;
Tags

Saham

( 1722 )

Peluang Garap Bisnis Digital Lebih Besar

Ayutyas 10 Jul 2020 Kontan, 9 Juli 2020

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) resmi berkolaborasi dengan penyedia layanan video on demand (VOD) Netflix. Vice President Corporate Communication TELKOM Arif Prabowo menyampaikan bahwa ini merupakan bentuk apresiasi Telkom atas Netflix yang berkomitmen untuk mengikuti sejumlah penyesuaian untuk pasar Indonesia. Penyesuaian yang dimaksud antara lain kode pengaturan mandiri untuk VOD dengan standar permintaan di ASEAN, mendukung konten lokal serta bersedia mematuhi peraturan perpajakan digital yang baru. Dengan kemitraan ini, TLKM dapat menambah daya tarik bagi calon pelanggan baik Telkomsel maupun IndiHome. Namun, Arif belum bersedia mengungkapkan lebih lanjut potensi kerjasama lanjutan setelah kolaborasi keduanya.

Etta Rusdiana Putra, analis Kresna Sekuritas menjelaskan, kerjasama tersebut akan berdampak positif bagi TLKM. Etta menambahkan dari segi tarif, Netflix menawarkan harga paling murah yakni Rp 49.000 untuk mobile. Termahal, tarifnya Rp 169.000 untuk layanan premium. Sedangkan tarif indihome rata-rata tarifnya Rp 320.000 per bulan. Dia menyimpulkan kerjasama keduanya akan membuat TLKM mampu mengakselerasi trafik data dan keunggulan kompetitifnya. Dia mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga RP 4.950 per saham dan harga tersebut memiliki potensi kenaikan atau upside sekitar 58%. Kemarin harga saham TLKM naik 30 poin ke level Rp 3.150 per saham.

Mencari Peluang dari New Normal

Ayutyas 07 Jul 2020 Kontan, 26 Juni 2020

Analis memprediksi PT Integra Indocabinet (WOOD) bisa mempetahankan kinerja positif tahun ini. Aktivitas penjualan ekspor yang mulai berjalan serta potensi pasar yang semakin besar menjadi peluang bagi emiten ini. Analis OSO Sekuritas Sukarno Alatas juga Analls Trimegah Sekuritas Sebastian Tobing mengatakan WOOD masih berpeluang memperluas penjualan ekspor tahun in la penilai, langkah AS menetapkan tarif untuk barang impor dari sejumlah negara serta menetapkan tarif anti dumping dan anti subsidi atas produk dari China dan Brasil positif bagi WOOD. Akibat kebijakan tersebut produk-produk dari Indonesia, termasuk WOOD bisa meningkatkan volume penjualan di pasar furnitur AS, namun potensi perluasan pemasaran WOOD di luar negeri berpotensi terhambat kekhawatiran gelombang kedua pandemi. Sebastian menuliskan impor furnitur AS dari China berangsur menurun dari sebanyak 38% di 2018 menjadi cuma 26% di 2019

Di kuartal pertama tahun ini. WOOD juga sempat merasakan hambatan ekspor furnitur ke AS karena beberapa pelabuhan tutup akibat pandemi, memasuki kuartal dua manajemen WOOD mengatakan penjualan ekspor mulai berjalan lancar dan optimistis menargetkan pendapatan tahun ini bisa mencapai Rp 2,8 triliun. Sedangkan pada laporan keuangan tahun lalu, pendapatan WOOD tercatat naik 1,4% secara tahunan menjadi sebesar Rp 2,13 triliun (yoy). Sementara, perolehan laba bersih mencapai Rp 217.47 miliar atau menurun 9% yoy.

Sebastian optimistis di tengah tekanan pandemi pendapatan WOOD berpotensi tumbuh sekitar 18% di tahun ini dan tumbuh 22% di tahun depan Sebastian merekomendasikan buy WOOD dengan target harga Rp 630 per saham. Sukarno juga menilai positif langkah WOOD memangkas belanja modal atau copital expenditure (capex)  sebesar Rp 100 miliar, lebih rendah dari capex tahun lalu yang sebesar Rp 200 miliar. Analis Panin Sekuritas William Hartanto memasang target harga di Rp 440.

