Saham
( 1717 )BEI Soft Launching Dua Produk Baru Derivatif
Bursa Efek Indonesia (BEI) menggelar soft launching
IDX30 Futures dan Basket Bond
Futures. Kedua produk derivatif ini
ditargetkan memberikan lindung
nilai dan return yang sesuai dengan
kebutuhan investor.
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Laksono
W Widodo mengatakan, produk
IDX30 Futures merupakan kontrak
berjangka yang terdiri atas indeks
efek IDX30. Sedangkan Basket
Bond Futures adalah sekumpulan
surat utang negara.
Kedua produk tersebut merupakan produk derivatif yang dapat
digunakan sebagai sarana lindung
nilai oleh investor. Menurut Laksono, IDX30 futures dan Basket
Bond Futures ditujukan untuk
investor institusi yang mempunyai pengetahuan advance tentang
pasar.
Adapaun tantangan utama bursa
dalam soft launching kedua produk
ini adalah membangun pasar yang
belum terbentuk, mulai dari menambah jumlah investor kontrak
berjangka yang jumlahnya masih
sangat minim, hingga membangun
kapasitas AB yang masih kurang
pengalaman di pasar derivatif.
Peluncuran kedua produk tersebut diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia,
sehingga mendukung peningkatan
nilai transaksi, jumlah investor dan
peningkatan daya tahan industri
pasar modal terhadap fluktuasi
pasar global di masa depan
Induk Japfa Comfeed Lepas 80% Saham Greenfields Dairy ke TPG dan North Star
Japfa Ltd, induk usaha PT Japfa Comfeed Indonesia tbk (JPFA) bersiap melepas 80% saham greenfields Dairy Singapore Pte ltd kepada TPG dan Northstar Group. Nilai transaksi penjualan saham tersebut mencapai US$ 236 juta dimana alur transaksinya adalah Japfa akan melepas terlebih dahulu 100% saham Greenfields Dairy kepada perusahaan patungan yang khusus didirikan untuk menguasai saham Greenfields, yakni Freshness Ltd. Nilai transaksi pelepasan saham ini mencapai US$ 295 juta, yang terdiri atas dua komponen, yakni uang tunai US$ 236 juta dan 20% saham pada Freshness Ltd.
CEO Japfa Tan Yong Nang mengatakan, bisnis susu perseroan telah
berkembang pesat dalam beberapa
tahun terakhir di Tiongkok dan Asia
Tenggara. Pihaknya mengapresiasi
kemitraan strategis yang terjalin dengan TPG dan Northstar Group. Aksi
ini diharapakan dapat mempercepat
pertumbuhan Greenfields di Asia Tenggara ke depan. “Dengan mempertahankan 20% saham di bisnis Asia Tenggara ini, Japfa dapat meraih potensi
keuntungan yang meningkat,” jelas dia
dalam keterangan resmi di Bursa Efek
Singapura (SGX), Senin (7/12).
Managing Director TPG Capital
Asia David Tan mengatakan, investasi di Greenfields merupakan
investasi ketiga perusahaan di sektor
susu. Pihaknya berharap dapat melakukan investasi lainnya di Indonesia.
Perseroan optimistis kualitas produk
Greenfields akan terus tumbuh dan
menarik minat konsumen.
Sementara itu, Co-Chief Investment
Officer Northstar Group Sunata Tjiterosampurno mengatakan, perusahaan yakin tren peningkatan konsumsi
susu akan berlanjut di Asia Tenggara
lantaran masyarakat semakin fokus
terhadap kesehatan.
