;
Tags

Saham

( 1736 )

Fase Terburuk Sudah Berlalu

Ayutyas 01 Jun 2020 Investor Daily, 18 Mei 2020

Meski dampak Covid-19 terhadap perekonomian nasional diperkirakan baru benar-benar terasa pada akhir kuartal II-2020, fase terburuk pasar saham sudah berlalu karena para pelaku pasar telah memprice in portofolionya ke depan. Tekanan terhadap pasar saham terjadi sejak Covid-19 merebak di Tiongkok pada akhir Desember 2019, disusul pengumuman kasus corona pertama di Tanah Air pada 2 Maret 2020. Selain dipicu isu corona, pasar bergejolak akibat anjloknya harga minyak, perang dagang, dan meningkatnya risiko resesi. Namun, sejak 26 Maret, tekanan mereda dan IHSG kembali meninggalkan level psikologis 4.000. Sejalan, sebagian saham emiten LQ45 mulai membukukan kinerja positif.

Chief Economist & Director Investment Strategy Bahana TCW Investment Management, Budi Hikmat mengungkapkan, saat-saat terburuk di pasar finansial, khusus pasar saham, terjadi pada pekan ketiga Maret, persisnya pada 24 Maret 2020. Saat itu, indeks bursa global dan negara-negara emerging markets, tak terkecuali IHSG, berguguran dan mengalami underperformed. Kondisi jenuh jual (oversold) di pasar saham meningkat. Pada saat bersamaan, dolar AS menguat dan suku bunga naik. Imbal hasil (yield) obligasi negara melonjak. Sebaliknya, harga emas dan minyak anjlok.

Menurut Budi Hikmat, menyusul turbulensi di pasar finansial pada 24 Maret 2020, para investor global jangka panjang memutuskan untuk mengakumulasi emas. Hal itu tercermin pada kenaikan harga emas. Pada periode yang sama, harga komoditas seperti timah, nikel, gas, batu bara, karet, dan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) anjlok. Ia menjelaskan, perlambatan ekonomi akibat pandemi Covid-19 telah direspons pemerintah berbagai negara, termasuk Indonesia, dengan menggulirkan stimulus, pelonggaran kuantitatif (quantitative easing/QE), dan kebijakan kontrasiklus (counter cyclical). Alhasil, menurut Budi, dunia saat ini mengalami kelebihan likuiditas dan membuka peluang bagi pelemahan dolar AS, kenaikan harga emas, dan kenaikan harga surat berharga negara (SBN) di negara berkembang bila keadaan membaik. Dia menegaskan, kondisi terburuk di pasar finansial sudah berlalu. Variabel-variabel yang muncul saat ini adalah isyarat bagi para investor untuk kembali berinvestasi. Sebagai tambahan, sektor yang berpotensi turun atau membukukan kerugian (potential losers) dalam jangka pendek di antaraya pendidikan, jasa keuangan, manufaktur, konstruksi dan real estat, otomotif, penerbangan dan pelayaran, pariwisata, serta migas. Adapun sektor yang berpotensi naik atau mencetak keuntungan (potential winners) antara lain jasa dan pasokan medis, ritel dan makanan olahan, personal & healthcare, teknologi informasi dan komunikasi, perdagangan secara elektronik (e-commerce), pertanian, serta migas. Ia juga mengakui IHSG berpotensi memberikan return tahunan negatif pada 2020 jika ekonomi nasional bertumbuh terlampau lemah. Pertumbuhan poduk domestik bruto (PDB) akan bergantung pada berapa lama restriksi mobilitas diberlakukan. PDB kuartal I dan II berpotensi jatuh sebelum recover pada kuartal III dan IV.

