Saham
( 1722 )IPO Penjual Kripto Sukses
Sejarah tercatat di bursa Amerika Serikat (AS). Coinbase Global Inc, perusahaan perantara jual beli kripto terbesar di AS melakukan debut di pasar saham. Dalam debutnya, valuasi Coinbase Global Inc mencapai USS 86 miliar pada Rabu (14/4) waktu setempat.
Saham Coinbase dibuka pada harga US$ 381 per saham, naik 52,4% dari harga referensi US$ 250 per saham yang ditetapkan pada hari sebelumnya. Valuasi Coinbase ini cukup fantastis. Sebagai perbandingan, pemilik Bursa Efek New York, Intercontinental Exchange Inc, memiliki kapitalisasi pasar US$ 66 miliar.
Grab Dikabarkan Beli 4% Saham Emtek, OVO dan DANA Berpotensi Merger?
Grab dikabarkan membeli 4% saham Emtek. Langkah ini dinilai memperbesar peluang OVO dan DANA untuk merger.
Decacorn Singapura, Grab dikabarkan membeli sekitar 4% saham konglomerat media di Indonesia Elang Mahkota Teknologi (Emtek). Langkah ini dinilai memperbesar peluang OVO dan DANA untuk merger. Nilai saham yang dibeli oleh Grab disebut-sebut lebih dari Rp 4 triliun. “Ini dalam penerbitan saham baru melalui skema private placement baru-baru ini,” kata sumber Straits Times, Kamis (15/4)
Emtek mengumumkan telah menerbitkan 4,76 miliar saham baru dalam penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) atau private placement. Perusahaan pun mengantongi dana segar Rp 9,3 triliun. Hasil dari private placement itu akan digunakan untuk mengembangkan bisnis Emtek, serta mendanai operasional harian.
Masuknya investor baru itu berdampak pada kepemilikan pemegang saham sebelumnya yang mengalami penurunan alias terdilusi. Ini termasuk kepemilikan saham bos Indofood Anthony Salim yang turun dari 9,08% menjadi 8,38%. Lalu kepemilikan bos Emtek Eddy K Sariaatmadja juga turun dari 24,9% menjadi 22,96%. Sedangkan saham milik Adikarsa Sarana terdilusi dari 11,53% menjadi 10,03%.
Potensi OVO dan DANA Merger
Dalam keterbukaan informasi terkait laporan keuangan kuartal IV tahun lalu, anak usaha Emtek yakni Kreatif Media Karya (KMK) menjual 6% saham Elang Andalan Nusantara (EAN) Rp 76 miliar pada 30 Desember 2020.
Sedangkan Grab yang dikabarkan membeli 4% saham Emtek, mendukung OVO. Masuknya decacorn Singapura itu ke Emtek dinilai membuka peluang OVO dan DANA merger. Kabar OVO dan DANA akan merger sebenarnya sudah berhembus sejak 2019. Pendiri sekaligus pemilik Lippo Grup Mochtar Riady mengatakan, perusahaannya menjual dua pertiga saham OVO. Pada akhir 2019, Grab dikabarkan dalam pembicaraan untuk membeli DANA dari Emtek. Sumber Reuters mengatakan, decacorn asal Singapura ini berencana menggabungkan OVO dengan DANA. Hal itu untuk melawan dominasi GoPay besutan Gojek.
(Oleh - HR1)
Papua Akhirnya Memiliki 10% Saham Freeport
Pemerintah daerah Papua sebentar lagi mendapatkan jatah 10% saham PT Freeport Indonesia. Pemda melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Papua Divestasi Mandiri akan menggenggam saham Freeport. Dari porsi itu, Pemkab Mimika akan menguasai 70% dan Pemprov Papua 30%.
Kepala Biro Hukum Sekretariat Daerah Pemprov Papua Derek Hegemur mengungkapkan, Pemprov Papua dan Pemkab Mimika telah melakukan pertemuan rutin untuk membahas pengalihan jatah 10% saham Freeport.
Saat ini, 10% saham untuk Pemda Papua secara tidak langsung akan ditampung dalam PT Indonesia Papua Metal dan Mineral (IPMM). IPMM merupakan perusahaan patungan (joint venture) antara Inalum dan BUMD Papua.
Nilai transaksi dari proses peralihan 10% saham Freeport oleh PT Papua Divestasi Mandiri diperkirakan mencapai USS 818 juta.
Bursa Kripto Segera Meluncur
Bisnis, JAKARTA — Booming aset kripto beberapa waktu belakangan membuat pemangku kepentingan perdagangan berjangka berinisiatif membangun pasar crypto asset yang akan diluncurkan pada kuartal I/2021.
Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia (KBI) Fajar Wibhiyadi menyatakan pihaknya tengah menggarap bursa untuk aset kripto di Indonesia. Langkah ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk memperkuat ekosistem perdagangan aset kripto di dalam negeri yang potensinya besar.
Saat ini, KBI tengah menyampaikan permohonan izin dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti). Pada saat bersamaan, PT KBI juga terus menyiapkan infrastruktur pendukung seperti teknologi informasi, ketentuan syarat permodalan, dan lainnya.
Menurut Fajar, aset-aset kripto yang dapat diperdagangkan pada bursa sudah ditentukan berdasarkan sejumlah kriteria, salah satunya sudah mendapat perizinan dari Bappebti guna memberi perlindungan pada para investor.
Dia juga mengimbau calon investor untuk mengetahui ketentuan yang ada terlebih dahulu sebelum berinvestasi.
Grup MNC Akuisisi Broker Saham Wall Street
PT MNC Kapital Indonesia Tbk (BCAP), perusahaan yang dikendalikan oleh Hary Tanoesoedibjo, mengakuisisi mayoritas saham Auerbach Grayson & Company LLC (AGCO), perusahaan sekuritas asal New York, Amerika Serikat (AS). Akuisisi broker saham di Wall Street tersebut bertujuan untuk memperluas jaringan distribusi produk pasar modal dan penggalangan dana Grup MNC di AS dan Eropa. Akuisisi Auerbach Grayson dilakukan oleh anak usaha MNC Kapital, Winfly Ltd. Sebelumnya, Auerbach Grayson dimiliki oleh bank investasi terkemuka yang berpusat di Mesir, Beltone Financial Holding. Kesepakatan ini telah diselesaikan setelah mendapat persetujuan dari Financial Industry Regulatory Authority, AS. Setelah transaksi, Winfly menjadi pengendali saham Auerbach Grayson, sementara Co-Founder Auerbach Grayson, David Grayson membeli kembali sisa saham. Akuisisi ini bertujuan untuk melengkapi jaringan distribusi kegiatan pasar modal MNC Sekuritas sebagai broker saham, pasar utang, investment banking, riset, dan online trading, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga menjangkau hingga komunitas investasi global. Executive Chairman of MNC Group Indonesia Hary Tanoesoedibjo mengatakan MNC Kapital akan mendapatkan keuntungan akses ke 126 mitra lokal di seluruh dunia. Auerbach Grayson diharapkan dapat menjadi jalur distribusi Grup MNC untuk placement dan fundraising di AS maupun Eropa. Selain itu, Auerbach Grayson akan ikut berperan mengembangkan manajemen aset di bawah MNC Kapital. Sementara itu, Co-Founder Auerbach Grayson & Company, David Grayson menyediakan penelitian, juga akses ke lebih dari 125 pasar di seluruh dunia kepada klien institusi Auerbach Grayson.
Transaksi Saham, Ramai-ramai Menyoal Bea Materai
Bisnis, JAKARTA — Tak hanya investor individu, sejumlah manajer investasi dan perusahaan sekuritas ikut angkat bicara atas
rencana pengenaan bea materai atas setiap konfirmasi transaksi saham harian. Ada risiko penerimaan imbal hasil terutama
pada reksa dana exchange traded fund atau ETF.
Sebelumya, Bursa Efek Indonesia mengumumkan bahwa
setiap laporan transaksi atau
trade confirmation (TC) tanpa
batasan nilai nominal yang diterima investor sebagai dokumen
transaksi surat berharga akan dikenakan
bea meterai sebesar Rp10.000 per dokumen.
Hal itu berkaitan dengan ketentuan dalam
Undang-Undang Nomor 10 tahun 2020
tentang Bea Meterai (UU Bea Meterai).
Setelah wacana ini digulirkan, sebuah
petisi dari investor ritel disampaikan lewat platform Change.org agar pemerintah
mengevaluasi lagi kebijakan yang dikeluarkan di tengah euforia naiknya jumlah
single investor identification (SID). Hingga
kemarin sore, petisi sudah diteken lebih
dari 5.000 warganet.
Menurut data BEI, tahun ini jumlah
SID tumbuh 48,82% atau 1.212.930 SID
menjadi 3.697.284 SID per 10 Desember
2020. Untuk SID baru saham, ada 488.088
SID, jumlahnya naik 93,4% dibandingkan
dengan tahun lalu. Total, jumlah investor
saham per 10 Desember adalah 1,59 juta
SID atau setara dengan 44,19% dari jumlah
investor saham di pasar modal Indonesia.