Induk Japfa Comfeed Lepas 80% Saham Greenfields Dairy ke TPG dan North Star
Japfa Ltd, induk usaha PT Japfa Comfeed Indonesia tbk (JPFA) bersiap melepas 80% saham greenfields Dairy Singapore Pte ltd kepada TPG dan Northstar Group. Nilai transaksi penjualan saham tersebut mencapai US$ 236 juta dimana alur transaksinya adalah Japfa akan melepas terlebih dahulu 100% saham Greenfields Dairy kepada perusahaan patungan yang khusus didirikan untuk menguasai saham Greenfields, yakni Freshness Ltd. Nilai transaksi pelepasan saham ini mencapai US$ 295 juta, yang terdiri atas dua komponen, yakni uang tunai US$ 236 juta dan 20% saham pada Freshness Ltd.
CEO Japfa Tan Yong Nang mengatakan, bisnis susu perseroan telah
berkembang pesat dalam beberapa
tahun terakhir di Tiongkok dan Asia
Tenggara. Pihaknya mengapresiasi
kemitraan strategis yang terjalin dengan TPG dan Northstar Group. Aksi
ini diharapakan dapat mempercepat
pertumbuhan Greenfields di Asia Tenggara ke depan. “Dengan mempertahankan 20% saham di bisnis Asia Tenggara ini, Japfa dapat meraih potensi
keuntungan yang meningkat,” jelas dia
dalam keterangan resmi di Bursa Efek
Singapura (SGX), Senin (7/12).
Managing Director TPG Capital
Asia David Tan mengatakan, investasi di Greenfields merupakan
investasi ketiga perusahaan di sektor
susu. Pihaknya berharap dapat melakukan investasi lainnya di Indonesia.
Perseroan optimistis kualitas produk
Greenfields akan terus tumbuh dan
menarik minat konsumen.
Sementara itu, Co-Chief Investment
Officer Northstar Group Sunata Tjiterosampurno mengatakan, perusahaan yakin tren peningkatan konsumsi
susu akan berlanjut di Asia Tenggara
lantaran masyarakat semakin fokus
terhadap kesehatan.
Tren Penggunaan Sarung Tangan, MARK Prediksi Penjualan 2021 Melonjak 72%
Presiden Direktur PT Mark Dynamics
Indonesia Tbk. (MARK) Ridwan Goh memproyeksi perseroan dapat mencetak laba
sebesar Rp228 miliar sepanjang tahun depan. Target itu meningkat sebesar 66%
dibandingkan dengan target laba tahun ini sebanyak Rp138 miliar. Dia menyatakan
kenaikan target itu didasarkan pada lonjakan permintaan sarung tangan sepanjang
2020
Ridwan melanjutkan emiten dengan sandi saham MARK itu sudah mengantongi kontrak senilai US$52 juta untuk pengapalan pada tahun depan. MARK juga meningkatkan kapasitas produksinya dari yang semula sebanyak 700.000 unit per bulan menjadi 800.000 unit per bulan sejak kuartal III/2020. MARK akan menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp150 miliar untuk pembangunan pabrik baru. Angka tersebut sudah mencakup biaya untuk mendirikan bangunan, pembelian mesin serta instalasi mesin. Harga saham MARK melonjak 92,47% (ytd) ke posisi Rp870 per lembar saham pada 31 Oktober 2020. Sebelumnya harga saham emiten itu adalah Rp452 per lembar saham pada awal 2020.
Grup Telkom Siapkan IPO Saham 4 Start-up
PT Telekomunikasi Indonesia Tbk
(TLKM) atau Telkom melalui MDI Ventures berencana membawa minimal empat portofolio investasi
perusahaan rintisan (start-up) untuk melangsungkan penawaran umum perdana (initial public
offering/IPO) saham dalam periode dua tahun ke
depan. Adapun satu start-up ditargetkan IPO pada
kuartal I-2021.
Managing Partner MDI Ventures
Singapore Kenneth Li mengatakan,
pihaknya telah berdiskusi dengan
sejumlah penjamin emisi (underwiter) terkait rencana IPO salah
satu portofolio start-up tahun depan.
Pihaknya belum dapat menyebutkan nama start-up tersebut,
namun dipastikan perusahaan itu
bergerak dalam bisnis software as
a service (SaaS).