Equity Analyst Phillip Sekuritas, Anugerah Zamzami mengungkapkan, saham sektor kosumsi rumah tangga (consumer goods) mencatatkan penurunan terendah dibanding sektor lainnya (ytd). Ia meyakini di tengah arus sentimen negatif Covid-19, saham consumer goods punya prospek cerah. Apalagi secara historis, saham-saham sektor konsumsi mampu bertahan di tengah perlambatan ekonomi. Zamzami menambahkan, ketika pasar mengalami bearish seperti sekarang, semua sektor terkoreksi. Namun, sektor konsumsi mengalami penurunan paling sedikit dan menyarankan investor mencermati saham INDF, ICBP, GGRM, HMSP, TLKM, EXCL, UNVR, SIDO, dan TBIG yang di nilai undervalued, padahal berada di sektor defensif dan punya deviden yield yang lumayan baik. Menurut Zamzami, kondisi saat ini adalah new normal bagi pasar saham Indonesia, di mana terjadi volatilitas tinggi dan swing yang besar pada harga saham. Kondisi new normal akan usai setelah pandemi Covid-19 berakhir. Pekan ini, ia memprediksi IHSG bergerak cenderung datar (sideways).

Di sisi lain, analis Binaartha Sekuritas, Nafan Aji Gusta menjelaskan, koreksi yang dialami sektor konsumsi dan farmasi terbilang wajar karena kinerja emiten di sektor tersebut sempat terhambat penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Namun, dengan adanya adaptasi dan meningkatnya permintaan terhadap kebutuhan dasar masyarakat, emiten sektor konsumsi akan berangsur pulih. Saham sektor konsumsi, kata Nafan Aji, tergolong defensif di tengah pandemi Covid-19. Nafan merekomendasikan buy saham TLKM, INDF, dan ICBP.

Di lain pihak, Chief Executive Officer (CEO) Danareksa Investment Management, Marsangap P Tamba menilai, di tengah kondisi new normal, agak sulit memproyeksikan laju IHSG. Dampak pandemi Covid-19 terhadap kinerja emiten baru benar-benar terlihat pada kuartal II-2020. Dia mendefinisikan new normal adalah kondisi saat pemerintah mulai melonggarkan PSBB dan aktivitas ekonomi mulai berjalan, meski pandemi Covid-19 belum berakhir. Kendati demikian, kata Marsangap, masih ada potensi upside trend bagi IHSG ke depan, meski sangat kecil, diiringi fluktuasi yang tinggi. Dengan asumsi perekonomian nasional tahun ini tumbuh 2%, IHSG pada akhir tahun diproyeksikan berada di kisaran 5.000-5.254. Menurut Marsangap Tamba, dalam kondisi new normal sangat sulit sekali menakar seberapa besar ekspektasi emiten untuk pulih. Dia menegaskan, pulihnya IHSG sangat bergantung pada kapan kurva kasus positif pasien Covid-19 melandai. Namun, berbagai relaksasi dan stimulus yang diberikan pemerintah diharapkan dapat dirasakan dalam beberapa bulan ke depan

Sementara itu, pengamat pasar modal Universitas Indonesia (UI), Budi Frensidy menjelaskan, kinerja emiten yang terdampak Covid-19 akan terlihat pada laporan keuangan kuartal II-2020. Setelah Juni, diprediksi banyak emiten merevisi rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) tahun ini. Di tengah pandemi, menurut Budi, ekspektasi wajar terhadap IHSG adalah di level 5.000-an sampai akhir tahun. Posisi itu juga sangat tergantung penanganan pandemi. “Saham-saham consumer goods beser ta farmasi dan produsen produk kesehatan bisa menjadi pilihan jangka panjang. Kalaupun saham-saham ini turun, investor masih berani karena yakin emiten di sektor ini secara fundamental mampu membukukan pertumbuhan laba,” papar dia

Kepala Riset Samuel Sekuritas, Suria Dharma mengatakan, ekspektasi pelemahan ekonomi sudah pasti terjadi sedangkan ekspektasi terhadap pemulihan kinerja emiten pada kuartal III2020 tergantung perkembangan Covid-19 dan PSBB. Menurutnya, saham yang bisa menjadi pilihan antara lain ICBP, INDF, KLBF, TLKM, dan TOWR. Saham ASII, juga bisa menjadi pilihan. Apalagi, ada sentimen dari perusahaan yang akan mendapatkan dana segar Rp 17 triliun hasil penjualan saham PT Bank Permata Tbk (BNLI).