Penguatan Kinerja Semen Indonesia di Tengah Pandemi

Ayutyas 21 Jun 2020 Investor Daily, 8 Juni 2020

Analis Sinarmas Sekuritas Paulina mengungkapkan, Penurunan biaya energi ditambah restrukturisasi sejumlah utang dengan bunga lebih rendah menjadi katalis positif terhadap kinerja keuangan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR). Sedangkan penurunan permintaan semen akibat pandemi Covid-19 masih menjadi hambatan paling besar bagi perseroan untuk mendongkrak volume penjualan. Semen Indonesia juga mendapat dukungan sentimen positif dari rencana penerbitan saham baru (rights issue) anak usahanya, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB).SBI sebelumnya mengumumkan rencana rights issue sebanyak 20% saham tahun ini. Sebanyak 15% saham rights tersebut akan diakuisisi Taiheiyo Cement yang diharapkan tuntas bulan depan dan rights issue direncanakan pada Maret 2021 dengan nilai berkisar Rp 2,9-3,6 triliun atau setara dengan valuasi Rp 1,8 juta per ton.

Terkait volume penjualan semen perseroan, menurut Paulina, kemungkinan terjadi penurunan sekitar 10-20% tahun ini. Target tersebut sudah sesuai dengan pelemahan permintaan semen nasional yang hingga April 2020 mencapai 6%. Sedangkan penurunan volume penjualan Semen Indonesia sebesar 4%. Sinarmas Sekuritas merevisi turun asumsi penjualan Semen Indonesia tahun ini dari Rp 40,35 triliun menjadi Rp 37,84 triliun.Meski demikian, Sinarmas Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham SMGR dengan target harga Rp 10.600. Taget harga tersebut mencerminkan asumsi valuasi sebesar Rp 2 juta per ton dan target peningkatan laba bersih menjadi Rp 2,51 triliun. Sedangkan pendapatan diproyeksikan turun menjadi Rp 37,84 triliun pada 2020.

Sementara itu, analis Danareksa Sekuritas Maria Renata mengungkapkan, peningkatan margin keuntungan ditambah pendapatan operasi lainnya menjadi faktor pendongkrak laba bersih Semen Indonesia pada kuartal I-2020 sebesar 66,5% menjadi Rp 446 miliar dengan kenaikan pendapatan sebesar 5,6% menjadi Rp 8,6 triliun yang ditopang oleh kenaikan rata-rata harga jual semen perseroan pada Februari 2020 di sejumlah daerah. Sedangkan DER perseroan masih tinggi mencapai 0,77 kali atau mencapai Rp 26,7 triliun hingga Maret 2020. Meski demikian, setelah dilakukan restrukturisasi sejumlah utang, terjadi penurunan beban bunga sebesar Rp 608 miliar atau 14,5%. Sedangkan kas operasional naik menjadi Rp 1,1 triliun hingga akhir Maret 2020. Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham SMGR dengan target harga Rp 10.700. Target tersebut merefleksikan PE dalam tiga tahun terakhir mencapai 26,7 kali. Target tersebut juga mempertimbangkan rasio dividen tahun dan perkiraan penurunan laba bersih menjadi Rp 2,02 triliun tahun. Pendapatan perseroan juga diharapkan turun menjadi Rp 37,63 trililun.

Direktur Utama Semen Indonesia Hendi Prio Santoso sebelumnya mengatakan, perseroan berhasil menekan beban pokok pendapatan dengan penurunan 0,64% menjadi Rp 5,88 triliun dan membukukan peningkatan volume penjualan mencapai 4,71% menjadi 7,87 juta ton sampai kuartal I-2020. Perseroan juga terus menggenjot penjualan di kawasan regional dengan mencatatkan total ekspor dari Indonesia mencapai 1,02 juta ton atau tumbuh 23,2% dari periode yang sama tahun 2019. Secara konsolidasi, penjualan domestik dan ekspor Semen Indonesia, termasuk TLCC Vietnam pada periode Januari hingga Maret 2020 mencapai 9,37 juta ton atau naik sebesar 7,04% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 8,75 juta ton.