Kenneth menegaskan, saham start-up tersebut yang akan
dilepas ke publik sekitar 20-25%. Sementara, dana IPO yang ditargetkan
minimal Rp 100-150 miliar. Start-up
ini tergolong menjanjikan karena
sudah pro table selama lebih dari
tiga tahun.
Dia menambahkan, IPO startup memang menjadi salah satu
strategi exit perseroan. Strategi ini
disiapkan secara matang.
Seperti diketahui, MDI Ventures merupakan unit bisnis Telkom yang agresif mengucurkan pendanaan ke start-up potensial. Selain MDI Ventures, anak usaha Telkom lainnya, yakni PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) juga aktif berinvestasi pada start-up potensial. Pada 16 November, Telkomsel resmi menandatangani perjanjian investasi senilai US$ 150 juta dengan PT Aplikasi Karya Anak Bangsa atau Gojek. Dalam kolaborasi ini, Gojek dan Telkomsel akan saling memperkuat layanan digital, mendorong inovasi dan produk baru, serta meningkatkan kenyamanan bagi para pengguna dan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Kerja sama ini mer upakan per luasan kolaborasi Gojek dan Telkomsel yang menawarkan paket data terjangkau kepada mitra pengemudi Gojek sejak 2018. Kedua perusahaan juga siap berkolaborasi di bidang gaya hidup digital serta mengembangkan solusi teknologi periklanan digital untuk para pelaku usaha.
Seperti diketahui, sebagai unicorn, Gojek mempunyai rekam
jejak menarik investor ternama
kelas dunia sepanjang 2020, seperti
Facebook, Paypal, Google dan Tencent pada Juni. Sebelumnya, Gojek
juga mengantongi pendanaan seri
F dengan nilai US$ 1,2 miliar dari
Visa, Mitsubishi Motors, Mitsubishi
Corporation, dan Mitsubishi UFJ
Financial Group pada Maret.
Sentimen Kendaraan Listrik, Demam Saham Emiten Nikel Potensial Berlanjut
#APK
Demam saham itu lantaran harga komoditas tersebut berada dalam tren bullish dan prospek gencarnya penetrasi kendaraan listrik secara global, mengingat logam dasar itu merupakan bahan baku utama baterai kendaran listrik. Berdasarkan data Bloomberg harga nikel di bursa London telah menguasai hingga 9,42% sepanjang tahun berjalan 2020. Nikel sempat ditutup di level US$16.203 per ton pada medio Oktober 2020.
Adapun, saham yang di serbu investor antara lain, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) yang berhasil menguat 33,93% sepanjang tahun 2020 dan teraprestasi hingga 56,25% dalam 3 bulan perdagangan terakhir. Selain itu, saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) juga menguat 17,31% sepanjang tahun berjalan 2020 dan naik 24,49% dalam 3 bulan perdagangan terakhir.
Analis RHB Sekuritas Ghibran Al Imran mengatakan bahwa minat investor yang tinggi terhadap saham-saham nikel dapat bertahan untuk jangka waktu yang panjang apalagi jika harga nikel dapat bertahan di posisinya saat ini. Adapun, di antara saham nikel lainnya Ghibran cenderung berpihak terhadap INCO mengingat fokus utama bisnis emiten itu di nikel, sedangkan ANTM memiliki lini bisnis emas yang berisiko turun pada tahun depan seiring dengan pemulihan ekonomi.
Dalam kesempatan terpisah, Direktur PT Anugrah Mega Investama Hans Kwee mengatakan bahwa saham sektor komoditas akan menjadi saham pilihan investor pada tahun depan seiring dengan pemulihan ekonomi.
