;
Tags

Saham

( 1722 )

IPO Penjual Kripto Sukses

Sajili 16 Apr 2021 Kontan

Sejarah tercatat di bursa Amerika Serikat (AS). Coinbase Global Inc, perusahaan perantara jual beli kripto terbesar di AS melakukan debut di pasar saham. Dalam debutnya, valuasi Coinbase Global Inc mencapai USS 86 miliar pada Rabu (14/4) waktu setempat.

Saham Coinbase dibuka pada harga US$ 381 per saham, naik 52,4% dari harga referensi US$ 250 per saham yang ditetapkan pada hari sebelumnya. Valuasi Coinbase ini cukup fantastis. Sebagai perbandingan, pemilik Bursa Efek New York, Intercontinental Exchange Inc, memiliki kapitalisasi pasar US$ 66 miliar.


Grab Dikabarkan Beli 4% Saham Emtek, OVO dan DANA Berpotensi Merger?

Ayutyas 15 Apr 2021 katadata

Grab dikabarkan membeli 4% saham Emtek. Langkah ini dinilai memperbesar peluang OVO dan DANA untuk merger.

Decacorn Singapura, Grab dikabarkan membeli sekitar 4% saham konglomerat media di Indonesia Elang Mahkota Teknologi (Emtek). Langkah ini dinilai memperbesar peluang OVO dan DANA untuk merger. Nilai saham yang dibeli oleh Grab disebut-sebut lebih dari Rp 4 triliun. “Ini dalam penerbitan saham baru melalui skema private placement baru-baru ini,” kata sumber Straits Times, Kamis (15/4)

Emtek mengumumkan telah menerbitkan 4,76 miliar saham baru dalam penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) atau private placement. Perusahaan pun mengantongi dana segar Rp 9,3 triliun. Hasil dari private placement  itu akan digunakan untuk mengembangkan bisnis Emtek, serta mendanai operasional harian.

Masuknya investor baru itu berdampak pada kepemilikan pemegang saham sebelumnya yang mengalami penurunan alias terdilusi. Ini termasuk kepemilikan saham bos Indofood Anthony Salim yang turun dari 9,08% menjadi 8,38%. Lalu kepemilikan bos Emtek Eddy K Sariaatmadja juga turun dari 24,9% menjadi 22,96%. Sedangkan saham milik Adikarsa Sarana terdilusi dari 11,53% menjadi 10,03%. 

Potensi OVO dan DANA Merger 

Dalam keterbukaan informasi terkait laporan keuangan kuartal IV tahun lalu, anak usaha Emtek yakni Kreatif Media Karya (KMK) menjual 6% saham Elang Andalan Nusantara (EAN) Rp 76 miliar pada 30 Desember 2020. 

Sedangkan Grab yang dikabarkan membeli 4% saham Emtek, mendukung OVO. Masuknya decacorn Singapura itu ke Emtek dinilai membuka peluang OVO dan DANA merger. Kabar OVO dan DANA akan merger sebenarnya sudah berhembus sejak 2019. Pendiri sekaligus pemilik Lippo Grup Mochtar Riady mengatakan, perusahaannya menjual dua pertiga saham OVO. Pada akhir 2019, Grab dikabarkan dalam pembicaraan untuk membeli DANA dari Emtek. Sumber Reuters mengatakan, decacorn asal Singapura ini berencana menggabungkan OVO dengan DANA. Hal itu untuk melawan dominasi GoPay besutan Gojek.

(Oleh - HR1)

Papua Akhirnya Memiliki 10% Saham Freeport

Sajili 01 Apr 2021 Kontan

Pemerintah daerah Papua sebentar lagi mendapatkan jatah 10% saham PT Freeport Indonesia. Pemda melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Papua Divestasi Mandiri akan menggenggam saham Freeport. Dari porsi itu, Pemkab Mimika akan menguasai 70% dan Pemprov Papua 30%.

Kepala Biro Hukum Sekretariat Daerah Pemprov Papua Derek Hegemur mengungkapkan, Pemprov Papua dan Pemkab Mimika telah melakukan pertemuan rutin untuk membahas pengalihan jatah 10% saham Freeport.

Saat ini, 10% saham untuk Pemda Papua secara tidak langsung akan ditampung dalam PT Indonesia Papua Metal dan Mineral (IPMM). IPMM merupakan perusahaan patungan (joint venture) antara Inalum dan BUMD Papua.

Nilai transaksi dari proses peralihan 10% saham Freeport oleh PT Papua Divestasi Mandiri diperkirakan mencapai USS 818 juta.