Potensi Vaksin dan Pelonggaran Picu Reli Global

Ayutyas 20 Jun 2020 Investor Daily, 27 Mei 2020

Pasar saham global reli pada awal perdagangan pekan ini. Para investor menyambut gembira potensi tersedianya vaksin virus corona Covid-19 di tahun ini. Juga langkah-langkah pelonggaran pembatasan yang semakin luas di seluruh dunia, sekalipun juga ada lonjakan kasus baru di sejumlah negara, seperti Brasil,Indeks Dow Jones melonjak 2,4% ke level 25.038.94. Indeks S&P 500 menguat 1,7% ke level 3.007,76. Sedangkan Nasdaq naik 1,2% ke level 9.434,99.“Pasar saham AS bergerak menuju awal yang kuat karena pelonggaran demi pelonggaran dan beberapa kabar menjanjikan soal vaksin mengangkat sentimen usai libur akhir pekan lalu,” ujar Craig Erlam, analis senior OANDA Eropa.

Penguatan saham global di awal perdagangan pekan ini menutupi kekhawatiran-kekhawatiran terkait ketegangan Amerika. Serikat (AS) dan Tiongkok. Juga langkah Tiongkok yang akan menerapkan aturan keamanan nasional baru di Hong Kong.“Sekali lagi pasar menyambut prospek-prospek yang optimistis, menepikan ketakutanketakutan atas dampak ekonomi jangka panjang dari wabah ini dan semakin tegangnya AS serta Tiongkok, untuk fokus pada putaran berikutnya pelonggaran di seluruh dunia,” ujar Connor Campbell, analis Spreadex

Perkembangan di beberapa negara di dunia diantaranya, Presiden AS Donald Trump menetapkan pembatasan perjalanan atas Brasil. Jepang mencabut keadaan darurat di Tokyo. Spanyol serta Italia bersiap membuka perbatasan. Yunani, Jerman, dan Republik Ceko juga akan mengizinkan bar serta restoran beroperasi kembali. Sedangkan Inggris berencana membuka kembali sekolah dasar bulan depan. Namun, situasi bertolak belakang di belahan dunia lain mengingatkan para investor bahwa krisis Covid-19 masih jauh dari usai, walaupun prospek adanya vaksin semakin baik. “Tidak berarti kami harus menafikan risiko gelombang kedua, pelemahan pertumbuhan berkepanjangan, dan isu-isu geopolitik,” ujar Chris Iggo, analis AXA Investment Managers.

Stimulus Ditambah Tapi Investor Ambil Untung

Ayutyas 20 Jun 2020 Investor Daily, 5 Juni 2020

Laju reli saham global menurun pada Kamis (4/6) karena para investor lebih memilih ambil   untung. Stimulus besar-besaran yang terus digulirkan para pemerintah dan otoritas, untuk menanggulangi dampak Covid-19 terhadap perekonomian, tidak berpengaruh terhadap aksi itu.Presiden ECB Christine Lagarde mengatakan, produk domestik bruto (PDB) zona euro berpotensi kontraksi 8,7% tahun ini. Disisi lain, Holger Schmieding, analis dari Berenberg mengatakan bank sentral di seluruh negara maju akan terus berusaha sekuat tenaga menangkal mega resesi.

Jerman menyatakan akan membelanjakan paket stimulus senilai 130 miliar euro untuk membangkitkan lagi perekonomiannya. Tapi, pasar saham di Eropa tidak terkesan dengan langkah-langkah terbaru itu.“Para investor senang melakukan ambil untung setelah menikmati sesi bullish yang sangat besar kemarin,” ujar David Madden, analis dari CMC Markets Inggris. Di AS, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa warga yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran sepanjang pekan lalu bertambah 1,9 juta. Sehingga totalnya sudah lebih dari 42 juta orang sepanjang wabah Covid-19.