Head of Research Mirae Asset Sekuritas, Hariyanto Wijaya mengemukakan, pihaknya telah menyesuaikan skenario dasar EPS IHSG menjadi 2% secara tahunan pada 2020 sejalan dengan asumsi pertumbuhan PDB Indonesia yang juga direvisi. Target IHSG hingga akhir tahun ini menjadi 5.180.

Menurut analis Sucor Sekuritas, Hendriko Gani, aksi rebalancing dan profit taking menyebabkan beberapa saham di sektor bisnis yang seharusnya meraih keuntungan di tengah pandemi, justru terkoreksi. investor lebih defensif dalam berinvestasi, sehingga melakukan rebalancing dengan keluar dari aset berisiko, seperti saham, lalu masuk ke aset yang lebih defensif, seperti obligasi, money market, atau emas. Dia merekomendasikan HMSP, GGRM, UNVR, dan TBIG yang tergolong emiten berfundamental kuat untuk investasi jangka panjang.

Dana Rp 4,57 Triliun Masuk Pasar Melalui Rights Issue

Ayutyas 23 May 2020 Kontan, 12 Mei 2020

Pasar saham memang masih tertekan. Tapi kondisi tersebut tidak menghalangi sejumlah emiten menggalang pendanaan lewat penawaran saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. Setidaknya, ada tujuh emiten yang berencana menggelar rights issue dengan enam di antaranya untuk mencari pendanaan. Belum semua emiten mengumumkan nilai emisi rights issue, namun setidaknya akan ada dana Rp 4,57 triliun yang masuk bursa saham.

Sekadar informasi, sampai April lalu, ada empat emiten yang mencari pendanaan melalui rights issue. Total emisinya mencapai Rp 4,41 triliun. Sebagai perbandingan, di periode yang sama tahun lalu, ada tiga emiten yang menggelar rights issue dengan nilai emisinya Rp 5,49 triliun.

Presiden Direktur CSA Institute Aria Santoso menilai, maraknya aksi rights issue menandakan emiten mulai berusaha bangkit dari pelemahan bisnis dan mencoba bertahan dengan melakukan penambahan modal. Rights issue juga tidak memberatkan emiten. Sebab, penggalangan dana dengan skema ini tidak menyertakan beban bunga. Selain itu, tekanan di pasar saham mulai berkurang dengan sebulan terakhir IHSG menguat tipis 0,27%.

Analis Panin Sekuritas William Hartanto menilai, salah satu kriteria rights issue yang menarik dieksekusi adalah adanya pembeli siaga atau standby buyer. Ia juga mengingatkan investor agar mencermati kinerja serta strategi bisnis yang selama ini dilakukan emiten. Selain itu, harga pelaksanaan bisa dijadikan pertimbangan. Investor perlu melihat apakah harga pelaksanaan sesuai dengan kondisi perusahaan dan prospek ke depan.

William Hartanto menilai investor bisa memanfaatkan rights issue JPFA untuk mencuil cuan. Sebab, emiten poultry ini juga akan melakukan buyback saham dengan jumlah maksimal 2,5% dari seluruh saham yang telah ditempatkan dengan alokasi dana sebesar Rp 350 miliar.

Rupiah dan IHSG Menguat

Ayutyas 09 May 2020 Republika, 06 May 2020

Melemahnya laju pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2020 tak memengaruhi nilai tukar rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG). Kurs rupiah dan IHSG tetap menguat kendati ekonomi Tanah Air hanya tumbuh 2,97 persen.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, meski pertumbuhan ekonomi kuartal pertama lebih rendah dari perkiraan, masih dapat diterima oleh pasar.

Inflasi April yang rendah di 0,08 persen dan tingginya tingkat pengangguran, yaitu di atas dua juta jiwa, di perkirakan akan membuat pemerintah melonggarkan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Pelonggaran PSBB diharapkan akan membantu roda perekonomian kembali berjalan secara normal sehingga masyarakat bisa kembali beraktivitas seperti biasa.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Selasa menunjukkan rupiah melemah menjadi Rp 15.104 per dolar AS dibanding pada hari sebelumnya di posisi Rp 15.073 per dolar AS.