Rata-rata nilai transaksi harian periode
Januari–November 2020 yang mencapai
Rp8,42 triliun, sebanyak 45,9% di antaranya
dikontribusikan oleh aktivitas transaksi yang
dilakukan oleh investor ritel dan tertinggi
sepanjang sejarah.
Keresehan juga disampaikan sejumlah
manajer investasi (MI) yang menilai pemberlakuan bea meterai untuk setiap TC atas
surat berharga di bursa akan mengurangi
potensi imbal hasil di produk reksa dana.
Head of Investment Avrist Asset Management Farash Farich mengatakan risiko
penurunan potensi imbal hasil investasi
reksa dana terutama berkaitan dengan
produk ETF yang ditransaksikan di bursa
Setali tiga uang, Direktur Panin Asset Management Rudiyanto berpandangan bahwa bea meterai dibebankan kepada investor memang akan sangat memberatkan investor reksa dana kecil dan pemula.
Namun, disebutkannya, dalam UU Bea
Meterai terdapat pengecualian untuk instrumen yang terbitkan oleh kustodian.
Alhasil, Direktorat Jenderal Pajak (DJP)
perlu memberikan penegasan terkait dengan konfirmasi pembelian, penjualan,
pengalihan dan laporan bulanan untuk
produk reksa dana yang akan dikenakan
bea meterai.
Presiden Direktur RHB Sekuritas Iwanho
mengatakan pihaknya dan Asosiasi Perusahaan Efek sudah memberikan masukan
mengenai skema aturan bea meterai yang
berlaku untuk transaksi bursa. “Hal ini
bisa berdampak ke investor ritel, yang so
far terbukti menjadi salah satu penyokong
indeks kita,” katanya.
Terpisah, Kepala Riset NH Korindo Sekuritas Indonesia Anggaraksa Arismunandar
mengatakan pemberlakuan bea materai
pada setiap transaksi memang akan terasa
cukup memberatkan bagi investor ritel yang
rutin melakukan trading harian dengan
nominal yang tidak besar.
BEI Soft Launching Dua Produk Baru Derivatif
Bursa Efek Indonesia (BEI) menggelar soft launching
IDX30 Futures dan Basket Bond
Futures. Kedua produk derivatif ini
ditargetkan memberikan lindung
nilai dan return yang sesuai dengan
kebutuhan investor.
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Laksono
W Widodo mengatakan, produk
IDX30 Futures merupakan kontrak
berjangka yang terdiri atas indeks
efek IDX30. Sedangkan Basket
Bond Futures adalah sekumpulan
surat utang negara.
Kedua produk tersebut merupakan produk derivatif yang dapat
digunakan sebagai sarana lindung
nilai oleh investor. Menurut Laksono, IDX30 futures dan Basket
Bond Futures ditujukan untuk
investor institusi yang mempunyai pengetahuan advance tentang
pasar.
Adapaun tantangan utama bursa
dalam soft launching kedua produk
ini adalah membangun pasar yang
belum terbentuk, mulai dari menambah jumlah investor kontrak
berjangka yang jumlahnya masih
sangat minim, hingga membangun
kapasitas AB yang masih kurang
pengalaman di pasar derivatif.
Peluncuran kedua produk tersebut diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia,
sehingga mendukung peningkatan
nilai transaksi, jumlah investor dan
peningkatan daya tahan industri
pasar modal terhadap fluktuasi
pasar global di masa depan
Induk Japfa Comfeed Lepas 80% Saham Greenfields Dairy ke TPG dan North Star
Japfa Ltd, induk usaha PT Japfa Comfeed Indonesia tbk (JPFA) bersiap melepas 80% saham greenfields Dairy Singapore Pte ltd kepada TPG dan Northstar Group. Nilai transaksi penjualan saham tersebut mencapai US$ 236 juta dimana alur transaksinya adalah Japfa akan melepas terlebih dahulu 100% saham Greenfields Dairy kepada perusahaan patungan yang khusus didirikan untuk menguasai saham Greenfields, yakni Freshness Ltd. Nilai transaksi pelepasan saham ini mencapai US$ 295 juta, yang terdiri atas dua komponen, yakni uang tunai US$ 236 juta dan 20% saham pada Freshness Ltd.