Pasar Saham Diwarnai Sentimen Positif

Ayutyas 16 Jun 2020 Investor Daily, 26 Mei 2020

Indeks harga saham gabungan (IHSG) selama pekan ini diproyeksi berfluktuasi dengan kecenderungan menguat. Hal itu dipengaruhi oleh sejumlah sentimen positif dari pasar global terkait penemuan vaksin Covid-19. Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, peluang penguatan indeks juga didasari oleh hasil analisis teknikal, yaitu indikator bollinger bands yang menunjukkan indeks berpeluang bergerak pada level support 4.466 dan resistance 4.667.Selain itu, saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) direkomendasikan akumulasi beli pada level Rp 3.1203.180, dengan target harga secara bertahap Rp 3.250, Rp 3.500, Rp 3.750, dan Rp 4.000. Kemudian, saham PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) direkomendasikan sell on strength pada level Rp 920-930, dengan target harga Rp 880.

Secara terpisah, pendapat  berbeda disampaikan oleh As sociate Director of Research  and Investment PT Pilarmas  Investindo Sekuritas Maximil- ianus Nico Demus. Menurut  dia, IHSG pekan ini berpotensi  turun dengan rentang pergera kan 4.415-4.630. Kemudian, sentimen lain  yang mempengaruhi pergera kan indeks adalah ketegangan  antara AS dan Tiongkok, serta  perseteruan antara Tiongkok  dan Hong Kong yang kembali  memicu demonstran. menurut  Nico, para investor perlu mem- perhatikan sektor perbankan,  sebab harga yang dimiliki sek- tor ini dapat dibilang sedang  mengalami pelemahan.

Prospek Indeks Bisnis-27 - Daya Pikat Terus Memancar

Ayutyas 09 Jun 2020 Bisnis Indonesia, 03 Jun 2020

Wacana pemulihan kembali aktivitas ekonomi dengan protokol kenormalan baru dan fundamental emiten yang masih solid berpotensi menjadi sentimen positif yang mendorong kinerja indeks Bisnis-27 pada pertengahan 2020. Mayoritas emiten masih mampu membukukan pertumbuhan pendapatan dan laba yang positif. 

Bahkan, 12 emiten mampu mencetak margin laba bersih (net profit margin/NPM) dobel digit pada 3 bulan pertama tahun ini. 

Analis Henan Putihrai Liza Camelia mengatakan penerapan new normal dapat mendorong kinerja sejumlah emiten. Salah satunya emiten pertambangan batu bara. Dia pun memilih saham PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) sebagai salah satu pilihan utama dalam penghuni indeks Bisnis-27. 

Secara teknikal, lanjutnya, untuk sampai penutupan kuartal II/2020 emiten tambang itu masih berpotensi sampai ke target Rp1.500. 

Liza menambahkan emiten pertambangan itu berkesempatan mendapatkan stimulus penjualan dengan harapan dibukanya kembali pabrik, sehingga diperlukan energi untuk menjalankan aktivitas. Selain itu juga ada perbaikan harga minyak mentah, karena pemotongan produksi oleh negara OPEC+. Dia juga merekomendasikan emiten pelat merah PT Semen Indonesia Tbk. (SMGR). 

Senada, Analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani juga menilai penerapan kenormalan baru bakal menjadi katalis positif kinerja saham konstituen indeks Bisnis-27. Dia menjagokan saham PT Gudang Garam Tbk. (GGRM), PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR), PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF), PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI), dan PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA). 

Head of Market Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menambahkan kinerja keuangan emiten pada kuartal I/2020 belum mencerminkan sepenuhnya efek pandemi Covid-19, sehingga profitabilitas mayoritas emiten masih dipertahankan. 

Kinerja perbankan diperkirakan membaik pada kuartal II/2020 seiring dengan kebutuhan pencadangan banyak perusahaan untuk menjaga likuiditas. Sektor saham lain yang cukup prospektif di dalam Indeks Bisnis-27 adalah barang konsumsi dan telekomunikasi.