Bursa Kripto Segera Meluncur

Ayutyas 19 Feb 2021 Bisnis Indonesia

Bisnis, JAKARTA — Booming aset kripto beberapa waktu belakangan membuat pemangku kepentingan perdagangan berjangka berinisiatif membangun pasar crypto asset yang akan diluncurkan pada kuartal I/2021.

Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia (KBI) Fajar Wibhiyadi menyatakan pihaknya tengah menggarap bursa untuk aset kripto di Indonesia. Langkah ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk memperkuat ekosistem perdagangan aset kripto di dalam negeri yang potensinya besar.

Saat ini, KBI tengah menyampaikan permohonan izin dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti). Pada saat bersamaan, PT KBI juga terus menyiapkan infrastruktur pendukung seperti teknologi informasi, ketentuan syarat permodalan, dan lainnya.

Menurut Fajar, aset-aset kripto yang dapat diperdagangkan pada bursa sudah ditentukan berdasarkan sejumlah kriteria, salah satunya sudah mendapat perizinan dari Bappebti guna memberi perlindungan pada para investor.

Dia juga mengimbau calon investor untuk mengetahui ketentuan yang ada terlebih dahulu sebelum berinvestasi.

(Oleh - HR1)


Grup MNC Akuisisi Broker Saham Wall Street

Ayutyas 05 Jan 2021 Investor Daily, 5 Januari 2021

PT MNC Kapital Indonesia Tbk (BCAP), perusahaan yang dikendalikan oleh Hary Tanoesoedibjo, mengakuisisi mayoritas saham Auerbach Grayson & Company LLC (AGCO), perusahaan sekuritas asal New York, Amerika Serikat (AS). Akuisisi broker saham di Wall Street tersebut bertujuan untuk memperluas jaringan distribusi produk pasar modal dan penggalangan dana Grup MNC di AS dan Eropa. Akuisisi Auerbach Grayson dilakukan oleh anak usaha MNC Kapital, Winfly Ltd. Sebelumnya, Auerbach Grayson dimiliki oleh bank investasi terkemuka yang berpusat di Mesir, Beltone Financial Holding. Kesepakatan ini telah diselesaikan setelah mendapat persetujuan dari Financial Industry Regulatory Authority, AS. Setelah transaksi, Winfly menjadi pengendali saham Auerbach Grayson, sementara Co-Founder Auerbach Grayson, David Grayson membeli kembali sisa saham. Akuisisi ini bertujuan untuk melengkapi jaringan distribusi kegiatan pasar modal MNC Sekuritas sebagai broker saham, pasar utang, investment banking, riset, dan online trading, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga menjangkau hingga komunitas investasi global. Executive Chairman of MNC Group Indonesia Hary Tanoesoedibjo mengatakan MNC Kapital akan mendapatkan keuntungan akses ke 126 mitra lokal di seluruh dunia. Auerbach Grayson diharapkan dapat menjadi jalur distribusi Grup MNC untuk placement dan fundraising di AS maupun Eropa. Selain itu, Auerbach Grayson akan ikut berperan mengembangkan manajemen aset di bawah MNC Kapital. Sementara itu, Co-Founder Auerbach Grayson & Company, David Grayson menyediakan penelitian, juga akses ke lebih dari 125 pasar di seluruh dunia kepada klien institusi Auerbach Grayson.

Transaksi Saham, Ramai-ramai Menyoal Bea Materai

Ayutyas 22 Dec 2020 Bisnis Indonesia

Bisnis, JAKARTA — Tak hanya investor individu, sejumlah manajer investasi dan perusahaan sekuritas ikut angkat bicara atas rencana pengenaan bea materai atas setiap konfirmasi transaksi saham harian. Ada risiko penerimaan imbal hasil terutama pada reksa dana exchange traded fund atau ETF. 

Sebelumya, Bursa Efek Indonesia mengumumkan bahwa setiap laporan transaksi atau trade confirmation (TC) tanpa batasan nilai nominal yang diterima investor sebagai dokumen transaksi surat berharga akan dikenakan bea meterai sebesar Rp10.000 per dokumen. Hal itu berkaitan dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 10 tahun 2020 tentang Bea Meterai (UU Bea Meterai). Setelah wacana ini digulirkan, sebuah petisi dari investor ritel disampaikan lewat platform Change.org agar pemerintah mengevaluasi lagi kebijakan yang dikeluarkan di tengah euforia naiknya jumlah single investor identification (SID). Hingga kemarin sore, petisi sudah diteken lebih dari 5.000 warganet. Menurut data BEI, tahun ini jumlah SID tumbuh 48,82% atau 1.212.930 SID menjadi 3.697.284 SID per 10 Desember 2020. Untuk SID baru saham, ada 488.088 SID, jumlahnya naik 93,4% dibandingkan dengan tahun lalu. Total, jumlah investor saham per 10 Desember adalah 1,59 juta SID atau setara dengan 44,19% dari jumlah investor saham di pasar modal Indonesia. Rata-rata nilai transaksi harian periode Januari–November 2020 yang mencapai Rp8,42 triliun, sebanyak 45,9% di antaranya dikontribusikan oleh aktivitas transaksi yang dilakukan oleh investor ritel dan tertinggi sepanjang sejarah.

