;
Tags

Saham

( 1722 )

Unitlink Saham Dolar Mekar

HR1 11 May 2024 Kontan

Produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (Paydi) alias unitlink saham berbasis dolar  Amerika Serikat (AS) mencatat kinerja positif per April 2024. Infovesta Utama mencatat, sejumlah unitlink berbasis dolar  AS mencetak return dua digit. Contohnya unitlink besutan Prudential Life Assurance, yakni PRULink US Dolar  Global Technology Equity Fund. Unitlink ini mencetak return 17,29% sejak awal tahun ini. Unitlink saham berbasis dolar AS milik Allianz Life, yakni Smartwealth Dollar  Equity World Opportunities Funds US$, juga mencetak return dua digit di level 11,21% secara year to date. Sedangkan unitlink lainnya masing-masing membukukan imbal hasil satu digit.

Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani bilang, kenaikan kinerja unitlink saham berbasis dolar  AS ditopang menguatnya pasar saham negeri Paman Sam sejak awal tahun. Chief Customer & Marketing Officer Prudential Indonesia Karin Zulkarnaen menyebut, di Prudential, PRULink US Dolar  Global Technology Equity Fund mencetak imbal hasil tertinggi dibanding produk sejenis lainnya. "Ini ditopang naiknya saham sektor teknologi global selama Januari hingga April 2024," ujarnya, Kamis (9/5). Karin optimistis, PRULink US Dolar  Global Technology Equity Fund masih berpotensi mencatat kinerja positif. Ini seiring potensi kenaikan saham-saham teknologi global. Plt Direktur Utama BNI Life Insurance Eben Eser Nainggolan menyatakan, suku bunga tinggi akan berangsur turun di 2024.

Konflik dan Cuaca, Momok Emiten Sawit

HR1 11 May 2024 Kontan

Kinerja sejumlah emiten minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) masih mampu mencatatkan hasil positif pada kuartal I-2024. Meski ada emiten yang mencatatkan penurunan pendapatan di periode tersebut.Misalnya PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) mencatatkan pendapatan Rp 879,46 miliar di kuartal I 2024. Pencapaian ini turun 2,73% secara tahunan alias year on year (yoy). Namun laba bersih LSIP melesat 141% yoy menjadi Rp 269 miliar di kuartal I-2024. Sedangkan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mencatatkan kenaikan laba bersih 2,59% menjadi Rp 230,5 miliar di periode Januari-Maret 2024. Ini berkat kenaikan pendapatan bersih ALLI sebesar 0,8% menjadi Rp 4,79 triliun di kuartal I-2024. 

Fenny Sofyan, Vice President Investor Relation & Public Affairs AALI memaparkan, hasil tersebut disebabkan kenaikan penjualan CPO dan turunannya sebesar 3,9% yoy. Analis Phillip Sekuritas, Marvin Lievincent melihat, kinerja keuangan mayoritas emiten CPO di kuartal I 2024 tercatat lebih baik dari periode serupa tahun lalu. Namun, ketidakstabilan akibat konflik geopolitik di Timur Tengah masih menekan harga saham emiten CPO. Equity Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rizkia Darmawan melihat  kinerja emiten CPO di kuartal I-2024 masih dipengaruhi el nino pada akhir 2023. Untungnya, sejumlah emiten memiliki tanaman sawit di usia prima. Alhasil, produksi tanaman sawit mereka lebih tinggi dibandingkan emiten lainnya. Sedangkan transisi cuaca dari El Nino ke La Nina ia nilai bisa mengganggu produksi tanaman. Namun, di sisi lain, harga pupuk di tahun ini masih bisa lebih rendah, sehingga bisa mengurangi biaya operasional para emiten. 