Analis Indopremier Sekuritas Mino mengatakan, IHSG ditopang oleh data PDB kuartal satu. Meskipun di bawah konsensus, masih positif, beda dengan negara besar lain, seperti Cina dan Amerika yang pertumbuhan ekonominya di kuartal satunya negatif.

Penutupan IHSG diiringi aksi jual saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah jual bersih asing sebesar Rp 429,94 miliar.


Bukit Asam Tetap Atraktif di Tengah Pandemi

Ayutyas 28 Apr 2020 Investor Daily, 27 April 2020

Analis Danareksa Sekuritas Stefanus Darmagiri dalam risetnya, baru-baru ini menilai, meski terdampak pandemi Covid-19, Bukit Asam tetap memiliki kekuatan dan keunggulan yang bisa menjadi sentimen positif terhadap pergerakan harga saham PTBA ke depan. Semisal, berlanjutnya investasi pembangkit listrik dan upaya perseroan untuk efisiensi dengan memangkas stripping ratio serta pembagian dividen yang atraktif (rasio dividen berkisar 75-80%). Hal ini membuat Danareksa Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli saham PTBA dengan target harga Rp 3.200, meskipun pandemi Covid-19 masih melanda dunia yang berimbas terhadap penurunan harga jual batu bara ke depan.

Terkait kinerja keuangan Bukit Asam, Stefanus menyebutkan, laba bersih diperkirakan turun tipis menjadi Rp 3,95 triliun tahun ini dibandingkan raihan tahun lalu senilai Rp 4,05 triliun. Sedangkan penjualan diperkirakan naik dari Rp 21,78 triliun menjadi Rp 22,53 triliun.

Sementara itu, analis Maybank Kim Eng Sekuritas Isnaputra Iskandar menyebutkan bahwa realisasi laba bersih Bukit Asam saat ini setara dengan 113,6% dari target yang di tetapkan awal tahun 2019 sedangkan penjualan pendapatan perseroan setara dengan 103,8% dari target yang telah ditetapkan. Meski begitu, Bukit Asam masih menghadapi tantangan berat tahun ini, khususnya perkiraan penurunan rata-rata harga jual batu bara. Kondisi ini mendorong Maybank Kim Eng Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi hold saham PTBA dengan target harga Rp 2.500.

Sebelumnya, Direktur Keuangan Bukit Asam Mega Satria mengatakan bahwa Bukit Asam berkeinginan untuk mengusulkan rasio pembagian dividen yang dinilai cukup tinggi (sekitar 75%) dari laba bersih tahun 2019 dan menjadi koridor pemegang saham perseroan. Sedangkan untuk kebutuhan ekspansi, perseroan akan mengandalkan kas internal. Tahun ini, perseroan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 4 triliun. Perseroan mengalokasikan dana capex sebesar Rp 3,8 triliun untuk kebutuhan investasi pengembangan dan sisanya Rp 200 miliar untuk investasi rutin.

Asing Mulai Masuk Saham Konsumer

Ayutyas 27 Apr 2020 Kontan, 27 April 2020

Investor asing terus melepas kepemilikannya atas saham-saham bluechip di Bursa Efek Indonesia (BEI). Asing membukukan nilai jual bersih (net sell) hingga Rp 2,6 triliun di seluruh pasar dalam seminggu terakhir. Meski begitu, sejumlah saham malah mencatatkan pembelian dari asing. Net buy asing terlihat di UNVR, UNTR dan ICBP.

Analis Jasa Utama Capital Sekuritas Chris Apriliony menuturkan, investor asing masih membeli saham yang kinerjanya diperkirakan bertahan di tengah pandemi korona. Investor asing rata-rata masuk ke saham konsumer, yang permintaannya tetap tumbuh ketika ekonomi tengah lesu. Sementara UNTR masih diburu karena perusahaan ini memiliki bisnis pertambangan emas yang menjadi nilai tambah. Apalagi, kekhawatiran akan penyebaran virus korona telah menerbangkan harga komoditas emas. Dampak korona juga cenderung minim terhadap emiten rumah sakit dan media, kata Chris, Sabtu (25/4). Menurut dia, saham-saham ini makin menarik karena valuasinya sudah murah. Meski begitu, bukan berarti investor asing sudah pede kembali ke bursa Tanah Air. Chris memperkirakan, arus keluar dana asing masih akan berlanjut. Investor asing akan kembali masuk apabila ada sentimen positif terkait penanganan Covid-19 dan pergerakan nilai tukar rupiah. Investor juga akan positif bila ada perkembangan terkait vaksin virus korona.