Mind ID Resmi Kendalikan 20% Saham Vale
Vale Canada Ltd dan Sumitomo Metal Mining Co Ltd telah menyelesaikan penjualan dan pengalihan 20% kepemilikan saham di PT Vale Indonesia ( INCO ) kepada PT Indonesia Asahan Aluminium ( Inalum ) atau Mining Industry Indonesia ( MIND ID ). Nilai transaksinya mencapai Rp. 5,52 triliun. Aksi pelepasan 20% saham Vale Indonesia ini bertujuan memenuhi kewajiban divestasi Vale berdasarkan amandemen Kontrak Karya ( KK ) tanggal 17 Oktober 2014 yang ditandatangani oleh Vale Indonesia dan Pemerintah Republik Indonesia. Berdasarkan amandemen KK, divestasi merupakan salah satu kewajiban yang harus dipenuhi Vale untuk melanjutkan operasinya setelah tahun 2025.
CEO dan presiden Direktur Vale Indonesia Nico Kanter mengatakan, penyelesaian divestasi ini mendapatkan perseroan pada posisi yang tepat untuk tetap berkontribusi bagi pembangunan Indonesia. Selain itu, divestasi juga memperkuat komitmen jangka panjang Vale terhadap pengolahan sumber daya nikel guna peningkatan nilai tambah, keberlanjutan, dan pemberdayaan lokal di negara ini. Sebagai informasi, 20% saham Vale yang di divestasikan ini setara 1,98 miliar saham. Rinciannya 14,9% merupakan kepemilikan Vale Canada dan sisa 5,1% adalah kepemilikan Sumitomo Metal Mining. Dengan demikian, setelah transaksi ini, struktur kepemilikan saham Vale Indonesia berubah yakni Vale Canada sebesar 43,79%. Sumitomo Metal Mining 15,03%, Vale Japan Ltd 0,55%, Sumitomo Corp 0,14%, Inalum 20%, dan publik menguasai 20,49%. Kiswoyo Adi Joe mengatakan, nilai saham Vale yang dibeli MIND ID sebesar Rp. 2.780 per saham terbilang menguntungkan atau murah bagi MIND ID.
Sebab, setidaknya dalam 30 hari perdagangan bursa terakhir, rata – rata saham Vale sekitar Rp. 3.762 per saham. Ke depan, lanjut dia, prospek pergerakan harga saham Vale sangat tergantung dari harga pergerakan komoditas nikel. Untuk sementara, pihaknya merekomendasikan buy on weakness saham INCO pada area Rp. 3.000-3.100, dengan target harga sampai akhir tahun ini dilevel Rp. 3.600-4.000. Adapun pada perdagangan Rabu ( 7/10 ), saham INCO bertengger pada posisi Rp. 3.440. Vale punya rencana ekspansi yang terukur dan efisien. Proyek mereka berada dalam satu area yang dekat dengan tambang – tambangnya“ jelas Kiswoyo.Independensi BI Dikekang, Pelaku Pasar Pilih Hengkang
Ketidakpastian di pasar keuangan dalam negeri bertambah. Rupiah anjlok 1,18% terhadap dollar Amerika Serikat (AS) pada 2 September. Depresiasi terus terjadi hingga terakumulasi 1,21% selama tiga hari perdagangan mata uang rupiah, hingga akhir pekan lalu, Jumat (4/9). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga sudah merosot tiga hari berturut-turut. Penurunan IHSG mencapai 1,54%. Di periode tersebut, investor asing mencetak net sell Rp 2,62 triliun.
BI terancam tidak independen karena RUU tersebut menempatkan BI di bawah Dewan Moneter yang dikepalai Menteri Keuangan. Apalagi, Menkeu juga dikabarkan bisa mempengaruhi kebijakan moneter yang selama ini digawangi bank sentral. Independensi BI mulai dipertanyakan setelah ada kesepakatan pembagian beban atawa burden sharing awal Juli kemarin.
Dalam kesepakatan ini, BI menjadi sebagai standby buyer atas surat berharga negara hingga 2022. "Keputusan memperluas mandat BI termasuk untuk menopang pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja merupakan kesalahan," tandas Anthony.