CEO Japfa Tan Yong Nang mengatakan, bisnis susu perseroan telah
berkembang pesat dalam beberapa
tahun terakhir di Tiongkok dan Asia
Tenggara. Pihaknya mengapresiasi
kemitraan strategis yang terjalin dengan TPG dan Northstar Group. Aksi
ini diharapakan dapat mempercepat
pertumbuhan Greenfields di Asia Tenggara ke depan. “Dengan mempertahankan 20% saham di bisnis Asia Tenggara ini, Japfa dapat meraih potensi
keuntungan yang meningkat,” jelas dia
dalam keterangan resmi di Bursa Efek
Singapura (SGX), Senin (7/12).
Managing Director TPG Capital
Asia David Tan mengatakan, investasi di Greenfields merupakan
investasi ketiga perusahaan di sektor
susu. Pihaknya berharap dapat melakukan investasi lainnya di Indonesia.
Perseroan optimistis kualitas produk
Greenfields akan terus tumbuh dan
menarik minat konsumen.
Sementara itu, Co-Chief Investment
Officer Northstar Group Sunata Tjiterosampurno mengatakan, perusahaan yakin tren peningkatan konsumsi
susu akan berlanjut di Asia Tenggara
lantaran masyarakat semakin fokus
terhadap kesehatan.
Induk Japfa Comfeed Lepas 80% Saham Greenfields Dairy ke TPG dan North Star
Japfa Ltd, induk usaha PT Japfa Comfeed Indonesia tbk (JPFA) bersiap melepas 80% saham greenfields Dairy Singapore Pte ltd kepada TPG dan Northstar Group. Nilai transaksi penjualan saham tersebut mencapai US$ 236 juta dimana alur transaksinya adalah Japfa akan melepas terlebih dahulu 100% saham Greenfields Dairy kepada perusahaan patungan yang khusus didirikan untuk menguasai saham Greenfields, yakni Freshness Ltd. Nilai transaksi pelepasan saham ini mencapai US$ 295 juta, yang terdiri atas dua komponen, yakni uang tunai US$ 236 juta dan 20% saham pada Freshness Ltd.
CEO Japfa Tan Yong Nang mengatakan, bisnis susu perseroan telah
berkembang pesat dalam beberapa
tahun terakhir di Tiongkok dan Asia
Tenggara. Pihaknya mengapresiasi
kemitraan strategis yang terjalin dengan TPG dan Northstar Group. Aksi
ini diharapakan dapat mempercepat
pertumbuhan Greenfields di Asia Tenggara ke depan. “Dengan mempertahankan 20% saham di bisnis Asia Tenggara ini, Japfa dapat meraih potensi
keuntungan yang meningkat,” jelas dia
dalam keterangan resmi di Bursa Efek
Singapura (SGX), Senin (7/12).
Managing Director TPG Capital
Asia David Tan mengatakan, investasi di Greenfields merupakan
investasi ketiga perusahaan di sektor
susu. Pihaknya berharap dapat melakukan investasi lainnya di Indonesia.
Perseroan optimistis kualitas produk
Greenfields akan terus tumbuh dan
menarik minat konsumen.
Sementara itu, Co-Chief Investment
Officer Northstar Group Sunata Tjiterosampurno mengatakan, perusahaan yakin tren peningkatan konsumsi
susu akan berlanjut di Asia Tenggara
lantaran masyarakat semakin fokus
terhadap kesehatan.
Tren Penggunaan Sarung Tangan, MARK Prediksi Penjualan 2021 Melonjak 72%
Presiden Direktur PT Mark Dynamics
Indonesia Tbk. (MARK) Ridwan Goh memproyeksi perseroan dapat mencetak laba
sebesar Rp228 miliar sepanjang tahun depan. Target itu meningkat sebesar 66%
dibandingkan dengan target laba tahun ini sebanyak Rp138 miliar. Dia menyatakan
kenaikan target itu didasarkan pada lonjakan permintaan sarung tangan sepanjang
2020
Ridwan melanjutkan emiten dengan sandi saham MARK itu sudah mengantongi kontrak senilai US$52 juta untuk pengapalan pada tahun depan. MARK juga meningkatkan kapasitas produksinya dari yang semula sebanyak 700.000 unit per bulan menjadi 800.000 unit per bulan sejak kuartal III/2020. MARK akan menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp150 miliar untuk pembangunan pabrik baru. Angka tersebut sudah mencakup biaya untuk mendirikan bangunan, pembelian mesin serta instalasi mesin. Harga saham MARK melonjak 92,47% (ytd) ke posisi Rp870 per lembar saham pada 31 Oktober 2020. Sebelumnya harga saham emiten itu adalah Rp452 per lembar saham pada awal 2020.