Pendapat ini turut didukung Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, ia menyebut pelaku pasar akan melakukan antisipasi terkait dengan kondisi yang terjadi ke depan. Investor asing masih menunggu data terbaru dan menjaga likuiditas dalam bentuk tunai.

Emiten Unggas Trengginas

Ayutyas 26 Apr 2020 Bisnis Indonesia, 24 April 2020

Langkah pemerintah untuk menyerap ayam dari peternak membawa angin segar bagi laju saham emiten perunggasan yang telah menguat dua digit dalam sebulan terakhir. Berdasarkan data Bloomberg, harga saham emiten perunggusan kompak menguat pada sesi perdagangan, diantaranya PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA), PT Malindo Feedmill Tbk. (MAIN), dan PT Sierad Produce Tbk. (SIPD) yang berada dalam tren positif dengan menguat di atas 10% sebulan terakhir. Analis Kresna Sekuritas Timothy Gracianov menjelaskan harga ayam menurun cukup dalam sejak pertengahan Maret lalu, karena sempat menyentuh level di bawah Rp10.000 per kilogram. Pemerintah kini turut turun tangan memenuhi kebutuhan protein masyarakat, seperti bekerja sama dengan Grab Indonesia untuk distribusi pangan agar harga ayam dapat lebih terjaga. Menurut Timothy, dua emiten yang menarik dikoleksi dari sektor perunggasan pada kuartal II/2020 yakni JPFA dan CPIN, karena bertepatan dengan puasa dan Lebaran yang biasanya meningkatkan konsumsi ayam. 

Dalam riset yang dipublikasikan melalui Bloomberg, Analis PT Mirae Asset Sekuritas Emma A. Fauni mengatakan secara historis harga day old chicken dan ayam potong seharusnya lebih tinggi secara musiman selama Ramadan. Saham JPFA menjadi pilihan utama Mirae karena kualitas laba bersih yang lebih baik dan potensi kenaikannya. Di sisi lain analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji memperkirakan produk emiten unggas relatif memiliki permintaan yang stabil, bahkan berpeluang tumbuh positif pada Ramadan kali ini. Secara teknikal, dia masih merekomendasikan hold saham MAIN, JPFA, dan CPIN. Menurutnya, ketiga emiten itu berada dalam fase bullish consolidation.

Emiten Berkapitalisasi diatas Rp 100 Triliun Bertambah

Ayutyas 26 Apr 2020 Kontan, 24 April 2020

JAKARTA. Meski masih belum lepas dari tekanan sentimen negatif penyebaran virus korona dan ancaman perlambatan ekonomi, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang April ini cukup positif. Kenaikan IHSG ini membuat kapitalisasi pasar bursa saham juga meningkat. Saat IHSG anjlok ke level terendah, kapitalisasi pasar sempat turun jadi Rp 4.515,84 triliun. Kemarin, data BEI mencatat kapitalisasi pasar bursa mencapai Rp 5.311 triliun. Di akhir tahun lalu, kapitalisasi pasar mencapai Rp 7.241,91 triliun.

Di akhir 2019, ada 13 emiten yang memiliki kapitalisasi pasar di lebih dari Rp 100 triliun. Saat IHSG turun ke level terendah tahun ini, jumlah emiten dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 100 triliun tersisa delapan saham. Namun kemarin, jumlah emiten dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 100 triliun kembali bertambah menjadi 10 saham.