Obral Saham Bank, Cuan Besar Menanti

KT1 10 May 2024 Investor Daily

Penurunan tajam saham-saham perbankan dalam beberapa  waktu terakhir, membuat valuasinya kembali  murah dan menarik untuk berburu. Terlebih fundamental emiten perbankan masih solid, dan koreksi saham diyakini karena sentimen jangka pendek semata. Para analis juga kompak merekomondasikan beli saham-saham bank besar seperti Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dengan potensi  gain hingga 35%. "Ada optimisme bahwa pasar dan investor hanya membutuhkan alasan untuk kembali berinvestasi di saham-saham perbankan. Saat ini harga saham perbankan dapat  dikatakan cenderung murah dari sisi valuasi, karena fundamental dan prospek bisnisnya masih relatif stabil," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus kepada Investor Daily. Nico mengatakan, beberapa saham perbankan unggulan di pasar modal Indonesia telah mencatatkan rekor tertinggi tahun ini. Sehingga, adanya koreksi terhadap harganya menjadi hal yang dianggap wajar. (Yetede)

Elegi Saham di Bulan Mei

KT3 08 May 2024 Kompas

Bulan Mei menjadi momen pelaku perdagangan saham atau trader berbondong-bondong menjual saham dan meninggalkan indeks komposit terkoreksi dalam. Lalu, investor kembali menaruh uangnya pada bulan Oktober. Fenomena ini berasal dari Inggris, yakni sell in May and go away, and come back on St Leger’s Day. Head Online and Equity Sales NH Korindo Sekuritas, Hendra Stevin, menjelaskan, slogan tersebut awalnya ditujukan kepada investor di Inggris, kaum bangsawan, dan bankir untuk menjual saham mereka pada bulan Mei, lalu bersantai menikmati musim panas dan meninggalkan pasar sementara serta kembali aktif lagi saat St Leger’s Day, sebuah acara pacuan kuda di bulan September. ”Dari definisi di atas, investor mengasumsikan, bulan Mei saatnya berbondong-bondong menjual saham dan mulai aktif kembali di bulan Oktober,” katanya, Senin (6/5).

Pola tersebut cocok di negara empat musim di kawasan Eropa, juga AS. Mengutip ulasan Senior Portofolio Manager O’Neil Global Advisors, Randy Watts, di Forbes pada 12 Mei 2023, pasar AS juga meyakini fenomena tersebut sejak jatuhnya pasar pada Mei hingga akhir musim panas atau awal musim gugur tahun 1987. Berdasarkan data aktual, yang ia tarik lebih dari 50 tahun sampai 2023, kinerja saham lebih baik pada periode November-April dibanding Mei-Oktober.Hal ini terlihat pada Indeks Standard & Poor’s (S&P) 500 di AS yang rata-rata naik 6,5 % selama November-April dibanding hanya kenaikan 1,6 % pada sisa tahun, dengan perbedaan 4,9 % poin. Selisih cukup signifikan juga tergambar di indeks bursa Nasdaq sebesar 5,9 % poin dan Dow Jones Initial Average (DJIA) sebesar 6,9 % poin.

Data historis IHSG di bursa Indonesia selama 20 tahun terakhir, yang ditunjukkan Hendra, menemukan penurunan IHSG paling banyak pada periode Mei-Oktober. Tingkat pengembalian negatif atau koreksi IHSG di bulan Mei terjadi 10 kali dari 20 tahun terakhir. ”Jadi, ada benarnya, tetapi tidak 100 %. Terbukti November paling banyak koreksinya, lalu ada faktor lainnya yang lebih mendukung,” ujar Hendra. Kendati bulan Mei dan lima bulan berikutnya menjadi periode yang cukup sering mengalami tingkat pengembalian negatif selama 20 tahun terakhir, Mei tidak selalu mengawali tren pelemahan IHSG. Pada 2024, IHSG sampai Senin (6/5) masih tumbuh minus hingga 1,62 %. Investor berbondong-bondong menarik uangnya dari pasar modal, terlebih pada April lalu. Kemenkeu mencatat jumlah penarikan modal investor ke luar negeri sebesar Rp 29,73 triliun dalam sebulan, terdiri dari saham senilai Rp 13,08 triliun dan SBN Rp 16,65 triliun. (Yoga)


Saham Bata Belum Masuk Kualifikasi ”Delisting” Pasca penutupan Pabrik

KT3 08 May 2024 Kompas

Memburuknya kinerja keuangan yang membuat PT Sepatu Bata Tbk harus menghentikan operasi pabriknya menjadi sentiment negatif bagi saham perseroan. Namun, Bursa Efek Indonesia (BEI) belum melihat potensi pembatalan pencatatan atau delisting bagi emiten tersebut. Harga saham emiten dengan kode BATA pada Selasa (7/5) tercatat Rp 79 per lembar, merosot tajam hingga 15 % dari harga Rp 95 per lembar pada Jumat (3/5), bersamaan dengan hari pengumuman penghentian aktivitas pabrik mereka di Purwakarta, Jabar.