Investor Saham Lebih Memedulikan Pelonggaran Terkait Covid

Ayutyas 07 Jun 2020 Investor Daily, 3 Juni 2020

Pasar saham global menguat karena para investor lebih memedulikan pelonggaran-pelonggaran dari aturan karantina di berbagai negara. Walaupun mereka tetap mencermati ketegangan antara Tiongkok-Amerika Serikat (AS). Serta aksi protes anti-rasisme disertai kekerasan yang mencengkeram sejumlah kota terbesar di AS akibat tewasnya pria kulit hitam oleh polisi di Minneapolis.

Di Eropa, indeks saham Jerman, Paris dan London menunjukkan keuntungan yang layak karena masih ada optimisme sehubungan dengan pembukaan kembali ekonomi. Pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk melonggarkan pembatasan karantina mereka, jadi ada perasaan yang berkembang bahwa semuanya perlahan-lahan kembali normal. Hal ini sebagaimana disampaikan David Madden, analis dari CMC Markets UK. Senada, Bursa saham di Tokyo, Seoul,Shanghai, Mumbai Taipei, Kuala Lumpur, Manila dan Wellington juga menguat, bahkan Jakarta menguat lebih dari 2% sedangkan Singapura dilaporkan naik lebih dari 2% ketika pihak berwenang mulai mengurangi langkah-langkah lockdown. 

Jeffrey Halley dari OANDA mengatakan, para investor tampaknya menepis berita bahwa Tiongkok telah memerintahkan perusahaan-perusahaan pertanian pelat merah untuk sementara waktu menghentikan pembelian beberapa barang pertanian AS – yang dipastikan bakal menimbulkan pertanyaan tentang dampak pada pakta perdagangan negara yang ditandatangani pada Januari.

Dana Asing Kembali Guyur Pasar Saham

Ayutyas 07 Jun 2020 Kontan, 4 Juni 2020

Indikasi investor asing kembali masuk pasar saham menguat. Selama empat hari berturut-turut, investor asing mencatatkan net buy di bursa saham. Kemarin, net buy investor asing di pasar saham bahkan mencapai Rp 1,51 triliun. Investor asing terutama tampak memburu saham-saham perbankan. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi saham yang paling banyak dibeli investor asing, selanjutnya PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri. Selain itu, asing juga mencatatkan net buy di saham PT Astra International Tbk (ASII) lalu PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM).

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai, investor asing kembali masuk dan memborong saham-saham tersebut karena memang harganya sudah terbilang cukup murah. Sedangkan Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menambahkan, ada dua faktor yang membuat investor asing kembali ke pasar saham Indonesia. Pertama, asing merespons positif penerapan new normal di Indonesia. Kedua kebijakan pencabutan hak istimewa Hongkong oleh Amerika Serikat yang juga berpotensi membuat dana dari Hong Kong akan berpindah ke beberapa negara, seperti Singapura dan juga Indonesia.

Fase Terburuk Sudah Berlalu

Ayutyas 01 Jun 2020 Investor Daily, 18 Mei 2020

Meski dampak Covid-19 terhadap perekonomian nasional diperkirakan baru benar-benar terasa pada akhir kuartal II-2020, fase terburuk pasar saham sudah berlalu karena para pelaku pasar telah memprice in portofolionya ke depan. Tekanan terhadap pasar saham terjadi sejak Covid-19 merebak di Tiongkok pada akhir Desember 2019, disusul pengumuman kasus corona pertama di Tanah Air pada 2 Maret 2020. Selain dipicu isu corona, pasar bergejolak akibat anjloknya harga minyak, perang dagang, dan meningkatnya risiko resesi. Namun, sejak 26 Maret, tekanan mereda dan IHSG kembali meninggalkan level psikologis 4.000. Sejalan, sebagian saham emiten LQ45 mulai membukukan kinerja positif.