Keresehan juga disampaikan sejumlah manajer investasi (MI) yang menilai pemberlakuan bea meterai untuk setiap TC atas surat berharga di bursa akan mengurangi potensi imbal hasil di produk reksa dana. Head of Investment Avrist Asset Management Farash Farich mengatakan risiko penurunan potensi imbal hasil investasi reksa dana terutama berkaitan dengan produk ETF yang ditransaksikan di bursa

Setali tiga uang, Direktur Panin Asset Management Rudiyanto berpandangan bahwa bea meterai dibebankan kepada investor memang akan sangat memberatkan investor reksa dana kecil dan pemula. 

Namun, disebutkannya, dalam UU Bea Meterai terdapat pengecualian untuk instrumen yang terbitkan oleh kustodian. Alhasil, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) perlu memberikan penegasan terkait dengan konfirmasi pembelian, penjualan, pengalihan dan laporan bulanan untuk produk reksa dana yang akan dikenakan bea meterai.

Presiden Direktur RHB Sekuritas Iwanho mengatakan pihaknya dan Asosiasi Perusahaan Efek sudah memberikan masukan mengenai skema aturan bea meterai yang berlaku untuk transaksi bursa. “Hal ini bisa berdampak ke investor ritel, yang so far terbukti menjadi salah satu penyokong indeks kita,” katanya. Terpisah, Kepala Riset NH Korindo Sekuritas Indonesia Anggaraksa Arismunandar mengatakan pemberlakuan bea materai pada setiap transaksi memang akan terasa cukup memberatkan bagi investor ritel yang rutin melakukan trading harian dengan nominal yang tidak besar.

BEI Soft Launching Dua Produk Baru Derivatif

Ayutyas 08 Dec 2020 Investor Daily, 8 Desember 2020

Bursa Efek Indonesia (BEI) menggelar soft launching IDX30 Futures dan Basket Bond Futures. Kedua produk derivatif ini ditargetkan memberikan lindung nilai dan return yang sesuai dengan kebutuhan investor. Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa Laksono W Widodo mengatakan, produk IDX30 Futures merupakan kontrak berjangka yang terdiri atas indeks efek IDX30. Sedangkan Basket Bond Futures adalah sekumpulan surat utang negara. Kedua produk tersebut merupakan produk derivatif yang dapat digunakan sebagai sarana lindung nilai oleh investor. Menurut Laksono, IDX30 futures dan Basket Bond Futures ditujukan untuk investor institusi yang mempunyai pengetahuan advance tentang pasar.

Adapaun tantangan utama bursa dalam soft launching kedua produk ini adalah membangun pasar yang belum terbentuk, mulai dari menambah jumlah investor kontrak berjangka yang jumlahnya masih sangat minim, hingga membangun kapasitas AB yang masih kurang pengalaman di pasar derivatif.

Peluncuran kedua produk tersebut diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia, sehingga mendukung peningkatan nilai transaksi, jumlah investor dan peningkatan daya tahan industri pasar modal terhadap fluktuasi pasar global di masa depan

Induk Japfa Comfeed Lepas 80% Saham Greenfields Dairy ke TPG dan North Star

Ayutyas 08 Dec 2020 Investor Daily, 8 Desember 2020

Japfa Ltd, induk usaha PT Japfa Comfeed Indonesia tbk (JPFA) bersiap melepas 80% saham greenfields Dairy Singapore Pte ltd kepada TPG dan Northstar Group. Nilai transaksi penjualan saham tersebut mencapai US$ 236 juta dimana alur transaksinya adalah Japfa akan melepas terlebih dahulu 100% saham Greenfields Dairy kepada perusahaan patungan yang khusus didirikan untuk menguasai saham Greenfields, yakni Freshness Ltd. Nilai transaksi pelepasan saham ini mencapai US$ 295 juta, yang terdiri atas dua komponen, yakni uang tunai US$ 236 juta dan 20% saham pada Freshness Ltd. 