Saham Bata juga mendapat notasi khusus dengan kategori L, karena perusahaan belum menyampaikan laporan keuangan terbaru setelah laporan kinerja 2023. Pada laporan tahun lalu mereka membukukan kenaikan kerugian komprehensif setidaknya tiga tahun terakhir, dari Rp 51,04 miliar pada 2021 menjadi Rp 188,41 miliar pada 2023. Dari sisi pendapatan penjualan neto, pada 2023 perusahaan mencatat penurunan 5 % menjadi Rp 609,6 miliar dari Rp 643,45 miliar pada 2022. Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna menilai, dengan kondisi tersebut, Bata tidak berpotensi dicoret dari bursa.

Mengacu Peraturan Bursa Nomor I-N tentang Pembatalan Pencatatan (Delisting) dan Pencatatan Kembali (Relisting), saham suatu emiten bisa dikeluarkan karena adanya keputusan bursa, yang menyangkut tiga alasan, yakni perusahaan tercatat mengalami kondisi yang secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usahanya, baik secara finansial maupun hukum, dan tidak menunjukkan indikasi pemulihan yang memadai. Kedua, perusahaan tercatat tidak memenuhi persyaratan pencatatan di bursa. Ketiga, saham telah mengalami suspensi efek, baik di pasar reguler maupun tunai dan/atau seluruh pasar paling kurang 24 bulan terakhir. (Yoga)


Ketidakpastian Global Bikin Saham Bank Himbara Ambles

KT3 08 May 2024 Kompas

Kinerja saham Himpunan Bank-bank Milik Negara atau Himbara anjlok hingga dua digit dibandingkan titik tertingginya sepanjang tahun ini, disebabkan dampak ketidakpastian global dan sentiment pertumbuhan laba bersih yang melambat. Selama April 2024, perekonomian global diselimuti ketidakpastian seiring ekspektasi penundaan pemangkasan suku bunga acuan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), dan memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah. Ketidakpastian itu mengakibatkan aliran modal portofolio dari negara berkembang berpaling ke instrumen yang lebih likuid (safe haven), seperti dollar AS dan emas.

Berdasarkan data transaksi 1-25 April 2024, investor asing telah membukukan jual neto di pasar keuangan domestik sebesar Rp 32 triliun. Aksi jual ini terjadi di pasar surat berharga negara (SBN) sebesar Rp 13,28 triliun, pasar saham sebesar Rp 11,89 triliun, dan di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebesar Rp 6,83 triliun. Akibatnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles hingga menyentuh level terendahnya di level 7.036,07 pada 26 April 2024 atau terkontraksi 5,64 % dibandingkan titik tertingginya di 7.433,31 pada 14 Maret 2024.

Pelemahan tersebut seiring kejatuhan saham yang dialami oleh berbagai emiten penggerak IHSG, tidak terkecuali emiten perbankan. Saham Bank Mandiri, terkontraksi 15,15 5 pada penutupan pasar Senin (6/5) dibanding level tertingginya pada 14 Maret 2024. Saham BTN juga terkontraksi 19,34 % dibanding rekor tertingginya pada 26 Maret. BNI turut terkontraksi 22,79 % dibanding capaian tertingginya pada 13 Maret 2024. Kontraksi terdalam dialami saham BRI sebesar 25,19 dibanding level tertingginya. (Yoga)


Memburu Lagi Saham Yang Dilego Asing

HR1 08 May 2024 Kontan

Arus dana keluar (capital outflow) yang masih mengalir deras di pasar saham menahan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). IHSG melemah sebesar 0,17% ke posisi 7.123,61 pada perdagangan kemarin, Selasa (7/5). Dalam waktu yang sama, investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) Rp 715,64 miliar. Aksi ini kian memangkas posisi net buy yang secara year to date tinggal Rp 2,59 trilun. Hal ini sejalan dengan kinerja IHSG yang di akhir perdagangan bulan Maret masih mengakumulasi penguatan 0,22%. Sedangkan saat ini IHSG anjlok 2,05% sejak awal tahun. Head of Research Mega Capital Sekuritas, Cheril Tanuwijaya menyoroti faktor penting yang mempengaruhi investor menarik atau mengalirkan dana ke pasar saham adalah arah suku bunga acuan bank sentral. 