Chief Economist & Director Investment Strategy Bahana TCW Investment Management, Budi Hikmat mengungkapkan, saat-saat terburuk di pasar finansial, khusus pasar saham, terjadi pada pekan ketiga Maret, persisnya pada 24 Maret 2020. Saat itu, indeks bursa global dan negara-negara emerging markets, tak terkecuali IHSG, berguguran dan mengalami underperformed. Kondisi jenuh jual (oversold) di pasar saham meningkat. Pada saat bersamaan, dolar AS menguat dan suku bunga naik. Imbal hasil (yield) obligasi negara melonjak. Sebaliknya, harga emas dan minyak anjlok.

Menurut Budi Hikmat, menyusul turbulensi di pasar finansial pada 24 Maret 2020, para investor global jangka panjang memutuskan untuk mengakumulasi emas. Hal itu tercermin pada kenaikan harga emas. Pada periode yang sama, harga komoditas seperti timah, nikel, gas, batu bara, karet, dan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) anjlok. Ia menjelaskan, perlambatan ekonomi akibat pandemi Covid-19 telah direspons pemerintah berbagai negara, termasuk Indonesia, dengan menggulirkan stimulus, pelonggaran kuantitatif (quantitative easing/QE), dan kebijakan kontrasiklus (counter cyclical). Alhasil, menurut Budi, dunia saat ini mengalami kelebihan likuiditas dan membuka peluang bagi pelemahan dolar AS, kenaikan harga emas, dan kenaikan harga surat berharga negara (SBN) di negara berkembang bila keadaan membaik. Dia menegaskan, kondisi terburuk di pasar finansial sudah berlalu. Variabel-variabel yang muncul saat ini adalah isyarat bagi para investor untuk kembali berinvestasi. Sebagai tambahan, sektor yang berpotensi turun atau membukukan kerugian (potential losers) dalam jangka pendek di antaraya pendidikan, jasa keuangan, manufaktur, konstruksi dan real estat, otomotif, penerbangan dan pelayaran, pariwisata, serta migas. Adapun sektor yang berpotensi naik atau mencetak keuntungan (potential winners) antara lain jasa dan pasokan medis, ritel dan makanan olahan, personal & healthcare, teknologi informasi dan komunikasi, perdagangan secara elektronik (e-commerce), pertanian, serta migas. Ia juga mengakui IHSG berpotensi memberikan return tahunan negatif pada 2020 jika ekonomi nasional bertumbuh terlampau lemah. Pertumbuhan poduk domestik bruto (PDB) akan bergantung pada berapa lama restriksi mobilitas diberlakukan. PDB kuartal I dan II berpotensi jatuh sebelum recover pada kuartal III dan IV.

Equity Analyst Phillip Sekuritas, Anugerah Zamzami mengungkapkan, saham sektor kosumsi rumah tangga (consumer goods) mencatatkan penurunan terendah dibanding sektor lainnya (ytd). Ia meyakini di tengah arus sentimen negatif Covid-19, saham consumer goods punya prospek cerah. Apalagi secara historis, saham-saham sektor konsumsi mampu bertahan di tengah perlambatan ekonomi. Zamzami menambahkan, ketika pasar mengalami bearish seperti sekarang, semua sektor terkoreksi. Namun, sektor konsumsi mengalami penurunan paling sedikit dan menyarankan investor mencermati saham INDF, ICBP, GGRM, HMSP, TLKM, EXCL, UNVR, SIDO, dan TBIG yang di nilai undervalued, padahal berada di sektor defensif dan punya deviden yield yang lumayan baik. Menurut Zamzami, kondisi saat ini adalah new normal bagi pasar saham Indonesia, di mana terjadi volatilitas tinggi dan swing yang besar pada harga saham. Kondisi new normal akan usai setelah pandemi Covid-19 berakhir. Pekan ini, ia memprediksi IHSG bergerak cenderung datar (sideways).

