp 4.800.
IHSG Masih Tertekan, Yield SUN Lanjutkan Kenaikan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan masih dalam fase penurunan (downside) dan berpotensi melanjutkan koreksi pekan lalu yang sebanyak 0,72%. Dalam satu bulan terakhir, IHSG telah turun tajam hingga -4,02% dan masih menanti sentimen positif untuk dapat rebound menjuhi level psikologi 7.000. Sementara di pasar surat utang, imbal hasil (yield) diperkirakan melanjutkan kenaikan pada rentang 7,30%-7,30% di pekan ini. Senior Information Invesment Mirea Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta melihat, IHSG masih tertekan dengan peluang koreksi terbuka, meski arah penurunan makin terbatas. "IHSG limited downside, dengan batasan pergerakan ada di kisaran support 7.026-6.952 dan resistance 7.090-7.130" ujar dia kepada Investor Daily. Nafan mengungkapkan, pengerak IHSG akan datang dari sejumlah data ekonomi domestik dan luar negeri yang di rilis pekan ini. Pelaku pasar akan mencermati data inflasi Indonesia, yang diperkirakan naik mendekati target Bank Indonesia di 3,5%. (Yetede)
MEMBURU CUAN DI MUSIM DIVIDEN
Kendati indeks IDX High Dividend 20 melemah seiring dengan situasi pasar yang bearish, saham-saham papan atas masih menjadi magnet bagi investor karena didorong oleh pembagian dividen yang menggiurkan. Tantangan pasar tidak mengurangi minat terhadap saham-saham di indeks ini, yang dikenal secara konsisten menawarkan yield dividen di atas rata-rata pasar. Berdasarkan data BEI, indeks IDX High Dividend (Hidiv) 20 menurun 4,97% menjadi 546,27 secara year-to-date (YtD) hingga akhir perdagangan 26 April 2024, di tengah sejumlah emiten yang telah mengumumkan pembagian dividen. Penurunan itu lantaran IDX Hidiv 20 diterpa sejumlah tantangan. Di lingkup eksternal, kondisi geopolitik global sejak awal April 2024 sudah memberikan ketidakpastian di pasar modal. Selain itu, penetapan pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai Presiden dan Wapres terpilih, belum cukup mampu mengangkat IHSG, termasuk IDX Hidiv 20, keluar dari zona merah. Faktor lainnya adalah rupiah yang semakin tertekan sehingga membuat BI menaikkan suku bunga acuan. Secara spesifik, performa konstituen IDX Hidiv 20 berada dalam situasi yang dilematis.
Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto mengatakan peluang tersebut dapat terjadi selama kinerja IDX Hidiv 20 masih disertai dengan pertumbuhan kinerja dan dividen yield yang tinggi sehingga masih membuat saham-saham di indeks ini masih menarik. "Untuk saham pilihannya yaitu BBCA, PTBA, ADRO, dan AMRT. Ini rekomendasinya buy on weakness untuk memanfaatkan pelemahan pasar," ujar William kepada Bisnis, Jumat (26/4). Berdasarkan data Bloomberg, sektor yang menjadi penyokong utama konstituen IDX Hidiv 20 selama ini adalah sektor perbankan dan batu bara. Ada 5 emiten utama di situ yakni PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO), dan PT United Tractor Tbk. (UNTR). Sementara itu, beberapa emiten yang menjadi pemberat utama IDX Hidiv 20 di antaranya PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI), PT Astra International Tbk. (ASII), PT Semen Indonesia Tbk. (SMGR), PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF), serta PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR).
Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi berujar sebelum membagikan dividen, emiten bank yang masuk jajaran indeks dividen jumbo tersebut mencatatkan performa positif, bahkan sempat naik sebesar 7,14% (YtD). “Pasca-pembagian dividen empat bank jumbo, performa IDX High Dividend 20 menjadi negatif, bahkan sampai per hari ini kenaikan tensi geopolitik, dan keputusan BI yang di luar ekspektasi menaikkan suku bunga acuan,” ujar Audi. Kiwoom Sekuritas Indonesia merekomendasikan beli terhadap sejumlah saham konstituen IDX High Dividend 20 di antaranya yaitu ICBP dengan target price (TP) Rp14.750, BMRI dengan TP Rp7.350, BBCA (TP Rp10.300) dan TLKM (TP Rp4.300). Angga Septianus, Community & Retail Equity Analyst Lead Indo Premier Sekuritas, menambahkan koreksi saham-saham royal dividen diakibatkan saham big caps mayoritas sedang mengalami koreksi karena kondisi global yang belum stabil. Pengamat BUMN sekaligus Akademisi Universitas Indonesia (UI) Toto Pranoto menyebut terjadinya ketidakstabilan global yang dipicu oleh faktor eksternal dapat mengancam ketahanan ekonomi Tanah Air.
IHSG di Proyeksi Masih Tertekan Pekan Ini
20% Saham BSI Siap Lepas ke Investor Strategis
Saham Emiten Emas Bersinar
Saham Barito Renewables Terus Menanjak
Jejak Goto di Krisis Saham Telkom
Sinar Mas Muktiartha Jual 15 % Saham Paramitra
LOGAM MULIA : Saham Emiten Emas Unjuk Gigi
Harga emas global yang mengukir rekor harga di atas US$2.300 per ons menyulut apresiasi harga saham emiten-emiten yang memiliki portofolio bisnis emas. Pada perdagangan Selasa (16/4), mayoritas saham emiten-emiten pertambangan emas parkir di zona hijau. Hal itu tak terlepas dari sentimen harga emas global yang meroket di tengah perang Iran-Israel. Merujuk Bloomberg, harga emas spot bertengger di level US$2.372,88 per ons dan emas Comex dibanderol US$2.390 per ons pada perdagangan kemarin. Di lantai bursa, saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) menguat 8,38% ke level Rp1.810.
Selanjutnya, tambang emas PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) milik Garibaldi Thohir juga melesat 9,92% atau 260 poin ke level Rp2.880 per saham. Selain itu, saham PT Bumi Resources Mineral Tbk. (BRMS) milik Grup Bakrie menguat 6,25% ke Rp170 per saham. Saham PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) juga mendarat di teritori positif dengan penguatan 2,25% ke level Rp364. Senada, saham PT United Tractors Tbk. (UNTR) memantul 3,96% ke level Rp26.250 per saham. Dari sisi emiten, Corporate Secretary Division Head Antam Syarif Faisal Alkadrie meyakini kenaikan harga emas merupakan berkah bagi ANTM. Dia menyebutkan sampai dengan saat ini, komoditas emas yang menjadi instrumen safe haven itu masih menjadi penyumbang 62% pendapatan ANTM.
Pilihan Editor
-
Penjualan Sepeda Melonjak
09 Jul 2020 -
Ponsel Pintar Menggerus Penjualan Kamera Digital
06 Jul 2020 -
Sepeda Listrik SLIS Ngebut di New Normal
07 Jul 2020