Research Associate Panin Sekuritas, Sarkia Adelia Lukman menambahkan, pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat (AS) juga menjadi katalis penting. Kondisi ini mendorong Bank Indonesia (BI) mengerek suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 6,25%. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi menyatakan, kondisi higher for longer dari sikap bank sentral terkait dengan suku bunga menjadi katalis di bursa saham. Situasi ini menyebabkan peralihan aset ke instrumen yang memberikan return lebih tinggi dan risiko rendah. Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Martha Christina punya pandangan serupa. Menurut Martha, posisi net sell investor asing terhadap sejumlah saham big caps bukan sekadar aksi profit taking. Analis Stocknow.id Sinta Dwi Untari memprediksikan, para investor pemilik modal besar berpotensi masuk kembali ke pasar saham saat ada sinyal dovish dari bank sentral, khususnya dari Federal Reserve (The Fed).

Berkah dari Lebaran dan Long Weekend

HR1 08 May 2024 Kontan

Kinerja emiten jalan tol di kuartal I 2024 beragam. Seperti biasa, PT Jasa Marga Tbk (JSMR) masih menjadi jawara di sektor infrastruktur ini. Nixon Sitorus, Corporate Secretary & Chief Administration Officer Jasa Marga menjelaskan, konsolidasi kembali atas tiga ruas jalan tol Trans Jawa di Juli 2023 mempengaruhi pencapaian kinerja JSMR di kuartal I-2024. Yakni PT Jasamarga Semarang Batang, PT Jasamarga Solo Ngawi dan PT Jasamarga Ngawi Kertosono Kediri. Sementara PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) mencatat penurunan pendapatan di perode tersebut. Namun bisa membalikkan rugi menjadi keuntungan di kuartal I-2024. 

Head of Corporate Communication & CSR META, Indah DP Pertiwi mengatakan, rugi bersih di kuartal I 2023 disebabkan beban bunga terkait pinjaman untuk investasi pembelian saham PT Jasamarga Jalanlayang Cikampek (JJC). Sedangkan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) mencatat, pendapatan dari Badan Pengatur Jalan Tol menyumbang Rp 72,40 miliar di kuartal I 2024, anjlok 72,18% dari Rp 260,27 miliar di periode sama tahun lalu. Sedangkan PT PP mengakumulasi pendapatan tol sebesar Rp 16,13 miliar di kuartal I 2024. Research Analyst Reliance Sekuritas Ayu Dian melihat, kinerja JSMR sudah sesuai dengan perkiraan pasar. Maka Equity Analyst Kanaka Hita Solvera, Andhika Cipta Labora melihat kinerja emiten jalan tol di kuartal berikutnya masih akan terkerek naik. Ini karena sentimen arus mudik dan arus balik di awal periode ini. Selain itu, adanya dua kali long weekend di Mei dan satu kali di Juni masih akan menopang kinerja mereka di kuartal II 2024. Research Analyst Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga juga melihat JSMR masih sebagai jawara di sektor ini. Terlebih emiten ini masih terus melakukan aksi korporasi seperti divestasi terhadap pengelolaan jalan tol.

Emiten Indonesia Merajai Market Cap ASEAN

HR1 08 May 2024 Kontan (H)

Pertumbuhan kapitalisasi pasar ( market capitalization ) emiten Tanah Air cukup pesat. Di bursa Asia Tenggara, ada tujuh emiten Indonesia yang memuncaki klasemen 10 besar berdasarkan nilai market cap. Total nilai market cap bursa saham Indonesia kini mencapai Rp 12.009 triliun. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi emiten paling bernilai di bursa saham Asia Tenggara dengan total market cap Rp 1.321 triliun atau setara US$ 82,5 miliar (kurs US$ 1=Rp 16.000). Sementara di tingkat Asia, BREN berada di posisi 50 emiten dengan market cap terbesar. Nilai market cap BREN berjarak lumayan jauh dari DBS Group Holdings, perusahaan yang tercatat di bursa Singapura dengan nilai US$ 75,32 miliar. 