Di sisi lain, analis Binaartha Sekuritas, Nafan Aji Gusta menjelaskan, koreksi yang dialami sektor konsumsi dan farmasi terbilang wajar karena kinerja emiten di sektor tersebut sempat terhambat penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Namun, dengan adanya adaptasi dan meningkatnya permintaan terhadap kebutuhan dasar masyarakat, emiten sektor konsumsi akan berangsur pulih. Saham sektor konsumsi, kata Nafan Aji, tergolong defensif di tengah pandemi Covid-19. Nafan merekomendasikan buy saham TLKM, INDF, dan ICBP.

Di lain pihak, Chief Executive Officer (CEO) Danareksa Investment Management, Marsangap P Tamba menilai, di tengah kondisi new normal, agak sulit memproyeksikan laju IHSG. Dampak pandemi Covid-19 terhadap kinerja emiten baru benar-benar terlihat pada kuartal II-2020. Dia mendefinisikan new normal adalah kondisi saat pemerintah mulai melonggarkan PSBB dan aktivitas ekonomi mulai berjalan, meski pandemi Covid-19 belum berakhir. Kendati demikian, kata Marsangap, masih ada potensi upside trend bagi IHSG ke depan, meski sangat kecil, diiringi fluktuasi yang tinggi. Dengan asumsi perekonomian nasional tahun ini tumbuh 2%, IHSG pada akhir tahun diproyeksikan berada di kisaran 5.000-5.254. Menurut Marsangap Tamba, dalam kondisi new normal sangat sulit sekali menakar seberapa besar ekspektasi emiten untuk pulih. Dia menegaskan, pulihnya IHSG sangat bergantung pada kapan kurva kasus positif pasien Covid-19 melandai. Namun, berbagai relaksasi dan stimulus yang diberikan pemerintah diharapkan dapat dirasakan dalam beberapa bulan ke depan

Sementara itu, pengamat pasar modal Universitas Indonesia (UI), Budi Frensidy menjelaskan, kinerja emiten yang terdampak Covid-19 akan terlihat pada laporan keuangan kuartal II-2020. Setelah Juni, diprediksi banyak emiten merevisi rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) tahun ini. Di tengah pandemi, menurut Budi, ekspektasi wajar terhadap IHSG adalah di level 5.000-an sampai akhir tahun. Posisi itu juga sangat tergantung penanganan pandemi. “Saham-saham consumer goods beser ta farmasi dan produsen produk kesehatan bisa menjadi pilihan jangka panjang. Kalaupun saham-saham ini turun, investor masih berani karena yakin emiten di sektor ini secara fundamental mampu membukukan pertumbuhan laba,” papar dia

Kepala Riset Samuel Sekuritas, Suria Dharma mengatakan, ekspektasi pelemahan ekonomi sudah pasti terjadi sedangkan ekspektasi terhadap pemulihan kinerja emiten pada kuartal III2020 tergantung perkembangan Covid-19 dan PSBB. Menurutnya, saham yang bisa menjadi pilihan antara lain ICBP, INDF, KLBF, TLKM, dan TOWR. Saham ASII, juga bisa menjadi pilihan. Apalagi, ada sentimen dari perusahaan yang akan mendapatkan dana segar Rp 17 triliun hasil penjualan saham PT Bank Permata Tbk (BNLI).

Head of Research Mirae Asset Sekuritas, Hariyanto Wijaya mengemukakan, pihaknya telah menyesuaikan skenario dasar EPS IHSG menjadi 2% secara tahunan pada 2020 sejalan dengan asumsi pertumbuhan PDB Indonesia yang juga direvisi. Target IHSG hingga akhir tahun ini menjadi 5.180.

Menurut analis Sucor Sekuritas, Hendriko Gani, aksi rebalancing dan profit taking menyebabkan beberapa saham di sektor bisnis yang seharusnya meraih keuntungan di tengah pandemi, justru terkoreksi. investor lebih defensif dalam berinvestasi, sehingga melakukan rebalancing dengan keluar dari aset berisiko, seperti saham, lalu masuk ke aset yang lebih defensif, seperti obligasi, money market, atau emas. Dia merekomendasikan HMSP, GGRM, UNVR, dan TBIG yang tergolong emiten berfundamental kuat untuk investasi jangka panjang.

Pilihan Editor