Kebijakan moneter BI selama ini terbilang sukses dalam menjaga rupiah, hingga tak mengalami depresiasi lebih dalam. "Intervensi pemerintah yang terlalu besar merupakan sesuatu yang berlawanan dengan praktik kebijakan moneter terbaik di dunia," tandas Anthony.
Hans Kwee, Direktur Anugerah Mega Investama, menilai, keseimbangan kebijakan fiskal dan moneter sangat perlu dalam ekonomi. Pemerintah bisa mendorong ekonomi melalui kebijakan fiskal, BI menjaga stabilitas ekonomi melalui kebijakan moneter.
Pelaku pasar juga mengkhawatirkan, seiring berkurangnya independensi BI dan besarnya intervensi pemerintah, BI hanya jadi alat pembayaran pemerintah. "Pasar takut hal ini mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan," imbuh Hans.
Tak heran, persepsi pelaku pasar terhadap risiko berinvestasi di Indonesia juga kembali meningkat. Ini terlihat dari pergerakan credit default swap (CDS) Indonesia.Per Jumat (4/9), CDS Indonesia tenor 10 tahun di level 152,69. Padahal Rabu (2/9), CDS sempat di level 149,80, posisi terendah sejak Maret 2020.
Laba Anjlok, Bank Memilih Hati-hati
Pandemi Covid-19 mengguncang perekonomian dunia. Menyikapi situasi ini, industri perbankan memilih berhati-hati. Bank juga merevisi rencana bisnis sesuai kondisi terkini. Pada semester I-2020, bank-bank BUMN masih membukukan laba bersih. Kendati demikian, dibandingkan dengan semester I-2019, laba bersih pada Januari-Juni tahun ini anjlok.
Laba bersih konsolidasi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebesar Rp 10,2 triliun atau merosot 36,88 persen secara tahunan. Laba bersih yang dibukukan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk turun 23,93 persen secara tahunan menjadi Rp 10,293 triliun. Sementara PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk meraup laba bersih Rp 4,46 triliun atau anjlok 41,6 persen secara tahunan. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia yang dikutip Kamis (20/8/2020), harga saham ketiga bank BUMN tersebut cenderung stabil pada perdagangan Rabu (19/8). Harga saham Bank BRI ditutup pada posisi Rp 3.560 per lembar saham, Bank BNI senilai Rp 5.050, dan Bank Mandiri sebesar Rp 6.100.
Direktur Utama BRI Sunarso dalam paparan kinerja secara virtual, Rabu, menyampaikan, laba bersih konsolidasi turun karena pendapatan bunga berkurang. Hal ini merupakan dampak stimulus restrukturisasi kredit terhadap pandemi Covid-19. Restrukturisasi kredit untuk membantu usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) bertahan di masa pandemi, hingga 31 Juli 2020, sebesar Rp 183,7 triliun bagi 2,9 juta debitor. “Sejak awal pandemi, BRI berkomitmen fokus mengupa- yakan penyelamatan dan membantu kebangkitan UMKM. Meski fokus pada penyelamatan UMKM, bisnis BRI tetap tumbuh,” ujarnya.
Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo menambahkan, dengan risiko ketidakpastian kondisi perekonomian akibat pandemi Covid-19, BRI merevisi rencana bisnis. Pertumbuhan kredit direvisi dari dua angka menjadi 4-5 persen.
Direktur Utama Bank Mandiri Royke Tumilaar memaparkan, perbankan Indonesia cukup berdaya tahan menghadapi krisis karena modal relatif kuat dan likuiditas di pasar melimpah. Namun, perbankan berhati-hati karena ketidakpastian masih sangat tinggi. Royke menambahkan, Bank Mandiri memfokuskan strategi pada tiga tujuan, yakni mendorong kredit tumbuh positif, efisiensi biaya operasional, dan akselerasi layanan digital.
Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Silvano W Rumantir menuturkan, proyeksi pertumbuhan laba pada akhir tahun ini masih positif dengan mempertimbangkan pemulihan ekonomi. Adapun Direktur Keuangan BNI Sigit Prastowo memaparkan, BNI perlu membentuk tambahan cadangan kerugian penurunan nilai yang besar sehingga profit tergerus. Sejumlah debitor BNI yang terkena dampak pandemi Covid-19 juga menunda pembayaran pokok dan bunga kredit.
Kebangkrutan Masih Menghantui Korporasi
Kepailitan menghantui emiten di bursa saham properti. PT Sentul City Tbk (BKSL), digugat pailit oleh keluarga Bintoro, family dari pemilik konglomerasi Grup Olympic. Gugatan pailit terhadap BKSL di daftarkan di Pengadilan Niaga Jakarta, Jumat (7/8). Manajemen emiten properti menjelaskan, pengajuan pailit tersebut terkait dengan Perjanjian Perikatan Jual Beli (PPJB) kaveling siap bangun antara BKSL dan pemohon pailit. Manajemen BKSL Corporate Communication Sentul City Alfian Mujani menegaskan, tidak ada kaitannya utang piutang antara BKSL dengan pemohon pailit. “Sentul City tidak dalam keadaan pailit,” ujarnya dalam siaran pers. Namun Alfian tidak merinci secara detail soal PPJB tersebut.
Persoalan yang dihadapi BKSL menambah panjang daftar emiten yang terancam pailit, maupun harus menempuh restrukturisasi utang melalui Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) di pengadilan. BEI mencatat, per 7 Agustus, ada tiga emiten yang di gugat pailit, diluar BKSL. Ketiganya adalah PT Cowell Development Tbk (COWL), PT Global Mediacom Tbk (BMTR), dan PT Golden Plantation Tbk (GOLL). Pengadilan Niaga Jakarta Pusat telah menyatakan pailit COWL, termasuk anak usaha nya yakni PT Bumiraya Investindo (BRI) dan PT Airlangga Sawit Jaya (ASJ). Selain itu, GOLL juga berpotensi mengalami forced delisting.
Selanjutnya, ada delapan emiten yang saat ini tengah menjalani PKPU. BEI mensuspen lima saham di antaranya, PT Grand Kartech Tbk, PT Nipress Tbk, PT Armidian Karyatama Tbk, PT Hanson International Tbk, dan PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk. Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Samsul Hidayat menilai, “Pandemi Covid-19 menyebabkan beberapa perusahaan kesulitan memenuhi kewajibannya,” jelas Samsul, Senin (10/8).
Prediksi Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana, emiten yang digugat pailit dan masuk PKPU masih bisa bertambah karena efek pandemi terhadap bisnis emiten. Direktur Avere Investama Teguh Hidayat menyebut, investor tidak perlu panik menyikapi gugatan pailit yang terjadi pada emiten. Sebelum diputuskan pailit oleh pengadilan, ada kemungkinan perusahaan tidak bersalah. Misalnya, menurut dia, gugatan pailit yang dihadapi BMTR. Wawan menyebut, ada dua cara yang bisa ditempuh investor ketika emiten digugat pailit. Pertama, mengikuti proses gugatan pailit dengan harapan ada perjanjian damai. Kedua, investor dapat melepas saham di pasar negosiasi. Risikonya harga saham akan sangat menurun.
Lain halnya dengan emiten yang sektornya tertekan seperti COWL. Sejumlah emiten properti yang lain harus berjibaku menuntaskan kewajibannya. “Sahamnya sulit naik karena bisnisnya juga sedang sulit,” kata Teguh. Selain itu, Teguh menyebut investor bisa mencermati nilai gugatan. Jika nilai gugatan lebih kecil dibanding aset, perusahaan masih dalam batas aman, investor bisa tetap hold. Sebaliknya jika kemudian emiten diputus pailit, investor harus cut loss.