Lalu, Bank Central Asia Tbk (BBCA) berada di urutan ketiga dengan nilai market cap US$ 74,51 miliar. Di pasar lokal, peta market cap juga terus bergeser. Terutama, setelah saham-saham perbankan jumbo masih terkena tekanan jual. Per Selasa (7/5), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) merangsek ke posisi ketiga emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia, senilai Rp 709 triliun atau US$ 44,17 miliar. AMMN menggeser posisi Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang kini menduduki posisi keempat dengan market cap US$ 44,10 miliar. 

Investment Consultant Reliance Sekuritas, Reza Priyambada mengatakan, rotasi di bursa saham akhir-akhir ini akbat strategi investor yang mencari peluang cuan dari sektor selain perbankan, terutama setelah kinerja emiten sektor perbankan cenderung melambat. Kondisi ini semakin diperburuk oleh kenaikan suku bunga acuan yang ditempuh Bank Indonesia (BI). Saham BREN juga melaju cukup kencang. Dua hari setelah suspensi dibuka, saham milik taipan Prajogo Pangestu ini sempat menyentuh level tertingginya sepanjang masa di posisi Rp 9.925 per saham. 

Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas menambahkan, secara fundamental pasar saham Indonesia masih kokoh. Hal ini ditopang oleh kinerja para emiten juga masih tumbuh positif. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta melihat, kendati saat ini investor asing cenderung melakukan aksi jual, masih ada peluang dana asing kembali berbalik masuk ke pasar Indonesia. Fundamental makroekonomi dalam negeri terbilang stabil dan mampu menarik investor asing untuk menempatkan dana di pasar modal Indonesia.

Lebih Seksi Anak Ketimbang Emak

HR1 07 May 2024 Kontan

Emiten holding dari sejumlah konglomerasi membukukan kinerja yang bervariasi pada kuartal I-2024. Top line dan bottom line sebagian emiten holding mampu menanjak, tapi ada juga yang justru melandai. Dari grup bisnis Astra, PT Astra International Tbk (ASII) mengalami penurunan kinerja Pendapatan mencapai Rp 81,2 triliun, turun 2,14% dibandingkan periode yang sama tahun lalu atau year on year (yoy). Laba bersih ASII ikut menyusut 14,35% menjadi Rp 7,46 triliun dalam tiga bulan pertama 2024. Dari Grup Barito milik taipan Prajogo Pangestu, pendapatan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) merosot 4,93% menjadi US$ 618,59 juta di periode serupa. Secara bottom line, BRPT masih sanggup meraup laba bersih US$ 8,85 juta meski anjlok 61,98% secara tahunan. Sementara itu, perusahaan investasi milik Edwin Soeryadaya dan Sandiaga Uno, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) mampu menyusutkan kerugian. 

Rugi bersih SRTG di kuartal I-2024 menciut 41,45% secara tahunan menjadi Rp 2,57 triliun. Analis Stocknow.id Abdul Haq Alfaruqy menyoroti kinerja emiten holding yang bervariasi mencerminkan dinamika bisnis dari anak-anak perusahaannya. Secara umum, kinerja emiten konglomerasi juga akan dipengaruhi oleh kondisi makro ekonomi, kebijakan suku bunga, nilai tukar, hingga harga komoditas di pasar global. Sedangkan untuk perusahaan investasi seperti Saratoga Investama, kinerjanya akan lebih dipengaruhi oleh dinamika saham dan pembagian dividen dari anak-anak usahanya. Performa saham sebagian emiten holding cenderung kurang diminati oleh para pelaku pasar. 

Tengok saja BNBR dan BHIT yang masih terlelap sebagai saham seharga gocap. Secara year to date. MLPL juga merosot ke level Rp 50-an, meski dalam dua perdagangan terakhir mulai menunjukkan tanda penguatan. Pengamat Pasar Modal dan Pendiri WH-Project, William Hartanto menambahkan, saham anak usaha lebih diminati ketimbang holding lantaran perolehan pendapatan dan laba hingga besaran dividen emiten holding juga tergantung kontribusi dari anak-anak usahanya. Abdul Haq turut menyarankan buy on weakness ASII dan beli SRTG. Rekomendasi dia, buy on weakness ASII di harga Rp 5.100 dengan target Rp 5.275 - Rp 5.425, dan pertimbangkan stoploss jika menembus Rp 4.910.