Namun Direktur Avere Investama Teguh Hidayat mengatakan, saham-saham yang kembali ke jajaran emiten berkapitalisasi raksasa ini tak lantas lantas mengindikasikan pelaku pasar kembali optimistis melihat prospek bursa saham namun lebih karena mekanisme pasar. Hal ini disebabkan harga saham big caps memang sudah turun dalam akibat dampak negatif Covid-19. Sebagian investor menganggap harga saham yang sudah murah ini sebagai peluang untuk kembali masuk dan membeli saham-saham tersebut.

Teguh menilai, saat ini belum ada sentimen positif yang jadi tanda fundamental emiten kembali membaik dan pasar pulih seperti penemuan vaksin, melandainya kasus atau rasio kematian yang semakin mengecil. Terlebih, sejumlah emiten sudah mengonfirmasi kinerja keuangan tahun ini bakal tertekan. Karena itu, masih ada kemungkinan harga saham-saham tersebut kembali turun dan memangkas kapitalisasi pasar

Analis Senior Anugerah Sekuritas Bertoni Rio juga menilai, sentimen positif yang mendorong kenaikan kapitalisasi pasar emiten big caps bersifat terbatas. Secara umum, pasar saham masih dinaungi sentimen negatif. Meski begitu. Ia menilai secara jangka panjang, kinerja emiten big caps berpotensi membaik dengan cepat. Apalagi, saat ini sejatinya sejumlah emiten tengah dinaungi sentimen positif. BRPT misalnya. Anjloknya harga minyak global bisa membuat beban oprasional perusahaan milik Prajogo Pangestu ini jadi lebih murah.

Dari 10 emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar, ASII mencatat pertumbuhan market caps paling rendah. Head of Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menilai ini wajar. Pasalnya, bisnis yang dijalani emiten ini sedang tertekan. Selain bisnis otomotif, ASII juga tertekan oleh potensi berkurangnya pemasukan dari segmen perkebunan.

Asing getol Jualan Saham Big Caps

Ayutyas 22 Apr 2020 Kontan, 20 April 2020

Arus dana asing yang keluar dari bursa saham Tanah Air makin besar, saham emiten berkapitalisasi pasar besar (big caps) menjadi yang paling banyak dilepas asing. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menjadi saham yang paling banyak dilego investor asing

Analis Jasa Utama Capital Sekuritas Chris Apriliony menyebut, hal ini dipicu pandemi Covid-19, pasar berekspektasi kinerja emiten bakal turun akibat pandemi. Saham perbankan akan terpengaruh jika pandemi virus terjadi dalam jangka waktu lama dengan kondisi ekonomi yang lesu beresiko menimbulkan kredit macet. Selain itu, William Hartanto, Analis Panin Sekuritas.mengatakan potensi penurunan peringkat utang Indonesia juga menjadi pertimbangan lain. Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee juga turut mengatakan pandangan serupa setelah pada akhir pekan lalu, S&P Global Rating memangkas outlook utang Indonesia menjadi negatif dan meramal, pertumbuhan Indonesia hanya 1,8% tahun ini akibat Covid-19.

Meski begitu, Hans menuturkan, bila tidak memasukkan faktor virus korona, sejatinya fundamental emiten masih baik. Jadi, bila sentimen pandemi korona berakhir, harga saham berkapitalisasi pasar besar akan cepat pulih.

Prospek Sektoral Emiten Farmasi Masih Seksi

Ayutyas 16 Apr 2020 Bisnis Indonesia, 15 April 2020

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis Indonesia, di tengah gejolak pasar akibat pandemi COVID-19, sembilan saham emiten farmasi kompak melaju di teritori hijau dalam 1 bulan. Penguatan dipimpin oleh saham KAEF dan INAF. Di sisi profitabilitas, mayoritas emiten mengantongi pertumbuhan laba bersih pada 2019.

Sekretaris Perusahaan Kimia Farma Ganti Winarno Putro kepada Bisnis mengatakan Perseroan terus ber upaya men dukung pemerintah da lam penanggu langan penyebaran COVID-19 di Indonesia meski dibayangi terhambatnya pasokan bahan baku obat. Ganti menambahkan PT Kimia Farma Tbk (KAEF) telah menyiapkan mitigasi risiko, seperti mencari sumber bahan baku alternatif ke India, Korea Selatan dan Eropa.