CEO Japfa Tan Yong Nang mengatakan, bisnis susu perseroan telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir di Tiongkok dan Asia Tenggara. Pihaknya mengapresiasi kemitraan strategis yang terjalin dengan TPG dan Northstar Group. Aksi ini diharapakan dapat mempercepat pertumbuhan Greenfields di Asia Tenggara ke depan. “Dengan mempertahankan 20% saham di bisnis Asia Tenggara ini, Japfa dapat meraih potensi keuntungan yang meningkat,” jelas dia dalam keterangan resmi di Bursa Efek Singapura (SGX), Senin (7/12).

Managing Director TPG Capital Asia David Tan mengatakan, investasi di Greenfields merupakan investasi ketiga perusahaan di sektor susu. Pihaknya berharap dapat melakukan investasi lainnya di Indonesia. Perseroan optimistis kualitas produk Greenfields akan terus tumbuh dan menarik minat konsumen. Sementara itu, Co-Chief Investment Officer Northstar Group Sunata Tjiterosampurno mengatakan, perusahaan yakin tren peningkatan konsumsi susu akan berlanjut di Asia Tenggara lantaran masyarakat semakin fokus terhadap kesehatan.  

Induk Japfa Comfeed Lepas 80% Saham Greenfields Dairy ke TPG dan North Star

Ayutyas 08 Dec 2020 Investor Daily, 8 Desember 2020

Japfa Ltd, induk usaha PT Japfa Comfeed Indonesia tbk (JPFA) bersiap melepas 80% saham greenfields Dairy Singapore Pte ltd kepada TPG dan Northstar Group. Nilai transaksi penjualan saham tersebut mencapai US$ 236 juta dimana alur transaksinya adalah Japfa akan melepas terlebih dahulu 100% saham Greenfields Dairy kepada perusahaan patungan yang khusus didirikan untuk menguasai saham Greenfields, yakni Freshness Ltd. Nilai transaksi pelepasan saham ini mencapai US$ 295 juta, yang terdiri atas dua komponen, yakni uang tunai US$ 236 juta dan 20% saham pada Freshness Ltd. 

CEO Japfa Tan Yong Nang mengatakan, bisnis susu perseroan telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir di Tiongkok dan Asia Tenggara. Pihaknya mengapresiasi kemitraan strategis yang terjalin dengan TPG dan Northstar Group. Aksi ini diharapakan dapat mempercepat pertumbuhan Greenfields di Asia Tenggara ke depan. “Dengan mempertahankan 20% saham di bisnis Asia Tenggara ini, Japfa dapat meraih potensi keuntungan yang meningkat,” jelas dia dalam keterangan resmi di Bursa Efek Singapura (SGX), Senin (7/12).

Managing Director TPG Capital Asia David Tan mengatakan, investasi di Greenfields merupakan investasi ketiga perusahaan di sektor susu. Pihaknya berharap dapat melakukan investasi lainnya di Indonesia. Perseroan optimistis kualitas produk Greenfields akan terus tumbuh dan menarik minat konsumen. Sementara itu, Co-Chief Investment Officer Northstar Group Sunata Tjiterosampurno mengatakan, perusahaan yakin tren peningkatan konsumsi susu akan berlanjut di Asia Tenggara lantaran masyarakat semakin fokus terhadap kesehatan.  

Tren Penggunaan Sarung Tangan, MARK Prediksi Penjualan 2021 Melonjak 72%

tuankacan 26 Nov 2020 Bisnis Indonesia

Presiden Direktur PT Mark Dynamics Indonesia Tbk. (MARK) Ridwan Goh memproyeksi perseroan dapat mencetak laba sebesar Rp228 miliar sepanjang tahun depan. Target itu meningkat sebesar 66% dibandingkan dengan target laba tahun ini sebanyak Rp138 miliar. Dia menyatakan kenaikan target itu didasarkan pada lonjakan permintaan sarung tangan sepanjang 2020

Ridwan melanjutkan emiten dengan sandi saham MARK itu sudah mengantongi kontrak senilai US$52 juta untuk pengapalan pada tahun depan. MARK juga meningkatkan kapasitas produksinya dari yang semula sebanyak 700.000 unit per bulan menjadi 800.000 unit per bulan sejak kuartal III/2020. MARK akan menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp150 miliar untuk pembangunan pabrik baru. Angka tersebut sudah mencakup biaya untuk mendirikan bangunan, pembelian mesin serta instalasi mesin. Harga saham MARK melonjak 92,47% (ytd) ke posisi Rp870 per lembar saham pada 31 Oktober 2020. Sebelumnya harga saham emiten itu adalah Rp452 per lembar saham pada awal 2020.

Pilihan Editor