Senada, Sekretaris Perusahaan Phapros (PEHA) Zahmila Akbar mengatakan saat ini perseroan memiliki persediaan beberapa kategori obat untuk peng adaan di pasar reguler bagi kebutuhan seluruh masyarakat Indonesia. Untuk bahan baku obat, PEHA memiliki 2-3 sumber alternatif. 

Hingga Februari 2020, lanjutnya, penjualan Phapros tercatat naik 10% secara tahunan, hal ini juga dialami oleh Kalbe Farma (KLBF) sebagaimana dilansir Direktur Keuangan Kalbe Farma Bernadus Karmin Winata yang mengutarakan sampai saat ini wabah COVID-19 tidak berdampak signi?kan terhadap kegiatan operasi grup dan perseroan telah menargetkan pertumbuhan penjualan bersih pada 2020 sebesar 6%-8% dengan proyeksi pertumbuhan laba bersih sekitar 5%-6%

Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan mengatakan saham sektor farmasi terbilang defensif di tengah pandemi corona dan sahamnya berpotensi naik lebih tinggi apabila market recovery. Hal serupa disampaikan Kepala Riset Samuel Sekuritas Suria Dharma yang menyebutkan emiten farmasi berpeluang bertumbuh karena banyak orang yang memerlukan obat, vitamin, dan alat kesehatan di tengah pandemi COVID-19. Tantangan yang ada adalah bahan baku yang mayoritas diimpor dari China serta tingginya permintaan obat generik yang membuat margin laba tipis.

Secara teknikal, analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani mengungkapkan saham PT Indofarma Tbk (INAF) yang dalam sebulan terakhir melonjak 90 % juga masih berada pada tren menguat dengan support terdekat Rp1.070. Ia menambahkan, selama masih berada di level kisaran Rp1.070, INAF masih berpeluang untuk bergerak positif

Tebar Dividen di Tengah Pandemi

Ayutyas 09 Apr 2020 Bisnis Indonesia, 9 April 2020

Meski sudah mengalokasikan dana khusus untuk rencana pembelian kembali saham atau buyback di tengah pandemi COVID-19, sejumlah emiten berkomitmen tetap menebar dividen kepada para pemegang saham.

Seperti diketahui, otoritas Bursa memberikan relaksasi periode penyelenggaraan rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) yang agendanya mencakup pembahasan dividen tahun buku 2019. Sedikitnya ada 61 emiten yang berencana buyback dalam kondisi pasar berfluktuasi signifkan dengan total pagu dana Rp 47,7 triliun, diantaranya WSKT ( PT Waskita Karya Tbk ), WIKA (PT Wijaya Karya Tbk ), PT Jasa Marga (Persero) Tbk , AKRA ( PT AKR Corporindo Tbk ) termasuk emiten yang berencana melakukan buyback, beberapa data terkait buyback ada sebagai berikut :

  • WSKT Rp 300 miliar (laba bersih 2019 sebesar Rp 938,14 miliar )
  • WIKA Rp 300 miliar (laba bersih 2019 sebesar Rp 2,28 triliun )
  • Jasa Marga Rp 500 miliar.
  • AKRA laba bersih 2019 sebesar Rp 713,62 miliar

Sedangkan rencana pembagian dividen berdasarkan laba bersih tahun 2019, diantaranya:

  • WSKT sebesar Rp 938,14 miliar
  • WIKA sebesar Rp 2,28 triliun (dividen 20 % dari laba bersih)
  • AKRA sebesar Rp 713,62 miliar

Direktur Keuangan dari masing – masing perusahaan menegaskan komitmen dan keyakinan serupa, menurut mereka komitmen ini dapat terjaga karena dana sudah dialokasikan sebelumnya. kalau pun nanti berkurang bukan karna buyback melainkan karena cash perusahaan tertekan akibat turunnya pendapatan semenjak COVID-19.

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan bahwa dalam kondisi seperti saat ini, target dividen 2020 senilai Rp 49 triliun dapat dipastikan meleset dan diharapkan 2022 bisa kembali stabil.

Pilihan Editor